• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui persepsi guru bidang studi geografi terhadap penerapan kurikulum merdeka belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam. Responden yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 2 orang guru geografi yang berasal dari 2 Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua sekolah tersebut terdiri dari SMA Negeri 2 Simpang Kiri dan SMA Negeri 1 Rundeng kota subulussalam, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi.

5.1.1 Persepsi Guru Geografi Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Hasil penelitian terhadap persepsi guru bidang Studi Geografi di SMA 2 Simpang Kiri dan SMA 1 Rundeng Kota Subulussalam terhadap pelaksanaan kurikulum Merdeka Belajar menggunakan 6 indikator adalah sebagai berikut:

1. Pemahaman Guru

Berbicara tentang pemahaman seorang mungkin sebagian dari guru sudah mengetahui dan memahami dengan adanya kurikulum merdeka belajar yang dicetuskan Mendikbud Nadiem Makarim dalam sambutan pidato di Hari Guru Nasional 25 November Tahun 2019. Pada masa awal pengangkatan jabatannya, beliau sudah memberikan kebijakan baru tentang sistem pendidikan di Indonesia, yang tentu saja menimbulkan persepsi dari kalangan lembaga pendidikan, dan lainnya.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Subulussalam pemahaman tentang kurikulum merdeka belajar dari guru geografi yang sudah diwawancarai oleh peneliti memberikan pandangan berbeda-beda dalam menyikapi tentang kurikulum merdeka belajar. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Dahli Yanti Malau (selaku guru geografi) menyatakan:

“Kurikulum merdeka itu adalah penyempurnaan dari kurikulum 2013 dengan paradigma baru, jadi paradigma barunya itu adalah bahwa peserta didik itu diberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik serta bakat dan minat masing-masing awalnya”. (Dahli Yanti Malau, 2023).

Bapak Muhammad Jhoni dalam wawancara dengan peneliti mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut:

“Kurikulum merdeka itu secara detailnya memahami sekali, hanya saja saya mengingat beberapa item yang tercantum didalamnya. Kurikulum merdeka ini adalah menggunakan pendekatan karakter dan keterampilan, berbeda dengan kurikulum 13 yang menggunakan pendekatan kompetensi. Kalau di kurikulum merdeka ini, dia yang paling diutamakan adalah karakter siswa tersebut, memberikan kebebasan dan kemampuan individu masing-masing daripada peserta didik untuk dapat menjalankan atau menyesuaikan dengan keinginan sistem belajar mereka, jadi lebih didominankan kepada karakter siswa dan kemauan siswa tersebut dalam sistem pembelajaran.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Pernyataan tersebut sesuai dengan penjelasan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait pengertian Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat

peserta didik. Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik. (Kemendikbud, 2023).

Selanjunya Bapak Muhammad Jhoni juga menjelaskan terkait peraturan Kurikulum Merdeka sebagai berikut:

“Ada beberapa item juga untuk peraturan kurikulum merdeka, dia tertuang didalam peraturan Kemendikbudristek nomor 62 tahun 2022 tentang perubahan kemendikbudristek nomor 56 tahun 2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam pembelajaraan. Jadi aturannya disitu mengubah sistem belajar yang awalnya menggunakan kurikulum 13, dan sekarang menggunakan kurikulum merdeka. Jadi sebenarnya kami sebagai guru pun seperti kurikulum ini seringkali berganti-ganti, agak bingung juga karna sudah detail memahami kurikulum 13, sekarang sudah berubah menjadi kurikulum merdeka. Tapi dalam kurikulum merdeka ini, lebih memudahkan kami juga dalam aturan- aturan yang tertuang.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Simpulan dari pernyataan tersebut adalah bahwa terdapat perubahan dalam sistem belajar dari Kurikulum 13 menjadi Kurikulum Merdeka, yang diatur dalam peraturan Kemendikbudristek nomor 62 tahun 2022. Walaupun para guru mengalami perubahan teknik mengajar dalam kurikulum ini, tetapi Kurikulum Merdeka memiliki aturan-aturan yang lebih memudahkan guru dalam penerapannya, meskipun mereka sebelumnya telah memahami Kurikulum 13.

Pendapat tersebut sejala dengan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka) sebagai penyempurna kurikulum sebelumnya. Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa satuan

pendidikan perlu mengembangkan kurikulum dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

(Kemendikbudristek, 2023).

Ibu Dahli Yanti Malau mengatakan bahwa peraturan kurikulum merdeka ini berdampak pada proses belajar mengajar guru. Bapak Muhammad Jhoni juga sepakat dengan pendapat tersebut dengan menambahkan penjelasan sebagai berikut:

“Ya, berdampak sekali, berdampak dengan peraturan yang dibuat atau sistem belajar yang dibuat sangat berpengaruh terhadap siswa maupun sekolah. Karna karakteristik dari siswa itu dari sistem pembelajaran lebih diminati oleh siswa tersebut karna tidak berpedoman lagi harus dikelas, melainkan diluar kelas pun bisa, menyesuaikan dengan keinginan atau situasi dan kejadian dalam lingkungan. Misal, dalam minggu ini belajar dikelas tentang bencana alam, setelah materinya selesai, saya bawa turun kelapangan para siswa itu untuk mengecek mana-mana yang dominan atau lebih sering terjadi bencana alam, seperti banjir dan longsor.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem pembelajaran yang diatur oleh Kurikulum Merdeka memiliki dampak besar, baik pada siswa maupun sekolah. Perubahan dalam peraturan dan sistem belajar ini mempengaruhi siswa, karena mereka dapat menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik dan minat mereka. Siswa tidak lagi terbatas pada pembelajaran di dalam kelas, melainkan juga dapat belajar di luar kelas sesuai dengan keinginan dan situasi lingkungan.

Dalam kurikulum merdeka tentunya terdapat hal yang berbeda dan menarik dari kurikulum sebelumnya, Ibu Dahli Yahti Malau mengatakan dalam wawancaranya: “yang paling menarik adalah fleksibilitas dalam memilih materi dan pendekatan pembelajaran yang lebih visual.” Kemudian Bapak

Muhammad Jhoni juga mengungkapkan pendapatnya dalam wawancara sebagai berikut:

“Menariknya dari kurikulum merdeka belajar adalah pendekatan yang lebih fokus pada karakter dan keterampilan siswa, memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan keinginan mereka, dan tidak terlalu terikat pada aturan yang kaku.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Simpulan dari kedua pernyataan tersebut adalah bahwa yang paling menarik dari Kurikulum Merdeka adalah fleksibilitas dalam memilih materi dan pendekatan pembelajaran yang lebih visual. Kurikulum Merdeka menekankan pendekatan yang lebih fokus pada pengembangan karakter dan keterampilan siswa, memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan preferensi mereka, dan tidak mengikat mereka dalam aturan yang kaku.

Kurikulum Merdeka memliki pengaruh terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Geografi. Ibu Dahli Yanti Malau mengatakan:

Kurikulum Merdeka bisa meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar pelajaran Geografi.” (Dahli Yanti Malau, 2023). Pendapat tersebut didukung oleh pendapat dari Bapak Muhammad Jhoni sebagai berikut:

“Kurikulum merdeka dapat memengaruhi hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Geografi dengan memberikan lebih banyak fleksibilitas dalam pembelajaran. Siswa dapat lebih mudah menyesuaikan pembelajaran dengan minat dan situasi di lapangan, yang mungkin membuat mereka lebih tertarik dan lebih baik memahami pelajaran.”

(Muhammad Jhoni, 2023).

2. Pengurangan Konten Kurikulum

Pengurangan konten dalam kurikulum adalah tindakan yang signifikan dalam perubahan sistem pendidikan yang dapat memiliki dampak positif. Hal ini melibatkan pemangkasan materi atau topik yang diajarkan dalam kurikulum sekolah, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan

mengurangi konten, fokus dapat ditempatkan pada materi yang paling penting dan relevan, yang pada gilirannya meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik inti. Selain itu, pengurangan konten juga dapat mengurangi beban belajar siswa, membantu mengakomodasi perbedaan individu, dan memberikan kesempatan untuk pengembangan karakter, etika, serta keterampilan kritis.

Dengan pendekatan yang tepat, kurikulum yang lebih ringan dalam hal konten dapat mengarah pada pembelajaran yang lebih efisien dan efektif, mempersiapkan siswa untuk masa depan dengan lebih baik. (Anggila, 2022).

Ibu Dahli Yanti Malau mengatakan bahwa ia mendukung perubahan ini, karena memberi guru lebih banyak kreativitas dalam mengajar. Bapak Muhammad Jhoni juga sependapat dengan Ibu Dahli, ia menjelaskan dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Perbedaannya lebih mudah menerapkan kurikulum merdeka ini daripada K13 terdahulu. Karena kurikulum merdeka ini lebih fleksibel dan memberikan kebebasan kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran, sedangkan kalau K13 lebih terstruktur dan memiliki pedoman yang jelas, jadi kalau pembelajaran kurikulum merdeka ini lebih ke karakter dari siswa dan guru.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Dalam menjalankan pembelajaran dengan aturan Kurikulum Merdeka, Ibu Dahli mengatakan bahwa ia tidak kesulitan, dalam wawancaranya sebagai berikut: “kalau kesulitan sebenarnya nggak, karna kan kita bebas dalam memilih materinya, jadi tidak kesulitan.” (Dahli Yanti Malau, 2023). Bapak Muhammad Jhoni memiliki pendapat yang berbeda, dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Penerapan kurikulum merdeka dalam mata pelajaran Geografi membawa beberapa tantangan, terutama dalam penyesuaian metode pembelajaran yang lebih fleksibel. Namun, guru dan siswa harus beradaptasi dengan pendekatan baru ini agar pembelajaran tetap efektif.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Ibu Dahli mengatakan bahwa Kurikulum Merdeka lebih menekankan fleksibilitas dalam pemilihan materi dan pendekatan pembelajaran yang lebih visual (Dahli Yanti Malau, 2023). Sama halnya dengan pendapat dari Bapak Muhammad Jhoni dalam wawancara sebagai berikut:

“Perbedaan utamanya adalah kurikulum merdeka lebih fokus pada karakter dan keterampilan siswa, memberikan kebebasan dalam pembelajaran, sementara kurikulum sebelumnya (misalnya K13) lebih terstruktur dan berorientasi pada kompetensi. Kurikulum merdeka lebih fleksibel.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Pendapat tersebut sejalan dengan tulisan dari Yanuarti (2017) dalam jurnalnya yang berjudul “Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara Dan Relevansinya Dengan Kurikulum 13”. Didalam jurnal tersebut disebutkan bahwa Kurikulum Merdeka dan K13 adalah dua kurikulum yang berbeda dalam pendidikan. Terdapat beberapa perbedaan antara keduanya, yaitu:

a. Pertama, tujuan dari Kurikulum Merdeka adalah memperkuat karakter dan moral siswa, sementara K13 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan siswa dalam berbagai bidang.

b. Kedua, pendekatan yang digunakan berbeda, di mana Kurikulum Merdeka menggunakan pendekatan karakter dan keterampilan, sementara K13 menggunakan pendekatan kompetensi.

c. Ketiga, sasaran jenjang kelas juga berbeda, dengan Kurikulum Merdeka ditujukan untuk kelas 1-6 SD, sementara K13 dapat digunakan dari SD hingga SMA.

d. Keempat, dalam hal mata pelajaran, Kurikulum Merdeka lebih menekankan pembelajaran karakter dan moral, sementara K13 memiliki mata pelajaran yang lebih lengkap dan terstruktur.

e. Kelima, metode penilaian berbeda, di mana Kurikulum Merdeka menggunakan penilaian non-akademik, sementara K13 menggunakan penilaian akademik yang lebih terstruktur.

f. Keenam, fokus kurikulum juga berbeda, dengan Kurikulum Merdeka lebih fokus pada pengembangan karakter dan moral siswa, sementara K13 lebih menekankan kemampuan akademik siswa secara umum.

g. Terakhir, dalam hal pelaksanaan, Kurikulum Merdeka memberikan lebih banyak fleksibilitas dan kebebasan kepada guru dalam mengembangkan pembelajaran, sedangkan K13 lebih terstruktur dan memiliki pedoman yang lebih jelas.

Ibu Dahli mengatakan bahwa dalam kurikulum merdeka ini, ia berharap dapat memberikan pembelajaran yang lebih bervariasi dan lebih efektif kepada siswa. (Dahli Yanti Malau, 2023). Bapak Muhammad Jhoni mengatakan bahwa ia berharap kurikulum merdeka dapat memberikan fleksibilitas dalam pembelajaran, meningkatkan minat belajar siswa, dan membantu mereka mengembangkan karakter dan keterampilan yang kuat. (Muhammad Jhoni, 2023).

3. Pembelajaran Kontruktivisme

Kurikulum Merdeka membawa pendekatan yang memberikan peserta didik kesempatan untuk menginterpretasikan informasi ke dalam pemikiran mereka dengan mempertimbangkan konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri. Hal ini mengacu pada pendekatan yang lebih personal dan terkait erat dengan kebutuhan, latar belakang, serta minat individu peserta didik.

Dalam konteks ini, peserta didik diberi ruang untuk mengaitkan materi

pembelajaran dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Mereka dapat melihat bagaimana konsep dan informasi yang diajarkan dalam kurikulum berkaitan dengan pengalaman pribadi mereka, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika belajar tentang sejarah, siswa dapat mencoba menghubungkan peristiwa sejarah dengan cerita keluarga mereka atau pengalaman dalam masyarakat mereka (Yuhastina, 2020).

Selain itu, pendekatan ini juga memperhitungkan kebutuhan, latar belakang, dan minat individual peserta didik. Dalam Kurikulum Merdeka, siswa memiliki lebih banyak otonomi untuk memilih bagaimana mereka ingin belajar dan menggali topik yang sesuai dengan minat mereka. Ini menciptakan motivasi intrinsik yang kuat, karena siswa merasa lebih terlibat dan bersemangat dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka memungkinkan peserta didik untuk membangun pemahaman yang lebih dalam dan relevan, serta meningkatkan daya ingat dan aplikasi materi. Pendekatan ini mengakui bahwa setiap siswa unik, dan pembelajaran yang disesuaikan dengan pengalaman, kebutuhan, dan minat individu dapat menjadi kunci keberhasilan dalam pendidikan (Yuhastina, 2020).

Bapak Muhammad Jhoni mengungkapkan pendapatnya dalam wawancara sebagai berikut:

“Pengimplementasian kurikulum merdeka dalam pembelajaran Geografi di sekolah ini memberikan fleksibilitas dalam metode pengajaran. Guru dapat lebih bebas menyesuaikan pembelajaran dengan minat siswa dan situasi yang sesuai di lapangan.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Pendapat tersebut sejala dengan prakarsa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam jurnal yang ditulis oleh Ummi Nur Afinni Dwi Jayanti

dengan judul Implementasi Kurikulum Merdeka: Kendala dan Penanganannya dalam Pembelajaran di Sekolah, yang berbunyi “Secara umum, program ini (Kurikulum Merdeka) tidak dimaksudkan untuk menggantikan program yang sudah ada, tetapi tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki sistem yang sudah ada. Kebebasan belajar yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih mudah dan fleksibel.” (Ummi Nur Afinni Dwi, 2023).

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pengimplementasian Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Geografi di sekolah memberikan fleksibilitas dalam metode pengajaran. Guru dapat lebih bebas menyesuaikan pembelajaran dengan minat siswa dan situasi yang sesuai di lapangan. Program Kurikulum Merdeka tidak dimaksudkan untuk menggantikan program yang sudah ada, melainkan untuk memperbaiki sistem yang sudah ada. Kebebasan belajar yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih mudah dan fleksibel.

Dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, tidak ada perubahan jadwal belajar mengajar secara total. Berdasarkan Permendikbudristek No. 56/M/2022, Perhitungan waktu pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam 1 tahun 486 jam pelajaran atau 30% dari alokasi total jam pelajaran. Terdapat 3 Projek dalam 1 tahun, sehingga tiap projek memiliki alokasi waktu 162 JP. Dalam satu tahun memilih tiga tema yang harus di projekkan, 3 projek tersebut yaitu (Kartilah, 2022):

a. Proyek 1 dengan tema bangunlah jiwa dan raganya b. Proyek 2 dengan tema gaya hidup berkelanjutan c. Proyek 3 dengan tema kearifan lokal

Hal ini didukung oleh pendapat dari Ibu Dahli terkait perubahan jam belajar pada Kurikulum Merdeka, “tidak ada, jam belajarnya sama.” (Dahli Yanti Malau, 2023). Sama halnya dengan Bapak Muhammad Jhoni yang berpendapat dalam wawancara sebagai berikut:

“Tidak ada, jadwal belajarnya sama dengan kurikulum 13. Hanya saja berbedanya misalnya K13 materi belajarnya 1 minggu jam pelajaran per periode, kalau kurikulum merdeka ini per satu tahun, dan tidak mengikuti K13 dulu sesuai dengan urutan buku tersebut per babnya.

Kalau di kurikulum merdeka ini dia lebih untuk satu tahun tidak harus berurutan dari bab a, b, c, tidak harus seperti itu, melainkan mana yang dibutuhkan di lapangan, misalnya di bab a, ketika di lapangan itu yang kita lihat dan dibutuhkan harus dijelaskan kepada siswa itu adalah bab c, maka langsung bab c nya yang di ajarkan.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Dibandingkan dengan Kurikulum 13, Kurikulum Merdeka lebih berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan. (Rahmadayanti, 2022). Hal sini sejalan dengan pendapat dari Ibu Dahli yang mengungkapkan dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Untuk kurikulum merdeka ini lebih ke visual, jadi maksudnya seperti memberikan pembelajaran menggunakan alat peraga seperti gambar atau video, seperti saya sering menggunakan infokus, jadi pembelajarannya tidak monoton menulis saja, jadi di literasi dulu kemudian dijelaskan sedikit, baru kami lihat video.” (Dahli Yanti Malau, 2023).

Muhammad Jhoni juga sependapat dengan pernyataaan di atas, ia mengungkapkan dalam wawancara sebagai berikut:

“Ciri khas kurikulum merdeka, terutama dalam mata pelajaran Geografi, adalah lebih fleksibel dalam metode pembelajaran. Guru dan siswa memiliki kebebasan lebih besar dalam menyesuaikan pembelajaran dengan situasi di lapangan, yang membuat pembelajaran lebih menarik dan unik.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, ada beberapa langkah yang harus dipersiapkan oleh guru dan pihak sekolah. Pertama, pemahaman yang kuat tentang konsep dan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, termasuk fleksibilitas dalam pembelajaran dan penyesuaian dengan minat siswa, sangat penting. Selanjutnya, guru perlu mengidentifikasi kebutuhan individu siswa dan merancang program pembelajaran yang sesuai. Perencanaan pembelajaran yang cermat termasuk menentukan tujuan, materi, metode pengajaran, dan sumber daya yang dibutuhkan. Guru harus siap untuk menyesuaikan metode pengajaran sesuai dengan perkembangan siswa dan memanfaatkan sumber daya luar seperti kunjungan lapangan. Evaluasi teratur terhadap kemajuan siswa dan kolaborasi dengan sesama guru serta orang tua juga diperlukan. Selain itu, guru harus berkomitmen pada pengembangan diri melalui pelatihan dan selalu berkomunikasi dengan siswa dan orang tua tentang perkembangan pembelajaran. Terakhir, evaluasi dan perbaikan berkelanjutan menjadi bagian integral dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka, yang harus terus menerus dilakukan oleh guru dan staf sekolah. (Mawati, 2023).

Ibu Dahli sepakat dengan pernyataan di atas dengan mengatakan dalam wawancara sebagai berikut:

“Saya telah mempersiapkan berbagai langkah dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Ini termasuk pemahaman konsep, pengembangan materi, pembuatan modul, pengumpulan sumber daya tambahan, eksperimen dengan metode pembelajaran baru, serta kerja sama dengan rekan guru dan sekolah untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif bagi siswa.” (Dahli Yanti Malau, 2023).

Bapak Muhammad Jhoni juga sependapat dengan menerangkan dalam wawancara sebagai berikut:

“Saya mempersiapkan diri dengan memahami kurikulum merdeka, berkolaborasi dengan rekan guru, mencari metode pembelajaran kreatif, dan terus belajar untuk meningkatkan keterampilan pengajaran.”

(Muhammad Jhoni, 2023).

4. Pengalaman Pribadi Guru

Pengalaman pribadi seorang guru dalam Kurikulum Merdeka adalah pengalaman dan pandangan subjektif guru tentang bagaimana mereka menghadapi dan menerapkan Kurikulum Merdeka dalam kelas mereka. Ini mencakup perasaan, tantangan, keberhasilan, dan pembelajaran yang diperoleh guru selama proses implementasi kurikulum tersebut. Pengalaman pribadi ini dapat beragam dari satu guru ke guru lainnya, tergantung pada konteks, subjek, dan siswa yang mereka ajar. Hal ini mencerminkan bagaimana guru menginterpretasikan dan menghadapi perubahan dalam pendekatan pembelajaran mereka sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka.

Ibu Dahli Yanti Malau mengungkapkan dalam wawancaranya bahwa ia mengalami perubahan kurikulum sebanyak satu kali, dan Bapak Muhammad Jhoni mengatakan ia telah mengalami dua kali perubahan kurikulum selama menjadi seorang guru, dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Kalau saya sewaktu kuliah itu diajarkan kurikulum KTSP, ketika saya sudah masuk dunia pendidikan menjadi guru, yang saya dapatkan dilapangan adalah kurikulum 13, dan pada saat sekarang ini yang saya ajarkan adalah Kurikulum Merdeka.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Pelatihan dan bimbingan dalam penerapan Kurikulum Merdeka penting karena mendukung guru dan staf sekolah dalam pemahaman konsep, meningkatkan kompetensi, mengembangkan strategi pengajaran, memfasilitasi penyesuaian dengan konteks lokal, membantu dalam pemecahan masalah, memberikan dukungan emosional, serta memungkinkan evaluasi dan

pengembangan berkelanjutan. Dengan demikian, mereka memainkan peran sentral dalam keberhasilan Kurikulum Merdeka dan peningkatan pengalaman belajar siswa. (Rambung, 2023).

Artinya, pelatihan dan bimbingan dalam penerapan Kurikulum Merdeka sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka. Hal ini didukung oleh pendapat Ibu Dahli dalam wawancaranya: “Sebenarnya itu berpengaruh, cuman infonya kan banyak, karena kita baru, ya berpengaruh dan membantu”. (Dahli Yanti Malau, 2023). Bapak Muhammad Jhoni juga sependapat dengan pernyataan di atas dengan mengungkapkan pendapatnya dalam wawancara: “Pelatihan tersebut berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran di sekolah.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Ibu Dahli Yanti Malau kemudian menjelaskan dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Saya mendapatkan pengalaman dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar dari pelatihan dan bimbingan yang saya ikuti dari pihak lain di luar sekolah. Pelatihan tersebut memberikan wawasan dan keterampilan yang berharga dalam menerapkan konsep Kurikulum Merdeka Belajar dalam pengajaran saya.” (Dahli Yanti Malau, 2023).

Sama halnya dengan Bapak Muhammad Jhoni yang mengatakan: “Saya mendapatkan pengalaman dalam penerapan kurikulum merdeka dari pihak lain.” (Muhammad Jhoni, 2023).

Maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan dan bimbingan dalam penerapan Kurikulum Merdeka berperan penting dalam meningkatkan pemahaman, kompetensi, dan keterampilan guru serta memfasilitasi penyesuaian dengan konteks sekolah dan lingkungan lokal. Dengan dukungan ini, guru dapat lebih efektif dalam mengatasi tantangan, mengambil inisiatif

untuk pengembangan berkelanjutan, dan memberikan dukungan emosional kepada siswa. Hal ini diperkuat oleh kesaksian Ibu Dahli Yanti Malau dan Bapak Muhammad Jhoni dalam wawancara mereka, yang menunjukkan bahwa pelatihan dan bimbingan telah memberikan kontribusi yang berharga dalam pengalaman mereka dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Kemudian Ibu Dahli Yanti Malau juga menjelaskan dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Dalam Kurikulum Merdeka Belajar, saya fokus pada pendekatan berbasis kebutuhan siswa dengan materi yang relevan, media visual, modul, dan proyek kolaboratif. Siswa bebas memilih topik dan saya berkolaborasi dengan rekan guru serta terus mengikuti pelatihan.”

(Dahli Yanti Malau, 2023).

Lalu Bapak Muhammad Jhoni dalam wawancara mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut:

“Dalam pelaksanaan kurikulum merdeka, saya lebih memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeksplorasi pembelajaran sesuai minat dan situasi mereka. Saya juga mencari metode pembelajaran yang interaktif.” (Muhammad Jhoni, 2023).

5. Latar Belakang Pendidikan Guru

Latar belakang pendidikan guru mencakup pendidikan formal, pelatihan khusus, pengalaman pengajaran, spesialisasi dalam bidang tertentu, pengembangan profesional berkelanjutan, serta nilai, motivasi, dan komitmen mereka terhadap pendidikan. Variasi dalam latar belakang pendidikan guru dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mendidik siswa. Guru dengan gelar sarjana atau diploma yang relevan memiliki pemahaman yang kuat tentang mata pelajaran yang diajarkan. Pelatihan khusus dan pengalaman mengajar sebelumnya memberikan wawasan yang berharga dalam pendidikan.

Spesialisasi dalam bidang seperti pendidikan inklusif atau teknologi pendidikan

Dokumen terkait