MASYARAKAT ACEH, PERSPEKTIF NARATOLOGI
3. HASIL PENELITIAN Syair Hikayat Perang Sabil
“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy
in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 88
yang menjadi persoalan-persoalan yang dapat memecah belah bangsa ini, kelompok dan golongan, harus melakukan pemahaman kembali arti berbangsa dan bernegara dengan melakukan konsepsi ulang tentang keindonesiaan.
3. HASIL PENELITIAN
“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy
in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 89
Model ini menjelaskan tentang komunikasi yang bersifat strukturalis dimana garis komunikasi antara mufti-istana dengan mufti lainnya bersifat koordinatif untuk memberikan semangat kepada rakyat Aceh dalam membela tanah air dari penjajahan. Sementara komunikasi koordinatif antara mufti istana dengan sultan bersifat sejajar yang mengandung kesetaraan peran. Hal ini menunjukan kekuasaan Sultan tidak bersifat absolut tetapi bersifat akamodatif terutama dalam hal yang bersifat religi/keislaman yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup rakyat Aceh dan rasa nyaman sebagai perlindungan yang diberikan oleh Sultan kepada rakyat Aceh.
Pada sisi lain komunikasi Sultan kepada rakyat Aceh bersifat isntruktif untuk menggelorakan semangat, peran kepemimpinan yang didasari oleh nilai keislaman menjadi penting untuk memberikan semangat perlawanan rakyat Aceh kepada penjajah sebagai bentuk Jihad membela tanah air dan membela agama Islam. Hubungan yang membentuk jalinan instruksi pemimpin kepada rakyat secara langsung dan hubungan antara mufti istana dengan rakyat secara langsung. Hubungan ini mengintegrasikan antara adat (pemerintahan) dengan hukum konstitusional kerajaan (hukom). Kedua hubungan tersebut melahirkan bentuk-bentuk komunikasi structural yang diwujudkan dengan kepemimpinan tunggal yang dimiliki oleh Sultan merupakan repersentasi dari integrasi ajaran agama Islam dengan tradisi sastra lisan yang berkembang dalam semua lapisan masyarakat Aceh.
b. Model Komunikasi Kultural
Model Komunikasi kultural yang dilahirkan dalam tradisi Hikayat Perang Sabil dilahirkan dari cara pandang para mufti, baik mufti istana maupun musfti diluar istana yang menggunakan strategi integratif antara tradisi lisan melayu (sastra lisan) dengan hakikat ajaran Islam dengan membangun tokoh dan penokohan dalam naskah Hikayat Perang Sabil. Adapun tokoh yang dikonstruksikan ialah, Pertama: tokoh perempuan yang berasal dari Surga bernama Ainul Mardiyah, tokoh ini merupakan tokoh rekaan (sastra) yang digali dari ajaran Islam sebagai tokoh (hakikat surga) yang dimanifestasikan sebagai tujuan hidup manusia. Kedua integrasi antara hakikat ajaran Islam tentang bela tanah air sebagai wujud perjuangan Islam berupa jihad, dalam tradisi melayu bela negara merupakan wujud kecintaan manusia kepada alam semesta yang kemudian ditransformasikan menjadi
“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy
in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 90
bentuk kefarduan (wajib) bela tanah air sebagai kegiatan hakiki manusia dalam membela agama Islam di jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Berikut adalah model komunikasi kultural:
Dalam tradisi sastra melayu tokoh legenda dan tokoh rekaan baik manusia maupun bintang dan tumbuhan kedudukannya tinggi sebagai sebuah azimat budaya untuk menjaga nilai kearifan lokal dan diyakini sebagai tokoh hidup/nyata yang menjadi rujukan moralitas mereka. Penciptaan tokoh hakikat dalam Hikayat Perang Sabil merupakan proses adopsi gaya sastra lisan Melayu ke dalam gaya sastra Melayu religius khas Aceh. Selain tokoh bidadari tokoh yang dikonstruksi sebagai ialah Said Salamy seorang Habsi yang berkulit hitam. Dalam konteks Islam pada waktu Nabi Muhammad memerdekakan para budak yang berkulit hitam sebagai bentuk representasi Islam yang mengandung keadilan tanpa memandang ras, kelas dan warna kulit serta lainnya, sehingga kedudukan tokoh ini merupakan analogi dari perlawanan ras Melayu kepada ras Eropa yang mendominasi penjajahan di Aceh.
Hakikat ajaran Islam ialah sistem masyarakat yang merdeka, masyarakat tanpa kelas dan masyarakat yang menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seseuai dengan haikat ajaran Islam.
Konstruks perlawanan bangsa Melayu terhadap bangsa Eropa bukan merupakan bentuk perlawanan antar ras dominan dan ras subordinan tetapi lebih kepada bagaimana usaha bangsa Aceh menjadi bangsa yang bermartabat dan bukan dianggap sebagai manusia kelas ketiga dalam sistem pergaulan antar bangsa, kelas kedua dimiliki kaum-kaum pedagang yang berafiliasi dengan Belanda dan kelas pertama dalam sistem sosial di miliki oleh kaum Eropa terutama Belanda dan Portugis.
4. KESIMPULAN
Model Komunikasi yang ditemukan dalam penelitian ini ialah model komunikasi structural dan model komunikasi kultural. Model komunikasi structural yang mendeskripsikan hubungan antara mufti istana, mufti di luar istana dengan Sultan dan kekuasaan yang dimilikinya serta hubungan antara Sultan dengan rakya Aceh dan hubungan mufti dengan rakyat Aceh. Pola-pola komunikasi yang dilakukan dalam model ini bersifat intruksional Jihad sebagai usaha bela negara ditransformasikan menjadi bela agama dengan jaminan surge sebagai hadiah yang diraih. Model yang kedua ialah model komunikasi kultural yang mendeskripsikan tentang tranformasi sastra lisan Melayu menjadi sastra lisan religi yang digunakan untuk membangkitkan semangat rakyat Aceh
“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy
in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 91
dalam bela negara dari para penjajah. Dengan demikian Hikayat Perang Sabilm ialah sebuah komunikasi kebangsaan dalam mempertahankan negeri Aceh dari sistem penjajahan dan merupakan kewajiban rakyat Aceh untuk mempertahankan tanah air dengan semangat Jihad di jalan Tuhan.
Daftar Pustaka
Deddy Mulyana, 2003, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Eriyanto,2002, Analisis Framing Konstruksi, ideologi dan Politik Media, Yogyakarta:Lkis ______. 2001. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta. LKiS.
Fanani, Ahmad Fuad, Dkk. 2015. Fikih Kebinekaan, Pandangan Islam Indonesia Tentang Umat, Kewargaan dan Kepemimpinan Non-Muslim. Bandung: Mizan.
Maarif, Ahmad Syafii. 2015. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Bandung:
Penerbit Mizan.
Morissan, 2004, Jurnalistik Televisi Mutakhir, Jakarta: Rahmadina Prakarsa
Kun Wazis, 2012, Media Massa dan Konstruksi Realitas, Yogyakarta : Aditya Media Publshing.
Lexy J. Moleong, 2006, Metode Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metodologi dan Teknik Penelitian Seni dan Sastra Dari Strukturalis Hingga Poststrukturalis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
_________________. 2009. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakata:
Pustaka Pelajar.
Wahid, Wawan Gunawan Abdul. dkk. 2015. Fikih Kepemimpinan Non Muslim, Artikel. Bandung:
Mizan.
“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy
in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 92
IMAGES OF WOMEN IN FOLKLORE LALU DIA LALA JINIS FEMINIST LITERATURE CRITICAL REVIEW
Jumianti Diana,
Universitas Mataram(
[email protected]) ABSTRACTThe article examines the image of women in folklore entitled Lalu Dia Lala Jinis. Folklore entitled Lalu Dia Lala Jinis is a folktale from Sumbawa. This folklore was written by Dinullah Rayes in an effort to document Sumbawa folktale and was published by Ombak publishers in 2015. The research was conducted by applying the theory of feminist literary criticism to reveal the physical image and social image of female figures contained in folklore Lalu Dia Lala Jinis. This study uses descriptive qualitative research methods. The results of the study showed the physical image of female figures as beautiful women and the social image of female leaders as family members and as brave women. Female figures are portrayed as female leaders who dare to take action to free them selves from the oppression they experience.
Keywords: Feminism, Folktale and Women Image.
1. INTRODUCTION
Women are often used as central figures in literary works, not least in old literary works, namely in folklore. Women who are central figures in folklore are portrayed in various images.
Usually the physical image of women is found as very beautiful women with physical characteristics that are portrayed directly or by using parables. There is also a description of the social image of women as women who are brave, independent, responsible and so on. As for the folklore, Lalu Dia Lala Jinis also tells the story of a female character named Lala Jinis who is portrayed as a woman who tries to free herself from oppression.
Through this research, the author will answer the question, what is the physical image and social image of female characters in folklore? Then He is LalaJinis? to find answers to these questions, the writer will use the critique of feminist literary theory as an analytical tool.
Feminist literary criticism is one part of literary science that emphasizes feminist perspective research. The definition of feminism according to Goefe (in Sugihastuti, 2000: 37) is a theory of equality between men and women in the political, economic, and social fields; or organized activities that fight for women's rights and interests.
According to Tong (via Amal, 1995: 85-107) that there are several perspectives used in answering women's problems, namely Liberal feminism, Marxist feminism, Radical feminism, Psychoanalysis feminism, Socialist feminism and Existentialist feminism. It was explained that liberal feminism first appeared. Then the other five perspectives are a reaction to the perspective of liberal feminism.
The phenomena depicted in folklore are liberal phenomena. So that the folklore will be analyzed based on liberal feminism. According to Madsen (2000: 35-37) argues that liberal feminism emphasizes its thinking on individuals, namely the importance of individual freedom. This feminist voiced equality between men and women. These feminists assume that women's subordination is rooted in legal and customary limitations that prevent women from entering the public environment. The community considers that women because of their natural conditions, lack intellectuality and physical abilities compared to men. Therefore women are considered unable to carry out roles in the public environment. This assumption is opposed by liberal feminism.
According to liberals, humans (men and women) are created equal and have equal rights, and must also have equal opportunities to advance themselves (Madsen 2000: 35-37).
“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy
in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 93
This feminist emphasizes that the oppression of women is rooted in norms and traditions that become community conventions so that women must free themselves from norms and traditions that impede them to be able to restore their rights (Diana, 2011: 18).