BAB IV
POTADS Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
Terlihat bahwa dari 70 penyandang Sindrom Down di Yayasan POTADS, anak laki-laki sebanyak 39 orang dengan persentase 55,71% dan anak perempuan 31 orang dengan persentase 44,28%. Anak berumur 7 tahun merupakan jumlah terbanyak yaitu 11 orang. Anak laki-laki usia 7 tahun memiliki jumlah terbanyak yaitu 8 orang (11,42%).
Pemeriksaan oral klinis untuk Hipoplasia Email gigi sulung dilakukan pada anak Sindrom Down dengan usia 1-14 tahun.
Diagram 4.2 memperlihatkan karakteristik Anak Sindrom Down yang mengalami hipoplasia di Yayasan POTADS berdasarkan usia.24
Diagram 4.2 Distribusi Frekuensi Hipoplasia Email pada Anak Sindrom Down Berdasarkan Usia 24
0 2 4 6 8 10 12
Ya Tidak
Diagram 4.2 memperlihatkan dari 70 subjek penelitian, didapatkan bahwa usia 7 tahun mengalami hipoplasia email yang cukup banyak dengan jumlah 4 orang (5,71%).
Hipoplasia email terjadi pada 15 dari 70 anak Sindrom Down dengan persentase 21,42%. Diagram 4.3 memperlihatkan distribusi Hipoplasia Email yang terjadi pada gigi sulung.
Diagram 4.3 Distribusi Frekuensi Hipoplasia Email Gigi Sulung Pada Penyandang Sindrom Down
Diagram 4.3 memperlihatkan bahwa dari 70 subjek penelitian, hipoplasia email terjadi pada gigi sulung dengan persentase 58,57%. Menurut diagram di atas, hipoplasia email paling banyak terjadi pada gigi 82 sebanyak 9 buah (12.85%) dan 72 sebanyak 8 buah (11,42%). Selanjutnya, dari seluruh penyandang Sindrom Down yang mengalami
0 2 4 6 8 10
5152535455616263646571727374758182838485
Ya
Hipoplasia Email di Yayasan POTADS, dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin.24
Diagram 4.4 memperlihatkan distribusi frekuensi pada anak yang memiliki Hipoplasia Email dan jenis kelaminnya.
Diagram 4.4 Distribusi Frekuensi Hipoplasia Email pada Penyandang Sindrom Down Berdasarkan Jenis Kelamin 24
Diagram 4.4 menunjukkan bahwa 7 penyandang Sindrom Down berjenis kelamin laki-laki memiliki Hipoplasia Email sebesar 10%, sedangkan 8 anak perempuan memiliki Hipoplasia Email sebesar 11.42%. Penyandang Sindrom Down perempuan lebih banyak memiliki Hipoplasia Email dibandingkan laki-laki.
Sedangkan untuk hipokalsifikasi terlihat bahwa dari 73 anak yang diperiksa, sebanyak 6,57% (9) mengalami hipokalsifikasi.26
Penelitian mengenai distribusi frekuensi hipokalsifikasi email pada penyandang Sindrom Down di Yayasan POTADS dilakukan pada bulan Februari 2018 bertempat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.
Subjek diperoleh sebanyak 73 anak; terdiri dari 40 anak laki-laki dan 33 anak perempuan.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Hipokalsifikasi pada Anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang Memiliki Hipokalsifikasi Email berdasarkan Usia.26
Usia Hipokalsifikasi Email
F %
1 tahun 0 0
2 tahun 0 0
3 tahun 0 0
4 tahun 1 0.73
5 tahun 4 2.92
6 tahun 0 0
7 tahun 1 0.73
8 tahun 1 0.73
9 tahun 1 0.73
10 tahun 1 0.73
11 tahun 0 0
12 tahun 0 0
13 tahun 0 0
14 tahun 0 0
Total 9 6.57
Tabel 1 memperlihatkan bahwa dari 73 subjek penelitian terdapat 9 anak (6,57%) yang memiliki hipokalsifikasi email yang artinya 4,5 dari 36 anak Sindrom Down yang ada di Yayasan POTADS memiliki hipokalsifikasi email dengan persentase 6,57%. Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang memiliki hipokalsifikasi email paling banyak adalah anak-anak berusia 5 tahun dengan persentase 2,92%. Tabel 2 menunjukkan Hipokalsifikasi pada gigi sulung penyandang Sindrom Down.26
Tabel 2. Distribusi Frekuensi pada Anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang Memiliki Hipokalsifikasi Email berdasarkan Gigi Sulung
Gigi Hipokalsifikasi Email
F %
51 1 0.73
52 1 0.73
53 3 2.19
54 0 0
55 1 0.73
61 1 0.73
62 2 1.46
63 2 1.46
64 2 1.46
65 1 0.73
71 0 0
72 0 0
73 1 0.73
74 1 0.73
75 0 0
81 0 0
82 0 0
83 1 0.73
84 1 0.73
85 0 0
Total 9 13.14
Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 73 anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang memiliki hipokalsifikasi email, terdapat 1 anak (0,73%) pada gigi 51, 1 anak (0,73%) pada gigi 52, 3 anak (2,19%) pada gigi 53, 1 anak (0,73%) pada gigi 55, 1 anak (0,73%) pada gigi 61, 2 anak (1,46%) dari gigi 62, 2 anak (1,46%) pada gigi 63, 2 anak (1,46%) pada gigi 64, 1 anak (0,73%) pada gigi 65, 1 anak (0,73%) pada gigi 73, 1 anak (0,73%) pada gigi 74, 1 anak (0,73%) pada gigi 83 dan 1 anak (0,73%) pada gigi 84. Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang memiliki hipokalsifikasi email paling banyak adalah gigi 53 dengan persentase 2,19%.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi pada Anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang Memiliki Hipokalsifikasi Email berdasarkan Jenis Kelamin
Hipokalsifikasi Email Jenis Kelamin
L % P %
Ya 3 2.19 6 4.38
Tidak 37 27.01 27 19.71
Total 40 29.2 33 24.09
PEMBAHASAN 1,3,5,7,16-18,24-30
Diagram 4.1 menunjukkan dari 70 penyandang Sindrom Down, jumlah anak laki-laki (55,71%) lebih tinggi dari anak perempuan (44,28%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Bertoli et al. (2011) yang menemukan 518 penyandang Sindrom Down terdiri dari 282 anak laki-laki dan 236 anak perempuan, dan Kovaleva et al. (2001) menemukan perbandingan anak laki-laki dan perempuan pada Sindrom Down sebesar 649 dan 531 anak. Frekuensi terjadinya kelainan kromosom pada oosit dan spermatozoa cukup tinggi. Laki-laki dapat memengaruhi kejadian non- disjunction yang menyebabkan aneuploid pada sperma. Hal ini dapat terjadi pada laki-laki carrier dan kromosom normal.1,3,25 Terdapat bukti yang menunjukkan kejadian non- disjunction sewaktu meiosis dapat dipengaruhi oleh faktor usia ayah, tetapi mempunyai dampak kecil. Berarti bahwa usia ayah dapat merupakan faktor risiko terjadinya non- disjunction.1,3
Diagram 4.2 menunjukkan bahwa dari 70 penyandang Sindrom Down di Yayasan POTADS terdapat 15 anak (21,42%) memiliki hipoplasia email. Penyandang Sindrom Down berusia 7 tahun memiliki hipoplasia email
terbanyak, yaitu 4 anak (5,71%). Terlihat dari Diagram 4.2 subjek dengan usia 7 tahun merupakan jumlah terbanyak yaitu 11 anak. Tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan usia. Menurut Aminabadi (2009), distribusi defek email dinilai dari 121 anak normal berusia 3 sampai 5 tahun, prevalensi untuk hipoplasia email adalah 22,31%.15 Sedangkan menurut Lunardelli (2005), prevalensi hipoplasia email dari 431 anak normal di Brazil dengan rentang usia 3-5 tahun adalah 11,1%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya defek email lebih tinggi pada penyandang Sindrom Down dibanding dengan anak pada umumnya sebagai akibat adanya ekstra kromosom pada kromosom 21.7,21,23
Anomali struktur gigi, baik gigi sulung maupun permanen sering terjadi pada penyandang Sindrom Down dibandingkan dengan anak normal, adanya sindrom dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangn gigi sehingga terjadi defek email.5,7,13,20,23
Insidensi defek email pada penyandang Sindrom Down lima kali lebih besar dibanding dengan populasi anak pada umumnya.26
Pembentukan gigi yang disebut dengan odontogenesis terdiri dari beberapa tahap. Gangguan gigi dapat terjadi pada periode aposisi/amelogenesis, yaitu pada saat proses aposisi matrik dan mineralisasi. Selama proses amelogenesis, ameloblas sangat sensitif terhadap gangguan yang disebabkan oleh faktor sistemik dan faktor local, sehingga adanya gangguan dapat mengakibatkan kerusakan email yang dinamakan Hipoplasia Email.16,20-22
Pembentukan dan perkembangan morfologi gigi dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan pada fase awal (early stage) pertumbuhan dan perkembangan gigi.
Apabila penyebab hipoplasia email adalah genetik, terjadi keterlibatan pada gigi sulung dan permanennya. Individu dengan kelainan herediter seperti Sindrom Down, berisiko tinggi untuk memiliki kelainan gigi.
Gambaran Hipoplasia Email pada anak penyandang Sindrom Down adalah antara lain terlihat adanya pengurangan jumlah matrik email gigi atau gigi beberbentuk konus, adanya pit, alur vertikal maupun horizontal.
Diagram 4.3 menunjukkan bahwa hipoplasia email paling sering terjadi pada gigi insisif lateral dan insisif sentral. Hasil ini sesuai dengan penelitian Willyanti (2009)
bahwa pada anak berat badan lahir rendah, gigi yang terbanyak menderita hipoplasia adalah gigi insisif sentral dan lateral karena gigi-gigi tersebut terbentuk pertama kali pada saat awal yaitu pada awal periode tumbuh kembang gigi.
Lunardelli (2005) menyatakan bahwa dari 431 anak normal, gigi yang paling sering terkena hipoplasia email adalah molar kedua rahang atas (26,8%), diikuti dengan molar kedua rahang bawah (17,6%), molar pertama atas (11,9%), gigi molar pertama bawah (11,6%) dan gigi kaninus bawah (11,6%), gigi kaninus atas (10,3%) dan gigi insisif atas (9,2%). Gigi yang paling sedikit terkena adalah gigi insisif bawah (1%).27,28
Defek email lebih sering terjadi pada permukaan bukal atai labial gigi dibandingkan dengan permukaan lainnya. Anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan mempunyai dampak yang tercermin pada gigi. Stewart (1982) menjelaskan adanya keterkaitan antara pola frekuensi hipoplasia email dengan kronologis kalsifikasi gigi. Insisif rahang atas merupakan gigi pertama yang terkalsifikasi, yaitu antara bulan ke-tiga dan ke-empat prenatal. Amelogenesis gigi insisif sulung sudah hampir
selesai pada saat kelahiran, sedangkan gigi kaninus dan molar belum. Secara teoritis, jika terjadi gangguan pada minggu ke-12 prenatal, lesi Hipoplasia akan muncul pada insisif sentral rahang atas dan rahang bawah. Demikian pula jika gangguan pada minggu ke-16, maka dapat terjadi hipoplasia email pada gigi posterior karena pada tahap itu merupakan masa pembentukan matriks email pada gigi sulung anterior dan posterior. Sedangkan jika Hipoplasia Email terjadi pada anak-anak kelahiran berat badan normal, hipoplasia email disebabkan karena faktor lokal atau traumatik.16
Penelitian menunjukkan bahwa ternyata hipoplasia email lebih sering terjadi pada perempuan dengan perbandingan antara perempuan dan laki-laki adalah 11,42:10,00. Hal ini sesuai dengan penelitian Griffin and Donlon (2009) bahwa prevalensi hipoplasia email pada perempuan yaitu 67,2% dan laki-laki sebanyak 32.7%.
Berlainan dengan penelitian Alhammad (2011) yang menemukan prevalensi hipoplasia email pada laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan yaitu 25,6:24,1. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan relatif kecil, dan tidak signifikan.
Pada penelitian ini distribusi frekuensi hipoplasia email pada penyandang Sindrom Down di Yayasan POTADS adalah sebesar 21,42%.
Berdasarkan hasil penelitian ini, pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dari 73 penyandang Sindrom Down di Yayasan POTADS, terdapat 9 anak (6,57%) yang memiliki hipoklasifikasi email.26 Anak berusia 5 tahun merupakan jumlah yang paling banyak mengalami hipokalsifikasi email yaitu sebesar 2,92%. Hasil penelitian Aminabadi, et al., sama dengan hasil penelitian ini, yaitu anak-anak berusia 5 tahun memiliki risiko hipokalsifikasi email paling tinggi.
Pada usia 2,5 sampai 5 tahun, kalsifikasi email biasanya tidak homogen. Anak Sindrom Down memiliki gangguan dalam sistem pencernaan, oleh sebab itu gangguan dalam sistem pencernaan tersebut dapat menyebabkan tidak homogennya email sehingga terjadi gangguan pada tahap kalsifikasi email.16-21
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 6%
populasi penyadang Sindrom Down di Yayasan POTADS memiliki hipokalsifikasi email. Adapun penelitian ini dilakukan dengan melihat permukaan email gigi secara klinis menggunakan kaca mulut dengan pencahayaan yang cukup.
Area pada email buram, tidak tembus cahaya dan disebut juga enamel opacity atau opasitas, dapat juga berwarna kuning, coklat, dan dapat juga disertai keadaan sensitif terhadap perubahan suhu.16
Penderita Sindrom Down memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami agenesis, malformasi, hipoplasia dan hipokalsifikasi email dibandingkan dengan anak normal pada umumnya, karena penyebabnya yaitu faktor genetik lebih awal memengaruhi tumbuh kembang gigi. Hal ini mengakibatkan adanya gangguan sehingga terjadi kelainan jumlah matrik.16,19,20,24
Faktor genetik biasanya berhubungan dengan sindrom yang menjadi penyebab kegagalan perkembangan gigi, dan terdapat lebih dari 100 kelainan genetik yang berhubungan dengan kegagalan perkembangan gigi sehingga terjadi kelainan struktur email seperti hipokalsifkasi.16,17
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 73 anak Sindrom Down di Yayasan POTADS terdapat 18 gigi sulung (13,14%) yang terkena hipokalsifikasi email. Hasil penelitian Aminabadi pada tahun 2009 menunjukkan bahwa 121 anak usia 3 sampai 5 tahun yang mengalami hipokalsifikasi pada
gigi sulung adalah sebesar 11,11%. Hasil penelitian lain yang dilakukan Willyanti pada tahun 2009 mengenai defek email pada anak dengan kecil masa kehamilan didapatkan bahwa peluang terjadinya defek email gigi sulung sebesar 63% akan mengalami defek berat. Penyandang Sindrom Down memiliki hipokalsifikasi email yang rendah apabila dibandingkan dengan anak normal. Sinclair menyatakan bahwa gigi sulung mulai berkalsifikasi pada usia 4 sampai 6 bulan dalam kandungan. Pada tahap ini kalsifikasi gigi sulung belum sempurna hingga mencapai usia 3 tahun. Pada anak Sindrom Down tahap kalsifikasi mengalami gangguan yang diakibatkan oleh faktor genetik, sehingga tahap kalsifikasi dapat terganggu.26,30
Mahkota dari beberapa gigi molar permanen saat itu sudah terbentuk sempurna dan sebagian akarnya sudah mulai terbentuk. Pada usia 6 tahun, mulut telah dipenuhi oleh gigi. Gigi geligi sulung mulai tanggal dan gigi permanen sudah terbentuk. Gigi sulung dengan hipokalsifikasi menjadi masalah karena email tidak beregenerasi, jadi efeknya dapat bersifat permanen. Hipokalsifikasi email memperburuk kualitas email dan menyebabkan akumulasi plak yang lebih mudah memicu terjadinya karies. Karies yang tidak diobati
dapat menyebabkan abses dan dapat mengakibatkan hilangnya gigi sulung secara premature.16
Hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang memiliki hipokalsifikasi email paling sering terjadi adalah pada gigi kaninus. Sebuah studi berkepanjangan oleh Lai, et al., (dalam Soewondo & Effendi, 2012) pada anak-anak yang memiliki berat lahir sangat rendah menunjukkan adanya hipokalsfikasi sebesar 30%
pada kaninus gigi sulung, karena adanya kondisi gangguan pada masa prenatal dan adanya trauma pada saat kelahiran.
Kalsifikasi gigi sulung dimulai pada minggu ke-14 prenatal, diikuti dengan kalsifikasi gigi molar pertama pada minggu ke-15. Gigi insisivus lateral mengalami kalsifikasi pada minggu ke-16, gigi kaninus pada minggu ke-17, sedangkan gigi molar kedua pada minggu ke-18. Tahap kalsifikasi tidak sama pada setiap individu, dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan.29
Sindrom Down disebabkan karena faktor genetik, sehingga faktor ini dapat memengaruhi pola kalsifikasi, bentuk mahkota dan komposisi mineralisasi (McDonald dan Avery, 2000). Menurut Willyanti (2009) apabila terjadi
gangguan pada minggu ke-17 prenatal, akan terjadi hipokalsifikasi email pada gigi kaninus, karena pada saat itu merupakan tahap kalsifikasi gigi sulung. Kalsifikasi email dan dentin merupakan proses yang sensitif, memerlukan waktu panjang, oleh karena itu timbulnya kelainan kalsifikasi pada gigi yang sedang berkembang selalu dikaitkan dengan adanya gangguan pada saat perkembangan (Willyanti, 2009).
Hasil penelitian pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 73 anak Sindrom Down di Yayasan POTADS yang memiliki hipokalsifikasi email sebesar 2,19% berjenis kelamin laki-laki, sedangkan anak Sindrom Down berjenis kelamin perempuan yang memiliki hipokalsifikasi email sebesar 4,38%. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa anak Sindrom Down berjenis kelamin perempuan memiliki hipokalsifikasi email paling tinggi. Menurut penelitian Adistiani (2017) siswa dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami gangguan hipokalsifikasi email dengan persentase sebesar 56,75% atau sebanyak 21 siswa perempuan dibandingkan dengan jumlah siswa laki-laki yang mengalami hipokalsifikasi yaitu sebesar 43,24% atau sebanyak 16 siswa. Hasil penelitian Adistiani (2017) sama dengan hasil penelitian ini yaitu anak dengan
jenis kelamin perempuan lebih banyak memiliki hipokalsifikasi email dibandingkan laki-laki. Hal ini diakibatkan karena jenis kelamin memengaruhi kalsifikasi gigi. Umumnya pada anak perempuan, karena anak perempuan memiliki waktu kalsifikasi lebih cepat dibandingkan anak laki-laki dan waktu erupsi gigi pada anak laki-laki lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan.