BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2 Saran
A. Perlu dilakukan uji toksisitas terhadap ekstrak etanol 70% biji nangka untuk mengevaluasi batas keamanannya jika digunakan dalam jangka waktu panjang.
B. Perlu dilakukan uji teratogenik untuk mengetahui pengaruh dosis tertinggi pada janin
C. Perlu dilakukan dinamisasi molekul untuk melihat stabilitasnya
49
DAFTAR PUSTAKA
Adcock SA, McCammon JA. 2006. Molecular dynamics: Survey of methods for simulating the activity of proteins. Chemical Reviews. 106(5). 1589–1615.
Akbarzadeh A, Norouzian D, Mehrabi M, Jamshidi S, Farhangi A, Verdi A, Mofidian SMA, Rad BL. 2007. Induction of Diabetes by Streptozotocin in Rats. Indian Journal of Clinical Biochemistry. Hlm. 60-64.
American Diabetes Association. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus (2012):Diabetes Care, 35 Suppl 1:S64-71. doi: 10.2337/dc12-s064
ADA. 2009. Standars Of Medical in Diabetes. Diabetes Care vol 32.
Asmarawati, R., A. 2016. Karakteristik Amilum Biji Nangka (Artocarpus Heterophyllus Lamk.) dan Uji Aktivitas Antioksidan secara in-vitro. Skripsi. Fakultas ilmu-ilmu Kesehatan. Universitas Esa Unggul.
Almahdy A. 2012. Teratologi Eksperimental. Andalas University Press. Padang.
Astuti AD, Mutiara AB. 2011. International Journal of Computer Science & Information Security. 13(9).
Badr G. 2013. Camel Whey Protein Enhances Diabetic Wound Healing in Streptozotocin- induced Diabetic Mouse Model: The Critical Role of β-defensin-1, -2 and -3.
Biomed Central. Hlm. 1-11
Baliga MS, Shivashankara AR, Haniadka R, Dsouza J, Bhat HP. 2011. Phytochemistry, nutritional and pharmacological properties of Artocarpus heterophyllus Lam (jackfruit): A review. Food Research International. 44(7). 1800–1811.
Bhat V, Mutha A, Dsouza MR. 2017. Pharmacognostic and Physiochemical Studies of Artocarpus heterophyllus Seeds. 10(9). 525–536.
Bowen JP. 2012. Kimia Komputasi dan Desain Obat dengan Bantuan Komputer. Dalam J.
Manurung (Ed.) Wilson & Gisvold: Buku Ajar Kimia Medisinal Organik dan Kimia Farmasi (11th ed., pp. 996–1014). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Buchanan, A. Thomas dan Anny H. Xiang., 2005. Gestasional Diabetes Melitus, University of Sothern California Keck School Of Medicine, Los Angles, California, USA.
Brudenell, M. & Marjorie, D., 1996, Diabetes pada kehamilan, diterjemahkan oleh Maulany, R. F., EGC, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstra Tumbuhan Obat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Hlm : 3, 11-12, 14, 17.
Depkes RI. 2008. Pedoma Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik. Jakarta.
Hlm. 1,8.
Departemen Kesehatan RI. 2002. Buku Panduan Teknologi Ekstrak. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; Hlm. 3, 13 – 14.
Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care untuk penyakit Diabetes Mellitus. Jakarta. Hlm. 17, 20, 26-27, 35-36.
Dewi N. 2014. Lebar Benih Gigi Anak Tikus yang di Lahirkan Oleh Induk Tikus Pengidap Diabetes Mellitus Gestasional. Jurnal. Vol. II No. 1. Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Banjarmasin, Banjarmasin.
Drug Information Handbook. 2008-2009. A Comprehensive Resource for All Cliniclans and Healthcare Professionals 17th Edition. Lexi-Comp.
Firdaus., Rimbawan., Anna, S., dan Roosita, K., 2016. Model Tikus yang Diinduksi Streptozotocin-sukrosa untuk Pendekatan Penelitian Diabetes Melitus Gestasional.
Jurnal. Vol. 12 No. 1. Program Studi Ilmu Gizi Masyarakat IPB, Bogor.
Goud BJ, Dwarakanath, Swamy CB. 2015. Streptozotocin-A Diabetogenic Agent in Animal Models. IJPPR. Hlm. 253-269
Gupta, D., Mann, S., Sood, A., dan Gupta, R. K. 2011. Phytochemical, Nutritional and Antioxidant Activity Evaluation of Seeds of Jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lam.), International Journal of Pharma and Bio Sciences. 30 November 2015.
Hospital A, Goñi JR., Orozco M, Gelpi J. 2015. Molecular dynamics simulations: Advances and applications. Advances and Applications in Bioinformatics and Chemistry. 8.
37– 47.
Human. 2012. Glucose Liquicolor. Human Gesellschaft for Biochemica and Diagnostica mbH.
Wiesbaden.
Kaneto H, Kajimoto Y, Miyagawa J, Matsuoka T, Fujitani Y, Umayahara Y, Hanafusa T, Matsuzawa Y, Yamasaki Y, Hori N. 1999. Beneficial Effect of Antioxidant in Diabetes: Possible Protection of Pancreatic β Cell Againt Glucose Toxicity.
Diabetes. 48:2398-2406.
Katzung, B.G. 2007. Basic & Clinical Pharmacology, Tenth Edition.United States : Lange Medical Publications.
Kotowaroo MI, et all 2006. Screening of Traditional Antidiabetic Medicinal Plants Of Mauritius For Possible α- amylase Inhibitory Effect in Vitro,. Phytoter Res (20) : 228-231
Khoriyoh, M. 2015.Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Wistrar yang Diinduksi Aloksan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Manna A, Dian M, Hudiyanti D, Siahaan P. 2017. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Molecular Docking of Interaction between E-Cadherin Protein and Conformational Structure of Cyclic Peptide ADTC3 ( Ac-CADTPC-. 20(1). 30–36.
51
Mohanram I, Meshram J. 2016. Treasure of Indigenous Indian Herbal Antidiabetics: An overview. In G. Brachmachari (Ed.). Discovery and Development Antidiabetics Agents from Natural Products (1st ed., p. 276). Santiniketan: John Fedor.
Moura L, Bezerra C, Nolaszo J, Mota L, Faloni S, Gomes O, Gaspari J, Dallarmi M. 2018.
Acute and Subacute (28 days) toxicity, hemolytic and cytotoxin effect of Artocarpus heterophyllus seed extracts. Toxicology Reports. Brazil.
Nugroho AE. 2006. Hewan Percobaan Diabetes Mellitus: Patologi dan Mekanise Aksi Diabetogenik. Jurnal. Volume 7 No. 4. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pathak S, Dorfmueller H, Borodkin V, Aalten M. 2008. Chemical Dissection of the Link between Streptozotocin, O-GlcNAc and Pancreatic Cell Death. Pubmed Central J.
Plantamor, 2017, “Informasi Spesies: Artocarpus heterophyllus Lam”
[online]
(http://www.plantamor.com) diakses pada tangggal 13 Juni 2017: jam 08.00
Prakash O, Kumar R, Mishra A, Gupta R. 2009. Artocarpus heterophyllus (Jackfruit): An overview. Review Article. 3(6). 353–358.
Prianto B. 2007. Pemodelan Kimia Komputasi. Berita Dirgantara. 8(1). 4.
Priyatno Duwi. 2012. Belajar Praktik Analisi Parametik dan Non Parametik Dengan SPSS.
Gafa Media, Yogyakarta.
Purnomo H. 2013. Kimia Komputasi untuk Farmasi dan Ilmu Terkait: Uji In Siliko Senyawa Antikanker. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Purwanto, Hardjono S. 2016. Hubungan Struktur, Ikatan Kimia dan Aktivitas Biologis Obat.
Dalam: Kimia Medisinal (2nd ed., pp. 227–244). Surabaya: Airlangga University Press.
Sahu R, Shukla N. 2014. In- Silico Analysis Of Different Plant Protein And Their Essential Compound With Sulfonylurea Binding Protein Of β-Cells Of Homo Sapiens For Curing Diabetes Mellitus Type II Disease. European Chemical Bulletin. 3(6). 568–
576.
Setiajid, M. A. 2012. Analisis Dinamika Molekuler Hasil Penambatan Molekul Kompleks Siklooksigenase-2 Dengan Kuinazolinon Tersubstitusi Sulfonamida Atau Analisis Dinamika Molekuler Hasil Penambatan Molekul Kompleks Siklooksigenase-2 Dengan. Skripsi. Fakultas MIPA UI, Depok.
Sinata N, Helmi A. 2016. Antidiabetes Dari Fraksi Air Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Diabetes. Jurnal Sains Farmasi & Klinis. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Pekanbaru. Hlm. 72-78
Setiawan H, Irawan IM. 2017. Kajian Pendekatan Penempatan Ligan pada Protein Menggunakan Algoritma Genetika. Jurnal Sains Dan Seni ITS. 6(2). 2–6.
Soegondo S. 2011. Prinsip Penanganan Diabetes, Insulin dan obat HipoglikemikOral.
Dalam Soegondo S, Soewondo P, Subekti I (eds.) Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu Edisi Kedua. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Hlm: 111-133.
Studiawan, 2007, profil kesehatan indonesia : pencapaian indonesia sehat di tahun 2001.
Swantara, I.M.D., Darmayasa, I.B.G., dan Dewi, N.K.A.K., 2011, Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Kulit Batang Nangka, JURNAL KIMIA, 1-8
Syahputra G. 2015. Peran bioinformatika dalam desain kandidat molekul obat. 1(1). 26–27.
Tambunan USF, Rachmania RA, & Parikesit AA. 2015. In silico modification of oseltamivir as neuraminidase inhibitor of influenza A virus subtype H1N1. Journal of Biomedical Research. 29(2). 150–159.
Trott O, Olson AJ. 2010. AutoDock Vina: Improving The Speed and Accuracy of Docking with a New Scoring Function, Efficient Optimization and Multithreading. Journal of Computational Chemistry. 31(2). Hlm: 455- 461. doi:10.1002/jcc.21334.
Vogel H. 2008. Drug Discovery and Evaluation Pharmacological. Springer. New York.
Yanuar A. 2012. Penambatan Molekuler: Praktek dan Aplikasi pada Virtual Screening.
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Depok. 90 hlm.
Yeni, Supandi, & Khalishah, Y. 2018. HKSA dan Penambatan Molekuler Senyawa Turunan Kumarin sebagai Anti Kanker Kolon. Jurnal Bioeduscience. 1(2). 45–52.
Yu M. 2012. Computational Modeling of Protein Dynamics with GROMACS and Java.
Zanin, JL.B., Carvalho, B.A., Martineli, P.S., Santos, M.H., Lago, J.H.G., Sartorelli, P., et al., 2012, The Genus Caesalpinia L. (Caesalpiniaceae): Phytochemical and Pharmacological
53
Lampiran 1. Skema Prosedur Penelitian
Rancangan Penelitian
Determinasi Simplisia
Penyiapan Alat dan Bahan Uji
Pembuatan Ekstrak Etanol 70%
Biji Nangka
Tahap Penelitian
Analisa data
1. Pengumpulan Simplisia 2. Pemeriksaan mutu Simplisia 3. Penyiapan Reagen
4. Penyiapan Hewan Uji
1. Organoleptik 2. Penapisan Fitokimia 3. Rendemen
4. Susut Pengeringan
1. Aklimatisasi Hewan Uji 2. Penentuan Siklus Estrus 3. Mengawinkan Hewan Uji 4. Penetapan Dosis
5. Pembagian Kelompok Hewan Uji 6. Pemberian Induksi STZ
7. Pengukuran Kadar Gula Darah
Lampiran 2. Skema Pembuatan Ekstrak Etanol 70% Biji Nangka
Serbuk biji nangka
Di ekstraksi dengan pelarut etanol 70% dan dilebihkan 2-3 cm dari permukaan simplisia. Selama 6 jam pertama diaduk sesekali, diamkan sampai 18 jam, lalu disaring
Filtrat Ampas
Dilakukan maserasi kembali dengan pelarut etanol 70%, lalu disaring
(± 3 kali perlakuan)
Filtrat
Dipekatkan dengan penguap vakum rotary evaporator pada suhu 50 °C
Ekstrak kental
55
Lampiran 3. Skema Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Tikus putih betina galur Sprague dawley dengan berat badan 200-250 g
Terdiri dari 6 kelompok hewan uji, masing-masing kelompok terdapat 4 ekor
Tikus diaklimatisasi selama 7 hari
Pada hari ke-8 sampai hari ke-13 dilakukan penentuan siklus estrus serta mengawinkan hewan uji
Pada hari ke-14 dilakukan pengecekan darah pada tikus yang sudah bunting menggunakan spektrofotometer klinikal
Pada hari ke-15 tikus diinduksi dengan streptozotosin secara intra peritoneal, kemudian pada hari ke-18 dilakukan pengecekan darah
Pada hari ke-19 diberi perlakuan sesuai dengan kelompok uji selama 14 hari
Normal STZ Metformin Glibenklamid Acarbosa Dosis 1 Dosis 2 Dosis 3
Pada hari ke-34 dilakukan pengecekan darah
Lampiran 4. Pengukuran kadar glukosa darah
Serum 10 µl + 1000 µl reagen glukosa kit
Vortex
Inkubasi selama 10 menit pada suhu 20-250C
Baca kadar glukosa darah pada spektrofotometer klinikal
57
Lampiran 5. Hasil Determinasi Tanaman
Lampiran 6. Surat Keterangan Hewan Uji
59
Lampiran 7. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik
Lampiran 8. Sertifikat Metformin
61
Lampiran 9. Sertifikat Streptozotosin
Lampiran 10. Perhitungan Rendemen dan Susut Pengeringan Ekstrak
a. Perhitungan Rendemen Ekstrak Kental Etanol 70% Biji Nangka Simplisia kering = 1700 g
Ekstrak kental = 171,39 g
% = berat ekstrak kental x 100% berat serbuk
= 171,391700gg x 100%
= 10,08%
b. Perhitungan Susut Pengeringan Ekstrak Kental Etanol 70% Biji Nangka
Berat Botol Berat Botol Timbang + Berat Botol Timbang + Timbang Sampel sebelum Sampel Setelah
Kosong Pengeringan Pengeringn
15,761 g 17,853 g 17,785 g
17,739 g
17,664 g
17,599 g
Berat botol timbang kosong = 15,761 g
Berat awal (botol timbang + sampel) = 17,853 g Berat akhir atau konstan (botol timbang + sampel) = 17,664 g
berat awal−berat akhir
= berat awal−berat botol kosong x 100%
= (17,853−17,664)(17,664−15,761) x 100%
= 9,03%
63
Lampiran 11. Perhitungan Dosis a. Perhitungan Dosis Ketamin
Dosis ketamin yang dapat digunakan melalui intra peritoneal dan intra muscular pada manuasia adalah 6,5 mg/KgBB (DIH). Dosis yang digunakan untuk penelitian adalah 6,5 mg/KgBB sehingga perhitungannya sebagai berikut:
Diketahui konsentrasi ketamin 100 mg/ml.
Diketahui berat badan tikus 200 g.
= 40,08 mg/kgBB = 8,01 mg/200 gBB Konsentrasi sediaan ketamin = 100 mg/ml
Volume Pemberian Ketamin =
= x 200 gBB
= 0,08 ml b. Perhitungan dosis Streptozotosin
Dosis streptozotosin yang digunakan adalah 40 mg/kgBB (Badr 2013) Diketahui berat badan tikus 200 g
Dosis STZ : 40 mg/KgBB = 0,04 mg/gBB 0,04 mg/gBB x 200 g = 8 mg/gBB
Konsentrasi sediaan streptozotocin = 8 mg/ml Volume Pemberian Streptozotocin =
=
= 1 ml
c. Perhitungan Dosis Metformin c. Perhitungan Dosis Metformin
Dosis metformin yang digunakan adalah untuk manusia 500 mg/hari Dosis Tikus = Dosis Manusia
=
= 51,37 mg/kgBB
Dosis Metformin : 51,37 mg/KgBB = 0,0515 mg/gBB 0,0514 mg/gBB x 200 g = 10,27 mg/gBB Volume Pemberian Metformin =
=
= 1 ml
d. Perhitungan dosis Ekstrak Biji Nangka 1. Konsentrasi Dosis 1
VAO =
1ml =
Konsentrasi = 20 mg/ml
Konsentrasi larutan uji yang dibuat = 20 mg/mL Volume suspensi yang dibuat per hari = 10 mL
Berat ekstrak yang ditimbang = 10 mL x 20 mg/mL = 200 mg Contoh perhitungan dengan tikus berat badan 200g
VAO =
= 1 ml 2. Konsentrasi Dosis 2
VAO =
1ml =
Konsentrasi = 40 mg/ml 56
Konsentrasi larutan uji yang dibuat = 40 mg/mL Volume suspensi yang dibuat per hari = 10 mL
Berat ekstrak yang ditimbang = 10 mL x 40 mg/mL = 400 mg Contoh perhitungan dengan tikus berat badan 200g
VAO =
= 1 ml
3. Konsentrasi Dosis 3
VAO =
1ml =
Konsentrasi = 80 mg/ml
Konsentrasi larutan uji yang dibuat = 80 mg/mL Volume suspensi yang dibuat per hari = 10 mL
Berat ekstrak yang ditimbang = 10 mL x 80 mg/mL = 800 mg Contoh perhitungan dengan tikus berat badan 200 g
VAO =
= 1 ml
Lampiran 12. Data Kadar Glukosa Darah
Kelompok Tikus ke- Kadar Glukosa Darah (mg/dL) % Penurunan Kadar
Setelah Setelah diberi
diinduksi sediaan uji
Normal 1 105 106 -0,95
2 106 110 -3,77
3 100 102 -2
4 104 104 -0
Rerata Kadar Glukosa ± SD 103,75 ± 2,62 105,5 ± 3,41 -1,68 ±1,61
STZ 1 452 459 -1,54
2 337 335 0,59
3 420 425 -1,19
4 380 386 -1,57
Rerata Kadar Glukosa ± SD 397,25 ± 49,80 401,25 ± 53,29 -0,92 ±1,02
Metformin 1 317 120 62,14
2 312 121 61,21
3 335 124 62,98
4 356 115 67,69
Rerata Kadar Glukosa ± SD 330 ± 19,94 120 ± 3,74 63,50 ± 2,88
Glibenklamid 1 297 112 62,28
2 293 107 63,48
3 282 105 62,76
4 296 100 66,21
Rerata Kadar Glukosa ± SD 292 ± 6,87 106 ± 4,96 63,68 ± 1,75
Acarbose 1 359 124 65,45
2 339 132 61,06
3 266 104 60,90
4 266 112 57,89
Rerata Kadar Glukosa ± SD 307,5 ± 48,61 118 ± 12,43 61,32 ± 3,11
Dosis I 1 292 146 50
2 383 176 54,04
3 385 180 53,24
4 295 157 46,77
Rerata Kadar Glukosa ± SD 338,75 ± 52,27 164,75 ± 16,02 51,01 ± 3,32
Dosis II 1 330 146 55,75
2 371 155 58,22
3 293 159 45,73
4 339 155 54,27
Rerata Kadar Glukosa ± SD 333,25 ± 32,08 153,75 ± 5,5 53,49 ± 5,42
Dosis III 1 378 139 63,22
2 334 131 60,77
3 361 137 62,04
4 348 136 60,91
Rerata Kadar Glukosa ± SD 355,25 ± 18,75 135,75 ± 3,40 61,73 ± 1,14
58
Lampiran 13. Perhitungan Persentase Penurunan Kadar Glukosa Darah
Rumus perhitungan:
% Penurunan Contoh:
% Penurunan = x 100% = 65,87%
Lampiran 14. Data Berat Badan Tikus
Kelompok Tikus ke- Berat Badan (gram)
Sebelum Setelah
Bunting Bunting
Normal 1 191 193
2 197 198
3 198 200
4 199 202
STZ 1 204 207
2 197 199
3 198 201
4 198 201
Metformin 1 197 200
2 195 198
3 199 202
4 204 205
Glibenklamid 1 201 204
2 199 201
3 198 200
4 209 211
Acarbose 1 205 208
2 198 200
3 195 196
4 193 195
Dosis I 1 197 199
2 200 202
3 205 208
4 198 200
Dosis II 1 200 202
2 198 200
3 203 205
4 215 218
Dosis III 1 198 200
2 205 207
3 195 198
4 210 212
60
Lampiran 15. Hasil Analisa Statistik Penurunan Kadar Glukosa Darah a. Uji normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
KELOMPOK GULADARAH
N 32 32
Normal Parametersa Mean 4.5000 44.0938
Std. Deviation 2.32795 27.11717
Most Extreme Differences Absolute .115 .288
Positive .115 .196
Negative -.115 -.288
Kolmogorov-Smirnov Z .652 1.631
Asymp. Sig. (2-tailed) .788 .051
a. Test distribution is Normal.
Kesimpulan: Nilai sig 0,051 > 0,05 maka H0 diterima, artinya data terdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
GULADARAH
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1.844 7 24 .125
Kesimpulan: Nilai sig 0,125 > 0,05 maka H0 diterima, artinya data terdistribusi homogen.
c. Uji Anova
ANOVA
GULADARAH
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 22659.972 7 3237.139 385.643 .000
Within Groups 201.459 24 8.394
Total 22861.431 31
Kesimpulan: Nilai sig 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak, artinya jumlah dari setiap kelompok terdapat perbedaan signifikan.
D. Uji Tukey
Multiple Comparisons GULADARAH
Tukey HSD
Mean Difference 95% Confidence Interval
(I) KELOMPOK (J) KELOMPOK (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
Normal STZ -.75250 2.04868 1.000 -7.5375 6.0325
Metformin -65.18500* 2.04868 .000 -71.9700 -58.4000 Glibenklamid -65.36250* 2.04868 .000 -72.1475 -58.5775
Acarbosa -64.07500* 2.04868 .000 -70.8600 -57.2900
Dosis I -52.69250* 2.04868 .000 -59.4775 -45.9075
Dosis II -55.17250* 2.04868 .000 -61.9575 -48.3875
Dosis III -63.41500* 2.04868 .000 -70.2000 -56.6300
STZ Normal .75250 2.04868 1.000 -6.0325 7.5375
Metformin -64.43250* 2.04868 .000 -71.2175 -57.6475 Glibenklamid -64.61000* 2.04868 .000 -71.3950 -57.8250
Acarbosa -63.32250* 2.04868 .000 -70.1075 -56.5375
Dosis I -51.94000* 2.04868 .000 -58.7250 -45.1550
Dosis II -54.42000* 2.04868 .000 -61.2050 -47.6350
Dosis III -62.66250* 2.04868 .000 -69.4475 -55.8775
Metformin Normal 65.18500* 2.04868 .000 58.4000 71.9700
STZ 64.43250* 2.04868 .000 57.6475 71.2175
Glibenklamid -.17750 2.04868 1.000 -6.9625 6.6075
Acarbosa 1.11000 2.04868 .999 -5.6750 7.8950
Dosis I 12.49250* 2.04868 .000 5.7075 19.2775
Dosis II 10.01250* 2.04868 .001 3.2275 16.7975
Dosis III 1.77000 2.04868 .987 -5.0150 8.5550
Glibenklamid Normal 65.36250* 2.04868 .000 58.5775 72.1475
STZ 64.61000* 2.04868 .000 57.8250 71.3950
Metformin .17750 2.04868 1.000 -6.6075 6.9625
Acarbosa 1.28750 2.04868 .998 -5.4975 8.0725
Dosis I 12.67000* 2.04868 .000 5.8850 19.4550
Dosis II 10.19000* 2.04868 .001 3.4050 16.9750
Dosis III 1.94750 2.04868 .977 -4.8375 8.7325
62
Acarbosa Normal 64.07500* 2.04868 .000 57.2900 70.8600
STZ 63.32250* 2.04868 .000 56.5375 70.1075
Metformin -1.11000 2.04868 .999 -7.8950 5.6750
Glibenklamid -1.28750 2.04868 .998 -8.0725 5.4975
Dosis I 11.38250* 2.04868 .000 4.5975 18.1675
Dosis II 8.90250* 2.04868 .005 2.1175 15.6875
Dosis III .66000 2.04868 1.000 -6.1250 7.4450
Dosis I Normal 52.69250* 2.04868 .000 45.9075 59.4775
STZ 51.94000* 2.04868 .000 45.1550 58.7250
Metformin -12.49250* 2.04868 .000 -19.2775 -5.7075
Glibenklamid -12.67000* 2.04868 .000 -19.4550 -5.8850
Acarbosa -11.38250* 2.04868 .000 -18.1675 -4.5975
Dosis II -2.48000 2.04868 .921 -9.2650 4.3050
Dosis III -10.72250* 2.04868 .001 -17.5075 -3.9375
Dosis II Normal 55.17250* 2.04868 .000 48.3875 61.9575
STZ 54.42000* 2.04868 .000 47.6350 61.2050
Metformin -10.01250* 2.04868 .001 -16.7975 -3.2275
Glibenklamid -10.19000* 2.04868 .001 -16.9750 -3.4050
Acarbosa -8.90250* 2.04868 .005 -15.6875 -2.1175
Dosis I 2.48000 2.04868 .921 -4.3050 9.2650
Dosis III -8.24250* 2.04868 .010 -15.0275 -1.4575
Dosis III Normal 63.41500* 2.04868 .000 56.6300 70.2000
STZ 62.66250* 2.04868 .000 55.8775 69.4475
Metformin -1.77000 2.04868 .987 -8.5550 5.0150
Glibenklamid -1.94750 2.04868 .977 -8.7325 4.8375
Acarbosa -.66000 2.04868 1.000 -7.4450 6.1250
Dosis I 10.72250* 2.04868 .001 3.9375 17.5075
Dosis II 8.24250* 2.04868 .010 1.4575 15.0275
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Keterangan: (Tanda *) = Ada perbedaan bermakna, (Tanpa tanda *) = Tidak ada perbedaan bermakna
GULADARAH
Tukey HSD
Subset for alpha = 0.05
KELOMPOK N 1 2 3
Normal 4 -1.6800
STZ 4 -.9275
Dosis I 4 51.0125
Dosis II 4 53.4925
Dosis III 4 61.7350
Acarbosa 4 62.3950
Metformin 4 63.5050
Glibenklamid 4 63.6825
Sig. 1.000 .921 .977
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
64
Lampiran 16. Konversi Dosis
Tabel 14. Konversi Dosis Hewan ke Manusia
Spesies Bobot (kg) BSA (m2) Faktor Km Manusia
Dewasa 60 1,6 37
Anak 20 0,8 25
Baboon 12 0,6 20
Anjing 10 0,5 20
Monyet 3 0,24 12
Kelinci 1,8 0,15 12
Babi Guinea 0,4 0,05 8
Tikus 0,15 0,025 6
Marmut 0,08 0,02 5
Mencit 0,02 0,007 3
Lampiran 17. Dokumentasi Penelitian
Gambar 11. Pohon Nangka Gambar 12. Biji Nangka Kering
Gambar 13. Serbuk Biji Nangka Gambar 14. Bejana Maserasi
Gambar 15. Maserat Biji Nangka
Gambar 16. Vaccum rotary evaporator
66
Lampiran 17 (Lanjutan)
Gambar 17. Ekstrak Kental
Etanol 70% Biji Nangka Gambar 18. Ketamin Injeksi
Gambar 19. Streptozotosin Gambar 20. Sumbat vagina
Gambar 21. Proses Induksi Gambar 22. Pengambilan darah Streptozotosin secara intra peritoneal
Lampiran 17 (Lanjutan)
Gambar 23. Sentrifuge Gambar 24. Vortex
Gambar 25. Glukosa kit Gambar 26. Serum + glukosa kit
Gambar 27. Spektrofotometer klinikal
Gambar 28. Proses Sonde
68
Lampiran 17 (Lanjutan)
Gambar 29. Mikropipet
Gambar 30. Metformin
Gambar 31. Uji Tanin Gambar 32. Uji Flavonoid
Gambar 33. Uji Alkaloid Mayer Gambar 34. Uji Alkaloid Dragendorff
Gambar 35. Uji Steroid Gambar 36. Uji Saponin
Gambar 36. Uji Terpenoid
Lampiran 17 (Lanjutan)
Gambar 38. Botol timbang Gambar 37. Oven
Gambar 39. Timbangan analitik Gambar 40.Timbangan Hewan
70
Lampiran 18. Bukti Publikasi