• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM INTERNASIONAL SEBAGAI SUATU SISTEM

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 152-164)

Pada permulaan uraian tentang sejarah hukum internasional telah dikemukakan bahwa hukum internasional modern sebagai suatu sistem hukum, merupakan warisan kebudayaan Eropa Barat. Pada masa itu hubungan negara-negara Eropa Barat dengan dunia di luarnya terbatas pada hubungan diplomatik dan hubungan di bidang tertentu yang diatur dengan perjanjian bilateral.

Di bagian lain dunia, asas dan sistem hukum dunia barat diperkenalkan dengan berbagai cara, asas dan sistem hukum Inggris yang berlaku di daerah jajahannya di Benua Amerika bagian utara, berkembang menjadi sistem hukum Amerika (Serikat), demikian juga dengan di Asia dan Afrika.

1) Apakah yang dimaksud dengan Hukum Internasional?

2) Sebutkan Hukum Internasional yang tidak tertulis!

3) Sebutkan bagian dari Hukum Pidana Internasional!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Pelajari lagi bagian asal dari kegiatan belajar ini.

2) Biasanya berkaitan dengan kegiatan-kegiatan informal atau dalam beberapa hal masih bisa diabaikan.

LA T I HA N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

3) Hukum yang saat ini turut berpengaruh pada pembentukan hukum pidana nasional.

Hukum Internasional meliputi hukum yang berlaku bersama bagi beberapa negara, dan hukum suatu negara yang lingkup lakunya melampaui batas lingkup nasionalnya.

Hukum yang berlaku bersama bagi beberapa negara tersebut akibat perjanjian antar dua negara (bilateral) atau perjanjian antar beberapa negara (multilateral). Perjanjian semacam itu dikenal sebagai perjanjian internasional. Perjanjian internasional dapat mengenai hukum tantra, perdata ataupun pidana.

Bila dilihat peristiwa hukumnya maka hukum internasional terdiri dari:

1. Hukum Publik Internasional, yaitu bidang hukum yang berhubungan dengan peristiwa maupun perkara publik internasional.

2. Hukum Perdata Internasional, yaitu bidang hukum yang berhubungan dengan peristiwa maupun perkara perdata internasional.

1) Hukum Internasional meliputi dua macam hukum, yaitu hukum ....

A. yang berlaku bersama bagi berbagai negara dan hukum suatu negara yang lingkup lakunya melampaui batas lingkungan nasionalnya B. yang mengatur hanya dua negara, dan hanya dua negara tersebut

saja yang terikat dengan perjanjian

C. yang mengatur bila suatu negara berselisih dengan negara lain dan hukum yang mengatur bila suatu negara akan berdagang dengan negara lain

D. suatu negara tertentu yang diberlakukan juga untuk negara lain melalui konkordansi dan hukum yang dimiliki oleh negara-negara adi daya

RA NG K UM A N

T E S FO RM A T IF 5

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

2) Termasuk ke dalam kelompok Hukum Tata Negara Internasional adalah, kecuali ....

A. International bestuur B. Internationaal regeling C. Justitierech

D. Internationaal politie

3) Hukum Administrasi Internasional meliputi di antaranya, kecuali ....

A. bestuursrecht B. politierecht C. persoonrecht D. justitierecht

4) Bidang hukum perdata internasional substantif/materiil di antaranya adalah, kecuali ....

A. Hukum Pribadi

B. Hukum Harta Kekayaan C. Hukum Keluarga D. Hukum Administrasi

5) Hal yang harus diperhatikan dalam proses perkara perdata internasional ajektif atau formal adalah di antaranya, kecuali ....

A. persoalan preliminer B. administrasi publik C. asas timbal balik D. ketertiban Umum

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 5 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.

Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 5.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar

100%

Jumlah Soal 

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 5, terutama bagian yang belum dikuasai.

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 1) D

2) D 3) A 4) D 5) B

Tes Formatif 2 1) A

2) C 3) A 4) B 5) A

Tes Formatif 3 1) A

2) A 3) A 4) A 5) A Tes Formatif 4

1) B 2) B 3) C 4) A 5) A

Tes Formatif 5 1) A

2) C 3) C 4) D 5) B

Daftar Pustaka

Ahmad, Z. Ansori. (1986). Sejarah dan Kedudukan BW di Indonesia. Jakarta:

Rajawali.

Alfian (editor). (1997). Segi-segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh. Jakarta:

LP3ES.

Ali, Mohammad Daud. (1999). Hukum Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Aliumar, Tasyrif & Faisal Hamdan. (1977-1978). Hukum Adat dan Lembaga- lembaga Hukum Adat Daerah Sumatera Barat. Padang: BPHN-FH Unand.

Andasasmita, Komar. (1983). Masalah Hukum Perdata Nasional Indonesia.

Bandung: Alumni.

Azhary, Tahir. (1992). Bunga Rampai Hukum Islam. Jakarta: In Hill Co.

Bactiar, Harsja. W. (1976). Negeri taram: Masyarakat Desa Minangkabau.

Koentjaraningrat (ed). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta:

Penerbit Djambatan.

Bangun, Panjang. (1976). Kebudayaan Batak. Koentjaraningrat (ed).

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

BPHN. (1981). Laporan Hasil Pengkajian Bidang Hukum Adat. Jakarta.

Cooley, Frank. (1964). “Allang, sebuah desa di Pulau Ambon.”

Koentjaraningrat (ed). Masyarakat Desa di Indonesia Masa Ini. Jakarta:

Badan Penerbit FEUI.

Cooley, Frank. (1962). Ambonese Adat: A General Description. New Haven:

Yale University Southeast Asian Studies.

Danandjaya. (1976). Kebudayaan Penduduk Kalimantan Tengah.

Koentjaraningrat (ed). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta:

Penerbit Djambatan.

Djodjonegoro, M.M dan Tirtawinata R. (1940). Het Adatrecht van Midden Java.

Djojodigoeno, M.M. (1959). Asas-asas Hukum Adat. Yogyakarta.

Gautama, Sudargo. (1973). Segi-segi Hukum Peraturan Perkawinan Tjampuran. Bandung: Alumni.

Gautama, Sudargo. (1983). Suatu Pengantar Hukum Antar Golongan.

Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve.

Hadikusuma, Hilam. (1978). Sejarah Hukum Adat Indonesia. Bandung:

Alumni.

Harahap, M. Yahya. (1989). Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama. Jakarta: Pustaka Kartini.

Harjono, Anwar. (1968). Hukum Islam Keleluasaan dan Keadilannya.

Jakarta: Bulan Bintang.

Hasbullah, Frieda Husni. (2002). Hukum Kebendaan Perdata. Jakarta: Ind Hill Co.

Hazairin. (1962). Hukum Kekeluargaan Nasional. Jakarta: Tintamas.

Hazairin. (1961). Hukum Kewarisan-Bilateral menurut Al-Quran. Jakarta:

Tintamas.

Hidayat, Z.M. (1976). Kebudayaan Masyarakat Nusa Tenggara. Bandung:

Tarsito.

Holleman, F.N. (1927). Het Adatrecht van de afdeling Toeloengagoeng.

(Gewest-Kediri).

Hooker, M.B. (1978). Adat Law in Modern Indonesia. Oxford: Oxford University Press.

I Gusti Ngurah Bagus. (1976). Kebudayaan Bali. Koentjaraningrat (ed).

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Ichtijanto, H. (1990). Hukum Islam dan Hukum Nasional. Jakarta: In Hill Co.

Kalangi, N.S. (1976). Kebudayaan-Kebudayaan Minahasa. Koentjaraningrat (ed). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kartohadiprodjo, Soediman. (1984). Pengantar Tata Hukum di Indonesia.

Jakarta: Pembangunan_Ghalia Indonesia. Cetakan ke-10.

Koentjaraningrat. (1964). “Celapar: Sebuah Desa di Jawa Tengah bagian Selatan.” Koentjaraningrat (ed). Masyarakat Desa di Indonesia Masa Ini. Jakarta: Badan Penerbit FEUI.

Koentjaraningrat. (1967). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta Dian Rakyat.

Kusumaatmadja, Mochtar dan Etty R. Agoes. (2003). Pengantar Hukum Internasional. Bandung: Alumni.

Kusumaatmadja, Mochtar. (1976). Pengantar Hukum Internasional, Buku I Bagian Umum. Bandung Binacipta.

Lubis, Sulaikin, Wismar Ain Marzuki dan Gemala Dewi. (2005). Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia. Jakarta: Prenada Media.

Mattulada. (1976). Kebudayaan Bugis-Makasar. Koentjaraningrat (ed).

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Pudjosewojo, Kusumadi. (1971). Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia.

Jakarta: Penerbit PD Aksara.

Puspawidjaja, Rizani dkk. (1960). Hasil Penelitian Hukum Tidak tertulis Masyarakat Lampung. Tanjungkarang: FH UNILA.

Purbacaraka, Purnadi dan Agus Brotosusilo. (1982). Sendi-sendi Hukum Perdata Internasional, suatu Orientasi. Jakarta: Rajawali.

Sihombing, Herman. (1981). Hukum Adat Minangkabau mengenai Tiga Tungku Sejarangan dan Tiga tau sepilin. Hukum Adat Minangkabau.

Hukum Adat Minangkabau Dewasa Ini dan Kemudian Hari. Jakarta:

BPHN.

Sobiyakti. (1976). Kebudayaan Ambon. Koentjaraningrat (ed). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Soekanto, Soerjono & Soeleman B Taneko. (1983). Hukum Adat Indonesia.

Jakarta: Radjawali, Edisi Kedua.

Soekanto, Soerjono. (1975). Perkembangan Lembaga-lembaga Hukum Adat sejak 1945 di Daerah Lampung. Jakarta: BPHN.

Soekanto, Soerjono. (1979). Pokok-pokok Hukum Adat. Bandung: Penerbit Alumni.

Starke, G.J. (1983). An Introduction to International Public. Bandung:

Alumni.

Sudiyat, Imam. (1978). Hukum Adat, Sketsa Azas. Yogyakarta: Liberty.

Surojo Wignjodipuro. (1971). Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat.

Bandung: Penerbit Alumni.

Suryokusumo, Sumaryo. (1997). Studi Kasus Hukum Organisasi Internasional. Bandung: Alumni.

Suwardi, Sri Setianingsih. (1983). Intisari Hukum Internasional Publik.

Bandung: Alumni.

Wignjodipuro, Surojo. (1971). Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat.

Bandung: Alumni.

Wignjodipuro, Surojo. (1973). Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat.

Bandung: Alumni.

Vollenhoven, C, van. (1987). Penemuan Hukum Adat. Jakarta: Djambatan.

Vollmar, H.F.A. (1978). Hukum Benda. Bandung: Tarsito.

Yudho, Winarno dan Agus Brotosusilo. (2001). Sistem Hukum Indonesia.

Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Yudho, Winarno dan Agus Brotosusilo. (2001). Sistem Hukum Indonesia.

Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Hukum Kenegaraan

Harsanto Nursadi, SH., M.Si.

lmu kenegaraan (Staaswissenshaften) “diciptakan” oleh George Jellinek, seorang Guru Besar pada University Heidelberg (Berlin).Ilmu negara merupakan sebagian saja dari ilmu kenegaraan, karena ilmu kenegaraan berarti ilmu pengetahuan mengenai sesuatu negara. Logemann berpendapat bahwa negara adalah suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan. Djokosutono juga melihat negara sebagai suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Sedangkan G.

Pringgodigdo, selain sebagai organisasi kekuasaan/kewibawaan, negara juga harus memenuhi unsur-unsur tertentu yaitu harus ada pemerintah yang berdaulat, wilayah tertentu dan rakyat yang hidup dengan teratur sehingga merupakan suatu nation (bangsa).

Ilmu negara (staatslehre), yang diutamakan adalah nilai-nilai ilmiahnya sehingga disebut dengan seinwissenshaft. Pada ilmu negara tidak terdapat atau dibahas mengenai nilai yang praktis, sehingga bila kita mempelajarinya tidak akan mendapatkan hasil yang langsung dapat digunakan dalam praktik.

Ilmu ini lebih mementingkan nilai teoritisnya.

Dalam kelompok staatswissenschaft, negara dipelajari dari sisi yang sempit, yaitu Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Antar Negara. Hal inilah yang menjadi dasar dari modul ini untuk membagi menjadi tiga bagian, yaitu Ilmu Negara, Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara. Sedangkan Hukum Antar Negara dibahas pada modul lain dalam bentuk Hukum Internasional.

Secara umum setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan keberadaan suatu negara dan pengaruhnya terhadap perkembangan hukum di negara tersebut, Hukum Tata Negara dalam suatu negara dan Hukum Administrasi Negara dalam suatu Negara.

I

P E NDA HUL UA N

Secara lebih khusus setelah mempelajari modul ini, Anda dapat menjelaskan:

1. Keberadaan Suatu Negara.

2. Hukum Tata Negara.

3. Hukum Administrasi Negara.

Kegi atan Bel ajar 1 Ilmu Negara

lmu Negara Umum disusun oleh George Jellinek, merupakan bapak dari Ilmu Negara. Ilmu ini sebenarnya merupakan sebagian dari ilmu kenegaraan atau Plato menyebutnya dengan politeia atau Politica berdasarkan pendapat dari Aristoteles. Pada ilmu kenegaraan, maka yang dibahas adalah segala sesuatu tentang negara (de wetenschap nopens de staat). Staatswissenshaft dalam arti luas meliputi ilmu pengetahuan mengenai negara yang menekankan pada negara sebagai objeknya dan rechtswissenshaft yang merupakan ilmu pengetahuan mengenai negara yang menekankan segi hukumnya.

Ilmu pengetahuan negara sebagai objeknya (staatswissenschaft) terdiri dari Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Antar Negara, sedangkan ilmu pengetahuan yang menekankan dari segi hukumnya yaitu Hukum Perdata, Hukum Pidana dan Hukum Acara Perdata/Pidana.

Staatswissenschaft sebagai ilmu pengetahuan terdiri dari Statenkunde atau ilmu pengetahuan yang melukiskan atau menceritakan negara atau yang disebut juga dengan history of state atau political history, Staatslehre atau perumusan dari bahan tentang negara dalam bentuk teori tentang negara dan Kunstlhehre atau politikologi yaitu ilmu pengetahuan yang menggunakan hasil praktik dari staatslehre.

Pada ilmu negara (staatslehre), yang diutamakan adalah nilai-nilai ilmiahnya sehingga disebut dengan seinwissenshaft. Pada ilmu negara tidak terdapat nilai yang praktis, sehingga bila kita mempelajarinya tidak akan mendapatkan hasil yang langsung dapat digunakan dalam praktik. Ilmu ini lebih mementingkan nilai teoritisnya.

Pada ilmu negara yang dipelajari adalah teori-teori tentang asal mula negara, hakikat negara, tujuan negara, pengertian bentuk negara.

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 152-164)