• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identitas Agama Sebagai Alat Politik

Dalam dokumen politik identitas agama pada pemilihan umum (Halaman 34-41)

BAB IV BAB IV

4.4. Identitas Agama Sebagai Alat Politik

berbagai etnis, tetapi factor kekuatan financial dan status kelas sosial yang menjadi “mesin politik”. Dalam konteks inilah kemudian bahwa mind set masyarakat pada umumnya menilai event politik lokal dalam pesta demokrasi rakyat di Kabupaten Sigi telah terjangkiti virus “pragmatisme”. Masyarakat memberikan dukungan atas dasar motivasi mendapatkan keuntungan berupa bantuan sembako, sumbangan sosial, uang transportasi, uang bensin dan lain- lain. Mind Set ini kemudian dimaninkan oleh tim sukses untuk membangun simpati kepada masyarakat untuk menjatuhkan pilihannya kepada kandidat yang dipromosikan.

Pragmatisme masyarakat dalam memilih calon kepala daerah dapat menggerus kualitas demokrasi lokal di Indonesia. Padahal, kondisi sistem politik yang telah melakukan beberapa kali pemilihan langsung dalam memilih pejabat public, mestinya masyarakat memilih tidak berdasarkan keuntungan financial semata atau mendambakan paket proyek sebagai “jasa politik”, tetapi memilih berdasarkan pendekatan moralitas dan integritas kandidat tersebut.

Dalam konteks demikian, maka konsolidasi demokrasi pada aras lokal relative jauh dari harapan untuk melahirkan pemimpin yang amanah dan mengayomi seluruh lapisan masyarakat.

tersebut berkisar antara 62,17 persen Muslim dan 36,90 persen Kristiani protestan (lihat tabel 03 dan 03). Komunitas masyarakat yang berbeda agama tersebut dapat dipetakan bahwa sebagian besar komunitas Muslim berdomisili di wilayah Kecamatan Gumbasa,Kecamatan Dolo Selatan, Kecamatan Dolo Barat, Kecamatan Tanambulava, Kecamatan Dolo, Kecamatan Sigi Biromaru, Kecamatan Marawola, dan Kecamatan Kinovaro. Sementara itu, komunitas Kristiani Protestan pada umumnya menempati wilayah Kecamatan Pipikoro, Kecamatan Kulawi Selatan, Kecamatan Kulawi, Kecamatan Lindu, Kecamatan Nokilalaki, Kecamatan Palolo, dan Kecamatan Marawola Barat. Segmentasi masyarakat Kabupaten Sigi berdasarkan dua agama yang memiliki penganut mayoritas merupakan acuan kuantifikasi potensi dukungan seorang figur untuk tampil dalam pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Sigi baik di tahun 2010 dan tahun 2015 yang baru saja berlangsung secara serentak pada tanggal 9 Desember.

Rasionalisasi dan realitas masyarakat politik di Kabupaten Sigi bahwa masyarakat memilih kandidat salah satu factor penyebabnya adalah identitas agama. Hal ini secara nyata menun jukkan bahwa hampir semua kandidat yang masuk bakal calon baik yang usulkan oleh masyarakat maupun oleh partai politik berpasangan berdasarkan agamanya. Kandidat yang beragama Islam sebagai calon Bupati dan kandidat yang beragama Kristen Protestan dicalonkan sebagai Wakil Bupati. Dalam pendekatan respresentatif (keterwakilan) dengan komposisi pencalonan kandidat bedasarkan jumlah pemeluk agama merupakan

keterwakilan alamiah yang sulit untuk merubah pikiran, ideology dan perilaku politik masyarakat untuk bergeser pada pilihan lain atas dasar pandangan yang berbeda dengan keyakinan agama mereka. Fenomena pemilihan kepala daerah (Bupati dan Wakil Bupati) di Kabupaten Sigi berdasarkan identitas agama merupakan solodaritas kultural yang menginginkan adanya keseimbangan dalam jabatan politik dan birokrasi.Salah seorang tokoh masyarakat Kulawi, Marten menilai bahwa dengan adanya persandingan calon kepala daerah Kabupaten Sigi pada pemilu 2015 berdasarkan identitas agama, yaitu Islam dan Kristen Protestan merupakan kepuasan bagi kami, karena pemeluk agama Kristen merasa terwakili pada puncak jabatan eksekutif. …Saya kira ini merupakan keseimbangan politik bagi masyarakat di Kabupaten Sigi23. Komposisi komunitas pemeluk agama di Kabupaten Sigi dapat di lihat tabel berikut ini.

Tabel 02

Komposisi Masyarakat Berdasarkan Identitas Agama di Kabupaten Sigi

Pemeluk Agama Jumlah Persen (%)

Islam 144.554 62,17

Kristen Protestan 77.583 36,90

Kristen Katolik 1809 0,84

Hindu 167 0,06

Budha 101 0,04

Sumber:BPS Kabupaten Sigi, 2013

23 Wawancara, di Kulawi, 15 April 2016

Keseimbangan politik kerap yang menjadi pertimbangan adalah jabatan politik dan jabatan public. Selain komposisi politik berdasarkan cultural seperti halnya etnis, daerah dan identitas agama merupakan rasionalitas karakteristik masyarakat yang harus dikeseimbangkan. Dengan komposisi demikian untuk menghindari terjadinya monopoli suatu kelompok komunitas masyarakat tertentu yang didasarkan dengan identitas agama, etnis, dan daerah. Oleh karena itu keseimbangan politik bukan sematan hanya pada konteks pemilihan kepala daerah tetapi pendistribusian jabatan strategis pada birokrasi dapat terakomodasi. Hal ini, pasca pemilihan kepala daerah Kabupaten Sigi tahun 2010 dan tahun 2015 beberapa jabatan strategis birokrasi yang ditempati oleh figur beragama Kristen Protestan dan agama non Muslim lainnya. Realitas politik demikian menunjukkan adanya politik representative yang mewakili aspirasi berdasarkan kelompok identitas agama yang mencerminkan berjalannya kualitas demokrasi lokal di Kabupaten Sigi sejak melangsungkan Pemilihan Kepala Daerah langsung. Politik representative demikian, mencerminkan subtansi bernegara dan bermasyarakat yaitu Bhinneka Tugal Ika, beragam corak agama, etnis, dan budaya bersatu dalam bingkai bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahwa setiap warga Negara memiliki kesamaan hukum, dan kesempatan mendapatkan jabatan politik dan birokrasi. Realitas politik identitas Agama di Kabupaten Sigi pada pemilihan Kepala Daerah secara langsung tahun 2010 dan pemilihan kepala Daerah serentak tahun 2015 kandidat calon kepala daerah (Bupati dan

Wakil Bupati) berpasangan dengan perbedaan agama, yaitu figur agama Islam dan figur beragama Kristen Protestan. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 03

Komposisi Kandidat Bupati dan Wakil Bupati Berdasarkan Identitas Agama Pada Pemilihan Kepala Daerah Langsung Tahun 2010

Di Kabupaten Sigi

No Nama Kandidat/Posisi Agama Perolehan

Suara*

1. Aswadin Randa Lembah (Bupati).

Livingstone Sango (Wakil Bupati)

Islam

Kristen Protestan

28.300 (31,11

%)

2. Rizali Djaelangkara (Bupati)

Ajub Willem Darawia (Wakil Bupati)

Islam

Kristen Protestan

23.452 (25,78

%)

3. Ridwan Yalidjama (Bupati) Edison Kindangen (Wakil Bupati)

Islam Islam

21.294 (23,41

%) 4. Anwar Ponulele (Bupati)

Fredy Lody Djaru (Wakil Bupati)

Islam

Kristen Protestan

10.652 (11,71

%)

5. Helmy Zaenong (Bupati) Anwar (Wakil Bupati)

Islam Islam

5.391 (5,93 %)

6. Sulmin Tenggo (Bupati) Elisa Subainda (Wakil Bupati)

Islam

Kristen Protestan

1.876 (2,06 %)

Sumber: Diposkan Oleh Korupsi SULTENG di 19.31 (internet), Sigi Mercusuar, 2016.

*Perolehan suara sementara berdasarkan suara masuk dari Real count ASLI Center pukul 22.00 Wita mencatat 90.965 suara sah (61,58 persen).

Tabel 04

Komposisi Kandidat Bupati dan Wakil Bupati Berdasarkan Identitas Agama Pada Pemilihan Kepala Daerah Langsung Tahun 2015

Di Kabupaten Sigi

No Nama Kandidat/Posisi Agama Partai Pengusung Perolehan Suara 1. Moh.Irwan Lapata (Bupati)

Paulina (wakil Bupati)

Islam Kristen

Gerindra,PAN dan Golkar

37.083

2. Nurzain Djaelangkara (Bupati) Ajub Willem Darawia (Wakil Bupati)

Islam Kristen

Nasdem,

Demokrat, PKPI

29.617

3. H.Husen Habibu (Bupati) Enos Pasaua (Wakil Bupati)

Islam Kristen

Hanura dan PKB 32.359

4. Moh.Agus Rahmat (Bupati) Wardha (Wakil Bupati)

Islam Kristen

PDIP dan PBB 24.353

Sumber: Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sigi, 2016

Meskipun ada beberapa calon Bupati dan Wakil Bupati memiliki kesamaan identitas agama seperti halnya pada pemilihan Umum Kepala Daerah Langsung Tahun 2010, yaitu Ridwan Yalidjama dan Edison Kindangen dan Pemilihan Kepala Daerah Langsung serentak pada tahun 2015, yaitu Moh.Agus Rahmat dan Wardha mendapatkan perolehan suara pada peringkat terakhir.

Artinya perolehan suara mereka tidak signifikan untuk memenangkan pemilihan Umum Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Sigi. Oleh karena itu, pertimbangan rasionalitas karakteristik dan corak masyarakat hendaknya menjadi dasar kalkulasi politik, bahwa factor identitas agama amat menentukan

pemenangan dalam Pemilihan Kepala Daerah secara langsung di Kabupaten Sigi. Hal demikian mencerminkan politik keseimbangan dalam membangun konsolidasi demokrasi lokal di Kabupaten Sigi dan Kabupaten lain sesungguhnya berlaku di Kabupaten Poso dan Kabupaten Morowali Utara pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Langsung serentak pada tanggal 9 Desember 2015.

Faktor Identitas agama tidak dapat dimenafikan begitu saja, karena hal ini merupakan penyaluran aspirasi kelompok komun itas yang didasarkan dengan atas kesamaan keyakinan agama. Dengan kelompok komunitas agama atas dasat solidaritas kesamaan agama, maka aspirasi masyarakat mengalami perbedaan subtansial dalam menyalurkan. Agama merupakan salah identitas kemajemukan yang dianut bangsa ini untuk membangun demokrasi yang lebih aspiratif. Oleh karena itu, dengan polarisasri demikian, maka identitas agama merupakan jalan menuju meraih kekuasaan dan jabatan public. Konteks demikian, dalam politik disebutkan sebagai politik keseimbangan dan mendapatkan peluang politik ekonomi secara proprsional. Dengan politik keseimbangan dapat menanggulangi adanya politik tirani mayoritas oleh kelompok komunitas tertentu. Salah seorang informan mengakui hal itu bahwa sulit dipungkiri identitas agama menjadi penting dalam merebut kekuasaan dalam pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sigi tahun 2015. Rahim tokoh masyarakat Kaluku Bula secara gamblang menggambarkan situasi dinamika politik di Kabupaten Sigi, bahwa:

“…,Saya Rahim Tarimena bisa mengatakan bahwa di Kabupaten Sigi ini kalau mencalonkan Bupati dan Wakil Bupati harus orang asli, agar tahu persis persoalan yang dialami oleh masyatakat di Sigi ini. Ada beberapa kecamatan mayoritas beragama Islam dan beberapa Kecamatan mayoritas beragama Kristen, ini harus berpasangan karena di Sigi ini agama adalah alat politik yang di bawah di ranah Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati untuk mencapai tujuannya. Seperti kita lihat pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati baru-baru ini dan terpililah Irwan Lapatta dan Paulina. Semua ini adalah perwakilan Agama Islam dan Agama Kristen”. (wawancara oleh Nofrian, di Kaluku Bula, 12 Januari 2016) .

Identitas agama sebagai alat politik sesungguhnya bukanlah dalam perspektif negative, tetapi lebih pada konteks representative yaitu semua kelompok komunitas agama, etnis dan budaya mendapatkan akses yang sama dan proporsional dalam meraih jabatan politik dan birokrasi. Sumber daya politik kemudian ini cukup berpengaruh pada tataran kebijakan public baik pada level eksekutif maupun di legislative (DPRD). Kebijakan public yang proporsional dapat memberikan akses setiap pemeluk agama dan etnis mendapatkan hak dalam mengelola sumber daya ekonomi baik daerah maupun pada tingkat Desa dan Kecamatan di Kabupaten Sigi.

Dalam dokumen politik identitas agama pada pemilihan umum (Halaman 34-41)

Dokumen terkait