BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Implikatur dalam Novel Laskar Pelangi
Ragam implikatur yang terdapat di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dibedakan menjadi tiga yaitu ragam implikatur konvensional, praanggapan, dan nonkonvensional. Adapun data temuan yang menunjukkan ketiga ragam implikatur tersebut diuraikan sebagai berikut;
80
1) Implikatur konvensional
Implikatur konvensional merupakan implikatur yang diperoleh langsung dari makna kata, dan bukan dari prinsip percakapan.
Implikatur konvensional lebih mengacu pada makna kata secara konvensional, makna percakapan ditentukan oleh “arti konvensional”
kata-kata yang digunakan. Adapun kutipan yang menjelaskan ragam implikatur konvensional di dalam novel Laskar Pelangi adalah sebagai berikut;
Data LP 001
“Sembilan orang… baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 2)
Kutipan tuturan data LP 001 di atas disampaikan oleh Ibu Mus kepada Pamanda Guru atau Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, yang tidak lain merupakan kepala Madrasah Ibtidaiyah (SD) Muhammadiyah. Diceritakan bahwa di hari pertama sekolah, syarat kelas dapat dibuka adalah siswa harus berjumlah sepuluh orang (minimal). Namun, kala itu, saat pembukaan kelas akan dimulai, jumlah siswa yang seharusnya sepuluh orang belum juga cukup, sehingga Ibu Mus terlihat cemas dengan wajah tegang dan menyampaikan tuturan di atas kepada kepala sekolah.
Berdasarkan tuturan tersebut, implikatur konvensional yang terjadi adalah jumlah siswa yang ada saat itu belum mencukupi kebutuhan yang seharusnya yakni sepuluh orang. Sebab, masih terdapat satu orang calon siswa yang belum datang.
Data LP 002
“Kasihan Ayahku…”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 3)
Kutipan tuturan data LP 002 di atas disampaikan oleh tokoh Aku karena merasa bersalah dan ibah kepada Ayahnya yang harus bekerja keras untuk membiayai hidup keluarganya ditambah biaya sekolah jika tokoh Aku benar-benar bersekolah, padahal usianya tidak muda lagi. Implikatur konvensional yang timbul dari tuturan tersebut adalah tokoh Aku merasa kasihan kepada ayahnya yang sudah tua namun harus bekerja keras menanggung beban hidup keluarga.
Implikatur konvensional lainnya yang dapat diperoleh dari tuturan tersebut adalah tokoh Aku berasal dari keluarga miskin yang kondisi hidupnya memprihatinkan. Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa tokoh Aku adalah orang yang memiliki belas kasihan dan menyayangi ayahnya.
Data LP 003
“Barangkali sebaikya Aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli
(Novel Laskar Pelangi, hal. 3)
Kutipan tuturan data LP 003 di atas disampaikan oleh tokoh Aku setelah merasa bersalah dan kasihan kepada ayahnya atas keinginannya untuk bersekolah. Sehingga timbullah perasaan dilema dalam dirinya bahwa mungkin akan menjadi lebih baik jika tokoh Aku pulang saja ke rumah daripada ikut bersekolah. Tokoh Aku juga berpikir bahwa mungkin lebih baik jika mengikuti jejak beberapa saudara tertuanya (abang) dan juga sepupu-sepupunya untuk bekerja sebagai kuli.
Dari tuturan tersebut, implikatur konvensional yang timbul adalah tokoh Aku mengalami kebimbangan dalam berpikir sehingga keputusannya untuk bersekolah kendor. Tokoh Aku berpikir untuk pulang ke rumah dan bekerja sebagai kuli. Di samping itu, implikatur konvensional yang timbul adalah diketahui bahwa ternyata ada beberapa saudara (abang) dan sepupu-sepupu dari Tokoh Aku yang bekerja sebagai kuli.
Data LP 004
“Kita tunggu sampai pukul sebelas” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orang tua yang telah pasrah.
Suasana hening.
(Novel Laskar Pelangi, hal. 6)
Kutipan tuturan data 004 di atas disampaikan oleh tokoh Pak Harfan yang merupakan kepala sekolah. Diceritakan bahwa pada hari pembukaan kelas dan penerimaan siswa baru yang minimal sepuluh
orang itu, Pak Harfan telah merasa pesimis sebab jumlah siswa tak kunjung sampai standar yang ditetapkan oleh Badan Muhammadiyah Pusat. Pak Harfan pesimis mengingat tahun lalu jumlah siswa hanya sebelas orang dan tahun ini tersisah satu orang hingga persyaratan terpenuhi. Sehingga Pak Harfan secara diam-diam menyiapkan pidato pembubaran sekolah di hadapan orang tua murid. Namun, sebelum itu, Pak Harfan menyampaikan bahwa batas waktu untuk menyampaikan pidato tersebut hingga pukul sebelas sembari menunggu satu orang siswa yang menjadi pelengkap dari persyaratan yang diberikan.
Implikatur konvensional yang timbul dari kutipan tuturan tersebut adalah pada saat itu waktu belum menunjukkan pukul sebelas. Implikatur lainnya yaitu jika waktu telah menunjukkan pukul sebelas maka sekolah tidak akan dibuka dan akan dibubarkan pada hari itu di hadapan orang tua siswa.
Data LP 005
“Harun!”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 6)
Kutipan tuturan data LP 004 di atas disampaikan oleh tokoh Trapani ketika kepala sekolah hendak menyampaikan pidato penutupannya di hadapan para orang tua yang merasa kecewa akibat kelas akan tidak jadi dibuka karena kekurangan satu orang calon
siswa. Namun, secara tiba-tiba tokoh Trapani meneriakkan tuturan tersebut karena melihat seorang anak (calon siswa) di pinggir lapangan rumput yang luas dan hendak menuju perkumpulan orang tua dan calon siswa.
Implikatur konvensional yang timbul dari peristiwa tutur tersebut adalah ada seorang anak yang bernama Harun datang ke sekolah dan sedang berada dipinggir lapangan rumput hijau di halaman sekolah.
2) Implikatur praanggapan
Implikatur praanggapan yaitu ragam implikatur yang berupa andaian penutur bahwa mitratutur dapat mengenal pasti orang atau benda yang diperkatakan. Sebuah tuturan dapat mempraanggapkan tuturan yang lain. Implikatur praanggapan lebih mengacu pada suatu pengetahuan bersama antara penutur dan mitratutur. Adapun kutipan yang menjelaskan ragam implikatur praanggapan di dalam novel Laskar Pelangi adalah sebagai berikut;
Data LP 006
“Bapak Guru…”
“Terimalah Harun, Pak, karena SD hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana.
Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku …”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 7) Kutipan tuturan data LP 006 di atas disampaikan oleh orang tua (Ibu) dari tokoh Harun yang menderita keterbelakangan mental dan
cacat pisik. Diceritakan bahwa di saat detik-detik penantian satu siswa terakhir oleh Bu Mus, Pamanda Guru (Pak Harfan), orang tua siswa, dan sembilan siswa lainnya yang telah hadir, tiba tiba muncul seorang anak bernama Harun yang menderita keterbelakangan mental dan cacat pisik bersama ibunya. Ibunya memohon kepada kepala sekolah agar anaknya yang dalam keadaan tidak normal tersebut dapat diterima di SD Muhammadiyah, sebab sekolah bagi penyandang cacat atau disabilitas hanya terdapat di Pulau Bangka yang jaraknya cukup jauh.
Implikatur praanggapan pada tuturan tersebut timbul akibat kesadaran orang tua (Ibu) Harun bahwa anaknyalah peserta didik terakhir yang dinanti oleh guru, kepala sekolah, orang tua siswa, dan siswa-siswa itu sendiri agar kelas belajar dapat dibuka. Melihat keadaan tersebut, Ibu Harun memanfaatkannya dengan keyakinan bahwa anaknya akan diterima di sekolah tersebut meskipun dalam kondisi tidak normal, dan sekolah tersebut memang bukan bagi penyandang disabilitas. Praanggapan dari Ibu Harun tersebut terjawab dengan kutipan tuturan berikut;
Data LP 007
“Genap sepuluh orang…” katanya (Pak Harfan)
(Novel Laskar Pelangi, hal. 7)
Kutipan tuturan data LP 007 di atas disampikan oleh Pak Harfan (Kepala Sekolah) SD Muhammadiyah sesaat setelah Harun hadir dan melengkapi kuota jumlah siswa yang harus terdaftar sebagai siswa baru di sekolah tersebut. Tuturan ini pada hakikatnya menjadi harapan yang menjadi praanggapan ibu Harun bahwa anaknya akan diterima. Di samping itu, tuturan di atas juga mengandung implikatur praanggapan dari Pak Harfan, sebab ia menyadari bahwa dengan membahasakan kondisi tersebut “Genap sepuluh orang…”, Ibu Mus akan merasa bahagia dan menjadi semangat kembali sebagai mana yang digambarkan oleh pengarang (Andrea Hirata) bahwa “Ibu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras”.
Data LP 008
“Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang …” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan.
“Namun kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka hingga mereka musnah dilamun ombak
…”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 22)
Kutipan tuturan data LP 008 di atas disampaikan oleh Pamanda Guru (Pak Harfan) dalam bentuk cerita kenabian Nuh kepada para siswa baru. Diceritakan bahwa kehadiran Pak Harfan di dalam kelas
untuk menyambut siswa baru membuat siswa merasa ketakutan, sebab penampilannya yang serupa dengan beruang madu. Namun, ketika prolog cerita disampaikan dengan gaya bahasa puitisnya, siswa-siswa seakan terhipnotis dengan keindahan kata-kata dan caranya menyampaikan cerita. Dari gaya tersebutlah, Pak Harfan menyambut kehadiran siswa baru di sekolah yang amat sederhana tersebut dengan penuh suka cita. Namun, pada hakikatnya, dari kutipan tuturan tersebut, terdapat implikatur praanggapan dari Pak Harfan yang ingin disampaikan kepada siswa baru tersebut. Pak Harfan berharap bahwa dengan cerita-cerita moral dan inspiratif yang diceritakan kepada peserta didiknya, maka akan terbentuk moral yang baik pula. Sebab, harapan Pak Harfan menceritakan kisah-kisah kenabian untuk dijadikan bahan pelajaran bagi siswa untuk menjadi lebih baik dari keterpurukan hidup yang dialami selama ini.
Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa tutran tersebut mengandung implikatur sebagaimana pengarang menambahkan narasi setelah kutipan tersebut “Sebuah kisah yang sangat mengesankan. Pelajaran moral pertama bagiku: Jika tak rajin shalat maka pandai-pandailah berenang.”
Data LP 009
(1) “Silakan Ananda perkenalkan nama dan alamat rumah …” pinta Bu Mus lembut pada anak Hokian itu.
(Novel Laskar Pelangi, hal. 26)
Kutipan tuturan di atas disampaikan oleh Bu Mus ketika diambil alih olehnya dan memulai kegiatan pendahuluan sebagaimana pertemuan pertama yaitu perkenalan diri. Diceritakan bahwa ketika semua siswa telah selesai memperkenalkan dirinya tibalah giliran A Kiong yang sebelumnya menagis terisak-isak dan tiba tiba terdiam dan tersenyum lebar karena mendengar gilirannya telah tiba. Namun, pada saat A Kiong berdiri di depan kelas, ia hanya terdiam dan terus tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dari keadaan tersebut, Bu Mus kembali bertutur;
(2) “Silakan, Ananda …” Bu Mus meminta sekali lagi dengan sabar.
(Novel Laskar Pelangi, hal. 26)
Kutipan tuturan (2) di atas adalah rangkaian dari kutipan (1) data LP 009 yang disampaikan oleh Bu Mus setelah sebelumnya telah meminta A Kiong memperkenalkan dirinya di depan kelas, namun hanya terdiam dan tersenyum. Namun, hal yang sama kembali terjadi setelah tuturan ini disampaikan oleh Bu Mus. A Kiong masih saja terdiam dan tersenyum. Dari keadaan ini, timbullah implikatur praanggapan dalam diri Bu Mus bahwa A Kiong belum cukup mampu atau memang tidak mampu untuk bercerita di depan kelas dengan alasan takut atau gugup bercerita di depan orang banyak, tidak memiliki bahan untuk diceritakan kepada orang lain di depan kelas,
atau bahkan efek terlalu senang yang timbul dalam diri A Kiong sehingga tidak mampu berkata-kata sehingga A Kiong hanya terdiam dan tersenyum terus-menerus, sehingga Bu Mus menyampaikan tuturan berikut ini;
(3) Baiklah ini kesempatan terakhir untuk mu mengenalkan diri, jika belum bersedia maka harus kembali ke tempat duduk”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 27)
Kutipan tuturan (3) adalah implikasi dari tiga tuturan sebelumnya. Diceritakan bahwa Bu Mus memberikan kesempatan terakhir kepada A Kiong untuk memperkenalkan dirinya di hadapan guru, orang tua, dan siswa lainnya. Karena A Kiong tak kunjung bercerita, maka Bu Mus memintanya untuk kembali ke tempat duduknya sendiri. Pada tuturan ini, Bu Mus memiliki kekecewaan dan putus asa kepada A Kiong yang tidak kunjung memperkenalkan dirinya di depan kelas.
3) Implikatur nonkonvensional
Implikatur nonkonvensional, merupakan suatu implikatur yang lebih mendasarkan maknanya pada suatu konteks yang melingkupi suatu percakapan. Implikatur nonkonvensional adalah implikasi pragmatis yang tersirat di dalam suatu percakapan. Adapun kutipan yang menjelaskan ragam implikatur nonkonvensional di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah sebagai berikut;
Data LP 010
“Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,”
demikian Bu Mus selalu menasehati kami
(Novel Laskar Pelangi, hal. 31)
Kutipan tuturan data 010 di atas disampaikan oleh Bu Mus kepada siswanya. Diceritakan bahwa Bus memberikan nasihat kepada siswanya dengan mengacu pada ayat Al-Quran surah Annisa yakni perintah untuk shalat tepat waktu untuk mengumpulkan pahala yang lebih banyak.
Implikatur nonkonvensional yang timbul dari kutipan tuturan tersebut bukanlah seperti apa yang dikemukakan melalui pilihan kata yang dipilih oleh Bu Mus bahwa jika seseorang shalat tepat waktu maka akan mengumpulkan banyak pahala. Akan tetapi, melaksanakan shalat tepat waktu pada tuturan tersebut berimplikasi pada upaya mencapai kedamaian hidup dunia dan akhirat.
Data LP 011
“Tak satu pun kulihat ada anak muda memegang pacul!
Tak pernah kulihat orang-orang muda demikian malasnya seperti di sini!
(Novel Laskar Pelangi, hal. 36)
Kutipan tuturan data 012 di atas disampaikan oleh seorang gentlement pada hari untuk mencibir masyarakat yang ada di sekitarnya. Diceritakan bahwa suatu sore seorang gentlement keluar dari balik tembok dan berkeliling kampong dengan sebuah mobil
Corvette. Setelah melAkukan keliling kampong sore itu, gentlement tersebut selanjutnya menggunakan hasil pengamatannya untuk mencibir orang-orang yang ada di sebuah majelis bahwa anak muda di kampung tersebut tidak ada yang memegang pacul (cangkul) untuk bertani, dan menurutnya hal tersebut adalah hal pertama kali ia jumpai adanya pemuda kampung yang malas.
Berdasarkan kutipan tuturan dari seorang gentlement tersebut, implikatur nonkonvensional yang timbul ada dua yaitu; (1) seorang gentlement tersebut sebenarnya menghina para pemuda yang ada di desa yang malas bekerja, (2) gentlemen tersebut sebenarnya mengatakan bahwa kampung tersebut sebenarnya adalah daerah yang subur, namun tidak dikelola dengan baik oleh warga kampung khususnya para anak muda sebagai generasi pembangun kampung.
Data LP 012
Ha? Apa dia kira kami bangsa petani? Kami adalah buru-buru tambang yang bangga, padi tak tumbuh di atas tanah-tanah kami yang kaya material tambang!”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 37) Kutipan tuturan data LP 012 di atas disampaikan oleh tokoh Aku setelah mendengar cibiran seorang gentlemen tentang pemuda kampung yang tidak memegang pacul dan malas. Diceritakan bahwa tokoh Aku merasa tersinggung dengan perkataan cibiran dari seorang gentlemen bahwa tak satu pun pemuda kampung yang memegang
pacul dan dikatagorikan sebagai pemuda malas, sehingga tokoh Aku bergumam gusar dan berkata “Ha?...” Dengan nada ekspresi tinggi keheranan dan penuh tanya. Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan “Apa dia kira kami bangsa petani”. Pada tuturan inilah timbul implikatur nonkonvensional di mana yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tokoh Aku adalah menghujat sang gentlement tersebut bahwa menjadi seorang pendatang baru di kampung tersebut jangan menjadi orang yang seakan mengetahui segalanya (sok tahu). Tokoh Aku juga ingin menyampaikan bahwa gentlement tersebut adalah orang yang tidak tahu apa-apa (bodoh) dan tidak tahu membaca keadaan bahwa kampung tersebut tidak dapat dijadikan sebagai ladang bertani sebab lahan di kampung tersebut dipenuh dengan material tambang.
b. Wujud Implikatur dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
Wujud implikatuir dalam penelitian ini mengacu pada pandangan Huang (2007) bahwa wujud implikatur yang biasa digunakan oleh penutur adalah bentuk tuturan yang digunakan penutur untuk menyampaikan pesan kepada mitratutur secara verbal dalam sebuah percakapan, di mana wujud tuturan tersebut yang realisasinya berdasarkan makna di luar bentuk linguistik. Wujud konkretnya dalam tata bahasa Prancis yaitu la phrase declarative (kalimat pernyataan), la phrase interrogative (kalimat tanya), la phrase imperative (kalimat perintah), dan la phrase exclamative
(kalimat seru). Adapun wujud implikatur dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai berikut;
1) Kalimat pernyataan (La phrase declarative)
Menurut Grevisse dan Goosse (1995:113) la phrase declarative (kalimat pernyataan) adalah kalimat yang isinya menyatakan sesuatu.
La phrase declarative dalam pelafalan diawali dengan intonasi naik kemudian diakhiri dengan intonasi menurun dan dalam penulisan diakhiri dengan tanda baca titik (.). Implikatur yang berwujud kalimat pernyataan dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai berikut;
Data LP 013
“Jumlah gurunya banyak”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 58)
“Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kau baru kelas satu.”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 59)
Kedua kutipan tuturan data LP 013 di atas disampaikan oleh tokoh Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham (yang pernah bersekolah di PN Timah) kepada tokoh Aku. Diceritakan bahwa tokoh Aku di malam hari sebelum esok hari akan mendaftarkan diri di sekolah PN yang mahal dan terkenal dengan center of excellence termenung dan melamunkan kejadian di suatu saat (sebelum mendaftarkan diri ke sekolah Muhammadiyah) ketika Bang Amran Isnaini bin Muntazis
Ilham mengatakan padanya “Jumlah gurunya banyak” di PN Timah.
Perkataan tersebut diperjelas kembali dengan berkata “Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kau baru kelas satu”.
Dari kutipan tersebut jelas bahwa kalimat “Jumlah gurunya banyak”
mengandung implikatur bahwa di sekolah PN jumlah gurunya lebih banyak dari sekolah Muhammadiyah. Sedangkan kalimat kedua yaitu
“Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kau baru kelas satu” mengandung implikatur bahwa bersekolah di PN Timah akan mempelajari banyak pelajaran dan berjumpa dengan banyak guru mulai dari kelas satu sampai selesai.
Kedua kutipan tuturan tersebut jelas menggunakan kalimat pernyataan, sebab tokoh Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham memberikan pernyataan kepada tokoh Aku untuk meyakinkannya bahwa di sekolah PN Timah memiliki banyak guru. Pernyataan tersebut selanjutnya diperkuat dengan pernyataan tambahan bahwa kondisi banyaknya guru di sekolah PN Timah karena setiap mata pelajaran ada gurunya masing-masing, bahkan mulai dari kelas satu.
Data LP 014
“Aku mau ikut ke pasar Cai,” Syahdan memohon kepada Kucai, ketika kami dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan harus membeli kertas kajang di pasar.
(Novel Laskar Pelangi, hal. 66)
Kutipan data LP 014 di atas disampaikan oleh tokoh Syahdan kepada Kucai. Diceritakan bahwa di kelas siswa diberi tugas pekerjaan tangan oleh guru dengan menggunakan kertas kajang. Untuk itu, kertas harus dibeli di pasar. Oleh karena Kucai hendak pergi ke pasar, maka Syahdan menyatakan keinginannya untuk ikut dengan Kucai ke pasar untuk membeli perlengkapan tugas pekerjaan tangan tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa kalimat yang digunakan oleh Syahdan mengandung impkikatur bahwa dia hendak ke pasar bersama-sama dengan Kucai yang diwujudkan dengan kalimat pernyataan.
Data LP 015
“Tapi sandal dan bajuku buruk begini,” katanya (Syahdan) dengan polos dan tahu diri sambil melipat karung kecampang yang dipakainya sebagai tas sekolah”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 66)
Kutipan data 015 di atas disampaikan oleh tokoh Syahdan sebagai lanjutan dari data o14. Diceritakan bahwa setelah Syahdan menyatakan keinginannya untuk ikut bersama Kucai ke pasar membeli perlengkapan kerajinan tangan yang menjadi tugas sekolah, ia kembali menyatakan kondisi dirinya yang dirasa tidak pantas untuk ikut dengan Kucai ke pasar dengan penampilannya yang buruk. Sebenarnya, yang ingin disampaikan oleh Syahdan kepada Kucai adalah apakah dirinya layak bersamanya pergi ke pasar dengan penampilan sandal dan baju
yang buruk”. Syahdan berimplikasi melalui tuturan tersebut bahwa sebagai seorang teman, tentu Kucai akan menerima keadaannya dirinya secara apa adanya dengan menggunakan kalimat pernyataan.
Data LP 016
“Jangan kau bikin Aku malu. Dan apa kata anak-anak SD PN nanti?” jawab Kucai sok gengsi padahal satu pun ia tak kenal anak-anak kayak itu.
(Novel Laskar Pelangi, hal. 66)
Kutipan data LP 016 di atas disampaikan oleh tokoh Kucai kepada Syahdan sebagai jawaban atas keinginannya untuk ikut bersama Kucai ke pasar dengan penampilan (sandal dan baju) yang buruk sebagaimana data kutipan LP 014 dan LP 015 di atas.
Sebenarnya, Kucai melalui tuturan tersebut telah berimplikasi kepada Syahdan bahwa dirnya menolak keinginan Syahdan secara tidak langsung dengan mengatakan “Jangan kau bikin Aku malu”. Selain itu, implikatur yang timbul dari tuturan tersebut adalah Kucai ingin menyampaikan bahwa dengan sandal dan pakaian buruk yang dipakai oleh Syahdan tersebut, maka Syahdan tidak layak ikut dengan Kucai ke pasar sebab akan membuat dirinya (Kucai) malu terhadap teman- temanya, sebagaimana lanjutan tuturan Kucai Dan apa kata anak- anak SD PN nanti?”. Implikatur tuturan “Jangan kau bikin Aku malu”
yang digunakan oleh kucai diwujudkan dalam bentuk kalimat pernyataan.
2) Kalimat tanya (La phrase interrogative)
Menurut Grevisse dan Goosse (1995:113) la phrase interrogative (kalimat tanya) adalah kalimat yang bertujuan untuk memperoleh informasi atau jawaban. Dalam pelafalan kalimat interogasi ditandai dengan intonasi yang meninggi dan dalam penulisan diakhiri dengan tanda tanya (?). Implikatur yang berwujud kalimat tanya dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai berikut;
Data LP 017
“Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain Aku berani lebih frontal. Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan?
Aku tak berani lebih dekat. Ia mengangah dan bersuara rendah, suara dari perut yang menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. Taka da jalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap.
Yang ada hanya Aku, seekor buaya ganan yang egois, dan intaian maut”
(Novel Laskar Pelangi, hal. 88-89)
Kutipan data LP 017 di atas disampaikan oleh tokoh Lintang dalam bentuk bercerita kepada rekan-rekan sekolahnya di SD Muhammadiyah terkait kisah yang dilaluinya selama bersekolah.
Diceritakan bahwa Tokoh Lintang hendak menuju ke sekolah pagi itu.
Namun, apalah daya seorang Lintang yang hanya anak kecil