BAB III
IKSS 13: Indeks tata kelola teknologi informasi PPATK
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 82
Sasaran strategis 10 dimaksudkan agar PPATK dapat mengetahui kualitas manajemen kinerja dan risikonya yang mendukung keberlangsungan bisnis proses PPATK. Sasaran strategis10 diukur keberhasilannya melalui satu IKSS, yaitu Indeks tata kelola teknologi informasi PPATK. Pencapaian kinerja SS 10 tahun 2018 adalah sudah baik dengan capaian kinerja sebesar 99,08%.
PPATK melakukan penilaian terhadap tata kelola teknologi informasi terkait pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan, termasuk dasar hukum, pedoman, dan standar baku dalam pelaksanaan pengelolaan teknologi informasi di PPATK.
Penilaian ini dilakukan secara rutin setiap tahun sebagai pemantauan terhadap tingkat kematangan tata kelola TI. Sebagai wujud independensi dalam penilaian, reviu atau audit tata kelola teknologi informasi dilaksanakan oleh Inspektorat PPATK yang dibantu oleh para akademisi.
Pengukuran tingkat maturitas Tata Kelola Teknologi Informasi (TKTI) PPATK dilakukan dengan menggunakan metode asesmen “Maturity Level Statement”, yaitu asesmen yang dilakukan pada 21 Process yang terdiri dari PO2, PO3, PO7, PO8, PO10, AI1, AI2, AI4, AI5, AI6, AI7, DS2, DS3, DS7, DS8, DS9, DS10, DS11, DS13, dan ME1. “Maturity Level” untuk masing-masing Process adalah level 1-5. Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan COBIT 4.1 ‘Maturity Assessment Tool’ dari ISACA.
Berdasarkan hasil penilaian terhadap tata kelola teknologi informasi diperoleh hasil sebesar 3,22 indeks dari skala 5. Capaian kinerja adalah 99,08% terhadap target kinerja tahun 2018, yaitu 3,25 indeks.
Sasaran Strategis 10:
Meningkatnya keandalan sistem teknologi informasi PPATK
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 83
Komitmen peningkatan kematangan tata kelola TI ini adalah upaya untuk memberikan jaminan dan standardisasi layanan TI untuk menopang peningkatan keandalan sistem TI sebagai salah satu pilar dari Rencana Strategis PPATK. Secara keseluruhan, nilai maturitas tata kelola teknologi informasi di PPATK sebesar 3 termasuk ke dalam kategori Terdefinisi. Hal ini menggambarkan bahwa tata kelola teknologi informasi di PPATK berada dalam tahap proses selalu dilaksanakan dan sebagian besar terstandardisasi, terdokumentasi, dan dikomunikasikan.
Tingkatan dalam maturity model yang digunakan sebagai acuan penilaian tata kelola TI di PPATK, sebagai berikut:
Tabel 3.35
Tingkatan Maturity Model
Level Maturity Keterangan
0 Non eksis: Proses tidak ada dan organisasi tidak mengenal adanya tata kelola TI.
1 Initial/Adhoc: Proses kadang dilaksanakan/ad hoc (khusus) kasus demi kasus dan tidak ada standardisasi serta tidak terorganisasi.
2 Berulang: Proses telah dibentuk, tetapi belum ada koordinasi dari prosedur standar dan tanggung jawab, serta tidak terdokumentasi.
3 Terdefinisi: Proses selalu dilaksanakan, terstandardisasi, terdokumentasi, dan dikomunikasikan.
4 Terkelola: Proses selalu dilaksanakan, terdokumentasi, dikomunikasikan, dikelola dengan baik, serta dapat diukur pencapaiannya.
5 Optimal: Proses selalu dilaksanakan, terdokumentasi, dikomunikasikan, dikelola, dapat diukur dan dioptimasi hasilnya sesuai dengan kebutuhan organisasi secara otomatis (dapat memanfaatkan tool).
Tabel 3.36
Nilai Asesmen Tata Kelola TI Pada Setiap Domain Tahun 2017 dan 2018
Domain Nilai Tahun 2017 Nilai Tahun 2018
Plan and Organize (PO) 2,80 3,17
Aqcuire and Implement (AI) 2,90 3,30
Deliver and Support (DS) 3,04 3,20
Monitor and Evaluate (ME) 3,05 3,05
Rata-rata 2,94 3,22
Beberapa proses yang masih berada pada level 2 dan perlu dilakukan perbaikan agar mencapai level 3, sebagai berikut:
A. Plan and Organize (PO)
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 84
1. PO2-Define the Information Architecture
Nilai maturitas untuk PO2 sebesar 2,76 belum mencapai nilai 3 disebabkan hal-hal, sebagai berikut:
a. Draft model arsitektur informasi PPATK yang tercantum pada Cetak Biru TI 2015-2019 belum dikomunikasikan kepada seluruh stakeholders.
b. Metode dan teknik yang digunakan untuk pengembangan dan pelaksanaan AI (Arsitektur Informasi) belum ditetapkan secara formal.
c. Pelatihan informal penggunaan alat dan teknik untuk merancang AI belum didokumentasikan dengan baik.
2. PO10-Manage Projects
Nilai maturitas untuk PO8 sebesar 2,87 belum mencapai nilai 3 disebabkan hal-hal, sebagai berikut:
a. Hasil monitoring dan pengendalian projek TI belum didokumentasikan dengan baik.
b. Belum dilaksanakan pendidikan dan pelatihan manajemen projek TI bagi pegawai Pusat Teknologi Informasi.
c. Belum ada kebijakan/SOP mengenai pengelolaan projek TI.
3. AI2- Acquire and Maintain Application Software
Nilai maturitas untuk AI1 sebesar 2,71 belum mencapai nilai 3 disebabkan hal-hal, sebagai berikut:
a. Tahapan-tahapan SDLC P3SA belum sepenuhnya diterapkan.
b. Pemeliharaan aplikasi belum terjadwal, terkoordinasi, ter-monitoring, dan terdokumentasi secara memadai (3-Nr 5 “Maintenance activities are planned, scheduled and co-ordinated”).
4. AI7- Install and Accredit Solutions and Changes.
Nilai maturitas untuk AI7 sebesar 2,99 belum mencapai nilai 3 disebabkan hal-hal, sebagai berikut:
a. Pedoman manajemen kualitas belum disosialisasikan kepada seluruh stakeholders Pusat Teknologi Informasi.
b. Pelaksanaan pedoman manajemen kualitas belum terdokumentasi dengan baik.
5. DS9-Manage the Configuration
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 85
Nilai maturitas untuk DS9 sebesar 2,65 belum mencapai nilai 3 disebabkan hal-hal, sebagai berikut:
a. Prosedur konfigurasi (3-Nr.1 “The procedures and working practices have been documented, standardised and communicated, but training and application of the standards is up to the individual”) belum terdokumentasi dan terstandardisasi.
b. Hasil konfigurasi infrastruktur maupun software belum terdokumentasi dengan baik.
6. DS10- Manage Problems
Nilai maturitas untuk DS10 sebesar 2,86 belum mencapai nilai 3 disebabkan hal-hal, sebagai berikut:
a. Prosedur penanganan masalah sudah ada (POTI), tetapi aktivitas penanganan masalah belum didokumentasikan dengan memadai.
b. Permasalahan yang terjadi (3-Nr.3 “The recording and tracking of problems and their resolutions are fragmented within the response team, using the available tools without centralisation”) belum tercatat dengan baik.
c. Rekomendasi penilaian TKTI tahun 2015 (Menerapkan konsep IT Service Management (ITSMF) atau Sistem Manajemen Layanan (ISO 20000-1), terutama yang terkait dengan Manajemen Problem) belum dilaksanakan sepenuhnya.
Berdasarkan hasil penilaian tingkat maturitas TKTI, Inspektorat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk meningkatkan nilai maturitas, sebagai berikut:
1) PO2-Define the Information Architecture Manajemen
a. Mengomunikasikan draft model arsitektur informasi PPATK yang tercantum pada Cetak Biru TI 2015-2019 kepada seluruh stakeholders melalui rapat komite TI.
b. Menetapkan secara formal metode dan teknik yang digunakan untuk pengembangan dan pelaksanaan AI (Arsitektur Informasi).
Operasional
a. Menyusun kebijakan arsitektur informasi.
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 86
b. Mendokumentasikan setiap pelatihan informal penggunaan alat dan teknik untuk merancang AI.
c. Melaksanakan dan mendokumentasikan pengelolaan integritas data.
2) PO10-Manage Projects Manajemen
a. Menetapkan kebijakan/SOP pengelolaan projek TI.
b. Memantau pengendalian projek TI yang meliputi milestones, jadwal, dan pengukuran kinerja.
c. Meningkatkan kompetensi SDM TI tentang manajemen projek melalui program pendidikan dan pelatihan.
Operasional
a. Mendokumentasikan hasil monitoring pengendalian projek TI.
b. Menyusun kebijakan/SOP pengelolaan projek TI.
3) AI2- Acquire and Maintain Application Software Manajemen
Mengendalikan pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan aplikasi sesuai dengan tahapan-tahapan SDLC P3SA.
Operasional
Mendokumentasikan pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan aplikasi sesuai tahapan-tahapan SDLC P3SA.
4) AI7- Install and Accredit Solutions and Changes Manajemen
a. Mengomunikasikan pedoman manajemen kualitas kepada seluruh stakeholders Pusat Teknologi Informasi melalui rapat komite teknologi informasi.
b. Memantau implementasi pedoman manajemen kualitas.
Operasional
Mendokumentasikan setiap pelaksanaan pedoman manajemen kualitas.
5) DS9-Manage the Configuration Operasional
a. Mendokumentasikan dan menstandarkan prosedur konfigurasi.
b. Mendokumentasikan hasil konfigurasi infrastruktur maupun software.
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 87
c. Mendokumentasikan hasil kegiatan penjagaan integritas konfigurasi repository.
6) DS10- Manage Problems Manajemen
Mendorong penerapan konsep IT Service Management (ITSMF) atau Sistem Manajemen Layanan (ISO 20000-1), terutama yang terkait Manajemen Problem.
Operasional
a. Mendokumentasikan secara memadai aktivitas penanganan masalah.
b. Melakukan pencatatan secara memadai terkait insiden/problem TI yang terjadi.
Tabel 3.37
Perbandingan Realisasi Kinerja IKSS ke-13 PPATK Tahun 2017-2018 Indikator Kinerja Sasaran
Strategis
Tahun 2017 Tahun 2018
Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian
Indeks tata kelola teknologi informasi PPATK
3 indeks
2,94
indeks 98% 3,25
indeks
3,22
indeks 99,08%
Berdasarkan data dalam Tabel 3.37, pada tahun 2018, target kinerja indikator Indeks tata kelola teknologi informasi PPATK adalah 3,25 indeks dan realisasi kinerja sebesar 3,22 indeks. Capaian kinerja indikator kinerja tersebut adalah 99,08%. Capaian kinerja IKSS ini belum berhasil memenuhi target kinerja. Namun, realisasi kinerja IKSS ini pada tahun 2018 meningkat sebesar 0,28 indeks (9,52%) apabila dibandingkan dengan realisasi kinerja pada tahun 2017.
Tabel 3.38
Perbandingan Realisasi IKSS ke-13 Tahun 2018 dengan Target Tahun 2015-2019
IKSS Target Tahun Realisasi
Tahun 2018
Persentase Realisasi Dibanding
Target Tahun 2019 2015 2016 2017 2018 2019
Indeks tata kelola teknologi informasi PPATK
2,5 indeks
2,75 indeks
3 indeks
3,25 indeks
3,5 indeks
3,22 indeks
92%
Jika dibandingkan dengan target kinerja tahun 2019, capaian kinerja IKSS ini telah mencapai 92%. Jika mencermati nilai kematangan 3,5 indeks yang dituju pada tahun 2019, target tersebut merupakan target yang cukup tinggi karena mencerminkan kematangan sistem TI yang cukup baik dan terlaksana dalam tatanan sistem yang
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 88
teratur dan rapi, sehingga memerlukan perencanaan yang matang untuk melakukan peningkatan secara berkelanjutan. Secara persentase, capaian kinerja pada tahun 2018 ini sudah baik. Namun, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi dan upaya untuk meningkatkan kinerja pada periode pengukuran kinerja selanjutnya, antara lain:
1. Pengurangan jumlah sumber daya manusia di Pusat TI, sehingga beberapa pekerjaan terkait tata kelola teknologi informasi tidak dapat dikerjakan dengan optimal.
2. Pendidikan dan pelatihan bagi staf TI untuk mengembangkan pengetahuan dan kompetensi belum dilakukan secara menyeluruh sesuai kebutuhan TI.
3. Draft model arsitektur informasi PPATK yang tercantum pada Cetak Biru TI 2015- 2019 dan Pedoman manajemen kualitas belum disosialisasikan kepada seluruh stakeholders.
4. Metode dan teknik yang digunakan untuk pengembangan dan pelaksanaan AI (Arsitektur Informasi) belum ditetapkan secara formal.
5. Pelatihan informal penggunaan alat dan teknik untuk merancang AI belum didokumentasikan dengan baik.
6. Hasil monitoring dan pengendalian projek TI belum didokumentasikan dengan baik.
7. Rekomendasi penilaian TKTI tahun 2015 (Menerapkan konsep IT Service Management (ITSMF) atau Sistem Manajemen Layanan (ISO 20000-1), terutama yang terkait dengan Manajemen Problem) belum dilaksanakan sepenuhnya.
Upaya perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja pada periode pengukuran kinerja selanjutnya, antara lain:
1. PPATK melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pedoman yang dimiliki oleh PTI, sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai dengan prosedur.
2. PPATK menambah jumlah sumber daya manusia di PTI.
3. PPATK melakukan pengawasan terhadap pencapaian tata kelola TI.
4. Pendidikan dan pelatihan bagi staf TI dengan mengacu kepada pemetaan kompetensi maupun kebutuhan pengembangan.
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 89
5. PTI segera menindaklanjuti rekomendasi-rekomendasi hasil asesmen tata kelola teknologi informasi yang dilakukan oleh Inspektorat.
Sasaran strategis 11 dimaksudkan agar PPATK dapat menyelenggarakan sistem manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) yang berbasis kompetensi yang sejalan dengan kebijakan nasional melalui program reformasi birokrasi yang mengamanatkan pembangunan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional, serta mampu bersaing secara global. Guna mendukung komitmen tersebut, PPATK menetapkan indicator kinerja berupa penilaian kompetensi SDM PPATK sebagai tolok ukur keberhasilan pengelolaan SDM PPATK. Penetapan indikator kinerja tersebut merepresentasikan program penataan sistem manajemen SDM aparatur melalui pengembangan model kompetensi dan pengembangan Standar Kompetensi Jabatan.
Sasaran strategis 11 diukur keberhasilannya melalui satu IKU, yaitu Persentase pegawai PPATK yang memiliki penilaian prestasi kerja yang baik. Pencapaian kinerja SS 11 sudah baik dengan capaian kinerja sebesar 100%.
Berdasarkan pasal 18 Peraturan Kepala PPATK Nomor: 16/1.01/PPATK/11/12 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai PPATK, pegawai yang berprestasi baik adalah pegawai yang memenuhi batas penilaian prestasi kinerja “Baik” atau berada di atas nilai 75, berdasarkan dua komponen penilaian yaitu SKP (60%) dan perilaku kerja (40%).
Dengan melakukan penilaian terhadap kinerja pegawai akan dapat diketahui terjadinya gap antara tingkat kesesuaian kemampuan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku SDM yang menempati suatu jabatan tertentu dengan kinerja minimal yang harus dipenuhi, sehingga langkah yang diambil sebagai tindak lanjut dalam
Sasaran Strategis 11:
Meningkatnya kualitas sumber daya manusia PPATK
IKSS 14: Persentase pegawai PPATK yang memiliki penilaian