pribadi, bahkan pada banyak pelaku usaha kerajinan genteng dimana perbedaan produk dan harganya tipis, faktor kehadiran manusia menjadi kekuatan utama dalam menghadapi persaingan.
Untuk meningkatkan pendapatan pengrajin genteng di Desa Kalianyar produktivitas tenaga kerja yang tinggi pada akhirnya mampu memberikan pendapatan yang lebih besar.
Selanjutnya data responden berdasrkan jumlah penghasilan pengrajin genteng, sebagai berikut:
Gambar4.1
Data Responden yang berhasil dan tidak berhasil
Dari gambar di atas berdasarkan jumlah responden yang berhasil dan tidak berhasil dalam mengembangkan usaha kerajinan genteng yakni berhasil berjumlah 6 orang dan yang tidak berhasil berjumlah 4 orang di lihat dari rata- rata penghasilan pengrajin genteng yang ada di Desa Kalianyar.
Adapun tahapan pengembangan usaha, sebagai berikut:99 a) Memiliki Ide Usaha
Sebelum memulai usaha para pengrajin genteng harus memiliki ide usaha. Ide usaha yang dimiliki berasal dari berbagai sumber. Ide muncul setelah melihat keberhasilan bisnis orang lain. Selain itu, pengrajin genteng memiliki alasan yang kuat untuk membangun usaha kerajinan genteng tersebut. Peluang usaha pembuatan genteng pejaten memang sangat menjanjikan, dilihat dari fungsinya yang sangat dibutuhkan dalam membuat rumah sebagai atap yang menjadi pelindung tempat tinggal. Sedangkan dari segi ekonomi kerajinan genteng sangat berpengaruh untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
Dari paparan diatas peneliti menyimpulkan bahwa, genteng pejaten yang ada di Desa Kalianyar sangat bermanfaat dilihat dari segi fungsi sebagai atap rumah dan dari segi ekonomi nya sebagai estetika dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
b) Penyaringan Ide/Konsep Usaha
Pada tahap ini, seorang pengrajin akan menerjemahkan ide usaha ke dalam konsep usaha. Penyaringan ide-ide usaha tersebut dapat dilakukan melalui suatu aktivitas penilaian kelayakan ide usaha kerajinan genteng. Ide tersebut akan berubah menjadi konsep usaha apabila terhadap ide usaha.
Seperti pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, Sebagaimana yang didapatkan dari pengrajin genteng Bapak Mahsun, Sebelum menjadi
99 Ismail Solihin, Pengantar Bisnis: Pengenalan Praktis dan Studi Kasus, (Jakarta:
Kencana, 2006), h. 123.
seorang pengrajin genteng terlebih dahulu memikirkan ide usaha dan bertanya kepada teman sebaya bagaimana konsep agar usaha kerajinan genteng naik. Cara yang lakukan pengrajin genteng seperti Bapak Mahsun adalah dengan cara memperkenalkan jenis genteng yang baru seperti memperkenalkan jenis genteng kodok untuk memikat hati pelanggan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ismail Solihin dalam buku Pengantar Bisnis, penyaringan ide-ide usaha dapat dilakukan melalui suatu aktivitas penilaian kelayakan ide usaha secara formal (melalui studi kelayakan) maupun yang dilakukan secara formal (misalnya melali focus group discussion).100
c) Pengembangan Rencana Usaha (Busines Plan)
Rencana usaha yang telah dibuat oleh pengrajin genteng, baik secara tertulis maupun tidak tertulis selanjutnya akan diimplementasikan dalam pelaksanaan usaha yang dilakukan oleh pengrajin.
Dari hasil pengamatan, yang telah peneliti lakukan Bapak H. Sahdan Yasin (pengrajin genteng), upaya yang dilakukan pengrajin dalam meningkatkan pendapatan di Desa Kalianyar adalah dengan cara melakukan pelatihan mandiri (otodidak), sesuai juga dengan usaha turun-temurun dari keluarga pengrajin sehingga pengrajin terbiasa kerja membuat genteng.
Para pengrajin juga memilih bahan baku yang berkualitas sehingga genteng yang diproduksi memiliki daya tarik para konsumen. Dan adapun upaya yang dilakukan oleh pengrajin dalam meningkatkan pendapatan
100Ismail Solihin, Pengantar Bisnis: ... (Jakarta: Kencana, 2006), h.124.
dengan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku serta harga bahan baku yang terus meningkat dari tahun ketahun, hal ini akan membantu dalam mengatur biaya produksi pada industri kecil kerajinan genteng.
Pengembangan rencana pengrajin genteng dalam menetapkan harga jual genteng berdasarkan biaya bahan baku, upah tenaga kerja, dan faktor musiman. Dari hasil penelitian yang diperoleh, keuntungan dilihat dari modal usaha pengrajin genteng yang berjumlah Rp. 5.000.000,00, dan menghasilkan masing-masing 3000 genteng. Pembuatan genteng yang ukuran satuan, ada yang berukuran 22 cm dengan harga Rp.1.300/biji yang dijual per 1000 genteng dengan harga Rp.1.300.000 dan ada pula genteng yang berukuran 24 cm dengan harga Rp.1.450/biji yang dijual 1000 genteng dengan harga Rp.1.450.000.
Keuntungan dari hasil penjualan genteng pejaten biaya merupakan hal yang sangat penting karena setiap rupiah yang dikeluarkan akan mengurangi laba usaha. Bagi pengrajin genteng keuntungan yang wajar akan mendorong tumbuhnya penjualan genteng, sedangkan keuntungan yang sangat rendah akan membuat lesu perdagangan karena pengrajin kehilangan motivasi. Sebaliknya bila pengrajin mengambil keuntungan yang sangat tinggi, hal ini juga akan melesukan pengrajin karena permintaan konsumen melemah.
Risky Andarways Kumalasari mengatakan dalam jurnalnya, keuntungan adalah perbedaan antara penghasilan dan biaya yang dikeluarkan.
Kesimpulannya, sebagai ukuran keberhasilan dalam menghasilkan
keuntungan dapat dilihat dari tinggi rendahnya profit margin serta tingkat pengembaliannya.101
d) Implementasi Rencana Usaha dan Pengendalian Usaha
Dalam kegiatan implementasi rencana usaha, seorang wirausahawan akan mengarahkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan seperti modal, material, dan tenaga kerja untuk menjalankan usahanya.
Dalam pengembangan industri kerajinan genteng di Desa Kalianyar, perencanaan proses pembuatan genteng tanah liat diolah melalui beberapa langkah yang harus dikerjakan secara berurutan. Setiap tahap dalam proses tersebut dilakukan sedemikian baik demi menjaga mutu dan kualitasnya.
Menurut Mutiara S. Panggabean dalam buku MSDM, upah adalah imbalan finansial langsung yang dibayarkan kepada para pekerja berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya pelayanan yang diberikan. Jadi tidak seperti gaji yang jumlahnya relatif tetap, besarnya upah dapat berubah-ubah.102
Adapun hasil penelitian yang peneliti dapatkan, dalam pembuatan genteng upah dan sewa yang diterima oleh para pekerja atau karyawan adalah berjumlah Rp. 720.000., upah itu terdiri dari: Upah pengolahan bahan baku Rp. 250.000, Upah pembuatan Rp.130.000/1000 genteng, Upah penjemuran Rp.40.000/1000 genteng, Upah pembakaran Rp.100.000/1000 genteng, upah angkat genteng yang sudah dicetak Rp.50.000/1000 genteng,
101 Risky Andarways Kumalasari, Analisis Keuntungan Pedagang Nasi Kuning (Studi Kasus di Pasar Palaran Kec. Palaran Kota Samarinda), eJournal Administrasi Bisnis, Volume 4, No.4, 2016, h.993
102 Mutiara S. Panggabean, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), h.77
upah penurunan genteng untuk dijemur Rp.50.000/1000 genteng, upah pendistribusian genteng Rp.50.000/1000 genteng. Sedangkan jika dilihat dari sewa pembuatan genteng berjumlah Rp.380.000, sewa itu berupa: Sewa alat cetakan genteng Rp.180.000, dan sewa mobil pick up Rp.200.000.
Kesimpulan antara upah dan sewa memiliki perbedaan makna operasional, upah digunakan untuk tenaga kerja, sedangkan sewa biasa yang digunakan untuk benda.
Selain itu juga, sumber daya memperbesar pendapatan seseorang karena dapat meningkatkan kemampuan bekerja dalam perusahaan untuk menguasai dan mengelola sumber daya yang ada, tidak hanya akan memengaruhi kinerja usaha tersebut, tapi juga apakah mereka bisa memulai bisnis itu atau tidak. Sumber daya itu meliputi modal, uang, tempat usaha, bahan baku, peralatan, dan tenaga kerja.
Sumber daya sangat penting dalam melakukan suatu usaha kerajinan genteng yang ada di Desa Kalianyar karena dengan adanya sumber daya, pengrajin dapat mengolah sumber daya itu menjadi nilai guna terhadap usaha kerajinan genteng.
Dalam bukunya Akhmad Fauzi mengatakan, sumber daya didefinisikan sebagai sesuatu yang dipandang memiliki nilai ekonomi. Dapat juga dikatakan bahwa sumber daya adalah komponen dari ekosistem yang menyediakan barang dan jasa. Bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
Menurut Grima dan Berkes, mendefinisikan sumber daya sebagai aset untuk pemenuhan kepuasan dan utilitas manusia.103
B. Analisis Peran Industri Kecil (Kerajinan Genteng)
Industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan kemampuannya memanfaatkan secara optimal sumber daya alam dan sumber daya manusia.104
Keberadaan usaha kerajinan genteng pejaten sedikit banyak dapat membantu dalam mengurangi pengangguran di Desa Kalianyar. Dalam proses pembuatan genteng pejaten rata-rata pengrajin yang berpendidikan rendah dan ibu-ibu rumah tangga yang menginginkan pendapatan tambahan dari pendapatan suami, kerajinan industri kecil kerajinan genteng merupakan suatu mata pencaharian masyarakat Desa Kalianyar yang dapat diandalkan.
Adapun peran Industri kecil (kerajinan genteng) meningkatkan pendapatan pengrajin adalah sebagai berikut:
1) Membuka Lapangan Pekerjaan
Di zaman sekarang ini mencari pekerjaan bisa dikatakan sulit akan tetapi usaha Industri kecil kerajinan genteng pejaten dikatakan bisa membuat usaha sendiri tanpa harus bersusah payah mencari pekerjaan tetap dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga menjadi lebih sejahtera.
Dari hasil pengamatan, bapak Bapak Lalu Mahsun dan Bapak Lalu Marjun berprofesi sebagai pengrajin dapat mencukupi standar
103 Akhmad Fauzi, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), h. 2
104 Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan Edisi Ke-4 Cet.2, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2004), h. 354
kehidupannya untuk menciptakan keluarga sejahtera, dengan usaha yang dijalani sekarang sebagi pengrajin genteng meningkatkan kehidupan menjadi layak dan sejahtera. Dengan usaha yang dijalani sebagai pengrajin genteng merasa sudah mendapatkan pekerjaan yang layak, meskipun sebagai pengrajin dan merasa mempunyai pekerjaan yang tetap dengan usaha yang dijalaninya.
2) Menambah Pendapatan Keluarga
Dalam menjalankan usaha kerajinan genteng ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan hasil kerajinan genteng agar usaha yang dikerjakan mampu menjalankan roda perekonomian sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Usaha kerajinan genteng sangat berperan dalam meningkatkan taraf hidup keluarga agar lebih sejahtera yang pendapatan di bawah minimum rata-rata.
Dari hasil pengamatan, yang telah peneliti lakukan Bapak H. Sahdan Yasin adalah pengrajin yang produktif yang memiliki 5 (lima) gudang genteng yang berada di Desa Kalianyar pendapatannya lebih banyak dari pengrajin yang lain. Pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha bisa dikatakan meningkat saat banyak permintaan konsumen membeli genteng untuk membuat rumah, cara mempromosikan genteng dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya mempromosikan genteng adalah mempromosikan genteng ke pekerja bangunan dari mulut ke mulut.
3) Membangun Rumah Sendiri
Perumahan menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk melangsungkan kehidupannya dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam perannya sebagai pusat pendidikan keluarga dan peningkatan kualitas generasi yang akan datang.
Dari hasil pengamatan, dari Bapak Lalu Zull membuka usaha kerajinan genteng menekuni usahanya hingga terkumpul modal untuk membuka usaha di lahan milik orang tuanya dan dibantu oleh adek- adeknya. Dari pengalaman tersebut bapak Zull mampu membuat rumah sendiri dan tidak menumpang dirumah orang tuanya.
4) Melanjutkan Pendidikan Anak
Pendidikan merupakan sebuah hak asasi yang dimiliki setiap manusia dan hak setiap warga untuk dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses belajar. Setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai minat dan bakat yang dimiliki tanpa memandang status sosial, ekonomi, suku, etnis, agama dan lokasi geografis.
Nurul Huda mengatakan dalam bukunya, pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Apabla pendidikan ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan akan berdampak pada peningkatan produktivitas.105
105 Nurul Huda, dkk, Ekonomi Pembangunan Islam, (Jakarta: Kencana, 2015), h.174
Dari hasil penelitian yang peneliti dapat, Ibu Mutiasih sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pengrajin dari hasil kerja keras beserta suaminya bapak Rusdi membuat genteng ia dapat bersekolahkan anak- anaknya dari hasil penjualan genteng tersebut. Dari kehidupan sehari-hari bekerja tanpa mengenal lelah maka keuntungan yang diperoleh terus meningkat dari situlah Ibu Mutiasih dan suami nya bisa menciptakan keluarga yang sejahtera yang hidup tentram dan damai.
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengembangan Industri Kecil (Kerajinan Genteng) dalam Meningkatkan Pendapatan Pengrajin di Desa Kalianyar. Untuk meningkatkan pendapatan pengrajin genteng di Desa Kalianyar produktivitas tenaga kerja yang tinggi pada akhirnya mampu memberikan pendapatan yang lebih besar. Adapun tahapan pengembangan usaha, sebagai berikut:
a. Memiliki Ide Usaha
Ide muncul setelah melihat keberhasilan bisnis orang lain. Selain itu, pengrajin genteng memiliki alasan yang kuat untuk membangun usaha kerajinan genteng tersebut. Peluang usaha pembuatan genteng pejaten memang sangat menjanjikan, dilihat dari fungsinya yang sangat dibutuhkan dalam membuat rumah sebagai atap yang menjadi pelindung tempat tinggal. Sedangkan dari segi ekonomi kerajinan genteng sangat berpengaruh untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
b. Penyaringan Ide/Konsep Usaha
Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, Sebagaimana yang didapatkan dari pengrajin genteng Bapak Mahsun, Sebelum menjadi seorang pengrajin genteng terlebih dahulu memikirkan ide usaha dan bertanya kepada teman sebaya bagaimana konsep agar usaha kerajinan genteng naik, genteng
76
pejaten di Desa Kalianyar ini sudah sangat terkenal dari puluhan tahun lalu sehingga memudahkan pengrajin dalam memasarkan produknya.
c. Pengembangan Rencana Usaha (Busines Plan)
Rencana usaha yang telah dibuat oleh pengrajin genteng, baik secara tertulis maupun tidak tertulis selanjutnya akan diimplementasikan dalam pelaksanaan usaha yang dilakukan oleh pengrajin.
d. Implementasi Rencana Usaha dan Pengendalian Usaha
Dalam kegiatan implementasi rencana usaha, seorang wirausahawan akan mengarahkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan seperti modal, material, dan tenaga kerja untuk menjalankan usahanya.
2. Peran industri kecil merupakan suatu usaha bisnis yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Kalianyar Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur, dimana dalam menjalankan usahanya kerajinan genteng sangat berperan dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
a. Membuka Lapangan Pekerjaan b. Menambah Pendapatan Keluarga c. Membangun Rumah Sendiri d. Melanjutkan Pendidikan Anak B. Saran
1. Untuk Pengrajin Genteng
Bagi pengrajin genteng yang ada di Desa Kalianyar diharapkan agar memperhatikan kepuasan terhadap genteng yang diproduksi sehingga minat pembeli semakin banyak, dengan ini dapat membantu pengrajin untuk
meningkatkan pendapatan mereka.
2. Untuk Masyarakat
Diharapkan memberikan suatu manfaat dan memberikan informasi bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pengrajin genteng dalam meningkatkan pedapatan, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya dari pengrajin genteng khususnya di Desa Kalianyar Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.
3. Untuk Penelitian yang Akan Datang
Peneliti menyadari, masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, peneliti berharap bagi peneliti berikutnya agar lebih mengembangkan lagi hasil penelitian ini, khususnya dapat menambah pengetahuan tentang pengembangan industri kecil (kerajinan genteng) dan sebagai acuan penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwarman A. Karim, 2015, Ekonomi Mikro Islami, Jakarta: Rajawali Pers.
Abdul Hafiz, 2017, Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Prospek Pengembangan Usaha Kerupuk Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Di Desa Gelogor Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat Skripsi, program sarjana Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram.
Akhmad Fauzi, 2006, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Aisyah Nurul Fitriana, Pengembangan Industri Kreatif di Kota Batu, dalam http://administrasipublik.studentjournal.ub.ac.id diakses tanggal 25 November 2019 pukul 16.10.
Ayie Eva Yuliana, 2013, “Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen” (Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang.
Arther Manueke, Penyerapan Tenaga Kerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM) Agribisnis dan Non-Agribisnis, dalam
https://ejournal.unsrat.ac.id/ diakses pada tanggal 23 Oktober 2020 pikul 15:03
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 2016, Metodelogi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara.
Ismail Solihin, 2006, Pengantar Bisnis: Pengenalan Praktis dan Studi Kasus, Jakarta: Kencana.
Kadarisman, 2013, Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Cet.2, Jakarta: Rajawali Pers.
Kasmir, 2006, Kewirausahaan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kuat Ismanto, 2009, Manajemen Syari’ah Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lexy J. Moleong, 2014, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lincolin Arsyad, 2004, Ekonomi Pembangunan Edisi Ke-4 Cet.2, Yogyakarta:
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Made Dharmawati, 2016, Kewirausahaan, Jakarta: Rajawali Pers.
Mahmud, 2016, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.
M. Asrori, “Analisis Tingkat Pendapatan Usaha Martabak dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga Tinjauan Ekonomi Islam Studi Kasus Pada Pengusaha Martabak di Kelurahan Dasan Agung” (Skripsi, program sarjana Ekonomi Syari‟ah UIN Mataram Tahun 2017)
Muhammad Teguh, 2005, Metodelogi Penelitian Ekonomi (teori dan aplikasi), Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Mustafa Edwin Nasution, 2006, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Jakarta:
Kencana.
Mutiara S. Panggabean, 2004, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bogor: Ghalia Indonesia.
Nurul Huda, dkk, 2015, Ekonomi Pembangunan Islam, Jakarta: Kencana.
Nurul Mazroatin Nikmah, “Upaya Peningkatan pendapatan Usaha Industri Kerajinan Gerabah dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus di Desa Banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat)” Skripsi, program sarjana Ekonomi Syariah Fakultas FEBI UIN Mataram Tahun 2018.
Nurul Zariah, 2009, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Pratama Raharja dan Mandala Manurung, 2010, Teori Ekonomi Mikro: Suatu Pengantar, Edisi Keempat, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Risky Andarways Kumalasari, Analisis Keuntungan Pedagang Nasi Kuning (Studi Kasus di Pasar Palaran Kec. Palaran Kota Samarinda), eJournal Administrasi Bisnis, Volume 4, No.4, Tahun 2016.
Rokhmat Subagyo, 2017, Metode Penelitian Ekonomi Islam, Jakarta: Alim‟s Publishing.
Sadono Sukirno, 2016, Mikro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ke-3, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Sugyiono, 2017, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Bandung:
Alfabeta.
Syahril Syarif, 1991, Industri Kecil dan Kesemoatan Kerja, Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
LAMPIRAN I PHOTO KEGIATAN PEMBUATAN GENTENG PEJATEN
Tanah liat yang sudah digiling
Persiapa Debu/Tanah Biasa
Pengolahan tanah liat dibuat seperti bentuk balok sesuai dengan ukuran genteng
Proses produksi genteng dengan menggunakan mesin gilis/molen
Proses penjemuran genteng
Proses pengeringan
Proses pembakaran genteng
Hasil genteng yang sudah jadi dan siap didistribusikan
Mesin Hidrolik
Alat Transportasi
LAMPIRAN II PEDOMAN WAWANCARA A.Table Wawancara dengan Responden
No Responden Pertanyaan Jawaban
1. H. Sahdan Yasin
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 1976 Berapa usaha modal
awal?
kalau zaman dahulu modal awal memulai usaha punya uang sebesar Rp.400.000, karena uang zaman dahulu uang segitu banyak dan juga bahan baku mudah didapatkan hanya memanfaatkan tanah liat diladang dan debu sangat murah, beda dengan zaman sekarang.
Peminjaman modal dari mana?
Modal dari orang tua Apa perkerjaan bapak
sebelum menjadi pengrajin genteng?
Pekerjaan dari dulu adalah seorang pengrajin genteng karena usaha ini milik orang tua jadi melanjutkan usaha mulai tamat sekolah hingga saat ini.
Berasal dari mana bahan baku didapatkan?
kalau zaman dahulu bahan baku berasal dari Dusun Kalitemu karena masih banyak daerah yang di manfaatkan untuk mengambil tanah liat, dan pada waktu saat ini sudah banyak lahan yang ditempatkan dan dibuat rumah sehingga mendapatkan bahan baku berupa tanah liat merah didapatkan berasal dari Desa Tanak Beak Kec.Batukliang Kab. Lombok Tengah, debu/tanah biasa berasal dari Labuan Lombok dan Sambalia, minyak kacang di datangkan dari jawa biasanya dibeli dipengepul dan bahan bakar berupa solar dan serabut kelapa berasal dari Korleko.
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
12 orang laki-laki dan 6 perempuan
Berapa biaya yang Tanah liat biaya per satu mobil
dikeluarkan saat proses pembuatan?
pick up seharga Rp. 160.000,00.
Debu/tanah digunakan dalam pencampuran tanah liat dengan biaya satu truk debu seharga Rp 650.000,00.
Debu Rp 200.00,00 per pick up.
Biasanya dalam pencetakan genteng dibutuhkan dua orang tiap-tiap mesin press hidrolik yang bisa menghasikan 1000 biji cetakan genteng sehari dengan biaya yang dikeluarkan Rp 130.000,00/1000 biji cetakan genteng.
Penjemuran Genteng biaya biaya
yang keluarkan Rp
70.000,00/1000 biji cetakan genteng.
pembakaran genteng dibutuhkan Solar ,Kulit kelapa dan kayu biaya Rp 800.000,00
biaya pembakaran genteng Rp 300.000,00 per 3000 biji cetakan genteng.
biaya penurunan genteng dari tungku pembakaran genteng dibuituhkan biaya Rp 60.000,00/
3000 biji cetakan genteng.
Pengecetan Genteng, bahan yang digunakan yaitu cat dan lem kayu rajawali membutuhkan biaya Rp 172.000,00 dengan ongkos pengecetan Rp 50.000,00/ 1000 biji cetakan genteng.
Distribusi Genteng, Pada tahap penyaluran genteng ke konsumen harga genteng yang ditawarkan ke konsumen adalah Rp 1.300.000,00 untuk genten tanpa di cat dan Rp 1.500.000,00 untuk genteng menggunakan cat.
2. Rusdi/Ibu Mutiasih
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Tahun 1997.
Berapa usaha modal Rp.5.000.000
awal?
Peminjaman modal dari mana?
Modal sendiri berapa penghasilan
perbulan?
Rp.9.000.000
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Sekali produksi berapa
biaya yang
dikeluarkan/dihabiskan
?
Rp. 5.000.000
3. Dani Damara (H.
Awaludin)
Tahun berapa memulai usaha kerajiana genteng?
Orang tua mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 1995 dan mulai tahun 2018 sampai sekarang saya yang mengelola karena melihat kondisi orang tua yang sudah pensiun jadi pengrajin
Apakah ada
perencanaan awal dalam usaha?
Mengumpulkan semangat, tekad dan strategi dalam mengelola kerajinan genteng agar tidak rugi Berapa usaha modal
awal?
Rp.20.000.000
Berapa jumlah
karyawan/tenaga kerja?
8 orang laki-laki dan 2 orang perempuan
Berapa penghasilan perbulan?
Rp.20.000.000 Berasal dari mana
bahan baku didapatkan?
Bahan baku berupa tanah liat merah didapatkan berasal dari
Desa Tanak Beak
Kec.Batukliang Kab. Lombok Tengah, debu/tanah biasa berasal dari Labuan Lombok dan Sambalia, minyak kacang di datangkan dari jawa biasanya dibeli dipengepul dan bahan bakar berupa solar dan serabut kelapa berasal dari Korleko Berapa nilai produksi
yang didapatkan dari hasil penjualan genteng?
Sekitar Rp.30.000.000,00 sekali produksi
Sekali produksi berapa biaya yang dikeluarkan
Rp. 15.000.000,00.