BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Informan Penelitian
Informan penelitian adalah narasumber atau orang yang dimintai keterangan berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan. Informan penelitian ini dipilih dari orang-orang yang mengetahui pokok permasalahan penelitian. Dimana informan ini diharapkan memberikan data secara obyektif, netral dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun informan dari penelitian terkait Implementasi Kebijakan transportasi yang inklusif di Kabupaten Soppeng adalah sebagai berikut:
No Nama Informan Sumber Data Jumlah Lokasi
1 Jabbar Staf Analisis Pengelola
Angkutan Dinas Perhubungan Kab.Soppeng
1 Kantor Dinas Perhubungan Kab.Soppeng
2 Al Khaer Penyandang Disabilitas/
Responden
1 Kec.Ganra
Kab.Soppeng
3 Andi Pelaku Usaha Transportasi
(pete-pete)
1 Pasar Takalalla Kab.Soppeng
4 Firdaus Pelaku Usaha Transportasi (pete-pete)
1 Pasar Takalalla Kab.Soppeng
5 Saouda Lansia/ Responden 1 Kec.Ganra
Kab.Soppeng
6 Mahi Lansia/ Responden 1 Kec.Ganra
Kab.Soppeng
7 Mutma Innah Perwakilan Perempuan/
Responden 1 Kec.Ganra
Kab.Soppeng
8 Riri Perwakilan Perempuan/
Responden
1 Kec.Ganra
Kab.Soppeng
Tabel 3.1 Informan Penelitian
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, serta instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan lebih mudah. Teknik pengumpul an data yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku obyek sasaran. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan langsung yang berkaitan dengan Implementasi Kebijakan transportasi yang inklusif di Kabupaten Soppeng.
2. Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung (berkomunikasi langsung) dengan responden sesuai dengan jenis data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Dalam berwawancara terdapat proses interaksi antara pewawancara dengan responden.
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini dipergunakan untuk melengkapi teknik observasi dan wawancara sekaligus menambah keakuratan, kebenaran data
atau informasi yang dikumpulkan dari bahan-bahan dokumentasi yang ada dilapangan serta dapat dijadikan bahan dalam pengecekan keabsahan data.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Lexy :103). Teknik analisis ini pada dasarnya terdiri dari tiga komponen : 1). Reduksi data (data reduction), 2). Penyajian data (data display), 3). Penarikan serta pengujian kesimpulan (drawing and verifying conclusions) (Pawito, 2007).
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Langkah reduksi data melibatkan beberapa tahap. Tahap pertama, melibatkan langkah-langkah editing, pengelompokan, dan meringkas data.
Pada tahap kedua, peneliti menyususn kode-kode dan catatan-catatan mengenai berbagai hal, termasuk yang berkenaan dengan aktifitas serta proses-proses sehingga peneliti dapat menemukan tema-tema, kelompok- kelompok, dan pola-pola data.
2. Penyajian Data (Data Display)
Komponen kedua yakni penyajian data (data display) melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan data, yakni menjalin (kelompok) data yang satu dengan (kelompok) data yang lain sehingga seluruh data yang
dianalisis benar-benar dilibatkan dalam satu kesatuan, karena dalam penelitian kualitatif data biasanya beraneka ragam perspektif dan terasa bertumpuk, maka penyajian data (data display) pada umumnya sangat diyakini sangat membantu proses analisis.
3. Penarikan serta Pengujian Kesimpulan (Drawing and Verifying Conclusions)
Pada komponen terakhir, yakni penarikan dan pengujian kesimpulan (drawing dan verifying conclusions), peneliti pada dasarnya mengimplementasikan prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola- pola data yang ada dan atau kecenderungan dari penyajian data yang telah dibuat.
G. Keabsahan Data
Menurut Sugiyono (2014: 39), Triangulansi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dengan demikian triangulansi sumber, triangulansi teknik pengumpulan data dan triangulansi waktu yakni sebagai berikut:
1. Triangulasi sumber
Triangulansi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini penelitian melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada, kemudian
peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi teknik
Triangulansi teknik dilakukan dengan cara menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Dalam hal yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda maka penelitian melakukan diskusi lebih lanjut kepada informan yang bersangkutan atau yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.
3. Triangulansi waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kerdibilitas data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulansi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian dari tim peneliti lain diberi tugas melakukan pengumpulan data.
35 BAB IV
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pada bagian ini peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan tentang pembangunan transportasi yang inklusif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data menggunakan hasil observasi dan wawancara dengan informan-informan terpilih yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian. Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pembangunan inklusif di transportasi, maka peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap informan yang terpilih terkait pembangunan transportasi.
1. Transportasi Kabupaten Soppeng
Kabupaten Soppeng merupakan salah satu kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami perkembangan yang signifikan, baik perkembangan ekonominya maupun pertambahan jumlah penduduk.
Sehingga kebutuhan masyarakat akan pelayanan transportasi semakin meningkat. Sistem pembangunan transportasi di Kabupaten Soppeng merupakan salah satu kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami perkembangan yang signifikan, baik perkembangan ekonominya maupun pertambahan jumlah penduduk, namun masih banyak yang perlu di
perhatikan terhadap keluhan masyarakat. Sehingga kebutuhan masyarakat akan pelayanan transportasi semakin meningkat.
Berdasarkan pada visi dan misi yang dijalankan oleh pemerintah daerah Kabupaten Soppeng mengatakan bahwa menata kepariwisataan dan transportasi umum yang baik dan nyaman, ini merupakan tekad dari pemerintah daerah untuk membangun wadah transportasi umum. Kabupaten Soppeng merupakan daerah yang cukup berkembang dalam segi ekonomi dan pariwisatanya serta memiliki mobilitas manusia yang cukup tinggi. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan perkembangan wilayah Kabupaten Soppeng tersebut maka kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi angkutan juga semakin meningkat olehnya itu, pengadaan transportasi umum diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian di daerah Kabupaten Soppeng.
2. Transportasi Dan Pengguna Angkutan Umum
Transportasi di Kab.Soppeng memiliki beberapa moda transportasi umum yang berbeda-beda seperti bus pariwisata, mobil lintas kabupaten, ojek, bentor dan pete-pete. Transportasi ini juga seharusnya memiliki segi efektivitas, dalam arti selamat, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, nyaman, aman, rendah polusi serta dari segi efisiensi dalam arti beban publik rendah dan utilitas tinggi dalam satu kesatuan jaringan sistem transportasi Kab. Soppeng. Oleh karena itu, pembangunan transportasi sangat penting artinya dalam menunjang dan menggerakkan dinamika
pembangunan, karena transportasi berfungsi sebagai katalisator dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah terkhususnya di Kab. Soppeng.
Untuk menciptakan keamanan bagi para pelaku usaha Transportasi Umum dan sebagai keseimbangan atas hak-hak yang diberikan kepada konsumen, memberikan hak-hak bagi pelaku usaha, yaitu:
a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
b. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan hukum yang beritikad baik.
c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen.
d. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang- undangan lainnya.
e. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur, secara tidak diskriminatif.
Terkait dengan jasa layanan transportasi umum tampak bahwa itikad baik lebih ditekankan kepada pengusaha yang meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya, sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pengusaha jasa layanan transportasi umum dimulai sejak para pengusaha mendapatkan hak-haknya. Dengan adanya hak-hak itu maka
pengusaha juga berkewajiban memberikan layanan transportasi umum sesuai standar keamanan, kenyamanan, dan keselamatan.
Dari sisi konsumen sebagai pemakai barang atau jasa, konsumen memiliki sejumlah hak yang harus dilindungi. Dalam hal ini hak-hak konsumen sangat penting agar setiap orang dapat bertindak sebagai konsumen yang kritis dan mandiri. Tujuannya adalah jika ada tindakan yang merugikan konsumen maka ia dapat langsung menyadarinyadan mengetahui tindakan apa yang selanjutnya dapat dilakukan dalam memperjuangkan hak- haknya. Dengan kata lain, ia tidak hanya tinggal diam ketika menyadari bahwa hak-haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha.
Tabel 4.1 Jumlah Angkutan Umum Kabupaten Soppeng Tahun 2019-2021
No Uraian 2019 2020 2021
1 Angkutan Desa 1050 994 1167
2 Soppeng – Wajo 20 20 20
3 Soppeng – Bone 20 10 9
4 Soppeng - Pare-pare 47 47 47
5 Soppeng – Polmas 2 2 5
6 Soppeng – Makassar 65 65 65
7 Soppeng – Palopo 15 15 15
Total 1219 1153 1328
Sumber : Website Resmi Dinas Perhubungan Kabupaten Soppeng (https://soppengkab.go.id//wp-content/uploads/2020/10/PELAYANAN).
“Berdasarkan hasil wawancara dengan Staf Analisis Pengelola Angkutan Dinas Perhubungan Kab.Soppeng dapat diketahui bahwa jumlah Transportasi umum pete-pete yang beroprasi sebanyak 248 yang aktif”.(hasil wawancara dengan Jabbar pada tanggal 18 Mei 2021)
Dalam transportasi umum menjelaskan lebih mendalam mengenai segi kriteria-kriteria yang mempengaruhi kualitas transportasi umum.
a. Keamanan: Kriteria ini akan menilai sistem keamanan dari fasilitas transportasi umum dan meningkatkan pelayanan transportasi umum untuk penumpang.
b. Pemeliharaan: Kriteria ini akan menilai pemeliharaan pihak terkait dalam mempertahankan infrastruktur dan pelayanan di transportasi umum.
c. Aksesibilitas: Kriteria ini menilai bagaimana suatu transportasi umum dapat meningkatkan akses pelayanan bagi penumpang.
B. Perlindungan Publik Bagi penerima Layanan Transportasi
Perlindungan Publik Bagi Penerima Layanan Transportasi, yaitu pihak pengangkut dan pihak pengguna jasa sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan dimana para pihak tidak sama tinggi, yakni majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada buruh. Kedudukan para pihak dalam perjanjian perburuhan disebut kedudukan subordinasi, sedangkan kedudukan para pihak dalam perjanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau kedudukan koordinasi.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan perwakilan perempuan Mutma innah dan Riri terhadap pembangunan fasilitas terhadap perlindungan bagi penerima layanan transportasi di Kab.Soppeng
“Terkait transportasi umum kami kaum perempuan agak takut dan kurang nyaman di transportasi karna kursinya itu berdempetan dan banyaknya kasus yang saya liat di media sosial terkait pelecehan terjadi di angkot mungkin ituji kalo dari saya”.(hasil wawancara dengan Mutma innah pada tanggal 11 Mei 2021)
“Kalo dari saya udah bagus namun mungkin lebih bagusnya ditingkatkan karna masa lalu sama sekarang sudah beda, dan itu juga bagusnya dijamin akan perlindungan bagi perempuan atau di buatkan undang-undang bagi pelaku usaha pete-pete tentang jaminan perlindungan bagi kaum perempuan agar kasus yang kemarin-kemarin yang saya dengar tidak terulang”.(hasil wawancara dengan Riri pada tanggal 11 Mei 2021)
Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan perwakilan perempuan tentang perlindungan bagi penerima layanan transportasi umum di Kab.Soppeng dapat di ketahui bahwa masih adanya keresahan terhadap kaum perempuan terhadap layanan di moda transportasi umum saat ini, beberapa keluhan tersebut karna fasilitas yang kurang memadai dan peraturan yang tidak di pertegas oleh pemerintah terhadap layanan perlindungan bagi penerima layanan.
Seharusnya pembangunan yang di lakukan pemerintah di transportasi umum harus melihat faktor aksesibilitas bagi semua kalangan, sehingga semua kalangan dapat menikmati layanan yang aman dan nyaman.
Penumpang mempunyai dua status dalam perjanjian pengangkutan, yaitu sebagai subjek karena dia adalah pihak dalam perjanjian dan sebagai objek karena dia adalah muatan yang diangkut. Sebagai pihak dalam
perjanjian pengangkutan, penumpang harus mampu melakukan perbuatan hukum atau mampu membuat perjanjian. Dilihat dari pihak dalam perjanjian pengangkutan orang, penumpang adalah orang yang mengikatkan diri untuk membayar biaya pengangkutan dan atas dasar ini dia berhak untuk memperoleh jasa pengangkutan.
Hak penumpang sebagai pengguna jasa adalah hak yang harus dipatuhi oleh pihak pengangkut. Sesuai dengan dalam Pasal 4 Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, hak-hak pengguna jasa adalah :
(1) Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
(2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
(3) Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/jasa.
(4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/jasa yang digunakan.
(5) Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
(6) Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
(7) Hak untuk diperlakukan dan dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
(8) Hak untuk mendapat informasi ganti rugi dan/atau pergantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
(9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang- undangan lainnya.
Terkait dengan jasa layanan transportasi umum tampak bahwa itikad baik lebih ditekankan kepada pengusaha yang meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya, sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pengusaha jasa layanan transportasi umum dimulai sejak para pengusaha mendapatkan hak-haknya. Dengan adanya hak-hak itu maka pengusaha juga berkewajiban memberikan layanan transportasi umum sesuai standar keamanan, kenyamanan, dan keselamatan.
Dari sisi konsumen sebagai pemakai barang atau jasa, konsumen memiliki sejumlah hak yang harus dilindungi. Dalam hal ini hak-hak konsumen sangat penting agar setiap orang dapat bertindak sebagai konsumen yang kritis dan mandiri. Tujuannya adalah jika ada tindakan yang merugikan konsumen maka ia dapat langsung menyadarinyadan mengetahui tindakan apa yang selanjutnya dapat dilakukan dalam memperjuangkan hak- haknya. Dengan kata lain, ia tidak hanya tinggal diam ketika menyadari bahwa hak-haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha.
C. Aksesibilitas Dalam Pelayanan Publik
Aksesibilitas dalam pelayanan ini mengatur dua hal penting, yaitu pengaturan aksesibilitas fisik dan non fisik. Aksesibilitas fisik diterapkan pada sarana dan prasarana umum seperti aksesibilitas pada bangunan umum, jalan umum, pertamanan dan pemakaman umum serta angkutan umum.
Sedangkan aksesibilitas non fisik diterapkan pada pelayanan informasi dan pelayanan khusus. Namun demikian, pada tataran implementasinya belum dicapai hasil sesuai yang diharapkan. Disamping itu, tingkat kesadaran pemerintah dan pihak terkait serta masyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang aksesibel di Indonesia juga masih sangat rendah.
Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2006, 2006). Aksesibilitas merupakan syarat penting bagi difabeluntuk menjalankan aktivitas kehidupannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah (Priscyllia, 2016).
Pada sebelumnya Pemerintahan dan masyarakat menjadi dua aktor utama dalam penciptaan aksesibilitas bagi difabel. Kondisi aksesibiltas yang saat ini masih memprihatinkan juga dipengaruhi oleh rendahnya responsivitas dan kepedulian aparat pemerintah terhadap kelompok masyarakat berkebutuhan khusus tersebut. Dari fakta yang ada, secara umum beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kepedulian aparat
pemerintah terhadap masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus diakibatkan adanya persepsi aparatur pemerintah yang tidak benar terhadap keberadaan masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus. Beberapa persepsi aparatur pemerintah tersebut antara lain :
a. Adanya anggapan bahwa jumlah penyandang cacat tidak lebih dari 1%, sehingga pembangunan aksesibilitas tersebut dianggap mubazir.
b. Belum perlu ada kebijakan daerah yang secara khusus mengatur mengenai penyediaan aksesibilitas bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus, mengingat keberadaan mereka yang sangat sedikit.
c. Belum ada reward system bagi pemangku kepentingan bagi yang sudah memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus dalam mewujudkan lingkungan yang aksesibel.
d. Aparatur pemerintah berpendapat bahwa pembangunan sarana dan prasarana aksesibilitas bagi masyarakat dengan kebutuhan khusus belum prioritas.
e. Aparat pemerintah masih mengembangkan pelayanan yang standar dan bersifat umum, sehingga tidak responsif terhadap pemenuhan kebutuhan khusus kelompok masyarakat marjinal dan minoritas termasuk kaum difabel.
f. Dalam perencanaan penganggaran penyediaan aksesibilitas tersebut dipandang belum penting atau belum prioritas.
g. Aparatur pemerintah seringkali memberikan program pelatihan keterampilan dasar (vocational training) yang disertai pemberian yang cuma-cuma, namun tidak disertai dengan program pendampingan, yang nantinya berfungsi sebagai media control. Sehingga program ini hanya sekedar
“proyek” kegiatan rutin unit kerja birokrasi.
Untuk dapat menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus, diperlukan perubahan mindset aparatur pemerintah terhadap keberadaan kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus tersebut. Dengan demikian sistim pelayanan publik yang dibangun dapat lebih responsif terhadap keragaman kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat termasuk masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Khaer penyandang disabilitas terhadap layanan transportasi umum di Kab.Soppeng
“ku iya magello pemerenta neburekki orong ku pete-pete’e ye cacat’e to younroi kursi rodade sibawa laleng menre supaya odding toi yola afa iya de nengka metto wolai afa masussami sedding” (“kalo saya bagus pemerintah membuat tempat khusus kursi roda di pete-pete untuk penyandang disabilitas dan tempat leluasa naik maupun turun untuk pengguna kursi roda supaya bisa juga di lewati. karna saya tidak penah
naik itu karna terlalu sulitji kurasa”).(hasil wawancara dengan Khaer pada tanggal 11 Mei 2021)
Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan penyandang disabilitas tentang layanan transportasi umum di Kab.Soppeng dapat disimpulkan transportasi umum di Kab.Soppeng masih perlu melakukan pembangunan yang inklusif di mana pembangunan itu sendiri perlu melihat untuk semua kalangan, agar semua kalangan baik disabilitas dapat menikmati transportasi umum.
Aparatur pemerintah sebagai pelaksana kebijakan, paling tidak harus dapat mengamankan dan menjamin terimplementasikannya berbagai peraturan perundangan yang memungkinkan pemberian pelayanan khusus terhadap mereka yang memiliki kebutuhan khusus tersebut secara adil.
Disamping itu, aparatur pemerintah sebagai pelayan masyarakat, juga harus dapat memberikan contoh yang baik dalam menyikapi pemberian pelayanan khusus kepada masyarakat yang memang memerlukan atau membutuhkan pelayanan khusus tersebut.
D. Kinerja Dinas Perhubungan Kabupaten Soppeng
Melaksanakan kewenangan Daerah di Bidang Perhubungan, yang menjadi tanggung jawabnya dan kewenangannya Berdasarkan peraturan Perundang – undangan yang berlaku. Adapun Tugas, Fungsi dan rincian tugas Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Soppeng Bedasarkan PERBUP Nomor 5 Tahun 2016 adalah sebagai berikut :
a. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian penyusunan Revisi Rencana Strategis ( Renstra ) Dinas sesuai dengan Revisi Rencana Strategid ( Renstra ) Kabupaten.
b. Pembinaan, pengkoordinasian serta penyelarasan penyelenggraan sistem transportasi.
c. Pelaksanaan perumusan kebijakan teknis dibidang perhubungan.
d. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian urusan kesekretariatan, kepegawaian dan rumah tangga dinas.
e. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan bidang teknis meliputi Bidang lalu Lintas dan Angkutan, Bidang Sarana dan Prasarana, dan pelaksana Teknis Dinas.
f. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian penggunaan anggaran Dinas.
g. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ( AKIP ).
h. Pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian produk hukum sesuai dengan bidang tugasnya.
Tabel 4.2 Tugas Dan Kinerja Dinas Perhubungan Kab. Soppeng
NO SARAN KINERJA
SATUAN INDIKATOR KINERJA
UTAMA
RUMUS PENANGGUNG JAWAB
SUMBER DATA
1 Meningkatnya pelayanan ketersediaan
% Persentase prasarana dan fasilitas LLAJ dalam kondisi baik (%)
Jumlah Prasarana dan Fasilitas LLAJ Dalam Kondisi Baik / Total Jumlah Prasarana dan Fasilitas LLAJ Keseluruhan (x100)
Bidang Sarana dan Prasarana
Bidang Sarana dan Prasarana
sarana dan prasarana bidang perhubungan
% Persentase pemenuhan sarana dan fasilitas LLAJ
Jumlah Sarana dan Fasilitas LLAJ Yang Ada / Total Jumlah Kebutuhaan Keseluruhan Daerah yang Memerlukan Sarana Fasilitas LLAJ (x100)
Bidang Sarana dan Prasarana
Bidang Sarana dan Prasarana
2 Meningkatnya kualitas pelayanan
% Persentase kendaraan umum yang laik jalan
Jumlah Kendaraan Umum yang Laik Jalan / Total Jumlah Kendaraan Umum Kab. Soppeng (x100)
Bidang Lalu lintas dan Angkutan
PKB dan Samsat
transportasi dan ketersediaan sarana
% Rasio ijin trayek
Jumlah Ijin Trayek yang Dikeluarkan / Jumlah Penduduk Kab.Soppeng (x100)
Bidang Sarana dan Prasarana
Bidang Sarana dan Prasarana
dan prasarana bidang perhubungan
% Persentase panjang jalan yang terlayani penerangan
Panjang Jalan yang Terlayani Penerangan / Total Panjang Jalan Keseluruhan Kabupaten Soppeng
Bidang Sarana dan Prasarana
Bidang Sarana dan Prasarana
3 Meningkatnya efektifitas dan efisiensi pemenuhan pendukung penyelenggaraan urusan pada Dinas Perhubungan
% Persentase capaian kinerja IKU perangkat daerah
Jumlah Capaian Kinerja IKU / Jumlah Indikator (x100)
Kasubag Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sumber: Badan Pusat Statistik kabupaten Soppeng 1. Perancanaan Strategis
Rencana Strategis Dinas PerhubunganKabupaten Soppeng Tahun 2016–2021 sebagai pedoman dalam menjalankan berbagai program dan kegiatan selama kurun waktu 2016-2021 sesuai tugas dan fungsinya guna mencapai tujuan dan sasaran pembangunan yang telah ditetapkan. Rencana