• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam dokumen PERSETUJUAN PEMBIMBING (Halaman 63-74)

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara terhadap 8 (delapan) orang pedagang kaki lima dan karyawan mall mega zanur, diantaranya sebagai berikut:

Tabel Profil Informan

No Nama Pekerjaan Tempat Tinggal Umur

1 Rani Karyawan Bulukumba 24 thn

2 Askar Mahasiswa Bulukumba 21 thn

3 Kiki Karyawan Bulukumba 23 thn

4 Inna Ibu rumah tangga Bulukumba 40 thn

5 Adnan Mahasiswa Bulukumba 22 thn

6 Tika Ibu rumah tangga Bulukumba 25 thn

7 H. Ismail Pedagang Bulukumba 43 thn

8 Ana Ibu rumah tangga Bulukumba 32 thn

2. Aktifitas Mall Mega Zanur

Berbagai aktivitas pun berlangsung di mal. Dari kalangan muda yang senang bersosialisasi juga menjadi pusat kegiatan yang saling memberikan manfaat seperti pameran, perlombaan dan berbagai aktivitas lainnya. Meski dihujani kritik, tetap saja mal disukai dan dikunjungi. Kalangan urban pun betah berlama-lama di mall.

Sebagai ukuran apakah sebuah mal memenuhi kebutuhan dan memuaskan pengunjung, sejumlah aspek pun dinilai. Untuk aspek fisik mencakup kondisi di sekitar shopping mall, lingkungan kerja help-desk (customer service), lingkungan parkir, atrium, visual merchandising, lift dan escalator pengunjung, ATM center, area hijau, signage, maternity room, tempat ibadah, toilet,children playground, dan area foodcourt. Artinya, mal yang mendapatkan skor tertinggi untuk berbagai

48

faktor tersebut, menjadi idaman bagi pengunjung karena merasa semua kebutuhannya terpenuhi di mal.

Orang menginginkan mall yang nyaman, jadi pengunjung yang datang tidak merasa lelah. Anak-anak nyaman juga lanjut usia.

Kembali ke karakter general orang Bulukumba yang suka gratisan maka window shopping di mall tak dinyatakan adalah aktifitas favorit orang Bulukumba. Masuk ke mall, tidak perlu bayar tiket (kecuali buat yang bawa kendaraan, memang harus bayar parkir), tapi memandangi barang-barang branded atau pura-pura ngejajalin parfum mewah, tidak akan di-charge apa-apa. Wajar juga kalau ini dijadikan penawar stres atau kepenatan hidup.

Inilah sebabnya setiap mal selalu mencari cara memberikan kenyamanan untuk menarik sebanyak mungkin pengunjung. Tujuan utama mal tentunya untuk menarik pembelanja, namun kini mal juga sudah menjadi bagian gaya hidup termasuk tempat berekreasi.

Untuk urusan kenyamanan, berbelanja di pasar modern memang jauh lebih nyaman ketimbang berbelanja di pasar sentral. Di mall memiliki area yang lebih luas, bersih, rapi, dan dilengkapi dengan pendingin ruangan, serta aman dari perampokan dan penculikan. Sedangkan pasar tradisional menempati area yang lebih sempit, sumpek, sesak, dan tak jarang menguarkan bau kurang sedap.

Jelas saja mall makin jadi favorit kita semua. Makanan apapun ada di mall. Yang suka makan pasti datang ke mall, entah ke food court ataupun ke restoran-restoran yang ada di sana. Dari mulai masakan domestik sampai

internasional semua ada di mall. Bahkan sarapan, makan siang, sampai makan malam semuanya bisa dilakukan di mall.

Di mall jaman sekarang sudah banyak arena bermain yang variatif lho, termasuk yang biasanya hanya dilakukan di arena outdoor seperti panjat dinding.

Karena orang-orang di Kabupaten Bulukumba sudah malas panas-panasan maka pengelola mall menyebarkan kampanye“indoor is the new outdoor”. Akibatnya banyak orang - orang terutama masyarakat kabupaten Bulukumba yang lebih banyak datang ke mall daripada datang ke tempat aktifitas outdoor.

Kebutuhan masyarakat perkotaan akan ruang terbuka masih tinggi, namun berdirinya mal di berbagai penjuru kota Bulukumba, tetap mendapatkan respons tak kalah tinggi. Mal dekat dengan gaya hidup kalangan urban, bukan hanya sebagai tempat belanja, namun sudah menjadi tempat kumpul, bertemu, hingga rekreasi. Baik bersama pasangan, teman, maupun keluarga.

Mall tidak banyak berbeda dari pasar senrtal, namun di mall penjual dan pembeli tidak berinteraksi secara langsung melainkan si pembeli melihat lebel harga yang tercantum dalam baramg tersebut, berada dalam bangunan dan pelayanan dilakukan sendiri dan harga semua barang pun tidak bisa di tawar seperti harga barang di pasar tradisional. Di jaman sekarang banyak orang-orang yang beralih ke pasar modern karena di anggap lebih praktis walaupun harga yang di tawarkan oleh pasar modern lebih tinggi di bandingkan pasar tradisional.

Kelebihan:

1. Mall menyediakan lingkungan berbelanja yang lebih nyaman dan bersih, dengan jam buka yang lebih panjang, dan menawarkan aneka pilihan

50

pembayaran seperti kartu kredit untuk peralatan rumah tangga berukuran besar.

2. Barang yang dijual memiliki variasi jenis yang beragam,selain menjual barang lokal pasar modern juga menjual berbagain barang impor.

3. Barang yang dijual mempunyai kualitas yang relatif lebih terjamin karena melalui penyeleksian yang ketat sehingga barang yang tidak memenuhi persyaratan klasifikasi akan di tolak.

4. Dari segi kuantitas pasar modern memiliki persediaan barang yang terukur.

5. Pasar modern Juga dikelola oleh pihak yang profesional dengan strategi manajemen pemasaran yang bagus.

Kelebihan Mall dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka memiliki banyak keunggulan yakni nyaman, bersih serta terjamin, yang itu membuat para konsumen mau membeli ke Mall.

Tabel hasil wawancara di Mall Mega Zanur

No Nama Pendapat Keterangan

1 Rani

(Karyawan)

“Banyaknya kursi yang diletakkan di sekitar mall, menjadi salah satu solusinya menjadikan pengunjung nyaman. Orang tua juga nyaman karena tidak ada level dari pintu masuk. fasilitas seperti stroller bayi, dan kursi roda juga tersedia bisa diminta di meja informasi.

Fasilitas ibadah pun tersedia”. (wawancara tanggal 1 Agustus 2015)

Distribusi

2 Kiki

(Karyawan)

“Pada saat ini mall menjadi tuntutan dan konsekuensi dari gaya hidup modern yang berkembang di masyarakat kita. Tidak hanya di kota-kota besar tetapi sudah merambah sampai ke kota-kota kecil di

Distribusi

Indonesia. Untuk menjumpai mall sudah sangat mudah di sekitar tempat tinggal kita. Tempat-tempat tersebut menyediakan fasilitas tempat belanja yang nyaman dengan harga yang tidak kalah menariknya. Namun di balik kesenangan tersebut ternyata telah membuat para peritel kelas menengah dan teri mengeluh”. (wawancara tanggal 6 Agustus 2015)

3 Adnan

(Karyawan)

“Di Mall tersedia AC, kemudian bersih, kenyamanan dan mempunyai gengsi yang tinggi menjadi andalan dari Mall, dan ini tidak dimiliki oleh pasar Sentral. Bahkan kalau kita melihat tidak ada kelemahan dari Mall ini. Dengan modal yang cukup besar mereka bisa melakukan apa saja

untuk makin mempercantik

penampilannya”. (wawancara tanggal 4 Agustus 2015)

Distribusi

4 Askar

(pembeli)

“Di mall lihat orang aja bisa jadi hiburan gratis. Pameran mobil, sampai education fair itu juga bisa jadi hiburan. Banyak event yang diselenggarakan di Mall dan semuanya bisa jadi hiburan gratis, bahkan atraksi di mall bisa jadi hiburan itu sendiri.

Bahkan saat ini persaingan di antara mall- mall sudah melibatkan desain sampai atraksi di mall tersebut, semuanya tentu saja harus gratis”. (wawancara tanggal 3 Agustus 2015)

Konsumen

5 Inna

(pembeli)

“Jarang sekali kita mendengar adanya perampokan atau penculikan di mall. Ibu- ibu bisa memakai perhiasan mereka tanpa takut dijambret, dan cewek-cewek kayak kita biasa berbusana mini tanpa takut diapa-apain. Mall relatif aman karena ada banyak CCTV di sana. Satpam juga banyak”. (wawancara tanggal 10 Agustus 2015)

Konsumen

52

3. Aktifitas Pedagang Kaki Lima di Pasar Sentral Bulukumba

Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah swasta, koperasi atau swadaya masyarakat dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, yang dimiliki dan dikelola oleh pedagang kecil dan menengah, dan koperasi, dengan usaha kecil dan modal kecil, dan dengan proses jual beli melalui tawar-menawar.

Aktivitas masyarakat di pasar sentral Bulukumba yang terbanyak adalah berdagang menjual barang. Barang – barang yang diperjualkan di pasar sentral Bulukumba mayoritas adalah pakaian atau kain–kain belum jadi. Di pasar sentral Bulukumba juga banyak yang menjual sepatu, sandal, tas, aksesoris, serta makanan atau jajanan pasar. Namun penjual di pasar ini menjual barangnya secara terspesialisasi, yaitu di bagian dasar para penjual yang menjual pakaian saja, Penjual gorden juga hanya menjual berbagai macam gorden dengan berbagai motif dan ukuran. Begitu juga dengan yang lain, para pedagang hanya menjual satu jenis barang saja.

Untuk produk-produk segar seperti daging, ikan, sayur-mayur, telur, dan lain sebagainya, pasar sentral biasanya menyajikan produk yang jauh lebih segar ketimbang di mall-mall, karena belum ditambahkan zat pengawet. Logikanya, pedagang di pasar sentral memiliki dana yang cukup terbatas sehingga hanya mampu membeli pasokan barang dengan jumlah tidak terlalu banyak. Dengan demikian, produk-produk yang dijual pun lebih terjaga kesegarannya.

Pasar tradisional memiliki kelemahan yang sangat urgen ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang

mayoritas diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tak bertanggung jawab, barng yang tak seharusnya dijual tetap saja di perjualbelikan, seperti itu marak sekali terjdai di pasar sentral Bulukumba.

Bahasa yang dipergunakan masyarakat dalam berkomunikasi di pasar sentral Bulukumba berbahasa daerah Bulukumba walaupun ada pula yang menggunakan bahasa Indonesia. Di pasar sentral terdapat para pedagang yang menjual barang namun biasanya tidak terspesialisasi seperti di pasar sentral Bulukumba hal tersebut terlihat pada pejual pakaian anak sampai dewasa dijual oleh satu pedagang. Penjual tas juga biasanya merangkap dengan menjual sepatu.

Selain itu di pasar sentral Bulukumba juga terdapat orang yang menjual barang bekas/setengah pakai misal: barang elektronik, perhiasan, acecories, onderdil sepeda.

Selain menjual barang di pasar sentral Bulukumba juga dapat dijumpai aktivitas masyarakat sebagai kuli panggul, meskipun hanya sedikit. Selain itu banyak pula yang bermata pencaharian sebagai tukang parkir di halaman pasar serta tukang becak. Tukang kunci serta servis jam juga dapat dijumpai di halaman pasar. Ada pula pedagang yang menjual hewan serta tanaman, misalnya: berbagai macam jenis burung, ayam, unggas, namun tempat penjualan hewan tersebut tidak berada pada pusat pasar melainkakn berada pada sisi belakang pasar. Sedangkan tanaman yang dijual di pasar sentral Bulukumba meliputi : tanaman hias, tanaman buah dan sayuran. Di pasar sentral juga terdapat orang yang meminta- minta serta mengamen untuk mendapatkan uang.

54

Pasar Senrtal memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh Mall. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar sentral.

Pasar sentral memiliki area penjualan yang luas dengan didukung keragaman jenis barang yang dijual. Dengan jumlah pedagang pasar yang cukup banyak. Selain itu dukungan lokasi pasar yang merupakan fasilitas umum seringkali berlokasi di tanah milik Negara dan bukan milik pribadi sehingga memungkinkan untuk dibangun pasar yang berareal luas. Selain itu, sudah cukup mahfum jika di pasar memperjualbelikan berbagai jenis barang, mulai dari sayur mayor, kebutuhan sembako, kebutuhan hidup sehari-hari lainnya. Sehingga konsumen merasa dimanjakan dengan beragam kebutuhan yang dijual di pasar.

Tabel Hasil wawancara di Pasar Sentral Bulukumba

No Nama Pendapat Keterangan

1 H.Ismail (pedagang)

“Bahasa yang kami gunakan dalam berbicara antara penjual dan pembeli mayoritas menggunakan bahasa daerah Bulukumba dan menggunakan bahasa Indonesia. Barang yang diperjual belikan di pasar sentral ini mmeliputi : kebutuhan sehari-hari, seperti pakaian, sembako, sayuran, buah dan jajanan pasar. Para pedagang yang menjual barang di Pasar sentral biasanya tidak terspesialisasi, hal tersebut terlihat pada pejual pakaian, yang mana pakaian yang dijual mulai dari pakaian anak- anak sampai dewasa bahkan juga biasa pakaian dijual bersamaan menjual tas dan sepatu.”. (wawancara tanggal 6

Distribusi

Agustus 2015)

2 Tika

(Pembeli)

“Situasi di pasar sentral yang kotor, serta cara pengemasan barang-barang di pasar sentral juga membuatnya kurang dilirik konsumen, bahkan makin hari bukannya semakin bagus akan tetapi malah semakin memburuk kondisinya.

Dan jelas hal seperti itu cukup membahayakan keberadaan pasar tradisional”. (wawancara tanggal 12 Agustus 2015)

Konsumen

3 Ana

(Pembeli)

“Berbelanja di pasar sentral memungkinkan pembeli untuk menawar harga barang-barang hingga mencapai kesepakatan dengan pedagang. Jika kita pintar menawar, kita bisa mendapatkan barang dengan harga yang jauh lebih murah.

Sedangkan di mall, pembeli tidak mungkin melakukan tawar menawar karena semua barang telah dipatok dengan harga pas”.(wawancara tanggal 7 Agustus 2015)

Konsumen

56 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian yang telah dilakukan terkait dengan Dampak Sosial Ekonomi Keberadaan Mall Mega Zanur Bagi Pedagang Di Pasar Sentral Bulukumba ini menghasilkan beberapa hasil penting sebagai berikut:

Keberadaan pasar tradisional sudah ada sejak jaman dahulu.

Keberadaannya terus berkembang dan semakin banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pasar tradisional. Namun saat ini perkembangan pasar tradisional menurun karena harus bersaing dengan adanya pasar-pasar modern yang semakin menjamur. Persaingan antara pasar tradisional dengan pasar modern memang bukanlah persaingan yang tidak sehat, karena kedua pasar tersebut memiliki konsep yang berbeda. Pada awal keberadaannya, pasar modern memang sebenarnya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kelas ekonomi menengah ke atas sehingga keberadaannya tidak menjadi persoalan bagi pasar tradisional, namun seiring berkembangnya waktu, saat ini banyak didirikan pasar modern yang terus mengambil segmen dari pasar tradisional.

Barang-barang yang dijual di pasar sentral Bulukumba dan di mall memiliki perbedaan harga yang cukup signifikan. Harga suatu barang di pasar sentral bahkan bisa sepertiga dari harga barang yang sama yang dijual di mall- mall, terutama untuk produk-produk segar seperti sayur-mayur serta bumbu-

bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, merica, cabai merah, cabai rawit, dan lain sebagainya.

B. Saran

Bagi para masyarakat Indonesia khususnya di kabupaten Bulukumba alangkah baiknya apabila kita berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa mengutamakan gengsi. Kita tidak perlu berbelanja di pasar modern hanya demi “prestige” semata, namun kita juga perlu menyadari kemampuan ekonomi kita dan jangan terlalu memaksakan kehendak. Selain itu, apabila kita berbelanja di pasar tradisional, kita bisa membantu perekonomian para pedagang disana yang sebagian besar merupakan masyarakat kalangan bawah, dan sekaligus membantu tetap terjaganya eksistensi pasar tradisional di kabupaten Bulukumba.

57

DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin & Beni Ahmad Saebani. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Pustaka Setia

Budiono. 2002. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 1 Ekonomi Mikro.

Yogyakarta: BPFE.

Christina Whidya Utami. 2006. Manajemen Ritel (Strategi dan Implementasi Ritel Modern). Jakarta: Salemba Empat.

Ensiklopedia Ekonomi. 1992. Bisnis dan Management. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.

Mankiw, N. Gregory. 2006. Principles of Economics, Edition (Pengantar Ekonomi Mikro, edisi 3); Penerjemah, Chriswan Sungkono. Jakarta:

Salemba Empat.

Narbuko Cholid & Achmadi, Abu. 2013. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Rasidin Karo-karo Sitepu. Dampak Keberadaan Pasar Modern terhadap Kinerja Ekonomi Regional. Jurnal. Medan: QE Journal, 01, 1-17.

Rita Hanafie. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: Andi Offset.

Ritzer, George. 2014. Sosiologi Ilmu Pengantar Berparadigma Ganda. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Satori, Djam’an dan Komariah, Aaan. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Tim Penyusun Fkip, 2013. Pedoman penulisan Skripsi. Makassar: Panrita Press

58

Wihana Kirana Jaya. 2008. Ekonomi Industri. Yogyakarta: BPFE.

Zuriah, Nurul. 2005. Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan : Teori- Aplikasi. Jakarta.

Gambar 1: Wawancara dengan karyawan

Gambar 2: Wawancara dengan karyawan

Gambar 4: Wawancara dengan pengunjung

Gambar 5: Wawancara dengan pengunjung

Gambar 6: Wawancara dengan pedagang

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Alamat : Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar Fax (0411) 860 132 Makassar 90221www.fkip-unismuh-info

KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI

Nama : Muh. Arfah

Stambuk : 105380223611 Jurusan : Pendidikan Sosiologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pembimbing : Dra. Hj. Rosleny Babo, M.Si

Judul Skripsi :Dampak Sosial Ekonomi Keberadaan Mall Mega Zanur Bagi Pedagang di Pasar Sentral Bulukumba

Konsultasi Pembimbing I

No Hari/ Tanggal Uraian Perbaikan Tanda Tangan

Catatan:

Mahasiswa hanya dapat mengikuti ujian skripsi jika sudah konsultasi ke dosen pembimbing minimal 3 kali

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi

Dr. H. Nursalam, M. Si.

NBM. 951829

Alamat : Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar Fax (0411) 860 132 Makassar 90221www.fkip-unismuh-info

KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI

Nama : Muh. Arfah

Stambuk : 105380223611 Jurusan : Pendidikan Sosiologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pembimbing : Dr. Hj. Budi Setiawati, M,Si

Judul Skripsi :Dampak Sosial Ekonomi Keberadaan Mall Mega Zanur Bagi Pedagang di Pasar Sentral Bulukumba

Konsultasi Pembimbing II

No Hari/ Tanggal Uraian Perbaikan Tanda Tangan

Catatan:

Mahasiswa hanya dapat mengikuti ujian skripsi jika sudah konsultasi ke dosen pembimbing minimal 3 kali

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi

Dr. H. Nursalam, M. Si.

NBM. 951 829

PEDOMAN OBSERVASI DAMPAK SOSIAL EKONOMI KEBERADAAN MALL MEGA ZANUR BAGI PEDAGANG DI PASAR SENTRAL

BULUKUMBA NO

KEGIATAN OBSERVASI YA TIDAK KETERANGAN

1.

Memulai percakapan (Salam)

2. Memberikan pertanyaan

3. Memberikan penguatan

4. Menjelaskan sesuatu hal yang akan deteliti dengan sistematis

5. Antusias dalam melaksanakan penelitian

6. Mengelola penelitian dengan wawancara

7. Adanya variasi atau gaya peneliti

8. Bahasa yang mudah dan benar

9. Mencatat hal-hal yang dijelasakan

kepada peneliti untuk bertanya

11. Mengadakan kesimpulan

12. Malaksanakan penelitian

Dalam dokumen PERSETUJUAN PEMBIMBING (Halaman 63-74)

Dokumen terkait