• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Prinsip Lingkungan Global dalam UUD 1945

Evolusi Kebijakan dan Prinsip-Prinsip

Kasus 1 Pakistan dan Australia

H. Access to Environmental Information, Public Participation in Environmental Decisions, Equal Access and Non-discrimination

2.4 Integrasi Prinsip-prinsip Lingkungan Global dalam Hukum Nasional Indonesia

2.4.1 Integrasi Prinsip Lingkungan Global dalam UUD 1945

UUD 194566 merupakan supremasi konstitusi dan hierarki perundang- undangan dalam suatu sistem hukum yang mengandung konsekuensi.

Konsekuensinya, semua ketentuan perundang-undangan yang telah ada dan yang akan dibentuk, termasuk perubahan ketentuan perundang-undangan, materi muatannya harus bersumber pada ketentuan dalam UUD 1945. Tujuannya agar terdapat kesesuaian norma sebagai satu kesatuan sistem hukum.67

UUD 1945 sebagai satu kesatuan sistem, mengatur format ketatanegaraan di bidang politik dan pemerintahan, ekonomi dan dunia usaha, kesejahteraan sosial dan budaya, penataan sistem dan aparatur hukum, hak asasi manusia, dan luar negeri.68 Dalam hubungan ini, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara umum dalam UUD 1945 memperoleh legitimasi sebagai perwujudan hak konstitusional yang sangat mendasar, sebab merupakan perwujudan Hak Asasi Manusia (selanjutnya disingkat HAM).69

Menurut Koesnadi Hardjasoemantri, kaidah dasar yang melandasi pembangunan dan perlindungan lingkungan hidup di Indonesia terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 yang berbunyi: 70

“Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia…”.

Ketentuan ini menegaskan “kewajiban negara” dan “tugas pemerintah”

untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dalam lingkungan hidup. Dalam konteks ini, “segenap bangsa Indonesia” dimaknai sebagai sumber- sumber insani lingkungan hidup, yang mengartikan manusia sebagai satu kesatuan sosiosistem. Sedangkan “seluruh tumpah darah Indonesia” dimaknai sebagai komponen fisik yang membentuk biotic community (komunitas benda hidup) dan abiotic community (komunitas benda mati).71

66 UUD 1945 yang dimaksud adalah UUD 1945. mulai dari amandemen I (1999), II (2000), III (2001), dan IV (2002).

67 Lihat Syamsul Bachrie, Perlindungan Hukum terhadap Lingkungan Hidup Melalui Sarana KTUN (Suatu Studi Perizinan Sebagai Pembatasan Hak-hak Dasar bagi Pengelolaan Lingkungan) (Makassar: Pustaka Pena Press, 2011) h. 101.

68 Ibid., h. 102.

69 Ibid.

70 Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, ed. VIII, Cet. ke-20, 2009) h. 74.

71 A. M. Yunus Wahid. Op.Cit., h. 51.

Penjabaran “tugas pemerintah” sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945, juga dapat ditemukan dalam Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945, yang menyatakan ”bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”72 Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 mengisyaratkan “tugas pemerintah” untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya lingkungan hidup.

Dalam konteks ini, secara jelas dan tegas disebutkan kontrak yang terjadi antara hak umum (negara) dan hak pribadi (warga negara) dalam memanfaatkan lingkungan hidup, termasuk sumber daya di dalamnya. Dengan kata lain, negara wajib melindungi dan menjaga lingkungan hidup agar rakyat menjadi makmur dan sejahtera.

Dalam konteks penjabaran Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945, sebagaimana disebutkan di atas, S.K. Wandell73 berpendapat lain. Menurutnya, Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 lebih memfokuskan pada siapa yang memperoleh keuntungan atas eksploitasi sumber daya alam Indonesia, bukan fokus terhadap perlindungan.

Dalam hal ini, negara tidak berkewajiban untuk melindungi lingkungan, akan tetapi negara menitikberatkan pada pada pengawasan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia.74

Interpretasi berbeda atas makna Pembukaan UUD 1945, alinea ke-4 dan Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945, juga dapat ditemukan penjabaran konkretnya dalam ketentuan Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 dan Pasal 28H, Ayat 1 UUD 1945. Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 menyatakan “perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi-berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi sosial”.

Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 berupaya mengintegrasikan pengembangan ekonomi dengan isu-isu demokrasi, solidaritas, efisiensi, keadilan, berkelanjutan, dan prinsip-prinsip lingkungan lainnya. Akan tetapi, Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 masih diformulasikan ke dalam bahasa yang bersifat umum, sehingga membutuhkan penjabaran lebih lanjut dalam bentuk aturan yang lebih rendah dan atau membutuhkan interpretasi dari pengadilan.75

72 Marhaeni Ria Siombo, Hukum Lingkungan dan Pelaksanaan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010) h. 50-51.

73 S.K. Waddell, The Role of the ‘Legal Rule’ in Indonesian Law: Environmental Law and Reformasi of Water Quality Management, Ph.D Thesis (Faculty of Law, University of Sydney, 2004) h. 197-201.

74 Laode M. Syarif, REDD+ and Legal Regimes of Mangrove, ASEAN and the World: A Snap Shoot of Indonesian Environmental Law.

Paper. h. 2.

75 Lihat S.K. Wandell, Op.Cit., h. 201. Lihat juga Laode M. Syarif, Op.Cit., h. 3.

Pasal 28H Ayat 1 UUD 1945 lebih lanjut menyebutkan bahwa “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Pasal 28H, Ayat 1 UUD 1945 secara tegas menyatakan pengakuan Indonesia atas hak-hak lingkungan sebagai bagian dari hak-hak dasar (hak asasi manusia) masyarakat Indonesia. Keberadaan Pasal 28H, Ayat 1 UUD 1945 ini untuk menunjukkan bahwa konstitusionalisasi lingkungan bertujuan agar tidak ada lagi kebijakan dan peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945 yang bertentangan UUD 1945 yang telah prolingkungan.76

Keberadaan Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 dan Pasal 28H, Ayat 1 yang prolingkungan hidup, oleh Jimly Asshiddiqie disebut sebagai green constitution (konstitusi Hijau).77 Dengan kata lain bahwa kedua pasal UUD 1945 tersebut merupakan bukti bahwa UUD 1945 sebagai Konstitusi Indonesia adalah Konstitusi Hijau (Green Constitution).78

Jimly Ashiddiqie, lebih lanjut mengatakan setidaknya terdapat dua alasan utama mengapa konsepsi green constitution dan ecocracy menjadi sangat penting untuk dipahami dan diperhatikan oleh segenap komponen bangsa Indonesia. Pertama, terhadap kondisi kelestarian lingkungan hidup yang kini teramat memprihatinkan, maka sudah seyogianya meletakkan dan memperkuat kembali dasar-dasar konseptual mengenai permasalahan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan berwawasan lingkungan. Kedua, UUD 1945 sebagai the supreme law of the land, pada dasarnya telah memuat gagasan dasar mengenai kedaulatan lingkungan dan ekokrasi yang dapat disetarakan pula nilai-nilainya dengan konsep demokrasi dan nomokrasi.79

Terkait dengan prinsip-prinsip lingkungan hidup dalam Pasal 28H Ayat 1 maupun Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945, Mukhlis dan Mustafa Lutfi, berpendapat

“terdapat 2 konsep yang berkaitan dengan ide ekosistem, yaitu perekonomian nasional berdasar demokrasi ekonomi, harus mengandung prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.”80 Hal ini diartikan bahwa alam memiliki kekuasaan

76 Jimly Asshiddiqie, Green Constitution: Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Negara Repubik Indonesia Tahun 1945 (PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009) h. 91.

77 Ibid. Istilah “green constitution” dalam lintas batas perkembangan ketatanegaraan khususnya negara-negara dunia sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa dalam konteks ke-Indonesiaan wacana “green constitution” sebagai istilah memang belum terlalu lama diperkenalkan. Namun demikian, bagi mereka yang aktif dan bergaul dengan berbagai perkembangan terkait dengan dinamika pemikiran hukum dan praktek-praktek kenegaraan di dunia kontemporer, baik melalui jurnal-jurnal ilmiah, maupun banyaknya buku baru, serta melalui internet tentu tidak akan merasa asing dengan istilah “green constitution” tersebut.

78 Mukhlis dan Mustafa Lutfi, “Ekologi Konstitusi: Antara Rekonstruksi, Investasi atau Eksploitasi Atas Nama NKRI” (Jurnal Konstitusi, Vol. 8 Nomor 3, Juni 2011) h. 171.

79 Ibid.

80 Ibid.

dan hak-hak asasinya sendiri yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun (inalienable rights). Pengaturan hak asasi di bidang lingkungan hidup telah mengharuskan bagi setiap individu dan negara untuk menjamin terpenuhinya hak bagi setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pengaturan hak asasi di bidang lingkungan hidup hakikatnya merupakan bentuk perlindungan terhadap hak asasi yang dimiliki oleh setiap orang (individu). Selanjutnya akan dijelaskan lebih detail pada bab berikutnya tentang tentang hak atas lingkungan.81

Dalam konteks ini, lebih lanjut alam dimaknai dan diakui memiliki kedaulatannya sendiri. Sehingga di samping rakyat sebagai manusia yang dianggap berdaulat, alam juga berdaulat. Inilah hakikat yang dimaksudkan dengan prinsip kedaulatan lingkungan, yang juga terkandung dalam UUD 1945.