• Tidak ada hasil yang ditemukan

INVESTASI DALAM OBLIGASI

Dalam dokumen Ebook Pengelolaan keuangan pribadi (Halaman 187-200)

> TUJUAN BAB:

1. Menjelaskan pengertian dan jenis-jenis obligasi.

2. Menjelaskan jenis-jenis risiko obligasi.

3. Menjelaskan peringkat obligasi.

4. Perhitungan obligasi.

N

ani ingin berinvestasi dalam obligasi karena ia mengetahui bahwa obligasi memberikan pembayaran bunga periodik yang akan berfungsi sebagai sumber pendapatan. Nani mengetahui bahwa ia bisa membeli obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Namun, obligasi ini hanya memberikan hasil 5 persen dan Nani ingin mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Broker menyarankannya untuk berinvestasi dalam un on , yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan kondisi keuangan yang lemah.

Nani menyadari ada beberapa obligasi yang memberikan hasil 10 persen, dua kali lipat dibandingkan obligasi yang ditawarkan oleh pemerintah. a juga melihat bahwa obligasi ini memberikan keuntungan yang tinggi daripada obligasi pemerintah. a memutuskan untuk

https://pixabay.com/id/uang-rumah-koin-investasi-bisnis-2724241/

174 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

Pada tahun berikutnya, perusahaan ini tidak mampu menutupi utang sehingga terdaftar sebagai perusahaan yang bangkrut. Akibatnya, obligasi Nani menjadi sisa-sia.

Ketika perekonomian pemerintah melemah, banyak perusahaan lain yang memiliki kinerja lebih buruk, tetapi memiliki kondisi keuangan yang cukup kuat untuk menutupi pembayaran utang. Nani menyadari akan potensi kerugian sebagai konsekuensi dari investasi obligasi yang berisiko. Seperti investasi lainnya, obligasi memiliki karakteristik yang unik. Selain itu, sama dengan saham, keuntungan kembali dan risiko obligasi bervariasi tergantung pada pihak penerbit serta kondisi ekonomi saat ini dan harapan kondisi ekonomi di masa yang akan datang. Memahami berbagai jenis obligasi dan berbagai strategi investasi obligasi dapat membantu Anda membangun portofolio investasi dan meningkatkan kekayaan.

Pengertian Obligasi

Menurut Karvof (2009), obligasi (bond) adalah surat pengakuan atas pinjaman yang diterima emiten dari pemodal. Jangka waktu obligasi umumnya adalah 5-10 tahun, di mana jumlah dan saat pembayaran imbalan bunga ditetapkan dalam perjanjian. Walaupun tidak memiliki hak suara dalam perusahaan emiten dan perjanjian, pemegang obligasi berhak atas pembayaran bunga secara penuh sebelum para pemegang saham menerima pembagian dividen. Oleh karena itu, obligasi termasuk fixed income securities karena memberikan pendapatan yang relatif stabil dan aman. Obligasi biasanya diperdagangkan secara over the counter (OTC). Sebagai instrumen utang berjangka panjang, obligasi dapat dibedakan berdasarkan beberapa aspek.

Obligasi Berdasarkan Cara Pengalihannya

Berikut adalah jenis-jenis obligasi berdasarkan cara pengalihannya yang dipaparkan oleh Karvof (2009).

1. Obligasi atas unjuk

Obligasi atas unjuk (bearer bonds) adalah obligasi yang tidak mencantumkan nama pemilik dalam sertifikat obligasi sehingga sangat mudah dipindahtangankan seperti halnya uang. Bunga dan pokok obligasi dapat dibayarkan kepada siapa pun yang dapat menunjukkan kupon bunga dan sertifikat obligasi tersebut.

2. Obligasi atas nama

Obligasi atas nama (registered bonds) adalah obligasi yang mencantumkan nama pemilik dalam sertifikat obligasi sehingga tidak dapat dipindahtangankan. Bunga dan pokok pinjaman hanya dapat dibayarkan kepada pemilik yang namanya tercantum baik dalam sertifikat obligasi maupun pada perusahaan yang mengeluarkan obligasi.

©penerbit

© salemba

Obligasi Berdasarkan Cara Penetapan dan Pembayaran Bunga dan Pokok Pinjaman

1. Obligasi dengan bunga

Obligasi dengan bunga (coupon bonds) adalah obligasi yang memberikan bunga tertentu yang dibayarkan secara periodik kepada pemilik/pemegangnya. Bunga yang dibayarkan dapat bersifat tetap (fixed rate) dan tidak tetap (floating rate).

Untuk obligasi dengan bunga tetap, besarnya tingkat bunga ditetapkan di awal transaksi dan tidak akan berubah sampai saat jatuh tempo. Untuk obligasi dengan bunga tidak tetap, cara penentuan tingkat bunga bervariasi, ada yang dikaitkan dengan tingkat bunga atau dengan indeks tertentu.

2. Obligasi tanpa bunga

Obligasi tanpa bunga (zero coupon bonds) adalah obligasi yang tidak memberikan bunga sehingga pemiliknya tidak memperoleh pembayaran bunga secara periodik. Obligasi ini dijual dengan menggunakan sistem diskon.

Obligasi Berdasarkan Jangka Waktu 1. Obligasi jangka menengah

Obligasi jangka menengah (medium term bonds) adalah obligasi yang mempunyai masa jatuh tempo sampai dengan lima tahun.

2. Obligasi jangka panjang

Obligasi jangka panjang (long term bonds) adalah obligasi yang mempunyai masa jatuh tempo lebih dari lima tahun.

Obligasi Berdasarkan Jaminan yang Diberikan atau Hak Klaim 1. Obligasi dengan jaminan

Obligasi dengan jaminan (secured bonds) adalah obligasi yang penerbitannya dijamin dengan kekayaan emiten atau pihak lain. Terdapat beberapa jenis obligasi yang termasuk dalam obligasi dengan jaminan. Obligasi dengan garansi (guaranteed bonds) adalah obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan penanggungan pihak ketiga. Obligasi dengan hipotek atau dijamin dengan aset riil–real assets (mortgage bonds), yaitu obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan hipotek atas properti atau aset tetap penerbit obligasi. Obligasi yang dijamin dengan efek dalam bentuk portofolio (collateral trust bonds), yaitu obligasi yang dijamin dengan surat berharga yang dimiliki penerbit obligasi dalam portofolionya, misalnya saham anak perusahaan. Obligasi yang dijamin dengan peralatan

176 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

2. Obligasi tanpa jaminan

Obligasi tanpa jaminan (unsecured bonds) adalah obligasi yang penerbitannya tidak dijamin dengan kekayaan apa pun kecuali nama baik (goodwill) dan pernyataan kesediaan untuk membayar dari emiten.

Obligasi Berdasarkan Konvertibilitas 1. Obligasi konversi

Obligasi konversi (convertible bonds) adalah obligasi yang dapat ditukarkan dengan surat berharga lainnya, biasanya saham yang diterbitkan oleh emiten yang sama.

2. Obligasi nonkonversi atau biasa

Obligasi nonkonversi atau biasa (unconvertible bonds) adalah obligasi yang tidak dapat ditukarkan dengan saham atau surat-surat berharga lain meskipun dari emiten yang sama.

Obligasi Berdasarkan Cara Pelunasannya 1. Obligasi yang dapat dilunasi

Obligasi yang dapat dilunasi (callable bonds) adalah obligasi yang dapat dilunasi atau ditebus oleh emitennya sebelum jatuh tempo. Obligasi tersebut biasanya ditebus bila suku bunga turun secara drastis sehingga emiten dapat menghemat uang dengan menerbitkan obligasi baru pada suku bunga yang lebih rendah.

2. Obligasi yang tidak dapat dilunasi

Obligasi yang tidak dapat dilunasi (uncallable bonds) adalah obligasi yang tidak dapat dilunasi atau ditebus emitennya sebelum waktu jatuh tempo berakhir.

Obligasi Berdasarkan Pihak yang Menerbitkannya 1. Obligasi pemerintah

Obligasi pemerintah adalah obligasi yang diterbitkan baik oleh pemerintah pusat (government bonds) maupun pemerintah daerah (municipal bonds).

2. Obligasi perusahaan

Obligasi perusahaan (corporate bonds) adalah obligasi yang diterbitkan baik oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan swasta.

©penerbit

© salemba

Obligasi Syariah

1. Obligasi syariah mudharabah

Obligasi syariah mudharabah adalah obligasi yang diterbitkan dengan mengacu pada sistem bagi hasil.

2. Obligasi syariah ijarah

Obligasi syariah ijarah adalah obligasi yang diterbitkan dengan mengacu pada sistem pembayaran sewa.

Obligasi Ritel Indonesia (ORI)

Obligasi Ritel Indonesia (ORI) adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal ini departemen keuangan, yang ditujukan untuk investor individu. Surat Utang Negara (SUN) ditujukan untuk investor institusi seperti perbankan, pengelola reksa dana, perusahaan asuransi, dana pensiun atau lembaga lainnya. Contoh dari Surat Utang Negara dapat dilihat pada Lampiran 5 "Konfirmasi Kepemilikan Surat Utang Negara". Tujuan pemerintah menerbitkan obligasi baik institusi maupun ritel adalah untuk membiayai pembangunan; membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, pasar, bandara dan lainnya agar roda perekonomian tetap berjalan, serta untuk menutup defisit anggaran (APBN) karena penerimaan pemerintah–terutama pajak–lebih kecil daripada pengeluaran. Tujuan lain dari pemerintah menerbitkan obligasi adalah untuk memperbesar basis investor lokal di pasar modal Indonesia serta mengurangi ketergantungan terhadap investor asing apabila suatu saat membutuhkan dana. Selain itu, hal ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang semula berorientasi pada tabungan menjadi berorientasi pada investasi (dari saving society menjadi investing society).

Investasi pada ORI tidak memerlukan dana yang besar. Cukup dengan dana sebesar Rp5.000.000 dan kelipatannya Anda sudah dapat membeli ORI.

Kupon atau bunganya pun dapat dibayarkan setiap bulan serta dapat dijadikan jaminan karena ORI sendiri dijamin oleh pemerintah tanpa batasan dan syarat tertentu. Tabel 10.1 menunjukkan perbedaan ORI dengan saham, deposito dan reksa dana terproteksi.

178 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

>TABEL 10.1 Perbedaan OR dengan saham, deposito, dan reksa dana terproteksi

Saham Deposito

Reksa dana

terproteksi ORI

Jatuh tempo Tidak ada Ada Ada Ada

Kupon/bunga Tidak ada Ada (dapat berubah setiap

saat)

Tidak ada Ada (jumlah tetap, di atas bunga deposito pada saat penerbitan)

Dividen Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Potensi kuntungan modal ( a ital ain)

Ada Tidak ada Tidak ada Ada

Jaminan pemerintah

Tidak ada Ada (maksimal Rp2 miliar)

Tidak ada Ada (tanpa batasan dan tanpa syarat) Perdagangan di

pasar sekunder

Dapat Tidak dapat Tidak dapat Dapat Pembeli siaga

( tan y uye)

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada

Sumber: Karvof (2009).

Risiko Investasi pada ORI 1. Risiko harga

Risiko harga adalah risiko dalam bertransaksi di pasar sekunder. Dalam hal ini risiko pasar akibat harga jual lebih rendah dibandingkan harga beli—investor bisa saja menderita kerugian modal (capital loss). Apabila tidak mencairkan ORI sampai jatuh tempo, investor tidak akan terkena risiko pasar. Sejak pemerintah menerbitkan ORI 1 sampai dengan ORI 4, semuanya berjangka waktu di atas 1 tahun sampai dengan 4 tahun, atau masuk kategori obligasi jangka panjang.

2. Risiko likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko tidak dapat mencairkan atau menjual ORI ketika investor ORI sedang membutuhkan dana. Namun semua agen penjual ORI berkomitmen sebagai pembeli siaga (standby buyer) yang akan membeli ORI dari nasabah.

Perhitungan Obligasi

Harga suatu obligasi secara umum dapat dihitung dengan formula berikut:

© salemba

PV C k

C k

n k

M k

PV C

K k

n n

n

=( + ) +( + ) + +( + ) +( + )

= −

( + )

⎢⎢

1 1

2

1 1 2 1 1

1 1

1

...

⎤⎤

⎥⎥ + +( ) M

k n 1 Di mana:

PV : Harga obligasi saat ini C1 : Kupon periode ke-1 C2 : Kupon periode ke-2 Cn : Kupon periode ke-n M : Maturity (nilai jatuh tempo)

k : Discount rate (suku bunga yang diharapkan investor)

CONTOH: HARGA OBLIGASI SAAT INI (PV)

Obligasi suatu perusahaan bernilai nominal ( a value) Rp10 juta dengan tingkat bunga (inte e t ate) 10 persen akan jatuh tempo 10 tahun yang akan datang. Jika tingkat keuntungan yang disyaratkan adalah 12 persen, berapa nilai obligasinya adalah sebagai berikut.

PV= ( )

⎢⎢

⎥⎥

( + )

+

10 1 1

1 12

10

10

%

% Rp10juta

12%

jutaa 1+12%

8,333 juta Rp8,86

( )

=

⎜⎜⎜

⎟⎟⎟⎟+ =

10

1 1

3 1058 3 1058

( )

, , 77 juta

Ketika berinvestasi pada obligasi, di samping melihat besaran harga obligasi, kita juga harus mempertimbangkan besaran hasil (yield) yang akan diperoleh dengan memiliki saham tersebut. Terdapat beberapa hasil (yield) yang menjadi pertimbangan dalam memegang obligasi (Manurung dan Rizky, 2010).

1. Nominal yield (coupon yield) – hasil kupon

Dihitung berdasarkan hasil kupon (bunga) dari obligasi tersebut. Adapun rumus untuk menghitung nominal yield adalah sebagai berikut.

Nominal yield coupon nominal

= ×100%

2. Current yield – hasil tahun berjalan

Dihitung berdasarkan hasil dari tahun berjalan dengan membagi kupon (bunga) dengan harga pasar dari obligasi saat ini.

Current yield=coupon interest rate current price

180 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI CONTOH: CURRENT YIELD

Sebuah perusahaan menjual obligasi dengan harga Rp11.150.000 dengan ou on inte e t ate 11 persen dan a valueRp10.000.000 dengan waktu jatuh tempo 18 tahun.

Perhitungan hasil tahun berjalan;

P = Harga jual obligasi pada saat ini = Rp 11.150.000 f = a value = Rp 10.000.000,

n = 18 tahun,

= ou on inte e t ate = 11% Rp10.000.000 = Rp 1.100.000

Current yield=coupon interest rate current price

= 1 100 000 1

. . 1 1 150 000 9 87

. . , %

=

3. Yield to maturity – hasil hingga jatuh tempo

Dipergunakan untuk menghitung yield atau hasil yang didapatkan dari obligasi yang dibeli investor apabila obligasi tersebut disimpan sampai dengan jatuh tempo.

YTM

c f p

n

f p

= + −

+ ×

2

100%

Di mana:

f = nilai par (face value) p = harga (price) n = jangka waktu c = coupon interest rate

CONTOH: YIELD TO MATURITY

Dengan menggunakan hasil perhitungan u ent yiel sebelumnya, perhitungan untukyiel to matu ity adalah sebagai berikut.

YTM

c f p n f p

= + − + ×

= +

2

100

1 100 000 10 000 000 11 150 000 18

10 00

%

. . . . . .

. 00 000 11 150 000 2

0 0979 9 79

. . .

, , %

+

=

=

©penerbit

© salemba

4. Yield to call – hasil jika di – call (tarik) oleh emiten

Teknik perhitungan ini dilakukan untuk obligasi-obligasi yang memiliki opsi dapat ditarik (call option) oleh penerbit.

YTC C Pc P Pc Pn

= + −

+ ×

2

100%

Di mana:

Pc = price to call P = harga (price) n = penebusan c = coupon interest rate

CONTOH: YIELD TO CALL

Dengan menggunakan hasil perhitungan sebelumnya, jika diketahui pada tahun ke-4 obligasi tersebut dapat ditebus, maka nilai yiel to all dapat diketahui dengan perhitungan sebagai berikut.

YTC

C Pc P

n Pc P

= +

+ ×

= +

2

100

1 100 000 10 000 000 11 150 000 4

10 0

%

. . . . . .

. 000 000 11 150 000 2

0 0885 8 85

. . .

, , %

+

=

=

Durasi dan Sensitivitas Obligasi

Untuk mengukur sejauh mana sebuah obligasi sensitif terhadap tingkat suku bunga, digunakan ukuran durasi yang dinyatakan dalam satuan “tahun”, hampir sama dengan tenor atau masa jatuh tempo. Apabila pembayaran obligasi dianggap sebagai timbangan, titik durasi dapat digambarkan sebagai titik imbang dari obligasi tersebut. Biasanya, angka durasi sedikit lebih kecil dari pada lamanya tenor.

Rumus perhitungan durasi dapat dilakukan dengan rumus berikut ini (Tanata, 2015).

Durasi kupon

kupon

= + −( + )+

(

)

+

( ) −

⎡⎣ ⎤⎦ +

1 1

1 1

r r

r n r

r n r

182 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI CONTOH: DURASI

Obligasi Alfa Beta memiliki tenor 2 tahun dengan bunga kupon 8 persen per tahun yang dibayar setiap tahun. Suku bunga (ate) saat itu adalah 6 persen.

Durasi dari obligasi tersebut adalah sebagai berikut.

Durasi kupon

kupon

= + −( + )+ ( ) ( + )

⎣⎢

⎦⎥+

= +

1 1

1 1

1 0 06 0

r r

r n r

r n r

, ,006

1 0 06 2 0 08 0 06 0 08 1 0 06 1 0 06 17 67

( + )+ (2 ) ( + )

⎣⎢

⎦⎥+

=

, , ,

, , ,

, 115 74 1 93

,

= , tahun

Dalam prakteknya, broker akan dapat menginformasikan berapa durasi dari obligasi yang Anda tanyakan.

Durasi sangat penting untuk melihat bagaimana harga obligasi berubah terhadap kenaikan suku bunga. Ketika suku bunga naik, harga obligasi berdurasi panjang akan turun lebih dalam dibandingkan harga obligasi berdurasi pendek.

Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga obligasi berdurasi panjang akan berpotensi naik lebih tinggi dibandingkan harga obligasi berdurasi pendek.

Anda dapat menghitung sejauh mana harga obligasi ini akan naik/turun terkait dengan turun/naiknya suku bunga (Manurung dan Rizky, 2010).

Untuk menghitung sensitivitas obligasi dengan alasan matematis, Anda perlu terlebih dahulu mengubah atau sedikit memodifikasi angka durasi menjadi angka durasi lain yang disebut modified duration (DMod).

Modified duration durasi

D r

k

(

Mod

)

=

⎛ +

⎝⎜⎜ ⎞

⎠⎟⎟⎟

1

Di mana:

r = suku bunga (rate)

k = jumlah pembayaran kupon dalam setahun

CONTOH: MODIFIED DURATION (DMOD)

Dalam contoh sebelumnya, dengan durasi 1,93 tahun, perhitungan o ifie u ation (DMod) adalah sebagai berikut.

Modified duration durasi

1,93

D r

k ( Mod)=

+

⎜⎜⎜

⎟⎟⎟⎟

=

+ 1

1 0 06 1 ,

⎝⎝⎜⎜⎜

⎟⎟⎟⎟

=1,82 tahun

©penerbit

© salemba

Dari angka Modified Duration (DMod) akhirnya diperoleh sensitivitas obligasi tersebut terhadap perubahan suku bunga, yang dihitung dengan rumus berikut (Tanata, 2015).

Perubahan harga obligasi= −modified duration D( Mod)×perubahann suku bunga Tanda negatif (–) menandakan hubungan terbalik antara harga obligasi dan suku bunga.

CONTOH: MENGUKUR DAMPAK SUKU BUNGA DENGAN DURASI Dengan menggunakan contoh obligasi yang sama, apabila suku bunga berubah naik dari 6 persen menjadi 6,5 persen, maka perubahan harga obligasi dapat diketahui dengan perhitungan berikut.

Perubahan harga obligasi=modified duration D( Mod)×perubahan suku bunga 1,82 0,5%

0,91%

= − ×

= −

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa apabila suku bunga naik 0,5 persen saja, harga obligasi tersebut akan turun 0,91 persen.

Contoh lain dapat digunakan, misalnya obligasi ABC berdurasi 5 tahun dan obligasi XYZ berdurasi 3 tahun. Ketika suku bunga naik 1 persen, harga obligasi ABC (durasi lebih panjang) akan turun 1,5 persen, sedangkan harga obligasi XYZ (durasi lebih pendek) mungkin akan turun hanya 1 persen. Dalam situasi ketika suku bunga akan naik, obligasi XYZ dapat menjadi pilihan terbaik.

Demikian pula sebaliknya ketika suku bunga turun. Intinya, perubahan harga obligasi berdurasi lebih panjang (tenor panjang) akan bereaksi lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga jika dibandingkan dengan obligasi berdurasi lebih pendek (tenor pendek) (Manurung dan Rizky, 2010).

Sedikit catatan untuk rumus-rumus obligasi pada buku-buku finansial, komponen suku bunga (r atau rate) sering kali ditukar dengan YTM (yield to maturity). Penjelasan menurut logika dari pertukaran ini adalah bahwa investor menginginkan agar YTM paling tidak sama dengan suku bunga yang sedang berlaku saat itu. Investor tidak mungkin menginginkan YTM yang lebih kecil dari suku bunga yang ada. Jadi, dapat diasumsikan bahwa YTM minimal harus sama dengan suku bunga (rate).

184 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

Strategi dalam Berinvestasi Obligasi

Dari informasi di atas, Anda dapat menerapkan strategi berikut dalam berinvestasi obligasi terkait situasi suku bunga.

1. Situasi ketika suku bunga akan naik.

Anda dapat membeli obligasi bertenor pendek (durasi pendek) sehingga ketika obligasi tersebut jatuh tempo, Anda dapat membeli lagi obligasi terbitan baru yang menawarkan kupon lebih tinggi (untuk reinvestasi).

Anda juga dapat membeli obligasi bertenor panjang (durasi panjang) yang harganya sudah murah (at discount) dan kemudian mengoleksinya untuk jangka waktu lama hingga jatuh tempo. Selain memperoleh bunga kupon, Anda masih dapat memperoleh keuntungan modal (capital gain) yang tinggi ketika jatuh tempo.

2. Situasi ketika suku bunga akan turun.

Anda dapat secepatnya membeli obligasi bertenor panjang (durasi panjang) yang memberikan kupon lebih tinggi dibandingkan tingkat suku bunga yang akan turun nanti. Tingkat kupon yang lebih tinggi dari obligasi tersebut akan membuat investor lain tertarik dan menawar obligasi jangka panjang Anda dengan harga tinggi/harga premium (harga obligasi bertenor panjang akan naik). Anda dapat menjual obligasi tersebut untuk realisasi keuntungan modal (capital gain).

Namun, apabila Anda memang membeli obligasi untuk disimpan hingga jatuh tempo, situasi suku bunga yang naik atau turun tidak akan berpengaruh pada keputusan investasi. Selama menunggu hingga jatuh tempo, Anda tetap dapat menikmati suku bunga kupon yang akan dibagikan secara reguler.

Keuntungan Berinvestasi Obligasi

Berinvestasi di obligasi memberikan beberapa keuntungan, di antaranya adalah (Tanata, 2015):

Investasi obligasi relatif aman. Khususnya obligasi pemerintah (termasuk ORI), investasi ini dianggap sangat aman karena pembayaran bunga kupon dan pokok hingga jatuh tempo dijamin oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Tingkat keuntungan atas bunga kupon biasanya lebih tinggi daripada bunga deposito.

©penerbit

© salemba

Tingkat pajak atas bunga kupon dan keuntungan modal (capital gain) obligasi sebesar 15 persen, lebih rendah daripada tingkat pajak atas bunga deposito sebesar 20 persen.

Khususnya ORI, modal awal investasi sebesar Rp5.000.000 relatif cukup terjangkau bagi keuntungan individu.

Tingkat likuiditas cukup tinggi, investor obligasi dapat selalu memperjualbelikan obligasi melalui pasar sekunder.

Risiko Berinvestasi Obligasi

Selain keuntungan-keuntungan yang ditawarkan, investasi di obligasi juga memiliki risiko yang perlu diketahui investor. Berikut adalah risiko-risiko yang dihadapi dalam berinvestasi obligasi (Tanata, 2015).

1. Risiko suku bunga (interest rate risk)

Seperti yang telah dibahas, suku bunga membawa risiko tersendiri bagi harga obligasi. Ketika suku bunga naik, harga obligasi berisiko untuk turun (juga sebaliknya). Namun, risiko ini tidak terlalu berpengaruh jika investor memang berencana menyimpan obligasinya hingga jatuh tempo.

2. Risiko gagal bayar (default risk)

Risiko ini terjadi jika penerbit obligasi gagal membayar kembali bunga kupon atau nilai nominal investasinya. Risiko ini biasanya dianggap lebih tinggi untuk obligasi yang diterbitkan oleh korporasi swasta. Oleh karena itu, obligasi korporasi biasanya menawarkan suku bunga kupon lebih tinggi sebagai kompensasi risikonya. Sebaliknya bagi obligasi pemerintah, negara dianggap memiliki tingkat risiko gagal bayar yang lebih rendah.

3. Risiko pasar (market risk)

Risiko ini terjadi apabila investor menjual kembali obligasinya di pasar sekunder dengan harga jual lebih rendah daripada harga beli, sehingga hal tersebut berpotensi menyebabkan kerugian modal (capital loss). Harga jual yang lebih rendah dapat terjadi karena permintaan pasar yang rendah atau karena potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Risiko ini dapat diabaikan apabila investor memang berencana memegang obligasi hingga jatuh tempo.

4. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Risiko ini terjadi apabila investor mendadak membutuhkan dana cepat sehingga memutuskan untuk menjual obligasinya, namun obligasi tersebut tidak banyak diminati di pasar. Akibatnya, investor terpaksa menjual

Dalam dokumen Ebook Pengelolaan keuangan pribadi (Halaman 187-200)