BAB 2 IDENTITAS NASIONAL
D. Islam dan Nasionalisme
makin baik ditegaskan dalam Q.S. ar-Ra’d: 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ketika merujuk pada suatu bangsa, nasionalisme merupakan faktor penentu dalam mewujudkan cita-cita sebuah negara. Nasionalisme di- landaskan atas kesadaran sejarah, cinta tanah air dan cita politiknya29. Wawasan kebangsaan bagi umat Islam memiliki peran penting dan sa- ngat strategis dalam menjaga keutuhan dan ketahanan Negara Kesatu- an Republik Indonesia30. Mencintai tanah air adalah fitrah umat Mus- lim yang memiliki kebangsaan. Keberagaman yang dimiliki Indonesia dapat menjadi ruh kekuatan dalam membangun bangsa di atas keber- bedaan. Namun hal ini juga berpotensi sebagai sumber perpecahan di masyarakat hingga terjadi gerakan separatisme. Islam menyerukan persatuan dan kesatuan sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S.
al-Anbiya: 21 dan QS Al-Mu’minun: 52, “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu.”31
Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang religius, toleran dan menyadari bahwa keberagaman merupakan ketentuan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mampu mengubah menjadi semangat optimisme untuk membangun persatuan yang kokoh dan sebenarnya. Menengok sejarah bahwa bangsa Indonesia pernah dijajah oleh Belanda hingga ratusan tahun, yang mengakibatkan semangat persatuan atas dasar ra- sa senasib dan sepenanggungan membuahkan hasil yakni kemerdeka- an.
Pergerakan semangat persatuan berkobar pada masa berdirinya Budi Utomo (1908) hingga Sumpah Pemuda (1928) untuk merdeka membangun bangsa yang mandiri. Nasionalisme yang dibangun kala
29 Dwi Purwoko, Negara Islam?: Percikan pemikiran H. Agus Salim, K.H. Mas Mansyur, K.H. Hasyim Asy’ari, dan Mohammad Natsir, Cet. 1. (Depok: Permata Artistika Kreasi, 2001).
30 Purwoko.
31 M Quraish Shihab, Wawasan al Quran: Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat (Bandung: Mizan, 1996).
itu adalah terbebas dari penindasan kolonial. Perjuangan meraih ke- merdekaan bangsa Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang Islam saja, tetapi juga orang-orang dari berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, proses perumusan dasar negara Indone- sia Pancasila yang berasal dari berbagai golongan dan agama32.
Allah SWT menciptakan manusia bersuku-suku, selain untuk sa- ling mengenal juga dapat digunakan untuk memaksimalkan potensi dan saling memberi manfaat antara yang satu dengan yang lainnya.
Hal ini sebagai isyarat bahwa Islam mendukung adanya kelompok suku-suku yang tidak menimbulkan konflik perpecahan. Hal ini seba- gaimana termaktub dalam QS Al-A’raf: 160 “Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar dan Ka- mi wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya:
“Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”, maka memancarlah daripa- danya dua belas mata air33.
Faktor persamaan sejarah menjadi unsur kebangsaan yang penting dalam rangka menyatukan perasaan, pikiran dan gerakan suatu ke- lompok masyarakat. Secara historis semangat nasionalisme dan kesa- daran bangsa Indonesia untuk melawan penjajah muncul pada tahun 1908 yang dikenal dengan masa kebangkitan nasional. Sejarah men- jadi faktor gerakan kolektivisme dan membuahkan identitas bersama (nasional). Pengalaman sejarah bangsa Indonesia di masa lalu menjadi motivasi masyarakat dan generasi penerus untuk tidak terulang kem- bali penindasan dari negara lain. Sejarah di dalam Al Quran diuraikan sebagai hikmah untuk merancang langkah yang lebih baik ke depan- nya. Menurut Quraish Shihab34 unsur sejarah dalam ajaran Islam dija- dikan arah guna mencapai kebaikan dan kemaslahatan.
32 Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, 2016).
33 M Quraish Shihab.
34 M Quraish Shihab.
Cinta tanah air (patriotisme) menjadi bukti rasa kebanggaan akan bangsa. Banyak organisasi Islam di Indonesia yang berusaha menum- buhkembangkan rasa cinta tanah air kepada para anggotanya. Seperti gerakan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan yakni Persyarikatan Muhammadiyah. Gerakan tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan akan kondisi umat Islam di Indonesia pada masa penjajahan yang mengalami kesulitan ekonomi, dan keterbelakangan pendidikan35. Sistem pendidikan Islam menjadi target KH Ahmad Dahlan dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Pendidikan Islam yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan memiliki tujuan untuk memben- tuk manusia Muslim yang berbudi pekerti luhur, religius, memiliki pandangan luas, paham akan ilmu dunia serta mampu berjuang untuk kemajuan masyarakatnya36. Sejalan dengan KH Ahmad Dahlan, KH.
Hasyim Asyari sebagai pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) me- nyimpulkan bahwa tujuan dari pendidikan Islam yakni membentuk insan Islam kamil yang memahami ilmu pengetahuan secara sempur- na dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten37. Mengutip Hadist Riwayat Ath-Thabrani: “Sebaik-baik- nya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Gerakan kebermanfaatan secara utuh untuk kemajuan masyarakat bangsa In- donesia di segala lini kehidupan menjadi kontribusi umat Muslim di Indonesia guna mewujudkan patriotisme.
Implementasi dari “rahmatan lil alamin” merupakan realitas pada tubuh umat Islam. Rasulullah SAW dengan Piagam Madinah-nya mampu menciptakan partisipasi masyarakat dalam mengambil kebi- jakan, memperjuangkan supremasi konsensus, menggantikan hu-
35 Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, KH. Akhmad Dahlan: Riwayat hidup dan perjuangannya (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001).
36 Zetty Azizatun Ni’mah, “Pemikiran pendidikan Islam perspektif KH. Ahmad Dahlan (1869-1923 M) dan KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947 M): Study komparatif dalam konsep pembaruan pendidikan Islam di Indonesia,” Didaktika Religia, 2.1 (2014)
<https://doi.org/10.30762/didaktika.v2i1.136>.
37 Hasyim Asy’ari, Etika pendidikan Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007).
bungan darah dengan integrasi serta prestasi individu dengan tauhid38. Piagam Madinah mampu merekatkan hubungan sosial politik masya- rakat yang plural, sehingga tercipta masyarakat madani. Selain itu, da- lam Haji Wada’. Rasulullah berpesan kepada seluruh umat manusia untuk selalu menghormati kehormatan dan hak-hak seseorang, meng- angkat kehormatan wanita, menghindarkan pertumpahan darah dan seterusnya39.
Islam dan nasionalisme merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan dan saling memberi makna. Nasionalisme meletakkan plu- ralitas sebagai konteks utama dalam melahirkan ikatan dasar menyatu- kan orang-perorangan sehingga membentuk sebuah bangsa. Islam ti- dak anti nasionalisme. Oleh karena itu seorang Muslim sebagai bagian dari sebuah bangsa harus memiliki sikap patriotisme (cinta tanah air).
Harmonisasi antara rasa Islam dan nasionalisme diperlukan guna me- wujudkan masyarakat yang damai.
E.Globalisasi dan Tantangan Identitas Nasional