secara jelas melarang seorang anak berkata, membentak dan bertutur kata yang kasar terhadap keda orang tuanya.
Jadi, dapat dikatakan bahwa berkata kasar saja tidak diperbolehkan oleh Islam, apalagi sampai menampar atau menyakiti fisik kedua orang tua. Sehingga, dapat dikatakan bahwa hukum menampar orang tua adalah tidak diperbolehkan, atau dapat dikatakan hukumnya adalah haram.
mendapatkan kesepakatan dalam menggali, berijtihat, atau penemuan hukum adalah Istihsan.61
Bagi para ahli hukum dari mazhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan terkadang kalangan Hanbaliyyah menerima istihasan sebagai metode dalam penemuan hukum Islam atau Syariat. Mereka melihat bahwaistihsan sebagai salah satu metode atau sumber hukum penting yang dapat dijadikan sebagai hujjah dalam menggali dan menentukan status hukum dari suatu pristiwa hukum. Pendapat ketiga mazhab ini bertolak belakang dengan mazhab Syafi’iyyah, menurut imam Syafi’i yang merpakan pendiri dan penggagas mazhab Syafi’i berpendapat bahwa, istihsan tidak boleh dijadikan sebagai metode atau sumber hukum dalam menentukan atau memastikan hukum dari suatu pristiwa hukum. lebih lanjut imam Syafi’i berpendapat bahwa, orang yang membuat hukum berdasarkan istihsan, sama artinya dengan yang bersangkutan sudah membuat syari’at baru berdasarkan hawa nafsunya. Penolakan terhadap istihsan ini juga muncul dari kalangan ulama Zhahiriyyah, secara keseluruhan, ulama Zhahiriyyah menolak metode Kiyas, oleh karenanya, sudah barang tentu menolak juga metode istihsan ini dalam menemukan, membuat, atau berijtihat hukum.62
Silang pendapat dari kalangan ulama di atas menunjukkan bahwa antusiasme para cerdik-cendikia Islam terhadap tradisi keilmuan dalam hukum Islam
61 Nurhayati dan Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh (Depok:
Kencana, 2017), hlm. 36-37.
62 Lihat dan baca Nurhayati dan Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh (Depok: Kencana, 2017), hlm. 36-37.
sangat tumbuh subur. Antusiasme para cerdik-cendikia ini menghasilkan berbagai macam metode penemuan, penggalian, dan ijtihat hukum, dan dapat dipastikan bahwa secara keilmuan semua metode tersebut bisa digunakan dan dibenarkan, selama cara mainnya tidak bertentangan dengan norma dasar, dalam hal ini adalah Alquran dan Sunnah. Selama tujuannya adalah untuk menggali hukum yang terkandung dalam Alquran dan Sunnah, maka tidak ada yang salah dengan metode tersebut. Tidak ada yang berbeda antara metode Ijma, Kiyas, Istihsan, dan berbagia metode penemuan hukum lainnya. Paling penting dalam tradisi hukum Islam yang berkarakter legalistik ini adalah, metode tersebut tidak bertentangan dengan hukum primernya atau norma dasarnya, yakni Alquran dan Sunnah.
Istihsan sendiri bagian penting dari metode Kiyas, hanya saja, dalam Kiyasmenggunakan metode analisis bahwa Alquran dan Sunnah tetap menjadi titik utama, sehingga peristiwa hukum baru dapat dikiyaskan jika terdapat kesamaan illat hukum dengan peristiwa lama, atau ada kesamaan rasionalitas dengan nash atau dalil hukum yang ada dalam Alquran dan Sunnah. Cukup berbanding terbalik dengan metode istihsan ini, menurut Abdul Wahhab Khalaf, secara etimologis istihsan memiliki arti bahwa menganggap baik terhadap peristiwa hukum.
Sedangkan secara istilah ulama usul, istihsan merupakan perpindahan pilihan metode hukum yang digunakan oleh mujtahid dalam berijtihad hukum, yakni dari metode kiyas jali (nyata) menuju kiyas khafi (samar), atau dari dalil yang lebih umum (kulli) menuju hukum yang lebih khusus
atau parsial (takhsish), dan yang terpenting adalah adanya perpindahan atau pemberlakuan hukum khusus terhadap pristiwa hukum baru. Sehingga, dapat dikatakan bahwa metode istihsan ini dapat digunakan oleh seorang mujtahid ketika terjadi kekosongan hukum (khafi) atau tidak ada nash Alquran dan Hadis yang mengatur secara jelas terhadap suatu peristiwa hukum baru (zhahir) yang membutuhkan ketentuan hukum yang jelas terhadap peristiwa hukum tersebut.63
Dalam konteks perkawinan, mungkin dapat dicontohkan dengan perkawinan masyarakat era industri 4.0 (four point zero), khususnya dalam perwalian. Dalam hadis Rasulullah Muhammad SAW ditemukan hadis yang mewajibkan adanya wali nikah dalam perkawinan, dan wali nikah wajib hadir dalam proses ijab-kabul perkawinan tersebut. Tetapi, bagi masyarakat industri 4.0 (four point zero) terkadang wali nikah tidak selamanya bisa menghadiri langsung di tempat proses ijab-kabul pernikahan itu dilakukan, namun mereka seringkali menggunakan video call untuk menyaksikan dan menyerahkan perwaliannya kepada orang yang menghadiri langsung proses ijab-kabul tersebut. Bisa perwaliannya diserahkan kepada kiyai/tuan guru, tokoh agama, atau bisa juga diserahkan perwaliannya itu kepada saudara atau keluarganya secara langsung.
Tentu praktik masyarakat industri 4.0 (four point zero) tersebut tidak ditemukan dalam ketentuan Alquran dan Hadis, tetapi dapat realitas masyarakat modern khususnya bagi masyarkat yang hidup di era industri 4.0 (four point
63 Lebih lanjut, lihat Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushulul Fiqih, terj.
Masdar Helmy (Bandung: Gema Risalah, 1996), hlm. 136.
zero) praktik itu nyata adanya. Lantans, muncul kemudian pertanyaan hukum bahwa, bagaimana hukum perwalian seperti itu, apakah sah atau tidak. Secara istihsan selama praktik perwalian itu tidak bertentangan dengan ajaran primer Islam yang terkandung dalam Alquran dan Hadis, maka praktik perwalian itu diperbolehkan, dengan catatan bahwa harus ada ijab-kabul yang jelas tentang penyerahan hak perwalian tersebut, yang disaksikan langsung oleh sekurangnya empat orang saksi atau para hadirin yang menghadiri proses ijab-kabul perkawinan tersebut, lebih- lebih jika ijab-kabul perwalian itu dapat dilakukan dengan mekanisme, regulasi, atau aturan yang jelas tentang hal itu.
Melihat semakin hari kompleksitas persoalan hukum masyarakat Islam terus bermunculan, sehingga membutuhkan berbagai kebijakan hukum atau ijtihad hukum yang dapat memberikan status legalitas terhadap peristiwa hukum baru yang muncul. Sehubungan dengan hal itu, maka dibutuhkan kekayaan metode ijtihad, sehingga, tidak saja dibutuhkan sebatas pada metode ijtihad klasik, baik yang sudah disepakati maupun yang tidak disepakati, namun dibutuhkan juga berbagai metode ijtihad baru lainnya untuk menjawab berbagai persoalan hukum yang muncul di kemudian hari. Jadi, untuk menjawab problem hukum masyarakat Islam dibutuhkan kekayaan berbagai metodelogi penggalian dan ijtihad hukum.
Dalam menjawab berbagai persoalan hukum yang dihadapi oleh masyarakat Islam, para cendikiawan Islam tidak saja berhasil membuat rumusan metodelogis yang dibangun atas asumsi-asumsi kebaikan dan kemanfaatan
seperti metode istihsan ini, melainkan juga berhasil mengembangkan metodelogi penggalian hukum yang dibangun atas asumsi-asumsi negatif yang akan membahayakan subyek hukum lainnya, baik subyek hukum dalam arti persoanlitas maupun subyek hukum dalam arti kolektifitas. Metode penggalian hukum berupa pencegahan terhadap keburukan yang dapat membahayakan para subyek hukum ini dalam tradisi hukum Islam disebut sebagai saddu aldzarì’ah. Secara etimologis, kata saddu aldzarì’ahterdiri dari dua kata, yakni saddu yang artinya penghalang, penghambat, atau sumbatan, sedangkan kata aldzarì’ah bearti jalan atau jalan menuju sesuatu. Sehingga, saddu aldzarì’ah secara istilahi dapat didefinisikan sebagai menghambat, menghalang, atau mengantisipasi semua jalan yang dapat mengakibatkan kerusakan atau kemaksiatan.64 Tujuan utama dari metode penggalian hukum saddu aldzarì’ahini tidak lain untuk mewujudkan kebaikan (istihsân) sebesar- besarnya terhadap subyek hukum, dan menghindari atau meminimalisir berbagai keburukan yang dapat merugikan dan mengancam eksistensi agama, keselamatan manusia (jiwa, akal, harta), alam dan lingkungannya. Dapat juga dibahsakan sebagai metode pendukung untuk mewujudkan keberhasilan dan kesuksesan dari metode ijtihad Istihsan, Masalih Almursalah, dan Maqasyid Syariah.
Terdapat beberapa landasan hukum yang memperkuat eksistensi saddu aldzarì’ahsebagai metode penggalian hukum Islam, dan produk hukum yang dihasilkan dapat
64 Baca, Muin Umar dkk, Ushul Fiqh I (Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 1985), hlm. 159-160.
dijadikan sebagai salah satu sumber hukum dalam Islam.
Landasan hukum tersebut digali langsung dari Alquran surat Alan’âm (6): ayat (108)65 dan Alnur (24): ayat (31)66. Dari metode saddu aldzarì’ah ini mucnul kemudian kaidah hukum atau kaidah fikih yang sangat luar biasa, yang mengatakan bahwa “menolak segala bentuk kemafsadatan lebih didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan”.67 Maksudnya, seorang mujtahid diharuskan menyelesaikan persoalan secara prefentif dari pada menempuh jalan refresif. Artinya bahwa, mengatasi berbagai keburukan dan kemudaratan yang akan terjadi bagi eksistensi agama, manusia, dan alam harus didahulukan dari pada memperhatikan kebaikan yang akan terjadi.
Perbandingannya dengan istihsan, Istihsan mengutamakan nalar asumsi positif yang terkandung dalam suatu benda, artinya bahwa kebaikan 50% plus 1%
yang terkandung dalam suatu benda harus dimenangkan atau diutamakan dari pada 49% keburukan, atau ingin menjadikan hukum sebagai sarana untuk mewujudkan kebaikan sebesar-besarnya bagi agama, manusia, dan alam.
Sedangkan nalar saddu aldzarì’ahmengutamakan nalar negatif yang terkandung dalam suatu benda, artinya bahwa
65 (ملع يرغب اودع للهااوبسيف للها نود نم نوعدي نيذلا اوبستلا), artinya, janganlah kamu memaki, mengolok-olok, mengkerdilkan, dan lain-lain sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki, mengolok-olok, atau mengkerdilkan Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
66 (نهتنيز نم ينفيخام ملعيل نهلجرأب نبرضيلاو), artinya, janganlah mereka para wanita memukulkan atau menghentakkan kakinya karena sombong dan ingin diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.
67 (لحاصلما بلج ىلع مدقم دسافلما عفد), lihat Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I, cet. Ke-3 (Jakarta: Wacana Ilmu, 2001), hlm. 164.
kemudaratan atau keburukan 50% plus 1% yang terkandung dalam suatu benda harus dicegah atau lebih baik dicegah dari pada mengambil kebaikan atau keuntungan 49% yang dimiliki oleh benda tersebut. Sehingga, saddu aldzarì’ah lebih memilih mencegah keburukan harus diutamakan daripada mengambil kemanfaatan.