H. Evaluasi Pendidikan
3. Istilah Evaluasi Pendidikan Menurut Al-Qur‟an
Terminologi atau istilah evaluasi dalam wacana pendidikan Islam tidak diperoleh padanan katanya yang pasti, tetapi terdapat term atau istilah-istilah tertentu yang mengarah pada makna evaluasi dalam Al-Qur‟an dan Hadist. Term-term tersebut adalah:
a. Al-Hisab/Hisaban (Perhitungan)
Al-Hisab/Hisaban memiliki makna: mengira, menafsirkan, menghitung dan menganggap. Dalam QS.Al-Baqarah Ayat 284 Allah SWT Berfiman :
ۡم ُ ك ِس ُ
فن َ أ ٓ ي ِ ف إ َم ْ
إو ُ دۡب ُ
ت نِإ َو ۗ
ِض ۡر َ ۡ
لْئ ي ِ ف إ َم َو ِت َٰ َوَٰ َم َّسلئ ي ِ ف إ َم ِ َّ ِّ
ُ للَّ
هو ُ ف ۡ
خ ُ ت ۡو َ
أ ِّل ُ
ك َٰ َ
لى ع َ للَّئ َو ُ َّ ء ُۗ ٓ إ َ
ش ي ن َم ُب َ ِّ
ذ َع ُي َو ُء ٓ إ َ
ش َ
ي ن َم ِل ُر ِف ۡ غ َي َ
ف ُ َّ
للَّئ ِهِب م ُ كۡب ِسإ َحُي ٌري ِد َ
ق ٖء ۡ ي ش ََ
Artinya: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada
90 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 221
di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Kata Hisab/ Hisaban disebutkan da1am Al-Qur'an sebanyak 29 kali, yang tersebar da1am 14 surat. Secara etimologi, hisab berarti perhitungan. Arti lain dari kata Hisab berarti bilangan (al'addu).91 Menurut Shihab, kata hisab dapat berarti perhitungan, pertanggung jawaban, batas atau dugaan.92
Kata Hisab juga digunakan Al-Qur'an untuk menjelaskan pengertian yang bersifat teknis seperti Sariiul Hisab (hisab yang cepat) dalam konteks (1) orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan, (2) kafir terhadap ayat-ayat Allah, (3) ahli kitab yang beriman, (4) memburu binatang, (5) ketetapan Allah, (6) pembalasan Tuhan kepada orang sesuai dengan yang diusabakan, (J) perhitungan amal-amal orang kafir, dan (8) hari kiamat.
Dengan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Allah SWT.
menganugerahi hasil yang baik yakni hasil evaluasi yang diberikan adalah berdasarkan hasil kerja mereka. Bila pekerjaannya baik, maka dia akan memperoleh hasil yang membahagiakan yaitu surga. Namun bila hasil evaluasinya buruk, karena pekerjaannya jelek, maka dia akan memperoleh hasil yang mengecewakan berupa siksa neraka.
Demikian pula pengertian yang bersifat teknis yang lain yaitu su'ul hisab (hisab yang buruk) dalam konteks orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan.Demikian pula kata Bighairi Hisab (tanpa hisab) da1am konteks (1) memberi rezeki kepada orang yang dikehendaki, (2) dicukupkan pahala bagi orang yang bersabar (3) memberi rezeki kepada penghuni surga.
Al-Hisab/Hisaban adalah prinsip evaluasi yang berlaku umum, mencakup teknik dan prosedur evaluasi Allah terhadap makhluknya.
Dari sudut evaluasi pendidikan makna Al-Hisab/Hisaban menunjukkan:
91 Muhammad 'Imarah, D, Qamus al-Mushthalah al-lqtishadiyyahfi al-Q ur'an Jilid I (Bairut: Dar asy-Syuruq, 1993), h. 170.
92 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an Jilid I (Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 424.
a. Hasil evaluasi tergantung dari kesungguhan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal ujian. Oleh karena itu tugas pendidik adalah memotivasi peserta didik agar mereka sungguh-sungguh belajar dan serius da1am menjawab soal-soal ujian.
b. Diakhirat kelak perhitungan hasil evaluasi manusia dilakukan sangat cepat. Evaluasi yang dilaksanakan Allah terhadap mahkluk-Nya pada hari penerimaan hasil evaluasi (pengadilan di akhirat), maka manusia itu sendiri yang disuruh membaca atau memberikan penilaian terhadap hasil perbuatannya di dunia. Sebagaimana Firman Allah Dalam QS Al-Isra': 14 berbunyi:
إ بي ِس َح َكۡيَل َع َم ۡوَيۡلئ َك ِسۡفَنِب َٰ ف َ َ ك ك َب َٰ َ َ
ت ِك ۡ أ َر ۡ
قئ ٤١
Artinya: "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".
Rasulullah bersabda dalam hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2383 - Kitab Sifat qiamat, penggugah hati dan wara':
ي ِرن َ أ ِن ْب ِر ْ
ك َب ي ِرن َ
أ ْن ع َس َ ُ
نو ُي ُن ْب َ سَي ِع إ ن َ َ ث َّ
د َح ٍعي ِك َو ُنْب ُنإَي ْف ُس إَنَث َّد َح ٍن ْو َع ُنْب و ُر ْم َع إَنَ َري ْخ َ
أ ِن َم ْح َّرلإ ِدْب َع ُنْب ِ َّللَّإ ُدْب َع إَن َ ث َّ
د َح و ح َم َي ْر َم ْب ِر ْ
ك َب ي ِرن َ أ ْن َ
ع ِك َرإَب ُمْلإ ُنْبإ إَنَ َري ْخ َ أ ْن َ
ع ٍبيِب َح ِن ْب َة َر ْم َض ْن َع َمَي ْر َم ن ي ِر َ أ ِن
َ نإ َ د ْن َم ُس ِّي َ ك ْ
لإ َلإ َ ق َم َّ
ل َس َو ِهْي َ
ل ع َ للَّإ ُ َّ َّ
لى َص ِّ ي ِر ن َّ
نلإ ْن َ ع ٍس ْو َ
أ ِن ْب ِدإ َّد َش َّ ن َم َ
ت َو إ َ هإ َو َ
ه ه َس ُ ْ ف َ
ن َع َب ْ ت َ
أ ْن َم ُ
ز ِجإ َعْلإ َو ِت ْو َم ْ لإ َ
د ْع َب إ َم ِل َل ِمَع َو ُه َس ْف َ ن ِ َّ
للَّإ َ لى ع َ
ُ ه َس ْ ف َ
ن َ نإ َ
د ْن َم ِه ِل ْوَق َ ن ْع َم َو َلإَق ٌن َس َح ٌثي ِد َح إ َ ذ َ
ه َلإ َ ق ى َو ْر ُي َو ِة َمإَي ِق ْ
لإ َم ْو َي َب َسإ َح ُي ْ ن َ
أ َل ْب َ ق إ َي ْ
ن ُّ
دلإ ي ِ ف ه َس ُ ْ ف َ
ن َب َسإ َح ُلو ُ
َ ق َي ز َ
ت َو إو ُب َسإ َح ُ ت ْ
ن َ أ َل ْب َ
ق ْم ُ ك َس ُ
ف ْ ن َ
أ إو ُب ِسإ َح َلإَق ِبإ ط َّ َ خ ْ
لإ ِن ْب َر َم ُع ْن َع إو ُ
ن َّي
َب َسإ َح ْن َم َ لى َ
ع ِة َمإَي ِق ْ
لإ َم ْو َي ُبإ َس ِح ْ
لإ ُّف ِخ َي إ َمَّن ِإ َو ِ َري ْ ك َ ْ
لْإ ِض ْر َع ْ ل ِل إ ًّي ِق َ
ت ُ د ْب َع ْ
لإ ُ نو ُ
ك َي َ لَ َلإ َ
ق َ
نإ َر ْه ِم ِن ْب ِنو ُمْيَم ْنَع ى َو ْرُي َو إَي ْ ن ُّ
دلإ ي ِ ف ه َس ُ ْ ف َ
ن ْن ِم ُ
ه َ
كيِ ش ُب ِسإ ََ َحُي إ َمَك ُه َس ْفَن َب ِسإ َحُي َّرن َح
ُ ه ُس َب ْ ل َم َو ُ
ه ُم َع ط َم َن ْي ْ َ أ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waqi' telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus dari Abu Bakar bin Abu Maryam, dan telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman telah mengkhabarkan kepada kami 'Amru bin 'Aun telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Abu Bakar bin Abu Maryam dari Dlamrah bin
Habib dari Syaddad bin Aus dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah."
Dia berkata: Hadits ini hasan, dia berkata: Maksud sabda Nabi
"Orang yang mempersiapkan diri" dia berkata: Yaitu orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum di hisab pada hari Kiamat. Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khottob dia berkata: hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia." Dan telah diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dia berkata: Seorang hamba tidak akan bertakwa hingga dia menghisab dirinya sebagaimana dia menghisab temannya dari mana dia mendapatkan makan dan pakaiannya."93 Berdasarkan ayat dan hadits tersebut di atas, berarti konsep self- evaluation (evaluasi diri) telah lama dikenal dalam Qur'an. Dari sudut evaluasi pendidikan, evaluasi diri biasanya sering digunakan oleh para guru untuk melihat sejauh mana pembelajaran telah dilaksanakan.94
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Arah konsep diri bias positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk mengembangkan karakter dan kepribadian peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap introspeksi (muhasabatu al-nafs) pada peserta didik, optimism (tafâ„ul) dengan kelebihan yang dimilikinya namun juga tetap sadar dengan kekurangan atau kelemahannya.
93 Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2383 - Kitab Sifat qiamat, penggugah hati dan wara' https://www.hadits.id/l/ry1lwCfRztf
94 Lailial Muhtifah,” EVALUASI PENDIDIKAN DALAM”,:248.
b. Hafidh/ Hafidhan (Pengawasan)
Kata hafidh dinyatakan dalam al-Qur'an sebanyak 8 kali dan tersebar dalam 6 surat, 4 dan kata hafidhan dinyatakan dalam al-Qur'an sebanyak 3 kali dan tersebar dalam 3 surat. Menurut Shihab kata hafidh diambil dari akar kata yang terdiri tiga huruf ha-fi-zha yang mengandung makna memelihara serta mengawasi.95
Dari makna ini kemudian lahir makna menghafal, karena yang menghafal memelihara dengan baik ingatannya. Juga tidak lengah, karena sikap ini mengantar kepada keterpeliharaan dan menjaga, karena penjagaan adalah bagiaan dari pemeliharaan dan atau pengawasan.
Kata hafidh/ hafidhan digunakan Al-Qur'an juga untuk menunjukkan otoritas Tuhan dalam mengawasi perbuatan manusia yang tidak patuh. Otoritas Tuhan ini berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia yang selalu ingkar atas ni'mat Tuhan, orang musyrik, manusia yang berpaling dari keta'atan kepada Allah SWT., mengambil pelindung selain Allah SWT. dan kekuasaan Iblis. Hal ini bisa terlihat dari firman Allah dalam QS. Al- An‟am Ayat 102 :
ٓ إ َم َو ۚ إ َهۡي َ
ل َع َ
ف َ ي ِ مّ ع ۡن َم َو َ ۦ ِه ِس ۡ ف َ
ن ِل َ ف َ َ صْۡب َ
أ ۡن َم َ ف م ۡ ُ
ك ِّب َّر ن ِم ُرِئ ٓ إ َص َب م ُ
كَء ٓ إ َج ۡ
د َ ق ٖظي ِف َح ِب م ُ
كۡي َ ل ع َ ۠
إ َ ن َ
أ ٤٠١
Artinya: Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).
Yang Berhak Mengawasi Adalah Allah SWT. QS. Ash-Shura Ayat 6 :
م ِه ۡيَل َع َتن َ أ ٓ
إ َم َو ۡم ِه ۡيَل َع ٌظي ِف َح ُ َّللَّئ َء ٓ إ َي ِل ۡو َ
أ ٓۦ ِهِنو ُ د ن ِم ْ
إو ُ ذ َ
خ َّ
تئ َني ِذ َّ
لئ َو ٖلي ِك َو ِب ٦
Artinya: Dan orang-orang yang mengambil pelindung- pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka;
dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka.
95 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al- Qur'an Jilid IV (Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 133
QS. Ash-Shura Ayat 48:
ٓ إ َ ذ ِؤ ٓ
إ َّ
نِإ َو ُۗ
غ َٰ َ ل َب ۡ
لئ َّ
لَ ِؤ كۡي َ َ ل ع َ ۡ
ن ِؤ إ ً
ظي ِف َح ۡم ِه ۡيَل َع َكَٰ َنۡل َسۡر َ أ ٓ
إ َم َ ف ْ
إو ُ ض َر ع ۡ َ
أ ۡ ن ِؤ َ
ف َمِب ُۢ ُ
ة َ
ئ ِّي َس ۡم ُهۡب ِص ُ
ت نِإ َو إ َه ِب َ ح ِر َ
ف ة َم ۡح َر إ َّ
ن ِم َنَٰ َسن ِ ۡ لئ إ ن َ ۡ
ق َ ذ َ ۡم ِهي ِد ۡي َ أ
أ ت َم ۡ َّ
د َ ق إ
رو ُ ف َ
ك َن َٰ َسن ِ ۡ لئ َّ
ن ِؤ َ ف ١٤
Artinya: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat)”.
Kata hafidh/ hafidhan juga digunakan al-Qur'an untuk menjelaskan peran manusia melakukan pengawasan kepada sesama manusia Dalam QS. Yusuf Ayat 55 Allah SWT. Berfirman :
مي ِل ع َ ٌ ظي ِف َح ي ِّ
ن ِؤ ِض ۡر َ ۡ لْئ ِنِئ ٓ
إ َ ز َ
خ َٰ َ لى َ
ع ي ِ ن ۡ
ل َع ۡجئ َلإ َ ق ٣٣
Artinya:“Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
Pengawasan dalam Hadits Shahih Al-Bukhari No. 656 - Kitab Adzan
ُ ت ْع ِم َس َلإَق ِم َ ك َح ْ
لإ ْن ع َ ُ ة َب ْع ُ
ش إ َ ن َ
ث َّ
د َح َلإ َ
ق ٍب ْر َح ُنْب ُنإ َمْيَل ُس إَنَث َّد َح ِت ْيَب ف ي ِ ُّ
تِب َلإَق إ َم ُهْن َع ُ َّللَّإ َ ض َر ٍسإ َّ ي ِ َّب َع ِن ْبإ ْن َع ٍ ْريَب ُج َنْب َدي ِع َس لى َص ِ َّ
للَّإ ُلو ُس َر َّ
لى َص َ ف َ
ة َ
نو ُم ْي َم ي ِرن َ لإ َ
خ َّم ُ
ث َءإ َ ش ِع ْ
لإ َم َّ
ل َس َو ِهْي َ ل ع َ للَّإ ُ َّ
ِهِرإ َسَي ْن َع ُت ْم ُقَف ُتْئ ِج َ ف َمإ َ
ق َّم ُ ث َمإ َ
ن َّم ُ ث ٍتإ َع َ
ك َر َع َ ب ْر َ أ َّ
لى َص َ ف َءإ َج َّر ن َح َمإ َ
ن َّم ُ ث ِ ي ْ ر َ
ت َع ْ ك َر َّ
لى َص َّم ُ ث ٍتإ َع َ
ك َر َس ْم َ خ َّ
لى َص َ
ف ِهِني ِم َي ْن َع ن ي ِ َ ل َع َج َ
ف ْو َ
أ ه ُ َ طي ِط َ
غ ُ ت ْع ِم َس ِة َ
لَ َّصلإ َ ل ِؤ ج َر َ َ
خ َّم ُ ث ه ُ َ
طي ِط َ خ َلإ َ . ق
Artinya:“Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Al Hakam berkata, "Aku mendengar Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas berkata, "Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi shalat 'Isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat,
kemudian beliau tidur. Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur Beliau. Setelah itu beliau Kemudian Beliau keluar untuk shalat (shubuh)." 96
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian.Pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dan tujuan yang telah digariskan semula.
Pengawasan adalah salah satu fungsi dalam manajemen untuk menjamin agar pelaksanaan kerja berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam perencanaan.97
Dari peristiwa di atas dapat ditemukan upaya pengawasan Nabi Muhammad S.A.W terhadap Ibnu „Abbas yang melakukan kesalahan karena berdiri di sisi kiri beliau saat menjadi makmum dalam shalat bersama Beliau. Karena seorang makmum harus berada di sebelah kanan imam, jika ia sendirian bersama imam. Beliau Nabi Muhammad S.A.W tidak membiarkan kekeliruan Ibnu „Abbas dengan dalih umurnya yang masih dini, namun beliau tetap mengoreksinya dengan mengalihkan posisinya ke kanan beliau. Dalam melakukan pengawasan, beliau langsung memberi arahan dan bimbingan yang benar.98
Kemudian Dalam Pengawasan pendidikan Dalam hal ini dicontohkan seperti jajaran yang memegang kebijakan di lingkup pendidikan sangat penting dalam menjalankan fungsinya yaitu
menggerakan bawahan, memotivasi dan
juga dalam pengawasan terhadap semua program yang dilaksanakan bawahan sesuai perencanaan. Pengawas pendidikan juga harus terlibat
96 Hadits Shahih Al-Bukhari No. 656 - Kitab Adzan https://www.hadits.id/l/ryliHdMFG
97 M.Ma‟ruf,” KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL-QUR‟AN DAN HADIS‖, Didaktika Religia 3, no. 2(Tahun 2015): 29
98 M.Ma‟ruf,” KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN”:31
secara aktif untuk mengawasi lembaga pendidikan agar dapat berjalan sesuai rule yang telah ditetapkan.
c. Tazkirah (Pengingat)
Kata tazkirah dinyatakan dalam Al-Qur'an sebanyak 9 kali dan tersebar dalam 7 surat.99 Menurut Shihab Kata tazkirah terambil dari kata dzakara yang biasa diartikan mengingat atau menyebut. Lebih lanjut Shihab menjelaskan bahwa kata tazkirah pada mulanya dipahami dalam arti terlintasnya sesuatu yang tadinya · terlupakan dalam benak.
Ia dapat juga peringatan yang mengandung ancaman terhadap mereka yang melupakan atau mengabaikan bahaya yang dapat menimpanya.100
Kemudian makna tazkirah hubungannya dengan manusia sebagaimana Firman Allah SWT. dalam QS. Thaha ayat 3, Al-Haqqah ayat 12 dan Al-Haqqah ayat 48 :
َٰ ََ
سَ ۡ
خ َي ن َم ِّ
ل ة َر ِك ۡ ذ َ
ت َّ
لَ ِؤ ٥
“tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)”
(QS. Thaha ayat 3)
ة َي ِع َٰ َو ن ُذ ُ أ ٓ
إ َه َي ِع َ ت َو ة َر ِك ۡ
ذ َ ت ۡم ُ
ك َ ل إ َه َ
ل َع ۡج َ ن ِل ٤١
“Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. “(QS.Al- Haqqah ayat 12)
َ ر ي ِق َّ
ت ُم ۡ ل ِّ
ل ة َر ِك ۡ ذ َ
ت َ ل ۥ ُ
ه َّ
نِإ َو ١٤
“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.‟(QS. Al-Haqqah ayat 48) Dari ayat diatas jelas bahwa sasaran tazkirah adalah orang yang takut kepada Allah, manusia, dan orang yang bertaqwa. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa sasaran tazkirah adalah manusia pada umumnya,
Tentunya dalam evaluasi unsur yang harus ada dalam evaluasi adalah fungsinya sebagai pengingat bagi sasaran dari evaluasi itu
99Muhammad Fu'ad 'Abd. Al-Baqi, al-Mu 'jam al-Mufahras Ii al-Alfazh a/- Qur 'anul Karim, (Qohirah: Dar al-Hadits, 1998), h. 208. ...
100 Muhammad Liabil Husain Ahmad bin Faris bin Zakaria, Mu'jam al- Maqayisfi alLughah, Bairut-Lebanon: Dar al-Fikri, 1993/1415), h. 810.
sendiri. Dalam ranah pendidikan tentunnya peserta didik sebagai sasaran dari pendidik itu sendiri harapannya menjadikan evaluasi sebagai pengingat bahwa peserta didik mempunyai potensi dan kekurangan agar nantinya dapat diarahkan atau dipetakkan sesuai potensi peserta didik itu sendiri.
d. Al- Fitnah (Psiko test)
Kata al-Fitnah terdapat dalam Al-Qur'an sebanyak 30 kali yang tersebar dalam 20 surat. Kata al-Fitnah, secara etimologi berarti cobaan, dan ujian.101 Menurut Shihab kata fitnah terambil dari akar kata fatana yang pada mulanya berarti membakar emas untuk mengetahui kadar kualitasnya. Kata al-Fitnah juga digunakan - berdasar pemakaian asal di atas- dalam arti menguji, dan godaan baik ujian/godaan itu berupa nikmat/kebaikan maupun kesulitan/keburukan.102
Muhammad 'Abd. Rauf kata al-fitnah berarti ujian, . yakni perlakuan yang menerangkan sesuatu yang batin (tersembunyi).103 yakni sesuatu yang berat hati untuk melakukannya, meninggalkan, menerima atau menolaknya. Berdasarkan pandangan ini dapat dipahami bahwa kata fitnah mempunyai makna ujian, cobaan dan godaan. Ibnu al-'Arabi, mengatakan bahwa fitnah itu adalah cobaan, harta, anak-anak, kekafiran, perbedaan pendapat, dan kealiman, dan sesuatu yang menyimpang dari kebenaran104
Kata fitnah juga digunakan Al-Qur'an menjelaskan keadaan psikologis manusia yang menyalahi perintah Rasul dengan perasaan takut, orang yang lemah imannya menganggap fitnah itu sebagai azab.
Fitnah bisa terjadi pada keyakinan, perkataan, perbuatan dan apa saja.
Dan Allah pun memberi ujian atau fitnah ini kepada siapa saja, orang mukmin, kafir, shadiq, maupun munafiq, lalu memberi balasan kepada mereka masing-masing sesuai perbuatan yang dilakukannya setelah mendapat ujian tersebut, apakah tetap berpegang pada kebenaran atau
101 Imam Abi Qasim, J.M. U. M, Zamakhsyary, Tafsir al-Kasysyaf Al- Mujalladul Awwal (Bairut-Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1995), h. 172.
102 M. Quraish Shihab. 2000. Tafsir Al-Misbah. Pesan, Kesan dan Keserasian AlQur'an, Jilid V.( Jakarta. Penerbit; Lentera Hati), h. 405 dan 582 ..
103 Muhammad 'Abd. Rauf, M. At-Taufiq 'Ala Mutammat al-Ta'arif- Mu'jamLughawi Mushthalahi. (Bairut-Lebanon: Dar al-Fikr wal 'Ashirah, 1035/952), h. 549.
104 Lailial Muhtifah,” EVALUASI PENDIDIKAN DALAM”,:251.
justru kebatilan, tetapkah melakukan kebaikan ataukah tetap dalam kejahatan. Firman Allah SWT. dalam QS. Al-Anbiya‟ Ayat 35 :
ۗ
ِت ۡو َمۡلئ ُة َقِئٓإ َ ذ ٖس ۡ
ف َ ن ُّل ُ
َ ك نو ُع َج ۡر ُ
ت إ نۡي َ َ
لِإ َو ةَنۡت ِف ِ ۡري َ خ ۡ
لئ َو ِّ شلئِب م ََّ ُ كو ُ
لۡب َ ن َو ٥٣
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Ayat di atas, mengisyaratkan bahwa hidup manusia tidak pernah luput dari ujian, karena hidup hanya berkisar pada baik dan buruk.
Ujian dengan kebaikan biasanya lebih sulit dari pada ujian dengan malapetaka. Karena manusia biasa lupa daratan di kala dia senang, sedang bila dalam kesulitan, dia lebih cenderung butuh sehingga dorongan untuk mengingat Allah menjadi lebih kuat.105
Lafadz fitnah yang berarti ujian, juga menunjukkan nama bahan ujian yang tercakup di dalamnya beberapa materi ujian, karena Allah selalu menyebutkan nama-namanya yang terinci lalu menjelaskan bahwa itu adalah fitnah atau bahan ujian.
Dari sudut pandang evaluasi pendidikan, fitnah ini banyak:
terkait dengan psiko-test, disebabkan ada kecendrungan hati yang tersembunyi dan berat dalam menentukan sikap.106
e. Bala’ (Ujian)
Kata bala' terdapat dalam al-Qur'an sebanyak 5 kali yang tersebar dalam 5 surat.107 Bala', secara etimologi berarti ujian dan ia merupakan cobaan.108 Bala' terjadi pada kebaikan dan keburukan, dan Allah SWT. menguji hambanya dengan bala' yang baik dan bala' yang buruk, oleh karena itu ia menerima cobaan dengan bersabar dan dengan bersyukur.
Sebagai contoh kata tersebut dalam QS. Al-Baqarah Ayat 155 :
105 M. Quraish Shihab. 2000. Tafsir Al-Misbah. Pesan, Kesan dan Keserasian AlQur'an, Jilid VIII.( Jakarta. Penerbit; Lentera Hati), h. 452.
106 Lailial Muhtifah,” EVALUASI PENDIDIKAN DALAM”,:252.
107 Muhammad Fu'ad 'Abd. Al-Baqi, al-Mu'jam al-Mufahras Ii al-Alfazh al- Qur'anul Karim, (Qohirah: Dar al- hadits, 1998), h ...
108 Liabil Husain Ahmad bin Faris bin Zakaria, Mu 'jam al-Maqayis fl al- Lughah, (Bairut-Lebanon: Dar al-Fikri, 1993/1415), h. 152.
ِّي ٖصۡقََ َو ِعوُجۡنٱ َو ِف ۡوَخۡنٱ ٍَِّي ٖء ۡيَشِب ىُكََّ َوُهۡبََُن َو ِزِّشَب َو ِِۗت ََٰزًََّثنٱ َو ِسُفََ ۡلۡٱ َو ِل ََٰو ۡيَ ۡلۡٱ ٍَ
ٍَي ِزِب ََّٰصنٱ ٥١١
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Shihab menjelaskan kata bala‟ berarti menguji.109 Huruf lam pada kata tsb. Adalah lam al-aqibah yang mengandung arti hasil, kesudahan atau akibat. Sedangkan kata abalah bermakna memberi anugerah. Kata ini pada mulanya berarti ujian, kemudian digunakan untuk menunjukkan perolehan sesuatu yang menjadikan siapa yang memperolehnya sangat tersentuh dan terpengaruh.
Ayat di atas juga merincikan bahan ujian (materi evaluasi) yaitu terdiri dari: ketakukan, kelaparan, kekurangan harta, kematian, kurang bahan makanan dan sebagainya. Maka hanya orang-orang yang sabar, yang mampu keluar dari kesulitan dengan tidak menggadaikan imannya tetapi lulus dalam ujian untuk memantapkan imannya.
Ciri-cirinya dapat dilihat, yakni dia tidak bergembira berlebih- lebihan dengan kesenangan yang diperolehnya tetapi bersyukur dan mengeluarkan sebagian yang wajib dikeluarkan atau bersedekah dan tidak pula bersedih yang menjadikan putus asa karena penderitaan yang dialaminya. Bila dikaitkan dengan pendidikan maka nilai buruk yang diperolehnya tidak menjadikan dia lengah dan nilai buruk yang diperolehnya, karena dia sabar atau tabah dalam menghadapi kesulitan.110Allah SWT. Berfirman dalam QS. Ibrahim Ayat 6.
ِإ ۡىُكۡيَهَع ِ َّللَّٱ َةًَۡعَِ ْاو ُزُكۡذٱ ِهِي ۡوَقِن َٰىَسوُي َلاَق ۡذِإ َو ۡىُكََوُيوُسَي ٌَ ۡوَع ۡزِف ِلاَء ٍِّۡي ىُكَٰىَجََأ ۡذ
ٞىيِظَع ۡىُكِّب َّر ٍِّي ٞءٓ َلََب ىُكِنََٰذ يِف َو ۡۚۡىُكَءٓاَسَِ ٌَوُي ۡحَت ۡسَي َو ۡىُكَءٓاَُۡبَأ ٌَوُحِّبَذُي َو ِباَذَعۡنٱ َء ٓوُس ٦
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:
"Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu".
Ayat ini mengisyaratkan bahwa.ujian bukan hanya terbatas dalam bentuk hal-hal yang merugikan atau yang dinilai negatif oleh
109 M. Quraish Shihab. 2000. Tafsir AI-Misbah. Pesan, Kesan dan Keserasian AlQur'an Jilid V.( Jakarta. Penerbit; Lentera Hati), h. 385.
110 Lailial Muhtifah,” EVALUASI PENDIDIKAN DALAM”,:253.
seseorang, tetapi dapat juga berupa nikmat. Kalau yang pertama menuntut sabar, maka yang kedua menuntut syukur. Biasanya yang menuntut syukur lebih berat dipikul dibandingkan dengan yang menuntut kesabaran, karena seringkali berpotensi mengantar seseorang mengingat Allah SWT. sebaliknya nikmat berpotensi mengantar manusia lupa diri dan lupa Tuhan.
Jika dikaitkan dengan teori evaluasi hal ini sesuai dengan fungsi evaluasi yang diantaranya adalah sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan oleh seorang guru. Dalam ayat diatas Allah menguji untuk mengetahui siapa diantara kamu yang paling baik amalnya dan siapa juga yang lebih buruk amalnya.
f. Al-Inba’/Ambiu (Tes Lisan)
Kata al-inba' terdapat dalam Qur'an sebanyak 4 kali yang tersebar dalam 2 surat111. Kata nabba'a atau anba'a terambil dari kata naba' yakni berita penting.112
Sebagai contoh, pengungkapan kata al-inba' dalam QS. Al- Baqarah ayat 31-33
ِب ُۢ
ن َ أ َلإ َ
ق َ ف ِة َ
ك ِئ َٰٓ َل َمۡلئ َلى َع ۡم ُه َضَر َع َّمُث إ َهَّلُك َءٓإ َم ۡس َ ۡ لْئ َم َ
دإ َء َم َّ
ل ع َو َ ي ِ نو ؤ
َ ر
ي ِق ِدَٰ َص ۡمُتن ُك نِؤ ِءٓ َ لا ُ
ؤ َٰٓ َه ِءٓإ َم ۡس َ أِب ٥٤
Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
ُمي ِك َحۡلئ ُميِل َع ۡ لئ تن َ َ
أ ك َ َّ
ن ِؤ ٓ إ ن َ ت ۡم َ َّ
ل ع إ َم َ َّ
لَ ِؤ ٓ إ ن َ َ
ل َم ۡ ل ِع َ
لَ ك َ ن َٰ َحۡب ُس َ ْ إو ُ
لإ َ ق ٥١
Artinya: “Mereka menjawab, Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
111 Muhammad Fu'ad 'Abd. AI-Baqi, al-Mu'jam al-Mufahras Ii al-Alfazh al- Qur'anul Karim, (Qohirah: Dar al-Hadits, 1998), h. 686.
112 M. Quraish Shihab. 2000. Tafsir Al-Misbah. Pesan, Kesan dan Keserasian AlQur'an Ji/id XIV.( Jakarta. Penerbit; Lentera Hati), h. 320.