UrgenSI KaJIan arKeOLOgIS SeJaraH DI LOMBOK SeLatan
Jejak-jejak Islam di Lombok Selatan dapat ditemukan di beberapa tempat, seperti di Pujut dan Rembitan. Kedua desa tersebut berada di satu kecamatan, yaitu kecamatan Pujut. Jejak-jejak Islam di kedua wilayah ini masih tegak berdiri, bahkan situs yang ada di kedua tempat tersebut telah menjadi Cagar Budaya yang dilindungi oleh negara.
Karena itu semua yang berada di dalam lingkungan situs tersebut dijaga dan perawatannya dibiayai oleh negara.
Desa Rembitan kecamatan Pujut di Lombok Selatan merupakan desa-desa yang pada masa awal-awal kehadiran Islam telah menunjukkan eksistensinya, sebagai pusat penyebaran dan kajian Islam. Hal ini terbukti dengan banyaknya ditemukan jejak-jejak atau peninggalan- peninggalan Islam, seperti mesjid kuno, gedeng, makam- makam, dan sebagainya. Namun demikian, tinggalan- tinggalan yang menjadi simbol kesuksesan Islam tersebut tidak banyak yang mengenalnya. Rembitan paling banyak ditemukan tinggalan-tinggalan Islamnya, tetapi Rembitan lebih dikenal bukan karena mesjid kunonya, melainkan karena di desa ini terdapat kampung tradisional. Baik kampung tradisional maupun mesjid kuno sama-sama masih tegak berdiri, dan masing-masing memiliki nilai kesejarahan, namun berbeda dalam hal perhatian baik dari masyarakat, peneliti, maupun pemerintah. Kampung
tradisional memberikan devisa bagi pemerintah, paling tidak bagi pemerintah desa atau masyarakat setempat.
Sebenarnya desa Rembitan berada pada jalur pariwisata di Lombok Selatan, dan memiliki nilai jual yang tinggi bagi sektor kepariwisataan.
Berbeda dengan mesjid kunonya, kalaupun satu atap dengan sektor kepariwisataan (di bawah naungan Menteri Budaya dan Pariwisata), sangat sedikit yang peduli. Para peneliti (arkeolog) yang diharapkan dapat memberikan perhatian secara serius untuk menjelaskan historisitas dari mesjid kuno tersebut, belum juga tewujud. Hal ini lebih disebabkan karena kurangnya peneliti arkeolog dari daerah ini (Lombok), sementara arkeolog dari luar belum ada yang melakukan kajian baik alasan teknis atau karena alasan lain untuk sampai ke daerah tempat mesjid kuno ini berada.
Di Lombok selatan paling tidak terdapat dua mesjid kuno, yaitu di Rembitan dan Pujut. Kedua mesjid ini diperkirakan memiliki umur yang sama. Demikian juga halnya dengan mesjid kuno yang ada di Bayan Lombok Utara, yang memiliki umur dan gaya arsitektur yang sama.
Bayan dikenal oleh para peneliti bukan karena mesjidnya, tapi karena Islam Wetu Telu-nya, khususnya di kalangan sosiolog atau antropolog.
Bangunan masjid merupakan simbol keagamaan yang sangat tinggi dalam Islam. Selain untuk kegiatan ibadah sholat, masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Karena pentingnya mesjid dalam kehidupan beragama dalam Islam, Rasulullah SAW. ketika hijrah ke Madinah 14 abad yang lalu yang dibangun pertama adalah Masjid.
Para sahabat Rasulullah dan ulama belakangan tradisi- tradisi semacam ini tetap dipertahankan, di mana mereka menyebarkan dan mengajarkan agama, pembangunan mesjid menjadi skala prioritas. Di Lombok Selatan, khususnya di Rembitan dan Pujut para penyebar Islam awal telah melakukan hal yang sama seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu dengan membangun mesjid, dan tempat-tempat pertemuan (sebagai tempat pengajaran ilmu agama), masyarakat setempat menyebutnya gedeng.
Tinggalan-tinggalan ini telah menjadi bukti kesuksesan Islam di Lombok Selatan pada masa lampau, oleh sebagian orang justru menilai sebaliknya bahwa Islam di Lombok Selatan adalah Islam yang “ternodai” (sinkretis), “Islam pejoratif”, “Islam pinggiran”, dengan tanpa mengkaji secara mendalam tinggalan-tinggalan tersebut secara ilmiah.
Untuk mengkaji tinggalan-tinggalan Islam seperti mesjid kuno, makam, atau bangunan-bangunan lainnya yang bersifat kebendaan menjadi wilayah kajian arkeologi.
Khususnya yang berkaitan dengan tinggalan-tinggalan Islam menjadi objek kajian bagi arkeologi Islam atau yang biasa disebut dengan arkeologi sejarah. Arkeologi sejarah berusaha memberikan penjelasan terhadap tinggalan- tinggalan tersebut, dan menggunakan ilmu-ilmu sosial lainnya sebagai ilmu bantu. Karena itu menjadi penting atau sebuah keharusan bagi kalangan ilmuan untuk menemukan atau menguak tentang pertumbuhan dan perkembangan Islam di Lombok Selatan.
Beberapa indikasi lain yang dapat dikemukakan di sini, tentang pentingnya tulisan ini menjadi sangat urgen untuk dilaksanakankan, karena ditemukan beberapa nama tokoh yang hingga saat ini masih menjadi “selebritis”,
dan sangat disegani oleh masyarakat setempat kalaupun yang bersangkutan sudah ratusan tahun meninggal dunia, yaitu Wali Nyato’. Wali Nyato’ merupakan tokoh yang paling berjasa dalam proses islamisasi di wilayah Lombok Selatan. Tokoh ini bukan hanya dihormati dan disegani pada masa hidupnya, melainkan sampai sekarang masih menjadi penomena. Hal ini dapat dilihat pada ramainya orang yang mengunjungi makamnya. Kunjungan ke makam Wali Nyato’ tidak boleh dilakukan selain hari Rabu. Menurut informasi yang penulis peroleh khususnya tentang waktu kunjungan itu (hari Rabu), telah menjadi wasiat Wali Nyato’ pada saat masih hidup, dan kalau wasiat itu dilanggar atau tidak diikuti, masyarakat Rembitan dan sekitarnya mempercayai, Allah akan menurunkan bencana atau musibah bagi masyarakat setempat. Karenanya masyarakat setempat (desa Rembitan) akan menghalangi siapa saja yang akan melakukan ziarah makam selain hari yang diwasiatkan oleh Wali Nyato’, bahkan mereka siap berperang untuk yang satu ini. Tentunya ini tidak dapat dianggap remeh, kebesaran Wali Nyato’ hingga sekarang ini masih didengungkan oleh masyarakat setempat.
Dalam pandangan mereka Wali Nyato’ seorang waliullah yang memiliki kelebihan (karomah), dan telah berhasil membawa masyarakat di Lombok Selatan kepada jalan yang hak yaitu Islam.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengungkap tentang pertumbuhan dan perkembangan Islam di Lombok Selatan. Karena data-data atau tinggalan-tinggalan yang merupakan jejak Islam berupa data-data arkeologis maka pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan arkeologi Islam (arkeologi sejarah).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, ada beberapa hal yang ingin dikemukakan pada tulisan ini, antara lain, Pertama, dengan ditemukan beberapa peninggalan arkeologi Islam, di Lombok Selatan, maka perlu diungkap tentang peninggalan-peninggalan arkeologi Islam yang ada di wilayah tersebut. Kedua, Dengan memperhatikan gaya arsitektur bangunan-bangunan pada situs di Lombok Selatan, masih ada kesamaan atau kemiripan dengan gaya arsitektur bangunan-bangunan kuno yang ada di tempat lain (baik itu di Lombok maupun beberapa tempat di Nusan- tara) meng indikasikan bahwa terdapat hubungan antar Lombok Selatan dengan wilayah lainnya. Ketiga, dengan ditemukan bukti-bukti atau peninggalan-peninggalan berupa kebenda an yang merupakan peninggalan Islam, seperti Mesjid Kuno, Gedeng (tempat pengajaran agama), makam yang berjirat, dan sebagainya. Hal ini mengindikasikan bahwa keislaman orang-orang yang ada disekitarnya telah menunjukkan eksistensinya secara nyata pada saat itu. Selain itu juga, dari peninggalan-peningalan/
bangunan-bangunan yang ada, dapat diketahui bahwa bangunan-bangunan tersebut memiliki peran atau fungsi sosiologis terhadap masyarakat muslim di sekitarnya, khususnya yang berkaitan dengan sistem pendidikan dan pengajaran agama Islam di masyarakat.
Sebagai sebuah kajian arkeologi Islam (arkeologi sejarah) yang menjadikan peninggalan-peninggalan arkeologis sebagai sumber utama, maka kajian ini antara lain diharapkan dapat: Pertama, memberikan kontribusi terhadap perkembangan kajian Sejarah dan Peradaban Islam baik pada tataran lokal, nasional, bahkan internasional, sehingga Lombok dapat ditempatkan pada meanstrem global dalam kajian kesejarahan. Kedua,
memberikan sumbangan bagi khazanah intelektual dan bagi pengembangan ilmu sejarah, khususnya sejarah lokal akan dapat menambah dan melengkapi kekurangan referensi (sumber-sumber sejarah lokal) baik pada sekolah- sekolah maupun perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat.
Ketiga, memberikan sumbangan bagi lembaga-lembaga peneliti baik pemerintah maupun swasta akan sangat berguna bagi pengembangan kajian selanjutnya.
Sumber kajian dari studi ini adalah sumber-sumber arkeologis, sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan arkeologi. Sumber-sumber arkeologis di- guna kan untuk merekonstruksi pertumbuhan dan per- kembangan Islam di Lombok Selatan. Namun demikian apabila hanya membaca atau menganalisis tinggalan- tinggalan arkeologi, mungkin tidak akan banyak memberikan penjelasan yang berarti bagi kajian ini. Oleh karenanya karya-karya yang ditulis sezaman dengan masa yang dikaji dalam tulisan ini atau ditulis oleh mereka yang masanya lebih dekat dengan masa yang dikaji yang menjadi pembahasan dalam studi ini merupakan sumber yang sangat penting.
Di antara sumber-sumber yang termasuk dalam kategori sumber utama adalah historiografi lokal yang dalam masyarakat Sasak dikenal dengan nama babad atau manuskrip. Babad atau naskah-naskah tersebut ditulis sekitar abad ke-17, yang kemudian dilakukan penyalinan oleh generasi sesudah mereka, karena itu banyak babad- babad atau naskah yang merupakan salinan atau turunan.
Historiografi lokal atau manuskrip-manuskrip yang dimaksud antara lain, Babad Lombok. Babad ini diketahui selesai ditulis (oleh penyalin) pada tahun 1301 H atau 1883
M. dengan menggunakan huruf jejawen (huruf Sasak), bahasa Kawi, ditulis di atas daun lontar, tidak disebutkan penulisnya siapa. Kemudian ditransliterasikan pertama kali oleh Ida Putu Mergig, sampai bait 324, (Babad Lombok I) selesai pada tahun Caka 1894 /1972 M. dengan menggunakan huruf latin, bahasa Kawi. Pada tahun, 1979 M. secara keseluruhan telah ditransliterasikan oleh Lalu Wacana, dengan menggunakan bahasa Kawi, tulisan latin, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Sumber-sumber pendukung adalah karya-karya ilmiah yang membahas objek kajian yang sama, baik dari segi tema, maupun wilayah dan masanya. Antara lain karya Othman Mohd. Yatim, Batu Aceh: Early Islamic Gravestones In Peninsular Malaysia. Karya ini akan sangat membantu penulis dalam memahami batu nisan yang ada di situs Rembitan, khususnya dalam melacak pengaruh atau hubungan antara Rembitan dengan negeri muslim lainnya melalui tipe-tipe atau ragam hias yang ada pada batu nisan di situs Rembitan.
Beberapa karya lainnya adalah tulisan Uka Djandrasasmita, Arkeologi Islam di Indonesia dari Masa ke Masa, yang kaya dengan temuan-temuan arkeologi Islam di Indonesia. Tidak dapat diabaikan juga karya Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: Melacak Jejak Arkeologi Islam di Nusantara, buku ini selain menampilkan kajian arkeologis, juga melakukan elaborasi lebih luas terhadap tinggalan-tinggalan arkeologi dengan analisis sosio-kultul masyarakat di Nusantara. karena itu dalam tulisan ini karya sarjana arkeologi Islam alumnus Ecole des Hautes Etude en Science Sociales (EHESS) Paris ini, akan menjadi
sangat penting untuk dijadikan rujukan, dan karya-karya lain yang ada kaitannya dengan tulisan ini.
Khususnya karya-karya yang secara langsung berhubungan dengan situs-situs di Rembitan dan Pujut akan turut membantu paling tidak tentang perubahan- perubahan karena adanya pemugaran yang pernah dilakukan oleh pihak pemerintah. Tentang hal ini ditemukan dalam buku Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Nusa Tenggara Barat, yang sengaja diterbitkan oleh Depdikbud NTB, namun demikian buku ini lebih sifatnya informatif ketimbang analisis arkeologis.
Memperhatikan berbagai sumber di atas, kalaupun beberapa sarjana atau lembaga yang telah melakukan kajian atau tulisan arkeologis di Lombok, akan tetapi belum ada kajian arkeologis yang mengarahkan kajiannya untuk mengungkap pertumbuhan dan perkembangan Islam di Lombok Selatan. Untuk itu tulisan ini diharapkan dapat mengisi ruang kosong yang belum terisi oleh kajian- kajian sebelumnya.