BAB II TINJAUAN PUSTAKA
H. Teknik Keabsahan Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data dengan model analisis interaktif ( interactive model) yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman ( Sugiyono, 2011 : 247-252) mencakup tiga tahapan, antara lain sebagai berikut :
1. Mereduksi data atau mengelolah data dari lapangan dengan memilih dan memilah data dengan merangkum yang penting-penting sesuai dengan fokus penelitian yaitu : Analisis Hegemoni culture , Konsentrasi Kelompok Militer Terhadap Kelompok Sipil.
2. Menyajikan data, laporan yang sudah direduksi dari hasil penelitian dilihat kembali untuk mengetahui masih diperlukan penggalian data kembali untuk mendalami masalah atau sebaliknya.
3. Menarik kesimpulan dan verifikasi, memverifikasikan kesimpulan selama penelitian masih berlangsung.
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Maros
Wilayah Kabupaten Maros pada mulanya adalah suatu wilayah kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Marusu yang kemudian bernama Kabupaten Maros sampai saat ini. Selain nama Maros, masih terdapat nama lain daerah ini, yakni Marusu dan/atau Buttasalewangan. Ketiga nama tersebut oleh sebagian masyarakat Kabupaten Maros sangat melekat dan menjadikan sebagai lambang kebanggaan tersendiri dalam mengisi pembangunan daerah.
Berdasarkan data-data yang diperoleh, terutama salah satu putra daerah, yakni Andi Fahry Makkasau dari bukunya berjudul “Kerajaan-Kerajaan di Maros Dalam Lintasan Sejarah”, memuat sejarah Kabupaten Maros Serta Website resmi kabupaten Maros . Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Kabupaten Maros pada awalnya adalah sebuah wilayah kerajaan yang dipengaruhi oleh dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan Bone dan Kerjaan Gowa, yang mana pada waktu itu, Maros memiliki nilai strategis yang sangat potensial. Kabupaten Maros dari dulu hingga saat ini dihuni oleh dua suku, yakni Suku Bugis dan Suku Makassar.
Ditinjau dari komposisi penduduk berdasarkan sensus penduduk dan data kependudukan di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros menunjukkan pertumbuhan penduduk setiap tahunnya. Hal ini tentunya akan menambah kepadatan penduduk masyarakat di Kabupaten Maros dan Kecamatan lainya, dari
39
dengan rencana program pemberdayaan masyarakat dan dapat meningkatkan pendapatan perkapita dan pertumbuhan penduduk.
B. Letak Geografis Kabupaten Maros
Luas wilayah Kabupaten Maros 1619,11 KM2 yang terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan yang membawahi 103 desa/kelurahan.
Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota propinsi Sulawesi Selatan, dalam hal ini adalah Kota Makassar dengan jarak kedua kota tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pembangunan kawasan metropolitan mamminasata. Dalam kedudukanya, Kabupaten Maros sebagai daerah perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang kawasan mamminasata bagian utara yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di Kabupaten Maros dengan luas wilayah 1.619,12 km2 terbagi dalam 14 wilayah kecamatan.
1. Demografi/Batas Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros a. Disebelah Utara : Kecamatan Mandai
b. Disebelah Timur : Kecamatan Tanralili c. Disebelah Selatan : Kabupaten Gowa d. Disebelah Barat : Kota Makassar Jarak Dari : Kabupaten Maros 23 km
: Ibu Kota Provinsi 45,6 km
C. Keadaan Dan Jumlah Penduduk 1) Jumlah penduduk
Masyarakat Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros adalah masyarakat yang tradisional dan memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, Kabupaten Maros khususnya Kecamatan Moncongloe Bulu yang berhadapan langsung dengan Asrama Militer Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, maka data penduduk Kabupaten Maros khususnya di Kecamatan Moncongloe Desa Moncngloe Bulu dapat diklasifikasikan sebagai berikut seperti pada tabel 1.1 tentang data kependudukan.
Penduduk Kecamatan Moncongloe Bulu Kabupaten Maros
Umur Laki-Laki Perempuan Total
0–4 248 237 485
5–9 219 180 399
10–4 158 152 310
15–19 169 149 318
20–24 182 171 353
25–29 156 175 331
30–34 169 177 346
35–39 157 155 312
40–44 134 120 254
45–49 91 84 175
50–54 62 62 124
55–54 48 48 96
60–64 30 39 69
65 + 24 28 52
Jumlah 1847 1777 3624
Kecamatan Moncongloe Bulu Kabupaten Maros adalah 3624 jiwa dengan rincian jumlah penduduk laki-laki: 1847 jiwa, perempuan: 1777 jiwa, jadi jumlah total penduduk adalah 3624.
D. Bentuk Interaksi Masyarakat
Meskipun Moncongloe Bulu adalah daerah kawasan Industrialisasi program pemekaran kota Makasar namun Bentuk interaksi yang masyarakat gunakan masih bercorak interaksi pedesaaan.
Interaksi sosial merupakan proses dasar dan pokok dalam setiap masyarakat, dimana sifat-sifat masyarakat sangat dipengaruhi oleh tipetipe utama interaksi yang berlangsung di dalamnya. Proses sosial berpangkal pada interaksi sosial.
Pengertian interaksi adalah hubungan yang sifatnya ada timbale balik. Pengertian interaksi sosial, yaitu bentuk hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok kelompok manusia, atau antara perorangan dengan kelompok manusia ( Soerjono S., 2003). Aktifitas- aktifitas yang merupakan bentuk intraksi sosial, misalnya apabila ada dua orang bertemu, mereka saling menegur, berjabat tangan, mengadakan pembicaraan, dan sebagainya. Apabila dua orang bertemu, tetapi tidak terjadi tatap muka apalagi mengadakan pembicaraan,tandanya tidak terjadi interaksi. Di sisi lain, apabila ada pertemuan dua orang masing-masing tidak bertegur sapa, akan tetapi ada kesan tersendiri karena ada yang menyebabkan perubahan perasaan berkaitan dengan kesan seseorang seperti wangi badan, pakaian yang rapih, maka dikatakan telah
yang menimbulkan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan kemudian.
Beberapa faktor yang menjadi dasar bagi berlangsungnya suatu interaksi sosial adalah:
1. Imitasi 2. Sugesti 3. Identifikasi 4. Simpati
Faktor imitasi berlangsung apabila seseorang memberikan suatu pandangan. Sisi positif dari suatu imitasi adalah dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Sisi negatif dari imitasi adalah tindakan-tindakan yang menyimpang yang ditiru atau imitasi dapat melemahkan pengembangan kreasi seseorang. Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberikan suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya, kemudian diterima oleh pihak lain. Sisi negatif berlangsungnya sugesti apabila pihak yang menerima dilanda oleh emosi, hal ini akan menghambat daya pikir seseorang secara rasional. Faktor identifikasi merupakan kecenderungan- kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, oleh karena itu kepribadian seseorang dapat dibentuk atas dasar proses ini. Proses indentifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya atau disengaja karena seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya.
Proses simpati sebenarnya merupakan proses dimana seseorang merasa tertarik
walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya. Dalam proses identifikasi sesuatu terjadi karena didorong keinginan untuk belajar dari pihak lain yang kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena mempunyai kelebihan atau kemampuan tertentu yang patut dicontoh, sedangkan dalam proses simpati berkembang kearah pengertian yang mendalam diantara mereka. Kedua proses ini sama-sama diawali oleh imitasi dan sugesti.
Dalam Konteks kajian kemudian dilihat masyarakat desa dalam hal ini Moncongloe bulu yang Berbatas dengan kelompok militer dan melakukan Interaksi sosial sehari-hari maka dapat dilihat proses interaksi antara kelompok Militer dengan Kelompok Sipil melahirkan Bentuk Interaksi Identifikasi dimana masyarakat sipil memiliki dorongan untuk menjadi sama seperti kelompok Militer yang disebabkan oleh beberapa factor-faktor, factor-faktor inilah yang akan dibahas dalam penelitian ini.
Kemudian Kegiatan sosial kemasyarakatan semakin berkembang di tengah masyarakat yang dapat diartikan bahwa kesejahteraan sosial penduduk relatif meningkat. Karang Taruna sebagai wadah pembinaan generasi muda, PKK/Arisan, gotong royong, Gudep Pramuka dan majelis taklim merupakan aktivitas yang masih sering dilakukan di masing-masing desa se Kecamatan Moncongloe.
Bila membicarakan kegiatan ekonomi, maka istilah ’kegiatan’ diartikan sebagai suatu proses. Dengan kata lain, suatu kegiatan ekonomi terjadi bila
dan teknik produksi dikombinasikan untuk menghasilkan barang dan jasa tertentu.
Jadi, kegiatan ekonomi ditandai dengan adanya suatu input, suatu proses produksi dan suatu output. Menurut konvensi, suatu kegiatan ekonomi didefinisikan sebagai suatu proses yang mengkombinasikan berbgai sumber-sumber produksi untuk menghasilkansatu set barang-barang yang homogen.
Ada tiga aspek yang diuraikan berkaitan dengan penduduk usia kerja ini, yaitu pembagian penduduk yang bekerja menurut sektor/lapangan usaha, jenis pekerjaan, dan status pekerjaan. Pada aspek yang berkaitan dengan sektor pekerjaan penduduk akan diuraikan perkembangan tentang pergeseran tenaga kerja dari sektor agraris ke non-agraris (industri dan jasa).
Analisis mengenai kegiatan penduduk menitik-beratkan pada alokasi angkatan kerja menurut sektor, trend perpindahan dari sector pertanian ke sektor lain, dan penyebab perpindahan tersebut. Perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri disoroti para ekonom untuk menghitung peningkatan produktivitas dan pendapatan angkatan kerja. Pembagian penduduk yang bekerja dan perkembangannya menurut sektor sering dianalisis dengan membedakan tiga sektor pokok: sektor A (pertanian), sektor M (termasuk pertambangan, industri, bangunan, listrik, air, pengangkutan dan perhubungan), dan sektor S (perdagangan dan jasa). Menurut beberapa teori ekonomi, pembangunan biasanya disertai dengan perpindahan tenaga kerja dari sektor A ke sektor M dan S. Keberhasilan strategi pembangunan sering dikaitkan dengan kecepatan pertumbuhan sektor M yang dianggap berkaitan dengan peningkatan produktivitas angkatan kerja.
menunjukkan bahwa sektor ekonomi masih dominan dalam menyerap tenaga kerja. Walaupun peranan sektor pertanian dalam menampung penduduk yang bekerja makin lama semakin menurun namun penurunan tersebut tidak signifikan dalam merubah struktur ekonomi Kecamatan Moncongloe ke arah struktur yang membawa keseimbangan antara sektor pertanian dan sektor industri. Peranan sektor pertanian masih lebih banyak dibandingkan dengan peranan sektor industri pengolahan/manufaktur. Jika dikaitkan dengan Produktivitas tenaga kerja, ini berarti produktivitas tenaga kerja di Kecamatan Moncongloe rata-rata masih rendah, karena sektor pertanian umumnya dapat disimpulkan bahwa kualitas penduduk belum meningkat secara berarti.
Banyaknya usaha menurut lapangan usaha/sektor di Kecamatan Moncongloe antara lain ; Pertambangan dan penggalian tidak ada usaha, industri pengolahan sebanyak 69 usaha, eceran sebesar 672 usaha, Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi sebanyak 50 usaha, Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum 43 usaha , Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan lainnya sebesar 28 usaha disusul Jasa Pendidikan sekitar 20 usaha, dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebanyak 8 usaha.
Untuk lapangan usaha Real estat, usaha Persewaan dan Jasa Perusahaan sebanyak 3 usaha, Perantara Keuangan 2 usaha sedangkan Konstruksi 1 usaha.
1) Saranan dan Prasarana Pendidikan
Peranan pendidikan bagi suatu negara/daerah sangat menentukan, dalam rangka mencapai kemajuan di suatu negara bidang kehidupan, utamanya
untuk memperoleh dan menggunakan informasi, maka pendidikan memperdalam pemahaman seseorang atas diri pribadinya dan lingkungannya, memperkaya kecerdasan pikiran dengan memperluas baik konsumen, produsen, maupun sebagai warga negara. Pendidikan memperkuat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan keluarga melalui peningkatan produktivitas dan potensi untuk mencapai standar hidup yang tinggi. Dengan meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan seseorang mencipta dan menemukan inovasi baru, pendidikan akan melipatgandakan prestasi perorangan maupun prestasi masyarakat.
Kenyataan membuktikan bahwa pendidikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan dengan demikian memungkinkan sasaran lain dari pembangunan yang akan dicapai. Dalam kaitan itu tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator dari kualitas penduduk. Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kecamatan Moncongloe dewasa ini adalah Sekolah Dasar Negeri sebanyak 9 buah, Sekolah Dasar Sarana Inpres sebanyak 3 buah, Sekolah Menengah Negeri sebanyak 3 buah, Swasta sebanyak 2 buah, Sekolah Menengah Umum Swasta 3 buah dan Sekolah Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 1 buah. Keberadaan sekolah merupakan hal penting bagi penduduk untuk memperoleh pendidikan formal. Makin tinggi jenjang sekolah yang berada di desa, cenderung semakin menarik minat penduduknya untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi., menyajikan banyaknya desa yang mempunyai sarana sekolah, dari sekolah taman
dikelola pihak swasta menurut desa di kecamatan tersebut.
Dari seluruh penduduk berusia lima tahun dan lebih di Kecamatan tersebut terdapat 4145 orang yang masih sekolah di berbagai tingkatan mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum atau sederajat. Anak Usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) yang masih sekolah ada 3013 orang. Anak Usia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (13-15 tahun) yang masih sekolah ada 955 orang. Di tingkat Sekolah Menengah Umum terdapat 177 orang yang masih sekolah dari anak usia sekolah 16-18 tahun. Data pendidikan tersebut yang dimasukkan hanya penduduk yang bersekolah di Kecamatan Moncongloe, adapun yang bersekolah di luar kecamatan tidak dimasukkan datanya.
Pada umumnya penduduk usia sekolah yang akan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, dalam hal ini Perguruan Tinggi/Universitas pada umumnya mereka melanjutkan ke Kota Makassar atau ke Kecamatan tetangga yaitu Kecamatan Mandai serta Kecamatan Turikale. Karena keberadaan Perguruan Tinggi/Universitas di Kecamatan Moncongloe belum tersedia.
2) Prasarana Ibadah
Mayoritas Penduduk Kecamatan Moncongloe memeluk Agama Islam sebesar 19461 jiwa, Agama Katolik 123 jiwa dan Agama Protestan 690 , Hindu 3 jiwa, lainnya belum ada.
Adapun Sarana Ibadah yang tersedia Mesjid sebanyak 29 buah, Langgar/Surau/Musallah sebanyak 6 buah dan Gereja/Kapel terdiri dari 2 buah.
3) Sarana dan Prasarana Kesehatan
masyarakat mendapatkan akses pelayanan yang murah, mudah, dan merata.
Upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di antaranya dilakukan dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membiayai sendiri kebutuhan pencegahan dan pengobatan penyakit yang mungkin diderita.
Peningkatan partisipasi seperti ini terutama ditunjukkan kepada masyarakat yang tergolong mampu secara sosial ekonomi. Kemajuan pembangunan di bidang kesehatan dapat ditelusuri melalui berbagai indikator, seperti tersedianya fasilitas kesehatan dikomunitas yang bersangkutan. Selain itu, dapat pula dilihat dari intensitas jenis penyakit tertentu yang diderita oleh pada umumnya anggota masyarakat.
Salah satu faktor yang penting dalam pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik adalah tersedianya tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.
Ada konsistensi antara peningkatan tenaga medis dengan penambahan jumlah fasilitas kesehatan di Kecamatan Moncongloe. Ini berarti secara teoritas pelayanan di kecamatan ini semakin baik pelaksanaannya. Disamping itu didukung oleh adanya penambahan tenaga kesehatan juga ditunjang oleh fasilitas yang semakin memadai.
Jika perhatikan dari jumlah sarana kesehatan yang ada di Kecamatan Moncongloe, maka dapat dikatakan cukup memadai. Dari lima desa yang ada telah terdapat sebuah Puskesmas di Desa Moncongloe dan Rumah Umum 165 di Desa Moncongloe Lappara tepatnya di kompleks BTN Asabri, keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut memengaruhi kesadaran masyarakat
adanya dokter praktek yang bertempat tinggal di kecamatan serta ini. Keberadaan dokter praktek atau dokter yang berdomisili di kecamatan sebenarnya sangat diharapkan, hal ini untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan diluar jam kerja atau jam beroperasinya pustu yang ada.
jumlah tenaga kesehatan yang ditempatkan atau mengabdi di Kecamatan Moncongloe sebanyak 12 orang, yang terdiri dari 2 orang Dokter, 3 orang Paramedis dan 7 orang Bidan. Keberadaan dukun bayi yang merupakan salah satu ikon penduduk di daerah, masih sangat membantu upaya pertolongan pertama terhadap kaum ibu yang mengalami persalinan terhadap bayi yang dikandungnya.
Pada umumnya penduduk yang mengalami gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan dokter, mereka sangat sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tersebut, disebabkan tidak adanya dokter yang berdomisili di kecamatan tersebut (Dokter Praktek). Maka akses untuk pelayanan kesehatan semacam ini rata-rata penduduk ke kecamatan tetangga atau ke Kota Makassar yang mana jarak tempuhnya tidak terlalu jauh serta terjangkau oleh sipasien dengan menggunakan alat transportasi umum. Dari 4528 rumah tangga di Kecamatan Moncongloe, sebanyak 295 atau 6,5 persen merupakan keluarga pra sejahtera dan untuk keluarga tahap sejahtera (I, II, III, dan III plus) sebesar 2876 atau sekitar 63,51 persen.
4) Lahan Dan Penggunaannya
Luas seluruh desa di Kecamatan Moncongloe adalah 4 686,72 ha. Pada umumnya kondisi lahan sawah yang diusahakan untuk pertanian di Kecamatan
Moncongloe Lappara seluas 138,90 ha (15,91%), Moncongloe Bulu 21,31 (1,67%). Desa Moncongloe dibanding dengan kedua desa sebelumnya, luas lahan sawah yang diusahakan untuk pertanian lebih luas yaitu sekitar 245,80 (37,36%).
Sementara untuk desa Bonto Bunga luas lahan sawah tadah hujan sekitar 156,00 (15,57%), sedangkan Bonto Marannu luas lahan sawah yang diusahakan untuk pertanian tadah hujan seluas 262,38 (33,72%). Sektor pertanian khususnya padi sawah masih menjadi mata pencaharian utama bagi penduduk di Kecamatan Moncongloe.
5) Perumahan
Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga memiliki arti sosial yang sangat penting. Baik bentu k maupun keadaannya, rumah dapat menentukan status sosial bagi pemiliknya, selanjutnya kemampuan ekonomi seseorang mencerminkan keadaan perumahannya secara umum dan keserasian tata lingkungan tempat tinggalnya. Dari kondisi rumah penduduk di Kecamatan Moncongloe sebagian besar adalah rumah panggung.
6) Fasilitas Listrik
Listrik merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dari berbagai kegiatan suatu penduduk. Pada umumnya desa di Kecamatan Moncongloe sudah menggunakan fasilitas listrik. Dari total rumah tangga sebanyak 4528 yang sudah menggunakan fasilitas listrik sebanyak 4528 (Lihat Tabel 3.2 dan 8.5).
Kecamatatan Moncongloe merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Maros yang sebagian besar sumber penghasilannya adalah pertanian tanaman pangan dan tanaman palawija. Sebagian besar penduduknya bekerja disektor pertanian (85%), sedangkan sisanya pada sektor perdagangan (3%), (7%) angkutan/ transportasi (sebagian besar tukang ojek), jasa (2%) dan lainnya (2%).
E. Penyajian dan Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu teknik analisis data dengan menggambarkan data sejelas mungkin sesuai dengan kejadian atau apa adanya dengan penalaran kata-kata dari penulis.
Bukan pada apa yang seharusnya terjadi atau apa yang diharapakan (dassallen) tetapi apa yang sebenarnya terjadi (dassein) adapun yang menjadi harapan masyarakat diangkat menjadi sebuah permasalahan yang harus diteliti lebih lanjut.
Perlu dikaji sedetail mungkin agar dilakukan penyesuaian dengan eksistensi identitas komunitas Masyarakat apakah sudah dilakukan upaya konkrit untuk mewujudkan harapan masyarakat Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Hal ini tentunya membutuhkan peran serta yang lebih intensif dari pemerintah bekerja sama dengan instansi yang terkait.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini disajikan secara terpadu, dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang didapatkan dari sensus penduduk oleh Kecamatan dan hal-hal pembangunan yang telah direalisasikan oleh pemerintah dan dinas terkait. Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan dari hasil pengamatan langsung dilapangan melalui riset dan observasi
tokoh masyarakat tentang tanggapannya terhadap Hegemoni Militer terhadap Kelompok Sipil. Informan dalam penelitian ini diambil dari seluruh kalangan masyarakat mewakili unsur dan komposisi penduduk secara utuh, yaitu dari tokoh masyarakat, anggota Militer, tokoh pemuda, dan pemerhati pendidikan yang kesemuanya itu dapat dijadikan sebagai informan kunci dalam penelitian, dalam hal ini perlu ditanyakan kepada informan tentang Hubungan Masyarakat sipil dengan Militer sehingga dapat terjadi yang disebut peneliti “Hegemoni” tersebut, kekurangan-kekurangannya, dan solusi serta masukan pengembangannya kedepan. Sesuai dengan tebel 1.2 tentang keterangan informan penelitian berikut:
Tabel 1.3 Keterangan Informan Penelitian
No. Uraian Sampel
1 Anggota Militer 3 Orang
2 Ketua RT/Toko Masyarakat 2 Orang
3 Anggota Masyarakat 2 Orang
4 Pemuda Setempat 3 Orang
Jumlah 10 Orang
BAB V
HEGEMONI CULTURE KONSENTRASI KELOMPOK MILITER TERHADAP KELOMPOK SIPIL
A. Kerangka Historis
Hubungan Sipil-Militer yang terjadi dikawasan dimana Markas militer berada tidak dapat terhindarkan, benturan kebudayaan pun tak terelakkan, yang berimplikasi dominasi budaya baik mayoritas yang mempengaruhi minoritas ataupun sebaliknya dapat dilihat dari perspektif kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang mengalami pergeseran hingga dapat ditelusuri dari latar belakang sejarah hubungan sipil-militer itu sendiri.
Melihat dari latar belakang sejarah bagaimana saat pemerintahan Indonesia dipimpin oleh presiden yang dinobatkan presiden seumur hidup yang disebut sebagai orde baru dan terkenal karena intervensi-intervensi yang digerakkannya disebut juga rezim otoriter, backround presiden dari militer membuat hampir segala lini kedudukan urgend dipemerintahan kala itu ditempati oleh delegasi-delegasi dari petinggi-petinggi militer. Sistem kala itulah yang sangat tepat dikatakan Gramsci sebagai Hegemoni kelomopok militer terhadap kelompok sipil.
Saat ini di era reformasi setelah ditumbangkannya ke-presiden-an seumur hidup Jendral Soeharto dengan system kediktatorannya dibawah perjuangan kesadaran hak yang dipimpin oleh kaum-kaum Terpelajar Indonesia, masih tersisa puing-puing Hegemoni militer dihadapan sipil namun tidak lagi sefrontal orde baru. Meski begitu, hegemoni tersebut masih harus diperhatikan sebaik mungkin
55
bukan hanya sebagai pengetahuan ilmiah namun juga untuk mengantisipasi kemungkinan akan kembalinya masa kelam tersebut seperti yang saat ini dilakukan oleh penulis.
B. Keberadaan Kelompok Militer Terhadap Pembentukan Etika Dan Estetika Kelompok Sipil
Hegemoni culture, dalam hal ini kelompok militer terhadap kelompok sipil di desa Moncongloe bulu kabupaten Maros yang peneliti lakukan lebih berkonsentrasi pada etika dan estetika masyarakat yang berada pada regional Yon- Zipur 8 SMG kabupaten Maros, jika dilihat secara eksplisit telah mengalami mobilisasi yang sangat cepat perkembangannya namun terkesan ada keseragaman atau dominasi dalam paradigma tersebut dibandingkan daerah-daerah lainnya di daerah Maros disebabkan dari otoritas kelompok militer yang masih hidup dalam pengambilan tindakan secara langsung terhadap masyarakat sekitarnya.
Hal tersebut dapat dilihat dari konotasi yang terbangun dari beberapa informan berikut:
Komentar dari provos Yon-Zipur-8 “Pratu Andi Mangngaweang” :
“Saya diamahkan menjadi provos tidak hanya untuk menertibkan anggota militer tetapi juga memastikan keamanan masyarat sekitar Kesatuan kami, dan bila diperlukan kami akan mengambil tindakan tegas jika ada masyarakat yang mengganggu keamanaan daerah penjagaan kami”.
Komentar selnjutnya kemudian untuk mempertegas argument informan pertama dari provos Yon-Zipur-8 “Pratu Andi Mangngaweang” :
“ Aparat militer dihadapan warga sipil harus tetap menjaga wibawa meraka, apabila ada masalah yang terjadi dimasyarakat sekitar kami biasanya kami memediasi untuk mencari jalan keluarnya dengan cara musyawarah”.