BAB III PEMBAHASAN
A. Jenis Tanaman Polong-polongan (Fabales) pada masing-masing
BAB III
laut) tidak ditemukan tanaman Polong-polongan (Fabales) jenis komak (Lablab purpureus L. Sweet). Pada ketinggian 300-400 m/
dpl (di atas permukaan laut) tidak ditemukan pula tanaman komak (Lablab purpureus L. Sweet) ini.
2. Centro (Centrosema pubescens Benth.)
Centro (Centrosema pubescens Benth.) merupakan tumbuhan yang tahan terhadap kondisi kering dan banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Tumbuhan Centro (Centrosema pubescens Benth.) ditemukan pada ketinggian tempat terendah yakni pada 0- 100 m/ dpl (di atas permukaan laut) dengan jumlah 2 tumbuhan.
Pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan Centro (Centrosema pubescens Benth.) berjumlah 3 tumbuhan. Pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan Centro (Centrosema pubescens Benth.) berjumlah 8 tumbuhan. Pada ketinggian 300- 400 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan jenis tanaman Centro (Centrosema pubescens Benth.) berjumlah 1 tumbuhan.
3. Putri malu (Mimosa pudica L.)
Putri malu (Mimosa pudica L.) merupakan tanaman yang banyak ditemukan pada daerah tropis seperti di Indonesia. Pada ketinggian tempat 0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan jenis tumbuhan putri malu (Mimosa pudica L.) berjumlah 6
tumbuhan. Pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan jenisnya berjumlah 6 tumbuhan. Pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan jenis Putri malu (Mimosa pudica L.) berjumlah 2 tumbuhan. Pada ketinggian 300-400 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan jenisnya berjumlah 4 tumbuhan.
4. Turi (Sesbania grandiflora L.)
Tanaman turi (Sesbania grandiflora L.) merupakan tanaman yang dapat dijumpai pada kawasan tropis seperti di wilayah Indonesia. Tumbuhan ini biasanya menjadi pagar pembatas tanaman hidup. Pada ketinggian 0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan jenis tanaman turi (Sesbania grandiflora L.) berjumlah 3 tanaman. Pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut) tidak ditemukan tanaman turi (Sesbania grandiflora L.) begitupun pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) dan ketinggian 300-400 m/ dpl (di atas permukaan laut) tidak ditemukan tanaman turi (Sesbania grandiflora L.).
5. Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit)
Tumbuhan lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit) merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai pada kawasan tropis yakni di Indonesia. Pada ketinggian 0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan 3 tumbuhan. Pada ketinggian 100-200
m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit) berjumlah 1 tumbuhan.
Pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit) berjumlah 2 tumbuhan. Pada ketinggian 300-400 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit) berjumlah 4 tumbuhan.
6. Gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.)
Gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai pada kawasan tropis. Pada ketinggian 0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan Gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) berjumlah 3 tumbuhan. Pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan Gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) berjumlah 1 tanaman. Pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) tidak dtemukan tumbuhan gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) dan pada ketinggian 300-400 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan Gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) berjumlah 5 tumbuhan.
Dari data yang diperoleh langsung dilapangan menunjukkan pada ketinggian 0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut) merupakan ketinggian tempat terendah dan paling banyak ditemukan jenis
tanaman Polong-polongan (Fabales) di antaranya: Komak (Lablab purpureus (L.) Sweet), Centro (Centrosema pubescens Benth.), Putri malu (Mimosa pudica L.), Turi (Sesbania grandiflora L.), Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit), dan Gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) yang dilihat berdasarkan ketinggian tempat di desa Kekait, kecamatan Gunung Sari, kabupaten Lombok Barat. Pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) merupakan ketinggian yang paling sedikit ditemukan jenis tanaman polong- polongan (Fabales) yakni terdapat 3 jenis diantaranya: Centro (Centrosema pubescens Benth.), Putri malu (Mimosa pudica L.), dan Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit) yang dilihat berdasarkan ketinggian tempat di desa Kekait, kecamatan Gunung Sari, kabupaten Lombok Barat.
Pada ketinggian tempat terendah (0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut)), jumlah jenis yang paling banyak ditemukan ialah tumbuhan putri malu (Mimosa pudica L.) dengan jumlah 6 tumbuhan.
Dan tumbuhan yang paling sedikit ditemukan ialah tanaman komak (Lablab purpureus L. Sweet) dengan jumlah 2 tanaman dan tumbuhan centro (Centrosema pubescens Benth.) dengan jumlah 2 tumbuhan.
Pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut), tumbuhan yang paling banyak ditemukan yakni tumbuhan putri malu (Mimosa pudica L.) dengan jumlah 6 tumbuhan. Dan tumbuhan yang paling
sedikit ditemukan yakni komak (Lablab purpureus L. Sweet) dengan jumlah 1 tanaman dan gamal (Gliricidia sepium) dengan jumlah 1 tanaman. Pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) tumbuhan yang paling banyak ditemukan ialah tumbuhan centro (Centrosema pubescens Benth.) dengan jumlah 8 tumbuhan. Dan tumbuhan yang paling sedikit ditemukan yakni putri malu (Mimosa pudica L.) dan lamtoro (Leucaena leucocephala) dengan masing- masing jumlah 2 tumbuhan. Pada ketinggian 300-400 m/ dpl (di atas permukaan laut) merupakan ketinggian tempat tertinggi dan jenis tanaman polong-polongan (Fabales) yang banyak ditemukan ialah tumbuhan gamal (Gliricidia sepium) dengan jumlah 5 tumbuhan. Dan tumbuhan yang paling sedikit ditemukan ialah tumbuhan centro (Centrosema pubescens Benth.) dengan jumlah 1 tumbuhan.
Dan menurut penelitian terdahulu oleh Herdiawan tentang pertumbuhan tanaman pakan ternak Legum pohon Indigofera zollingeriana pada berbagai taraf perlakuan cekaman kekeringan menyatakan, “Tumbuhan Polong-polongan (Fabales) dapat bertahan hidup pada lahan dengan kondisi kering dan mencegah erosi”.38 Sehingga keterkaitan penelitian terdahulu dengan penelitian yang telah dilakukan dilapangan maka, terdapat persamaan dari sifat tanaman
38Herdiawan I. “Pertumbuhan Tanaman Pakan Ternak Legum PohonIndigofera zollingeriana pada Berbagai Taraf Perlakuan Cekaman Kekeringan”. Balai Penelitian Ternak. 2013. hlm. 67.
polong-polongan (Fabales) yang dapat bertahan dengan kondisi lahan yang kering dan tempat ternaungi membuat jenis tanaman polong- polongan (Fabales) yang ditemukan beranekaragam jenis.
Untuk penelitian selanjutnya oleh Andy wijanarko dan A.A Rahmianna tentang implikasi sifat fisika dan kimiawi tanah pada ketinggian yang berbeda terhadap budidaya kacang tanah di sumba timur, NTT yang mengungkapkan bahwa, “Semakin tinggi suatu tempat maka, pH tanah semakin menurun.39 Pada keadaan ini jumlah jenis tumbuhan dapat berkurang karena pengaruh dari keasaman tanah.
Dari hasil pengamatan 6 jenis tanaman polong-polongan (Fabales) maka jenis tanaman terbanyak dihasilkan oleh tumbuhan centro (Centrosema pubescens Benth.) dengan jumlah 8 tumbuhan dengan ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut).
Tumbuhan ini banyak ditemukan pada ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) karena pada ketinggian tempat ini, memiliki pH tanah yang normal. Dan berdasarkan penelitian terdahulu oleh Reksohadiprojotentang “Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik” menyatakan bahwa tanaman Polong-polongan (Fabales) tahan terhadap kondisi lingkungan kering, tahan terhadap kondisi lahan yang
39Andy wijanarko dan A.A Rahmianna. “Implikasi sifat fisika dan kimiawi tanah pada ketinggian yang berbeda terhadap budidaya kacang tanah di sumba timur, NTT”. 2017. hlm. 399.
tergenang air, dan dapat ditanam pada naungan.40 Dengan kondisi lahan yang kering dan kondisi lahan yang tergenang air ini membuat jenis tanaman Polong-polongan (Fabales) mampu bertahan hidup dan menjaga keanekaragamannya.
Tanaman yang ditemukan paling sedikit ialah komak (Lablab purpureus L. Sweet), lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de wit), dan gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.) pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut). Tanaman ini ditemukan dengan jumlah masing-masing 1 tanaman. Menurut penelitian terdahulu oleh Andy wijanarko dan A.A Rahmianna tentang implikasi sifat fisika dan kimiawi tanah pada ketinggian yang berbeda terhadap budidaya kacang tanah di sumba timur, NTT mengungkapkan bahwa semakin tinggi suatu tempat maka, pH tanah semakin menurun.41 Dan berdasarkan hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang telah dilakukan dilapangan maka, ”Ada persamaan semakin tinggi ketinggian suatu tempat maka pH tanah menurun sehingga jumlah jenis tanaman yang ditemukan berkurang. Ini terlihat pada ketinggian 0-100 m/ dpl (di atas permukaan laut) dengan ketinggian 100-200 m/
dpl (di atas permukaan laut). Jumlah jenis tanaman yang berkurang ini
40Reksohadiprojo,“Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik Edisi Revisi BPFE”, (Yogyakarta: UGM, 1981), hlm. 132.
41Andy wijanarko dan A.A Rahmianna. “Implikasi sifat fisika dan kimiawi tanah pada ketinggian yang berbeda terhadap budidaya kacang tanah di sumba timur, NTT”. 2017. hlm. 399.
disebabkan oleh faktor pH tanah pada ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut) yang bersifat asam(< 7)”.
Berdasarkan data yang diperoleh langsung di lapangan, ketinggian 0-100 m/ dpl termasuk daerah yang terendah dan Jenis tanaman komak yang ditemukan pada ketinggian ini merupakan jenis tanaman yang dibudidayakan di daerah kebun, sawah, dan pemukiman penduduk. Tanaman ini dapat tumbuh karena adanya campur tangan manusia. Dan dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap kebutuhan sehari-hari.
Ketinggian 100-200 m/ dpl (di atas permukaan laut) termasuk daerah perbukitan di desa Kekait, kecamatan Gunung sari, kabupaten Lombok Barat. Pada ketinggian ini ditemukan beberapa jenis tanaman seperti: komak, centro, putri malu, lamtoro dan gamal. Tanaman komak dapat ditemukan karena masih ada aktivitas manusia seperti berkebun.
Ketinggian 200-300 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan centro, putri malu, dan gamal. Tumbuhan ini banyak ditemukan di daerah perbukitan karena sifatnya yang dapat tumbuh di daerah ternaungi dan tidak ternaungi. Mayoritas tumbuhan ini ditemukan di daerah perbukitan karena di ketinggian 0-100 m/ dpl dan 100-200 m/ dpl lebih banyak aktivitas manusia seperti penanaman palawija atau biji-bijian yang menjadi kebutuhan manusia.
Ketinggian 300-400 m/ dpl (di atas permukaan laut) ditemukan tumbuhan centro, putri malu, lamtoro, dan gamal. Kawasan ini termasuk daerah perbukitan dan tempat ternaungi karena banyak pohon-pohon sehingga sinar matahari yang masuk sedikit. Tumbuhan ini dapat bertahan hidup karena tahan terhadap kondisi lahan dengan kadar pH tanah asam.
Ketinggian di atas 400 m/ dpl (di atas permukaan laut) merupakan daerah yang ternaungi karena kurangnya pencahayaan.
Tumbuhan yang mampu bertahan pada ketinggian di atas 400 m/ dpl (di atas permukaan laut) merupakan tumbuhan yang dapat dibudidayakan karena tanaman ini membutuhkan suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi.
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan analisis data serta pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti di lapangan, bahwa
“Tanaman Polong-polongan (Fabales) teridentifikasi berjumlah 6 jenis
diantaranya: komak (Lablab purpureus (L.) sweet), centro (Centrosema pubescens Benth.), putri malu (Mimosa pudica L.), turi (Sesbania grandiflora L.), lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit), dan gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Steud.).
B. Saran
1. Bagi masyarakat dapat dijadikan sebagai pelengkap kebutuhan hidupnya pada jenis tanaman polong-polongan (Fabales).
Misalnya dijadikan sebagai lauk pauk pada tanaman komak dan turi. Sebagai pakan ternak hewan seperti sapi dan kambing pada tumbuhan centro, turi, dan gamal. Sebagai bahan bangunan pada tumbuhan gamal dan lamtoro.
2. Bagi mahasiswa agar dapat mengembangkan penelitian yang sejenis dalam keanekaragaman jenis tanaman polong-polongan (Fabales).
family Fabaceae di kawasan Hutan Pantai Tabanio Kabupaten Tanah Laut kalimantan Selatan”, LP2M Universitas Lambung Mangkurat, Vol.
03, Nomor 01, ISSN 2623-1611, 2018, hlm. 209.
Andy wijanarko dan A.A Rahmianna, “Implikasi sifat fisika dan kimiawi tanah pada ketinggian yang berbeda terhadap budidaya kacang tanah di sumba timur, NTT, seminar hasil penelitian tanaman aneka kacang dan umbi, 2017, hlm. 399.
Badan Litbang Pertanian, “Agroinovasi: Tanaman Stylo (Stylosanthes guianensis) sebagai Pakan Ternak Ruminansia”, No. 3445, Tahun XLII, hlm. 10.
Cecep kusmana dan Agus Hikmat, “Keanekaragaman Hayati Flora di Indonesia”, Jurnal Pengelolaan sumberdaya Alam dan Lingkungan, Departemen Konservasi sumberdaya hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Vol. 5, No. 2, Desember 2015, hlm.
188.
Devi Erlinda Mardiyanti, Karuniawan Puji Wicaksono, Medha Baskara,
“Dinamika Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Pasca Pertanaman Padi”.
Jurnal Produksi tanaman Volume 01, Nomor 01, Maret 2013, hlm. 25.
Departemen Pendidikan Nasional,“Kamus Besar Bahasa Indonesia”, (Jakarta:
2008), Http://kbbi.web.id/anekaragam, diakses pada tanggal 28 Oktober 2019, pukul 13.32 WITA.
Dian Noviar, “Pengembangan ensiklopedi biologi mobile berbasis android materi pokok pteridophyita dalam rangka implementasi kurikulum 2013”, Cakrawala Pendidikan, Fakultas Sains dan Tekhnologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Juni 2016, No. 2, hlm. 198
Fitriani Sarmita, Endah Dwi Hastuti dan Sri Haryanti. “Pertumbuhan Legum pada Ketinggian yang Berbeda”, Jurnal: BIOMA, Vol. 13, Nomor 02, Desember 2011, hlm. 67-72.
Gembong, Tjitrosoepomo. “Morfologi Tumbuhan”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2016
Https://academia.edu /mengenal-herbarium, diakses 25 Maret 2019, 10:21 WITA.
Http://digilib.unila.ac.id/3240/17/BAB%20III.pdf diakses 12 November 2018, pukul 17.23 WITA.
Http://eprints.ums.ac.id/12946/4/BAB_III.pdf diakses 12 November 2018, pukul 19.04 WITA.
Http://eprints.umm.ac.id/38103/3/BAB%20II.pdf, diakses pada tanggal 04 Maret 2019, pukul 10.00 WITA.
Http://repository.uin-suska.ac.id/2591/4/BAB%20II.pdf diakses 05 November 2018, pukul 20.08 WITA.
Moleong J. Lexy, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 157, 330-333.
Muhammad Ali Ardi, “Agrostologi 2 Klasifikasi dan_Morfologi”, https://www.academia.edu/35317345/, diakses tanggal 26 Maret 2019, pukul 09.37 WITA.
Nurdiana dan Ervina Titi jayanti,“Petunjuk praktikum Taksonomi Tumbuhan Tinggi”, (Mataram: Laboratorium IPA BIOLOGI UIN (Universitas Islam Negeri mataram, 2017)), hlm18-19.
Pinta Murni, Muswita, Haris, Upik Yelianti, Winda Dwi Kartika. “Lokakarya Pembuatan Herbarium untuk Pengembangan Media Pembelajaran Biologi di MAN Cendikia Muaro jambi”. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Vol. 30, nomor 02, 2015, hlm. 01.
Rasidin, Peran Tanaman Pakan Ternak Sebagai Tanaman Konservasi dan Penutup Tanah di Perkebunan, Pross. Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak, (Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2005), hlm. 12.
Reksohadiprojo, Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik Edisi Revisi BPFE, (Yogyakarta: UGM, 1985), hlm. 132.
Sutoyo, “Keanekaragaman hayati Indonesia”, Buana Sains, Vol. 10, Nomor 02, 2010, hlm. 101 dan 102.
Yayasan Penyelenggara Penafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an Terjemah Perkata:
Asbabun Nuzul dan Tafsir bil Hadis, (Bandung: Penerbit Semesta Al- Qur’an, 2013) hlm.158.
Gambar 1 Lokasi Penelitian
Patok Tali rafia
Gambar 2 Alat dan Bahan Pembuatan Plot
Gambar 3 Pengambilan Sampel
a b c
d e f
Gambar 5 Spesies-spesies yang ditemukan Keterangan gambar 5
a. Komak (Lablab purpureus(L.) Sweet) b. Centro (Centrosema pubescensBenth.) c. Putri malu (Mimosa pudica L.)
d. Turi (Sesbania grandiflora L.)
e. Lamtoro (Leucaena leucocephala(Lam.) de Wit) f. Gamal (Gliricidia sepium(Jacq.) Steud.)
No. Kegiatan
Bulan ke-
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Penyusunan proposal
2. Seminar proposal
3. Memasuki lapangan
4. Tahap seleksi dan analisis
5. Membuat draf laporan
6. Diskusi draf laporan
7. Penyempurnaan laporan
8. Persiapan dilapangan
9. Pengambilan sampel
10. Pelaksanaan penelitian
11. Penyusunan skripsi
12. Penyempurnaan skripsi
13. Daftar ujian
14. Munaqasyah skripsi