• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jika para pembela hak asasi manusia

Dalam dokumen Pengantar Tata Kelola Internet (Halaman 38-42)

Jika para pembela

Masa depan tersebut akan lebih cerah jika tata kelola internet patuh pada dua prinsip. Prinsip pertama adalah bersifat multi pemangku kepentingan (multistakeholderisme). Istilah ini memang aneh, namun alasannya adalah karena dalam tata kelola internet, bukan hanya pemerintah dan perusahaan saja yang memiliki kepentingan. Masyarakat sipil juga harus memainkan peranan yang sama aktifnya dan membantu membuat agenda dengan berpartisipasi dalam berbagai pertemuan dan diskusi. Konsep ini telah muncul sejak awal sejarah internet, yaitu ketika IETF membuka pintunya bagi siapapun yang ingin berpartisipasi dalam proses penetapan standar.

Walaupun multistakeholderisme telah didefinisikan dengan baik dalam tata kelola teknis internet, maknanya dalam tataran praktis ketika menegosiasikan regulasi berbasis kebijakan, khususnya untuk memastikan partisipasi masyarakat sipil yang plural dan bermakna, serta memutuskan seberapa besar kekuatan yang boleh dipegang bisnis, masih sangat tidak jelas. Tidak ada model tunggal untuk multistakeholderisme, atau kesepakatan tentang apa yang dapat diterima sebagai tingkat keterlibatan masyarakat sipil minimal. Namun demikian, multistakeholderisme telah diterima secara luas, dan sejauh ini, setiap kali pemerintah mencoba untuk menyepakati suatu pendekatan tata kelola internet secara tertutup (lihat bagian ITU dan negosiasi perdagangan di bawah ini), para pengguna internet bereaksi dengan cukup keras untuk menghentikan proses tersebut.

Sebagaimana telah kita saksikan pada bagian sebelumnya, internet bergantung pada proses penetapan standar di IETF dan manajemen ruang IP Address dan Domain Name System yang disediakan oleh ICANN. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tata kelola teknis internet cukup stabil. Prinsip kedua yang harus dipatuhi arsitektur tata kelola internet internasional apapun yang akan muncul adalah arsitektur tersebut tidak boleh mengganggu stabilitas tata kelola teknis internet.

Agar internet tetap dapat bersifat global dan terbuka (yaitu dapat berjalan di berbagai jenis infrastruktur dan membawa berbagai jenis informasi), prinsip kedua ini amat penting. Hal ini dapat menjaga apa yang disebut salah satu arsitek awal “inter-networking” sebagai “inovasi tanpa izin”: fleksibilitas merk dagang internet, serta sifatnya yang terbuka seihngga dapat bermanfaat bagi hak asasi manusia potensi untuk melampaui penyensoran pemerintah, misalnya), serta yang menyebabkan cepatnya internet diadopsi di seluruh dunia.

Selanjutnya bagian ini akan menjelaskan berbagai forum yang membahas pembuatan kebijakan internet.

Pemerintah di seluruh dunia masih amat menentukan peluang dan tantangan hak asasi manusia di ranah internet. Sejak awal 1990-an, pemerintah berbagai negara telah membuat undang-undang baru dan mengadaptasi undang-undang lama untuk meregulasi kegiatan internet. Banyak undang-undang ini berfokus pada intermediari internet seperti ISP, serta liabilitas hukum mereka terhadap informasi yang berjalan melalui jaringan mereka.

Kebanyakan pemerintah mendorong intermediari untuk memblokir berbagai jenis konten.

Cina misalnya menjalankan operasi penyensoran yang kompleks. Terdapat negara-negara (seperti Belanda dan Chile) yang telah membuat undang-undnag yang positif yang ditujukan untuk melindungi desain fundamental jaringan melalui undang-undang net neutrality.

Undang-undang kejahatan komputer yang ditujukan untuk para pengguna individu semakin diperkuat di zaman internet ini. Negara-negara dengan kendali media yang kuat atau undang- undang kesusilaan publik (decency law) telah mencoba untuk memperluas undang-undang tersebut untuk menjangkau website berita, penyedia media sosial dan bahkan pengguna media sosial. Upaya mereka kadang juga berhasil. Undang-undang yang melindungi privasi masyarakat dan memperkuat perlindungan data pribadi juga berdampak pada regulasi kegiatan internet, sebagaimana undang-undang hak cipta.

TATA KELOLA DI TINGKAT NEGARA

Dominasi pemain sektor bisnis di setiap lapisan internet, khususnya di lapisan fisik dan aplikasi, membuat perilaku sejumlah kecil perusahaan semakin signifikan dalam membentuk lanskap internet.

Selain mematuhi undang-undang yang ditetapkan negara, perusahaan yang aktif di ranah internet juga menjawab tekanan dari pemerintah di negara tempat mereka beroperasi dengan menjalankan berbagai swa-regulasi. Semakin cepatnya perubahan teknologi jaringan dan aplikasi internet berarti bahwa swa-regulasi oleh industri semakin sering dipandang sebagai pilihan yang disukai banyak negara yang berusaha keras mengatur perilaku masyarkat di ranah online. Kecenderungan ini mengakibatkan suara masyarakat sipil seringkali dibungkam oleh hubungan yang terlalu mesra antara pembuat undang- undang dan perusahaan ini.

Perusahaan khususnya yang berada di lapisan aplikasi, seperti Google dan Facebook, juga telah menjawab tekanan dari para pengguna mereka untuk bertindak dengan cara yang menghargai hak asasi manusia, misalnya dengan menerbitkan laporan transparansi yang menjabarkan bagaimana mereka telah menjawab permintaan pemerintah berbagai negara untuk memberikan informasi pengguna, serta dengan bergabung dengan Global Network Initiative.

PERUSAHAAN

Karena kepuasan pengguna dan kesediaan pengguna untuk menyerahkan informasi pribadi amat penting bagi model bisnis pemain raksasa di lapisan aplikasi seperti Google (yang mottonya adalah “Don’t be evil” [jangan jadi jahat] sengaja dibuat untuk menciptakan kepercayaan pengguna), penting bagi mereka agar dapat dipandang sebagai organisasi yang berorientasi pada penggunanya yang bertindak dengan cara-cara yang mendukung hak asasi manusia. Dengan demikian, para pengguna sebenarnya memiliki kekuatan lebih besar untuk mempengaruhi perilaku perusahaan-perusahaan ini dibandingkan konsumen barang dan jasa dari perusahaan yang beroperasi secara hampir monopolistik di sektor-sektor yang lain.

Selain itu, kekuatan internet sebagai alat organisasional berarti kampanye untuk mempromosikan hak asasi manusia di internet telah mendapat manfaat dari tingginya partisipasi dari para pengguna internet. Selama beberapa tahun terakhir, kampanye protes online massal telah turut mengangkat sejumlah isu tata kelola internet. Pada bulan Januari 2012, suatu kampanye

“blakckout” online oleh Wikipedia yang didukung oleh sekitar 115.000 website lainnya, bersama dengan petisi online dan 10 juta panggilan telepon yang ditujukan pada para pembuat undnag- undang, berhasil membatalkan diberlakukannya undang-undang hak cipta online yang kontroversial di Amerika Serikat. Protes serupa juga telah berhasil mendorong parlemen Eropa menolak ACTA (lihat di bawah ini) segera setelahnya pada bulan Agustus 2012. Setelah protes blackout website besar-besaran lainnya, pemerintah Malaysia sepakat untuk meninjau kembali undang-undang yang mengancam ekspresi online.

Kelompok masyarakat sipil yang bekerja di isu terkait internet dan komputer telah ada sejak pertengahan tahun 1980-an. Beberapa diantaranya, seperti Germany’s Chaos Computer Club, muncul dari komunitas progammer internet, dan masih melakukan kerja mereka dalam isu terkait teknologi dan aktivisme. Electronic Frontier Foundation, yang didirikan oleh para pelopor internet pada 1990-an, secara khuus bekerja untuk melindungi kebebasan sipil online. Organisasi ini bekerja menangani berbagai kasus hukum serta menjalankan berbagai advokasi tradisional. Jumlah kelompok kebebasan sipil digital di seluruh dunia saat ini tumbuh dengan pesat. NGO-NGO HAM internasional besar juga perlahan mulai memperhatikan isu-isu kebebasan sipil digital.

PENGGUNA DAN MASYARAKAT SIPIL DIGITAL

Para pengguna sebenarnya

memiliki kekuatan lebih besar

untuk mempengaruhi perilaku

perusahaan-perusahaan ini

dibandingkan konsumen barang

dan jasa dari perusahaan yang

beroperasi secara hampir

monopolistik di sektor-sektor

yang lain.

Berikut adalah beberapa organisasi yang mengemban tanggung jawab besar atas tata kelola teknis internet.

TATA KELOLA INTERNET

Dalam dokumen Pengantar Tata Kelola Internet (Halaman 38-42)

Dokumen terkait