• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE PENELITIAN

4.8 Etika Penelitian

4.8.5 Justice

Setiap responden pada penelitian ini mendapat perlakuan dan hak yang sama, tidak ada diskriminasi gender, suku dan unsur lainnya. Hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian menggambarkan realitas yang sebenarnya. Aspek justice ini peneliti wujudkan melalui pengambilan sampel secara random, sehingga siswi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi responden.

HASIL, PEMBAHASAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Gambaran PuskesmasKecamatanTanjung Priok Jakarta Utara

Puskesmas merupakan perangkat Pemerintah DaerahTingkat II, sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan olehWalikota/Bupati, dengan saran teknis dari kepala Dinas KesehatanKabupaten/Kota. Sasaran penduduk yang dilayani oleh satu puskesmas adalahsekitar 30.000 penduduk. Untuk jangkauan yang lebih luas, dibantu olehPuskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling. Puskesmas di Ibukota Kecamatandengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan ”PuskesmasPembina” yang berfungsi sebagai pusat rujukan bagi puskesmas kelurahan danjuga mempunyai fungsi koordinasi.

Wilayah kerja puskesmas kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara meliputi satu kecamatan atau sebagian darikecamatan. Faktor kepada kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik,dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan pertimbangan dalam penentuanwilayah kerja puskesmas.

Pelayanan kesehatan menyeluruh yang diberikan puskesmas meliputi : 1. Promotif (peningkatan kesehatan)

2 .Preventif (upaya pencegahan) 3. Kuratif (pengobatan)

4. Rehabilitatif (pemulihan kesehatan)

Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk, tidak membedakanjenis kelamin, umur, sejak pembuahan dalam kandungan sampai meninggal. Adapun letak geografis sebagai berikut:

Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor : 1251 Tahun 1986, luas wilayah Kecamatan Tanjung Priok adalah 25,12Km2, yang terdiri atas 103 RW dan 1272 RT dengan luas masing-masing kelurahan sebagai berikut :

1. Kelurahan Sunter Agung : 7,0226 Km2 2. Kelurahan Sunter Jaya : 4,5817 Km2 3. Kelurahan Kebon Bawang : 1,7270 Km2 4. Kelurahan Papanggo : 2,8018 Km2 5. Keluarahan Warakas : 1,0884 Km2 6. Kelurahan Sungai Bambu : 2,3640 Km2 7. Kelurahan Tanjung Priok : 5,5400 Km2 b. Batas wilayah :

Utara : Pantai Laut Jawa.

Timur : Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Koja dan Kelapa Gading.

Selatan : Jalan Raya Sunter Kemayoran, Kecamatan Kemayoran.

Barat : Kecamatan Pademangan.

Topologi merupakan suatu wilayah dengan ketinggian 0,5 – 1 M di atas permukaan laut.

Tabel 2

Distribusi Frekuensi Kejadian bblr, anemia, paritas, tinggi badan, status pekerjaan, dan pengetahuan

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel.2 diatas diketahui bahwa bayi yang tergolong kedalam kategori BBLRsebanyak 16 balita (32%), sedangkan bayi yang tidak mengalami BBLRatau normal ada 34 orang (68%). Responden ibu yang tergolong kedalam kategori anemiasebanyak 19 ibu (38%), sedangkan ibu yang tidak mengalami anemiaatau normal ada 31 orang (62%).

Responden ibu yang tergolongmempunyai anak <4 sebanyak 43 ibu (86%), sedangkan ibu yang memiliki anak >4 ada 7 orang (14%). Responden ibu yang tergolongmemiliki tinggi badan <145cm sebanyak 2 ibu (4%), sedangkan ibu yang memiliki tinggi badan >145cm sebanyak 48 ibu (48%).

Responden ibu yang memiliki pekerjaan sebanyak 16 ibu (32%), sedangkan ibu yang tidak bekerja sebanyak 34 ibu (68%). Responden ibu yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 18 ibu (36%), sedangkan ibu memiliki pengetahuan kurang sebanyak 32 ibu (64%). Responden ibu yang memiliki

Variabel N (%)

Kejadian BBLR

BBLR 16 (32%)

Tidak BBLR 34 (68%)

Kejadian anemia

Anemia 19 (38%)

Tidak anemia 31 (62%)

Paritas

Multipara 43 (86%)

Berisiko bblr 7 (14%)

Tinggi badan

Pendek 2 (4,0%)

Tinggi 48 (96%)

Status pekerjaan

Bekerja 16 (32%)

Tidak bekerja 34 (68%)

Pengetahuan

Baik 18 (34%)

Kurang 32(64%)

Riwayat penyakit

Memiliki penyakit 7(14%)

Tidak memiliki penyakit 43 (86%)

riwayat penyakit sebanyak 43 ibu (86%).

5.2.2 Analisis Bivariat

Pada analisis bivariat ini akan disajikan hubungan antara masing – masing variabel dependen dengan variabel independen. Varibel dependen dalam penelitian ini adalah berat badan lahir rendah (BBLR) dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah anemia, parita, tinggi badan, pekerjaan, pengetahuan dan penyakit.Hubungan kedua variabel tersebut dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square.

Tabel 3.

Hubungan Antara anemia ibu hamil, paritas, tinggi badan, status pekerjaan, riwayat penyakit, dan pengetahuan ibu terhadap kejadian bblr

Sumber: Data Primer

Kejadian BBLR

Ya Tidak

Total Variabel Kategori

N % N % N %

OR (95% CI)

P-Value

Anemia 9 47,3 10 52,6 19 100

Anemia

Tidak anemia

7 22,5 24 77,4 31 100

3,086 (0,899-10,587)

0,068

Multipara 11 25,5 32 74,4 43 100

Paritas

Berisiko bblr

5 71,4 2 28,5 7 100

0,138 (0,023-0,813)

0,016

Pendek 1 50 1 50 2 100

Tinggi badan

Tinggi 15 31,2 33 69 48 100

2,200 (0,129-37,58)

0,578

Bekerja 5 31,2 11 69 16 100

Status

pekerjaan Tidak bekerja

11 32,3 23 68 34 100

0,950 (0,265-3,412)

0,938

Tinggi 4 22,2 14 78 18 100

Pengetahuan

Rendah 12 39 20 63 32 100

0,476 (0,127-1,786)

0,266 Memiliki

penyakit

4 57,1 3 43 7 100

Riwayat penyakit

Tidak memiliki penyakit

12 28 31 72 43 100

3,44

(0,669-17,73) 0,699

kejadian BBLR diperoleh bahwa diantara responden dengan kelompok anemia yang termasuk kedalam kategori BBLR terdapat 9 responden (47,36%). Sedangkan diantara responden dengan kelompok tidak anemia mendapatkan hasil sebanyak 7 responden (22,5%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,068. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna anatara anemia dengan kejadian BBLR. Hasil analisis hubungan antar paritas dengan kejadian BBLR diperoleh bahwa diantara responden dengan kelompok memiliki anak <4 yang termasuk kedalam kategori BBLR terdapat 11 responden (25,5%).

Sedangkan diantara responden dengan kelompok memiliki anak >4 mendapatkan hasil sebanyak 5 responden (71,4%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,016 dan OR 0,138, hal ini menunjukkan P-value ≤0,05 artinya ada hubungan yang bermakna anatara paritas dengan kejadian BBLR, dan berdasarkan nilai OR dapat disimpulkan bahwa paritas berpengaruh sangat lemah terhadap kejadian bblr. Hasil analisis hubungan antar tinggi badan dengan kejadian BBLR diperoleh bahwa diantara responden dengan kelompok memiliki tinggi badan <145 yang termasuk kedalam kategori BBLR terdapat 1responden (50%). Sedangkan diantara responden dengan kelompok memiliki tinggi badan >145 mendapatkan hasil sebanyak 15 responden (31,2%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,578. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna anatara tinggi badan dengan kejadian BBLR. Hasil analisis hubungan antar pekerjaan dengan kejadian BBLR diperoleh bahwa diantara responden dengan kelompok bekerja yang termasuk kedalam kategori BBLR terdapat 5 responden (31,25%).

Sedangkan diantara responden dengan kelompok tidak bekerja mendapatkan hasil sebanyak 11 responden (32,3%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,938. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna anatara pekerjaan dengan kejadian BBLR. Hasil analisis hubungan antar pengetahuan dengan kejadian BBLR diperoleh bahwa diantara responden dengan kelompok

responden (22,2%). Sedangkan diantara responden dengan kelompok pengetahuan kurang mendapatkan hasil sebanyak 12 responden (39%).Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,266. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna anatara pengetahuan dengan kejadian BBLR. Hasil analisis hubungan antar penyakit dengan kejadian BBLR diperoleh bahwa diantara responden dengan kelompok memiliki penyakit yang termasuk kedalam kategori BBLR terdapat 4 responden (57,1%). Sedangkan diantara responden dengan kelompok tidak memiliki penyakit mendapatkan hasil sebanyak 12 responden (28%).Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai P-value 0,124. Hal ini menunjukkan P-value ≥0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna anatara penyakit dengan kejadian BBLR.

5.3.1Hubungan Antara Anemia Ibu Hamil Dengan Kejadian BBLR

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara anemia ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh nilai p-value = 0,068, dengan p ≥ 0,05, maka hipotesis yang diajukan sebelum penelitian dilakukan ini tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara anemia ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara tahun 2018”. Dalam hal ini sejalan dengan peneltian sebelumnya yang dilakukan oleh Hanifah Lilik di Surakarta mengenai hubungan anemia ibu hamil dengan kejadian BBLR yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara anemia ibu hamil dengan kejadian BBLR.

Berdasarkan teori yang ada menurut Nakita (2013) Kekurangan zat besi dapat mengganggu pembentukkan sel darah merah, sehingga terjadi penurunan Hb yang berisiko perdarahan, kematian ibu melahirkan, juga berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu kurang dari 2500 gram. BBLR adalah awal dari masalah kekurangan gizi pada bayi dan balita.

Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil sangat mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Anemiapada ibu hamil akan menambah risiko mendapatkan bayi berat lahir rendah (BBLR), risikoperdarahan sebelum dan pada saat persalinan, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu danbayinya, jika ibu hamil tersebut menderita anemia berat. Hal ini disebabkan karena kurangnyasuplai darah nutrisi akan oksigen pada plasenta yang akan berpengaruh pada fungsi plesenta terhadap janin (Sudaryanto, 2013).

5.3.3 Hubungan Antara Paritas Ibu dengan Kejadian BBLR

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara paritas ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh nilai p-value = 0,001, dengan p ≤ 0,05, maka hipotesis yang diajukan sebelum

hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018”. Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fatimah dan Siti Nurhaisyah, mengenai hubungan paritas ibu hamil dengan kejadian BBLR di RS Koja Jakarta Utara yang menyatakan bahwa ada hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian BBLR.

Berdasarkan teori yang ada menurut Sistriani (2008)Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir meninggal maupun lahir hidup. Paritas yang berisiko melahirkan BBLR adalah paritas 0 yaitu bila ibu pertama kali hamil dan mempengaruhi kondisi kejiwaan serta janin yang dikandungnya, dan paritas lebih dari 4 dapat berpengaruh pada kehamilan berikutnya kondisi ibu belum pulih jika hamil kembali. Paritas yang aman ditinjau dari sudut kematian maternal adalah paritas 1-4. Menurut Windari (2011) Ibu yang termasuk dalam paritas 2-4 telah memiliki pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya sehingga lebih mampu menjaga kehamilan dan lebih siap menghadapi persalinan yang akan dihadapi. Fungsi organ reproduksi ibu dengan paritas 2-4 juga belum mengalami kemunduran sehingga organ reproduksi dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan janin yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan teori dalam DepKesRI (2010) bahwa kondisi uterus yang sangat baik sebagai tempat insersi plasenta, maka fungsi plasenta yang menghubungkan dan mengalirkan darah ibu ke janin yang mengandung makanan, oksigen dan zat-zat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.

5.3.4 Hubungan Antara Tinggi Badan Ibu dengan Kejadian BBLR

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara tinggi badan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh

Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018”. Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan ole Ulin Nuha (2016) mengenai hubungan tinggi badan ibu hamil dengan kejadian BBLR yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tinggi badan ibu hamil dengan kejadian BBLR.

Berdasarkan teori yang ada menurut Supariasan (2012) Tinggi badan adalah ukuran tubuh linier yang diukur dari ujung kaki sampai kepala.

Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan menggunakan mikrotoa (microtoise).

5.3.5 Hubungan Antara Pekerjaan ibu dengan Kejadian BBLR

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh nilai p-value = 0,938 dengan p≥ 0,05, maka hipotesis yang diajukan sebelum penelitian dilakukan ini tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018”. Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan ole Rini Septiani (2015), mengenai hubungan pekerjaan ibu hamil dengan kejadian BBLR yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian BBLR.

Berdasarkan teori yang ada menurut Windari (2014) ibu yang tidak bekerja mudah dalam menjangkau pelayanan kesehatan untuk memperoleh pemeriksaan kehamilan yang sama kualitsnya dengan ibu bekerja. Ibu yang tidak bekerja dan ibu bekerja juga dapat memperoleh informasi tentang kehamilan dan persalinan yang sama lengkap karena dekatnya petugas pelayanan kesehatan dan kualitas tenaga kesehatan yang sama baik. Setiap ibu hamil baik yang tidak bekerja maupun yang bekerja juga memperoleh kesempatan yang sama untuk menerima jaminan biaya persalinan melalui Jamkesmas atau sekarang masuk dalam program BPJS.

dengan kehamilan sampai dengan persalinan ini dapat mengurangi risiko lahirnya BBLR pada ibu yang tidak bekerja.

5.3.6 Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Kejadian BBLR

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara pengetahuan ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh nilai p-value = 0,266 dengan p ≥ 0,05, maka hipotesis yang diajukan sebelum penelitian dilakukan ini tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018”. Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan ole Rahmandar Perinada (2013), mengenai hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kejadian BBLR di Banda Aceh yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan kejadian BBLR.

5.3.7 Hubungan Penyakit Ibu dengan kejadian BBLR

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi Square antara penyakit ibu hamil dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) diperoleh nilai p-value = 0,124 dengan p ≥ 0,05, maka hipotesis yang diajukan sebelum penelitian dilakukan ini tidak terbukti yaitu “Ada hubungan antara penyakit ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018”. Dalam hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan ole Suryati (2014), mengenai hubungan penyakit ibu hamil dengan kejadian BBLR di wilayah kerja puskesmas Air Dingi, Padang yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara penyakit ibu hamil dengan kejadian BBLR.

Berdasarkan teori yang ada menurut Gibney dan Michael (2009) ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit hipertensi atau kenaikan tekanan darah selama hamil mencerminkan kegagalan sistem kardiovaskuler ibu

menurut Walter dan jacob (2011) bayi yang dilahirkan dari ibu yang darahnya mengandung parasit malaria akan mengalami berat badan lahir rendah (BBLR) (Walter dan jacob, 2011).

5.4 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan baik murni dari peneliti, metode yang digunakan serta keadaan diluar kemampuan peneliti. Adapun keterbatasan yang ada pada penelitian ini yaitu:

1. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional , yaitu penelitian yang dilakukan pada saat ini dengan pengambilan data dependen dan independen dalam waktu yang bersamaan. Metode ini tidak dapat digunakan untuk melihat masalah sebab-akibat terjadinya BBLR pada bayi. Tidak diketahui faktor-faktor yang mana yang lebih dahulu atau utama menyebabkan terjadinya BBLR.

2. Keterbatasan dalam penelitian diantaranya data di dalam penelitian ini merupakan data primer yang diambil dengan menggunakan kuesioner yang diisi dengan metode wawancara langsung oleh responden dengan cara mendatangi rumah responden, responden pada saat diwawancarai sambil mengasuh bayi sehingga konsentrasinya dapat terganggu atau terbagi dua dan akhirnya enumerator harus bersabar untuk mendapatkan data yang berada didalam kuesioner penelitian.

3. Peneliti pada saat datang kerumah responden, respondennya merasakan ketidak nyamanan kedatangan peniliti dikarenakan peniliti tidak didampingi oleh kader atau pihak posyandu.

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai Hubungan Antara Riwayat Anemia Ibu Hamil Dan Pengetahuan Perawatan Bayi Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) Di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priuk Jakarta Utara Tahun 2017”, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dari 50 responden ibu yang memiliki bayi di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2018 terdapat 16 bayi (32%) yang mengalami BBLR, sedangkan bayi yang tidak mengalami BBLRatau normal ada 34 orang (68%).

2. Hasil dari kategori responden berdasarkan anemia dalam penelitian termasuk kedalam kategori anemiasebanyak 19 ibu (38%), sedangkan ibu yang tidak mengalami anemiaatau normal ada 31 orang (62%).

3. Hasil dari berdasarkan kategori paritas, responden dalam penelitian ini ibu yang tergolongmempunyai anak <4 sebanyak 43 ibu (86%), sedangkan ibu yang memiliki anak >4 ada 7 orang (14%).

4. Hasil dari kategori tinggi badan responden penelitian ibu yang tergolongmemiliki tinggi badan “pendek” sebanyak 2 ibu (4%), sedangkan ibu yang memiliki tinggi badan “tinggi” sebanyak 48 ibu (48%).

5. Hasil dari kategori pekerjaan responden ibu yang memiliki pekerjaan sebanyak 16 ibu (32%), sedangkan ibu yang tidak bekerja sebanyak 34 ibu (68%).

6. Hasil dari kategori pengetahuan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 18 ibu (36%), sedangkan ibu memiliki pengetahuan kurang sebanyak 32 ibu (64%).

7. Hasil dari kategori penyakit bahwa ibu yang memiliki penyakit sebanyak 7 ibu (14%), sedangkan ibu tidak memiliki penyakit sebanyak 43 ibu (86%).

Lahir Rendah (p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018

9. Ada hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (p=0,001) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018.

10. Tidak ada hubungan antara tinggi badan ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018.

11. Tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018.

12. Tidak ada hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018.

13. Tidak ada hubungan antara penyakit ibu hamil dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (p=0,068) di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2018.

1. Sebaiknya posyandu lebih meningkatkan atau memperbanyak motivasi sosialisasi pada ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Tentang himbauan:

a. penyuluhan terhadap setiap ibu hamil oleh kader ahli gizi dan kader posyandu.

b. himbauan penting terhadap jumlah anak yang dimiliki sebelumnya oleh ibu hamil.

2. Diharapkan bagiPuskesmas Kecamatan Tanjung Priok untuk meningkatkan sosialisasi dukungan program keluarga berencana melalui edukasi ataupun penyuluhan mengenai program tersebut terhadap wanita usia subur, yang akan merencanakan kehamilan dan terutama ibu yang sudah lebih dari 4x melakukan persalinan.

Aliyu MH, Luke S, Kristensen S, Alio AP, Salihu HM. 2012. The Factors Risk of Low Birth Weight: a popilation-based study in Karachi. J Adolesc Health 2012.

Astuti Sri. 2016. Asuhan Ibu Dalam Masa Kehamilan. Bandung. Erlangga.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Tetanus Dan Neonatorum Dan Berat Badan Lahir Rendah. Depkes RI. Jakarta.

Dinas Kesehatan Jawa Timur. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2012. Surabaya.

Fikawati Sandra, Syafiq Ahmad, Krima Khaula. 2015. Gizi Ibu Dan Bayi. Jakarta.

PT Rajagrafindo Persada.

Fatimah, Jamil Siti. 2015. Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Bayi Di RS Koja.

Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan. Jakarta.

Gibney, Michael J. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta. EGC.

Hamidah, Alviani Riri.2016. Hubungan Faktor Risiko Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan.

Istiany Ari Dan Rusilanti. 2013. Gizi Terapan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Khoiriah Annisa. 2017. Hubungan Antara Usia Dan Paritas Ibu Bersalin Dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang.

Lee, H.K dkk. 2013. Analysis of the Prevalence and Risk Factors of Malnutrition among Hospitalized Patients in Busan. Busan : The Korean Society of Food Science and Nutrition.

Magdalena Veronica, G.J Sandra. 2015.Hubungan Umur Dan Paritas Ibu Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah. Jurnal Ilmiah Bidan. Manado.

Mckenzie James, Pinger Robert R, Kotecki Jerome E. 2007. Kesehatan Masyarakat. Buku Kedokteran EGC.

Mendri dan Prayogi Agus. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Risiko Tinggi.

Yogyakarta. Pustaka Baru Press.

Muryani Anik, Nurhayati. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dan Penyulit Pada Neonatus. Jakarta Timur. CV Trans Info Media.

Burlington. EGC.

Nakita. 2013. Sehat Dan Bugar Berkat Gizi Seimbang. Jakarta. Danone Institute.

Nadesul Hendrawan.2009. Kiat Sehat Pranikah. Jakarta. Buku Kompas.

Nasrul Fakhrudin. 2011.Hubungan Tingkat Pengetahuan Sehat - Sakit Dengan Sikap Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Jurnal Kesmasdaska. Surakata.

Nur Wafi. 2013. Asuhan Neonatus Bayi Dan Balita. Yogyakarta. Citramaya.

Nuha Ulin. 2016. Faktor-Faktor Yang Berkaitan Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukorejo Ponorogo.

Ponorogo.

Parulian Intan. 2016. Strategi Dalam Penanggulangan Pencegahan Anemia Pada Kehamilan. Jurnal Ilmiah Widya. Jakarta.

Pemilu Eny.2016. Hubungan Antara Umur Dan Status Gizi Ibu Berdasarkan Ukuran Lingkar Lengan Atas Dengan Jenis Bblr.

Pantiawati, I. 2010. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah. Yogyakarta.

Nuha Medika

Prasetyowati. 2014. Hubungan Hipertensi Dan Kurang Energi Kronis Dalam Kehamilan Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di Wilayah Kerja Puskesmas Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur.

Proverawati Atikah, Ismawati Cahyo. 2010. BBLR Berat Badan Lahir Rendah.

Yogyakarta. Nuha Medika.

Putri Anisa. 2014. Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian BBLR Di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2013. Samarinda.

Manuskrip Publikasi.

Rahayu Mai. 2013. Pengaruh Karakteristik Perilaku Dan Sosial Ekonomi Ibu Terhadap Kelahiran Bayi BBLR Di Kabupaten Sidoarjo.

Rahimi Bening. 2011. Hubungan Ibu Hamil Sebagai Perokok Pasif Dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Surakarta. Skripsi.

Restiani Riska. 2013.Hubungan Umur Dan Paritas Dengan Kejadian Berat Bayi

Lahir Rendah. Jurnal Biometrik Dan Kependudukan. Surabaya.

Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas). 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian RI Tahun 2013.

Sistriani. 2008. Faktor Maternal dan Kualitas ANC yang Berisiko Terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Studi pada Ibu yang Periksa Hamil Ke Tenaga Kesehatan dan Melahirkan di RSUD Banyumas. Tesis.

Semarang

Suci Sulistyorini. 2013. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di Irna Kebidanan Dan Penyakit Kandungan Rsup Dr.

Mohammad Hoesin Palembang.

Sudaryanto. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berat Bayi Lahir. Artikel

Kesehatan : Happy Land Medical Cantre

[Online].Http://Www.Rshappyland.Com/Index.Php/Artikelkesehatan/483- Faktor-Faktor-Yang-Mempengaruhi-Berat-Lahir. (Diakses 5 Desember 2017).

Suhartini. 2013. Pengaruh Faktor Gizi Merokok Minum Kopi Minum Teh Dan Antenatal Care Terhadap Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (Bblr) Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang.

Tesis.

Sulistyoningsih Hariyani. 2011. Gizi Untuk Kesehatan Ibu Dan Anak. Yogyakarta.

Graha Ilmu.

Supariasa I, Bakri Bachyar, Fajar Ibnu. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.

Suryati. November 2013.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Bblr Dl Wilayah Kerja Puskesmas Air Dingin.Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas.

Swara Bhumi. 2013. Kajian Karakteristik Sosial Ekonomi dan Kondisi Lingkungan Keluarga Pra Sejahtera di Desa Lebaksari Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro.

Tapan Erik. 2004. Dokter Internet. Bogor. Pustaka Populer Obor.

Tri Amalina. 2015. Hubungan Ukuran LILA Ibu Dengan BBLR Di RS Bersalin Widuri. Jurnal Permata Indonesia. Yogyakarta.

Trihardiani Ismi. 2011. Faktor Risiko Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Wilayah Kerja Puskesmas Singkawang Timur Dan Utara Kota Singkawang.

Semarang. Artikel Penelitian.

Dalam dokumen faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian (Halaman 48-74)

Dokumen terkait