K
abupaten Parigi Moutong yang terbentuk pada tahun 2002 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah dipimpin oleh seorang Bupati pelaksana Longki Janggola seorang birokrat aristokrat dari Kerajaan Palu. Nama Djanggola adalah sebuah fam dari Kerajaan Palu sebagai seorang keturunan Magau Palu (1947-1949). Djanggola merupakan anak dari ayahanda Laparioesi dengan seorang ibu yang bernama Jaba seorang Madika (raja) Poboya sebuah kampung di Lembah Palu. Laparioesi merupakan anak Jodjokodi seorang Magau Palu yang berkuasa antara tahun 1880 hingga tahun 1915. Adapun saudara-saudara dari Raja Laparioesi terdiri atas (1) Isima yang menikah dengan Karanjalembah,Magau Sigi. (2) Mutia, menikah dengan Mangkona (3) Djamaro, (4) Parampasi, Magau Palu (1915-1930), (5) Idjasa, Magau Palu (1930- 1947) (6) Pangia, seorang perempuan, dan (7) Jodi, juga seorang perempuan. Djanggola memiliki beberapa orang anak, antara lain Yoto Djanggola, ayah dari Longki Djanggola. Ayahanda dari Longki Janggola yang bernama Yoto Djanggola juga pernah menjabat sebagai Madika Malolo Palu. 1
Bupati Parigi Mouton yang bernama Longki Djanggola lahir di Palu, 11 November 1952 menikah dengan Zalzulmida Aladin Seorang wanita kelahiran Pariaman pada tanggal 13 Agustus 1955 yang juga bertugas sebagai Staf Ahli Bupati Parigi Moutong. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak, yang bernama Richard Arnaldo Djanggola dan Rico Andi Tjatjo Djanggola. Pendidikan yang dilalui Longki Djanggola menjalani pendidikan dasar dan menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri III Palu pada tahun1965. Kemudian SMP Negeri II Palu menamatkan pendidikan pada tahun 1968, ia lalu melanjutkan ke SAA Negeri Makasar dan tamat pada tahun 1971.
Kemudian Longki melanjutkan kuliah S1 pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Indonesia Jakarta dan hingga menjadi sarjana pada tahun 1983. Dia sempat menyelesaikan S2 di Universitas Tadulako pada tahun 2001.
Pekerjaan yang dilalui Longki Djanggola setelah menjadi sarjana dimulai sebagai dari bawah sebagai staf pada Perwakilan Pemda Sulawesi Tengah di Jakarta pada tahun 1983/1984. Kemudian atas pekerjaan yang baik sebagai staf lalu diangkat sebagai Kepala Perwakilan Pemda Sulawesi Tengah di Jakarta tahun 1984-1989.
Setelah itu, beliau dipanggil pulang ke Sulawesi Tengah dengan jabatan sebagai Kepala Bagian Tata Usaha pada Dinas Kesehatan Tingkat I Sulawesi Tengah tahun 1989-1998. Karirnya terus menanjak dengan
1Stamboem Magaoe Paloe, Lampiran dalam Abdul Hamid Pawennari.
1997. Sejarah Pemugaran Situs Banua Oge di Kotamadya Palu, Skripsi FKIP Universitas Tadulako, tidak diterbitkan, dalam Sairin, Elite Lama Dengan Wajah Baru: Profil Singkat Keluarga Elite Di Sulawesi Tengah, artikel lepas.
diangkat sebagai Kepala Biro Humas Pemda Sulawesi Tengah tahun 1998-2001 dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2001-2002. Pada saat wilayah Kabupaten Donggala dimekarkan menjadi Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2002 ia kemudian dipercaya sebagai Pejabat Bupati Parigi Moutong tahun 2002-2003. Setelah itu, ia terpilih sebagai Bupati defenitif Parigi Moutong Periode 2003-2008 dan terpilih kembali bersama Syamsurizal Tombolotutu (periode 2008-2013). Saat ini, Longki Djanggola menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Sulawesi Tengah dan Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah 2012-2016.
Samsurizal Tombolotutu seorang tentara kelahiran Tinombo pada tanggal 3 Maret 1958 adalah keturunan Olongian (Raja) Moutong. Fam yang bernama Tombolotutu merupakan keturunan yang berdarah Olongian (Raja) Moutong ke-4 yang memerintah pada tahun 1877-1904. Nama Tombolotutu adalah seorang raja yang terkenal karena perlawananannya terhadap Hindia Belanda. Perang antara Tombolotutu dengan Hindia Belanda berlangsung selama enam tahun (1898-1904) dan berakhir dengan kematian Tombolotutu di hutan bagian Donggulu. Sosok Samsurizal Tombolotutu yang menikah dengan Hj. Noor Wachida Prihartini yang telah dikaruniai oleh tiga orang anak masing-masing bernama (1) Rhida Indra Pribadi
Tombolotutu, ST; (2) Riznu Fitra Bhuwana Tombolotutu, dan (3) Rifi Noor Faizal Tombolotutu. Jenjang pendidikan formal yang dilalui oleh Samsurizal ditapakinya dari SD Negeri Tinombo dan tamat di SMPN 2 Palu. Dia kemudian memasuki STM Palu Jurusan Mesin dan tamat di SMAN Tinombo. Setamat SMA lalu beliau masuk ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1983.
Pendidikan perwira yang dilaluinya antara lain Pendidikan Lanjutan Perwira I (DIKLAPA I), Pendidikan Lanjutan Perwira II (DIKLAPA II), Kursus Perwira Intelejen, Kursus Kepala Seksi Operasi, Sekolah Komando Angkatan Darat (SESKOAD), Kursus Perencanaan Strategi Militer, hingga Kursus Dosen Kewiraan. Beliau pernah mengikuti pendidikan militer di luar negeri, yaitu: Air Borne (West Point- Amerika-USA), Path Finder (Amerika-USA), Air Result (Amerika-USA) dan Contra Intelligence (SAS-England).
Jabatan yang pernah ia pegang selama di dinas militer antara lain Komandan Peleton 3/A Yonif 501/KOSTRAD Pare-pare, Komandan Kompi A YONIF 501/KOSTRAD, Komandan Kompi B YONIF 503/
KOSTRAD, Kepala Seksi Operasi YONIF 503/ KOSTRAD, Kepala Seksi Operasi YONIF 303/KOSTRAD, Kepala Seksi Intelijen YONIF 503/
KOSTRAD, Wakil Komandan Batalyon 303 YONIF 503/KOSTRAD, Komandan Sekolah Calon Tamtama Rindam XVII Trikora, Komandan Batalyon 731 KODAM XVI Pattimura, Kepala Seksi Operasi KOREM 142 Pare-pare, Komandan KODIM 1420 Sidrap, Komandan KODIM 1405 Pare-pare, Perwira Pembantu Bidang SDM Staf Teritorial KASAD, Perwira Pembantu Bidang Perencanaan TMMD Staf Teritorial KASAD, dan terakhir Sekretaris dan Dosen Sekolah Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
Tokoh aristocrat Moutong ini aktif sebagai militer karir yang dimulai dari tugas sebagai operasi tempur maupun operasi kemanusiaan.
Operasi Tempur dalam negeri yang pernah ia ikuti yaitu Operasi Seroja Timor Timur (1983-1984), (1985-1986), (1990-1991), Operasi DOM Aceh (1984-1985), (1986-1987), dan Operasi Irian Jaya (1996-1997).
Berbagai daerah di Indonesia telah didatanginya untuk menjalankan tugas operasi kemanusiaan, seperti penanggulangan gempa bumi
dan tsunami Aceh, Nias, Bantul Yogyakarta, Pantai Pangandaran Jawa Barat, Nabire Papua, penanggulangan konflik Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Ambon Maluku. Dia juga pernah bertugas di luar negeri seperti di Kris Kartika (KEHAR MALINDO) IV di Malaysia, Special Army Force (SAFHAR INDOPURA) II Singapura, Pengamat Perdamaian Filipina Selatan, Training Army Force di Vietnam, Training Army Force di Thailand, Training Pasukan Perdamaian Dunia (PEACE KEEPING) di India, Training Pasukan Perdamaian Dunia (PEACE KEEPING) di Jepang dan Pasukan Perdamaian Garuda XIV – PBB UNTAC di Kamboja.
Pasca Longki Janggola sebagai Bupati Kabupaten Parigi Moutong, lalu digantikan oleh Syamsulrijal Tombolotutu sebagai Bupati karena dipilih oleh DPRD hingga Pilkada Parigi Moutong 2013.
Uraian ini ingin mengembangkan model kebijakan bagi penguatan kapasitas otonomi daerah secara maksimal dengan mengembangkan kewenangan daerah berupa hak asal usul, bidang pemerintahan kabupaten dan pembangunan di kabupaten dan kota. Model tersebut dikuatkan dengan penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik berupa partisipatif, penegakan hukum, keterbukaan, responsif, kesetaraan, visi yang strategis, efektif dan efisien, profesionalisme, akuntabilitas, dan pengawasan bagi penguatan kapasitas otonomi desa. Secara khusus, target yang ingin dicapai setelah penelitian ini dilakukan ialah adanya buku panduan otonom daerah dan karya tulis ilmiah bagi panduan pengembangan kebijakan dan panduan pendampingan untuk pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dan Sulawesi Tengah. Kajian ini menggunakan analisis perbandingan dan analisis kondisional bagi desa-desa yang menjadi objek penelitian di Sulawesi Tengah. Potensi daerah menjadi tinjauan awal untuk membentuk suatu daerah otonom. Diktum Otonomi daerah tidak bisa dilepaskan dari inter-play sosial, politik, hukum, ekonomi, dan berbagai pelaku budaya dengan motif dan kepentingan yang tidak sama.2 Semua bidang tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.
2 Sebuah Pengantar,Blue print otonomi daerah Indonesia, (Jakarta, Yayasan Harkat Bangsa, 2006), hlm vi
Proses lahirnya sistem pemerintahan yang desentralistik merupakan buah dari perjuangan para aktor demokrasi dalam upaya mengganti tatanan sistem pemerintahan yang selama kurang lebih 30 tahun (1966-1999) menggunakan sistem pemerintahan sentralistik. Penerapan sistem itu oleh Presiden Soeharto dibarengi oleh penguasaan terhadap Militer (TNI; dulu ABRI) sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap penggunaan senjata dan penjaga keamanan dan pertahanan nasional, pengontrolan yang ketat terhadap birokrasi nasional hingga daerah atau mulai dari tingkat nasional (kementerian) hingga desa (Kepala Desa), bahkan penguasaan yang besar juga dilakukan terhadap lembaga kewartawanan yang berfungsi sebagai pemberi informasi kepada masyarakat hingga partai politik.
Akibat sentralisasi (pemusatan) kekuasaan di rezim Orde Baru itulah maka berbagai kewenagan daerah (Desa, Kecamatan, Kabupaten hingga Propinsi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi obyektif dan kearifan lokal setempat. Bahkan tidak ada keterbukaan dalam pengelolaan negara dan daerah maupun desa, sehingga menyuburkan berbagai praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dampaknya masih dapat dirasakan hingga sekarang ini dan belum sepenuhnya dapat dihapuskan sama sekali. Dikarenakan kekecewaan yang besar terhadap sistem itu, maka para aktor demokrasi, terutama didorong oleh kekuatan mahasiswa berusaha merongrong pemerintahan terpusat Soeharto melalui aksi-aksi demonstrasi dan menggantinya dengan sistem yang lebih demokratis. Sebuah sistem yang lebih menghargai posisi rakyat sebagai individu dan kelompok (mulai dari pusat hingga sebagai kesatuan hukum dalam wilayah desa) dalam mengelola wilayah mereka.
Akhirnya pada bulan Mei 1998 kekuasaan Soeharto berhasil dijatuhkan dan sejak itulah berangsur-angsur Negara Indonesia menapaki sistem politik yang lebih demokratis. Perjalanan bangsa ini kerap disebut sebagai gelombang demokrasi, dimana dalam pasang surut demokrasi itulah pemerintahan Habibie berhasil merumuskan sebuah sistem pemerintahan desentralisasi yang dituangkan dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
Rumusan ini dibuat oleh tim yang diketuai oleh Prof. DR. Ryaas Rasyid dan telah diaplikasikan sejak tanggal 1 Januari tahun 2000. Hal itulah yang biasa disebut otonomi daerah sebagai sistem pemerintahan dimana daerah (tingkat Kabupaten) diberi kewenangan yang lebih luas untuk mengatur daerahnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sistem ini kerap disebut sebagai sistem pemerintahan desentralistik. Desa juga sebagai satu kesatuan pelaksanaan pemerintahan paling bawah turut perankan dalam hal otonomi daerah. Otonomi Desa adalah sistem pemerintahan desa dimana desa sebagai kesatuan masyarakat hukum memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di Daerah Kabupaten.
Adapun tujuan khusus penelitian ini diharapkan dapat: Pertama, Menemukenali prinsip-prinsip dasar pelaksanaan “good governance”
pada tingkat desa di Sulawesi Tengah. Kedua, Membangun model otonomi desa berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, keadilan dan pemerataan, pertimbangan potensi dan keanekaragaman daerah/desa, konstitusionalisme, kemandirian dan saling ketergantungan antar daerah/desa, pemberdayaan masyarakat, desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan.
Ketiga, Mengembangkan model kewenangan desa sebagai hak dan kekuasaan pemerintahan desa dalam rangka Otonomi Desa, yang artinya hak untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat sesuai kondisi dan sosial budaya setempat. Urgensi penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat mengungkap dan menguraikan secara analitis kondisi nyata (real) pelaksanaan otonomi desa di Sulawesi Tengah sehingga dapat memberikan kontribusi penting bagi penguatan kapasitas otonomi desa di Sulawesi Tengah secara khusus dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Kemudian, pada gilirannya dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan kebijakan maupun langkah-langkah konkrit oleh pemerintah Propinsi dan Kabupaten yang secara koordinatif memiliki hubungan dengan
pengembangan kapasitas pelaksanaan dan pengembangan otonomi desa berdasarkan prinsip-prinsip good governance di tingkat paling bawah atau desa.
Selanjutnya, diharapkan out put penelitian ini selain membentuk model penguatan kapasitas otonomi desa secara maksimal juga mengembangkan model kewenangan desa berupa kewenangan hak asal usul, kewenangan bidang pemerintahan desa atau otonomi desa, dan kewenangan di bidang pembangunan desa. Kewenangan ini erat hubungannya dengan: Adat istiadat, budaya, norma dan nilai yang hidup serta berkembang di desa setempat seperti kegiatan keagamaan, hak ulayat, warisan, upacara adat, tata tertib kehidupan kelompok terhadap lingkungan dan lain sebagainya. Kewenangan di bidang pemerintahan berupa: Penetapan bentuk dan susunan organisasi pemerintahan desa; Pembentukan, penghapusan dan penggabungan desa; Pencalonan, pemilihan dan penetapan kepala desa; Pencalonan, pemilihan dan penetapan perangkat desa;
pembentukan dan penetapan Badan Perwakilan Desa; Pencalonan, pemilihan dan penetapan anggota BPD; Penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa; Pemberdayaan dan pelestarian lembaga adat; penetapan pemerintahan desa; Penetapan retribusi;
Penetapan peraturan desa; Penetapan batas desa; Penetapan kerjasama antar desa; Penetapan pinjaman desa; Penetapan dan pembentukan BUM desa atau perusahaan desa; Pengeluaran izin skala desa; Penetapan tanah kas desa; Pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat; Penetapan pengelolaan tanah kas desa, tanah adat dan aset desa lain sesuai hak ulayat masyarakat setempat;
Pengelolaan tugas pembantuan; Pengelolaan dana atas bagi hasil perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten.
Kewenangan di bidang pembangunan desa antara lain:
pertanian, pertambangan dan energi, kehutanan dan perkebunan, perindustrian dan perdagangan, perkoperasian, ketenagakerjaan, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, sosial, pekerjaan umum, perhubungan, lingkungan hidup, politik dan administrasi publik,
perimbangan keuangan, tugas pembantuan, pariwisata, pertanahan, kependudukan, kesatuan bangsa dan perlindungan masyarakat.
Menurut UNDP (United Nation Development Program) atau Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa bahwa prinsip-prinsip pemerintahan3 yang baik adalah: Partisipatif (Participation) adalah pelibatan masyarakat secara luas dalam keseluruhan proses pembangunan desa baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penegakan Hukum (law inforcement) merupakan seperangkat alat untuk menciptakan ketertiban dan keharmonisan masyarakat, untuk itu penghargaan terhadapnya adalah melalui penegakan secara disiplin tanpa diskriminasi (tanpa pandang bulu). Salah satu elemen penting di desa adalah hukum adat yang juga harus ditegakkan oleh pemuka adat. Keterbukaan (Transparency) sebagai proses pembangunan harus memudahkan masyarakat dalam menerima informasi terhadap keseluruhan proses pembangunan desa, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada evaluasi pembangunan oleh Badan perwakilan Desa. Responsif (Responsiveness) yaitu penghargaan kepada masyarakat luas dalam memberikan berbagai masukan baik berupa dukungan maupun tuntutan kepada pemerintah desa dan pemerintah desa memberikan respon terhadap masukan dukungan dan tuntutan tersebut. Kesetaraan (Equity) sebagai pemberian kesempatan yang sama kepada seluruh warga desa tanpa pengecualian untuk terlibat dalam pembangunan desa atau dalam menikmati hasil pembangunan desa. Visi yang strategis (strategic vision) dengan membangun cita-cita strategis yang memiliki perhitungan jauh kedepan. Efektif dan efisien (effectivness and efficiency) yakni pengoptimalan sumber daya setempat baik SDM maupun SDA secara tepat, sehingga tidak terjadi pemborosan atau biaya pembangunan yang tinggi. Profesionalisme (Professionalism) yaitu sikap profesionalisme dalam pemerintahan desa sebagai pemberian pelayanan yang mudah didapat, cepat,
3 Ramlan Subakti, Memahami Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Sarana Indonesia, 1992), hal. 167.
teliti dan terjangkau oleh masyarakat desa secara luas sesuai tujuan negara.4 Akuntabilitas (accountability) yakni adanya mekanisme pertanggungjawaban terhadap seluruh pelaku pembangunan desa baik oleh pemerintah desa, sektor swasta (pelaku ekonomi di desa yang menggunakan anggaran desa) maupun kelembagaan masyarakat desa yang kepengurusannya melalui pemilihan langsung oleh masyarakat desa maupun oleh Badan Perwakilan Desa dan Pemerintah Desa. Contohnya Kepala Desa harus bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. Pengawasan (supervision) yakni penerapan kontrol kepada pelaku pembangunan dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara perwakilan melalui mekanisme monitoring dan evaluasi secara jelas.5
UUD 1945 pada pasal 18, dikemukakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah propinsi dan daerah propinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang tiap-tiap propinsi, kabupaten, kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan Undang Undang. Yosef Riwu Kaho mengemukan bahwa pemerintah daerah (local government) adalah bagian dari negara atau bangsa yang berdaulat yang dibentuk secara politis berdasarkan UU yang memiliki badan yang menjalankan pemerintahan yang dipilih masyarakat daerah tersebut dan dilengkapi dengan kewenangan untuk membuat peraturan, memungut pajak serta memberikan pelayanan kepada warga yang ada dalam wilayah kekuasaannya. Sedangkan di dalam UU tentang pemerintahan daerah pada bab 1, pasal 1/6, dikemukakan bahwa pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Adapun pengertian pemerintah daerah dalam Undang-Undang No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dikemukakan dalam pasal satu ayat 3 bahwa pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
4 Martin Jimung, Politik Lokal dan Pemerintah Daerah, dalam Perspektif otonomi Daerah ( Jogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2005), hal.41.
5 Baca UNDP 1997.
daerah. Konsep pemerintah/pemerintahan daerah tidak dapat dipisahkan dengan konsep otonomi daerah dan daerah otonom.6 Otonomi daerah menjadi kosakata baru bagi sebagian penduduk Indonesia setelah pemerintah mengundangkan dua Undang-Undang pada tahun 1999 yang berkenan dengan pelaksanaan otonomi daerah di Indoonesia. Kedua Undang-Undang tersebut direvisi pada tahun 2004 dengan tidak mengubah nama, yakni Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintah Daerah.
Regulasi ini secara otomatis menjanjikan pendelegasian wewenang yang lebih besar bagi daerah, terutama kota7. Sejalan dengan itu, Supomo menyatakan bahwa otonomi daerah sebagai prinsip berarti menghormati kehidupan regional menurut wilayah dan sifat daerah lain karena itu pemerintah harus menjauhkan segala urusan yang bermaksud akan menguniformisir seluruh daerah menurut satu model.8 Definisi lainnya yang bersifat normatif dapat dilihat dalam berbagai produk perundang-undangan. Otonomi daerah menurut undang-undang nomor 5 tahun 1974 adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Sedangkan dalam UU nomor 22 tahun 1999 tertulis bahwa otonomi daerah adalah kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun undang-undang no 32 tahun 2004 tertulis bahwa otonomi daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
6 Martin Jimung, Op. Cit., hal. 40.
7 Bungaran Antonius Simanjuntak (ed), Otonomi Daerah, Etnonasionalisme, dan Masa Depan Indonesia. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011), hal. 1.
8 Rozali Abdullah, Pelaksanaan Otonomi Luas dan Isu Federalisme Sebagai Suatu Alternatif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 11.
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan nilai dasar tersebut maka daerah otonom dalam rangka desentralisasi di Indonesia memiliki ciri-ciri: Daerah otonom, desentralisasi, penyerahan terkait dengan pengaturan dan pengurusan kepentingan masyarakat setempat (lokalitas) sesuai dengan prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.9
Konsep otonomi yang dijanjikan oleh undang-undang nomor 2 tahun 1999 dan undang-undang nomor 32 tentang pemerintahan daerah adalah suatu otonomi luas, dimana pemerintah daerah diberikan hak untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, setelah dikurangi lima kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat yakni bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama dan kewenangan tertentu di bidang lainnya. Dengan demikian kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah tidak terhingga sehingga setiap daerah dapat menyelenggarakan kewenangan sebanyak-banyaknya tergantung kebutuhan dan kemampuan daerah yang bersangkutan. Prinsip UUD tersebut di atas tidak berbeda dengan UU nomor 32 tahun 2004.
Penyerahan wewenang kepada daerah untuk menyelenggarakan rumah tangga daerahnya secara mandiri mempunyai empat ciri yakni 1) mempunyai aparatur pemerintah sendiri, 2) mempunyai urusan (wewenang) tertentu, 3) mempunyai wewenang mengelola sumber keuangan sendiri dan, 4) mempunyai wewenang membuat kebijakan publik sendiri.10 Berkaitan dengan prinsip ini maka otonomi daerah secara filosofis bertujuan untuk mewujudkan polical equality, local accountability, serta local responsiveness.11 Penyelenggaraan
9 Bataralipu, Implementasi Undang-Undang Otonomi Daerah bagi Kemajuan Daerah dan Penguatan Negara kesatuan Republik Indonesia (Makalah). Disajikan dalam penataran bela negara dosen daerah konflik tahun 2007, hal. 6
10 M. Arif Nasution, Demokratisasi dan Problema Otonomi Daerah (Bandung:
Mandar Maju, 2000), hal. 79.
11 Bataralipu, Op. Cit., hal. 3.
otonomi daerah harus dipahami terutama sebagai kewajiban untuk direalisasikan bagi kepentingan bersama. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat lima prinsip dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yakni: Prinsip kesatuan, prinsip riil dan tanggung jawab, prinsip pemencaran, prinsip keserasian, prisip pemberdayaan.
Adapun tugas pemerintah daerah dalam pemberdayaan masyarakat pada era otonomi daerah, dapat dikemukakan sebagai berikut:
Sebagai fasilitator, Menumbuhkan inisiatif dan kreativitas lokal, menciptakan suasana kondusif, dan membangun kerja sama dengan pihak-pihak luar seperti Perguruan Tinggi, LSM, tokoh agama, tokoh adat, investor dan sebagainya dalam langkah pembangunan daerah. Hal ini sejatinya menunjukkan besar bahwa otonomi daerah bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah, menciptakan sistem pembiayaan daerah yang adil, proporsional dan transparan, mewujudkan penyelenggaran pemerintah daerah yang transparan dan partisipasi serta mengurangi kesenjangan antardaerah. Bagi pemerintah pusat, otonomi daerah mempunyai kegunaan melepaskan beban pemerintahan pusat dari persoalan-persoalan di daerah, sehingga bisa lebih fokus menangani hal-hal yang bersifat makro dan berorientasi mempersiapkan Indonesia menghadapi dunia globalisasi12
PERJUANGAN IBU KOTA KE PEMEKARAN KABUPATEN
Pada tanggal 23 Februari 1982 Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Surat MENDAGRI nomor 135/725/PUOD perihal pemindahan Ibu Kota Kabupaten Donggala apabila Palu telah menjadi Kota Madya. Menganggapi keputusan MENDAGRI tersebut, maka pada tanggal 24 Mei 1983 Kerukunan Keluarga Besar Toraranga melalui surat nomor 39/P/KKBT/IPMAP/V/1983 menuntut pemindahan Ibukota Kabupaten Donggala di Parigi. Masalah pemindahan Ibukota Kabupaten Donggala mendapat respon dari
12 Bungaran Antonius Simanjuntak (ed), Loc.cit.