BAB I BAB I PENDAHULUAN
B. Kajian Teori
1. Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah a. Pengertian gerakan literasi Madrasah
Kata “literasi” berasal dari Bahasa latin literatus (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa inggris yang merujuk pada makna kemampuan membaca dan menulis, kemudian berkembang menjadi kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu. Pada awalnya literasi dimaknai “keberaksaraan” kemudian dimaknai “melek” atau
“keterpahaman”. “Melek baca dan tulis” awalnya ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal. Pemahaman literasi pada akhirnya tidak hanya merambah pada masalah baca tulis saja, bahkan sampai pada tahap multiliterassi.12
Gerakan literasi madrasah yaitu suatu usaha yang dilakukan pemerintah secara menyeluruh dengan tujuan untuk menjadikan madrasah sebagai organisasi masyarakat pembelajar dalam ranah Pendidikan dan menjadikan masyarakat yang kaya akan literasi sepanjang hayat dengan
12 Pangesti Wiedarti, Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar & Menengah Kemendikbud. 2018), 7.
19
melibatkan semua pihak mulai dari pemerintah, pendidik, peserta didik, ataupun orang tua wali.13
Gerakan literasi madrasah atau yang biasa disebut GELEM merupakan suatu program gerakan ayo membangun madrasah yang dilaksanakan oleh Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur yang mengacu pada program pemerintah Pendidikan dan kebudayaan yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan tujuan yang sama dan kegiatan yang sama. Literasi sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdasa melalui berbagai aktivitas, seperti membaca, melihat, menyimak, menulis dan/atau berbicara.14
Gerakan Literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.15 Gerakan literasi sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dalam menghadapi masa yang akan datang di era globalisasi. Program gerakan literasi sekolah merupakan kegiatan yang melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid), masyarakat dan pemangku kepantingan dibawah koordinasi Direktorat Jenderal
13 Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. “Gerakan Literasi Madrasah (GELEM).
14 Pratiwi Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama
(Jakarta: Direktorat Pembinaan sekolah Menengah Pertama Kemendikbud. 2016), 2.
15 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 2.
20
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini diharapkan dapat mendorong untuk dilaksanakan bersama-sama dan menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.16
Jadi, gerakan literasi madrasah (GELEM) merupakan suatu upaya perintah dalam meningkatkan kemampuan mengakses, memahami, menggunakan dan juga menjadikan masyarakat yang kaya akan literasi sepanjang hayat melalui gerakan literasi sekolah (GLS) dengan melalui program gerakan literasi sekolah ini diharapkan mampu mendorong siswa untuk memiliki kebiasaan dalam membaca. Apabila pembiasaan membaca sudah terlaksana dan terbentuk maka membaca akan menjadi suatu kebutuhan. Dan jika membaca sudah menjadi suatu kebutuhan, maka membaca akan menjadi suatu kebiasaan yang akan terus dilaksanakan.
b. Tujuan Gerakan literasi sekolah 1) Tujuan Umum
Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.17
16 Dewi Ratna Sari, “Hubungan Kualitas Penerapan Gerakan Literasi Sekolah dengan
Kemandirian Belajar Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Sidoarjo,” Kajian Moral dan Kewarganegaraan 5, No 3 (2017), 993.
17 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 2
21
2) Tujuan Khusus
a)
Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.b)
Meningkatkan kapasistas warga dan lingkungan sekolah agar literat.c)
Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.d)
Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membacac.
Ruang Lingkup Gerakan literasi sekolahAdapun ruang lingkup GLS di lembaga sekolah menengah Pertama meliputi:
1)
Lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana dan prasarana literasi)2)
Lingkungan sosial dan efektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi.3)
Lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).18d. Tahapan-Tahapan Gerakan Literasi Sekolah
Menurut Pratiwi Retnaningdyah, dkk (2016: 7-40) terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan kegiatan literasi sekolah di sekolah menengah pertama yang dapat dilaksanakan, yaitu
18 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 3
22
1) Tahap Pembiasaan
Tahapan pertama yaitu tahap pembiasaan, pada tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca di sekolah. Ada dua jenis kegiatan membaca untuk kesenangan, yaitu membaca dalam hati dan membacakan nyaring oleh guru. Dengan tujuan (1) meningkatkan rasa cinta baca diluar jam pelajaran, (2) meningkatkan kemampuan memahami bacaan, (3) meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik, dan (4) menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan. Dalam tahap ini, iklim literasi sekolah lebih diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik seperti (pengadaan buku-buku non pelajaran, sudut bac akelas untuk koleksi bahan bacaan, dan adanya poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca).19
Adapun jenis kegiatan dalam tahap pembiasaan, yaitu : a) Membaca 15 menit sebelum pelajaran
1) Membaca
dalam hati Siswa dan guru bersama-sama membaca buku masing-masing dengan tenang selama 15 menit.
2) Membacakan nyaring
Saat membaca, guru membaca teks dengan pengucapan dan intonasi yang jelas, dan tidak terlalu cepat. Kemudian guru
19 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 7
23
mengajukan pertanyaan diantara kalimat untuk menggugah tanggapan siswa.
3) Bertanya tentang buku
Bertanya tentang buku penting dilakukan untuk memastikan bahwa siswa dapat menangkap isi buku yang telah dibaca, dan dapat memotivasi siswa untuk terus membaca b) Membangun lingkungan yang literat
1) Sudut baca di sekolah
Sekolah memanfaatkan sudut-sudut ataupun tempat lain yang strategis di sekolah untuk dilengkapi dengan sumber- sumber bacaan. hal ini bertujuan untuk membuka akses siswa pada sumber bacaan dengan lebih luas.
2) Menciptakan lingkungan karya teks
Untuk menumbuhkan budaya literasi, kegiatan 15 menit membaca perlu didukung oleh lingkungan yang kaya teks, seperti: karya-karya siswa (tulisan, gambar, dll), poster-poster terkait pelajaran, mading sekolah, dll.
3) Memilih buku bacaan di sekolah menengah
Jenis buku yang susuai untuk tingkat perkembangan kognitif dan psikologis siswa tingkat menengah pertama meliputi karya fiksi dan nonfiksi. Buku yang mengandung pesan nilai-nilai budi pekerti, mengembangkan kemampuan
24
berpikir kritis, kreatif, dan inofatif sesuai dengan tumbuh kembang siswa dalam tahap remaja awal.
2) Tahap Pengembangan
Pada tahap pengembangan ini sama dengan kegiatan pada taham pembiasaan, yang membedakannya adalah bahwa kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati dan membacakan nyaring) diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan. Dalam tahap ini, peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik.20
Adapun jenis kegiatan pada tahap pengembangan literasi sekolah yakni:
(a) Mengembangkan iklim literasi sekolah
Apabila dalam tahap pembiasaan sekolah mengutamakan pembenahan lingkungan fisik, dalam tahap pengembangan ini sekolah dapat mengembangkan lingkungan sosial dan efektif.
Lingkungan sosial dan efektif dalam iklim literasi sekolah, antara lain mendorong sekolah untuk memberikan penghargaan terhadap prestasi non akademik peserta didik, khususnya dalam kegiatan literasi.
20 Retnaningdyah, Panduan Gerakan Literasi Sekolah, 18.
25
(b) Menanggapi isi buku secara lisan ataupun tulisan
Dalam kegiatan menanggapi buku yang telah dibaca memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya tentang buku yang telah dibaca.
(c) Menulis komentar singkat terhadap buku yang dibaca di jurnal membaca harian
Jurnal membaca harian peserta didik dan guru dapat membantu untuk memantau jumlah dan jenis buku yang telah dibaca untuk kegiatan membaca 15 menit, terutama membaca dalam hati. Jurnal membaca dapat berupa buku, kartu, atau selembar kertas dalam portofolio kegiatan membaca. Guru dapat memeriksa jurnal membaca secara berkala, biasanya 1-2 minggu sekali.
3) Tahap Pembelajaran
Pada tahap pembelajaran ini, kegiatan berliterasi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami teks kemudian mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat. Dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, juga kemampuan dalam komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual dan digital) melalui kegiatan menanggapi teks dalam buku bacaan dan buku pelajaran.
26
Adapun jenis kegiatan pada tahap pembelajaran ini yaitu:
(a) Membaca 15 menit setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membaca buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca terpadu dan bersama. Dan juga siswa dituntut untuk mengembangkan kemampuan kritis misalnya dengan bertanya tentang materi pelajaran yang telah dibaca.
(b) Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam sebuah mata pelajaran (menggunakan peta konsep secara optimal), table perbandingan dsb.
(c) Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan efektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang bias menjadi referensi diluar buku teks pelajaran untuk menambah pengetahuan dalam mata pelajaran.
C. Implimentasi Gerakan Literasi Madrasah dalam Permendikbud No.23 Tahun 2015
Pada abad ke-21 ini, kemampuan literasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif.
Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Berbicara tentang kemampuan literasi siswa di Indonesia, kemampuan literasi siswa Indonesia saat ini masih cukup memprihatinkan. Melihat pentingnya budaya ini pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang GLS (Gerakan Literasi Sekolah).
27
Kebijakan ini tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 untuk menumbuhkan minat baca melalui kegiatan 15 menit setiap hari membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Sehingga melalui gerakan ini diharapkan kemampuan literasi Indonesia akan semakin meningkat dan generasi mudanya akan semakin siap menghadapi persaingan internasional.21
GLS yang tertuang pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti diharapkan dapat diterapkan disekolah pada semua jenjang. Sasarannya tidak hanya peserta didik yang melaksanakan kegiatan GLS namun diharapkan semua warga sekolah juga dapat melaksanakan kegiatan GLS.
Pandangan GLS ini dapat kita lihat dari beberapa sudut pandang, antara lain sebagai berikut:
1) Segi pendidikan
Literasi kaitannya dengan dunia pendidikan, penggunaan berbagai jenis bentuk teks dan media memberikan peluang untuk memahami berbagai jenis makna yang berbeda. Teks yang bersifat multimodal juga mendorong untuk berpengalaman
21 “Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti,” 2015.
28
menginterprestasikan informasi, baik dalam tataran konteks global maupun lokal. Konsep literasi pada dunia pendidikan sebenarnya tidak terlepas dari konsep pedagogik seni, multiple ways of knowing, dan multiple intelegensi, yang telah terbukti memberikan nilai dalam meningkatkan efektivitas lingkungan belajar bagi siswa.
2) Segi komunikasi
Literasi dipandang sebagai alat yang dapat digunakan untuk beroleh dan mengomunikasikan informasi.
3) Segi budaya (fokus pada kelompok)
Literasi ditujukan agar mampu membentuk makna dalam kaitannya dengan kelompok sosial tertentu, lintas kelompok sosial, norma dan nilai yang berlaku dalam kelompok sosial tersebut.
4) Segi bahasa (fokus pada teks)
Literasi dilakukan agar mampu menggunakan berbagai sistem bahasa untuk mengkonstruksi makna tertentu. Bahasa sendiri mempunyai variasi bentuk makna dalam hubungannya dengan variasi fungsi makna.
5) Segi kognitif (berfokus pada berpikir)
Literasi ditujukan agar menggunakan berbagai proses dan strategi mental untuk membentuk makna tertentu berdasarkan teks, tujuan, dan audiens.
29
6) Segi pertumbuhan pengetahuan (berfokus pada pengetahuan) Literasi ditujukan agar mampu mengembangkan dimensi literasi yang dimilikinya hingga mampu menegoisasi makna yang terkandung dalam teks.
7) Segi agama Islam
Allah menurunkan surat Al-„Alaq sebelum surat-surat lain, yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk membaca sebelum memerintahkan yang lain. Hal ini tentu karena mengingat betapa pentingnya membaca. Makna Iqra‟ bukan sekadar bacalah, tetapi budayakanlah menelaah, menganalisis, mengkaji, dan meneliti.22 2. Pembelajaran Aqidah Akhlak
a). Pengertian Aqidah Akhlak
Mata pelajaran Akidah Akhlak ini merupakan cabang dari Pendidikan Agama Islam. Menurut Zakiyah Darajat Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peseta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Kemudian menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.23 Adapun pengertian pembelajaran adalah proses, cara perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup yang belajar. Pembelajaran dalam proses pendidikan adalah proses interaksi peserta didik dengan
22 Yunus Abidin, Mulyati Tita, dan Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2017),1-4.
23 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Bebasis Kompetensi (Konsep
Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 130.
30
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Ruang lingkup pembelajaran dapat terjadi pada setiap waktu, keadaan, tempat atau lingkungan dan cakupan materi ,termasuk dalam hal ini mata pelajaran akidah akhlak yang diajarkan.24
Kata aqidah juga berasal dari bahasa Arab yaitu Aqoda- ya‟qudu-aqidatan. 25 Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Ada juga ahli yang mendefinisikan bahwa aqidah ialah kesimpulan pandangan atau kesimpulan ajaran yang diyakini oleh hati seseorang.Dengan demikian secara etimologis, akidah adalah kepercayaan atau keyakinan yang benar menetap dan melekat dihati manusia.26
Secara terminologi menurut Hasan Al-Bana, aqoid bentuk jamak dari aqidah adalah beberapa perkara wajib yang diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, yang menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu- raguan.Sedangkan menurut Abu Bakar Jabir al-Jaziry sebagaimana dikutip Yunahar Ilyas mengatakan „aqidah‟ adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu di patrikan (oleh
24 M. hidayat Ginanjar, Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Ahlak
Al Karimah Peserta Didik (Jurnal Edukasi Islam Jurnal Pendidikan Islam Vol. 06 No.12, Juli 2017),7.
25 Taufik Yunansyah, Buku Akidah Akhlak Cetakan Pertama, (Jakata: Grafindo Media
Pratama,2006), 3.
26 hidayat Ginanjar, Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Ahlak Al-
Karimah Peserta Didik
31
manusia) di dalam hati serta diyakini kesahihannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.27
Mukminin menggambarkan ciri-ciri Akidah Islam sebagai berikut:
(a) Akidah didasarkan pada keyakinan hati, tidak dengan serba rasional, sebab ada masalah tertentu yang tidak rasional dalam akidah;
(b) Akidah Islam sesuai dengan fitrah manusia sehingga pelaksanaan Akidah menimbulkan ketenangan dan ketrentaman
(c) Akidah Islam di asumsikan sebagai perjanjian yang kokoh, maka dalam pelaksanaannya akidah harus penuh dengan keyakinan tanpa disertai dengan kebimbangan dan keraguan
(d) Akidah Islam tidak hanya diyakini lebih lanjut perlu pengucapan dengan kalimat “thaiyibah” dan diamalkan dengan perbuatan yang baik.
(e) Keyakinan dalam akidah Islam meupakan masalah yang seempiris, maka dalil yang digunakan dalam pencarian kebenaran tidak hanya berdasarkan indra dan kemampuan manusia melainkan membutuhkan usaha yang dibawa oleh Rasul allah swt.28
Menurut Bahasa Yunani istilah Akhlak dipengaruhi istilah Ethos, atau Ethios atau etika (tanpa memakai huruf H) yang mengandung arti
27 Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, Cet. XIV, (Yogyakarta: LPPI (Lembaga Pengkajian dan
Pengamalan Islam), 2011), 1
28 Muhaemin et at. Kawasan dan Wawasan Study Islam, (Jakarta: Kencana Wardana Media, 2005),
2
32
etika yang bermakna usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Dan etika itu adalah sebuah ilmu bukan sebuah ajaran.29
Dari beberapa pengertian tentang akhlak tersebut mempunyai pengertian dan tujuan yang sama yakni akhlak adalah kehendak yang tetap dalam jiwa manusia yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan dengan mudah. Jadi akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga darisitu timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Aqidah dan Akhlak mempunyai hubungan yang sangat erat. Aqidah merupakan akar atau pokok Agama, sedangkan akhlak merupakan sikap hidup atau kepribadian manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh Aqidah yang kokoh. Dengan kata lain, Akhlak merupakan manifestasi dari keimanan(Aqidah).
Dengan demikian dapat disimpulkan pengertian mata pelajaran akidah akhlak yaitu suatu ilmu yang memberikan pengetahuan, pemahaman dan penghayatan tentang keyakinan seseorang yang melekat dalam hati yang berfungsi sebagai pandangan hidup, untuk selanjutnya dapat diwujudakan dalam kehidupan nyata. Pemberian mata pelajaran akidah akhlak sangat penting diberikan di sekolah.
29 Zahrudin A R dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2004), 2-3
33
Yakni sebagai bagian integral dari pendidikan agama islam, meskipun memang bukan satu- satunya faktor dalam pembentukan watak dan kepribadian siswa, tetapi secara substansial mata pelajaran akidah akhlak memiliki konstribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlkaul karimah alam kehidupan sehari-hari.
b). Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah
Pembelajaran adalah proses belajar yang dibangun oleh pendidik untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan baru.
Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah BAB VIII butir B, bahwa tujuan pembelajaran akidah akhlak madrasah aliyah yaitu: pertama, menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt; kedua, mewujudkan manusia dalam kehidupan maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah islam.
34
Pembelajaran akidah akhlak membuat strategi literasi dalam pembelajaran akidah akhlak. Dimana hal tersebut terlihat dari adanya:
1) Pemantauan Pemahaman Teks materi Pembelajaran
Penggunaan pemahaman wacana atau teks dalam pembelajaran merupakan salah satu karakteristik gerakan literasi dalam pembelajaran yang perlu digunakan oleh guru aqidah akhlak, karena dapat membantu peserta didik memahami dengan baik teks yang di bacanya atau materi yang sedang di pelajarinya.
2) Penggunaan Berbagai Moda/ Model selama pembelajaran Istilah teks dalam literasi memiliki makna yang luas, teks dalam literasi ini tidak merujuk pada teks tertulis, namum juga bisa berbentuk audio, visual, audio visual, verbal dan lain sebagainya. Teks sendiri dapat berbentuk digital maupun non digital , berbagai teks tersebut dalam pembelajaran akidah akhlak disebut juga multi modal teks.
3) Instruksi yang jelas dan Eksplisit oleh guru
Guru akidah akhlak yang menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan sadar akan menggunakan instruksi yang jelas khususnya dalam kegiatan berpikir. Pemberian instruksi yang jelas dari guru nantinya dapat memudahkan peserta didik dalam mengerjakan tugas.
4) Respon terhadap berbagai Pertanyaan
35
Respon terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik merupakan cara guru untuk memahamkan peserta didik tersebut. Jika ada yang bertanya mengenai hal yang belum di fahami maka guru memberikan respon yang positif.
5) Membuat Pertanyaan
Pada kegiatan pembelajaran aqidah akhlak berbasis literasi, membuat pertanyaan merupakan hal yang terpenting , karena kegiatan tersebut dapat membantu mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik, rasa ingin tahu juga memiliki kaitan yang erat dengan literasi.
6) Meringkas isi materi
Tidak hanya sekedar membaca, kecakapan literasi juga dapat diasah dengan kegiatan meringkas isi materi teks (Meresume).
Pemahaman yang sudah kita peroleh perlu diungkapkan, baik melalui tulisan, lisan atau lainya. Kebanyakan orang bahwa meringkas merupakan kegiatan menyerdehanakan isi dari sebuah materi. Tetapi, meringkas dalam konteks juga berarti mengidentifikasi gagasan utama, menceritakan kembali teks yang sudah dibaca, membuat isi sintetis, dan membuat isi pertanyaan tentang isi materi.30
Pembelajaran akidah akhlak untuk siswa madrasah merupakan suatu tindakan melatih pikiran siswa sedemikian rupa sehingga dalam
30 Rati syahfitri, kamaliah. Implementasi pembelajaran akidah akhlak berbasis literasi dikelas VIII
Mts Miftahul ula Desa pematang cengal langkat.khazanah: jurnal of islamic studies volume 1, nomor 2, mei 2022)
36
sikap hidup dan tindakan dipengaruhi oleh nilai spritual. Pembelajaran akidah akhlak sasaranya adalah pembentukan watak, sikap, tingkah- laku bahkan pendewasaan seluruh aspek-aspek kepribadian anak, karena anak lebih banyak waktunya bersama orang tua, maka pembelajaran akhlak juga dilakukan oleh orang tua.
Menurut Zuhari dkk, guru agama Islam (guru Akidah Akhlak) merupakan pendidikan yang mempunyai tanggung jawab dalam membentuk kepribadian Islam anak didik, serta bertanggung jawab terhadap Allah SWT. Zuhairi dkk, juga membagi tugas guru agama Islam sebagai berikut:
(a) Mengajarkan pengetahuan islam, seperti menceritakan awal mula Islam tersebar, pergantian khalifah di zamannya, dan kehidupan Sahabat-sahabat Nabi.
(b) Menanamkan keimanan dalam jiwa, seperti menyelipkan konten Islami ketika bercerita dengan para peserta didik, menceritakan bagaimana cara nabi beribadah, kemudian mengajak anak mengaktualisasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.
(c) Mendidik anak agar taat menjalankan agama. Hal ini bisa terealisasikan apabila guru atau orang tua mengajak peserta didik dengan cara yang baik seperti, mencontohkan selalu membaca Al Quran setiap selesai shalat. Maka peserta didik akan meniru hal tersebut.