• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V BAHASA DALAM KARANGAN

5.2 Kalimat Efektif

bahasa Indonesia, tetapi strukturnya dipengaruhi oleh bahasa daerah.

Hal itu pun harus dihindari sedapat mungkin.

Dengan memerhatikan sejumlah pengertian kalimat di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah bentuk pengungkapan yang dituangkan melalui kata atau kata-kata yang selesai dan menunjukkan pikiran yang lengkap. Sebuah kalimat jika dituliskan, memiliki tanda yang mudah untuk diketahui; sebuah kalimat dimulai dengan huruf besar (kapital) dan diakhiri dengan tanda titik (.) atau tanda tanya (?) ataupun tanda seru (!)

Pembicaraan mengenai kalimat efektif ini tidak dititikberatkan pada segi tata bahasa, tetapi lebih disesuaikan dengan keperluan pembuatan karangan.

Sekarang, apakah yang dimaksud dengan kalimat efektif? Gorys Keraf (1980) menyatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat seperti yang disebutkan di bawah ini.

1) secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis; dan

2) sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

Menurut Zainal Arifin dan Amran tasai (1987) bahwa kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Sabarti dkk (1985) menyatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang jelas dan baik, serta mudah dipahami orang lain.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat dika- takan efektif apabila kalimat itu mudah dipahami dan sesuai dengan makna yang dikandung dalam kalimat itu sendiri, sehingga penerima kalimat memahami dengan tepat maksud penyampai kalimat. Selain itu, kalimat efektif harus mencerminkan pemakaian kaidah bahasa yang benar.

Memang tidak mudah untuk mencapai kefektifan kalimat, tetapi paling tidak kita berusaha agar kalimat yang kita buat tidak mempu- nyai makna ganda ataupun rancu. Dengan demikian, kita terhindar dari pembuatan kalimat yang bertele-tele dan menjenuhkan pembaca.

Di sinilah perlunya kecermatan kita dalam membuat setiap kalimat yang akan kita masukkan ke karangan.

Untuk membuat kalimat menjadi efektif, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:

1) kesepadanan dan kesatuan antara struktur bahasa dengan jalan pikiran yang bisa diterima atau masuk akal;

2) kesejajaran bentuk bahasa yang digunakan;

3) penekanan bagian tertentu dalam kalimat yang dimaksudkan untuk memperjelas dan mengungkapkan ide pokok;

4) kehematan dalam memakai kata, sesuai dengan muatan yang dikehendaki kalimat; dan

5) kevariasian atau keragaman dalam cara pengungkapan yang dimaksudkan untuk menimbulkan daya tarik dan menghindari adanya kebosanan atau kejenuhan.

Dalam sebuah kalimat dituntut adanya kejelasan unsur-unsur kalimat, yaitu: subjek, predikat, objek, dan keterangan. Suatu kalimat minimal harus ada subjek dan predikat. Subjek berarti inti pembicaraan; predikat berarti unsur yang berfungsi sebagai penjelas dan pencerita terhadap inti pembicaraan itu.

Marilah kita perhatikan beberapa contoh berikut ini:

1) Kita mendambakan kedamaian dalam hidup 2) Para pelajar merupakan bagian generasi muda

3) Film yang bermutu itu berhasil memukau ribuan penonton 4) Aulia Akbar menjadi juara pertama dalam pertandingan catur di

kecamatan itu.

Bagian yang dicetak miring di atas disebut subjek (inti pembicaraan); bagian lainnya merupakan predikat yang disertai objek dan keterangan.

Selanjutnya, perhatikan pula kalimat-kalimat di bawah ini:

1) Kepada para petani diharap mendaftarkan diri di KUD

2) Di dalam musyawarah itu merupakan bukti kerja sama antar- warga desa itu

3) Di sekolah-sekolah sudah mempunyai perpustakaan 4) Daripada emas cincin itu dibuat.

Kalimat-kalimat di atas tampak janggal, subjeknya kurang jelas, sehingga kurang mencerminkan jalan berpikir yang baik. Kalimat- kalimat itu dapat kita ubah agar menjadi jelas dan mudah dipahami.

1) Para petani diharapkan mendaftarkan diri ke KUD

2) Musyawarah itu merupakan bukti kerja sama antarwarga desa itu

3) Sekolah-sekolah sudah mempunyai perpustakaan 4) Cincin itu dibuat dari emas.

Jika kita ingin menggabungkan dua buah kalimat menjadi sebuah kalimat, maka kalimat yang merupakan hasil penggabungan itu hendaknya jangan sampai bertele-tele. Bila dalam penggabungan itu kita memakai kata dan, hasilnya ialah kalimat majemuk setara;

jika kita menggunakan kata yang, hasilnya ialah kalimat majemuk bertingkat, maksudnya, kalimat yang baru itu terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Seperti penggabungan berikut ini:

1) Petani di Desa tambangan merasakan bahwa hasil panen tahun ini menurun

2) Peningkatan hasil panen merupakan tugas berat para PPL.

Kedua kalimat di atas dapat digabungkan menjadi sebuah kalimat sebagai berikut:

– Petani di Desa Tambangan merasakan bahwa hasil panen tahun ini menurun dan menurun dan peningkatannya merupakan tugas berat para PPL.

Kita perhatikan lagi contoh penggabungan berikut:

1) Kongres Bahasa Indonesia V diadakan di Jakarta

2) Kongres itu membicarakan berbagai masalah yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan hubungannya dengan pembangunan nasional.

Kedua kalimat di atas sebaiknya digabungkan menjadi kalimat berikut ini:

– Kongres Bahasa Indonesia V yang diadakan di Jakarta membicarakan berbagai masalah yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan hubungannya dengan pembangunan nasional.

Untuk menjaga keutuhan pikiran yang terkandung dalam sebuah kalimat, harus diperhatikan penggunaan kata-kata yang menyatakan sebab, waktu, akibat, dan tujuan. Penggunaan kata karena menyatakan sebab. Contohnya:

1) Karena kebakaran besar melanda desa itu, warga desa mengungsi ke pulau seberang

2) Karena pekerjaan di tempat itu dapat memberikan jaminan hidup yang layak untuk keluarganya, ia memutuskan akan mencari pekerjaan di daerah yang baru dibuka itu.

Penggunaan kata ketika menyatakan waktu. Contohnya:

1) Ketika kebakaran besar melanda desa itu, warga desa mengungsi ke pulau seberang

2) Ketika pekerjaan di tempat itu dapat memberikan jaminan hidup yang layak untuk keluarganya, ia memutuskan akan mencari pekerjaan di daerah yang baru dibuka itu.

Penggunaan kata sehingga menyatakan akibat. Hal itu melihat dari penggabungan dua kalimat berikut ini:

1) Semua tata tertib rapat telah ditetapkan

2) Para anggota KUD tidak semuanya saja mengeluarkan pendapat.

Kedua kalimat di atas menjadi kalimat berikut:

– Semua tata tertib rapat telah ditetapkan, sehingga para anggota KUD tidak semuanya saja mengeluarkan pendapat.

Penggunaan kata agar atau supaya menyatakan tujuan.

Contohnya:

– Semua tata tertib rapat telah ditetapkan agar para anggota KUD tidak semuanya saja mengeluarkan pendapat.

Pemakaian kata karena, ketika, sehingga, dan agar/supaya tidak dapat sembarangan, tetapi semuanya harus mencerminkan jalan pikiran penulisnya. Jika penulis ingin menyampaikan hal yang menya- takan sebab, maka ia harus menggunakan kata karena; bila hendak manyatakan tentang waktu, ia menggunakan ketika; dan penggunaan kata yang lainnya.

Tampak bahwa pemakaian kata-kata itu mempunyai kaitan yang erat dengan sejumlah pertanyaan yang dapat muncul dalam menghadapi suatu pembicaraan.

Apa sebab terjadi begitu? Kata karena dapat dipakai untuk menjawabnya. Kapan peristiwa itu terjadi? Kata ketika lebih cocok digunakan. Demikian pula untuk kata-kata yang lainnya.

Pemakaian kata terjemahan di mana (where) dan yang mana (which) sering salah. Contohnya sebagai berikut:

1) Desa di mana ia dilahirkan, sekarang telah mengalami kemajuan yang pesat

2) Para pelajar memerlukan perpustakaan yang mana perpustakaan itu harus dapat mencukupi buku-buku dan bahan bacaan lainnya untuk menunjang keberhasilan belajar mereka

3) Seorang penulis pemula sebelum mengarang sebaiknya membuat kerangka karangan yang cukup terperinci, untuk mana diperlukan kecermatan dan ketekunan

4) Setelah kita mendengarkan dan meresap kan pengarahan yang mana dikemukakan oleh Pak Lurah, maka jelaslah hal yang akan kita kerjakan dalam pemugaran bangunan tua yang bersejarah itu.

Dalam pemakaian kata di mana dan yang mana yang seharus- nya digunakan untuk kalimat tanya, ternyata telah menyimpang.

Bahkan sering kita temui berbagai penggunaannya yang mengagetkan, seperti kata untuk mana, dari mana, dan hal mana. Hal semacam itu dapat mengaburkan makna atau maksud kalimat.

Kita juga perlu memerhatikan panjang-pendek kalimat. Sebuah kalimat tidak mesti selalu panjang atau selalu pendek. Kita membuat kalimat yang panjang karena memang diperlukan. Sebaliknya, kita menyusun kalimat pendek karena situasinya memang tepat. Yang penting ialah bahwa dalam pembentukan kalimat, jangan sampai terjadi penumpukan ide pokok. Jika sejumlah ide pokok telah ter- tumpuk, sewajarnya dipecah atau dibagi ke dalam beberapa kalimat, sehingga untuk setiap kalimat mempunyai satu ide pokok.

Marilah kita perhatikan contoh berikut.

– Daerah Batu Benawa Pagat dikenal sebagai daerah wisata yang amat menonjol di Kalimantan Selatan, letaknya sekitar 165 km dari Banjarmasin, alamnya yang indah dan air sungai nya yang jernih, batu-batu yang kukuh melekat di tepi sungai dan beberapa di antaranya tepat terletak di tengah sungai dan konon Batu Benawa Pagat menyimpan suatu cerita tentang Raden Pengantin yang durhaka kepada ibunya.

Kalimat di atas terlalu panjang dan ide-ide pokoknya saling berdesakan. Kalimat tersebut dapat dipecah menjadi beberapa kali- mat.

– Daerah Batu Benawa Pagat dikenal sebagai daerah wisata yang amat menonjol di Kalimantan Selatan. Letak daerah itu sekitar 165 km dari Banjarmasin. Alamnya yang indah dan air sungai nya yang jernih. Ada batu-batu yang kukuh melekat di tepi sungai dan beberapa di antaranya berada di tengah sungai. Konon Batu Benawa Pagat menyimpan suatu cerita tentang Raden Pengantin yang durhaka kepada ibunya.

Penumpukan ide pokok dapat terjadi karena ketidaksengajaan atau keasyikan, sehingga bermacam ide pokok muncul seketika serta langsung dituangkan ke dalam kalimat yang teramat panjang. Karena itu, kita perlu meninjau kembali setiap ide yang muncul untuk ditata sedemikian rupa. Sebuah kalimat yang terlalu panjang dan mengan- dung beberapa ide pokok, sebaiknya kita pecah menjadi beberapa kalimat agar dapat memperjelas tiap-tiap ide pokok yang disampai- kan. Dengan demikian, pembaca merasa dituntun untuk memahami kalimat demi kalimat, tanpa harus berpikir dua-tiga kali.

Persyaratan kedua agar kalimat menjadi efektif ialah adanya kesejajaran bentuk bahasa yang digunakan. Kesejajaran bentuk bahasa yang dimaksud ialah adanya kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat. Apabila kita menggunakan awalan me- pada bentuk pertama, maka pada bentuk kedua dan seterusnya kita juga menggunakan awalan me-. Sebaliknya, jika kita menggunakan awalan di-, maka untuk seterusnya kita gunakan awalan di-. Mari kita perha- tikan contoh berikut.

1) Ia mengambil tas itu kemudian menyerahkannya kepada anak kecil

2) Kita semua tentu mendambakan kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan hidup

3) Bangunan yang bersejarah itu memerlukan pemeliharaan dan pemugaran

4) Kepala sekolah mengharapkan agar para pelajar dapat mematuhi tata tertib sekolah

5) Segala nasihat orang tua memang sewajarnya didengarkan, dicamkan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila tidak ada kesejajaran dalam kalimat, maka akan dapat menimbulkan kejanggalan, walaupun tidak mengaburkan makna

kalimat secara keseluruhan. Mari kita perhatikan contoh di bawah ini.

1) Media komunikasi memberikan segala informasi yang berharga, penanaman sikap ingin tahu, peningkatan daya pikir, dan mendidik kepada setiap orang akan pentingnya media komunikasi sebagai media untuk menambah ilmu pengetahuan

2) Rotan-rotan itu dikumpulkannya, lalu diikat nya dengan tali kemudian diletakkannya di teras rumah untuk menjualnya ke pasar.

Kedua kalimat di atas dapat kita perbaiki menjadi berikut ini.

1) Media komunikasi memberikan segala informasi yang berharga menanamkan sikap ingin tahu, meningkatkan daya pikir, dan mendidik kepada setiap orang akan pentingnya media komunikasi sebagai media untuk menambah ilmu pengetahuan

2) Rotan-rotan itu dikumpulkannya, lalu diikat nya dengan tali kemudian diletakkannya di teras rumah untuk di jualnya ke pasar.

Dengan adanya kesejajaran bentuk yang digunakan dalam kalimat, maka secara langsung mencerminkan kecermatan dan keje- lasan makna kalimat. Pembaca akan merasa lebih mudah memahami hal yang dimaksudkan penulis.

Bila hal itu kita kaitkan dengan banyaknya bentukan baru yang semakin berkembang sekarang, maka dalam membuat kalimat kita dapat lebih cermat dan hati-hati. Ada kata ketidakadilan, ketidak- beresan, ketidaknyamanan, ketidakbersihan, kekurang-stabilan, kekurangmapanan, keku angserasian, dikambinghitamkan, dirumah- kan, dikemukakan, diketengahkan, dialihbahasakan, dimasyarakat- kan, dipetieskan, dan sebagainya. Jika bentukan-bentukan itu hanya satu buah dipakai kalimat, maka tidak akan menimbulkan keraguan.

Mari kita perhatikan contoh berikut ini.

1) kekurangstabilan ekonomi di desa itu disebabkan oleh tingkah laku para tengkulak

2) Perkara itu jangan sampai dipetieskan

3) Ketidakbersihan lingkungan dapat menimbulkan berbagai bibit penyakit

4) Pendapat itu dikemukakannya secara jelas dan tegas

Persyaratan ketiga agar kalimat menjadi efektif ialah adanya penekanan bagian tertentu dalam kalimat. Penekanan dilakukan agar kalimat dapat lebih jelas.

Dalam penggunaan bahasa secara lisan pembicara mengungkap- kan hal yang dipentingkan dengan bantuan tinggi-rendah dan keras- lemahnya suara, serta dapat pula dengan cara mengulang kata-kata tertentu atau bagian yang dipentingkan.

Dalam penggunaan bahasa secara tertulis penekanan dilakukan dengan berbagai cara. Ada penekanan dengan cara menempat-kannya pada awal kalimat; ada penekanan dengan cara mengulang kata- kata tertentu; ada penekanan dengan partikel pun atau lah; ada dengan cara atau gaya mempertentangkan nya; dan ada dengan cara mengurutkan bentukan tertentu untuk menyesuaikannya dengan jalan pikiran yang benar.

Penekanan dengan menempatkan bagian yang dipentingkan pada awal kalimat dapat kita lihat pada contoh berikut ini.

1) Kemampuan menulis pada hakikatnya tidak selalu ditentukan oleh tinggi-rendahnya latar belakang pendidikan

2) Membaca merupakan salah satu kebutuhan manusia

3) Kegiatan Pramuka sudah memasyarakat sampai ke desa-desa terpencil

4) Para tokoh masyarakat di desa itu menurut rencana akan menyelenggarakan musyawarah untuk membicarakan kemung- kinan didirikannya perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh segenap warga desa

5) Program Keluarga Berencana harus dilaksanakan secara terpadu, sehingga akan dicapai tujuan yang telah ditetapkan.

Kelima kalimat di atas dapat kita ubah letak tekanannya, sehingga unsur yang menjadi inti kalimat tetap dikedepankan. Peru- bahan kelima kalimat itu ialah sebagai berikut.

1) Pada hakikatnya kemampuan menulis tidak selalu ditentukan oleh tinggi-rendahnya latar belakang pendidikan

2) Salah satu kebutuhan manusia ialah membaca

3) Sampai ke desa-desa terpencil kegiatan Pramuka sudah memasyarakat

4) Menurut rencana, Para tokoh masyarakat di desa itu akan menyelenggarakan musyawarah untuk membicarakan kemung-

kinan didirikannya perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh segenap warga desa

5) Harus dilaksanakan secara terpadu program Keluarga Berencana, sehingga akan dicapai tujuan yang telah ditetapkan.

Kita dapat pula menekankan hal tertentu dengan cara mengu- lang kata atau kelompok kata dalam kalimat. Misalnya dalam kalimat berikut.

1) Kita tidak boleh berpangku tangan dalam meraih cita-cita sebab cita-cita keluar dari lubuk hati yang terdalam disertai tekad untuk maju; tanpa belajar dan bekerja keras; mustahil cita-cita akan menjadi kenyataan.

2) Sembahyang berarti mendidik jiwa agar menjadi suci; dengan sembahyang, seseorang akan merasa betapa kecil dirinya di hadapan Tuhan yang maha besar; dengan sembahyang akan mendidik seseorang untuk menghargai waktu dan tata tertib kehidupan; sembahyang memang cara yang paling tepat untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan.

3) Kemewahan bukan berarti lambang kebahagiaan; kemewahan akan dapat membawa seseorang ke arah perilaku yang tidak terpuji; kemewahan adalah gemerlapnya nilai-nilai kebendaan;

dan kemewahan hanya sebagai lambang ketidakpuasan.

Penekanan dalam kalimat dengan menggunakan partikel pun atau lah dapat kita lihat pada contoh berikut ini.

1) Hasan pun setuju dengan pendapat Karim tentang perlunya para pemuda membekali diri dengan berbagai keterampilan.

2) Seluruh soal itu dijawab Amir dengan teliti, sehingga tidak satu pun jawabannya salah.

3) Si Tonilah yang berhasil meraih peringkat pertama di kelas itu 4) Kota Martapuralah yang dikenal sebagai Kota Intan di Indone-

sia karena di sanalah banyak terdapat tambang intan

Penulis dapat juga mempertentangkan suatu maksud yang diungkapkan dengan kata-kata yang menarik untuk menekankan bagian yang menjadi inti kalimat. Contohnya sebagai berikut.

1) Orang yang kaya itu tidak sombong dan kikir, tetapi ramah dan dermawan

2) Hairani sebagai pelajar teladan di sekolah itu tidak memen- tingkan diri sendiri, tetapi dia suka bekerja sama dengan teman- teman dalam rangka memajukan sekolahnya

3) Kita sama sekali tidak dibenarkan untuk melupakan dan tidak menghargai jasa para pahlawan yang telah berkorban demi tegaknya kemerdekaan, tetapi kita harus mengenang nya dan kita isi kemerdekaan ini dengan belajar dan bekerja keras, sebagai tanda penghargaan kita atas segala pengorbanan yang mereka berikan

Untuk memperjelas makna suatu kalimat, seorang penulis dapat membuat urutan kata yang menciptakan ketepatan jalan pikiran yang diungkapkan. Contohnya seperti di bawah ini.

1) Jika ia menerima undangan untuk sarasehan iut, ia akan meng- hargai, menghadiri, dan mengikutinya dengan penuh kesungguhan 2) Pengusaha rotan itu telah memberikan uangnya untuk pemba- ngunan pesantren, bukan puluhan ribu rupiah, bukan pula ratusan ribu rupiah, tetapi telah menjadi jutaan rupiah

Selain sejumlah cara penekanan di atas, ada satu cara penekanan dalam kalimat, yaitu penekanan dengan cara mengulang bentuk yang ber sinonim atau berdekatan maknanya, baik yang terdiri dari satu kata ataupun kelompok kata. Hal itu dapat digolongkan sebagai gaya pengungkapan seorang penulis. Mari kita perhatikan contoh berikut.

1) Setiap orang mendambakan hidup yang sejahtera, hidup yang layak, hidup yang makmur, dan hidup yang terpenuhi segala kebutuhan sehari-hari

2) Mahasiswa hendaknya melatih diri untuk berpikir cermat, ber- pikir rasional, berpikir teratur, berpikir jauh ke depan, dan berpikir sesuai dengan kedudukannya sebagai insan terdidik 3) Anak hendaknya dididik untuk berlaku jujur, tidak berdusta,

tidak berbohong, berkata benar, dan menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya

Persyaratan yang keempat dalam menyusun suatu kalimat efektif ialah adanya kehematan dalam menyusun atau memakai kata, sesuai dengan muatan atau kandungan makna yang terdapat dalam

kalimat. Kata atau kelompok kata yang memang tidak perlu, haruslah dibuang. Untuk melakukan penghematan, diperlukan kecermatan dan daya berpikir yang teliti. Penghematan bukan berarti kita tidak boleh membuat kalimat yang panjang. Kita mengetahui bahwa jika dikatakan kalimat panjang, berarti banyak memuat kata. Pada prinsip- nya yang perlu diperhatikan ialah penting-tidaknya atau tepat-tidaknya suatu bentukan dimuat dalam kalimat.

Kehematan memakai kata dalam kalimat secara langsung merupakan pertanda ketidaksimpangsiuran suatu kalimat dan seka- ligus mencerminkan ketegasan hal yang akan disampaikan penulisnya.

Mari kita perhatikan contoh berikut ini

1) Para siswa segera tenang setelah mereka mengetahui wali kelas datang

2) Sekelompok pemuda itu segera mengubah rencananya setelah mereka bertemu dengan kepala desa pagi tadi

3) Abdurrahman ketika berkhotbah di masjid memakai baju lengan panjang berwarna putih

4) Warna merah muda adalah warna kesayangan Wati 5) Amir menghadiri rapat di balai desa itu hari Senin lalu

6) Mahasiswa dari Universitas Palangka Raya mengadakan kunjungan ke Universitas Lambung Mangkurat

7) Cincin itu terbuat daripada emas

8) Anak itu turun ke bawah melalui tangga yang telah disediakan 9) Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak yang

telah memberikan bantuan untuk menyelesaikan sengketa tanah seminggu yang lalu

10) Penyajian cerita dalam novel itu amat menarik sekali

Kalimat-kalimat yang tertera di atas dapat diperbaiki dengan cara membuang kata-kata atau bagian yang tidak penting (yang ber cetak miring) agar hemat dan sesuai dengan kaidah bahasa.

Penghematan dapat dilakukan dengan tidak mengulang subjek kalimat, meneliti makna kata agar tidak mubazir (pemakaian dua kata yang semakna), dan dengan memerhatikan fungsi suatu kata.

Kata putih berarti sudah termasuk warna; kata turun sudah pula berarti ke bawah. Kata dari dipakai untuk menyatakan arah (tempat) dan asal; kata daripada hanya digunakan untuk membandingkan suatu benda atau hal dengan benda yang lain. Kita harus teliti pula dalam menggunakan kata agar, supaya, untuk, guna, dan dalam rang-

ka. Kata-kata itu mempunyai makna yang hampir sama. Karena itu, dalam memasukkannya ke kalimat jangan sampai terulang atau mema- kainya secara berdampingan. Mari kita perhatikan contoh di bawah ini.

1) Penyuluhan hukum diselenggarakan agar supaya masyarakat tidak buta hukum

2) Penyuluhan hukum diselenggarakan dalam rangka untuk mena- namkan kesadaran masyarakat terhadap hukum

3) Guna untuk lebih menanamkan kesadaran masyarakat terhadap hukum, maka diselenggarakan lah penyuluhan hukum

Ketiga kalimat di atas dapat kita ubah menjadi:

1) Penyuluhan hukum diselenggarakan agar masyarakat tidak buta hukum

2) Agar masyarakat tidak buta hukum, maka diselenggarakan penyu- luhan hukum

3) Penyuluhan hukum diselenggarakan dalam rangka menanamkan kesadaran masyarakat terhadap hukum

4) Penyuluhan hukum diselenggarakan untuk menanamkan kesa- daran masyarakat terhadap hukum

5) Guna lebih menanamkan kesadaran masyarakat terhadap hukum, maka diselenggarakan penyuluhan hukum

6) Untuk lebih menanamkan kesadaran masyarakat terhadap hukum, maka diselenggarakan penyuluhan hukum

Pada dasarnya upaya penghematan pemakaian kata dalam kali- mat berjalan seiring dengan proses ketika kita akan menuangkan kata-kata itu ke dalam bentuk kalimat. Seharusnya tidak terjadi pembuangan kata atau pergantian kata bila kalimat sudah ditulis.

Hal itu tentu saja memerlukan latihan yang berkesinambungan agar tidak harus bekerja dua kali, menata kata-kata yang telah kita jadikan kalimat. Inilah yang dimaksud dengan “berpikir dahulu sebelum menulis”, sama dengan “berpikir dahulu sebelum berbicara”.

Persyaratan kelima agar kalimat yang dibuat menjadi efektif ialah adanya kevariasian atau keragaman dalam cara pengungkapan.

Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan kalimat lebih menarik dan tidak membosankan.