• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

B. Zakat Dalam Islam

4. Peruntukan Zakat

Ulama sepakat bahawa zakat hanya diwajibkan kepada seorang Muslim dewasa yang sehat, merdeka, dan memiliki kekayaan dalam jumlah tersebut dengan syarat-syarat tersebut35. Ulama juga menyadari bahwa zakat tidak diwajibkan bagi semua umat Islam. Zakat yang telah dibayarkan oleh seorang muslim kemudian dikembalikan atau dibagikan kepada pemerintah yang bertanggung jawab untuk memungutnya.

Pendistribusian ini adalah melalui golongan tertentu yang sebagaimana telah disebutkan Allah SWT dalam firmannya:

ِباَق ِ رلا ىِف َو ْمُهُب ْوُلُق ِةَفَّلَؤُمْلا َو اَهْيَلَع َنْيِلِماَعْلا َو ِنْيِك ٰسَمْلا َو ِءۤاَرَقُفْلِل ُتٰقَدَّصلا اَمَّنِا ْيِف َو َنْيِم ِراَغْلا َو

ْي ِرَف ِۗلْيِبَّسلا ِنْبا َو ِ هاللّٰ ِلْيِبَس ٌمْيِكَح ٌمْيِلَع ُ هاللّٰ َوۗ ِ هاللّٰ َن ِم ًةَض

Artinya: Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk

33Ilyas Supena. Manajemen Zakat, Semarang:Walisongo Press,2009, hlm.2

34 Arif wibowo. Distribusi Zakat Dalam Bentuk Peyertaan Modal Bergulir Sebagai Accelerator Kesetaraan Kesejahteraan. Hal.30

35 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqih Ibadah. Terj. Kamran As’ad Irsyady, dkk, Jakarta: PT Kalola Printing, Cet.IV,2015,hlm.395

25

orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (Q.S.At-Taubah:60)

Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60, Pendistribusian zakat yang sudah aktif muzzaki adalah kepada delapan golongan yang masing- masing dari merk yang berbeda-beda. Yang dimaksud dengan "golongan"

adalah setiap organisasi yang wajib memungut zakat. Namun, pernyataan ini tidak berlaku untuk faktor lain yang mempengaruhi distribusi zakat. Misalnya, berapa banyak porsi yang harus dibagikan kepada setiap golongan, atau golongan mana yang harus diprioritaskan dalam pengumpulan zakat. Adapun delapan orang yang dimaksudkan di antaranya:36.

1. Orang fakir

Orang fakir adalah orang yang tidak ada sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan tidak mapu berusaha. Atau, ini adalah mereka yang hanya memiliki cukup hati untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri37. 2. Orang orang miskin

Orang Miskin adalah orang yang hanya memiliki cukup hati untuk memenuhi kebutuhan dasarnya38. Dan, mereka akan mendapatkan kantong zakat yang akan membantu mereka mengurangi kebutuhan mereka selama setahun.

3. Para amil zakat

Mereka adalah petugas yang ditunjuk oleh pemimpin kaum muslimin untuk mengumpulkan zakat dari para

36Shaleh al- Fuzan. Fiqih Sehari-Hari, alih bahasa oleh Abdul Hayyie Al Khatani dkk, (Depok: Gemma Insani Press, 2005) Cet. 1, h. 279-281

37Al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi jilid 4, hlm.143

38Syuja’, Iqna’, jilid 1-2, hlm.199

26

pembayarnya, membaginya kepada orang orang yang berhak menerimanya39.

4. Orang muallaf

Orang orang muallaf ada dua macam yaitu orang orang kafir dan orang orang muslim40. Jika seorang Muslim tidak membayar zakat, ada kemungkinan besar dia masuk Islam.

Akibatnya, tujuan membayar zakat kepada mereka adalah untuk membantu mereka mencapai tujuan mereka dalam Islam. Atau, jika zakat dikumpulkan, itu akan membantu memastikan kesejahteraan orang lain. Seorang muallaf yang beragama Islam wajib mengeluarkan zakat untuk mempertahankan statusnya sebagai muslim.

5. Ar-Riqaab.

Ar-Riqaab sekelompok orang yang ingin meningkatkan diri tetapi kekurangan sumber daya keuangan untuk melakukannya41.

6. Al-Ghaarim

Al-Gharim adalah orang yang menanggung hutang. Ulama fiqih mengecualikan orang yang mempunyai hutang tersebut untuk berbuat maksiat kepada Allah kecuali orang tersebut sudah tobat serta bukan pula karena israf42.

7. Fii Sabilillah

Fii Sabiilillah adalah orang-orang yang berada di jalan allah43. Dalam hal zakat fii sabilillah, terdapat perbedaan pendapat ulama, menurut pendapat imam mazhab yang empat sabilillah adalah yang beperang secara suka rela

39Quraisy Syihab,Tafsir al-Misbah vol. 5,cet, 9,(Jakarta Lentera Hati, 2007), hlm.651

40Al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi jilid 4, hlm.143

41 Al-Malibary, Fathul Mu’ien,hlm.52

42Rasyid Rida, Tafsir al-Manar juz10, (Beirut:Dar al-Fikr, t.t.), hlm.498

43Zuhaily, Zakat Kajian Berbagai Mazhabcet. 3, hlm.288

27

untuk membela islam44. Serta mereka yang tidak di gaji oleh pemerintah45. Karena orang-orang yang dapat menyenangkan dari ini tidak dapat dari zakat kecuali mereka fakir, menurut Abu Hanifah, orang-orang yang ini tidak dapat zakat kecuali mereka fakir.

8. Ibnus Sabiil

Ibnus sabiil adalah musafir yang terlantar dalam waktu karena bekal yang ia miliki sudah habis atau hilang.

Akibatnya, para pemuka agama mulai memahami siapa yang menderita gangguan jiwa dan siapa yang beraktivitas, terlepas dari apakah mereka berada di negara asing46.

5. Penggunaan Zakat Secara Produktif

Zakat Pendayaguna Awalnya, pola pendistribusian secara konsumtif didominasi dana zakat, namun pada zaman yang sangat modern yang dibantu dengan teknologi yang dana zakat tidak hanya didistribusikan secara konsumtif, namun inovasi distribusi dana zakat saat ini:

a. Distribusi konsumsi tradisional, seperti zakat yang diberikan kepada mustahik untuk digunakan tanpa batas waktu, seperti zakat fitrah dan zakat mal yang diberikan kepada warga bencana alam.

b. Distribusi yang bersifat konsumtif kreatif, yaitu zakat yang diwujudkan dalam bentuk yang diberikan dalam bentuk alt- alat sekolah atau beasiswa.

c. Distribusi tradisional, seperti zakat yang disalurkan dalam bentuk barang-barang produktif seperti kambing, sapi, cukur, dan lain-lain.

44Mughniyah, Fiqih Empat Mazhab, hlm.193

45Rida, Tafsir al-Manar juz10, hlm.499

46 Syihab, Tafsir al-Misbah vol. 5, hlm.635

28

d. Penyaluran dalam bentuk produk kreatif, seperti donasi zakat yang diberikan dalam bentuk pinjaman usaha kecil.

b. Distribusi yang bersifat konsumtif kreatif, yaitu zakat yang diwujudkan dalam bentuk yang diberikan dalam bentuk alt-alat sekolah atau beasiswa.

c. Distribusi tradisional, seperti zakat yang disalurkan dalam bentuk barang-barang produktif seperti kambing, sapi, cukur, dan lain- lain.

Kebijakan distribusi penting lainnya yang harus segera dilaksanakan adalah kebijakan investasi zakat. Pola distribusi produktif sangat efektif untuk memproyeksikan perubahan seorang mustahik menjadi muzakki, dan pola suatu dana zakat diharapkan dapat efektif memfungsikan sistem zakat sebagai jaminan sosiokultural masyarakat islam, terutama untuk kelompok miskin.

29 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang dilakukan secara utuh kepada subjek penelitian dimana terdapat sebuah peristiwa dimana peneliti menjadi instrumen kunci dalam penelitian, kemudian hasil pendekatan tersebut diuraikan dalam bentuk kata-kata yang tertulis data empiris yang telah diperoleh dan dalam pendekatan ini pun lebih menekankan makna dari pada generalisasi47.

B. Penjelasan Judul

1. Controlling

Program

Controlling berarti rencana-rencana dan norma-norma yang mendasarkan pada maksud dan tujuan manajerial, norma-norma ini dapat berupa kuota, target, atau pedoman pengukuran hasil kerja nyata terhadap yang ditetapkan.48 Pengawasan merupakan kegiatan- kegiatan dimana suatu sistem terselenggarakan dalam kerangka norma-norma yang ditetapkan atau dalam keadaan keseimbangan bahwa pengawasan memberikan gambaran mengenai hal-hal yang dapat diterima, dipercaya atau mungkin dipaksakan, dan batas pengawasan (control limit) merupakan tingkat nilai atas atau bawah suatu sistem dapat menerima sebagai batas toleransi dan tetap memberikan hasil yang cukup memuaskan.

Dalam bentuknya yang paling dasar, program didefinisikan sebagai tugas atau proses yang sedang dilakukan. Sebaliknya, program adalah unit atau rangkaian tugas tertentu yang

47 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hlm. 6

48 Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra

http://puslit.petra.ac.id/journals/management

30

bertanggung jawab atas realisasi atau pelaksanaan tugas tertentu.49 Ada beberapa program yang diterapkan dalam sebuah bisnis atau organisasi. Program ini merupakan suatu proyek yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau organisasi dalam rangka mencapai tujuannya.

Dengan kata lain, manajemen program adalah proses mengawasi beberapa program di dalam suatu perusahaan atau lembaga. Hal ini dilakukan sebagai akibat dari keputusan perusahaan untuk mempertahankan semua programnya. Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang penting dalam setiap organisasi.

Pengawasan dilakukan untuk membantu seluruh manajemen dalam pengelolaan secara melaksanakan penilaian, rekomendasi, dan efektifitas laporan yang diperiksa.

2. Zakat Produktif

a. Pengertian Zakat Produktif

Kata produktif secara bahasa berasal dari bahasa Inggris

“productive” yang berarti banyak menghasilkan; memberikan banyak hasil; banyak menghasilkan barang-barang berharga;

yang mempunyai hasil baik. “productivity” daya produksi50

Jadi dapat disimpulkan bahwa Zakat Produktif adalah zakat dimana harta atau dana zakat yang diberikan kepada mustahik tetapi dikembangkan dan digunakan untuk membantu usaha mereka, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup secara terus menerus.

b. Peran Negara Terhadap Lembaga Zakat

Lembaga zakat di Indonesia telah ada dan tumbuh begitu lama, namun belum dikembangkan secara profesional. Wajar,

49 Suharsimi Ari Kunto, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007 ), Hal.2

50 Joyce M. Hawkins, Kamus Dwi Bahasa Inggris-Indonesia, Indonesia- Inggris, (Oxford-Erlangga, 1996), hlm. 267.

31

lembaga ini dalam perjalannanya mengalami beberapa permasalahan, yang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan umat islam sehari-hari.

Beberapa ahli hukum islam menjelaskan bahwa negara berkewajiban dan bertanggung jawab dalam mengelolah zakat.

Yusuf Qardhawi menjelaskan lima alasan mengapa islam menyerahkan wewenang kepada negara untuk mengelolah zakat51, atau pentingnya pihak ketiga dalam pengelolaan zakat (memungut zakat dan membagikannya kepada yang berhak):

1. Banyak orang yang telah mati jiwanya, buta mata hatinya, tidak sadar akan tanggung jawabnya terhadap orang fakir yang mempunyai hak milik yang tersimpan dalam harta benda mereka.

2. Untuk memelihara hubungan baik antara muzakki dan mustahiq, menjaga kehormatan dan martabat para mustahiq. Dengan mengambil haknya dari pemerintah mereja terhindar dari perkataan menyakitkan dari pihak pemberi.

3. Agar pendistribusinya tidak kacau, sembraut dan salah atur. Bisa saja seorang atau sekelompok orang fakir miskin akan menerima jatah yang berlimpah ruah, smentara yang lainnya yang mungkin lebih menderita, tidak mendapat jatah zakat sama sekali.

4. Agar ada pemerataan dalam pendistribusinya, bukan hanya terbatas pada orang-orang miskin dan mereka yang sedang dalam perjalanan, namun pada pihak lain yang berkaitan erat dengan kemaslahatan umum.

5. Zakat merupakan sumber dana terpenting dan permanen yang dapat membantu pemerintah dalam

51 Yusuf Qardhawi, Fiqh al- Zakah, (Beirut: Dar al- Irsyad) hlm.756-757

32

menjalankan fungsi-fungsinya dalam mengayomi dan membawa rakyatnya dalam kemakmuran dan keadilan yang beradab.

Dengan demikian dapat dikatan bahwa pemerintah wajib memperhatikan masyarakatnya. Kewajiban dan hak orang kaya, orang miskin dan pemerintah harus dilaksanakan seiring, sejalan agar tercipta masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Tugas dan kewajiban ini dapat dilakukan dengan meningkatkan dan mengoptimalkan peran negara terhadap lembaga zakat yang ada.

c. Hukum Zakat Produktif

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan zakat produktif di sini adalah pendayagunaan zakat dengan cara produktif. Hukum zakat produktif pada sub ini dipahami hukum mendistribusikan atau memberikan dana zakat kepada mustahig secara produktif. Dana zakat diberikan dan dipinjamkan untuk dijadikan modal usaha bagi orang fakir, miskin dan orang- orang yang lemah.

Al-Qur’an, al-Hadist dan Ijma’ tidak menyebutkan secara tegas tentang cara pemberian zakat apakah dengancara konsumtif atau produktif. Dapat dikatan tidak ada dalil naqli dan sharih yang mengatur tentangt bagaimana pemberian zakat itu kepada para mustahiq.

Sebagian besar ulama menjadikan Qur’an surat at-Taubah ayat 60 sebagai dasar hukum dalam pendistribusian zakat.

Namun ayat ini hanya menyebutkan pos-pos dimana zakat harus di berikan. Tidak menyebutkan cara pemberian zakat kepada pos-pos tersebut.

33

Teori hukum islam menunjukkan bahwa dalam menghadapi masalah-masalah yang tidak jelas rinciannya dalam al-Qur’an atau petunjuk yang di tinggalkan Nabi SAW, penyelesaianny adalah dengan metode Ijtihad. Ijtihad atau pemakaian akal dengan tetap berpedoman pada al- Qur’an dan Hadist.

C. Tempat dan Waktu Penlitian

Tempat penelitian yang penulis teliti adalah lembaga Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Cabang Bengkulu, Jl. Flamboyan No.19A Kebun Kenanga Kota Bengkulu. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 9 Maret sampai 9 April tahun 2022.

D. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah subjek yang memberikan informasi tentang fenomena dan situasi sosial yang sedang berlangsung. Artinya informan ini adalah orang yang dimintai keterangan berdasarkan realita atau keadaan yang sebenarnya berdasarkan objek yang akan diteliti52.

Pemilihan informan diambil dengan teknik purposive sampling.

Purposive sampling, merupakan metode atau cara pengambilan sampel dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam menggali informasi atau mengamati oleh informan, tentu kualitas data yang didapat bergantung dari kualitas pribadi informan itu sendiri, karena hal itu akan menentukan keabsahan data. Adapun kriteria informan dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1) sehat jasmani dan rohani, 2) memiliki pengetahuan terkait objek pertanyaan, 3) merasakan pengalaman secara langsung di tempat penelitian, 4) mau dan bersedia menjadi informan penelitian, 5) memiliki kemampuan untuk melakukan controlling, 6) merupakan kepala perwakilan di lembaga IZI cabang Bengkulu, 7) merupakan karyawan yang bekerja di lembaga IZI cabang Bengkulu.

Adapun informan dalam penelitian ini, yaitu:

52 Sugiyono, Metode Penelitian, hlm.16

34

1. Kepala Perwakilan Inisiatif Zakat Indonesia Cabang Bengkulu 1 orang.

2. Pegawai Inisiatif Zakat Indonesia Bengkulu sesuai struktur organisasi 2 orang.

E. Sumber Data

Sumber data penelitian adalah dimana data diperoleh. Adapun sumber data penelitian ini diperoleh dari kepala perwakilan dan pegawai di Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Cabang Bengkulu. Fokus penelitian ini adalah proses Controlling, pelakasanaan Controlling, dan evaluasi Controlling. Lebih jelasnya lagi penelitian ini adalah controlling Program Zakat Produktif (Inisiatif Zakat Indonesia) Cabang Bengkulu.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggambarkan jawaban dari hasil wawancara yang harus di pahami,dan di amati secara langsung.

1. Data Primer

Data primer yaitu data langsung dari responden sebagai objek yang diteliti. Dalam hal ini, data primer bersumber dari karyawan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Bengkulu sebanyak 3 (orang) sesuai struktur organisasi.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data pelengkap yang terdiri dari dokumentasi kegiatan, foto wawancara, data-data yang tidak diambil dari Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Provinsi Bengkulu melalui media yang sudah ada seperti penelitian-penelitian terdahulu, jurnal-jurnal ilmiah yang memuat data mengenai judul penelitian dan sumber data lain yang bisa dijadikan sumber yang sah.

F. Teknik Pengumpulan Data

Adapun untuk mengumpulkan data-data dan informasi sesuai dengan masalah-masalah yang diteliti maka peneliti dapat melakukannya dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

35 1. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang digunakan untuk menghimpun data penelitian53. Metode pengumpulan data menggunakan pengamatan, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dimana peneliti mengumpulkan informasi yang kemudian ditampilkan pada sebuah layar. Akibatnya, peneliti akan melakukan perjalanan ke lapangan dengan menggunakan metode observasi dan pengumpulan data. Observasi ini peneliti langsung mengamati proses Controlling program zakat produktif di lembaga Inisiatif Zakat Indonesia Cabang Bengkulu. Peneliti melakukan pengamatan di lembaga IZI dan juga mengamati kinerja ketua serta karyawannya saat melakukan controlling.

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Ini dilakukan oleh dua orang: orang yang mengajukan pertanyaan dan orang yang menjawab pertanyaan54. Dalam Penelitian ini, wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara terstruktur. Wawancara terstruktur adalah untuk menentukan format masalah yang akan diwawancarai, yang berdasarkan masalah yang akan diteliti55. Untuk mendapatkan data mengenai controlling program zakat produktif di lembaga Inisiatif Zakat Indonesia Cabang Bengkulu.

Selanjutnya, wawancara terbagi menjadi beberapa tahapan.

Langkah pertama adalah peneliti mengidentifikasi orang-orang yang akan diwawancarai. Hal ini dilakukan untuk menentukan siapa yang memiliki informasi yang dapat dipercaya dan siapa yang menjadi fokus penelitian. Pada langkah kedua, penulis harus memuaskan dirinya sendiri dan memahami latar belakang dan kepribadiannya sendiri.

53Burhan Bungin. Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta:

Kencana, 2013), Hal. 128

54Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2006),Hal.186

55Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial: Kuantitatif dan Kualitatif (Jakarta: Gaung Persada Press,2008), Hal. 217.

36

Untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan sesuai dengan audiens. Langkah ketiga adalah memahami situasi dan keadaan sehingga proses wawancara dapat disesuaikan dengan situasi. Peneliti harus memastikan bahwa wawancara dilakukan untuk menggali informasi besar dan informasi yang diperoleh berdasarkan fokus penelitian, selain itu harus mampu menjaga kondisi wawancara agar tampil informal.

Wawancara yang berlangsung di lingkungan yang menyenangkan, nyaman, dan lancar. Tahap kelima atau terakhir, dalam wawancara dengan berbagai hasil, membuat simpulan sementara dan mengkorfirmasi simpulan itu dengan informasi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan oleh informan memiliki sentuhan pribadi.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, foto-foto, wawancara, dan lainnya. Metode dokumentasi adalah seperangkat aturan berdasarkan referensi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian56. Dalam penelitian yang menjadi dokumentasi yaitu dokumen pribadi, foto-foto, dan rekaman.

G. Teknik Keabsahan Data

Setelah data dianalisis, maka perlu dilakukan evaluasi data dengan melakukan analisis ulang terhadap data yang telah terkumpul.

Untuk menjaga integritas data, diperlukan suatu metodologi yang didasarkan pada tiga kriteria, yaitu derajat kepercayaan, keteralihan, ketergantungan, dan kepastian. Keabsahan data dalam penelitian kualitatif terdiri dari temuan tersebut melalui triangulasi sumber data57. Triangulasi sumber data adalah proses penguatan bukti dari individu- individu yang berbeda (misalnya, informan orang yang memang

56Iskandar. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial: Kuantitatif dan Kualitatif(Jakarta: Gaung Persada Press,2008), Hal. 219.

57Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta:

Remaja Rosdakarya, 2006), Hal. 186

37

memahami di bidangnya) dalam deskripsi dan tema-tema pada penelitian kualitatif. Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka peneliti melakukan langkah sebagai berikut:

a. Penulis membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan fakta di lapangan.

b. Peneliti membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

c. Penulis membandingkan apa yang dikatakan oraang-orang tentang situasi peneliti dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengecekkan data-data hasil penelitian untuk melihat bagaimana Controlling Program Zakat Produktif di lembaga Inisiatif Zakat Indonesia Cabang Bengkulu.

H. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan di masa depan akan dianalisis menggunakan teknik yang dikenal sebagai analisis isomorfik, yang mencakup pengorganisasian urutan peristiwa, memindahkannya ke lokasi yang berbeda, memilihnya, dan mempersiapkannya untuk dikirim ke orang lain. Menurut Miles dan Huberman, analisis terdiri dari tiga tugas yang saling berhubungan: reduksi data, penyimpanan data, dan analisis data.58Mengenai ketiga alur tersebut secara lebih lengkap adalah sebagai berikut :

1. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses sensitif yang memerlukan kecerdasanan, keluasaan, dan pemahaman situasi yang jelas. Tujuan utama dari pemrosesan data adalah untuk mengumpulkan informasi penting. Hal ini disebabkan banyaknya data yang dianalisis di laboratorium, sehingga memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti.

58 Iskandar. Metodologi Penelitian Kualitatif. ( Jakarta : Gaung Persada Pres , 2009 ), hlm. 155.

38 2. Display ( penyajian data )

Setelah setiap reduksi data dilanjutkan dengan penyimpanan data dalam bentuk tabel dan laporan agar data lebih tertata, konsisten, dan mudah dipahami. Menurut Sugiyono, pengumpulan data akan memudahkan guru untuk memahami apa yang sedang terjadi dan terus bekerja berdasarkan apa yang telah dipelajarinya59.

3. Penarikan kesimpulan

Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan awal yang bersifat sementara dan akan berubah jika di temukan bukti yang kuat mendukkung pada tahan pengumpulan data berikutnya.

Berdasarkan teori makna analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah : Pertama penulis mereduksi data yang telah didapat di lapangan yang berkaitan langsung dengan tema penelitian yaitu : Controlling program Zakar Produktif di Inisiatif Zakat Indonesia Cabang Bengkulu. Kedua, peneliti menyajikan data yang dirangkum berdasarkan fakta lapangan, lalu menginterprestasikan dengan teori yang berkenaan dengan tema penelitian. Ketiga, penulis menyajikan data yang diperolah dalam bentuk naratif. Keempat, penulis membuat hasil kesimpulan dari hasil penelitian yang diperolah.

59 Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. ( Bandung : Alpabheta, 2007 ), hlm. 252.

39 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Wilayah Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)

Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) adalah pemisahan dengan sebuah lembaga sosial yang telah dikenal luas dan memiliki reputasi yang baik selama lebih dari 16 tahun, dalam gerakan filantropi Islam modern di Indonesia, yaitu Yayasan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Dengan berbagai perspektif dan pertimbangan, IZI lahir (Spin- off) dari sebuah organisasi yang sebelumnya hanya merupakan unit departemen setingkat zakat menjadi entitas baru yang didedikasikan untuk pengiriman tepat waktu pada 10 November 2014. Alasan terpenting IZI berdiri saat pembentukannya adalah ketersediaan sistem pengumpulan zakat yang berkualitas tinggi. Dengan fokus pada zakat dan pemberian amal lainnya, diharapkan IZI dapat lebih cepat mengkonversi sejumlah besar zakat menjadi uang nyata dan dengan demikian berkontribusi pada pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat melalui positioning yang jelas, layanan pelanggan yang sangat baik, program berkinerja tinggi, dan proses yang lancar.

Tekad tersebut menemukan momentumnya dengan terbitnya regulasi baru pengelolaan zakat di tanah air melalui Undang-Undang Pengelolaan Zakat No 3 tahun 2011. Dengan pemikiran ini, dan dengan mempertimbangkan hukum dan peraturan yang berlaku, Yayasan IZI sekarang akan fokus untuk menyelesaikan proses dan memperkuat semua kebijakan yang telah ditetapkan untuk memastikan operasi IZI secara keseluruhan. Setelah melalui proses yang panjang dan berliku, kisaran 13 bulan setelah kelahirannya sebagai yayasan, pada tanggal 30 Desember 2015, IZI secara resmi memperoleh izin operasional sebagai Lembaga Amil Zakat skala nasional melalui surat keputusan Menteri Agama Republik Indonesia no. 423 tahun 2015. Tanggal tersebut

Dokumen terkait