• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karaktristik Perkembngan Bahasa

Dalam dokumen Dinamika Perkembangan Anak (Halaman 117-122)

Bahasa merupakan ujaran yang bermakna, bahasa juga dapat dikatakan sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat, seperti lambang bunyi-suara, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Santrock, 2007). Selain itu, bahasa adalah alat yang dipakai untuk memenuhi pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, sekaligus sebagai alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Pada makna yang lain, bahasa adalah produk sosial, sekaligus produk budaya, karena itu, ia sebagai wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, wawasan budaya, termasuk teknologi yang berkembang dan dikembangkan pemakai bahasa itu. Menurut Hurlock (Hurlock, 2019) bahasa sebagai dasar dan motif pertumbuhannya memiliki empat fungsi:

➢ Fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat;

➢ Fungsi ekspresi diri, dalam fungsi ini bahasa merupakan alat untuk mengkespresikan segala sesuatu yang tersirat di dalam pikiran dan perasaan penuturnya, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembaca. Bahasa sebagai alat mengekspresikan diri ini dapat menjadi media untuk menyatakan eksistensi (keberadaan) diri, membebaskan diri dari tekanan emosi dan untuk menarik perhatian orang.

➢ Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, ketika seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari lingkungannya, sehingga bermanfaat dalam menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat. Melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika masyarakatnya.

➢ Fungsi kontrol sosial, artinya bisa mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Bila fungsi ini berlaku dengan baik, maka semua kegiatan sosial akan berlangsung pula secara baik, termasuk untuk mengembangkan kepribadian dan nilai- nilai sosial yang lebih berkualitas.

Bahasa mengandung lima elemen, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik (Santrock, 2007). Jika ditelusuri

➢ Morfologi berhubungan dengan organisasi kata-kata secara internal;

➢ Sintaksis berkenaan dengan aturan-aturan dalam pembentukan kata dan kalimat (memiliki subjek, predikat, dan objek);

➢ Fonologi berkenaan dengan ketentuan yang mengatur struktur, distribusi dan urutan bunyi, serta bentuk ucapan;

➢ Semantik berkenaan dengan sistem aturan mengendalikan makna isi kata atau kalimat.

➢ Pragmatik berkenaan dengan penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan tujuan tertentu.

Karena sebagian besar anak berusia 6-12 tahun, dan merupakan masa peka atau masa yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berbahasa

2. Tahapan Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan kemampuan atau keterampilan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan berpikir anak.

Dalam berkomunikasi terjadi pertukaran ide, pikiran dan perasaan. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, maka anak harus menggunakan bahasa yang bermakna bagi orang lain yang diajak berkomunikasi. Di samping itu anak juga dituntut untuk dapat memahami bahasa yang digunakan orang lain. Oleh karena itu dalam berkomunikasi diperlukan kemampuan berbahasa yang jelas dan dapat dipahami orang lain. Berbicara juga berkenaan dengan pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau dibicarakan.

Perkembangan bahasa pada anak telah dimulai sejak bayi dalam bentuk tangis, lalu berkembang dalam bentuk celotehan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan isyarat melalui gerakan anggota tubuh sebagai pengganti atau pelengkap bicara yang disebut bentuk komunikasi prabicara. Apabila anak sudah siap atau matang untuk belajar berbicara, bentuk komunikasi ini sebaiknya tidak lagi digunakan karena akan menghambat perkembangan belajar berbahasa pada anak, sekaligus merugikan penyesuaian pribadi dan sosial anak (Jaafar, 2008). Kesiapan terjadi bila terjadi koordinasi yang baik pada otot bicara dan aspek mental bicara (kemampuan berpikir) anak sudah mulai berfungsi dengan baik.

Pola perkembangan bicara pada anak sejalan dengan perkembangan aspek yang lain, baik motorik, kognitif, maupun sosialnya. Pada saat anak mulai masuk sekolah, hasrat belajar dan rasa ingin tahu berkembang pesat. Karena itu orang tua dan

guru harus memanfaatkannya untuk belajar bahasa. Dengan berkembangnya lingkungan social, anak mulai membangun kosa kata atau menambah perbendaharaan kata-katanya. Kosa kata anak biasanya berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata perangkai atau pengganti dari apa saja yang dijumpai anak dalam kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai warna, waktu, uang, dan kata populer yang digunakan kelompok anak atau teman sebaya. Selanjutnya perkembangan bahasa berlanjut dalam bentuk kalimat, dimulai dari kalimat sederhana yang belum lengkap menjadi kalimat yang semakin lengkap dan kompleks sesuai kebutuhan sebagai media komunikasi.

Seiring dengan pertambahan usia dan perkembangan berbagai aspek psikologis yang lain maka akan semakin sempurna kemampuan berbahasa anak, karena anak akan membicarakan banyak hal berkenaan dengan kegiatan bermain, belajar, dan kegiatan lain yang disenanginya. Isi pembicaraan pada anak usia SD/MI dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori (Papalia, Diane E, Old, Sally Wendkos, Feldman, 2010):

❖ Kegiatan berbicara yang berpusat pada diri sendiri (egosentrik), kurang berminat mendengarkan dan menerima pendapat orang lain. meskipun anak itu sedang berada dalam kelompok. Anak cenderung mendominasi pembicaraan,

❖ Tipe ini lebih banyak berbicara tentang kesenangan dan yang berhubungan dengan dirinya sendiri.

❖ Kegiatan berbicara berpusat pada orang lain (sosialisasi).

Dalam perkembanganya, anak cenderung menyesuaikan isi dan cara berbicaranya dengan orang lain, sehingga mampu berkomunikasi dan melibatkan diri dengan kegiatan sosial sehingga menjadi anak yang disenangi.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan (pragmatik dan semantik) anak pada usia 5 tahun sangat sering menggunakan bahasa dengan cara mengajukan dan mengulang untuk perbaikan. Anak usia 7 tahun menggunakan dan membuat plot

naratif yang mempunyai pengantar dan akhir diungkapkan. Usia 8 tahun, anak menggunakan topik-topik yang bermakna nonliteral dalam bentuk permintaan langsung. Pada usia 9 tahun, anak memelihara topik Perkembangan bahasa menjadi berkurang. Pada masa puber terjadi perubahan fisik yang sangat cepat dan dihadapkan pada masalah yang dipikirkan orang dewasa.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Secara umum, pola perkembangan bahasa dan keterampilan berbicara pada anak akan mengikuti pola umum, namun tempo dan irama perkembangannnya bersifat individual, terutama dalam frekuensi atau banyaknya bicara, serta isi atau topik pembicaraan.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor (Hurlock, 2019) antara lain:

❖ Kesehatan: Anak yang sehat cenderung lebih cepat belajar berbicara dibandingkan dengan anak yang kurang sehat atau sering sakit. Motivasi berbahasa didorong oleh keinginan untuk menjadi anggota kelompok sosial.

❖ Kecerdasan: Belajar bahasa erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa mengungkapkan apa yang dipikirkan anak.

❖ Jenis kelamin: Anak perempuan lebih baik dalam belajar bahasa daripada anak laki-laki, baik dalam pengucapan, kosa kata, dan tingkat keseringan berbahasa.

❖ Keluarga (jumlah anggota keluarga, urutan kelahiran, dan metode latihan berbicara).

❖ Keinginan untuk berkomunikasi serta berhubungan dengan teman sebaya: Semakin kuat keinginan dan dorongan berkomunikasi dengan orang lain, terutama bermain dengan teman sebaya, akan semakin kuat pula usaha anak untuk berbicara atau berbahasa.

❖ Kepribadian: Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung memiliki kemampuan berbicara atau berbahasa

lebih baik daripada anak yang mengalami masalah atau kendala dalam penyesuaian diri dan penyesuaian sosialnya.

Demikian pula, tipe anak yang berbicara secara egosentrik dapat mengakibatkan anak menjadi semakin tertutup dan sulit melakukan penyesuaian sosial. Masalah lain berupa ketunawicaraan atau cacat bicara yang terjadi pada anak. la sulit berbicara, mengucapkan kata dengan benar dan jelas.

Ada juga anak yang mengalami kerancuan berbicara seperti penggantian bunyi huruf; bicara tidak jelas karena tidak berfungsinya bibir, lidah dan rahang dengan baik; serta gagap atau berbicara terlalu cepat dan membingungkan karena otot bicara dengan otak kurang koordinasi mengenai apa yang ingin dibicarakan. Selain hambatan tersebut, ada juga dijumpai masalah sehubungan kedwibahasaan yang dapat membuat anak menjadi bingung, sehingga mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial dan pembelajaran di sekolah.

Dalam dokumen Dinamika Perkembangan Anak (Halaman 117-122)