ﻡﺎ)
B. Kategori Wanita Durhaka
Dalam Al-Qur′an hanya diceritakan empat profil wanita yang durhaka, yaitu istri Nabi Nuh, Istri Nabi Lut, Zulaikha istri al-‘Azīz, pejabat tinggi Mesir, dan Istri Abū Lahab. Seperti ditulis oleh ‘Āisyah binti Syā¯i′ berikut ini:
1. Istri Nabi Nuh
Kisah istri Nabi Nuh diceritakan dalam Surah at- Ta♥rīm/66: 10
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), "Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." (at-Ta♥rīm/66: 10)
Menurut az-Zuhailī, nama dari istri Nabi Nuh adalah Wahilah.32 Allah sub♥ānahu wa ta‘ālā mengisyaratkan kisah Nabi Nuh dalam beberapa surah Al-Qur′an, di antaranya Surah al-A‘rāf/7, Yūnus/10, Hūd/11, al-Anbiyā′/21, al- Mu′minūn/23, asy-Syu‘arā′/26, al-‘Ankabūt/29, a☺-
Profil Perempuan Dalam Al-Qur′an 107
☻āffāt/37, dan al-Qamar/54. Bahkan, secara khusus Allah menamai sebuah surah dalam Al-Qur′an dengan nama Nuh.
Hanya, dari sekian banyak ayat yang mengisahkan tentang istri Nabi Nuh, tidak ada satu pun yang menyebutkan secara langsung tentang istri Nabi Nuh, kecuali dalam satu ayat yang terdapat dalam Surah at-Ta♥rīm/66.
Ketika Allah mengutus Nabi Nuh, tidak banyak orang yang beriman kepadanya. Bahkan, istrinya pun termasuk salah seorang dari yang tidak beriman. Dia ditelan banjir bandang bersama orang-orang yang tidak beriman lainnya.
Dia binasa bersama dengan mereka yang binasa.
Istri Nabi Nuh yang tidak beriman tersebut adalah perempuan yang melahirkan empat anak Nuh, yaitu Hām, Sām, Yafis, dan Yām. Nama terakhir ini lebih dikenal dengan nama Kan‘an yang ikut ditelan banjir.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah istri Nabi Nuh di atas, di antaranya:
a. Keimanan tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan, baik keturunan nabi maupun rasul.
b. Allah dapat saja memberikan keturunan yang jahat kepada orang saleh dan keturunan yang saleh kepada orang jahat. Buktinya, istri Nabi Nuh adalah orang kafir.
Namun, sebagian besar anaknya adalah orang-orang yang saleh. Sementara itu, ayah Nabi Ibrahim adalah orang kafir. Namun, dia melahirkan keturunan yang saleh.
c. Pengkhianatan istri Nabi Nuh yang disebutkan dalam ayat Al-Qur΄an di atas adalah dalam hal kekufuran, bukan perselingkuhan. (Sebagian pendapat menyatakan bahwa istri Nuh berselingkuh dengan laki-laki lain). Ibn ‘Abbās berkata, “Tidak ada seorang istri nabi pun yang menjadi pelacur.”
Profil Perempuan dalam Al-Qur′an
108
2. Istri Nabi Lut
Imra′ah Lu• berkhianat kepada suaminya. Seperti dalam Surah al-‘Arāf/7: 83, Hūd/11: 81, al-♦ijr/15: 60, an- Naml/27: 57, dan al-‘Ankabūt/29: 33.
Maka Kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya.
Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (an-Naml/27: 57)
Tidak banyak dikisahkan dalam Al-Qur΄an tentang kehidupan istri Nabi Lut ini, para Mufasir pun tidak banyak memberikan komentar tentang riwayat hidupnya, kecuali hanya memberikan informasi bahwa namanya Wa‘ilah.33
Banyak hikmah yang dapat dipetik dari pelajaran hidup istri Nabi Lut, di antaranya:
a. Seseorang tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya. Hanya Allah yang dapat memberikan hidayah kepada orang lain yang dikehen- daki-Nya.
b. Seorang nabi hanya diberi tugas untuk mengajak manusia kepada Allah, bukan dituntut untuk memberikan hidayah kepada mereka.
c. Keberhasilan dakwah tidak diukur dengan penerimaan khalayak terhadap figur dai atau materi dakwahnya, tetapi diukur dengan sejauh mana keikhlasan dai dalam berdakwah, seseorang tidak mampu menaklukkan hati orang lain untuk beriman kepada Allah. Hanya Allah Yang Mahagaib yang dapat menaklukkannya.
d. Allah memberi tempo kepada orang zalim. Namun, ketika siksa Allah sudah tiba di depan matanya, dia tidak akan dapat mengelak darinya.
Profil Perempuan Dalam Al-Qur′an 109
e. Allah menyiksa orang-orang zalim tanpa pengetahuan mereka.
f. Para malaikat tidak pernah membantah perintah Allah dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka (sekalipun membinasakan manusia).
g. Nabi atau wali Allah tidak akan mampu menolong kerabatnya yang kafir.
h. Islam mengutuk para pelaku sodomi dan sodomi merupakan dosa besar.
3. Zulaikha
Kisah istri Perdana Menteri ini terdapat dalam Surah Yūsuf/12: 23:
Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, "Marilah mendekat kepadaku." Yusuf berkata, "Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik."
Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.
(Yūsuf/12: 23)
Dalam ayat di atas dijelaskan imra′ah ‘Azīz berusaha menggoda Nabi Yusuf untuk berzina dengannya. Namun Nabi Yusuf dapat menolak karena takut kepada Allah.
Karena penolakan ini, istri ‘Azīz kemudian memfitnah Nabi Yusuf bahwa dia ingin memperkosanya.
Allah sub♥ānahu wa ta‘ālā menyebutkan dalam firman- Nya, Demikianlah, agar Kami memalingkan kemungkaran dan kekejian dari Yusuf. Firman Allah ini menunjukkan bahwa keburukan dan kekejian (zina dan khianat) tidak dilakukan oleh Yusuf. Maksiat yang ditudingkan kepada Yusuf adalah
Profil Perempuan dalam Al-Qur′an
110
jenis maksiat yang paling besar dan kejahatan yang paling keji. Dengan demikian, tidak mungkin Allah memberi kesaksian bahwa Yusuf terbatas dari perbuatan keji ini, jika—menurut penafsiran yang tidak pantas—dirinya melakukan perbuatan busuk dan keji itu?.
Disamping adanya pernyataan Allah di atas, semua orang yang terkait dengan kejadian itu memberikan kesaksian atas ketidakterlibatan Yusuf dalam perbuatan mesum tersebut. Mereka yang terkait dalam kejadian ini, yaitu Yusuf, Zulaikha, suaminya, perempuan-perempuan yang diundang Zulaikha ke rumahnya, dan para saksi memberikan kesaksian bahwa Yusuf tidak terlibat dalam perbuatan dosa. Bahkan, iblis pun mengakui atas ketidakterlibatan Yusuf dalam kemaksiatan seksual itu.
Oleh karena itu, jika keadaan sebenarnya memang demikian, seorang Muslim tidak pantas meragukan lagi atas kesucian Nabi Yusuf
Bukti yang menunjukkan bahwa Zulaikha mengakui kebenaran Yusuf terdapat dalam perkataannya kepada beberapa perempuan, Itulah orang yang kamu mencela diriku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan, sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina (Yūsuf/12: 32).
Adapun keterangan saksi yang menyatakan Yusuf tidak melakukan maksiat di atas dikemukakan dalam firman- Nya: Dan, seorang saksi dari keluarga perempuan itu diberikan kesaksiannya.“Jika baju gamisnya koyak di depan, perempuan itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan, jika baju gamisnya koyak di belakang, perempuan itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar” (Yūsuf/12: 26-27).
Pertama, dalam potongan firman-Nya, Demikianlah, agar Kami memalingkan (lina☺rifa) darinya kemungkaran. Huruf lam
Profil Perempuan Dalam Al-Qur′an 111
pada kata na☺rifa bertujuan untuk menunjukkan taukīd (penguatan) dan mubālagah (penekanan). Kedua, dalam potongan firman-Nya, dan kekejian. Arti kalimat tersebut adalah: demikianlah agar Kami memalingkan Yusuf dari kekejian. Ketiga, dalam potongan firman-Nya, Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba Kami. Sementara itu, orang-orang yang dikategorikan sebagai hamba-Nya disebutkan dalam firman-Nya, Surah al-Furqān/25 ayat 63:
Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, "salām." (al-Furqān/25: 63) Keempat, dalam potongan firman-Nya, al-mukhla☺īn (yang terpilih) atau al-mukhli☺īn (yang bersih dari tuduhan).
4. Imra′ah Abū Lahab, Ummu Jamīl binti ♦arb
Imra′ah Abū Lahab, Ummu Jamīl binti ♦arb, dikisahkan dalam Surah al-Lahab/111: 4 dan 5:
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).
Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (al-Lahab/111: 4-5) Nama Istri Abū Lahab, yaitu Ummu Jamīl, sedang nama lengkap Abū Lahab, yaitu ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Mu••alib.34 Menurut az-Zuhailī dalam at-Tafsīr-al-Wajīz: ada empat hal dapat dipahami dari surah al-Lahab ini: 1) Celaka dan merugilah Abū Lahab. 2) Harta bendanya tidak berguna
Profil Perempuan dalam Al-Qur′an
112
untuk membela dirinya dari siksaan Allah. 3), Dia (Abū Lahab) akan masuk neraka Jahanam yang menyala-nyala karena panasnya, dan 4) Ummu Jamīl, istri Abū Lahab, yang suka menyebarkan fitnah dan senantiasa menaburkan duri di jalan untuk menyakiti Nabi, akan masuk neraka bersama suaminya di akhirat kelak.35
Istri Abū Lahab adalah sosok wanita yang suka menyebarkan fitnah, kedengkian, bahkan menaburkan duri untuk menyakiti Nabi. Para ahli sejarah dan ahli tafsir, tidak banyak menulis tentang biografi kehidupannya. Namun, pesan moral yang dapat ditangkap dari kisahnya, bahwa dalam suatu komunitas, wanita tipe semacam ini selamanya ada dan harus diwaspadai.
C. Wanita yang Berperan dalam Bidang Sosial Kemasya-