BAB III PEMBAHASAN
2. Keanekaragaman Jenis Ikan Hias
pembijahan anakan dari ikan hias. setelah dewasa akan bermigrasi ke ekosistem terumbu karang
Menurut (Kennedy & BjΓΆrk, 2009), dalam ekosistemnya padang lamun memiliki berbagai macam fungsi, diantaranya: sebagai tempat tinggal berbagai biota laut, termasuk biota laut yang bernilai ekonomis, seperti ikan baronang/lingkis, berbagai macam kerang, rajungan atau kepiting, teripang dll.
Keberadaan biota tersebut bermanfaat bagi manusia sebagai sumber bahan makanan. Kemudian sebagai tempat pemeliharaan anakan berbagai jenis biota laut kemudian pada saat dewasa,anakan tersebut akan bermigrasi, misalnya ke daerah terumbu karang karang88.
Ekosistem lamun merupakan habitat yang sangat penting bagi komunitas ikan. Menurut (Hutomo dan Parino, 1994), di Pantai Lombok Selatan dijumpai 85 spesies ikan, 4 spesies di antaranya merupakan jenis ikan yang khas hidup di habitat lamun yaitu Syngnathoides biaculetus, Nova culichthys, Acrichthys sp dan Centrogenys vagiensis. Beberapa spesies ikan yang bernilai ekonomis adalah siganid, lethrinid, carangid, dan lutjanid89.
Indeks keanekaragaman jenis pada stasiun III atau ekosistem mangrove yang paling rendah dibandingkan pada ekosistem terumbu karang dan ekosistem lamun dengan nilai indeks keanekaragaman 1,441, sehingga Indeks keanekaragaman jenis ikan hias pada stasiun ini dikategorikan rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal: kurangnya substrat yang dapat digunakan untuk
88 Sarana Komunikasi Utama ,dkk Panduan Monitoring Padang Lamun (Jakarta: Sarana Komunikasi Utama, 2014) .h,2
89 M. Ghupran H. Kordi, Marikultur Prinsip & Praktik Budidaya Laut, (Yogyakarta:Lily Publisher, 2011) h,36
berlindung dan mencari makan karena kondisi di sekitar mangrove tidak banyak terumbu karang yang bisa hidup dan konisi mangrove yang berlumpur sehingga tidak memungkinkan ikan hias untuk beraktifitas secara normal.
Menurut (Aksornkoeae, 1985), perairan mangrove dikenal berfungsi sebagai daerah pemijahan(spawning ground), tempat asuhan (nursely ground), dan tempat mencari makan (feeding ground) berbagai jenis hewan akuatik yang mempunyai nilai ekonomi penting.90
Dari ketiga ekosistem tersebut keanekaragaman ikan hias yang paling tinggi terdapat pada ekosistem terumbu karang dengan kategori sedang, diikuti ekosistem lamun dan ekosistem mangrove termasuk dalam kategori rendah, hal tersebut didukung dengan terumbu karang di kawasan perairan Gili Kondo cukup bagus dan kondisi perairan yang cukup optimum sebagai tempat konservasi terumbu karang akan berbanding lurus dengan keanekaragaman jenis ikan hias yang dapat kita temukan, dengan kondisi terumbu karang yang bagus maka keanekaragaman jenis ikan hias yang ditemukan semakin melimpah.
Menurut warga yang tinggal di pesisir Padak Guar yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Setelah diwawancarai tentang bagaimana kelimpahan ikan hias tahun demi tahunnya mengalami peningkatan jumlah dari setiap spesies yang ada. Hal tersebut terjadi karena kerjasama yang baik antara pengelola tempat wisata dengan para wisatawan yang berkunjung, namun tidak banyak juga terumbu karang yang dirusak oleh para wisatawan karena seringkali
90 Ibid., h.25
berjalan di atas terumbu karang dan mengakibatkan kelimpahan ikan hias di kedalaman 1 meter sudah banyak mengalami kerusakan.
Tinggi rendahnya nilai keanekaragaman ikan hias pada setiap stasiun dapat disebabkan faktor fisika perairan dan ketersediaan nutrisi. Selain itu tinggi rendahnya nilai indeks keanekaragaman ikan hias juga dapat dipengaruhi oleh pengambilan data ikan hias pada saat pengamatan di lapangan. Penambahan dan pengurangan jumlah spesies ikan hias dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya spesies tertentu tidak berada di daerah transek, sehingga tidak tercatat, terjadinya booming reproduksi spesies pada bulan pengambilan data ikan hias, dan yang terakhir yaitu adanya migrasi ikan keluar atau masuk di daerah pengamatan91.
Spesies-spesies ikan hias yang didapatkan baik pada stasiun I, II dan III secara keseluruhan cukup beragam. Menurut hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa nelayan mengatakan bahwa masih banyak lagi spesies ikan hias yang belum ditemukan, ada berbagai banyak faktor yang menjadi kendala pada saat proses penelitian, salah satu diantaranya yaitu dengan waktu penelitian yang cukup singkat yang dimulai pukul 09.00 β 17.00 Wita.
Kemudian pada saat proses penyelaman hanya mencapai kedalaman 3 meter , sedangkan ikan hias banyak sekali yang hidup pada kedalaman diatas 3 meter ke atas sehingga keanekaragaman yang didapatkan menjadi terbatas.
91 Sarah Liliana, Studi Keanekaragaman Ikan Karang Di Kawasan Perairan Bagian Barat Pulau Rubiah (Medan :Universitas Sumatera Utara,2010) h.54
BAB IV PENUTUP A. Simpulan
Berangkat dari rumusan masalah dan dari hasil analisis data dan pembahasan, maka disimpulkan:
1. Jenis-jenis ikan hias yang ditemukan di kawasan perairan Gili Kondo di ekosistem terumbu karang, lamun dan mangrove penyebarannya hampir sama. Jenis ikan hias yang paling paling beragam ditemukan pada ekosistem terumbu karang sebanyak 30 spesies dari 8 famili yaitu Pomacentridae, Chaetodonthidae, Pomacanthidae, Lethrinidae, Haemulidae, Apogomidae, Scaranidae dan Nemipteridae diikuti ekosistem lamun sebanyak 8 spesies dari 2 famili yaitu Pomacentridae dan Nemipteridae dan yang terakhir ekosistem mangrove dengan jumlah 5 spesies dari 3 spesies di antaranya Nemipteridae dan Pomacantridae . 2. Tingkat keanekaragaman tertinggi ditemukan pada ekosistem terumbu
karang dengan nilai (3,215) dikategorikan sedang, diikuti oleh ekosistem lamun dengan nilai (1,953) dan yang terendah di ekosistem mangrove dengan nilai (1,441) dikategorikan rendah.
B. Saran
Diharapkan kepada nelayan dan penduduk setempat untuk menjaga ekosistem pantai khususnya ekosistem lamun, ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang agar kelestarian dan kesetabilannya terjaga agar biota-biota yang mempunyai habitat tinggal di ekosistem tersebut seperti ikan hias dapat bertahan hidup dan semakin beranekaragam.
76
DAFTAR PUSTAKA
Adrim, M. Keanekaragaman jenis ikan hias. Jakarta: Rhineka Cipta,1990
Barus, T. A. 2004. Pengantar Limnologi Studi tentang Ekosistem Air Daratan. Medan:
USU Press.
Effendi, M.I. Biologi Perikanan.1987
M.Hutomo. Pengantar studi ekologi komunitas ikan karang dan metode pengkajiannya. Jakarta: 1993.
M.Ghupran H, khordi K. Budidaya 22 Komoditas Laut. Yogyakarta:2011
Michael, P. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium.
Jakarta: Universitas Indonesia Press ,1995.
Nontji, 1987.Laut Nusantara, Penerbit Djambata, Jakarta
Nybakken, J.W. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis .Jakarta:1988
Odum, E. P., 1971. Dasar-dasar Ekologi.Cetakan ke-3. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Otto Soemarwanto. Kehidupan Terumbu Karang. Bandung: Remaja Rosdaka, 2003.
Pandiangan, S.L. 2009. Studi Keanekaragaman Ikan Karang Di Kawasan Perairan Bagian Barat Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam.Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara Medan. Medan.
Puspita Ningsih. MengenL Ekosistem Laut & Pesisir. Jawa Barat: Pustaka Sains, 2012.
Romimoharto, K. dan Juwana, 2007. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan, Jakarta.
Rondonuwu, A.B. 2013. Distribusi dan Kelimpahan Ikan Karang Family Pomacentridae DI Perairan Terumbu Karang Desa Poopoh Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa.FPIK UNSRAT
Sarah Liliana pandiangan. Studi Keanekaragaman Ikan Hias Di Kawasan Perairan Bagian Barat Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam.
Medan: 2009.
Setiawan, F. 2006. Identifikasi Ikan Karang dan Invertebrata Laut. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suci Andiewati. Keanekaragaman Jenis Ikan Karang Di Pulau Badi Dan Pulau Kodingareng Lompo. Makassar: 2014.
Suharti, S. R. 1996. Keanekaragaman Jenis dan Kelimpahan Pomacentridae di Terumbu Karang Perairan Selat Sunda.Tanda L. 2002.Coral Reef Fish Stock Assessment in the Togean and Banggai Islands, Sulawesi, Indonesia.
RAP bulletin of biological assessment.
Supriharyono., 2000. Pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam diwilayah pesisir tropis, P. T. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Supriharyono, M.S. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta:
Djambatan, 2000.
Sugiyono. Metodologi kuantitatif dan kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2014.
Team penulis. Pedoman Penulisan Skripsi IAIN. Mataram: 2015
Zulfianti. Distribusi Dan Keanekaragaman Jenis Ikan Karang (Famili Pomacentridae) Untuk Rencana Referensi Daerah Perlindungan Laut (Dpl) Di Pulau Bonetambung Makassar. Makasar: 2014.
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/maquares
Wikipedia 2016c. Penyebaran ikan karang [Internet]. Wikipedia, The Free Encylopedia; 2016 januari 10, 12:01 UTC [diunduh 08 Agustus 2016].
Sumber : http://en.wikipedia.org/
Wikipedia 2016d. Pengaruh kualitas air perairan [Internet]. Wikipedia, The Free Encylopedia; 2016 januari 10, 12:01 UTC [diunduh 08 Agustus 2016].
Sumber : http://en.wikipedia.org/
lampiran
Lampiran I : Spesies Ikan Hias yang Ditemukan 1. Stasiun I
No Spesies Jumlah Total
Transek I Transek II Transek III
1 Chromis atripectoraliis 10 8 11 29
2 Chromis ternatensis 5 6 3 14
3 Chaetodon meyeri 2 3 2 7
4 Chaetodon lunuatus 2 2 2 6
5 Ablyglyphidodon aureus 2 2 4 8
6 Chaetodon trifasciatus 3 2 2 7
7 P.ocellatus 4 3 2 9
8 Pomacentrus moluccensis 70 56 60 186
9 G.aureolineatus 10 7 5 22
10 Dascyllus aureus 8 3 2 13
11 A. trimaculatus 6 3 5 14
12 Pomacentrus auriventris 3 2 4 9
13 Pomacentrus alexanderae 6 5 17 28
14 N. azysron 3 6 9 18
15 P. polytaenia 3 2 4 9
16 Apogonfragilis 7 4 3 14
17 Chormis viridis 18 10 12 40
18 Chrysiptera springeri 10 8 8 26
19 Abudefduf vaigiensis 23 30 16 69
20 Neoglyphidododon melas 12 7 5 24
21 Scurus niger 8 8 6 22
22 Pygoplites dicanthus 16 10 8 34
23 Cetoscarus bicolor 9 5 8 22
24 Chricyptera rolandi 6 4 9 19
25 Scoplis margaritfera 40 45 35 120
No Spesies Jumlah Total Transek I Transek II Transek III
26 Neoglyphidodon nigroris 30 35 27 92
27 Pomacentrus philippinus 8 8 6 22
28 Abudefduf notatus 40 43 50 133
29 Amphirion Clarkii 11 20 12 43
30 Amphiprion ocellaris 6 6 4 16
Total Keseluruhan Jenis (N) 1075
2. Stasiun II
No Spesies
Jumlah
Total Transek I Transek II Transek III
1 Chromis atripectoris 2 0 1 3
2 Pomacentrus auriventris 0 2 1 3
3 Abudefduf notatus 5 3 2 10
4 Pomacentrus philippinus 3 5 2 10
5 Neoglyphidodon nigrosis 4 0 0 4
6 S. Margaritfera 2 0 4 6
7 P. moluccensis 7 2 2 11
8 Chromis viridis 0 3 2 5
Total Keseluruhan Jenis (N) 52
3. Stasiun III No
Spesies
Jumlah
Total Transek I Transek II Transek III
1 Sclopsis Margaritfera 2 3 0 5
2 Pomacentrus lepidogenys 0 4 1 5
3 Abudefduf notatus 4 5 3 12
4 Rastroliger kanagunta 2 0 2 4
5 Sphyrhaena jello 1 1 0 2
Total Keseluruhan Jenis (N) 28
Lampiran II : Hasil Perhitungan Indeks Keanekaragaman Jenis Ikan Hias
Hβ= -βPiLnPi
Pi = πππ dimana ni = jumlah individu setiap jenis
N = Jumlah Total Individu pada suatu stasiun Pi = 107529 = 0,026
LnPi = Ln 0,026 = -3,649
Pi.lnPi = 0,026 x (ln 0,026) = - 0,094 Hβ= -βPiLnPi = - β - 3,215= 3,21
1. Stasiun I
No Spesies Ni Pi lnPi Pi.lnPi Hβ
1 Chromis atripectoraliis 29 0,026 - 3,649 - 0,094 2 Chromis ternatensis 14 0,013 - 4,342 - 0,056 3 Chaetodon meyeri 7 0,06 - 5,115 - 0,030 4 Chaetodon lunuatus 6 0,005 - 5,298 - 0,026 5 Ablyglyphidodon aureus 8 0,007 - 4,961 - 0,034 6 Chaetodon trifasciatus 7 0,006 -5,115 - 0,030
7 P.ocellatus 9 0,008 - 4,828 - 0,038 8 P. moluccensis 19 0,017 - 4,074 - 0,069 9 G.aureolineatus 22 0,020 - 3,912 - 0,078 10 Dascyllus aureus 13 0,012 - 4,422 - 0,053 11 A. trimaculatus 14 0,013 - 4,342 - 0,056 12 Pomacentrus auriventris 9 0,008 - 4,828 - 0,038 13 P.alexanderae 28 0,026 - 3,649 - 0,094 14 N. azysron 18 0,016 - 4,135 - 0,066 15 P. polytaenia 9 0,008 - 4828 - 0,038 16 Apogonfragilis 14 0,013 - 4,342 - 0,056 17 Chormis viridis 40 0,037 - 3,296 - 0,121 18 Chrysiptera springeri 26 0,024 - 3,729 - 0,089 19 Abudefduf vaigiensis 69 0,064 - 2,748 - 0,175 20 Neoglyphidododon melas 24 0,022 - 3,816 - 0,083 21 Scurus niger 22 0,020 - 3,912 - 0,078 22 Pygoplites dicanthus 34 0,031 -3,473 - 0,107 23 Cetoscarus bicolor 22 0,020 -3,912 - 0,078 24 Chricyptera rolandi 186 0,173 1,754 - 0,303 25 Scoplis margaritfera 120 0,111 - 2,198 - 0,244 26 Neoglyphidodon nigroris 92 0,085 - 2,465 - 0,209 27 Pomacentrus philippinus 22 0,020 - 3,912 - 0,078 28 Abudefduf notatus 133 0,123 - 2,095 - 0,025 29 Amphirion Charkii 43 0,4 - 3,218 - 0,128 30 Amphiprion ocellaris 16 0,014 - 4,268 - 0,059 Total Keseluruhan Jenis (N) - 3,215
3,215 Hβ= -βPiLnPi
2. Stasiun II
No Spesies ni Pi lnPi Pi.lnPi Hβ
1 Chromis atripectoris 3 0,057 - 2,864 - 0,163 2 Pomacentrus auriventris 3 0,057 - 2,864 - 0,163 3 Abudefduf notatus 10 0,192 - 1,650 - 0,316 4 Pomacentrus philippinus 10 0,192 - 1,650 - 0,316 5 Neoglyphidodon nigrosis 4 0,076 - 2,577 - 0,195 6 S. Margaritfera 6 0,115 - 2,162 - 0, 248 7 P. muloccensis 11 0,211 - 1,555 - 0, 328 8 Chromis viridis 5 0,096 - 2,343 - 0,224 Total Keseluruhan Jenis (N) - 1953
1,953 Hβ= -βPiLnPi
3. Stasiun III
No Spesies ni Pi lnPi Pi.lnPi Hβ
1 Chromis margaritfera 5 0,178 - 1,725 - 0,307 2 Pomacentrus lepidogenys 5 0,178 - 1,725 - 0,307 3 Abudefduf notatus 12 0,428 - 0,848 - 0,363 4 Rastreliger kanagunta 4 0,142 - 1,951 - 0,277 5 Sphyrhaena jello 2 0,071 - 2,645 - 0,187 Total Keseluruhan Jenis (N) - 1,441
1,441 Hβ= -βPiLnPi
Lampiran III: Hasil Pengukuran Kondisi Fisika Perairan 1. Stasiun I
Stasiun Transek Suhu Salinitas PH Air Stasiun I (Ekosistem
terumbu Karang)
Transek I 30,5 β 25%0 7,0 Transek II 30,5 β 25%0 7,0 Transek III 30,5 β 25%0 7,0
2. Stasiun II
Stasiun Transek Suhu Salinitas PH Air Stasiun II (Ekosistem
Padang Lamun)
Transek I 29,9 β 23%0 7,0 Transek II 29,9 β 23%0 7,0 Transek III 29,9 β 23%0 7,0
3. Stasiun III
Stasiun Transek Suhu Salinitas PH Air Stasiun III
(Ekosistem Hutan Mangrove)
Transek I 29,9 β 23%0 7,0 Transek II 29,9 β 23%0 7,0 Transek III 29,9 β 23%0 7,0
Lampiran IV : Dokumentasi Penelitian
Lampiran: Lokasi Penelitian Gambar: Transportasi Penelitian
Gambar: Lokasi Penelitian
Gambar: Tim Pendamping Proses Penelitian
Gambar: Proses Penyelaman
Gambar: Pengukuran Kondisi Fisiska Perairan
Gambar: Pengamatan Pada Beberapa Stasiun