• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebisingan (Noise)

Dalam dokumen Ergonomi Analisis Perancangan Kerja (Halaman 157-169)

BAB VII LINGKUNGAN KERJA FISIK

7.5. Kebisingan (Noise)

Teknik Industri – UBP Karawang 151 Pekerjaan menggambar tingkat kesulitan yang normal,

Lokakarya mekanik, Teater, Operasi 1000

Pekerjaan menggambar yang detail, pekerjaan mekanik

yang mendetail 1500-2000

Tugas visual kontras rendah dan ukuran sangat kecil untuk

jangka waktu yang lama 2000-5000

Tugas visual yang sangat lama dan menuntut detail 5000-10000 Tugas visual yang sangat istimewa dengan kontras yang

sangat rendah dan ukuran kecil 10000-20000

(Sumber: OSHA, 2018)

Tabel 7.5 Standar Pencahayaan Berdasar Kemenkes Jenis Kegiatan Tingkat Pencahayan

Minimal (Lux) Keterangan

Pekerjaan kasar &

tidak terus-menerus 100

Ruang penyimpanan & ruang peralatan/instalasi yang memerlukan pekerjaan yang kontinue

Pekerjaan kasar &

terus-menerus 200 Pekerjaan dengan mesin &

perakitan kasar

Pekerjaan rutin 300 Pekerjaan kantor/administrasi, ruang control, pekerjaan mesin

& perakitan/penyusunan Pekerjaan agak halus 500

Pembuatan gambar atau bekerja dengan mesin kantor pekerjaan pemeriksaaan atau pekerjaan dengan mesin

Pekerjaan halus 1000 Pemilihan warna, pemprosesan, tekstil, pekerjaan mesin dan perakitan halus

Pekerjaan amat halus 1500 tidak menimbulkan bayangan

Mengukir dengan tangan, pemeriksaan pekerjaan mesin, perakitan yang sangat halus Pekerjaan detail 3000 tidak

menimbulkan bayangan Pemeriksaan pekerjaan dan perakitan yang sangat halus (Sumber: Kepmennakertrans, 2002)

152 Teknik Industri – UBP Karawang

adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Pengertian bising daam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomer KEP. 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan didefinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.

Terdapat faktor yang menentukan kebisingan dari bunyi-bunyian akibat dari suatu tindakan, yakni:

1. Frekuensi, yang dinyatakan dalam jumlah getaran per detik atau disebut Hertz (Hz), yaitu jumlah gelombang-gelombang yang sampai di telinga setiap detiknya;

2. Intensitas atau arus energi per satuan luas, biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang disebut desibel (db(A)).

Skala A artinya pembobotan dengan skala A = Weighted Sound Leve, karena telinga manusia kurang memberikan reaksi pada frekuensi rendah dan tinggi dibandingkan frekuensi seperti pada saat bicara.

OSHA menetapkan batas hukum atas paparan kebisingan ditempat kerja. Batasan ini berdasarkan waktu rata-rata tertimbang seorang pekerja lebih dari satu hari 8 jam. Dengan kebisingan, batas paparan diperbolehkan OSHA (PEL) adalah 90 dBA untuk semua pekerja selama 8 jam sehari.

Kebisingan dengan intensitas tiinggi dapat merusak pendengaran manusia seperti menurunnya daya mendengar hingga tuli. Selain itu, hal tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung yang dapat berpotensi pekerja mengalami serangan jantung, dan gangguan pencernaan. Sedangkan untuk kebisingan dengan intensitas rendah dapat menyebabkan stres, sakit kepala, terjadinya gangguan tidur, hilangnya konsentrasi, dan menurunnya performa kerja seseorang.

Teknik Industri – UBP Karawang 153 Tabel 7.6 Batasan Waktu yang Diperbolehkan

untuk Setiap Kebisingan

Waktu Desibel (dBA)

8 jam 90

6 jam 92

4 jam 95

3 jam 97

2 jam 100

1,5 jam 102

1 jam 105

30 menit 110

15 menit 115

(Sumber: OSHA, 2018)

The National Intitute for Occupational Safety and Health (NIOSH) telah merekomendasikan bahwa semua eksposur pekerja kebisingan harus dikontrol di bawah tingkat yang setara dengan 85 dBA selama delapan jam untuk meminimalkan kebisingan kerja induksi gangguan pendengaran.

Tabel 7.7 Batasan Ambang Kebisingan berdasar NIOSH Kondisi Desibel

(dBA) Batas Dengar Tertinggi Menulikan

120 110

Halilintar Meriam Mesin Uap Sangat hiruk

100 90

Jalan Raya

Kegaduhan di industri Peluit Polisi

Kuat

80

70 Kegaduhan di kantor pelayanan umum Jalan Raya

Radio Pasar

Sedang

60

50 Rumah berkeluarga besar Kantor besar

Percakapan kuat Radio

Tenang

40 30

Rumah tenang Kantor perorangan Auditorium

Percakapan

Sangat Tenang

20 10 0

Suara daun-daun Berbisik

Batas dengar ternedah

154 Teknik Industri – UBP Karawang

Jenis Kebisingan

a. Bising Kontinu (Steady Noise)

Tingkat tekanan suara yang relatif sama selama terjadinya bising.

Contoh penyebab bising ini adalah air terjun, mesin pembangkit tenaga listrik, mesin industri, dan lain-lain.

b. Bising Tidak Kontinu

Tingkat suara yang berbeda-beda selama bising berlangsung. Contoh penyebab bising ini adalah lalu lintas kendaraan bermotor (dari jarak dekat), suara senjata, pesawat terbang sedang lewat, dan sebagainya.

c. Bising Tiba-Tiba (Impulsive Noise)

Bising yang ditimbulkan oleh kejadian yang singkat dan tiba-tiba. Efek awalnya menyebabkan gangguan yang lebih besar, seperti akibat ledakan, misalnya dari mesin pemancang, pukulan, tembakan bedil atau meriam, ledakan dan dari suara tembakan senjata api.

d. Bising Berpola (Tones in Noise)

Bising yang disebabkan oleh ketidakseimbangan atau pengulangan yang ditransmisikan melalui permukaan ke udara. Pola gangguan misalnya disebabkan oleh putaran bagian mesin, seperti motor, kipas, dan pompa. Pola dapat diidentifikasi secara subjektif dengan mendengarkan atau secara objektif dengan analisis frekuensi.

e. Bising Impulsif Berulang

Sama dengan bising impulsif, hanya bising ini berulang-ulang, misalnya mesin tempa.

Sumber kebisingan berasal dari berbagai lingkungan, antara lain sebagai berikut:

a. Kebisingan dari lingkungan pabrik

Kebisingan yang timbul di sekitar pabrik tersebut, atau bisa juga kebisingan yang berasal dari sumber lain di luar pabrik.

b. Kebisingan dari alat-alat kontruksi

Teknik Industri – UBP Karawang 155

Kebisingan ini terjadi dari alat-alat kontruksi yang di pakai untuk meringankan kerja manusia dan meningkatkan produktivitas kerja, misalnya: mikser, pompa generator, dan vibrator.

c. Kebisingan yang berasal dari lalu lintas Kebisingan ini didapat/diperoleh dari:

- Lalu lintas darat;

- Lalu lintas udara.

d. Kebisingan dari alat-alat rumah tangga

Tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh alat-alat rumah tangga tidak terlalu tinggi tetapi dapat mengakibatkan gangguan terhadap penghuni rumah tangga.

e. Kebisingan pada tempat rekreasi

Di tempat rekreasi alat-alat modern menimbulkan kebisingan yang hebat, demikian pula dalam berolahraga, seperti menembak dapat pula terjadi kebisingan sesaat dengan intensitas lebih dari 130 dBA.

Berdasarkan pengaruhya pada manusia, bising bisa dibagi menjadi tiga macam.

a. Bising yang menggangu (Irritating Noise) merupakan bising yang mempunyai intensitas tidak terlalu keras, misalya mendengkur.

b. Bising yang menutupi (Masking Noise) merupakan bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas, secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, karena teriakan atau isyarat tanda bahaya tenggelam dlam bising dari sumber lain.

c. Bising yang merusak (Damaging/Injuriosn Noise) merupakan bunyi yang intensitasnya melampaui Nilai Ambang Batas. Bunyinjenis ini akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.

Dampak kebisingan

a. Gangguan psikologis, berupa:

- Sukar berkonsentrasin & sukar tidur;

156 Teknik Industri – UBP Karawang

- Mudah marah;

- Kepala pusing & cepat lelah;

- Menurunkan daya kerja;

- Menimbulkan stres.

b. Gangguan pendengaran, yaitu hilangnya pendengaran seseorang, jika dibiarkan berlanjut dapat menderita ketulian yang bersifat:

- Sementara, - Permanen.

c. Gangguan tubuh lainya, yang dapat berupa:

- Ketegangan otot;

- Kontraksi pembuluh darah;

- Meningkatnya denyut jantung;

- Meningkatnya produksi adrenalin.

International Standar Organization (ISO) mengeluarkan acuan tentang derajat gangguan sebagai berikut.

a. Gangguan pendengaran tingkat ringan, jika seseorang tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat kebisingan 25-40 dB(A) (hearing loss 25-40 dB(A)).

b. Gangguan pendengaran tingkat sedang, jika seseorang tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat kebisingan 40-55 dB(A) (hearing loss 40-55 dB(A)).

c. Ganguan pendengaran tingkat berat, jika seseorang tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat kebisingan >55 dB(A) (hearing loss >55 dB(A)).

d. Jadi hearing loss pada tingkat kebisingan 0-25 dB(A) masih dalam keadaan normal atau tidak ada gangguan pendengaran.

Faktor yang memengaruhi kebisingan adalah sebagai berikut.

a. Intensitas Kebisingan

Makin tinggi intensitasnya, makin besar risiko untuk terjadinya gangguan pendengaran.

Teknik Industri – UBP Karawang 157

b. Frekuensi Kebisingan

Makin tinggi frekuensi kebisingan, makin besar kontribusinya untuk terjadinya gangguan pendengaran.

c. Jenis Kebisingan

Kebisingan yang kontinu lebih besar kemungkinan untuk menyebakan terjadinya gangguan pendengaran dari pada kebisingan yang terputus-putus.

d. Lama Pemaparan

Makin lama pemaparannya, makin besar risiko untuk terjadinya gangguan pendengaran.

e. Lama Tinggal

Makin lama seseorang tinggal di sekitar kebisingan, makin besar risiko terjadinya gangguan pendengaran.

f. Umur

Pada umumnya, sensitivitas pendengaran berkirang dengan bertambahnya umur.

g. Kerentanan Individu

Tidak semua individu yang terpapar dengan keseimbangan pada kondisi yang sama akan mengalami perubahan nilai ambang pendengaran yang sama pula. Hal ini di sebabkan oleh respons tiap- tiap individu pada kebisingan berlainan, bergantung pada kerentanan tiap individu.

Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai tingkat keamanan kerja:

o Percakapan biasa (45-60 dB) o Bor listrik (88-98 dB)

o Suara anak ayam (di peternakan) (105 dB) o Gergaji mesin (110-115 dB)

o Musik rock (metal) (115 dB)

158 Teknik Industri – UBP Karawang

o Sirene ambulans (120 dB)

o Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan (140 dB) o Pesawat terbang jet (140 dB)

Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam memiliki tergolong sebagai high level of noise related risks

.

Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety & Health) untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seseorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman adalah sebagai berikut:

dimana:

T = waktu maksimum di mana pekerja boleh berhadapan dalam tingkat kebisingan (dalam menit)

L = tingkat kebisingan (dB) yang di anggap berbahaya 3 = exchange rate

Bandingkan formula yang telah di tetapkan oleh NIOSH tersebut dengan formula yang masih digunakan OSHA, yakni:

dimana:

T = waktu maksimum di mana pekerja boleh berhadapan dengan tingkat kebisingan (dalam jam).

L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya 5 = exchange rate

Teknik Industri – UBP Karawang 159

Tabel 7.8 Buku Mutu Batas Ambang Keseimbangan Lingkungan PERUNTUKAN KAWASAN/LINGKUNGAN KEGIATAN TINGKAT

KEBISINGAN (dB) A. Peruntukan Kawasan

1. Perumahan dan permukiman 2. Perdagangan dan Jasa

3. Perkantoran dan perdagangan 4. Ruang terbuka hijau

5. Industri

6. Pemerintahan dan fasilitas umum 7. Rekreasi

- Bandar udara * - Stasiun kereta api * - Pelabuhan laut - Cagar budaya B. Lingkungan Kegiatan

1. Rumah sakit dan sejenisnya 2. Sekolah atau sejenisnya

3. Tempat ibadah atau sejenisnya

55 70 65 50 70 60 70

70 60 55 55 55 (Sumber: Standar Nasional Indonesia)

Nilai Ambang Batas (NBA) dimaksudkan sebagai batas konsentrasi di mana seseorang dapat terpapar dalam lingkungan kerjanya selama 8 jam sehari, 40 jam seminggu berulang-ulang tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan yang tidak di inginkan.

Tabel 7.9 Baku Mutu Batas Ambang Kebisingan Individu

Waktu/hari Intensitas

Kebisingan (dBA)

24 Jam 80

16 82

8 85

4 88

2 91

1 94

30 Menit 97

15 100

7,5 103

3,75 106

1,88 109

0,92 112

28,12 Detik 115

14,06 118

7,03 121

3,52 124

160 Teknik Industri – UBP Karawang

1,76 127

0,88 130

0,44 133

0,22 136

0,11 139

Catatan: Tidak boleh terpapar lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat.

(Sumber: Standar Nasional Indonesia)

Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk resiko yang disebabkan oleh kebisingan

1. Penggantian (substitution)

o Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah

o Mengganti “jenis proses” mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses yang sama, contohnya pengelasan digunakan sebagai penggantian proses riveting.

Gambar 7.7 Jenis Sambungan Riveting dan Welding

Catatan:

Pertimbangan-pertimbangan teknis, seperti “welder qualification”, welding equipment, termasuk analisis kekuatan struktur harus benar-benar diperhatikan (re-calculation)

Selalu ada risiko-risiko baru yang berhubungan dengan pekerjaan baru (welding), misalnya: risiko karena adanya penggunaan tenaga listrik, panas (high temperature), dan radiasi cahaya. Karena itu perlu juga dikembangkan prosedur-prosedur baru (prinsip pengendalian administratif) untuk membantu proses minimisasi resiko kerja.

o Modifikasi “tempat” mesin, spt pemberian dudukan mesin dengan material-material yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi

o Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja

Teknik Industri – UBP Karawang 161 Gambar 7.8 Jenis Peredam Akustik (Acoustic Barrier)

2. Pemisahan (separation)

o Pemisahan fisik (physical separation)

Memindahkan mesin (sumber kebisingan) ke tempat yang lebih jauh dari pekerja

o Pemisahan waktu (time separation)

Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang bekerja untuk “berhadapan” dengan kebisingan. Rotasi pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang biasa digunakan.

3. Perlengkapan perlindungan personnel (personnel protective equipment/

PPE)

o Penggunaan earplug dan earmuffs

Gambar 7.9 Alat Pelindung Telinga (APT) Earplug dan Earmuffs

162 Teknik Industri – UBP Karawang

Apabila menggunakan alat pelindung telinga (APT) untuk mengurangi dosis pajananbising, maka perlu diperhatikan kemampuan APT dalam mereduksi pajanan bising yang dinyatakan dalam noise reduction rate (NRR). Perhitungan kebutuhan NRR dapat dilihat pada contoh 1 dan contoh 2.

Contoh Kasus 1: Perhitungan NRR untuk proteksi tunggal

Pada kemasan/brosur/kotak suatu produk APT tertulis NRR sebesar 33 dB. Pajanan kebisingan 95 dBA, Maka pajanan efektif dengan menggunakan APT tersebut adalah:

Pajanan efektif (dBAefektif) = dBA pajanan – [NRR APT – 7 (faktor koreksi)] x 50%.

Pajanan efektif (dBAefektif) = 95 dBA – [33 – 7] x 50% = 82 dBA

pajanan di bawah NAB.

Contoh Kasus 2: Perhitungan NRR untuk proteksi ganda

Pada kemasan/brosur/kotak suatu produk APT tertulis NRR sebesar 33 dB (ear plug) dan 24 dB (ear muff). Pajanan kebisingan 100 dBA, Maka pajanan efektif dengan menggunakan dua APT (ear plug dan ear muff) tersebut adalah:

Pajanan efektif (dBAefektif) = dBA pajanan – {[NRR APT tertinggi – 7faktor koreksi] x 50%} + 5 dB.

Pajanan efektif (dBAefektif) = 100 dBA – {[33 – 7] x 50%} + 5 = 82 dBA pajanan di bawah NAB.

4. Pengendalian administratif (administrative controls)

o Larangan memasuki kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi tanpa alat pengaman.

o Larangan/ peringatan untuk terus mengenakan PPE selama berada di dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi.

Teknik Industri – UBP Karawang 163

Dalam dokumen Ergonomi Analisis Perancangan Kerja (Halaman 157-169)