BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
4.5.2 Uji Kelayakan Model Regresi Berganda
Dalam analisis uji glejser, data dinyatakan tidak ada gejala heterokedastisitas apabila nilai signifikan >0,05. Berdasarkan hasil uji glejser pada tabel 4.18 dapat dinyatakan bahwa tidak ada gejala heterokedastisitas karena nila signifikan keseluruhan >0,05. Untuk melihat konsistensi terkait uji heterokedastisitas, maka penulis juga menganalisis dengan uji scatterplot seperti berikut.
Gambar 4.2 Grafik Uji Scatterplot (Sumber : Data yang diolah, 2022)
Berdasarkan output Scatterplot diatas, terlihat bahwa titik-titik menyebar diantara angka 0 baik diatas maupun dibawah dan tidak membentuk pola tertentu yang jelas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak mengalami gejala heterokedastisitas. Keseluruhan uji asumsi klasik telah terpenuhi, sehingga data layak untuk dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda.
4.5.2 Uji Kelayakan Model Regresi Berganda
independen terhadap variabel dependen. Hasil analisis koefisien determinasi (R2) disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4.19 Hasil Uji Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate
1 .451a .766 .712 20.840861
Sumber : Data diolah, 2022
Berdasarkan hasil tabel diatas, uji determinasi dapat dilihat pada kolom R Square sebesar 0,451. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel independen yang dipilih mampu mempengaruhi variabel sebesar 45%. Sedangkan untuk sisanya 65%
dipengaruhi oleh variabel yang tidak diteliti pada penelitian ini.
2. Koefisien Regresi (Uji F)
Uji F digunakan untuk mengetahui secara bersama-sama atau simultan variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen hasil uji F terdapat pada tabel berikut.
Tabel 4.20 Hasil Uji F
Model Sum of
Squares
df Mean Square F Sig.
1
Regression 216.530 6 101.422 21.429 .021b
Residual 127.242 72 3.295
Total 354.772 78
Sumber : Data diolah, 2022
Pada output uji F di atas dinyatakan bahwa memiliki pengaruh secara simultan atau bersama-sama antara variabel independen terhadap variabel dependen apabila nilai signifikan kurang dari 0,05.
3. Uji Koefisien Regresi (Uji t)
Uji T merupakan pengujian untuk mengetahui parameter (koefisien regresi dan konstanta) yang diperkirakan mengestimasi apakah persamaan model regresi linear berganda merupakan parameter yang tepat atau tidak. Hasil uji koefisien regresi terdapat pada tabel berikut.
Tabel 4.21 Hasil Uji T
Sumber : Data diolah, 2022
Berdasarkan analisis atau uji t yang dilakukan maka diketahui bahwa variabel yang memiliki pengaruh secara parsial terhadap minat petani dalam penggunaan feromon adalah variabel kosmopolitan. Hal ini disimpulkan karena nilai thitung > ttabel dan nilai signifikansi < α = 0,05.
A. Interpretasi Model Persamaan Linear Berganda
Berdasarkan tabel 4.21, dapat dibuat model persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :
Y = α + b1X1 + b2 X2 + b3 X3 + ...
Y = 47,540 + 0,435 X1 + 0,047 X2 - 0,038 X3 + 0,250 X4 + 0,294 X5 + 0,067 X6
Keterangan :
Y = Minat Petani
α = Konstanta
b1 b2 b3 = Koefisien regresi X1 = Usia
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 47.540 6.678 7.745 .000
X1_Usia .435 .092 .444 4.716 .003
X2_Pendidikan .047 .120 .047 .389 .698
X3_Lama Usahatani -.038 -.073 .059 .515 .608
X4_Kosmopolitan .250 .107 .268 2.348 .022
X5_Kegiatan Penyuluhan .294 .110 .302 2.681 .009
X6_Dukungan Pemerintah .067 .108 .070 .615 .540
X2 = Pendidikan X3 = Lama Usahatani
X4 = Kosmopolitan
X5 = Kegiatan Penyuluhan X6 = Dukungan Pemerintah
Model persamaan regresi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Nilai konstanta sebesar 47,540 dapat diartikan ketika petani tidak terpengaruh oleh variabel apapun, minat petani berada pada nilai sebesar 47,540.
2. Pada koefisien regresi variabel usia memiliki nilai sebesar 0,435, artinya setiap peningkatan 1 satuan nilai usia, maka tingkat minat petani meningkat sebesar 0,435.
3. Pada koefisien regresi variabel pendidikan sebesar 0,047, artinya setiap peningkatan 1 satuan nilai pendidikan, maka tingkat minat petani meningkat sebesar 0,047.
4. Pada koefisien regresi variabel lama usahatani sebesar -0,038, artinya setiap peningkatan 1 satuan lama usahatani, maka tingkat minat petani menurun sebesar 0,038.
5. Pada koefisien regresi variabel kosmopolitan sebesar 0,250, artinya setiap peningkatan 1 satuan kosmopolitan, maka tingkat minat petani meningkat sebesar 0,250.
6. Pada koefisien regresi variabel kegiatan penyuluhan sebesar 0,294, artinya setiap peningkatan 1 satuan kegiatan penyuluhan, maka tingkat minat petani meningkat sebesar 0,294.
7. Pada koefisien regresi variabel dukungan pemerintah sebesar 0,067, artinya setiap peningkatan 1 satuan dukungan pemerintah, maka tingkat minat petani meningkat
sebesar 0,067.
4.6 Pembahasan Kajian
4.6.1 Pengaruh Parsial Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap Minat Petani
Berikut merupakan tabel hasil uji regresi linear berganda terkait penggunaan feromon dalam pengendalian hama ulat bawang.
Tabel 4.22 Hasil Uji Regresi Linear Berganda
No. Variabel Koefisien t hitung Signifikansi Simpulan
1. Usia .435 4.716 .003 Berpengaruh
2. Pendidikan .047 .389 .698 Tidak Berpengaruh
3. Pengalaman Usahatani
-.038 .515 .608 Tidak Berpengaruh
4. Kosmopolitan .250 2.348 .022 Berpengaruh
5. Kegiatan Penyuluhan .294 2.681 .009 Berpengaruh 6. Dukungan
Pemerintah
.067 .615 .540 Tidak Berpengaruh Sumber : Data diolah, 2022
Dari hasil uji t yang telah dilakukan maka dapat kita lihat bahwa variabel yang memiliki pengaruh parsial secara signifikan positif terhadap minat petani (Y). Hal tersebut disimpulkan karena thitung > ttabel dan nilai signifikansi < α = (0,05).
Kekuatan pengaruh yang terjadi diantara masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen adalah sebagai berikut :
1. Pengaruh Usia Terhadap Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel usia berpengaruh terhadap minat petani. Dijelaskan pula dalam hasil analisis regresi bahwa variabel usia mempunyai thitung 4,716 > ttabel 1,990 dan diperoleh signifikansi 0,03 lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Hal ini berarti bahwa H1 diterima dan H0 ditolak.
Usia dalam kajian ini masuk dalam kategori sedang dengan presentase 59%.
Berdasarkan hal ini tersebut sebagian besar responden di Desa Coper berada pada usia produktif bekerja maka tingkat pengetahuan para responden pun tinggi dalam
suatu kegiatan seperti hadir pada pertemuan atau kegiatan penyuluhan serta aktif melaporkan kegiatan pertanian kepada petugas dinas pertanian setempat. Pendapat tersebut didukung oleh Hasyim (2006) dalam Ryan et al., (2018) yang menyatakan bahwa petani dengan usia produktif akan bekerja lebih baik dibandingkan dengan petani dengan usia non-produktif. Petani dengan umur produktif memiliki kemampuan fisik serta pola pikir yang sangat baik dala menyerap informasi inovasi baru dan mengaplikasikannya (Waris et al., 2015). Petani bawang merah di Desa Coper dengan umur rata-rata produktif mampu untuk menyerap inovasi dan memanfaatkan fisik dan pikiran untuk menerapkan feromon ini dalam usahataninya dengan baik.
2. Pengaruh Pendidikan Terhadap Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pendidikan tidak berpengaruh terhadap minat petani. Dijelaskan pula dalam hasil analisis regresi bahwa variabel usia mempunyai thitung 0,389 < ttabel 1,990 dan diperoleh signifikansi 0,573 lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Hal ini berarti bahwa H1 ditolak dan H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa pendidikan tidak memiliki pengaruh terhadap minat petani.
Pendidikan diukur dengan mengklarifikasikan pendidikan terakhir yang telah ditempuh oleh petani responden. Keadaan pendidikan petani responden di Desa Coper menunjukkan bahwa rata-rata petani responden telah menempuh pendidikan yang tinggi yaitu SMA dengan presentase 70%. Namun kenyataannya pendidikan yang sudah berada pada kategori tinggi tersebut tidak menjamin bahwa akan selalu memiliki minat juga dalam penggunaan feromon. Pendidikan formal tinggi maupun rendah tidak mempengaruhi minat petani dalam penggunaan feromon. Hal yang sama juga dalam penelitian Panurat (2014) diperoleh bahwa pendidikan tidak berpengaruh
nyata terhadap minat petani berusahatani padi di Desa Sendangan Kecamatan Kakas Kabupaten Minahasa.
Hasil lapangan menunjukkan meskipun tingkat pendidikan formal petani tinggi, tidak mempengaruhi minat petani karena petani tidak pernah mendapat pengetahuan tentang penggunaan feromon untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia dari sekolahnya dulu. Petani lebih membutuhkan pendidikan nonformal seperti penyuluhan dan pelatihan agar minat dan keterampilannya meningkat.
3. Pengaruh Pengalaman Usahatani Terhadap Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pengalaman usahatani tidak berpengaruh terhadap minat petani. Dijelaskan pula dalam hasil analisis regresi bahwa variabel usia mempunyai thitung -0,038 < ttabel 1,990 dan diperoleh signifikansi 0,463 lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan H1
ditolak dan H0 diterima.
Variabel pengalaman usahatani tidak berpengaruh terhadap minat petani hal ini sesuai dengan penelitian Muhammad (2016) yang menyatakan bahwa pengalaman tidak berpengaruh terhadap minat petani dalam berusahatani padi di Kebakkramat Kabupaten Karanganyar.
Hasil penelitian dilokasi penelitian menunjukkan bahwa bertani petani di Desa Coper sekitar 11 – 16 tahun yang dikategorikan cukup lama dalam berusahatani.
Pengalaman merupakan pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai petani selama melakukan pekerjaan dalam jangka waktu tertentu yang dapat mempengaruhi minat seseorang terhadap apa yang dikerjakan. Pengalaman petani yang cukup lama tidak mempengaruhi minat petani karena petani Desa Coper masih awam mengenai penggunaan feromon ini mereka masih bergantung dengan penggunaan kimia yang
dianggapnya lebih menguntungkan bagi tanamannya. Selain masih awam mengenai inovasi baru, alasan yang dikemukakan petani sendiri bahwa lama bertani atau pengalaman bertani tidak menjamin untuk dapat mengatasi kegagalan panen yang terjadi pada bawang merah yang bisa datang kapan saja seperti serangan hama.
4. Pengaruh Kosmopolitan Terhadap Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel kosmopolitan berpengaruh terhadap minat petani. Dijelaskan pula dalam hasil analisis regresi bahwa variabel kosmopolitan mempunyai thitung 2.348 > ttabel 1,990 dan diperoleh signifikansi 0,02 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan H1 diterima dan H0
ditolak.
Pengaruh sangat nyata pada variabel kosmopolitan tersebut dikarenakan petani sebagian besa telah mengenyam pendidikan dari SD sampai SMA sehingga petani lebih mudah terbuka untuk menerima inovasi baru dan petani memperoleh pengetahuan dan informasi pertanian tidak hanya dari petugas penyuluh pertanian saja, tetapi petani memperoleh pengetahuan dan informasi pertanian dari petani yang berhasil didaerah lain, mengikuti pelatihan pertanian, membaca koran, mendengarkan radio atau media informasi lainnya. Pendapat ini sejalan dengan (Van den Ban dan Hawkins 1999 dalam Silaban (2020) menyatakan bahwa masyarakat menggunakan sumber-sumber yang berbeda untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi yang mereka perlukan untuk usahataninya.
Menurut (Rogeres dan Shoemaker 1986 dalam Yahya (2016), menyatakan bahwa kosmopolit seseorang, akan semakin luas juga wawasan dan pergaulannya.
Dari wawasan dan pergaulan yang luas akan memudahkan seseorang untuk mencari solusi dalam menghadapi persoalan-persoalan. Seseorang yang memiliki kosmopolit
yang tinggi relatif lebih dahulu terbuka pada inovasi serta informasi dan dengan kemampuan mereka dapat melihat kebutuhan dan masalah-masalah sistem sosial yang tidak diketahui oleh anggota sosial yang kurang beroirientasi ke luar.
Kekosmopolitan itu juga yang memungkinkan seseorang memliki sikap yang relatif menyukai perubahan dari pada anggota sistem sosial lainnya.
5. Pengaruh Kegiatan Penyuluhan Terhadap Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel kegiatan penyuluhan berpengaruh terhadap minat petani. Dijelaskan pula dalam hasil analisis regresi bahwa variabel kegiatan penyuluhan mempunyai thitung 2.682 > ttabel 1,990 dan diperoleh signifikansi 0,09 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan H1
diterima dan H0 ditolak.
Kegiatan penyuluhan petanian merupakan pendidikan nonformal bagi masyarakat, suatu upaya atau usaha untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usahanya dan tingkat kehidupannya. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan berada di kategori sedang dengan presentase 48% artinya kegiatan penyuluhan sudah cukup membantu petani dalam mengatasi kendala yang dihadapi dalam meningkatkan usahataninya.
6. Pengaruh Dukungan Pemerintah Terhadap Minat Petani Dalam Penggunaan Feromon
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel dukungan pemerintah tidak berpengaruh terhadap minat petani. Dijelaskan pula dalam hasil analisis regresi bahwa variabel usia mempunyai thitung 0,615 < ttabel 1,990 dan diperoleh signifikansi
0,540 lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan H1
ditolak dan H0 diterima.
Variabel dukungan pemerintah tidak berpengaruh terhadap minat petani dalam penggunaan feromon, hal tersebut dikarenakan pemerintah setempat belum sepenuhnya mendukung dalam menginformasikan terkait penggunaan feromon untuk pengendalian ulat bawang merah yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
4.7 Pengaruh Simultan Antara Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap Minat Petani (Uji F)
Pengaruh simultan adalah pengaruh secara bersama-sama antara variabel X yaitu usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah terhadap variabel Y yaitu minat petani. Untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama atau simultan antara variabel X yaitu usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah terhadap variabel Y yaitu minat petani menggunakan uji F.
Pengaruh variabel X (usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah) terhadap variabel Y (minat petani) dapat dilihat bersama-sama menggunakan uji Fdan dalam analisis ini didapat dengan membandingkan antara Fhitung dengan nilai Ftabel pada taraf kepercayaan 5% atau α = 0,05. Hasil yang diperoleh seperti yang tertera pada tabel 4.14, Fhitung 21,429 > Ftabel
2,22 atau Sig. 0,02 < α (0,05) yang berarti pengaruh secara bersama-sama antara variabel usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah terhadap minat petani dalam penggunaan feromon.
75 BAB V
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI
5.1 Kontekstualisasi Hasil Kajian Dengan Rancangan Penyuluhan
Hasil dari analisis deskriptif kajian mengenai minat petani dalam penggunaan feromon yang terdiri 6 variabel independen yaitu usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kosmopolitan, kegiatan penyuluhan dan dukungan pemerintah dan 1 variabel dependen yaitu minat. Dari hasil analisis data tersebut didapatkan bahwa variabel usia, kosmopolitan dan kegiatan penyuluhan menjadi variabel yang memiliki pengaruh signifikan. Dengan adanya variabel usia, kosmopolitan dan kegiatan penyuluhan yang dimasukkan dalam bagian strategi untuk menyusun rancangan penyuluhan, diharapkan dapat membantu petani untuk penggunaan feromon untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia dan dapat meningkatkan pengetahuan petani terkait feromon tersebut, sehingga dapat memaksimalkan produksi bawang merah dengan mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Analisis SWOT menjadi alternatif strategi yang dipilih dalam mencari solusi serta dalam pengambilan keputusan terkait penetapan materi penyuluhan. Analisis SWOT dilakukan di petani bawang merah di Desa Coper yang akan menjadi sasaran penyuluhan.
A. Pengumpulan Data
Berdasarkan hasil observasi dan pengumpulan data kepada para petani, maka di dapatkan faktor internal dan faktor eksternal untuk analisis SWOT sebagai berikut:
1. Kekuatan (S)
a) Antusias petani tinggi terhadap hal yang baru
b) Petani mampu menggunakan tekologi dalam mengakses informasi
c) Tingkat adopsi teknologi
d) Minat petani tinggi terhadap penggunaan feromon 2. Kelemahan (W)
a) Kegiatan penyuluhan kurang intensif
b) Pengetahuan petani mengenai feromon masih kurang c) Penyebaran informasi kurang maksimal
3. Peluang (O)
a) Dapat menambah wawasan b) Petani mudah diarahkan
c) Petani dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia d) Mendapatkan ilmu dan pengalaman baru
4. Ancaman (T)
a) Praktisnya penggunaan pestisida kimia b) Serangan hama penyakit
c) Tidak ada tindak lanjut
B. Analisis Matriks IFAS (Internal Factor Analysis Strategy) dan EFAS (Eksternal Factor Analysis Strategy)
Langkah selanjutnya yaitu, membuat analisis matriks IFAS dan EFAS untuk menentukan rating, skor dan memperoleh posisi titik temu ordinat diantara keduanya.
Parameter untuk penilaian analisis SWOT IFAS dan EFAS ini terdiri dari 14 parameter.
Hasil analisis matriks SWOT IFAS dan EFAS dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.1 Rating Analisis SWOT
NO. NILAI KETERANGAN
1. 4 Sangat Kuat
2. 3 Kuat
3. 2 Mendekati Kuat
4. 1 Lemah
Sumber : Data diolah, 2022
Tabel 5.2 Matriks Strategi Internal (IFAS) FAKTOR STRATEGI INTERNAL
No. Kekuatan Bobot Rating Skor
1. Antusias petani tinggi terhadap hal yang baru
0.16 4 0.64
2. Petani mampu menggunakan teknologi dalam mengakses informasi
0.16 4 0.64
3. Tingkat adopsi teknologi 0.10 3 0.3
4. Minat petani tinggi terhadap penggunaan feromon
0.16 4 0.64
Total Skor 0.58 2.22
No. Kelemahan Bobot Rating Skor
5. Kegiatan penyuluhan kurang intensif 0.14 2 0.28 6. Pengetahuan petani mengenai feromon
masih kurang
0.18 3 0.54
7. Penyebaran informasi kurang maksimal 0.10 2 0.2
Total Skor 0.42 1.02
Sumber : Data diolah, 2022
Berdasarkan hasil analisis IFAS, pada faktor kekuatan menghasilkan skor 2.22, dan faktor kelemahan mendapatkan skor 1.02, sehingga total skor yang didapatkan pada analisis IFAS sebesar 3.24. Pada faktor kekuatan disebutkan bahwa antusias petani tinggi terhadap hal yang baru, petani mampu menggunakan teknologi dalam mengakses informasi, tingkat adopsi teknologi, minat petani tinggi terhadap penggunaan feromon. Sedangkan pada faktor kelemahan disebutkan bahwa kegiatan penyuluhan kurang intensif, pengetahuan petani mengenai feromon masih kurang, penyebaran informasi kurang maksimal. Dengan nilai total skor positif di atas 2,5 artinya posisi internal cukup kuat yang memiliki kemampuan di atas rata – rata dalam memanfaatkan kekuatan dan mengantisipasi kelemahan (Kusuma & Probowati, 2014).
Tabel 5.3 Matriks Strategi Eksternal (EFAS) FAKTOR STRATEGI EKSTERNAL
No. Peluang Bobot Rating Skor
1. Dapat menambah wawasan 0.20 4 0.8
2. Petani mudah diarahkan 0.15 3 0.45
3. Petani dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia
0.15 3 0.45
4. Mendapatkan ilmu dan pengalaman baru
0.10 2 0.2
Total Skor 0.6 1.9
No. Ancaman Bobot Rating Skor
5. Praktisnya penggunaan pestisida kimia 0.10 2 0.2
6. Serangan hama penyakit 0.18 3,5 0.63
7. Tidak ada tindak lanjut 0.10 2 0.2
Total Skor 0.38 1.03
Sumber : Data diolah, 2022
Berdasarkan hasil matriks faktor eksternal untuk peluang mendapatkan skor sebesar 1.9 dan ancaman mendapatkan skor sebesar 1.03, sehingga total skor yang didapatkan 2,93. Pada faktor peluang disebutkan bahwa dapat menambah wawasan, petani mudah diarahkan, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia, mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Sedangkan pada faktor ancaman disebutkan bahwa praktisnya penggunaan pestisida kimia, serangan hama dan penyakit dan tidak ada rencana tindak lanjut. Dengan nilai total skor positif di atas 2,5 artinya posisi internal cukup kuat yang memiliki kemampuan di atas rata – rata dalam memanfaatkan peluang dan mengantisipasi ancaman eksternal (Kusuma &
Probowati, 2014).
C. Tahap analisis
Setelah melakukan perhitungan bobot dari masing-masing faktor internal maupun faktor eksternal yang kemudian dianalisis. Pada tahap analisis ini dilakukan dengan melihat selisih skor total kekuatan dengan skor total kelemahan yang akan menjadi sumbu x dan selisih skor total peluang dengan skor total ancaman yang kemudian menjadi sumbu y.
Sumbu x = skor total kekuatan – skor total kelemahan
= 2.22 – 1.02
= 1.2
Sumbu y = skor total peluang – skor total ancaman
= 1.9 – 1.03
= 0,87
Dari perhitungan diatas, selanjutnya menggabungkan sumbu x dan sumbu y dalam satu koordinat titik yang terbagi menjadi 4 kuadran yaitu kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Hail dari matriks analisis SWOT dapat disajikan pada gambar 5.1.
OPPORTUNITIES
WEAKNESS
KIII KI
STRENGTH
5 4 3 2 1
0
-4 -3 -2 -1 0 0 1 2 3 4
-1 -2 -3 -4 -5
KIV KII
THREAT
Gambar 5.1 Hasil Matriks Analisis SWOT
Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa posisi titik koordinat berada pada kuadran I (positif – positif) atau berada pada posisi diantara Strength dan Opportunities berarti posisi tersebut menguntungkan dengan adanya peluang dan
kekuatan. Dimana dengan memanfaatkan peluang yang ada untuk menguatkan strategi yang dikembangkan.
Melalui hasil analisis SWOT dengan mengumpulkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman didaptkan bahwa strategi yang digunakan adalah strategi Strenght – Opportunities. Strategi S – O merupakan strategi yang menggunakan kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang eksternal.
D. Pembuatan Matriks Strategi SWOT
Setelah dilakukan penentuan matriks posisi dalam SWOT, maka dilanjutkan dengan penjelasan posisi strategi untuk minat petani dalam penggunaan feromon.
Matriks SWOT dapat dilihat pada lampiran.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan matriks kuadran SWOT maka strategi yang digunakan untuk mendukung rancangan penyuluhan adalah strategi S – O (Kekuatan – Peluang) yaitu :
1) Memaksimalkan penggunaan teknologi sebagai media, untuk mendukung kegiatan usahatani para petani dalam mengakses atau memperoleh informasi mengenai pengendalian hama terpadu.
2) Pengembangan minat penggunaan feromon atau pengendali hama yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida.
3) Memaksimalkan kegiatan penyuluhan, sehingga petani mengerti dan menambah wawasan serta mampu mengatasi permasalahan dalam usahataninya.
5.1.1 Sasaran Penyuluhan
Berdasarkan hasil identifikasi potensi wilayah di Desa Coper Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo, terdapat beberapa petani yang belum mengetahui terkait penggunaan feromon dalam mengendalikan hama ulat bawang merah. Petani Desa
Coper masih bergantung pada pestisida kimia yang tidak ramah bagi lingkungan.
Sasaran penyuluhan berhubungan dengan materi yang akan diberikan. Sasaran penyuluhan merupakan pihak yang berhak memperoleh manfaat dari penyuluhan.
Sasaran penyuluhan ditetapkan berdasarkan hasil kajian dalam penyuluhan ini merupakan petani responden kajian yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sasaran penyuluhan berumur antara 31-53 tahun yang merupakan usia produktif. Sasaran ditentukan dengan teknik purposive sampling atau dengan unsur kesengajaan, berjumlah 30 petani. Pemilihan sasaran berdasarkan karakteristik petani yaitu, petani bawang merah yang sedang aktif dalam melakukan usahatani bawang merah.
5.1.2 Tujuan Penyuluhan
Tujuan dilaksanakan penyuluhan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan petani terkait penggunaan feromon. Sehingga dapat mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap petani desa mengenai materi yang telah disampaikan. Hal itu dipilih karena belum ada penyuluhan terkait pengendalian menggunakan feromon ini sebelumnya.
Hanya beberapa petani saja yang mengetahui mengenai feromon dari informasi petani dari daerah lain. Adanya penyuluhan terkait penggunaan feromon diharapkan dapat mendorong petani untuk menambah minat petani menggunakan feromon sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Menurut Baker (1971) dalam Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2008) bahwa tujuan yang baik mengandung unsur ABCD yaitu, Audience (sasaran), sasaran dalam penyuluhan ini yaitu petani bawang merah Desa Coper; Behaviour (Perilaku), tujuan penyuluhan yang diharapkan agar petani sasaran mengetahui dan mampu menerapkan dalam usahataninya; Conditioning (Keadaan/kondisi), melalui ceramah dan diskusi kelompok, diharapkan petani mampu menambah pengetahuan terkait penggunaan feromon; Degree (Ukuran), penulis ingin mengetahui tingkat
pengetahuan dengan capaian yang diharapkan 85% dan mengetahui tingkat sikap petani terkait penggunaan feromon setelah dilakukan penyuluhan.
5.1.3 Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan merupakan bentuk bentuk pesan yang ingin disampaikan oleh penyuluh kepada sasaran yang ingin disuluhkan untuk mendapatkan manfaat.
Dalam hal ini penetapan materi berasal dari hasil kajian yang telah dilaksanakan, yaitu terdapat pengaruh yang nyata pada variabel kosmopolitan terhadap penggunaan feromon. Selain berdasarkan dengan hasil kajian, materi penyuluhan juga ditentukan berdasarkan SWOT, kondisi sasaran, kebutuhan sasaran, serta permasalahan yang terjadi di wilayah sasaran, sehingga dapat ditentukan materi penyuluhannya yaitu,
“Penggunaan Feromon Dalam Pengendalian Hama Ulat Bawang Merah”. Matriks pengambilan keputusan materi penyuluhan disajikan pada lampiran 7.
5.1.4 Metode Penyuluhan
Ditinjau berdasarkan karakteristik sasaran, maka penetapan metode penyuluhan disesuaikan dengan karakteristik petani seperti umur dan pendidikan yang ditempuh dapat mempengaruhi tingkat penerimaan inovasi baru. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, mayoritas umur petani masuk dalam golongan usia 43-53 tahun yang diketahui usia tersebut adalah usia produktif. Hal tersebut dapat mempengaruhi penentuan metode yang akan digunakan selama kegiatan penyuluhan serta kematangan berpikir dalam mengambil keputusan. Sedangkan ditinjau berdasarkan tingkat pendidikan sasaran mayoritas memiliki tingkat pendidikan tamatan SMP. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula produktivitas kerjanya karena orang tersebut memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan wawasan yang luas.