• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPATUHAN PERBANKAN | BANKING COMPLIANCE

Dalam dokumen Sarana Pencucian Uang - Pusdiklat APU-PPT (Halaman 40-44)

P

andemi virus corona (Covid-19) telah meruntuhkan perekonomian dunia. Pandemi ini menyebabkan munculnya tantangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mayoritas dunia harus menerima penurunan ekonomi dalam pertumbuhan minus, sebagaimana terjadi di Indonesia. Namun demikian, selalu ada peluang di tengah kesulitan, yaitu yang disebut dengan digital banking.

Saat ini bank berlomba-lomba bertransformasi dan berinvestasi pada sistem digital. Akselerasi transformasi digital telah merubah pola perilaku konsumen yaitu berupaya menghubungkan dunia fisik dengan dunia digital. Saat ini, sebagai akibat pandemi Covid-19 ini, pemerintah, swasta, dan individu terpaksa untuk beralih ke sistem online untuk melaksanakan pekerjaan secara jarak jauh. Hal inilah yang menyebabkan transaksi digital banking juga mengalami peningkatan signifikan.

Bank Indonesia (BI) memprediksi digital banking akan terus mengalami pertumbuhan hingga akhir tahun 2021. BI memprediksi transaksi digital banking akan mencapai Rp35.600 triliun pada tahun 2021, atau tumbuh 30,1% dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp27.036 triliun. Adapun hingga paruh pertama tahun 2021, transaksi digital banking mencapai Rp17.901 triliun atau tumbuh 39%

dibandingkan paruh pertama tahun 2020. Pertumbuhan transaksi digital banking dipicu oleh tiga faktor. Pertama, meningkatnya preferensi masyarakat untuk melakukan transaksi digital sebagai akibat pandemi Covid-19. Kedua, perbankan terus berekspansi dalam layanan pembayaran digital untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat.

Ketiga, adanya percepatan transformasi digital pada sektor keuangan, membuat bank berlomba-lomba untuk bertransformasi menuju digital banking. (https://www.cnbcindonesia.com)

Selain itu, BI juga memproyeksikan pertumbuhan transaksi e-commerce tahun 2021 akan mengalami kenaikan hingga 33,2% yaitu sebesar Rp337 triliun jika dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp253 triliun. BI juga memperkirakan terjadinya peningkatan penggunaan uang elektronik sebesar 32,3% atau setara Rp266 triliun, jika dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp201 triliun. Selain itu, BI juga memperkirakan peningkatan transaksi digital banking pada tahun 2021 menjadi sekitar Rp32.206 triliun atau tumbuh 19,1% dari proyeksi realisasi transaksi digital banking tahun 2020 yang mencapai Rp27.036 triliun. (https://www.cnbcindonesia.com).

Menurut penelitian, digital banking dan transaksi digital diperkirakan akan berkembang secara luas pada 5 sampai dengan 10 tahun mendatang. Namun akibat dari pandemi ini, era digital banking dipaksa untuk diterapkan lebih awal. Meskipun pandemi Covid-19 akan berlalu, diperkirakan tren digital banking ini akan semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Potensi inilah yang membuat sektor perbankan kini mulai mengembangkan layanan digital.

Percepatan perkembangan digital banking ini tentunya juga memunculkan risiko, baik risiko terjadinya kejahatan siber, fraud, maupun risiko pencucian uang. FATF dalam publikasinya “COVID- 19-related Money Laundering and Terrorist Financing Risks and Policy Responses”, yang diterbitkan pada bulan Mei 2020, menyatakan beberapa ancaman dan kerentanan terkait pandemi Covid-19 dan digitalisasi perbankan sebagai berikut:

Perbankan melakukan CDD/verifikasi identitas pelanggan secara jarak jauh yang dapat menyebabkan peningkatan risiko pelaku kejahatan mengeksploitasi menurunnya pengendalian internal; dan

Peningkatan transaksi online menyebabkan kerentanan terhadap kejahatan. Segmen tertentu seperti orang berusia lanjut, kelompok berpendidikan rendah, dan komunitas terpencil yang masih awam dengan platform online, sehingga lebih rentan terhadap penipuan.

Berbagai risiko tersebut tentunya menjadi perhatian serius bagi kita semua. Salah satu dukungan mitigasi yang dilakukan ialah dengan menetapkan regulasi. OJK secara prinsip mendukung digital banking melalui pengaturan berdasarkan prinsip (principle based) supaya tercipta ekosistem yang kondusif bagi transformasi digital layanan perbankan. Pengaturan berdasarkan prinsip (principle based) akan memberikan kemudahan, namun perbankan dituntut untuk tetap memperhatikan aspek keamanan.

Oleh sebab itu, kemudian OJK menerbitkan POJK Nomor 12 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Layanan Perbankan Digital

Bank Indonesia (BI) predicts that digital banking would continue to grow until the end of 2021. It foresees that digital banking transactions would reach IDR 35,600 trillion in 2021, or grows 30.1% relative to last year’s IDR 27,036 trillion. For the first half of 2021, digital banking transactions were IDR 17,901 trillion or grew 39% relative to the first half of 2020. The growth of digital banking transactions is triggered by three factors.

First, the public preference for digital transactions increases as a result of the Covid-19 pandemic. Second, banking continues to expand their digital payment services to facilitate people’s needs. Third, the acceleration of digital transformation in the financial sector leads banks to compete to transform into digital banking (https://www.cnbcindonesia.com).

In addition, BI also projects that the growth of e-commerce transactions in 2021 would increase by 33.2%, amounting to IDR 337 trillion relative to IDR 253 trillion in 2020. Furthermore, BI also estimates that there would be an increase in the use of electronic money by 32.3% or equivalent to IDR 266 trillion, relative to IDR 201 trillion in 2020. In addition, it also estimates an increase in digital banking transactions in 2021 of around IDR 32.206 trillion, or a 19.1% growth from the projected realization of IDR 27.036 trillion in 2020 (https://

www.cnbcindonesia.com).

Studies show that digital banking and digital transactions are expected to expand widely in the next 5 to 10 years.

However, as a result of this pandemic, the digital banking era is forced to be implemented early. Even though the Covid-19 pandemic would elapse, this digital banking trend is estimated to continue to develop in order to meet the people’s needs. It is this potential that leads the banking sector to begin to develop digital services.

Of course, this accelerated development of digital banking also raises risks, such as the risk of cybercrimes, fraud, and money laundering. The FATF in its publication “COVID-19-related Money Laundering and Terrorist Financing Risks and Policy Responses”, published in May 2020, stated several threats and vulnerabilities related to the Covid-19 pandemic and banking digitalization as follows:

Banks perform CDD/customer identity verification remotely which may lead to an increased risk of criminals exploiting the declining internal control; and

The increase in online transactions leads to vulnerability to crime. Certain segments, such as the elderly, low-educated groups, and remote communities, remain unfamiliar with online platforms, making them more vulnerable to fraud.

Those various risks are certainly of serious concern for all of us. Among the mitigation supports is to establish regulations.

In principle, OJK supports digital banking through principle- based regulation in order to create a conducive ecosystem for the digital transformation of banking services. Principle-based regulations will provide convenience, but banks are required to continue to pay attention to security aspects.

Therefore, OJK issued POJK Number 12 of 2018 concerning Implementation of Digital Banking Services by Commercial Banks aimed at protecting customers. On the other hand,

oleh Bank Umum yang bertujuan untuk melindungi nasabah. Di sisi lain, Bank sebagai pelaksana harus menyiapkan protokol keamanan penyelenggaraan layanan digital. Berkaitan hal tersebut, OJK juga telah menerbitkan POJK Nomor 38 tahun 2016 sebagaimana telah diubah dengan POJK Nomor 13 tahun 2020 tentang Manajemen Risiko Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Diterbitkannya peraturan ini menunjukkan arti penting kepercayaan nasabah karena dapat mengakibatkan risiko yang sangat signifikan bagi kehidupan perbankan.

Selain itu, OJK juga menyusun 2 (dua) strategi untuk mendukung transformasi digital. Pertama, penguatan akselerasi digital banking melalui penyiapan dasar hukum percepatan aktivitas digitalisasi seperti; open banking, open Application Program Interface (API), cloud computing, dan lain-lain. Kedua, penguatan infrastruktur akselerasi digital banking melalui; pengembangan talenta, penerapan regulatory technology (RegTech) dan supervisory technology (SupTech), implementasi aplikasi O-BOX, pengembangan digital signature, serta penguatan permodalan perbankan.

Di sisi lain, Indonesia saat ini juga masih berupaya memenuhi segala persyaratan untuk menjadi anggota FATF. Salah satu poin utama prasyarat Indonesia untuk menjadi anggota FATF yaitu memenuhi Mutual Evaluation Review (MER) yang bertujuan untuk mengevaluasi 40 rekomendasi utama. MER yang dilakukan oleh FATF terhadap Indonesia, akan menilai kepatuhan rezim APU PPT di Indonesia mencakup aspek kepatuhan teknis terhadap 40 Rekomendasi FATF dan penilaian terhadap efektifitas pelaksanaannya (11 Immediate Outcomes/IO), di mana salah satunya ialah IO-4 yaitu pendekatan pencegahan berbasis risiko dan pelaporan transaksi mencurigakan.

Dalam upaya pemenuhan rekomendasi IO-4 FATF, OJK sebagai Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) bagi Penyedia Jasa Keuangan (PJK) telah menetapkan Peraturan OJK nomor: 23 / POJK.01/2019 tentang Perubahan Atas Peraturan OJK Nomor: 12/

POJK.01/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan. Peraturan mencanangkan ruang lingkup penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme yang disebut dengan 5 (lima) pilar, yaitu: (1) Pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris, (2) Kebijakan dan prosedur, (3) Pengendalian internal, (4) Sistem informasi manajemen; dan (5) Sumber daya manusia dan pelatihan.

Di sektor Perbankan, PPATK dan OJK juga bersinergi melakukan pengawasan. Sinergi ini dituangkan dalam penandatangan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah berlangsung sejak tahun 2013. Sejumlah kerjasama dilaksanakan dalam bentuk pertukaran informasi, penyusunan ketentuan/pedoman, koordinasi pemeriksaan (audit), sosialisasi, penugasan pegawai, serta penelitian dan pengembangan sistem teknologi informasi.

Sinergi dalam bidang pemeriksaan/audit, OJK dan PPATK telah melakukan Audit Bersama (Joint Audit) dalam rangka audit kepatuhan maupun audit khusus. Sebagai akibat dari pandemi Covid-19 ini tentunya akan mempengaruhi proses pengawasan yang dilakukan OJK dan PPATK, baik dilihat dari sisi perencanaan maupun perubahan metode pemeriksaan/audit menjadi jarak jauh.

Sinergi antara OJK dengan PPATK sangatlah penting dalam pengawasan penerapan peraturan berdasarkan prinsip (principle based) ini. Melalui sinergi pengawasan, diharapkan Perbankan memiliki

banks as the executor should prepare a security protocol for the implementation of digital services. In this regard, OJK also issued POJK Number 38 of 2016 as amended by POJK Number 13 of 2020 concerning Information Technology Risk Management by Commercial Banks. The issuance of this regulation shows the importance of customer trust since it may create highly significant risks to banking life.

In addition, OJK has also developed 2 (two) strategies to support digital transformation. The first strategy is to strengthen the acceleration of digital banking by preparing the legal basis for accelerating digitalization activities, such as, open banking, open Application Program Interface (API), cloud computing, and others. The second strategy is to strengthen digital banking acceleration infrastructure through talent development, implementation of regulatory technology (RegTech) and supervisory technology (SupTech), implementation of O-BOX application, development of digital signature, and strengthening of banking capital.

On the other hand, Indonesia currently remains trying to fulfill all the requirements to become a member of the FATF. One of the main prerequisites is to fulfill the Mutual Evaluation Review (MER) aimed at evaluating 40 main recommendations. MER undertaken by the FATF for Indonesia will assess the compliance with the AML/CFT regime in Indonesia, including aspects of technical compliance with the 40 FATF Recommendations and an assessment of the effectiveness of its implementation (11 Immediate Outcomes/IOs), one of which is IO-4, namely a risk-based prevention approach and suspicious transaction reporting.

In an effort to fulfill the FATF recommendation of IO-4, OJK as the Supervisory and Regulatory Agency (LPP) for Financial Service Providers (PJK) set OJK Regulation number: 23 /POJK.01/2019 concerning Amendments to OJK Regulation Number: 12/POJK.01/2017 concerning Implementation of Anti-Money Laundering and Prevention of Terrorism Financing Programs in the Financial Services Sector. The regulation stipulates the scope of implementation of the Anti-Money Laundering and Prevention of Terrorism Financing Program which is referred to as 5 (five) pillars: (1) Active supervision of the Board of Directors and the Board of Commissioners, (2) Policies and procedures, (3) Internal control, (4) Management information System; and (5) human resources and training.

In the banking sector, INTRAC and OJK also synergize in supervising, as stated in the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) which has been going on since 2013. A number of collaborations have been made in the form of information exchange, preparation of provisions/guidelines, coordination of audits, socialization, employee assignments, as well as information technology system research and development.

As for synergy in audits, OJK and INTRAC have conducted Joint Audits in term of compliance audits and special audits. As a result of the Covid-19 pandemic, this would certainly affect the supervision process performed by OJK and INTRAC, both in terms of planning and changing the audit method into the remote one.

The synergy of OJK with INTRAC is important with regard to monitoring the implementation of principle-based regulation. With the synergy of supervision, banks are expected to have adequate commitment,

KEPATUHAN PERBANKAN | BANKING COMPLIANCE

komitmen, pengetahuan, dan tingkat kepatuhan yang memadai untuk memitigasi risiko digital banking. Harapannya, perubahan perilaku masyarakat ini bisa direspons menjadi sebuah akselerasi berbagai layanan digital banking, namun tetap mengedepankan aspek keamanan nasabah serta keamanan sistem keuangan dari TPPU dan PT.•

knowledge and level of compliance to mitigate digital banking risks. It is hoped that this change in people’s behavior can be responded to be an acceleration of various digital banking services, while still prioritizing aspects of customer security and financial system security from the crimes of money laundering and terrorism financing.

Referensi:

• Anisyah Al Faqir. 2020. OJK Dukung dan Siapkan Infrastruktur Ekosistem Digital di Layanan Perbankan. Diambil dari:

https://www.merdeka.com/uang/ojk-dukung-dan-siapkan- infrastruktur-ekosistem-digital-di-layanan-perbankan.html.

Diakses pada: 23 Maret 2021.

• Aroel. 2021. OJK Luncurkan Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025. Diambil dari: https://

www.propertynbank.com/ojk-luncurkan-roadmap- pengembangan-perbankan-indonesia-2020-2025/. Diakses pada 20 Maret 2021.

• FATF Publications. 2020. COVID-19-related Money Laundering and Terrorist Financing Risks and Policy Responses. Paris.

Diambil dari: https://www.fatf-gafi.org/publications/

fatfgeneral/documents/covid-19-ml-tf.html. Diakses pada 20 Maret 2021.

• Liputan6. 2020. Dukungan OJK Percepat Transformasi Digital Perbankan. Jakarta. Diambil dari: https://www.liputan6.com/

bisnis/read/4313011/dukungan-ojk-percepat-transformasi- digital-perbankan. Diakses pada 20 Maret 2021.

• OJK. 2013. Siaran Pers Nota Kesepahaman antara OJK dan PPATK. Jakarta. Diambil dari: https://www.ojk.go.id/id/berita- dan-kegiatan/siaran-pers/Documents/186.pdf. Diakses pada:

23 Maret 2021.

• OJK. 2019. Pelaksanaan MER terhadap Indonesia tahun 2019- 2020. Jakarta. Diambil dari: https://www.ojk.go.id/apu-ppt/

id/berita-dan-kegiatan/info-terkini/Pages/Pelaksanaan-MER- terhadap-Indonesia-tahun-2019-2020.aspx. Diakses pada: 23 Maret 2021.

• Republik Indonesia. 2019. Peraturan OJK Nomor: 23 / POJK.01/2019 tentang Perubahan Atas Peraturan OJK Nomor:

12/POJK.01/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan. Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan.

• Cantika Adinda Putri. 2021. Kantor Cabang & ATM Ditinggal, Transaksi Digital Jadi Melesat. Diambil dari: https://www.

cnbcindonesia.com/market/20210729164035-17-264671/

kantor-cabang-atm-ditinggal-transaksi-digital-jadi-melesat.

Diakses pada 10 September 2021.

• Rahajeng Kusumo Hastuti. 2021. Bos BI: Transaksi e-Commerce Bakal Tembus Rp 395 T di 2021. Diambil dari: https://www.

cnbcindonesia.com/tech/20210722155613-37-262842/bos- bi-transaksi-e-commerce-bakal-tembus-rp-395-t-di-2021.

Diakses pada 10 September 2021.

References

• Anisyah Al Faqir. 2020. OJK Dukung dan Siapkan Infrastruktur Ekosistem Digital di Layanan Perbankan. Diambil dari:

https://www.merdeka.com/uang/ojk-dukung-dan-siapkan- infrastruktur-ekosistem-digital-di-layanan-perbankan.html.

Diakses pada: 23 Maret 2021.

• Aroel. 2021. OJK Luncurkan Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025. Diambil dari: https://www.

propertynbank.com/ojk-luncurkan-roadmap-pengembangan- perbankan-indonesia-2020-2025/. Diakses pada 20 Maret 2021.

• FATF Publications. 2020. COVID-19-related Money Laundering and Terrorist Financing Risks and Policy Responses. Paris.

Diambil dari: https://www.fatf-gafi.org/publications/

fatfgeneral/documents/covid-19-ml-tf.html. Diakses pada 20 Maret 2021.

• Liputan6. 2020. Dukungan OJK Percepat Transformasi Digital Perbankan. Jakarta. Diambil dari: https://www.liputan6.com/

bisnis/read/4313011/dukungan-ojk-percepat-transformasi- digital-perbankan. Diakses pada 20 Maret 2021.

• OJK. 2013. Siaran Pers Nota Kesepahaman antara OJK dan INTRAC. Jakarta. Diambil dari: https://www.ojk.go.id/id/berita- dan-kegiatan/siaran-pers/Documents/186.pdf. Diakses pada:

23 Maret 2021.

• OJK. 2019. Pelaksanaan MER terhadap Indonesia tahun 2019- 2020. Jakarta. Diambil dari: https://www.ojk.go.id/apu-ppt/

id/berita-dan-kegiatan/info-terkini/Pages/Pelaksanaan-MER- terhadap-Indonesia-tahun-2019-2020.aspx. Diakses pada: 23 Maret 2021.

• Republik Indonesia. 2019. Peraturan OJK Nomor: 23 / POJK.01/2019 tentang Perubahan Atas Peraturan OJK Nomor:

12/POJK.01/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan. Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan.

• Cantika Adinda Putri. 2021. Kantor Cabang & ATM Ditinggal, Transaksi Digital Jadi Melesat. Diambil dari: https://www.

cnbcindonesia.com/market/20210729164035-17-264671/

kantor-cabang-atm-ditinggal-transaksi-digital-jadi-melesat.

Diakses pada 10 September 2021.

• Rahajeng Kusumo Hastuti. 2021. Bos BI: Transaksi e-Commerce Bakal Tembus Rp 395 T di 2021. Diambil dari: https://www.

cnbcindonesia.com/tech/20210722155613-37-262842/bos- bi-transaksi-e-commerce-bakal-tembus-rp-395-t-di-2021.

Diakses pada 10 September 2021.

M

enjadi sebuah institusi pemerintah yang aktif di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia, PPATK telah secara berkesinambungan membangun dan membina kerja sama dengan berbagai pihak di dalam negeri. Penjajakan dan penyusunan kerja sama dalam negeri tidak hanya dilakukan dengan Kementerian/Lembaga, namun juga dengan asosiasi pihak pelapor, perguruan tinggi, lembaga penelitian, media massa maupun lembaga lain yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Kerja sama dalam negeri PPATK dengan para pemangku kepentingan telah dibangun dan dibina sejak PPATK berdiri pada 17 April 2002 hingga saat ini. Dibawah 4 (empat) periode kepemimpinan Kepala PPATK yaitu Yunus Husein (2002-2011), Muhammad Yusuf (2011-2016), Ki Agus Ahmad Badarruddin (2016- 2020) dan Dian Ediana Rae (2020-2021), PPATK telah menjalin

±117 kerja sama melalui Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding), Perjanjian Kerja Sama, Petunjuk Teknis maupun bentuk perjanjian lain yang disepakati.

Impelementasi dari kerja sama dalam negeri antara PPATK dan para pemangku kepentingan telah mendukung pelaksanaan

Sepak Terjang Kerja Sama

Dalam dokumen Sarana Pencucian Uang - Pusdiklat APU-PPT (Halaman 40-44)

Dokumen terkait