BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. KepribadianAnak
Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan jumlah definisi dan arti dari kepribadian sangat beragam bahkan sejumlah orang yang
menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya.
Sedangkan menurut Syamsul Yusuf (2011) ‘‘kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikologi yang lahir berdasarkan pemikiran, kajian atau temuan –temuan (hasil praktik penanganan kusus) para ahli’’. Adapun kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris personality. Kata personality sendiri dari bahasa latin persona yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Disini para aktor menyembunyikan kepribadiannya yang asli, dan menampilkan dirinya sesuai dengan topeng yang digunakan.
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi.Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu, definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
Hasil penelitian dalam hal yang berkaitan dengan kepribadian secara umum sebagaimana dikatakan dalam kesimpulan Allport dalam Guilford, ( 1959) menyimpulkan bahwa :
Istilah kata kepribadian memiliki paling sedikitnya lima puluh pengertian. ‘‘Kata kepribadian yang lebih dikenal dengan istilah personality berasal dari kata persona. Pada mulanya kata persona ini menunjuk kepada topeng yang biasa digunakan
olehpara pemain sandiwara dalam memainkan peranan- peranannya pada zaman Romawi dan bisa juga menunjukkan pada sesuatu yang digambarkan mengenai peran diri oleh individu dibalik topeng’’.
Lebih detail tentang definisi kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Sigmund Freud dalam Desmita, (2010) ‘‘memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut’’.
Dari teori kepribadian diatas, maka penulisdapat megambil kesimpulan sebagai berikut :
1) Sebagianbesar batasan melukiskan kerpibadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain kepribadian dipandang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku kita.
2) Sebagian besar batasan menekankan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah “kepribadian”, keunikan dari setiap individu melalui study tentang kepribadian, sifat- sifat atau kumpulan sifat individu yang membedakannya dengan individu lain diharapkan dapat menjadi jelas atau dapat dipahami.
Para teoris kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik dan atau khas pada diri setiap orang.
3) Sebagian besar batasan menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut “sejarah hidup”, perkembangan, dan perspektif.
Kepribadian, menurut teori kepribadian, merepresentasikan proses keterlibatan subyek atau individu atas pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup factor-faktor genetik atau biologis, pengalaman-pengalaman sosial, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan
Karakterdiartikan sebagai tabiat, yang bermaknakan perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan atau bisa diartikan sebagai watak, yaitu sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku atau kepribadian.
Orang yang berlaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berperilaku jujur dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia.
Dua karakter yang saling berlawanan, yaitu karakter baik dan buru adalah dua potensi yang telah Allah swt anugrahkan kepada manusia sehingga salah satu potensi dari keduanya akan saling bergesekan. Dengan demikian peran akal disinilah berfungsi untuk mengambil salah satu dari dua pilhan baik atau jelaek .Sebagaimana firman Allah dalam surat asy-Syams ( 91) : 8-10.
ﺎَﮭ ٰﯨ َو ۡﻘَﺗ َو ﺎَھَروُﺟُﻓ ﺎَﮭَﻣَﮭۡﻟَأ
َفﺎَﮭ ٰﯨﱠﻛَز نَﻣ َﺢَﻠ ۡﻓَأ ۡدَﻗ ٨ ﺎَﮭ ٰﯨﱠﺳَد نَﻣ َبﺎَﺧ ۡدَﻗ َو ٩
١٠
Terjemahnya :
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.(Departemen Agama RI,2010 : 595)
Karakter dapat diartikan juga dengan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan yang berlandaskan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat yang berlaku di lingkungannya.
Sedangkan secara terminology,makna karakter dikemukakan olehThomas Lickonadalam Marzuki,(2009) bahwa:
Karakter adalah “A reliable inner disposition to respond to situations in amorally good way.” Selanjutnya, Lickona menambahkan,“Characters oconceivedh as three interrelated parts:
moral knowing, moral feeling and moral behavior”. (Menurut Lickona, ‘‘karakter mulia (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan (moral khowing), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (moral feeling) dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (moral behavior). Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes) dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills’’).
Dari beberapa pengertian di atas maka, karakter tersebut sangat identik dengan akhlak, sehingga karakter dapat diartikan sebagai perwujudan dari nilai-nilai perilaku manusia yang universal serta meliputi seluruh aktivitas manusia, baik hubungan antar manusia dengan tuhan (hablumminallah),hubungan manusia dengan manusia
(hablumminannas) serta hubungan manusia dengan lingkungannya.
2. Anak
Pembetukan kepribadian anak adalah hal yang sangat urgen karena orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak. Pengaruh orangtua dalam memberikan pendidikan kepada anak adalah faktor penentu dimana perkembangan anak maksimal atau tidak tergantung dari orangtua.
Mansur (2014) mengatakan ‘‘Relasi pendidikan antara ibu dan anak dimulai pada saat prenatal. Prilaku atau tindakan ibu dapat mempengaruhi perkembangan anak yang belum lahir meliputi dua segi, yakni prilaku secara fisik dan psikis (spiritual), atau prilaku jasmani dan rohani yang masing – masing dapat berakibat langsung atau tidak langsung. Oleh karenanya bagi orangtua hendaklah melakuka tindakan atau prilaku yang bersifat mendidik’’.
Proses pengembangan potensi jiwa dan akal yang tumbuh secara wajar dan seimbang, dalam masyarakat yang berkebudayaan.
untuk itu kesalahan dalam pemahaman hakikat anak bisa menjadikan kegagalan total bagi pendidik, untuk itu ada beberapa hal yang perludi pahami mengenai anak didik, sebagaimana dijelaskan Tafsir dalam Heri Gunawan (2014 :209) sebagai berikut:
‘‘Anak didik bukan miniature orang dewasa yang mana dia mempuyai duni sendiri sehingga proses belajar mengajar tidak bisa disamakan dengan duniaorang dewasa, Anak didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramnya, Anak didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin, Anak didik memilikiperbedaan antara individu dengan individu yang lain, anak didik dipandang sebagai kesatuan system manusia, dan Anak didik merupakan obyek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif.
D. Agama Islam