• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Konseptual

Dalam dokumen LAMPIRAN-LAMPIRAN (Halaman 58-61)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Kerangka Konseptual

3. Openess (keterbukaan), yaitu pemberian informasi secara terbuka, untuk open free suggestion, dan terbuka terhadap krtitik yang dilihat sebagai partisipasi untuk perbaikan.

4. Rule of law (aturan hukum), yaitu keputusan dan kebijakan pemerintah, organisasi, badan usaha yang menyangkut masyarakat dan pihak ketiga, dilakukan berdasarkan hukum (peraturan yang sah). Jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat terhadap kebijakan publik yang ditempuh, juga dalam social economic transaction (transaksi sosial ekonomi).

5. Fairness (jaminan keadilan), A level of playing (perlakuan yang adil/kesetaraan) ini berlaku bagi pemerintah kepada masyarakat dalam pelayanan publik, perusahaan kepada pelanggan, dan lain sebagainya.

Dalam konteks penelitian ini, beberapa teori dari Bob Sugeng Hadiwinata, Tjokroamidjoyo, UNDP, LAN, Gambir Bhatta tentang prinsip-prinsip good governance yaitu: partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan responsivitas.yang dijadikan acuan dalam penelitian ini.

jelas terkait dengan penyelenggaraan pelayanan. Informasi ini menjadi penting sebab warga masyarakat membutuhkan untuk kelancaran pelayanan yang diperlukan.

Banyak keluhan yang muncul terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik yang disebabkan oleh kurangnya transparansi dari pihak penyelenggara layanan. Transparansi tidak lain adalah keterbukaan yang terkait dengan segala aspek penyelenggaraan pelayanan yang dilaksanakan pada instansi penyelenggara layanan.

Selain daripada itu transparansi penyelenggara pelayanan publik merupakan salah satu akuntabilitas dalam penyelenggaraan pelayanan pemerintah dimana dengan transparansi ini publik dapat mengetahui segala hal yang terkait dengan jenis pelayanan yang akan diperoleh, biaya yang akan dikeluarkan terkait dengan pelayanan yang diterima dan waktu yang digunakan dalam proses penyelenggaraan pelayanan.

Adapun kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

Transparansi

Pelayanan Samsat

Biaya Pelaksanaan

Pelayanan

Kepuasan Masyarakat

Waktu Penyelenggaraan

Pelayanan Proses &

Prosedur Pelayanan

F. Definisi Konseptual

Konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional sebagai berikut:

1. Transparansi pelayanan adalah adanya akses informasi yang dapat diperoleh oleh masyarakat dalam rangka untuk mengetahui segala hal yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan Regident kendaraan bermotor di Kantor Bersama Samsat Kabupaten Gowa, yang meliputi proses dan prosedur pelayanan, waktu penyelenggaraan pelayanan, dan biaya pelaksanaan pelayanan.

2. Transparansi proses dan prosedur pelayanan adalah tersedianya informasi yang disediakan oleh instansi Samsat Kabupaten Gowa yang dapat diakses oleh masyarakat secara langsung yang meliputi tersedianya SOP pelayanan, bagan alur penyelenggaraan pelayanan, dan informasi lain yang diperlukan masyarakat.

3. Transparansi waktu pelaksanaan pelayanan adalah tersedianya infor- masi akurat mengenai waktu dimulainya dan berakhirnya pelayanan, jam istirahat, dan kepastian selesainya pelayanan Regident.

4. Transparansi biaya pelaksanaan pelayanan adalah tersedianya informasi berdasarkan peraturan yang berlaku terkait dengan biaya pelayanan.

5. Kepuasan masyarakat adalah sikap yang ditunjukkan oleh warga penerima pelayanan berupa puas dan tidak puas dari pelayanan yang diterima dari petugas Kantor Bersama Samsat Kabupaten Gowa.

48

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Kantor Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Kabupaten Gowa Jalan Tumanurung Sungguminasa. Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan pada bulan Januari sampai dengan Akhir Bulan Pebruari 2014.

B. Tipe Penelitian dan Dasar Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif yakni pendekatan penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan fakta- fakta atau gejala-gejala yang ditemukan di lapangan dalam hal ini adalah fakta yang berkaitan transparansi dalam pelayanan administrasi dokumen persuratan kendaraan bermotor pada instansi tersebut.

Sedangkan dasar penelitiannya adalah penelitian survai yakni penelitian yang secara langsung melakukan pengumpulan data di lapangan.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi penelitian adalah segenap masyarakat yang melakukan pengurusan Surat-surat kendaraan bermotor pada

kantor pelayanan SAMSAT Kabupaten Gowa dan aparat yang memberikan pelayanan pada instansi tersebut.

2. Sampel

Penentuan sampel atau responden penelitian dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa populasi penelitian baik dari warga masyarakat maupun dari aparat memiliki karakteristik yang homogen, yakni homegenitas populasi dilihat pada kepentingan dari warga yang dilayani yaitu semua warga masyarakat yang melakukan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor mereka mengharapkan adanya pelayanan yang transparan, sesuai ketentuan peraturan yang berlaku. Dengan pertimbangan tersebut ditetapkan jumlah sampel sebanyak 50 orang terdiri atas 40 orang responden dari masyarakat yang dan 10 orang dari pihak petugas pelayanan pada Kantor Samsat Kabupaten Gowa.

Data penelitian selain diperoleh dari responden peneltian, juga diupayakan memperoleh data dari beberapa informan yakni Kepala unit Pelayanan kepolisian pada Samsat Gowa.

D. Jenis dan Sumber Data

Ada dua jenis data dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden baik data dari sampel maupun informan penelitian. Data tersebut berkaitan dengan sistem pelayanan pengurusan surat-surat

kendaraan bermotor. Dan mengenai penilaian masyarakat terhadap pelaksanaan sistem yang berlaku. Sedangkan data sekunder adalah data penelitian yang bersumber dari instansi setempat, data tersebut berupa catatan-catatan atau dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain data mengenai jumlah masyarakat yang mengurus surat-surat kendaraan bermotor, aturan-aturan mengenai sistem dan prosedur pelayanan, dan dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan masalah penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Kuesioner

Yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan lembar pertanyaan untuk dijawab kepada responden yang terpilih sebagai sampel penelitian. Kuesioner yang ditujukan kepada warga masyarakat yang memperoleh pelayanan dan diberikan pada saat mereka sudah melakukan proses pengurusan, sedangkan bagi petugas pelayanan kuesioner dibagikan secara langsung ditempat kerja masing-masing.

2. Wawancara

Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara mewawancarai secara langsung responden penelitian yaitu masyarakat yang telah mendapat pelayanan maupun yang

sementara berurusan dengan unit kerja pelayanan pada kantor Samsat Gowa. Penggunaan teknik wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh data akurat dari informan menyangkut transparansi pelayanan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Wawancara juga dilakukan dengan para petugas pelayanan dan informan penelitian yang mengetahui tentang mekanisme pelayanan administrasi kendaraan bermotor yang ada pada instansi Samsat Kabupaten Gowa.

3. Observasi

Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk memperoleh data yang lebih akurat berkaitan dengan pelayanan aparat yang diberikan kepada masyarakat, yaitu dengan cara mengamati secara langsung pelaksanaan kerja aparat dalam memberikan pelayanan.

Termasuk yang diamati adalah perilaku dan sikap warga masyarakat ketika memperoleh pelayanan.

F. Teknik Analisis Data

Data yang telah diperoleh selanjutnya dikelompokkan kemudian dianalisis berdasarkan metode deskripstif kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari kuesioner dihitung besaran frekuensi penilaian setiap indikator yang ada, kemudian ditabulasi dan memberikan bobot persentase setiap indikator tersebut dan selanjutnya diinterpretasikan dengan memberikan uraian/narasi secara deskriptif sesuai dengan fakta atau keadaan temuan penelitian di lapangan.

52

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Karakteristik Organisasi Kantor Samsat Kabupaten Gowa

Kantor Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) Kabupaten Gowa adalah salah satu instansi yang dibawahi oleh Kantor Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Kantor UPTD merupakan unit pelayanan yang dibentuk pada daerah-daerah kabupaten yang dianggap memiliki potensi pajak kendaraan bermotor cukup banyak.

Pembentukan dan pendirian kantor Samsat di Sulawesi Selatan diawali dari pendirian kantor Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sulawesi Selatan Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan tertanggal 17 April 1973 tentang pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Dinas ini dikepalai oleh seorang Kepala Dinas yang bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Dinas ini merupakan instansi yang berdiri sendiri dengan tugas utama meliputi segala urusan dalam lapangan pendapatan daerah termasuk didalamnya segala jenis pajak dan retribusi daerah.

Selain tugas utama tersebut, Dinas Pendapatan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan juga sebagai wadah pembina, pembimbing dan pemberi stimulasi kepada Aparat Pendapatan Daerah Tingkat II Kabupaten/Kotamadya Sulawesi Selatan dalam peningkatan pendapatan daerah.

Dalam rangka pengembangan administrasi pemungutan pajak daerah sebagai tindak lanjut dari hasil rapat para Kepala Dinas Pendapatan Daerah Tingkat I se–Indonesia yang diadakan oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta dengan hasil sebagai berikut : “Surat Keputusan Menhankam, Mendagri dan Menteri Keuangan.

Pol.Kep/13/XII/76, Nomor 311 1976, tentang peningkatan kerja sama antara Pemerintah Daerah Tingkat I, Komando Daerah Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka peningkatan pendapatan daerah khususnya mengenai Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang diwujudkan dengan nama Sistem Administrasi Manunggal di Bawah Satu Atap (SAMSAT).”

Kantor bersama SAMSAT di Provinsi Sulawesi Selatan, mulai berdiri sejak tanggal 16 Oktober 1978. Awalnya dilaksanakan secara terpusat di Kantor Bersama SAMSAT dibeberapa Kabupaten/

Kotamadya yang saat ini telah ada 8 (delapan) unit yang berstatus stasioner. Pada tahun 2005 dibentuk lagi 5 (lima) unit pembantu SAMSAT di Kabupaten Maros, Bulukumba, Sidrap, Masamba, Enrekang. Pada tahun 2005 Kantor Pembantu SAMSAT bertambah lagi 3 (tiga) unit di Kabupaten Pangkep, Tator dan Selayar.

Kantor Stasioner adalah Kantor Bersama yang ada pada 8 (delapan) Kantor UPTD se-Sulawesi Selatan. Sedangkan Kantor Pembantu SAMSAT merupakan perpanjangan tangan SAMSAT Stasioner untuk mendekatkan pelayanan wajib pajak yang ada jauh dari SAMSAT Stasioner. Pada tanggal 17 November 1996, berdirilah Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Wilayah VII Gowa kantor ini bekerja sama dengan 3 (tiga) instansi yaitu kepolisian, PT. Jasa Raharja dan Dinas Pendapatan Daerah Sulawesi Selatan. Adapun yang menjabat sebagai kepala UPTD dari awal berdirinya berturut- turut adalah Drs. Jamaluddin M, Drs. A. Syahrul Bachtiar, MM., Drs.

Ridwan Abdullah, Drs. H. Ahmad Abdullah, MM. Pada tanggal 21 Juli 2008 dijabat oleh Drs. Andi Lingka yang pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan dilantik sebagai Kepala UPTD yang baru.

Tujuan didirikannya Kantor UPTD ini adalah untuk memudahkan Dinas Pendapatan Daerah dalam mengelolah pajak–

pajak dan retribusi yang ada di Kabupaten Gowa dan Takalar.

Landasan hukum berdirinya Kantor Bersama SAMSAT yaitu sebagai berikut :

a. Surat Keputusan Bersama Menhankam/Pangab, Menteri Dalam Negeri Nomor : Polisi Kep/13/XII/76 Nomor Kep.

1693/MK/IV/12/1976, Nomor 311 Tahun 1976 tentang peningkatan kerja sama antara Pemerintah Daerah Tingkat I, Komando Daerah Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka

peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan pendapatan daerah khususnya mengenai PKB.

b. Instruksi bersama Menteri Pertahanan Keamanan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Nomor 06/IMK – 014/1999 tentang pelaksanaan Sistem Administrasi Manunggal Di Bawah Satu Atap (SAMSAT) dalam penertiban nomor kendaraan.

Kantor Bersama SAMSAT adalah kantor yang ada pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) berdasarkan Wilayah Kota/Kabupaten. Kantor Bersama SAMSAT ini berfungsi sebagai pelaksana teknis dari DISPENDA Provinsi Sulawesi Selatan dalam pemungutan PKB dan SWDKLLJ bagi Jasaraharja, dan Kepolisian.

Kantor Bersama SAMSAT mempunyai tugas yaitu mendaftar, penelitian, penetapan, Pajak Kendaraan Bermotor/Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB/BBN-KB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), juga menetapkan biaya administrasi SWDKLLJ dan menagih wajib pajak yang belum membayar pada tanggal jatuh tempo, setelah para aparat menyelesaikan tugasnya maka dituangkan dalam bentuk Laporan Realisasi yang kemudian disampaikan kepada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Tugas Pokok Organisasi Kepolisian di Kantor Samsat

Salah satu unsur unit kerja yang ada dalam kantor bersama Samsat selain instansi terkait lainnya seperti Dispenda dan

Jasaraharja adalah instansi kepolisian. Instansi ini memiliki tugas yang terkait dengan aspek legalitas administrasi kendaraan bermotor.

SAMSAT merupakan gabungan dari tiga instansi yang mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda tetapi mempunyai objek yang sama yaitu Kendaraan Bermotor yang dalam wilayah kerjanya instansi yang terkait dalam Kantor Bersama SAMSAT yaitu: (1) Kepolisian Daerah Sulselbar dalam hal ini adalah Satlantas Polda Sulselbar, (2) Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, dan (3) Kementerian Keuangan yaitu PT.(Pesero) Jasa Raharja.

Tugas utama instansi kepolisian dalam kedudukannya dalam instansi Samsat adalah sebagai unit pelaksana terhadap Registrasi dan Identifikasi kendaraan bermotor. Dengan demikian satuan ini memberikan pelayanann regident kepemilikan dan pengoperasian kendaraan bermotor dalam lingkup wilayah kerjanya (kabupaten/kota).

Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2012 tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor (Ranmor). Adapun tujuan daripada Regident adalah:

a. Tertib administrasi, dalam rangka:

1) Terjaminnya keabsahan ranmor dan kepemilikannya serta operasional ranmor dalam rangka mewujudkan perlindungan dan kepastian hukum; dan

2) Terwujudnya sistem informasi dan komunikasi regident ranmor sebagai bentuk tertib administrasi sebagai landasan penyelenggaraan fungsi kontrol dan forensik kepolisian.

b. Pengendalian dan pengawasan kendaraan bermotor, dalam rangka:

1) Pemberian dukungan pengendalian jumlah dan operasional ranmor, dan

2) Pengawasan ranmor yang dioperasikan.

c. Mempermudah penyidikan pelanggaran dan/atau kejahatan dalam bentuk:

1) Penyediaan data forensik kepolisian untuk mendukung penyedikan kejahatan yang terkait dengan ranmor, dan

2) Penyediaan data untuk dukungan proses penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas.

d. Perencanaan, operasional manajemen dan rekayasa lalu lintas dan angkutan jalan dalam rangka penyediaan data untuk mendukung:

1) Perencanaan manajemen kepasitas dan kebutuhan lalu lintas dan angkutan jalan;

2) Perencanaan manajemen dan rekayasa infrastruktur lalu lintas dan angkutan jalan; dan

3) Operasional dan manajemen rekayasa serta pendidikan lalu lintas dan angkutan jalan; dan

e. Perencanaan pembangunan nasional dalam rangka penyediaan data untuk mendukung:

1) Pembangunan di bidang jalan

2) Pembangunan sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan 3) Pengembangan industri dan teknologi lalu lintas dan angkutan

jalan; dan

4) Pembangunan di bidang lain yang terkait dengan lalu lintas dan angkutan jalan.

Pelaksanaan tugas Regident merupakan salah satu bentuk pelayanan yang dberikan oleh instansi kepolisian dalam hal ini Satuan Lalu Lintas berdasarkan wilayah kerjanya kepada masyarakat untuk memberikan rasa aman dan keabsahan secara hukum terhadap kepemilikan kendaraan bermotor. Oleh sebab itu untuk lancarnya pelayanan Regident berpedoman pada prinsip-prinsip pelayanan sebagai berikut:

a. Sederhana, yaitu prosedur pelayanan regident ranmor yang mudah dipahami, dilaksanakan dan diakses;

b. Cepat, yaitu kepastian waktu dalam penyelesaian pelayanan regident ranmor;

c. Akurat, yaitu pelayanan regident ranmor dilaksanakan secara teliti, cermat, tepat, dan berkualitas;

d. Aman, yaitu proses dan produk pelayanan regident ranmor dapat memberikan perlindungan, rasa aman dan kepastian hukum;

e. Akuntabel, yaitu kualitas pejabat atau penyelenggara pelayanan regident ranmor bertanggungjawab atas penyelenggaraan pelayanan;

f. Informatif, yaitu tersedianya data dan informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan pelaksanaan regident ranmor ataupun untuk mendukung pemangku kepentingan lain; dan

g. Nyaman, yaitu terselenggaranya pelayanan regident ranmor dalam suasana yang menyenangkan serta didukung sarana dan prasarana pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3. Karakteristik Personil dan Kinerja Kepolisian di Samsat Gowa Keadaan personil di Kantor Samsat Kabupaten Gowa khususnya yang bertugas pada unit registrasi dan identifikasi (Regident) Ranmor dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Keadaaan personil Regident Samsat Gowa (Keadaan Desember 2013)

Data Personil Jumlah Persentase

Kepolisian 21 84,0

Pegawai negeri sipil 4 16,0

Total 25 100

Sumber: Kantor Samsat Kab. Gowa, Pebruari 2014.

Data personil pada unit regident yang ada pada Kantor Samsat kabupaten Gowa sebagaimana terlihat dalam tabel 1 di atas, terdiri atas petugas kepolisian sebanyak 21 orang dan petugas dari pegawai negeri sipil sebanyak 4 orang. Personil sebanyak 25 orang tersebut yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat yang berkaitan dengan registrasi dan indentifikasi kendaraan bermotor.

Jumlah personil Kepolisian yang bertugas pada kantor Samsat Kabupaten Gowa sebanyak 25 orang personil yang terdiri atas aparat kepolisian dan pegawai negeri sipil, mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan registrasi dan identifikasi terhadap kendaraan bermotor miliknya. Sepanjang tahun 2013 (data bulan desember) jumlah kendaraan bermotor yang yang telah diregistrasi Ditlantas Polda Sulselbar kecuali ranmor TNI/POLRI sebanyak 196.851 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut:

Tabel 2. Data kendaraan bermotor berdasarkan jenis yang telah diregistrasi dan identifikasi Ditlantas Polda Sulsel pada Samsat Gowa (Keadaan Desember 2013)

Data Kendaraan Bermotor Berdasarkan Jenis

Jumlah Persentase

Mobil Penumpang 12.350 6,27

Bus 185 0,09

Mobil Barang 6.394 3,24

Sepeda Motor 177.861 90,35

Kendaraan Khusus 61 0.03

Total 196.851 100

Sumber: Kantor Samsat Kab. Gowa, Pebruari 2014.

Data dalam Tabel 2 di atas memperlihatkan jumlah kendaraan bermotor yang paling banyak mendapat registrasi dan identifikasi dari berbagai jenis kendaraan bermotor yang ada adalah sepeda motor yang mencapai 90,35 persen, kemudian lainnya adalah mobil penumpang

sebanyak 6,27 persen. Jika diperhatikan volume kendaraan yang paling banyak diregistrasi tersebut adalah kendaraan bermotor roda dua (speda motor) hal itu tidak terlepas dari kondisi saat ini banyak volume kendaraan sepeda motor yang diproduksi oleh produsen kendaraan tersebut.

Sedangkan untuk kategori mobil penumpang dalam hal ini adalah pada umumnya mobil-mobil pribadi yang dimiliki oleh masyarakat yang juga volumenya cukup banyak.

B. Deskripsi Hasil Penelitian tentang Transparansi Pelayanan Kepolisian di Kantor Samsat

Sebagaimana diketahui Kantor SAMSAT (Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap) adalah instansi yang menaungi kepentingan tiga instansi yang saling terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat yang berhubungan dengan kepemilikan segala jenis dan tipe kendaraan bermotor. Adapun instansi yang dimaksud adalah: (1) Dinas Pendapatan Daerah Provinsi, yang memiliki tugas dan fungsi untuk menarik segala jenis pajak terhadap pemilik kendaraan bermotor berdasarkan peraturan perundang-undang yang berlaku. Adapun jenis pajak yang ditarik dalam hal ini adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor; (2) Kementerian Keuangan dalam hal ini adalah PT Jasa Raharja, memiliki kewenangan untuk menarik iuran dari pemilik kendaraan bermotor berupa Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ); dan (3) Instansi Kepolisian dalam hal ini Ditlantas Kepolisian Daerah (Polda) memiliki

tugas yang berkaitan dengan keamanan dan keabsahan kepemilikan kendaraan bermotor, yaitu instansi yang bertugas untuk melakukan Registrasi dan Identifikasi (Regident) kendaraan bermotor, dalam melaksanakan tugasnya aparat kepolisian di kantior Samsat menerbitkan STNK, BPKB, Plat kendaraan, dan membuat dokumen mutasi kendaraan.

Sekalipun setiap instansi yang ada berbeda-beda unit kerja maupun pertanggung jawaban hasil kerjanya namun dalam pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat, ketiga isntansi tersebut saling terkait antara satu dengan lainnya sehingga output kerjanya dapat diukur pada sejauhmana setiap unit kerja tersebut bekerja secara terkoordinasi antara satu dengan lainnya. Dengan kata lain bahwa jika pada salah satu unit kerja tersebut tidak bekerja dengan baik maka akan berpengaruh terhadap pekerjaan unit kerja lainnya.

Sekalipun instansi kepolisian dalam hal ini Unit Registrasi dan Identifikasi memiliki tugas khusus dalam hal melakukan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor, namun kelancaran tugas pelayanan instansi kepolisian pada Kantor Samsat juga sangat ditunjang oleh kinerja pelayanan oleh unit kerja lainnya yang ada pada instansi ini.

Terkait dengan transparansi pelayanan aparat kepolisian pada Kantor Samsat dapat dilihat penilaian responden dalam uraian berikut ini:

1. Transparansi prosedur pelayanan

Salah satu bentuk transparansi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang berkaitan dengan pelayanan dokumen pada setiap

instansi atau organisasi penyelenggara layanan terletak pada prosedur penyelenggaraan pelayanan yang diberlakukan pada instansi bersangkutan. Sebagaimana diketahui bahwa prosedur penyelenggaraan pelayanan pada instansi pemerintah seperti halnya pada Kantor Samsat mengacu kepada suatu regulasi yang sudah ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Oleh sebab itu ketentuan-ketentuan sebagaimana yang diatur dalam prosedur pelayanan tersebut harus dipatuhi oleh masyarakat yang akan memperoleh pelayanan.

Adapun penilaian responden terkait dengan transparansi dalam hal prosedur pelayanan dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3. Deskripsi penilaian responden terhadap kejelasan prosedur pelayanan Regident pada Samsat Gowa

Penilaian Responden Frekuensi Persentase Sangat Jelas

Cukup Jelas Kurang Jelas Tidak Jelas

09 19 11 11

18,0 38,0 24,0 24,0

Total 50 100

Sumber: Hasil pengolahan kuesioner, Pebruari 2014.

Gambaran penilaian responden sebagaimana terlihat dalam Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa kejelasan prosedur pelayanan Regident pada Kantor Samsat Kabupaten Gowa dinilai oleh responden sebanyak 38,0 persen memberikan tanggapan cukup jelas sementara lainnya yang

memberikan penilaian kurang dan tidak jelas sebanyak 24,0 persen.

Memperhatikan penilaian responden tersebut dapat dikatakan bahwa secara umum kejelasan prosedur pelayanan regident sebenarnya sudah cukup jelas. Pendapat yang sama dikemukakan oleh salah seorang informan sebagai berikut:

“Pengurusan Regident kendaraan bermotor di Kantor Samsat Kabupaten Gowa pada prinsipnya prosedur yang ada sudah cukup jelas, hanya saja kadang-kadang banyak warga yang mau dilayani tidak membaca prosedur yang ada sehingga masih sering dijumpai ada masyarakat yang kebingungan. Tetapi kalau mereka mau bertanya para petugas yang ada memberikan penjelasan yang cukup jelas. Selain itu mekanisme pelayanan terhadap masyarakat sudah dipasang pada papan informasi yang ada seperti bagan alur pelayanan” (wawancara, AMR/3 Pebruari 2014).

Mencermati pendapat responden di atas dapat dikatakan bahwa masih adanya beberapa warga yang menilai bawa prosedur pelayanan Regident yang tidak jelas lebih disebabkan oleh karena masyarakat yang akan memperoleh pelayanan tidak membaca peraturan yang ada atau tidak mempelajari terlebih dahulu bagan alur pelayanan sehingga berakibat pada masih dijumpainya beberapa orang yang menganggap bahwa prosedur pelayanan yang kurang atau tidak jelas.

Terkait dengan kejelasan prosedur pelayanan sebagaimana dijelaskan di atas. Hal yang terkait dengan itu adalah kemudahan mengikuti prosedur pelayanan. Sebab tidak hanya prosedurnya yang harus jelas melainkan sejauhmana kemudahan pengguna layanan

Dalam dokumen LAMPIRAN-LAMPIRAN (Halaman 58-61)