BAB II. KAJIAN PUSTAKA
C. Kerangka Pikir
dukungan dari guru, lingkungan sekolah dan dilakukan setiap saat seperti metode pembiasaan.
Sehingga apa yang diharapkan bukan hanya dari seorang guru tetapi terkhusus orangtua peserta didik bisa merubah karakter yang hampir hilang terkhusus pada suku Bugis di SDN 283 Lautang Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo tersebut.
Berdasarkan uraian sebelumnya, bagan kerangka pikir digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir Implementasi Kearifan Lokal Bugis
di Wajo:
1. Patuh kepada Tuhan YME (ma patoh ri Dewata’e),
2. Jujur (ma Lempu), 3. Tanggungjawab (Soppo:renge),
4. Disiplin (ma patoh), 5. Bekerja keras (ma reso’
temmangingi), dan seterusnya.
Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Bugis di Wajo
Faktor yang menghambat diantaranya latar belakang peserta
didik, aturan, fasilitas, lingkungan masyarakat dan
era globalisasi
Nilai Karakter berbasis Kearifan Lokal pada Suku Bugis di SDN 283 Lautang Kecamatan
Belawa, Kabupaten Wajo.
Faktor pendukung dukungan dari guru, lingkungan
sekolah dan dilakukan setiap
saat seperti metode pembiasaan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Sesuai dengan masalah yang ada dalam penelitian ini lebih menekankan pada proses atau penerapan, maka dari itu jenis penelitian yang paling sesuai yakni deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian tersebut dapat merangkul berbagai informasi berupa data kualitatif sesuai dengan deskripsi yang berbeda dari hanya menuliskan jumlah atau hasil berupa angka-angka. Cara yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study) yang berarti peneliti mencari dengan cermat baik itu berupa peristiwa, aktifitas, proses, kasus yang dibatasi oleh waktu sehingga menggunakan berbagai prosedur sesuai dengan waktu yang ditulis sebelumnya.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SDN 283 Lautang Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo dengan pertimbangan bahwa sekolah tersebut satu- satunya yang memiliki peserta didik terbanyak di Kecamatan Belawa dan secara otomatis memiliki banyak murid karakter yang berbeda-beda serta lingkungan mumpuni bisa dijadikan acuan perubahan untuk lebih baik tetapi tidak melupakan budaya yang ada. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan September 2019.
32
C. Unit Analisis dan Penentuan Informan
Unit analisis dalam penelitian ini adalah seluruh pihak yang terlibat dalam sekolah seperti Guru Kelas 6 orang, Kepala Sekolah, Guru Agama dan Peserta didik sesuai kebutuhan peneliti, Penjaga Kantin SDN 283 Lautang dan Orang Tua Peserta didik. Adapun subjek dipilih setelah melakukan observasi dan wawancara sebelumnya dengan pihak terkait di sekolah.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan penelitian kualitatif dan informan. Maka teknik dalam mengumpulkan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi Langsung
Observasi di lakukan di SDN 283 Lautang dan obsevasi yang dilakukan dengan melihat kegiatan dan keseharian yang dilakukan peserta didik sehari-hari serta perilaku yang ditunjukkan peserta didik baik itu dalam proses belajar maupun dalam luar kelas sehingga ditemukan beberapa nilai karakter yang terkikis untuk sementara.
2. Wawancara
Wawancara yang dilakukan di SDN 283 Lautang dengan mengajukan pertanyaan pada guru tentang sikap peserta didik dan kebijakan yang ada di sekolah tentang pendidikan karakter dan wawancara kepada peserta didik tentang guru dan sikap teman sebayanya melalui berbagai pendekatan untuk mencari apa yang peneliti ingin dapatkan tanpa terlepas dari berbagai teknik wawancara
mendalam untuk menggali semua informasi lebih banyak tentang sekolah tersebut.
3. Dokumen
Dokumen yang dimaksudkan dalam sekolah berupa kebijakan yang di atur sekolah, data-data profil sekolah, data guru, data peserta didik atau data hasil deskripsi laporan hasil belajar peserta didik.
E. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data temuan cara pertama yang dilakukan peneliti adalah dengan teknik analisis interaktif, yaitu ada tiga komponen analisis: data reduction (reduksi data), data display (penyajian data) dan conclusion drawing (penarikan kesimpulan/verifikasi). Terkadang ketika data telah sampai pada tahap verifikasi tidak menutup kemungkinan akan kembali pada tahap awal yakni mereduksi data sehingga proses triangulasi selalu masuk atau tepat dalam proses penelitian kualitatif. Berikut gambaran model analisis interaktif sebagai berikut :
Gambar 3.1 Flow Chart Model Analisis Interaktif (Sutopo, 2002:96)
1. Reduksi Data
Direduksi artinya merangkum atau memilah dan memilih semua yang dianggap utama sehingga fokus dengan hal yang penting dan mencari intinya serta menghilangkan yang tidak digunakan. Sehingga seluruh data yang akan direduksi lebih jelas dan diperjelas gambarannya lebih memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data yang akan dicari jika diperlukan nantinya.
2. Penyajian Data
Dalam penelitian kualitatif, menyajikan data kualitatif bisa dengan membuat uraian singkat, gambar yang berhubungan antar setiap kategori, flowchart, dan lainnya. Penyajian tersebut dapat mempermudah dalam memberikan pemamahaman tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga langkah selanjutnya lebih terencana sesuai dengan apa yang telah dipahami sebelumnya.
3. Menyimpulkan Data
Pada saat memulai menyimpulkan data awal yang masih sementara namun akan dirubah ketika tidak ditemukan bukti yang mendukung untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Namun apabila hasil yang di dapatkan pada tahap awal terdukung dengan berbagai hasil yang jelas dan bukti yang tetap, konsisten tidak berubah-ubah ketika peneliti kembali ke tempat tersebut saat pengumpulan data maka saat menarik kesimpulan dapat dikatakan menyimpulkan secara rinci atau kredibel.
F. Pengecekan Keabsahan Temuan
Dalam pengembangan data untuk di validasi yang di kumpulkan terlebih dahulu dalam proses meneliti, pada jenis peneitian kualitatif Teknik yang biasa digunakan adalah triangulasi. Sutopo (2002) mengemukakan ada empat macam triangulasi data namun dalam penelitian ini hanya menggunkan dua yang di anggap paling sesuai yakni:
1. Triangulasi sumber berarti data yang sama dikumpulkan dari beberapa sumber yang tidak sama atau berbeda, contohnya pada saat mengadakan lomba di cari informasi sesuai dengan arsip atau kejadian serta yang terlibat serta datanya. dan
2. Trianggulasi metode berarti melakukan dengan mencari informasi dari informan tetapi dengan cara yang berbeda, contohnya observasi yang dilakukan lalu dikaitkan dengan wawancara yang dilakukan.
Tidak hanya itu hasil tersebut akan dijadikan arsip dan akan dikembangkan jika diperlukan sewaktu-waktu namun tetap melalui verifikasi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Karakteristik Objek Penelitian
Berdasarkan hasil dari dokumen yang dapatkan pada peneliti pada saat melakukan penelitian, maka hasil data yang diperoleh dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Deskripsi Sekolah
Letak dan posisi sekolah yang lumayan jauh pusat kecamatan sehingga jauh untuk di jangkau terlebih jalanannya yang berbatu dan ketika musim hujan sangat licin serta rawan banjir. Menjadikan sekolah tersebut hanya di isi oleh penduduk setempat. Sehingga membuat pesert didik merasa memiliki dan ada merasa berkuasa. Hubungan sosial antar pihak sekolah dan masyarakat terjalin dengan begitu baik terkhusus dengan orang tua peserta didik yang menjadikan mereka merasa bebas melakukan apa saja karena tidak diikat dengan berbagai aturan yang ada dalam sekolah. Meskipun dengan posisi SDN 283 Lautang yang lumayan jauh dari jangkauan tidak membuat sekolah menjadi terlupakan buktinya terkenal dengan bisa meraih berbagai prestasi sampai tingkat provinsi.
37
Data Sekolah Dasar Negert 283 Lautang
Nama Sekolah : SDN 283 Lautang
Alamat : Jl. Lautang Desa Lautang Kec. Belawa
Kab. Wajo Sulawesi Selatan
Npsn : 40303104
Akreditasi : Nomor: 106/SK/BAP-SM/X/2015\
(Terak. B)
Luas : 2124 m2
Akte Pendirian : No. 36, 12-1-1988 2. Sejarah Berdirinya SDN 283 Lautang
Perkembangan dunia pendidikan saat ini membuat para pelaku mendidikan berupaya untuk meningkatkan sekolah menjadi lebih baik lagi.
Sama halnya dengan SDN 283 Lautanga yang selalu berupaya untuk mengembangkan peserta didiknya untuk meraih prestasi yang lebih gemilang lagi.
Awal mula terbentuk SDN tersebut dengan nama SDN 286 yang terbentuk pada tahun 1979 dengan kepala sekolah pertama Andi Paliweng dan pada tahun 2002 berganti nama menjadi SDN 283 Lautang dengan nomor 320/KPTS/VI/2002 pada tanggal 11 Juni 2002. Selanjutnya pada tahun 2004 Kepala Sekolah pertama pensiun dan di ganti oleh Ibu Ratna, S.Pd selanjutnya berganti lagi menjadi RIdwanto dan terakhir atau saat ini Abunawas, S.Pd. Dengan beberapa pergantian kepala sekolah tidak menyurutkan eksistensi sekolah tersebut justru semakin meningkatkan sekolah di kenal di kabupaten khususnya.
3. Visi, Misi, dan Tujuan
Dalam suatu lembaga tentu memiliki sebuah visi dan misi serta tujuan yang ingin digapai. Berikut visi, misi dan tujuan yang ingin dicapai SDN 283 Lautang, sebagai berikut:
a. Visi
Mewujudkan sekolah yang unggul dalam prestasi , berwawasan IPTEK berdasarkan IMTAQ yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya dan karakter dalam mencerdaskan bangsa.
b. Misi
1) Menyiapkan anak agar mempunyai potensi dasar dalam bidak IPTEK dan IMTAQ.
2) Melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
3) Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, dan menggembirakan, komunikatif tanpa takut salah yang terwujud demokratis.
4) Tercipta lingkungan sekolah yang aman, rapi, bersih dan nyaman.
5) Melakukan dan membina olahraga dan seni.
6) Mengupayakan pemanfaatan waktu belajar dan sumber daya manusia untuk tumbuh dan kembang peserta didik.
7) Menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan, semangat dan lingkungan, semangat kebaangsaan, hidup demokratis.
c. Tujuan
1) Peserta didik beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
2) Mengembangkan berbagai kegiatan dalam proses belajar di kelas berbasis pendidikan budaya dan karakter bangsa 3) Siswa memiliki dasar-dasar pengetahuan, kemampuan dan
keterampilan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi 4) Menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial yang menjadi
bagian dari pendidikan budaya dan karakter bangsa
5) Menjalin kerja sama Lembaga pendidikan pengembangan sekolah.
4. Data Guru dan Karyawan
Jumlah tenaga pendidik/guru di SDN 283 Lautang, terdiri dari 8 orang sedangkan 1 orang sebagai tenaga kependidikan (operator). Semua tenaga pendidik tidak terkecuali operator sekolah memiliki kemampuan untuk mengajar. Dari 9 guru di sekolah hanya 4 yang berstatus PNS dan telah sertifikasi sedangkan 5 lainnya Non PNS atau berstatus guru honorer.
Berikut nama guru beserta jabatannya di SDN 283 Lautang:
Tabel 4.1 Nama Guru dan Jabatan
No. Nama Guru/Staf Jabatan
1. Abunawas, S.Pd Kepala Sekolah
2. Roswati, S.Pd Guru Kelas VI
3. Arafah, S.Pd Guru Kelas V
4. Asriyani, S.Pd Guru Kelas IV/Guru Olahraga
5. Marhamah, S.Pd Guru Kelas III
6. Fatmawati, S.Pd Guru Kelas II
7. Andi Fatimah, S.Sos., S.Pd Guru Kelas I/Bendahara 8. Sudirman Said, S.Pd.I Guru Agama
9. Sulhang Najib, S.Pd Operator
Sumber Data: SDN 283 Lautang (2018)
5. Data Peserta Didik
Pada SDN 283 Lautang termasuk sekolah yang masih dalam proses untuk lebih berkembang, karena sekolah tersebut satu-satunya di Kecamatan Belawa yang mempunyai peserta didik terbanyak dan dari tahun ke tahun terus berbenah dan bertambah peserta didiknya. Jumlah pesera didik secara keseluruhan adalah 156. Adapun rinciannya yakni:
Tabel 4.2 Jumlah Peserta Didik Kelas Jumlah Peserta Didik
I 31
II 17
III 31
IV 28
V 27
VI 22
Jumlah 156
Sumber Data: SDN 283 Lautang (2018)
6. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang ada di SDN 283 Lautang bisa dikatakan tidak terlalu memadai terutama dalam membina karakter peserta didik berbasis kearifan lokal karena sarana juga prasarana yang telah ada di sekolah tersebut yaitu ruang kepala sekolah yang terbut dari rumah kayu, ruang guru yang tidak tersedia seperti meja dan kursi untuk rapat juga, ruang kelas kosong untuk pelaksanaan ekstrakulikuler seperti menari, kantin yang berada di bawah rumah kosong yang di siapkan untuk sarana belajar saat banjir datang, wc, 6 ruang kelas dan lapangan olahraga.
B. Paparan Dimensi Penelitian
Pada penelitian ini peneliti khususnya lebih mengutamakan mengumpulkan data dengan teknik observasi dan wawancara di dukung dengan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati dan melihat
langsung perilaku atau karakter yang terjadi pada proses pembelajaran baik itu perilakunya di dalam kelas dan perilakunya di luar kelas, tentang cara pendidik menerapkan karakter yang bernilai kearifan lokal di daerah tersebut serta kondisi peserta didik saat penerapan karakter berbasis kearifan lokal secara tidak langsung dilakukan baik itu dilihat ketika proses pembelajaran dan juga di lingkungan sekolah.
Wawancara tersebut teknik menyusunnya berdasar dengan masalah. Wawancara yang dilakukan pun kepada guru-guru di sekolah terkait penerapan dan penanaman nilai karakter berbasis kearifan lokal, begitu kental dan terkikis zaman yang dilakukan di dalam proses belajar kelas dan proses bermain di luar kelas. Selanjutnya wawancara di lakukan pada peserta didik yang menerima pelajaran juga melakukan penilaian secara tidak duga atau tidak langsung pada peserta didik tersebut tentang karakternya yang mulai terkikis dan bisa di bina sejak dini. Meskipun ada beberapa peneliti mengumpulkan berbagai data kondisi keadaan di sekolah, letak sekolah, sarana prasarananya, dan hasil tentang nilai karakter peserta didik. Setelah mendapatkan hasil observasi, melakukan wawancara yang di dukung dokumentasi sehingga hasil data temuan di lapangan lebih banyak daripada saat observasi, sebagai berikut :
1. Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal (Bugis) di SDN 283 Lautang
Karakter merupakan sikap yang dimiliki setiap manusia yang mengakar dalam diri seseorang yang berfungsi sebagai pendorong
bagaimana orang tersebut bertindak, berperilaku dan bersikap tentang yang harus mereka pertanggungjawabkan. Implementasi pendidikan karakter tidak hanya di bebankan pada satu pihak saja seperti kepala sekolah tetapi semua pihak yang ada dalam sekolah dan diluar sekolah seperti guru, peserta didik dan orangtua peserta didik. Bahkan nilai-nilai yang mulai terkikis oleh zaman harus di kembalikan seperti sediakala dengan memfilter segala sesuatu yang negatif dan positif namun tetap mengindahkan perubahan yang terjadi di era globalisasi. Hasil temuan nilai- nilai karakter yang mulai memudar di daerah tersebut dihubungkan dalam sekolah yang di dapatkan melalui observasi, wawancara yang didukung dengan dokumentasi, yaitu:
a. Patuh kepada Tuhan YME (ma Patoh ri Dewata’e) 1. Data Temuan Observasi Guru
Kegiatan observasi yang dilakukan untuk mendeskripsikan karakter kearifan lokal (bugis) guru terhadap peserta didik di sekolah yang dilakukan di bulan September 2019. Dari hasil penelitian dapat disajikan penerapan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal (bugis) yang dilakukan guru yakni;
a) Melatih mandiri peserta didik untuk berdoa sebelum dan setelah jam pelajaran dalam menanamkan karakter religius.
Dalam memulai pembelajaran guru mengajak peserta didik berdoa dimulai dengan membaca surah 3 QUL Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas dilanjutkan dengan membaca doa sebelum belajar
kadang guru mengajak peserta didik kelas tinggi memimpin temannya membaca beberapa ayat. Untuk mengakhiri pembelajaran guru mengajar peserta didik membaca 3 QUL dan doa penutup majelis
b) Kurang melatih peserta didik untuk melakukan salat duha dan salat dhuhur.
Salat dhuha dan dhuhur yang kurang mendapat perhatian dalam lingkungan sekolah. Contohnya saja guru jarang mengajak peserta didik untuk salat berjamaan, itupun salat dhuhur dilakukan tergantung jadwal masing-masing kelas bahkan biasa juga tidak dilaksanakan.
2. Data Temuan Observasi Peserta Didik
Kegiatan observasi peserta didik berguna dalam menggali informasi sejauh mana dalam menanamkan karakter dalam jiwa peserta didik seperti yang di ajarkan oleh guru-guru yang dilakukan juga pada awal oktober atau minggu kedua. Dari hasil penelitian disajikan jika menerapkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal (bugis) yang dipahami, melekat dan dilakukan peserta didik yakni;
a) Berdoa saat memulai dan mengakhiri pelajaran
Berdoa rutin dilakukan saat memulai dan mengakhiri proses pembelajaran. Ada beberapa kelas yang peka saat bel masuk karena mengaji mandiri tanpa guru dan ada juga beberapa kelas
yang saat tidak ada guru yang mendampingi tidak mulai membaca doa sebelum memulai pelajaran.
b) Pelaksanaan salat dhuha dan dhuhur
Tidak adanya pelaksanaan salat dhuha dalam melatih pembiasaan peserta didik. Pelaksanaan salat dhuhur yang hanya dilakukan sekali setiap hari dan mengikuti hanya pada saat pelajaran agama itupun bergantian setiap kelas menjadikan kurang efektif dalam meningkatkan nilai religius peserta didik. Pada saat dilaksanakan salat dhuhur hanya guru agama yang ikut terlibat dan banyaknya peserta didik yang bermain-main ketika berlangsungnya salat.
3. Temuan Hasil Wawancara
Sikap religius peserta didik bisa terbentuk berdasarkan kebiasaan yang di alirkan melalui keluarga dan di kembangkan oleh pendidik di sekolah. Sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan oleh peneliti sebagai berikut;
Salah satu Guru di sekolah tersebut dalam hal ini SS berpendapat bahwa :
“…dominan sikap peserta didik di setiap kelas rata-rata sama susah di atur dan tidak ingin mendengar. Terlebih saat pelaksanaan salat dhuhur banyak main dan bercerita sesama teman. Ada beberapa peserta didik di kelas tinggi yang membuat ampun untuk di beritahu. Merekapun terlihat malas juga menerima pelajaran”.
Seperti yang di kemukakan AP salah satu peserta didik kelas VI saat di tanya tentang beberapa karakter teman sebayanya di kelas bahwa :
“…iya, tidak pernah dilaksanakan salat duha dan salat dhuhur hanya pada saat belajar agama salah satu alasannya karena tempat salat tidak cukup.
Berdasarkan wawancara tersebut yang diperkuat dengan simpulan hasil data observasi yang ditemukan peneliti, sebagai berikut:
Pada bulan April sampai dengan penelitian, mengamati bahwa peserta didik saat memulai pembelajaran seharusnya di awali dengan berdoa begitupun saat mengakhiri pembelajaran namun kenyataannya di dalam kelas ada beberapa peserta didik yang tidak ikut mengaji bersama meskipun ada guru, begitupun saat jam pelajaran selesai peserta didik seperti terburu-buru baca doa karena ingin cepat pulang.
b. Jujur (ma Lempu’)
Kejujuran pesera didik bisa dibentuk berdasarkan lingkungan keluarga dan selanjutnya dibimbing pihak sekolah. Beberapa data hasil observasi dan wawancara yaitu:
1. Data Temuan Observasi Guru
a) Mengajarkan peseta didik bertutur sesuai dengan kenyataan.
Pada saat pembelajaran di kelas guru selalu menekankan agar berucap sesuai dengan kenyataan dan pada saat melakukan
apersepsi dan tidak melupakan untuk menyisipkan pesan moral yang berisi jika ada yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah harus berkata jujur dan tidak boleh asal menuduh orang sembarangan karena itu dosa.
b) Mengajarkan mengerjakan soal-soal secara jujur
Guru mengajarkan untuk mengerjakan soal secara jujur dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu memberikan motivasi pada peserta didik untuk mengerjakan tugas semampunya, jika ada kesulitan bisa bertanya pada guru atau pada teman yang mengerti.
Selain itu peserta didik diberitahu bahwa mengerjakan sendiri hasilnya pasti lebih baik.
2. Data Temuan Observasi Peserta Didik a) Tidak berkata sesuai kenyataan
Guru selalu melatih peserta didik untuk berkata yang sejujurnya saat melanggar di dalam kelas misalnya bermain kelereng. Namun kenyataannya saat peserta didik di tanya siapa yang bermain kelereng mereka hanya saling menunjuk sesama temannya.
b) Tidak mengerjakan soal-soal hasil pekerjaan sendiri
Ada dominan peserta didik yang tidak jujur dalam mengerjakan hasil pekerjaannya karena menyontek pada teman sebayanya yang lebih mampu.
3. Temuan Hasil Wawancara
Dari hasil wawancara berbagai informan dalam sekolah tentang kejujuran peserta didik terutama dalam belajar mengajar ataupun di luar jam pelajaran adalah sebagai berikut:
Terkait dengan pendapat tentang karakter kejujuran peserta didik, penjaga kantin dalam hal ini HM berpendapat bahwa :
“…anana akkoe narekko jokka mabalanca maega dui na bawa engka to anana parellu ijampangi ero makurangnge kasi’ tomatoanna. Tapi rata-rata makessing maneng anana narekko ma dui I makurang makalasi”.
…”ada beberapa peserta didik di sekolah ini ketika ke kantin dan belanja membawa uang lebih dan ada juga yang membawa uang sedikit bagi yang orangtuanya kurang mampu. Namun rata-rata peserta didik yang membawa uang lebih hampir tidak ada yang curang atau mencuri”.
Senada dengan hal tersebut peserta didik kelas VI AP mengungkapkan beberapa karakter temannya bahwa:
…”ada juga uang teman yang pernah hilang dan kami mengetahui siapa yang mengambil cuma guru pesan untuk diam saja dan banyak teman yang malas kerja tugas beberapa teman suka menyontek.”
Sependapat dengan hal tersebut peserta didik kelas IV dalam hal ini DW menuturkan:
”…Akko ujiangki si kumpulu maneng sibawa gengna apana de ipasserang mejang nge, nita mokki guru tapi de nampareng laddeki, terri narekko yappisengeng ma bawa hape nasaba ma tiktok mi sibawa ma like,”.
…" Saat ujian pun mereka berkumpul bersama gengnya karena meja tidak dipisahkan dan guru pun tidak terlalu keras dalam memberi teguran, saat ingin di laporkan pada guru karena membawa handphone yang digunakan untuk bermain tiktok dan like”.
Senada dengan temannya RN peserta didik kelas VI juga mengatakan :
“…banyak teman sebayanya yang membawa handphone baik itu laki-laki ataupun perempuan. Rata-rata mereka hanya bermain game online namun menurut penuturannya sendiri ia tidak pernah membawa karena menuruti perintah guru.
Menurut penuturan Guru dalam hal ini RW bahwa:
“…Maega ladde anana akko yaleng tugas maccule-culemi, narekko meloni ikumpulu sibu’ manenni matturu. Biasa iya ugaretta makkada akko detajama tugasta dega nilaita”.
…”banyak sekali peserta didik apabila diberikan tugas hanya bermain-main, ketika tugas waktunya di kumpulkan baru mereka sibuk mencari jawaban ke temannya.Terkadang sebagai guru saya ancam jika mengerjakan tugas tidak ada nilai”.
Beberapa hasil wawancara yang dikemukakan beberapa informan dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya memperkuat argumentasi peneliti bahwa:
Rata-rata dari peserta didik ternyata masih ada yang kurang bersikap jujur dalam kondisi yang rumit misalnya saat ujian masih ada yang menyontek, masih sering membawa alat komunikasi secara diam-diam membuktikan bahwa peserta didik harusnya mendapatkan gemblengan lebih keras untuk membentuk karakter mereka untuk lebih jujur agar tetap mempertahankan kearifan lokal yang dikenal pantang untuk tidak bersikap jujur.
c. Disiplin (ma Patoh)
Sikap disiplin paling di dambakan semua sekolah manapun itu. Sikap disiplin menunjukkan keteraturan pihak sekolah dalam