• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

D. Kerangka Pikir

Pentingnya reklamasi untuk memulihkan dan mengembalikan fungsi lahan pascatambang sesuai peruntukkannya, mengharuskan pemerintah mewajibkan reklamasi bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Patuh dan tidak patuhnya pemegang IUP terhadap ketentuan untuk pelaksanaan reklamasi dari pemerintah adalah tergantung pada strategi pemerintah dan bagaimana strategi tersebut diimplementasikan, serta bagaimana perencanaan strategi yang turut menentukan efektifitas suatu strategi.

Sebelum merumuskan strategi, pemerintah harus mengidentifikasi misi yang hendak diwujudkan agar strategi yang dirumuskan dapat searah dengan misi tersebut. Langkah selanjutnya adalah menganalisis lingkungan eksternal dan internal dari pemerintah untuk mengidentifikasi adanya faktor Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (Ancaman/Tantangan), atau yang biasa disebut SWOT. Setelah menemukan faktor SWOTnya, maka langkah selanjutnya adalah menentukan strategi menggunakan matriks SWOT. Keberhasilan dari strategi pemerintah akan sangat tergantung pada komitmen pemerintah untuk mengimplementasikannya.

Bagan Kerangka Pikir

Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah Strategi Pemerintah Daerah dalam Reklamasi Tambang bagi Pemegang Izin Usaha Pertambangan di Kabupaten Bombana.

E. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Faktor Internal adalah kondisi internal Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana (Distamben) yang dapat mempengaruhi terwujudnya janji reklamasi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Strategi Pemerintah Daerah dalam Reklamasi Tambang bagi Pemegang Izin Usaha Pertambangan di Kabupaten Bombana

Faktor Internal :

Opportunity (Peluang) Strength

(Kekuatan) Weakness (Kelemahan)

Threat

(Ancaman/Tantangan)

Strategi

Faktor Eksternal :

2. Faktor Eksternal adalah faktor-faktor di luar Distamben yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif pada pergerakan Distamben untuk mencapai tujuannya.

3. Strength (Kekuatan) adalah kondisi internal Distamben Bombana yang mendukung tercapainya tujuan dalam mewujudkan janji reklamasi pemegang IUP.

4. Weakness (Kelemahan) adalah koondisi internal Distamben Bombana yang dapat menghambat tercapainya tujuan.

5. Opportunity (Peluang) adalah kondisi eksternal Distamben Bombanayang mendukung tercapainya tujuan.

6. Threat (tantangan) merupakan faktor-faktor di luar lingkungan yang dapat menjadi penghambat dalam upaya pencapaian tujuan Distamben Bombana.

7. Strategi merupakan hasil analisa faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal yaitu Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang), dan Threat (tantangan) berupa kebijakan-kebijakan dalam mewajibkan reklamasi bagi Pemegang Izin Usaha Pertambangan.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian untuk memperoleh data dan informasi dilaksanakan selama satu bulan berdasarkan surat izin penelitian yang diberikan oleh Badan Kesbangpol Kabupaten Bombana, yakni tanggal 2 Juli – 2 Agustus 2015.

Penelitian dilaksanakan di Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana (Distamben). Alasan dipilihnya lokasi ini karena Distamben merupakan SKPD yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pertambangan di Kabupaten Bombana.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1. Jenis penelitian yang digunakan adalah fenomenologi.

2. Tipe penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif, yaitu penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis.

C. Sumber Data

Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Data hasil penelitian didapatkan melalui sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara yang diperoleh dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan. Data sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari literatur dan dokumen serta data yang diambil dari bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian.

D. Informan Penelitian

No. Nama Inisial Jabatan

1. Slamet Hartono SH Kepala Seksi Pengawas Pertambangan Dinas Pertambangan Kabupaten Bombana

2. Hj. St. Sapiah Rustam

SR Kepala Badan Lingkungan Hidup,

Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kabupaten Bombana

3. Ardi AR Pegawai Bidang Pertambangan Umum Distamben Bombana

4. Fadlan Hasib FH Pegawai Bidang Pertambangan Umum Distamben Bombana

5. Aflan Zulfadli AZ Anggota DPRD Kabupaten Bombana 6. Matias MS Direktur PT. Tekonindo

7. M. Taufik MT Karyawan PT. Trias Jaya Agung 8. Satrimin SR Karyawan PT. Alamhariq

Jumlah Informan 8 Orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.

Pengumpulan data dilakukan melalui:

1. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik berkenaan dengan prilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan responden yang diamati tidak terlalu besar. Proses observasi ini, peneliti

dapat mengamati situasi-situasi yang ada di lapangan dengan mencatat apa- apa yang dianggap penting guna menunjang terhadap tujuan penelitian. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi tak berstruktur, yaitu observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.

2. Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam dan jumlah informan sedikit/kecil. Adapun informasi yang diperoleh dari para informan, yaitu :

a. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan Distamben Bombana dalam mewajibkan reklamasi bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (Wawancara SH, 14 Juli 2015).

b. Kelemahan Distamben Bombana : Koordinasi dan jaminan reklamasi (Wawancara SR, 8 Juli 2015).

c. Kekuatan Distamben Bombana (Wawancara AR, 14 Juli 2015).

d. Kondisi Sumber Daya Aparatur Distamben Bombana (Wawancara FH, 15 Juli 2015).

e. Kondisi sumber daya aparatur Distamben Bombana (Wawancara AZ, 21 Juli 2015)

f. Kelemahan Distamben Bombana : Pengawasan reklamasi (Wawancara MS, 24 Juli 2015).

g. Pengawasan kegiatan reklamasi oleh Distamben Bombana (Wawancara MT, 24 Juli 2015)

h. Faktor Tantangan Distamben Bombana (Wawancara ST, 24 Juli 2015) 3. Dokumentasi

Melalui dokumentasi, peneliti mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen, literatur, dan sebagainya.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya, ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Analisis data pada penelitian kualitatif tidak dimulai ketika pengumpulan data telah selesai, tetapi sesungguhnya berlangsung sepanjang penelitian dikerjakan. Oleh karena itu Peneliti melakukan analisis data dengan menempuh tahap-tahap sebagai berikut:

1. Menemukan tema dan merumuskan hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Membaca dengan teliti catatan lapangan

b. Memberi kode pada beberapa judul pembicaraan tertentu c. Menyusun data menurut tipologi

d. Membaca kepustakaan yang ada kaitannya dengan masalah dan latar penelitian

2. Menganalisis berdasarkan hipotesis kerja, yang harus diperhatikan adalah:

a. Apakah data menunjang hipotesis kerja?

b. Apakah data yang dikumpulkan adalah data yang benar atau bukan?

c. Apakah ada pengaruh peneliti dalam latar penelitian?

d. Apakah ada orang lain yang hadir pada saat mengumpulkan data?

e. Pertanyaan langsung atau kesimpulan langsung?

f. Siapa yang mengatakan dan siapa yang melakukan apa?

g. Apakah (sumber data atau informan) mengatakan yang benar?

G. Pengabsahan Data

Kredibilitas data sangat mendukung hasil penelitian. Oleh karena itu, diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi bermakna silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain serta pengecekan waktu pada waktu yang berbeda yaitu:

Ada empat macam triangulasi dalam penelitian ini, yaitu:

1. Penggunaan sumber. Caranya antara lain (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi;

(3) membandingkan apa yang dikatakan orang dengan situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan rendah, menengah, dan tinggi, orang berada, dan orang pemerintahan; (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

2. Triangulasi dengan metode. Caranya adalah: (1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data; (3) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

3. Triangulasi dengan peneliti. Caranya adalah dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data.

4. Triangulasi dengan teori. Makna lainnya adalah penjelasan banding (Rival Explanation).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kabupaten Bombana

Kabupaten Bombana adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia, dengan ibu kota Rumbia, dibentuk berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi, dan Kabupaten Kolaka Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 18 Desember 2003 yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Buton. Jumlah penduduk pada tahun 2005 sebanyak 110.029 jiwa tercatat laki-laki sebanyak 54.635 jiwa dan perempuan 55.394 jiwa.

Kabupaten Bombana mempunyai wilayah daratan seluas 2.845,36 km² atau 284.536 ha dan wilayah perairan laut diperkirakan seluas 11.837,31 km².

Kabupaten Bombana terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di antara antara 4°30' – 6°25' Lintang Selatan dan membentang dari barat ke timur antara 120°82' – 122°20' Bujur Timur.

a. Keadaan Wilayah

Wilayah Kabupaten Bombana berbatasan dengan:

Utara : Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Konawe Selatan Selatan : Laut Flores

Barat : Teluk Bone

Timur : Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton

b. Pemerintahan

Kabupaten Bombana sebelumnya menjadi bagian dari wilayah pemerintahan kabupaten Buton, namun pada tahun 2003 wilayah ini ini resmi berdiri menjadi sebuah daerah otonom.

Kabupaten Bombana Tahun 2010 terdiri dari 22 kecamatan, yaitu:

Pejabat Sementara Bupati Kabupaten Bombana yang pertama adalah dr. Syafiuddin Dullah, mantan Wakil Direktur Rumah Sakit Daerah Sulawesi Tenggara, sedangkan Bupati hasil pemilihan langsung tahun 2005 adalah Dr.

H. Atikurrahman, MS. Kemudian, berdasarkan pemilihan langsung tahun 2011, digantikan oleh H. Tafdil sebagai Bupati Bombana dengan Hj.

Masyhura Illadamay sebagai Wakil Bupati periode 2011-2016. Pusat 12. Kecamatan Kabaena

13. Kecamatan Kabaena Timur 14. Kecamatan Kabaena Barat 15. Kecamatan Kabaena Utara 16. Kecamatan Kabaena Selatan 17. Kecamatan Kabaena Tengah 18. Kecamatan Poleang

19. Kecamatan Poleang Barat 20. Kecamatan Poleang Timur 21. Kecamatan Poleang Tenggara 22. Kecamatan Poleang Utara 1. Kecamatan Poleang Selatan

2. Kecamatan Poleang Tengah 3. Kecamatan Tontonunu 4. Kecamatan Rarowatu 5. Kecamatan Rarowatu Utara 6. Kecamatan Lantari Jaya 7. Kecamatan Mata Usu 8. Kecamatan Rumbia

9. Kecamatan Rumbia Tengah 10. Kecamatan Masaloka Raya 11. Kecamatan Mata Oleo

pemerintahan Bombana di Rumbia sekitar 200 meter dari Selat Kabaena. Kota ini telah dialiri listrik PLN selama 24 jam.

Pemerintahan Desa

Pada tahun 2005 di Kabupaten Bombana terdapat 67 Desa dan 12 Kelurahan, dengan klasifikasi sebanyak 28 Desa/Kelurahan atau 35,44 persen merupakan desa swadaya, 25 Desa/Kelurahan atau 31,65% merupakan desa swakarya serta 26 Desa/Kelurahan termasuk kriteria desa swasembada.

c. Kependudukan dan Tenaga Kerja

Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2000 berjumlah 98.568 jiwa yang terdiri dari 48.896 jiwa laki-laki dan 49.672 jiwa perempuan. Tiga tahun kemudian tahun 2003 tercatat jumlah penduduk sebanyak 105.498 jiwa, sehingga laju pertumbuhan penduduk per tahun selama 3 tahun sebesar 2,34% per tahun. Penduduk pada tahun 2005 sebanyak 110.029 jiwa, tercatat jumlah penduduk laki-laki sebanyak 54.638 jiwa (49,66%) dan perempuan 55.394 jiwa (50,34%).

Persebaran Penduduk

Pada tahun 2005 terlihat bahwa 22,59% jumlah penduduk berada di Kecamatan Poleang Timur, 17,94% berada di Kecamatan Poleang, 16,75%

berada di Kecamatan Kabaena, 12,40% penduduk berada di Kecamatan Rarowatu dan 7,84% berada di Kecamatan Kabaena Timur. Kecamatan yang paling padat penduduknya pada tahun 2005 adalah Kecamatan Poleang sebesar 55 jiwa/km2 sedangkan kecamatan yang paling jarang

penduduknya adalah Kecamatan Rarowatu dan Kecamatan Kabaena Timur masing-masing 23 jiwa/km2.

Tenaga Kerja

Penduduk usia 10 tahun ke atas bila ditinjau dari segi ketenagakerjaan merupakan penduduk usia kerja, yakni sebanyak 82.154 jiwa, terdiri dari laki- laki sebanyak 40.714 jiwa atau 57,46% dan perempuan sebanyak 41.440 jiwa atau sebesar 23,28% dari jumlah penduduk. Dari usia kerja tersebut terdapat angkatan kerja sebanyak 44.289 jiwa dan bukan angkatan kerja sebanyak 37.865 jiwa. Dari angkatan kerja sebanyak 44,289 jiwa terdiri dari yang bekerja sebanyak 38.677 jiwa atau 87,33% atau 53,91% terhadap penduduk usia kerja dan penggangguran terbuka sebanyak 5.612 atau sebesar 12,67%.

Dari 37.865 jiwa yang bukan merupakan angkatan kerja terdiri dari sekolah 15.128 jiwa atau 39,95%, mengurus rumah tangga dan lainnya sebesar 22.737 jiwa atau 60,05%.

d. Sosial Pendidikan

Jumlah Sekolah Taman Kanak-Kanak tahun 2003 sebanyak 26 buah, tahun 2004 naik menjadi 40 buah dan pada tahun 2005 turun menjadi 37 buah.

Sementara itu jumlah gurupada tahun 2003 sebanyak 63 orang, tahun 2004 menjadi 101 orang dan pada tahun 2005 menjadi 51 orang. Begitu pula dengan jumlah murid tahun 2003 sebanyak 995 orang, naik menjadi 1061 orang pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 1.174 orang pada tahun 2005.

Pada tahun 2005 rasio antara guru terhadap sekolah rata-rata satu orang,

murid terhadap sekolah rata-rata 32 orang dan murid terhadap guru rata-rata 23 orang.

Untuk jenjang Pendidikan Sekolah Dasar jumlah sekolah pada tahun 2003 sebanyak 131 buah, tahun 2004 juga 131 buah dan pada tahun 2005 menjadi sebanyak 123 buah. Sementara itu jumlah guru pada tahun 2003 sebanyak 908 orang, tahun 2004 menjadi 838 orang dan tahun 2005 menurun menjadi 810 orang. Begitu pula jumlah murid tahun 2003 sebanyak 18.249 orang, tahun 2004 sebanyak 17.389 orang dan tahun 2005 sebanyak 13.949 orang. Pada tahun 2005 rasio antara guru terhadap sekolah rata-rata 7 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 113 orang dan rasio murid terhadap guru rata-rata 17 orang.

Pada jenjang pendidikan SLTP jumlah sekolah pada tahun 2003 sebanyak 25 buah pada tahun 2004 menjadi 29 buah dan pada tahun 2005 menjadi 17 buah. Akan halnya jumlah guru pada tahun 2003 sebanyak 381 orang, tahun 2004 sebanyak 172 orang dan tahun 2005 menjadi hanya 158 orang. Sedangkan jumlah murid tahun 2003 sebanyak 1. 746 orang, tahun 2004 naik menjadi 4.835 orang dan pada tahun 2005 menjadi 3.376 orang.

Tahun 2005 rasio antara guru terhadap sekolah rata-rata 9 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 199 orang dan rasio antara murid terhadap guru rata-rata 21 orang.

Untuk jenjang pendidikan SLTA, jumlah sekolah tahun 2003 sebanyak 5 buah, tahun 2004 sebanyak 11 buah dan tahun 2005 menjadi 8 buah.

Sementara itu jumlah guru pada tahun 2003 sebanyak 82 orang, tahun 2004

menjadi 105 orang dan tahun 2005 menjadi hanya 68 orang. Begitu pula dengan jumlah murid tahun 2003 sebanyak 1.516 orang, tahun 2004 sebanyak 2.606 orang dan tahun 2005 menjadi 1.878 orang. Sementara itu pada tahun 2005 rasio antara guru terhadap sekolah rata-rata 9 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 235 orang dan rasio murid terhadap guru rata-rata 28 orang.

Kesehatan

Di Kabupaten Bombana pada tahun 2005 ini terdapat 1 rumah sakit umum, kemudian Puskesmas perawatan sebanyak 5 unit yang tersebar pada 5 kecamatan dari 7 kecamatan yang ada, Puskesmas Pembantu sebanyak 34 unit, Puskesmas Keliling Roda 4 sebanyak 7 unit, Puskesmas Keliling Boat 1 buah dan Posyandu sebanyak 180 unit. Tenaga kesehatan terdapat DokterUmum sebanyak 4 orang, dokter gigi 1 orang, SKM sebanyak 2 orang dan paramedis sebanyak 115 orang.

Agama

Pada tahun 2005 jumlah penduduk menurut agama adalah: Islam sebanyak 107.029 orang, Katolik sebanyak 24 orang, Protestan sebanyak 685 orang dan Hindu sebanyak 271 orang. Tempat ibadah menurut agama pada tahun 2005: Masjid sebanyak 172 buah, Mushallah 28 buah,Gereja 9 buah dan Pura sebanyak 6 buah.

e. Ekonomi

Pertanian dan Perkebunan

Pada tahun 2005 produksi padi sawah mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2004, yaitu dari 44.334 ton tahun 2004 meningkat

menjadi 61.132 ton tahun 2005. Naiknya produksi ini diikuti pula dengan meningkatnya luas panen dari 9.852 Ha pada tahun 2004 menjadi 13.585 pada tahun 2005. Produksi buah-buahan yang terbanyak adalah pisang, yaitu 1.011 Kw diikuti oleh jeruk sebanyak 284 Kw, mangga sebanyak 122 Kw, sedangkan buah-buahan yang paling sedikit produksinya adalah sukun yang hanya sebanyak 6 Kw.

Produksi tanaman sayur-sayuran pada tahun 2005 adalah kacang panjang, terong, bayam, dan semangka.. Produksi sayur-sayuran yang terbanyak adalah semangka sebanyak 48 Kw, menyusul terung 24 Kw dan kacang panjang sebanyak 8 Kw. Pada tahun 2005 produksi perkebunan rakyat yang tertinggi adalah kelapa dalam yaitu sebanyak 14.641,98 ton, menyusul kakao 10.201,54 ton, jambu mete 5.569,35 ton, kelapahibrida 2.136,63 ton, aren/enau 1.214 ton, kopi 549,7 ton sedangkan yang terendah produksinya adalah tanaman pala yang hanya mencapai satu ton.

Kehutanan

Produksi rotan pada tahun 2005 sebesar 409.400 ton, dengan produksi terbanyak dihasilkan oleh Kecamatan Rarowatu sebesar 249.400 ton, sedangkan produksi kayu jati logs sebesar 3.250 ton, kayu jati gergajian sebesar 2.719 ton, kayu rimba logs sebanyak 590,4 ton dan kayu rimba gergajian sebesar 926 ton.Hutan lindung di Kabupaten Bombana tahun 2005 seluas 68.971 ha atau 28,61% dari jumlah hutan secara keseluruhan, menyusul hutan produksi seluas 66.200 ha (28,41%) hutan wisata/PPA seluas 44.900 ha

(19,27%), hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 31.000 ha (13.30%), dan hutan produksi terbatas seluas 21.279 ha (9,13%).

Peternakan dan Perikanan

Populasi ternak besar yang terdiri dari sapi, kerbau, kuda pada tahun 2005 secara berturut-turut adalah 21.287 ekor, 1.078 ekor dan 1.545 ekor. Bila dibandingkan dengan tahun 2004 sapi mengalami peningkatan sebesar dimana tahun 2004 mencapai 21.555 ekor dan tahun 2005 meningkat menjadi 21.827 ekor. Ternak kerbau jika dibandingkan dengan tahun 2004 mengalami kenaikan dari 1.075 pada tahun 2004 menjadi 1.078 ekor pada tahun 2005.

Begitu juga dengan ternak kuda, mengalami penurunan populasi, dimana pada tahun 2004 mencapai 1.568 ekor, tahun 2005 hanya mencapai 1.545 ekor.

Produksi perikanan tahun 2005 sebanyak 20.667,68 ton yang terdiri dari perikanan laut sebanyak 18.662,5 ton perikanan darat (tambak) sebanyak 1.845,9 ton secara budidaya laut sebanyak 159 ton. Wilayah yang menghasilkan produksi perikanan terbanyak adalah Kecamatan Rumbia sebesar 16.215,9 ton dan yang terendah Kecamatan Rarowatu hanya mencapai 39,64 ton. Pada umumnya alat penangkap ikan masih tradisional terdiri dari pukat kantong sebanyak 59 unit, pukat cincin 5 unit jaring insang 553 unit jaring angkat 76 unit pancing 28.130 unit, perangkap 1.742 unit dan lainnya sebanyak 1.498 unit. Jumlah nelayan tahun 2005 adalah sebanyak 2.501 KK.

Industri

Pada tahun 2005 perusahaan industri yang berbadan hukum terdapat 27 unit industri kecil dengan 106 tenaga kerja yang tersebar di 7 kecamatan.

Penggalian golongan C ada beberapa jenis komoditi yang cukup potensial dan telah dieksplorasi, yaitu batu koral, pasir, kapur, pasir kuarsa dan tanah liat.

Pada Tahun 2008 telah ditemukan jenis komoditi emas yang tersebar di sepanjang sungai di wilayah Kecamatan Rarowatu dan Rarowatu Utara.

Perdagangan

Komoditi-komoditi potensial yang diperdagangkan antar pulau antara lain adalah hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Total volume komoditi yang diperdagangkan untuk tahun 2005 adalah sebesar 276.413,6 ton dengan nilainya sebesar Rp.

190.844.564.000,- Komoditi kehutanan merupakan komoditi yang tertinggi di perdagangkan yaitu sebesar 259.867,751 ton dengan nilai sebesar Rp.

51.880.182.000,- menyusul komoditi perkebunan sebesar 14.071.200 ton dengan nilai sebesar Rp. 123.831.900.000,- Sedangkan yang terendah adalah komoditi pertanian tanaman pangan yang hanya mencapai 7,30 ton dengan nilai sebesar Rp. 24.700.000,- menyusul peternakan sebesar 14,248 ton dengan nilai sebesar Rp. 60.200.000,-

f. Komunikasi dan Transportasi

Komunikasi di Bombana mengalami sedikit hambatan, telepon kabel belum tersambung dan baru 2 operator telepon seluler yang beroperasi dengan jumlah BTS yang terbatas.

Di Rumbia terdapat pelabuhan kapal cepat dan kapal biasa yang melayani rute ke Kota Bau-Bau, beroperasi hanya bila tanggal genap. Penyeberangan dari Rumbia ke Bau-Baudapat ditempuh dalam tempo tiga jam, sementara

dengan kapal biasa memakan waktu sembilan jam. Angkutan umum yang melayani rute dari pusat pemerintahan kabupaten ke Ibu Kota Provinsi, yakni Kendari berakhir pukul satu siang. Angkutan lalu lintas dari atau menuju Kota Kendari melalui jalan di tengah Taman Nasional Rawa Aopa yang merupakan penangkaran Rusa yang sudah cukup langka.

B. Profil Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana (Distamben) Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bombana adalah instansi teknis yang berada di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bombana yang menaungi sektor pertambangan sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Bombana Nomor 22 tahun 2012 tentang kedudukan, tugas pokok, fungsi dan tata kerja Distamben Kabupaten Bombana.

a. Visi dan Misi

Adapun visi Distamben Kabupaten Bombana yaitu : “terwujudnya pembangunan sektor pertambangan dan energi yang menghasilkan nilai tambah sebagai salah satu sumber kemakmuran rakyat melalui pembangunan berkelanjutan, dan ramah lingkungan, adil, transparan, efisien, dan bertanggung jawab”.

Untuk mewujudkan visi di atas, maka Distamben Kabupaten Bombana menetapkan misi sebagai berikut :

1) Mendorong terselenggaranya pengelolaan kegiatan pertambangan dan energi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan;

2) Meningkatkan pelayanan dan peran aktif masyarakat dalam pengembangan usaha bidang pertambangan, energi dan kelistrikan;

3) Memelihara dan meningkatkan kontribusi bahan galian bagi penerimaan asli daerah dengan tetap mempertimbangkan prinsip konservasi;

4) Meningkatkan budaya tertib hukum dan tertib administrasi bagi setiap perusahaan pertamabangan dan energi serta kelistrikan;

5) Meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam pengelolaan pertambangan dan energi serta kelistrikan:

6) Mewujudkan penyediaan data dan informasi yang berkualitas di sektor pertambangan dan energi;

7) Meningkatkan pelayanan administrasi dan penyediaan sarana prasarana aparatur dan publik yang berkualitas.

b. Tujuan dan Sasaran Strategis

Dalam upaya merealisasikan visi dan misi serta mengacu pencapaian target sasaran yang telah ditetapkan, Distamben Kabupaten Bombana secara rinci merumuskan beberapa kebijakan tentang tujuan dan sasaran strategis yang hendak dicapai sebagai berikut :

Tujuan :

(1) Meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia Aparat Dinas Pertambangan dan Energi; (2) Meningkatkan kualitas sumber daya pengelola usaha pertambangan, energi dan kelistrikan; (3) Menyediakan data dan informasi potensi pertambangan dan energi yang akurat; (4) Menyusun regulasi kebijakan dan meningkatkan pengelolaan pertambangan dan energi;

(5) Terselenggaranya pelayanan administrasi dan penyediaan sarana dan prasarana aparatur publik sesuai standar teknis pertambangan dan energi; (3)

Mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan kontribusi penerimaan daerah.

Sasaran Strategis :

(1) Terciptanya sumber daya aparatur yang berkualitas di sector pertambangan dan energi; (2) Terciptanya sumber daya pengelola usaha sektor pertambangan dan energi; (3)Tersedianya data dan informasi potensi pertambangan dan energi; (4) Terciptanya regulasi peraturan perundang-undangan dan terlaksananya pengelolaan pertambangan dan energi; (5) Terwujudnya pengelolaan potensi dalam iklim usaha yang kondusif guna memperoleh kontribusi penerimaan daerah.

c. Tugas Pokok

Tugas pokok Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) kabupaten Bombana adalah membantu Bupati melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah dalam rangka pelaksanaan tugas desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang pertambangan. Distamben Kabupaten Bombana mempunyai tugas:

1) Merencanakan, merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan teknis;

2) Pembinaan, pemberian perizinan dan pelayanan umum, kerjasama dan bimbingan teknis;

3) Pengawasan teknis serta pelayanan informasi sesuai tugas bidang pertambangan dan energi.

Dokumen terkait