I. TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Kerangka Pikir
26 seluruh bagiannya, termasuk daun, ke pusat pengolahan sebelum defoliating. Proses peluruhan daun dilakukan di pusat pengolahan.
Bila jarak antara areal tanaman dengan pusat pengolahan jauh, sebaiknya daun diluruhkan terlebih dahulu dari cabangnya kemudian mengangkutnya ke pusat pengolahan. Daun yang baru dipanen harus diangkut ke pusat pengolahan secepat mungkin untuk menghindari kerusakan. Pengangkutan daun Kelor segar, harus berventilasi baik. Untuk jarak pendek gunakan keranjang atau wadah plastik berlubang. Hindari kendaraan terbuka, apalagi ditumpuk di bawah barang atau diduduki, hal itu akan merusak kualitas daun. Transportasi sebaiknya dilakukan pada pagi, sore atau malam dimana cuaca tidak panas. Daun yang diangkut dalam jarak jauh harus dalam van berpendingin untuk menghindari kerusakan sebelum sampai di pusat pengolahan.27 Hal ini dikarenakan, jika semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani, maka semakin besar potensi untuk mengembangkan usahataninya. Faktor produksi yang kedua yang juga berperan besar dalam usahatani adalah modal.
Karena modal merupakan faktor produksi yang berperan besar dalam pembiayaan usahatani terutama dalam pengadaan sarana produksi. Modal dalam usahatani biasanya digunakan untuk pembelian sarana produksi seperti bibit, pupuk, pestisida, serta upah tenaga kerja di dalam produksi akan sangat berpengaruh pada proses produksi.
Karena dalam suatu proses produksi membutuhkan input produksi. Input ini pertamanya dalam berupa fisik, kemudian dinilai dalam bentuk rupiah (Rp) yang disebut dengan total biaya produksi.
Dalam usahatani tumpangsari tanaman kangkung karat dengan kelor yang diperoleh dimana jumlah produksi jika dikalikan dengan harga jualnya akan menghasilkan penerimaan usahatani, dan selisih antara penerimaan usahatani dengan total biaya usahatani disebut dengan pendapatan usahatani. Dan untuk mengetahui suatu kelayakan usahatani tumpangsari tanaman kangkung dengan kelor, maka hasil penerimaan dibagi dengan total biaya usahatani kangkung.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam kerangka pikir pada Gambar 1.
28
Gambar 1. Skema Kerangka Pikir Penelitian Analisis Usahatani Tumpang Sari Tanaman Kangkung dan Tanaman Kelor Di Kelurahan Bontoromba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
Biaya Variabel
Usahatani Tumpang Sari
Kelayakan Usahatani
R/C
B/C
Proses Produksi
Kangkung Kelor
Biaya Tidak Tetap
Penerimaan
Pendapatan
29 2.7. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Tabel 2. Penelitian Terdahulu Yang Relevan No. Nama
Penelitian
Judul Hasil Penelitian
1. Apriansyah (2018)
Analisis kelayakan usahatani tumpang sari cabe merah dan bawang merah di lahan pasik di kabupaten bantul.
1. biaya total usaha tani tumpang sari cabe merah dan bawang merah di lahan pasir kabupaten bantul per usahatani (1.230 ) selama satu musim tanam adalah senilai Rp. 11.621.226.
2. penerimaan tumpangsari cabe merah dan bawang merah di lahan pasir kabupaten bantul per usahatani (1.230 ) selama satu musim tanam adalah senilai Rp.
46.911.033.
3. nilai kelayakan R/C Ratio usahatani tumpangsari cabai merah dan bawang merah di lahan pasir kabupaten bantul selama satu musim tanam adalah senilai 4,04.
2. Hendro Setyo Nugroho1 (2020)
Kelayakan Usaha Tani Tumpang Sari
Ketela Ungu
(Ipomoea Batatas L.) Dengan Bunga Kol (Brassica Oleracea Var.
Botrytis L.) (Studi Kasus Di Desa Karanglo,
Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar)
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa besar biaya yang dikeluarkan untuk usahatani tumpangsari ketela ungu dengan bunga kol di Desa Karanglo Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar dengan rata – rata luas lahan 0,14 ha sebesar Rp 10.208.081,38;
Sedangkan penerimaan sebesar Rp 19.150.220,00; Dan pendapatan sebesar Rp 14.692.256,67; dengan keuntungan sebesar Rp 8.942.138,62. Usahatani tumpangsari ketela ungu dengan bunga kol layak dikembangkan, karena penerimaan lebih besar dari BEP penerimaan, R/C rasio lebih besar dari 1, π/C lebih besar dari suku bunga bank yang berlaku dan produktivitas tenaga kerja lebih besar dari tingkat upah yang
30 berlaku.
3. Herlena Bidi Astuti (2019)
Analisis Finansial Usahatani Jagung Dan Tumpang Sari Sistem Jajar Legowo Jagung-Kedelai Di Kabupaten Seluma
Usahatani tumpang sari sistem jajar legowo jagung-kedelai menambah jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh petani namun jumlah penerimaan dan pendapatan usahatani tumpangsari lebih besar dibandingkan usahatani jagung secara monokultur. Nilai B/C usahatani jagung kurang dari satu sedangkan usatani dengan tumpang sari sistem jajar legowo jagung- kedelai 1,83 menguntungkan dan layak untuk dilajutkan.
4. Pipih Nuraini (2015)
Analisis finansial usahatani
tumpangsari
manggis dengan kapulaga
1. usahatani tumpangsari manggis dengan kapulaga sangat
menguntungkan dan layak diusahakan. Diperoleh NPV sebesar Rp. 65.139.226
sedangkan nilai net B/C yaitu 6,5 dan IRR sebesar 41,8 %.
2. pada simulasi biaya pupuk naik 10 %, usahatani tumpangsari manggis dengan kapulaga menguntungkan dan layak diusahkan, dengan nilai NVP sebesar Rp. 62.908.681 Net B/C yaitu 6,2 dan IRR 49 %,
sedangkan payback periodnya adalah 2 tahun 6 bulan. Jika terjadi penurunan harga jual 75
%, masih menguntungkan dengan nilai NVP 17.391.462 dan nilai Net B/C yaitu 2,5, dan IRR yang diperoleh sebesar 43,8
%, sedangkan payback periodnya adalah 2 tahun 5 bulan.
5. Setiaki Rahman (2019)
Analisis Pendapatan Usahatani Tumpang Sari Tanaman Jagung Dan Ubi Kayu (Studi Kasus : Kelurahan Mencirim Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai)
1. Rataan biaya total usahatani tumpangsari jagung dan ubi kayu di Kelurahan Mencirim sebesar Rp. 5.184.666. Rataan penerimaan adalah sebesar Rp.
15.288.036 per musim tanam sehingga pendapatan yang diterima petani tumpangsari
31 jagung dan ubi kayu sebesar Rp.
10.103.367 per musim tanam.
2. Usahatani tumpangsari jagung dan ubi kayu di Kelurahan Mencirim dilihat dari R/C usaha ini layak karena nilai R/C lebih besar dari satu, yakni sebesar 2,95. Dan juga dilihat dari B/C usaha ini layak diusahakan secara ekonomis, karena B/C yang diperoleh sebesar 1,95 artinya lebih besar dari satu.
Jadi, usaha gula merah layak diusahakan.
6. Anto Saputra (2015)
Analisis Komparatif Usahatani
Tumpangsari
Jagung Kacang Tanah Dengan Monokultur
Jagung Di Desa Bangkalaloe
Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto
1. Rata-rata total produksi yang diperoleh petani tumpangsari jagung kacang tanah sebanyak 3087 Kg ,2151 Kg dari produksi jagung, dan 935 Kg dari produksi kacang tanah dengan nilai rata-rata total produksi yang diterima oleh petani responden adalah Rp. Rp 18.328.551, dari jagung dan kacang tanah sedangkan total biaya yang dikeluarkan oleh petani responden sebanyak Rp.
5.636.710. Sehingga pendapatan total yang diperoleh oleh petani responden pada usahatani tumpangsari jagung kacang tanah adalah Rp. 13.959.040.
2. Rata-rata produksi yang diperoleh oleh petani monokultur jagung sebanyak 1995 Kg, dan rata-rata penerimaan yang diperoleh petani responden yaitu sebanyak Rp. 5.177.400, sedangkan total biaya yang dikeluarkan yaitu Rp.
2.534.209.Sehingga pendapatan yang diperoleh petani responden yaitu sebanyak Rp. 2.643.190.
3. Pendapatan usahatani tumpangsari jagung kacang tanah sebesar Rp. 13.792.560 per
32 hektar, lebih besar dibandingkan dengan pendapatan usahatani monokultur jagung yaiitu sebesar Rp. 2.709.775 per hektar. Berdasarkan hasil uji t untuk pendapatan, t hitung nyata lebih besar dibandingkan dengan t tabel yaitu t hitung = 5.344 sedangkan t tabel 2,262. Hal ini bararti nyata adanya perbedaan pendapatan antara usahatani tumpangsari jagung kacang tanah dengan monokultur jagung.
7. Egidius Sanit (2018)
Analisis Pendapatan Usahatani
Tumpangsari
Palawija di Desa Letneo Selatan dan
Desa Unini
Kecamatan Insana Barat
Selama melakukan usahatani Tumpangsari Palawija di Desa Letneo Selatan dan Desa Unini Kecamatan Insana Barat, petani mengeluarkan total biaya sebesar Rp33.565.625,00 dengan rata-rata biaya Rp1.118.854,17 yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Total penerimaan usahatani palawija dalam satu kali musim tanam sebesar Rp232.895.000,00 dengan rata-rata penerimaan setiap petani sebesar Rp7.763.167,00 sehingga petani memperoleh total pendapatan Rp.199.329.375,00 dengan rata-rata pendapatan setiap petani sebesar Rp6.644.312,50 dengan perincian pendapatan dari jagung lokal putih sebesar Rp2.342.029,17, dari jagung lokal kuning sebesar Rp1.539.529,17, dari kacang tanah sebesar Rp309.029,17, dari kacang hijau sebesar Rp261.195,83, dan dari ubi kayu sebesar Rp2.192.529,17.
33 8. Putu Eka
Teja Diputri (2021)
Analisis Usahatani Monokultur Padi Dan Tumpang Sari Tembakau Cabai (Studi Kasus Di
Subak Gede
Sukawati,
Kabupaten Gianyar)
1. Pendapatan per hektar per tahun yang diterima petani responden usahatani monokultur padi adalah sebesar Rp 13.370.272, sedangkan petani responden usahatani tumpang sari tembakau-cabai sebesar Rp 115.318.875.
2. Dilihat dari nilai R/c ratio, maka usahatani padi dan tembakau sama-sama menguntungkan karena R/c ratio lebih dari 1.
Nilai R/c ratio usahatani monokultur padi sebesar 1,50 sedangkan pada usahatani tumpang sari tembakau-cabai sebesar 4,47.
3. Kendala-kendala yang dihadapi oleh petani responden usahatani padi dan usahatani tembakau di Subak Gede Sukawati yaitu secara teknis berupa cuaca, hama dan penyakit, sedangkan secara non teknis berupa kondisi lahan dan aksesibilitas, tenaga kerja dan pemasaran.
34 9. Sri Ambar
Kusumawati (2019)
Analisis Pendapatan Usahatani
Tumpangsari pada Peremajaan Kebun Kelapa Sawit Rakyat
Produktivitas jagung musim tanam 1 sampai 3 berturut-turut sebesar 5,01 t ha-1, 7,51 t ha-1 dan 6,57 t ha-1, atau rata-rata sebesar 6,36 t ha-1. Produktivitas kedelai berturut- turut 1,60 t ha-1, 1,28 t ha-1 dan 2,19 t ha-1 atau rata-rata sebesar 1,69 t ha-1. Penanaman tanaman sela jagung dan kedelai memberikan tambahan pendapatan bagi petani rata-rata sebesar Rp.
11.482.180 untuk jagung dan Rp.
1.782.200 untuk kedelai per musim tanam per kapling, atau sebesar Rp.
3.280.623 untuk jagung dan Rp.
636.518 untuk kedelai per bulan per kapling.
Usaha tani jagung dan kedelai layak diusahakan di lahan peremajaan kelapa sawit rakyat, dengan nilai dengan R/C sebesar 2,66 untuk jagung dan 1,33 untuk kedelai. Tidak terdapat pengaruh perlakuan penanaman tanaman sela jagung, kedelai, kacangan dan vegetesi alami terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman pokok kelapa sawit pada semua petani. Penanaman tanaman sela jagung pada lahan peremajaan kelapa sawit memberikan keuntungan ekonomi yang lebih tinggi dibanding tanaman kedelai, dan keduanya tidak memberikan pengaruh yang negatif pada pertumbuhan tanaman pokok kelapa sawit.
10. Ariska Saputra (2020)
Analisis Usahatani Tumpangsari
Jagung Dan Padi Gogo Di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten
Bengkulu Tengah
1. Pendapatan usahatani tumpangsari jagung dan padi Gogo di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah dalam satu kali musim tanam
dengan rata-rata sebesar Rp atau 17.961.786,85 /Ha.
2. R/C rasio usahatani tumpangsari
35 jagung dan padi gogo di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu sebesar 2,7 usahatani tumpangsari jagung dan padi Gogo di Desa Pekik Nyaring ≥ 1 Berarti usahatani tersebut efisien.
3. B/C rasio usahatani tumpangsari jagung dan padi gogo di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu sebesar 1,6 usahatani tumpangsari jagung dan padi Gogo di Desa Pekik Nyaring memperoleh penerimaan lebih besar dibandingkan total biaya maka usaha ini layak sehingga usahatani tumpangsari jagung dan padi gogo ini berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Bengkulu Tengah.
4. nilai Return OF Invesment (ROI) pada usahatani tumpangsari jagung dan padi Gogo di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah yaitu sebesar yaitu sebesar 4,29 %, yang berarti dengan modal Rp 1 akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 4,29 % pada usahatani tumpangsari jagung dan padi Gogo di Desa pekik . Dan rata- rata jangka waktu yang
dibutuhkan untuk
mengembalikan (Payback period) modal awal atau investasi pada usahatani tumpangsari jagung dan padi gogo di Desa Pekik Nyaring yaitu 24,29 kali produksi atau 6 tahun 2 bulan 4 hari.
36