BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
No Nama Responden Pekerjaan Inisial
1 Yuslan DJ. Mooduto Perlengkapan Puskesmas
YM 2 Amrin Madollan Bagian Data dan
Informasi
AM 3 Muh. Saleh Mallo Koordinator Pelayanan
Kesehatan Masyarakat MS
4 Sukraini, S.KM., M.Adm.Kes
Kepala Puskesmas SK
5 siti Masyarakat St
6 Firman Masyarakat Fm
7 Fitri Masyarakat Ft
2. Wawancara
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara secara langsung (tanya jawab dalam bentuk komunikasi verbal) kepada semua informan yang ada. Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara terstruktur dengan menyiapkan bentuk-bentuk pertanyaan yang sama antar informan satu dengan yang lainnya.
3. Dokumentasi
Dokumentasi, yaitu pencatatan dokumen dan data yang berhubungan dengan penelitian ini. Data ini berfungsi sebagai bukti dari hasil wawancara di atas. Kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan menelusuri dan mempelajari dokumen-dokumen yang sudah ada.
Hal ini dimaksud untuk mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan materi penelitian. Studi dokumentasi dilakukan dengan mempelajari buku-buku dan hasil laporan lain yang ada kaitannya dengan objek penelitian.
Teknik Analisis Data
Analisa Kualitatif merupakan suatu analisa yang digunakan untuk mambahas dan menerangkan hasil penelitian mengenai bebagai gejala atau kasus yang dapat diuraikan dengan menggunakan kata-kata yang tidak dapat diukur dengan angka-angka tetapi memerlukan penjabaran uraian yang jelas.
Serta hasil-hasil penelitian baik dari hasil studi lapangan maupun studi literatur untuk kemudian memperjelas gambaran hasil penelitian.
F. Pengabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan.
Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu (Moleong, 2011). data penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan membercheck (Sugiyono, 2012). Namun, untuk penelitian ini peneliti menggunakan metode triangulasi sebagai uji kredibilitas atau pengabsahan data.
Triangulasi bermakna yakni kebenaran data yang akan dikumpul dari berbagai sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain, serta pengecekan pada waktu yang berbeda (Sugiyono, 2012). Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagi sumber, berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu.
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber dilakukan dengan bentuk pengecekan data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan data dan pengujian data yang sudah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara, dan dokumen – dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi Teknik
Trianglasi teknik dilakukan dalam bentuk pengecekan data kepada sumber yang sama dengan dengan teknik yang berbeda, dalam hal ini data
yang diperoleh dengan wawancara lalu di cek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang tidak sama, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandang yang berbeda-beda.
3. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan mengecek data dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar dan pada sore hari. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakuan cara berulang-ulang hingga ditemukan kepastian pada data tersebut.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Gambaran Umum Kabupaten Enrekang a. Kondisi Geografis
abupaten nrekang secara geografis terletak antara ’ ’’- ’ ” Lintang elatan dan antara ’ ” - ’ ” Bujur Timur. Letak geografis Kabupaten Enrekang berada dijantung jasirah Sulawesi Selatan yang dalam peta batas wilayah memang bentuknya seperti jantung. Batas wilayah Kabupaten Enrekang adalah sebagai berikut :
1) Sebelah Utara : Kabupaten Tanah Toraja 2) Sebelah Timur : Kabupaten Luwu 3) Sebelah Selatan : Kabupaten Sidrap 4) Sebelah Barat : Kabupaten Pinrang b. Kondisi Topografi
Topografi Wilayah Kabupaten Enrekang pada umumnya mempunyai wilayah Topografi yang bervariasi berupa perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47 - 3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum keadaan Topografi Wilayah wilayah didominasi oleh bukit- bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah
43
Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%. Musim yang terjadi di Kabupaten Enrekang ini hampir sama dengan musim yang ada di daerah lain yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan yaitu musim hujan dan musim kemarau dimana musim hujan terjadi pada bulan November - Juli sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Agustus - Oktober.
Selama setengah dasawarsa terakhir telah terjadi perubahan wilayah administrasi pemerintahan baik pada tingkat kecamatan maupun level desa/kelurahan.Pada Tahun 1995 di Kabupaten Enrekang hanya terdapat 54 desa/kelurahan yang tersebar pada 5 kecamatan.Dengan adanya perubahan situasi dan kondisi wilayah, maka pemekaran desa/kelurahan sudah menjadi keharusan. Maka pada tahun 1997, jumlah desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Enrekang telah bertambah dari 78 desa/kelurahan kondisi tahun 1996, menjadi 108 desa/kelurahan. Demikian halnya pada tingkat kecamatan, yang semula hanya 5 kecamatan menjadi 9 kecamatan.
Pada pertengahan tahun 2003 terjadi pemekaran sehingga bertambah lagi sebanyak 3 desa menjadi 111 desa/kelurahan. Ke- mudian pada akhir tahun 2006 terjadi pemekaran desa dan kecamatan menjadi 11 kecamatan dan 112 desa/kelurahan.Terakhir pada tahun 2008 mekar kembali menjadi 12 kecamatan dan 129 desa/kelurahan.
Dari 12 Kecamatan tersebut, kecamatan terluas adalah Kecamatan Maiwa yaitu 392,87 km2 atau 22 persen dari luas Kabupaten
Enrekang, kecamatan yang mempunyai luas terkecil adalah Kecamatan Alla yaitu 34,66 km2 atau 1,94 persen dari luas Kabupaten Enrekang.
Pegunungan Latimojong yang memanjang dari arah utara ke Selatan rata-rata ketinggian sekitar 3000 meter di atas permukaan laut, memagari kabupaten enrekang di sebelah timur sedang di sebelah barat membentang sungai Saddang yang berada dalam wilayah Kabupaten Pinrang dengan aliran pengairan sampai Kabupaten Sidrap.
Ditinjau dari kerangka pengembangan wilayah maupun secara geografis Kabupaten Enrekang juga dapat dibagi kedalam dua kawasan yaitu Kawasan Barat Enrekang (KBE) dan Kawasan Timur Enrekang (KTE). KBE meliputi Kecamatan Alla, Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Cendana, sedangkan KTE meliputi Kecamatan Curio, Kecamatan Malua, Kecamatan Baraka, Kecamatan Bungin dan Kecamatan Maiwa. Luas KBE kurang lebih 659,03 Km 2 atau 36,90% dari Luas Kabupaten Enrekang sedangkan luas KTE kurang lebih 1.126,98 Km2 atau 63,10% dari, Luas wilayah Kabupaten Enrekang.
Dilihat dari aktifitas perekonomian, tampak ada perbedaan signifikan antara kedua wilayah tersebut. Pada umumnya aktifitas perdagangan dan industri berada pada wilayah KBE. Selain itu industri jasa seperti transportasi, telekomunikasi, hotel, restoran, perbankan, perdagangan industri pengotahan hash pertanian berpotensi
dikembangkan di wilayah tersebut. Sedangkan KTE yang selama ini dianggap relatif tertinggal bila dilihat dari ketersedian sarana dan prasarana sosial ekonomi, sangat memadai dari segi potensi SDA, sehingga amat potensial untuk pengembangan pertanian dalam arti yang luas yaitu pertanian tanaman pangan/ hortikultura, perkebunan dan pengembangan hutan rakyat.
Pemekaran dari lima kecamatan menjadi sembilan kecamatan di Kabupaten Enrekang menyebabkan akses penduduk terhadap pelayanan pemerintahan lebih mudah dicapai. Kondisi ini dipermudah oleh semakin dekatnya pusat pemerintahan kecamatan dari desa-desa bawahannya. Selain itu jumlah penduduk beserta aktifitasnya yang akan ditangani setiap wilayah kecamatan semakin berkurang.
Pemekaran ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan roda pemerintahan sehingga akan memberikan efek positif terhadap akselerasi pembangunan di setiap wilayah.
Kawasan Timur Enrekang yang memiliki wilayah yang luas dengan berbagai potensinya memberi peluang untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan hortikultura serta tanaman perkebunan dan kehutanan. Adanya keterbatasan akses KTE terhadap Kawasan Barat Enrekang mengindikasikan perlunya kebijakan atau langkah langkah strategis yang memungkinkan kedua wilayah tersebut dapat bersinergi untuk menuju pencapaian visi dan misi daerah.
c. Kondisi Wilayah Kabupaten Enrekang.
Kabupaten Enrekang berada di jantung Jasirah Sulawesi Selatan yang dalam peta batas wilayah memang bentuknya seperti jantung. Pegunungan Latimojong yang memanjang daru Utara ke Selatan rata-rata ketinggian ± 3.000 meter diatas permukaan laut, memagari Kabupaten Enrekang disebelah timur sedang disebelah barat membentang Sunagai Saddang dari utara ke selatan yang pengendalian airnya menentukan pengairan saddang yang berada dalam wilayah Kabupaten Pinrang dengan aliran pengairan sampai ke Kabupaten Sidenreng Rappang.Kabupaten Enrekang terletak antara º ’ ” L dan º ’ ” BT. Jarak dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Makassar) ke kota Enrekang dengan jalan darat sepanjang 235 Km. Batas-batas daerah Kabupaten Enrekang : Sebelah Utara Kabupaten Tana Toraja, Sebelah Selatan Kabupaten Sidenreng Rappang, Sebelah Barat Kabupaten Pinrang, dan Sebelah Timur Kabupaten Luwu dan Sidenreng Rappang. Kabupaten Enrekang berada di daerah pegunungan, terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit sambung menyambung, mengambil dari ± 85% dari seluruh luas Kabupaten Enrekang yang luasnya ± 1.786,01 Km atau 2,92 dari seluruh luas seluruh propinsi Sulawesi Selatan, secara administratif terbagi menjadi 9 kecamatan dan 111 Desa.
Iklim di Kabupaten Enrekang hampir sama dengan daerah lainnya di propinsi Sulawesi Selatan yaitu terbagi 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musin hujan terjadi/ berlangsung pada bulan November-
Juli, sedangkan pada musim kemarau berlangsung pada bulan Agustus- Oktober. Jumlah hari hujan (HH) pada tahun 2001 139 dan curah hujan 3.970 mm, tahun 2002 jumlah HH 137 hari dan CH 1410 mm, tahun 2003 jumlah HH 82 CH 1925 mm.
d. Kondisi Penduduk Kabupaten Enrekang
Jumlah penduduk di Kabupaten Enrekang untuk tahun 2008 adalah sebanyak 188.070 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan. Dengan kepadatan penduduk mencapai 105 jiwa/km².
Tabel 4.1 Penduduk menurut jenis kelamin dan kepadatan penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Enrekang Tahun 2020
No. Nama
Kecamatan
Laki- Laki
Perempuan Jumlah Total
Kepadatan Penduduk
1. Maiwa 11.655 11.657 23.312 59,3
2. Bungin 2.284 2.098 4.382 18,5
3. Enrekang 14.928 14.929 29.857 102,5
4. Cendana 4.269 4.420 8.689 95,5
5. Baraka 10.495 10.287 20.782 130,6
6. Buntu Batu 6.097 5.896 11.933 94,7
7. Anggeraja 11.866 11.850 23.716 189,2
8. Malua 4.275 4.322 8.597 213,0
9. Alla 10.107 10.046 20.153 581,4
10. Curio 7.248 7.094 14.342 80,3
11. Masalle 6.145 5.953 12.098 177,0
12. Baroko 5.184p 4.965 10.149 247,1
Kabupaten Enrekang 94.553 93.517 188.070 105.3 Sumber : Kabupaten Enrekang Dalam Angka 2020 BPS Enrekang
Berdasarkan tabel Kecamatan Enrekang memiliki jumlah penduduk yang paling banyak jika di bandingkan dengan kecamatan yang lain yaitu sebesar 29.857 jiwa. Hal ini dimungkinkan karena kecamatan ini berada di ibu kota Kabupaten dengan penduduk yang heterogen. Adapun kecamatan
dengan penduduk yang paling sedikit yaitu kecamatan Bungin dengan jumlah penduduk sebesar 4.382 jiwa dan merupakan kecamatan yang baru dimekarkan.
2, Gambaran Umum Puskesmas Buntu Batu a. Kondisi Geografis
Kecamatan Buntu Batu berada pada ketinggian tanah dari permukaan laut 100-1-700 m dengan tofografi berbukit dan pegunungan serta dengan luas batas Wilayah Kecamatan Buntu Batu 126,65 km2.
Kecamatan Buntu Batu jarak tempuh sekitar 42 km dari ibu kota kecamatan di kabupaten Enrekang yang merupakan tanah pertanian dan perkebunan. Jumlah Penduduk pada tahun 2013 sebanyak 13.012 jiwa yang terbagi atas 6.666 jiwa laki-laki dan 6.356 jiwa perempuan yang sebaian besar adalah petani. Secara administratif Kecamatan Buntu Batu terdiri dari 8 Desa yaitu:
1. Desa Pasui 5. Desa Lunjen
2. Desa Eran Batu 6. Desa Ledan 3. Desa Latimojong 7. Desa Langda 4. esa Buntu Mondong 8. Desa potok Ullin b. Batas wilayah Kecamtan Buntu Batu dibatasi oleh:
1) Sebelah Utara : Kecamtan Baraka 2) Sebelah Timur : Kecamatan Bungin 3) Sebelah Selatan :Kecamatan Bungin 4) Sebelah Barat :Kecamatan Baraka.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut yang dilakukan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Puskesmas mempunyai fungsi :
a. Pusat Penggerak Pembangunan berwawasan Kesehatan;
b. Pusat Pemberdayaan masyarakat;
c. Pusat Pelayanan kesehatan masyarakat (mencakup pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarak
Semua kegiatan di Puskesmas Kecamatan Buntu Batu Tahun 2020 dirangkum dalam bentuk Profil Kesehatan Puskesmas Tahun 2021. Profil ini memuat data dan informasi mengenai situasi kesehatan baik kependudukan, fasilitas kesehatan.
a. Tujuan
Tujuan disusunnya Profil Puskesmas Kecamatan Buntu Batu Tahun 2021 ini adalah:Tujuan ke dalam
1) Tujuan Umum
Diketahui gambaran situasi kesehatan dalam wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Buntu Batu
2) Tujuan Khusus
a) Diketahui gambaran tingkat pencapaian hasil cakupan kegiatan pelayanan kesehatan dan mutu kegiatan pelayanan kesehatan serta manajemen puskesmas pada akhir tahun.
b) Diketahui gambaran masalah kesehatan setempat di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Buntu Batu , Kecamatan Banguntapan.
c) Digunakan sebagai dasar dalam perencanaan kegiatan pelayanan kesehatan tahun selanjutnya
b. Visi dan Misi
1) Visi Puskesmas Kecamatan Buntu Batu
Puskesmas Kecamatan Buntu Batu dalam melaksanakan fungsinya mempunyai Visi sebagai berikut :
“Masyarakat ecamatan Buntu Batu ehat dan Mandiri”
2) Misi Puskesmas Kecamatan Buntu Batu
Untuk mewujudkan visi tersebut, Puskesmas Kecamatan Buntu Batu memiliki misi sebagai berikut :
a) Meningkatkan mutu SDM dan mutu pelayanan
b) Bersama dengan lintas sektor dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat
c) Meningkatkan tata kelola yang profesional, akuntabel dan mempunyai daya saing
c. Jenis Pelayanan Puskesmas
1) Pelayanan Puskesmas Kecamatan Buntu Batu
Puskesmas Kecamatan Buntu Batu merupakan puskesmas rawat jalan atau Non TT yang jenis pelayanannya meliputi :
a .
BP. UMUM d. LABORATORIU
b M .
BP GIGI e. FARMASI
c .
KIA f. GIZI
2) Program/ Kegiatan Pelayanan Kesehatan
Dalam rangka pemerataan pengembangan dan pembinaan kesehatan masyarakat telah dibangun Pusat Kesehatan Masyarakat atau lazim disebut Puskesmas yang merupakan unit pelaksana tehnis dinas kesehatan kabupaten/kota di bidang pelayanan dasar atau pelayanan tingkat pertama yang berfungsi sebagai :
a) Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan b) Pusat Pemberdayaan Masyarakat
c) Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan yang terdiri dari Pelayanan Kesehatan Perorangan dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
Puskesmas Kecamatan Buntu Batubertanggung jawab atas wilayah kerja yang ditetapkan dalam bentuk kegiatan/program yang terdiri dari :
3) Upaya Kesehatan Wajib, meliputi : a) Upaya Promosi Kesehatan b) Upaya Kesehatan Lingkungan
c) Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana d) Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
e) Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular f) Upaya Pengobatan
4) Upaya Kesehatan Pengembangan, meliputi : a) Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) b) Upaya Kesehatan Olahraga
c) Upaya Kesehatan Masyarakat (PHN) d) Upaya Kesehatan Kerja (UKK)
e) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut (Kesgilut) f) Upaya Kesehatan Jiwa (UKJ)
g) Upaya Kesehatan Mata
h) Upaya Kesehatan Usia Lanjut (Usila)
i) Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional (Batra)
Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat bersifat upaya inovasi, yakni upaya lain di luar upaya Puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat visi-misi Puskesmas Kecamatan Buntu Batu .
Upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan masyarakat serta Upaya Pencatatan dan Pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan Puskesmas. Apabila Perawatan kesehatan masyarakat menjadi masalah yang spesifik di daerah tersebut maka dapat dijadikan sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan. Disamping laborat dan pencatatan & pelaporan, pelayanan penunjang yang lain adalah : Bagian Umum dan Kepegawaian, Kearsipan, SIK dan SP2TP, Inventarisasi Barang, Keuangan, Laboratorium dan Farmasi.
5) Upaya Kesehatan Wajib
a) Upaya Promosi Kesehatan
Programer Promosi Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Buntu Batu dipegang oleh seorang perawat umum. Hal ini dikarenakan belum adanya petugas fungsional Promkes.
Hasil Kegiatan :
(1) Pertemuan kader posyandu tiap 1 bulan sekali (2) Pendataan PHBS rumah tangga dan sekolah (3) Pengembangan kawasan “Bebas Asap Rokok”
(4) Sosialisasi Kawasan RT Bebas Asap Rokok.
b) Upaya Kesehatan Lingkungan
Hasil Kegiatan Upaya Kesehatan Lingkungan
(1) Pemantauan rumah sehat dan pembinaan rumah yang belum memenuhi syarat rumah sehat
(2) Pemantauan air minum berkualitas (layak) yang dikonsumsi masyarakat
(3) Pemantauan kualitas air minum pada penyelenggara air minum
(4) Pemantauan terhadap fasilitas sanitasi layak (jamban sehat) di wilayah Kecamatan Buntu Batu
(5) Menjadi penggerak terlaksananya Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
(6) Pemantauan Tempat-tempat umum (TTU)
(7) Pembinaan dan pemantauan status higiene sanitasi tempat pengolahan makanan (TPM)
c) Upaya Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana a) Upaya Kesehatan Ibu Anak
Hasil Kegiatan tahun 2020
Tabel 4.2. Hasil Kegiatan Upaya Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2020
No Jenis Kegiatan Satuan Hasil 2020
1 Jumlah Bumil Kunjungan 367
2 Kunjungan Bumil (K-1) PWS Kunjungan 367 3 Deteksi Bumil Beresiko PWS Kunjungan 105
4 Neonatus Beresiko (PWS) Kunjungan 113
5 Persalinan oleh Nakes Bulin 567
6
Kematian Bayi Kasus 0
Kematian Neonatus Kasus 0
7 Kematian Balita Kasus 0
8 AKI Kasus 0
9 DTKB BAYI Bayi 346
10 DTKB Balita Balita 816
11 DTKB APRAS di TK Balita 812
Sumber : Data Program KIA Tahun 2020
d) Upaya Wajib Program Keluarga Berencana Hasil Kegiatan Program Keluarga Berencana Akseptor KB
Tabel 4.3 Jumlah Peserta KB di Puskesmas Kecamatan Buntu Batu Tahun 2020
No Jenis Kegiatan Aktif Cakupan % KB
Aktif
1 IUD 2118 46,12%
2 MOP 43 0,94%
3 MOW 360 7,84%
4 Implan 120 2,61%
5 Suntik 938 20,43%
6 Pil 429 9,34%
7 Kondom 584 12,72%
Jumlah 4.592 100,00%
Sumber : Program KB Puskesmas Kecamatan Buntu Batu Tahun 2020 Dari data pada table 5.3 dapat dipetik informasi bahwa akseptor KB terbanyak adalah dengan menggunakan IUD disusul penggunaan KB suntik sedangkan metode MOP merupakan metode yang paling sedikit digunakan. .
Berdasarkan data dan informasi hasil pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Buntu Batu tahun
2020 yang dilaporkan, dapat disimpulkan bahwa indikator kesehatan masyarakat di desa Banguntapan adalah :
(1) Tidak ada Kematian Ibu dilaporkan.
(2) Tidak ada kematian bayi dilaporkan.
(3) Tidak ada kematian balita dilaporkan.
(4) Angka Kesakitan DBD sebesar 2,49 per 1.000 penduduk.
(5) Angka Kesembuhan TB dilaporkan sebesar 80%.
(6) Angka Kesakitan Diare sebesar 11,110/00.
(7) Tidak ada Kasus Kusta ditemukan.
(8) Angka Gizi Buruk sebesar 0,3%.
(9) Kecamatan Buntu Batubelum bisa mencapai DB4MK Plus.
Dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat di Kecamatan Buntu Batu, sudah dilakukan upaya-upaya kesehatan yang hasilnya sebagai berikut :
(1) Persentase cakupan kunjungan ibu hamil K1 : 100%, K4 : 86,95%, Persalinan ditolong tenaga kesehatan : 100%.
(2) Persentase cakupan KB aktif sebesar 80,07%.
(3) Persentase cakupan desa UCI sebesar 100%
(4) Persentase cakupan imunisasi campak bayi sebesar 99,8%.
(5) Persentase ibu hamil mendapat Fe1 : 81,83% dan Fe3 : 72,31%.
(6) Terjadi 2 KLB yaitu KLB Leptospirosis dan KLB Campak.
(7) Persentase penduduk miskin tercakup Jaminan Kesehatan sebesar 100%.
(8) Persentase rumah tangga ber-PHBS sebesar 46,34%.
(9) Persentase rumah atau bangunan bebas jentik nyamuk Aedes Aegypti sebesar 84,85%.
(10) Besar anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk kegiatan puskesmas sebesar Rp 1.184.817.500, 00.
Berbagai perbaikan untuk mencapai status kesehatan masyarakat telah dilaksanakan, hal ini dapat dilihat dari hasil pencapaian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bagaimanapun pembangunan kesehatan harus tetap ditingkatkan untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi- tingginya.
Profil kesehatan ini dilampiri dengan tabel - tabel sesuai pedoman penyusunan profil Kabupaten Enrekang dan diterbitkan setiap tahun, sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran tentang seberapa jauh dinamika kondisi kesehatan yang telah dicapai.
3Adapun jumlah perbedaaan tenag kesahatan di puskesmas buntu batu sebagai berikut :
Laki-laki Perempuan
8 12
Jumlah Petugas Kesehatan di buntu batu sebanyak 20 Orang Sumebr : Puskesmas Buntu Batu
B. HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini menunjukan kenyataan Kualitas pelayanan kesehatan Masyarakat di kecamatan Buntu Batu kabupaten Enrekang dengan menggunakan menggunakan 5 variabel yang menjadi dasar dalam penelitian ini
Untuk mengetahui kualitas pelayanan publik di Puskemas kesehatan Masyarakat di kecamatan Buntu Batu saat ini, peneliti menggunakan lima dimensi kualitas pelayanan publik yang dikemukakan oleh Zeithaml dkk dalam Hardiyansyah, yaitu Tangible (Berwujud), Reliability (Kehandalan), Responsiveness (Ketanggapan), Assurance (Jaminan), dan Emphaty (Empati).
Selain itu peneliti juga meneliti apa yang menjadi faktor pendukung dan penghambat kualitas Pelayanan kesehatan Masyarakat di kecamatan Buntu Batu.
1. Dimensi Tangible (Berwujud)
Dimensi Tangible (berwujud) merupakan penampilan fasilitas fisik, peralatan, personal, dan media komunikasi dalam pelayanan. Jika dimensi ini dirasakan oleh masyarakat sebagai pengguna layanan sudah baik maka masyarakat akan menilai baik dan merasakan kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan pegawai kesehatan Masyarakat di kecamatan Buntu Batu kabupaten
Enrekang namun sebaliknya jika dimensi ini dirasakan oleh masyarakat buruk, maka masyarakat akan menilai buruk dan tidak akan merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan pegawai pelayanan. Untuk mengukur dimensi Tangible dalam upaya mengetahui kualitas pelayanan publik di Puskesmas Kecamatan Buntu Batu dapat diukur melalui indikator sebagai berikut :
a. Sarana Prasarana
sarana dan prasarana yang diguanakan di rumah sakit bertujuan untuk melengkapi fasilitas dan kualitas dalam melakukan pengobatan dimana hal tersebut menunjukan bahwa semakin baik sebuah sarana dan prsarana dalam rumah sakit maka semakin berkualitas rumah sakit tersebut, berikut adalah sarana dan prsarana yang di dapatkan oleh peneliti di lapanagan secara langsung sebagai berikut :
SARANA PRASARANA
Kendaraan roda dua Gedung Rumah Sakit Kendaraan roda Empat Laboratorium
Lemari Pendingin Penginapan Petugas Kulkas Rumah Tangga Tenaga Kesehatan
TV Ruang tata Usaha
AC Ruang konsultasi
LCD Ruangan tindakan
Kamera Ruang Rawat inap
Komputer / Laptop
Sarana dan Prasarana sangat dibutuhkan dalam proses pelayanan Rumah sakit terkhusus bagi Puskesmas dalam dimana secara langsung akan berhadapan dengan masyarakat yang sangat membutuhkan jasa kesahatan dan tidak bisa di pungkiri bahwa berbicara soal kesahatan tidak bisa di atisipasi kapan datangnya maka dari itu tidak heran jika sarana dan prasarana rumah sakit harus selalu stembai selain itu beberapa hal