• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka teoritik digunakan sebagai bentuk pisau bedah analisis untuk membedah data yang ada. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa pada variabel yang terdapat di judul penelitian atau yang tercakup di paradigma dan pendekatan penelitian kemudian disesuaikan dengan hasil rumusan masalah. Dalam penelitian ini digunakan teori identitas dan moderasi beragama sebagai pisau analisis.

1. Teori Identitas

Identitas menurut Manuel Castells dalam bukunya The Power of Identity

We know of no people without names, no language or culturs in which some manner of distinctions between self and other, we and they. Artinya bahwa tidak ada manusia tanpa nama, bahasa dan budaya yang menjadi pembeda dirinya dengan manusia lain.28 Castells mengkaji identitas kolektif dalam konteks kajian masyarakat jaringan,

28 Manuel Castells, The Power of Identity (Malden: MA: Wi-Ley-Blackwell, 1997), 1.

17

hal ini dikarenakan pemaknaan individu dalam sebuah jaringan berbeda dengan pendekatan sosiologis yang mendefinisikan identitas sebagai serangkaian peran.29

Asal usul dari istilah masyarakat jaringan diawali dengan teori sosial yang dicetuskan oleh Georg Simmel. Masyarakat jaringan atau yang disebut network society didefinisikan oleh Manuel Castells adalah sebuah masyarakat di mana kunci dari struktur sosial dan kegiatan-kegiatannya diatur oleh sebuah jaringan informasi yang diproses oleh alat elektronik. Menurutnya jaringan telah menjadi unit dasar dari masyarakat sekarang ini, yang jauh didepan dibandingkan dengan masyarakat yang hanya mendengar informasi dari pengumuman. Bukan hanya dari faktor tekologi yang dapat membedakan masyarakat modern, tetapi pengaruh dari faktor agama, budaya, pendidikan, politik, dan status sosial yang menjadi pembentuk terjadinya masyarakat jaringan.30

Dalam penelitian ini teori identitas sosial yang digunakan berdasarkan pemetaan menurut Manuel Castells. Menurutnya terbentuknya masyarakat jaringan mengakibatkan terjadinya pergeseran makna dari identitas yang di bangunnya, dan membagi pemahaman atau tipe identitas ke dalam tiga bentuk identitas yaitu legitimizing identity, resistance identity, dan project identity.31

Legitimizing identity merupakan identitas yang diperkenalkan oleh institusi yang dominan dalam masyarakat. Mereka melakukannya untuk merasionalisasi

29 Blog Pribadi Masa Kini, “Riview: Masyarakat Jarigan (Manuel Castells),”

Https://Www.Ganipramudyo.Web.Id/2017/07/Riview-Masyarakat-Jaringan-Manuel.Html?M=1, n.d.

30 Ibid.

31 Manuel Castells, The Power of Identity, 63.

18

dominasi mereka vis a vis dengan aktor sosial. Sehinggah akan membentuk suatu identitas yang menjadi ciri utama ketika sebuah intitusi yang dominan berupa pikiran yang dirasionalisasikan dalam bentuk dominasi. Identitas inilah yang kemudian membentuk masyarakat sipil yang terdiri dari unsure institusi.32

Resistance identity merupakan tipe identitas yang dipegang oleh aktor-aktor yang dimana dalam posisinya diperoleh akibat perlawanan terhadap logika berpikir kaum dominan, yang diartikan sebagai suatu bentuk perlawanan untuk mempertahankan identitas dari mereka yang lemah karena stigma dari pihak yang mendominasi. Kemudian dari identitas tersebut mempengaruhi terbentuknya suatu komunitas melalui perlawanan secara kolektif terhadap tekanan yang ada pada komitas tersebut, sehinggah membentuk suatu komunitas jaringan yang kuat.33

Project identity merupakan identitas yang diperoleh akibat kontruksi yang terjadi ketika aktor-aktor sosial membentuk suatu identitas baru dalam basis budaya yang mendefinisikan posisi mereka dalam masyarakat, melalui cara mereka, mecoba mencari transformasi semua struktur yang dimiliki. Ketika aktor membangun identitas dan mentransformasikan struktur sosial, identitas dalam hal ini juga terkait dengan posisi kelompok sosial atau organisasi. Kelompok sosial yang membentuk suatu kelompok identitas baru dengan adanya keikutsertaan dari anggota dan

32 Ibid., 8.

33 Ibid.

19

dukungan kelompok memiliki ekspetasi sosial yang kemudian mengkreasikannya ke dalam prilaku kolektif.34

Untuk memahami teori identitas dengan pendekatan konsep masyarakat jaringan yang merupakan konsep pemahaman dari perkembangan zaman mengenai teknologi berdasarkan pemetaan identitas menurut Castells. Melalui uraian di atas identitas yang digunakan dalam tesis ini merupakan pendekatan project identity dengan mengaktualisasikan diri dalam suatu kelompok sosial.

2. Moderasi Beragama

Moderasi agama adalah lawan dari bentuk ekstremisme agama. Istilah moderasi berasal dari bahasa latin, dari kata moderare yang artinya mengurangi atau mengontrol. Kamus The American Haritage Dictionary of the English Language mendefinisikan moderare sebagai: not excessive or extreme (tidak berlebihan dalam hal tertentu). Moderasi mengandung makna obyektif dan tidak ekstrim. Sehingga moderasi agama didefinisikan sebagai nilai-nilai agama yang di bangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan.35

Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, bahasa,adat istiadat, agama dan budaya. Masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai masyarakatmultikultural karena anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang agama dan budaya yangberagam. Indonesia merupakan bangsa

34 Ibid.

35Nurul Faiqah, “Radikalisme Islam Vs Moderasi Islam: Upaya Membangun Wajah Islam Indonesia Yang Damai” 17 no. 1 (June 2018): 46.

20

multikultural dan majemuk, oleh karena itu bangsa Indonesia dapat disebut bangsa yang bersifat multikulturalisme.36

Ada enam agama yang paling banyak dipeluk oleh masyarakat, dan ada juga beberapa agama lain yang mengatas namakan agamanya dengan salah satu agama yang di akui di Indonesia. Selain itu ada ratusan bahkan ribuan suku, bahasa dan adat daerah, serta kepercayaan lokal yang berbeda-beda di Indonesia. Dalam masyarakat ada enam pemeluk agama terbesar yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khongucu. Meskipun seperti itu kepercayaan tentang keagamaan masyarakat diekspresikan dalam ratusan agama leluhur.37

Pengetahuan akan hal yag dapat di rubah dan tidak sudah menjadi penting bagi ajaran setiap agama, karena pengetahuan atas keragaman itulah yang memungkinkan seorang pemeluk agama akan bisa mengambil jalan tengah (moderat) jika satu pilihan kebenaran tafsir yang tersedia tidak memungkinkan dijalankan.

Sikap ekstrem akan muncul apabila penganut agama tidak mengetahui secara jelas tentang penafsiran kitabnya. Dalam konteks inilah pemahaman moderasi agama sangat penting untuk dijadikan pandangan perspektif dalam beragama.38

Semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrem dalam beragama. Di satu sisi, ada pemeluk agama yang sangat meyakini

36Kuswaya Wihardit, “Pendidikan Multikultural: Suatu Konsep, Pendekatan Dan Solusi”

Vol. 11 No.2 (September 2010): 96–105.

37Kementerian Agama RI, Moderasi Beragama, 2–3.

38Ibid., 5.

21

akan penafsiran tesk agamanya dan menganggap yang lainnya sesat.39Moderasi beragama harus dipahami masyarakat harus adanya sikap keseimbangan antara pengalaman diri dalam beragama dan perhormatan kepada praktik keagamaan orang lain. Keseimbangan dalam beragama dapat menghindarkan dari sikap yang berlebihn dan moderasi agama menjadi solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem sisi kanan dan sisi kiri.40

Dokumen terkait