a. Pengertian Tabungan
Tabungan merupakan simpanan yang jenis pengambilannya hanya dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, namun tidak bisa ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan menggunakan itu.Nasabah bila mengambil tabungannya bisa datang langsung ke Bank dengan membawa buku tabungan, slip penarikan, atau memakai sarana ATM.17
Tabungan (Saving Deposit) adalah jenis simpanan yang sangat terkenal pada kalangan masyarakat Indonesia mulai dari masyarakatkota higga masyarakat di pedesaan.
Berdasarkan Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998, Tabungan ialah simpanan yang pengambilannya cuma bisa dilakukan mengikuti ketentuan tertentu yang disetujui, namun tidak bisa ditarik menggunakan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.18 Pembukaan tabungan masyarakat bisa dilakukan sesuai syarat yang berlaku dan bisa dibuka berdasarkan permintaan
16Randy Pribadi “Prosedur pelayan transaksi penutupan rekening simpanan pada Bank Syariah Mandiri KCP Sudirman Pekanbaru”, Jurnal Islamic Banking, Vol. 5, No. 2, Agustus 2018, hlm. 37-38.
17Khotibul Umam dan Setiawan Budi Utomo, Perbankan syariah: Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm. 88.
18Ismail, Perbankan syariah,(Jakarta: Gema Insani, 2001), hlm.74.
pribadi, kelompok (lebih dari satu orang) dengan kedudukan yang sama, dan badan tertentu.19
Adapun yang dimaksud dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan adalah tabungan yang berdasarkan prinsip wadiah atau mudharabah.20
Tabungan wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadiah, Bank Syariah menggunakan akad wadi’ah yad adh-dhamanah. Dalam hal ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang tersebut.21
Landasan hukum tabungan wadiah mengacu pada22:
1) Fatwa DSN-MUI
Fatwa DSN No: 02//DSN-MUI/IV/2000, menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadiah.
19Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank, (Jakarta : Gramedia , 2006), hlm. 43.
20 Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, PT Raja Grafindo Persada, 2006. hlm. 297.
21 Adiwarman A. Karim, Op. Cit., hlm.297
22 Ahmad Dahlan, Bank Syariah Teori, Praktik, Kritik, Teras, Yogyakarta, 2012, hlm. 137
2) Peraturan Bank Indonesia (PBI)
Penjelasan pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007, wadiah adalah transaksi penitipan dana atau barang dari pemilik kepada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban bagi pihak yang menyimpan untuk mengembalikan dana atau barang titipan sewaktu-waktu.
3) Pasal 1 angka 21 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
Tabungan adalah simpanan berdasarkan akad wadiah atau investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lainnya yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
b. Akad Tabungan
a) Akad wadiah yad dhamanah
Prinsip yad-dhamanah “tangan penanggung” yang artinya dimana pihak penyimpan berkewajiban mengenaisemua kehancuran maupun kerugian yang terjadi pada benda ataupun harta titipan.Ini juga berartipihak penyimpan atau custodian merupakantrustee yang sekaligus guarantor “penjamin” keamanan benda atau harta yang dititipkan.Berarti bahwa pihak penyimpan sudah menerima persetujuan dari pihak penitip untuk memanfaatkan benda ataupun harta seperti perjanjian tadiuntuk kegiatan perekonomian tertentu, dengan pemberitahuan bahwa pihak penyimpan bakal mengembalikan benda atau harta yang dititipkan secara lengkap pada saat penyimpan meminta. Hal inisesuai
dengan ajaran Islam supaya harta selalu diusahakan untuk tujuan bermanfaat (tidak idle atau didiamkansaja).23
Dalam implementasi perbankan, akad wadiah yad dhamanah bisa dipergunakan pada produk penghimpunan dana pihak ketiga diantaranya giro dan tabungan. Bank syariah bakal menaruh insentif pada nasabah berdasarkan uang yang dititipkan pada bank syariah.Besarnya insentif tidak bisa diperjanjikan terlebih dahulu, namun tergantung pada kebijakan Bank Syariah.Apabila Bank Syariah mendapat laba, maka Bank akan menaruh insentif pada pihak penyimpan.
Wadiah yad dhamanah mempunyai ciri, yakni antara lain:24
1) Aset maupun benda yang ditipkan boleh ataupun bisa dipergunakan oleh yang menerimatitipan.
2) Lantaran dipergunakan, benda maupun aset yang dititipkan tentu bisa menciptakan fungsi. Walaupun demikian, tidak terdapat kewajiban kepada pemeroleh titipan untuk memberi hasil pemakaian pada penitip.
3) Produk perbankan yang singkron menggunakan akad ini ialah giro dan tabungan.
4) Bank konvensional menaruh pelayanan giro sebagai kompensasi yang diukur dari profit yang telah ditentukan. Dalam bank syariah, pemberian bonus (seperti pelayanan giro) tidak bisa disebutkan padaperjanjian maupun dijanjikan dalam akad, namun benar-benar imbalan satu pihak sebagai tanda terima kasih dari pihak Bank.
5) Total hadiah insentif seutuhnya ialah wewenang manajemen bank syariah lantaran dalam prinsipnya untuk akad ini pemusatannya merupakantitipan.
23Ascarya, Akad danProduk Bank Syariah, (Depok: Rajawali Pers, 2017), hlm.
43-44.
24Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta:
Gema Insani, 2001), hlm. 149.
6) Produk simpanan bisa memakai akad wadiah lantaran dalam prinsipnya tabungan mirip dengan giro, yakni tabungan yang dapat ditarik setiap waktu.
Perbedaannya, simpanan tidak bisa diambil menggunakan cek atau alat lain yangdipersamakan.
Tabungan Easy Wadiah memakai akad wadiah yad dhamanah, adalah akad di mana pihak penyimpan sudah mendapat persetujuan dari pihak penitip untuk memakai benda atupun harta yang dititipkan tersebut untuk kegiatan perekonomian tertentu, dengan pemberitahuan bahwa pihak penyimpan bakal mengembalikan benda maupun harta yang dititipkan secara penuh pada saat penyimpan menghendaki dan pihak penyimpan bertanggung jawab atas segala kerusakan atau kehilangan yang terjadi pada barang atau aset titipan.25
b) Akad Mudharabah Mutlaqah
Dalam mudharabh mutlaqah, tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana yang dihimpun.
Nasabah tidak memberikan persyaratan apapun kepada bank, ke bisinis apa dana yang disimpannya itu hendak disalurkan, atau menetapkan penggunaan akad-akad tertentu, ataupun mensyaratkan dananya diperuntukan bagi nasabah tertentu. Jadi bank memiliki kebebasan penuh untuk menyalurkan dana ini ke bisnis manapun yang diperkirakan menguntungkan.
Mudharabah Mutlaqah memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Bank wajib member tahukan kepada pemilik mengenai nisbah dan tatacara pemberitahuan keuntungan dan atau pembagian keuntungan secara resiko yang dapat ditimbulkan dari penyimpanan dana. Apabila telah tercapai kesepakatan, maka hal tersebut harus dicantumkandalam akad.
25Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Depok: Rajawali Pers, 2007), hlm.
43-44
2) Dapat diambil setiap saat oleh penabung sesuai dengan perjanjian yang disepakati, namun tidak diperkenankan mengalami saldo negative.
3) Ketentuan-ketentuan lainnya yang berkaitan denga tabungan easy mudharabah tetap berlaku sepanjang tidak bertentanga dengan prinsip syariah.26
2. Nasabah
a. Pengertian Nasabah
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) nasabah merupakan orang yang biasa berhubungan dengan ataupun sebagai klien bank (dalam hal keuangan).27
Nasabah berdasarkan Undang-Undang Perbankan Syariah No.21 Tahun 2008 mengenai Perbankan Syariah, nasabah merupakan pihak yang memakai pelayanan Bank Syariah dan ataupun Unit Usaha Syariah.
Nasabah dapat didefinisikan sebagai orang ataupun lembaga hukum yang memiliki rekening baik rekening tabungan maupun pinjaman pada pihak Bank. Sehingga nasabah adalah orang yang biasa berhubungan dengan atau sebagai pelanggan Bank.28
Nasabah adalah seseorang yang menjadi tanggungan atau menjadi pelanggan bank. Dalam hal ini nasabah juga dikatakan sebagai orang yang menggunakan pelayanan yang disediakan oleh bank.nasabah adalah seseorang atau badan usaha maupun lembaga yang mempunyai rekening simpanan dan pinjaman. Selain itu, nasabah juga melakukan transaksi lainnya, baik transaksi online maupun offline.29
26Https://www.ojk.go.id Diakses Tanggal 20 Januari 2022, Pukul 14:00 WITA.
27Https://kbbi.web.id Diakses Tanggal 20 Januari 2022, Pukul 14:00 WITA.
28M. Nur Rianto Al Arif, Dasar-Dasar Pemasaran Bank Syariah,(Bandung:
Alfabeta, 2012), hlm. 189.
29Muhammad Sarifuddin, S.E.I., M.E., Pembiayaan Musyarakah dalam Meningkatkan Pendapatan Nasabah di BPRS, (Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani, 2021), hlm. 53.
Dalam istilah perbankan, nasabah adalah orang atau badan usaha yang mempunyai rekening simpanan atau pinjaman pada Bank.30
Menurut Komarudin nasabah adalah seseorang atau perusahaan yang mempunyai rekening Koran, deposito atau tabungan serupa lainnya pada sebuah bank.
Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa nasabah adalah seseorang atau badan usaha (korporasi) yang mempunyai rekening simpanan, pinjaman dan melakukan transaksi simpanan dan pinjaman tersebut pada sebuah Bank.31
b. Macam-Macam Nasabah
Dalam Undang-Undang No.10 Tahun 1998 mengenai perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan, nasabah dibagi menjadi dua yaitu :
1) Nasabah Penyimpan merupakan nasabah yang menyempatkan dananya pada bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.32
2) Nasabah Debitur ialah nasabah yang menerima fasilitas kredit atau pembiayaan dengan prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan33.
c. Hak-Hak Konsumen :34
1) Nasabah mempunyai hak memahami secara mendetail mengenai produk-produk perbankan yang ditawarkan dan juga atas kejelasan informasi produk Bank. Hak ini adalah hak primer dari nasabah, maka dari itu nasabah wajib
30Https://www.ojk.go.id Diakses Tanggal 20 Januari 2022, Pukul 14:30 WITA.
31Dwi Perwitasari Wiryaningtyas, Pengaruh Keputusan Nasabah Dalam Pengambilan Kredit (Studi Bank Kredir Desa Kabupaten Jember), “Jurnal Ekonomi dan Bisnis Growth”. Vol. 14, No. 2, Mei 2016, hlm. 50.
32Pasal 1 Ayat (17) Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
33Pasal 1 Ayat (18) Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
34Https://www.ojk.go.id Diakses Tanggal 20 Januari 2022, Pukul 14:40 WITA.
menerima penjelasan yang jelas, terperinci, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan juga kesamaan ataupun keseimbangan dalam perjanjian perbankan.
2) Nasabah berhak untuk menerima bunga dari produk tabungan dan deposito yang telah dijanjikan terlebih dahulu.
3) Nasabah berhak menerima layanan jasa yang diberikan oleh bank seperti fasilitas ATM, menerima laporan atas transaksi, mendapatkan jaminan kembali apabila kredit yang dipinjam telah lunas, dan berhak mendapat jasa uang pelelangan dalam hal agunan dijual untuk melunasi kredit yang tidak dibayar.
4) Nasabah berhak menerima uang Rupiah dalam kondisi asli, masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah, layak edar, dan jenis pecahan ataupun nominal yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
5) Nasabah berhak menaruh pengaduan dan wajib ditindak lanjuti.
6) Nasabah berhak menerimaganti rugi, dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diberikan.
Kompensasi atau ganti rugi juga harus diberikan bila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian sebagai bentuk kewajiban dari Bank.
3. Faktor penyebab nasabah menutup tabungan
Adapun faktor penyebab nasabah menutup tabungan yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar.
1. Faktor Internal (dari dalam)
Faktor internal berasal dari bank itu sendiri, yakni sebagai berikut :
a) Lokasi Kantor
Lokasi Kantor yang strategis, gampang di jangkau, tidak macet, jauh dari keramaian, lingkungan amat sangat penting artinya bagi masyarakat.35
b) Kualitas Layanan
Kualitas pelayanan menurut (kotler, 2008) yang dikutip Alfi Syahri Lubis dan Nur Rahmah Andayani merupakan suatu kapasitas yang bisa ditawarkan oleh seseorang pada orang lain. Kualitas pelayanan yang ramah menaruh imbas yang baik untuk perseroan sebab bakal menjadi pelanggan yang loyal dan menaruh laba bagi perseroan.36
c) Ingkar janji dan tidak tepat waktu
Pegawai sempat tidak memenuhi kesepakatan seperti waktu pelayanan yang sudah ditetapkan.Begitupun dengan penanganan pekerjaan yang tidak cocok dengan kemauan nasabah.37
Bisa di simpulkan berarti faktor internal penyebab nasabah menutup rekening tabungan ialah lokasi kantor bank, kualitas layanan yang baik, dan pegawai yang tidak tepat waktu.
2. Faktor Eksternal (dari luar)
35Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 573.
36Alfi Syahri Lubis dan Nur Rahmah Andayani, “Pengaruh kualitas pelayanan (Service Quality)Terhadap kepuasan pelanggan PT. Sucifindo Batam, ” Journal of Business Administration Vol. 1, No. 2, September 2017, hlm.234.
37Zul Ridha Silvia Rahmah, “Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Nasabah pada Produk Tabungan Mudharabah di Baitul Qiradh Surya Madinah”,SkripsiUniversitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, 2016, hlm. 32.
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar bank, yang termasuk faktor eskternal diantaranya :38
a) Keadaan Perekonomian
Situasi perekonomian sebuah negara merupakan bagaimana rangkaian perekonomian negara tersebut. Jika perekonomian maju cepat, berarti berdampak positif bagi global bisnis dan penghasilan masyarakat akan tumbuh sehingga akan menambah ketertarikanmasyarakat ataupun perseroan untuk menabung dan dampaknya simpanan masyarakat akan meningkat. Begitupun sebaliknya, apabila perekonomian menurun, berarti akan berdampak pada perkembangan global bisnis yang akan lesu, taraf penghasilan masyarakat tidak meningkat justru menurun, yang akan menyebabkan penghimpunan dana bank cenderung akan menurun.
b) Kegiatan dan kondisi pemerintah
Stabilitas pemerintahan dan kepastian hukum sangat berperan dalam membentukstabilitas berusaha dan agunan dalam berusaha yang dibuktikan menggunakan kejelasan dan ketegasan peraturan dan kebijakan yang berlaku baik pada pemerintah pusat serta pemerintah daerah.