hubungan tersebut, konsultan pajak adalah pihak yang memberikan jasa dan Wajib Pajak adalah konsumen. Ditemukan bahwa kepuasan Wajib Pajak terhadap kinerja konsultan pajak menyebabkan ketergantungan kepada konsultan pajak. Ketergantungan yang dimaksud adalah Wajib Pajak akan menggunakan jasa konsultan pajak terus menerus dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Hal ini sesuai dengan teori perilaku konsumen dari sisi ekonomi mikro, yang menyebutkan bahwa konsumen akan meneruskan pembeliannya apabila merasa puas dengan produk yang dibelinya. Selain menimbulkan ketergantungan, kepuasan yang didapat oleh Wajib Pajak juga berdampak pada bertambahnya jumlah klien yang ditangani oleh konsultan pajak. Wajib Pajak yang puas dengan kinerja konsultan secara sadar akan mengajak Wajib Pajak lain untuk menggunakan konsultan yang menanganinya.
Penelitian ini menyadarkan kita tentang peran pegawai DJP dan konsultan pajak dalam menyadarkan Wajib Pajak agar melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan aturan yang ada. Wajib Pajak dengan sifat alaminya yang enggan membayar pajak, tentu harus diberikan edukasi sebanyak mungkin agar mereka mau menunaikan kewajiban perpajakannya. Terlebih lagi, dalam penerapan self assessment system, undang-undang tidak mentolerir ketidaktahuan Wajib Pajak. Bisa dibayangkan apabila Wajib Pajak yang tidak tahu kewajiban pajaknya tiba-tiba diharuskan membayar pajak dalam jumlah besar, maka akan langsung mati sumber kelangsungan usahanya karena pajak tersebut. Ketidaktahuan bukanlah alasan bagi Wajib Pajak untuk tidak patuh. Ketidaktahuan Wajib Pajak adalah tantangan besar bagi pegawai DJP maupun konsultan pajak untuk memberikan edukasi kepada Wajib Pajak agar mengerti akan kewajiban perpajakannya.
5. Kesimpulan, dan Keterbatasan
dan konsultan pajak akan lebih mudah menyampaikan informasi perpajakan, dan disisi lain juga akan membuat Wajib Pajak lebih patuh, meskipun tetap, perencanaan dan penghindaran pajak tidak dapat dipisahkan dalam proses pemenuhan kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak.
Semakin besar perusahaan, semakin bagus pula cara penghindaran pajaknya. Informan tiga yang bertugas di KPP Madya, banyak menangani Wajib Pajak badan di berbagai tingkatan, mulai dari yang sederhana hingga sangat kompleks. Untuk perusahaan dengan skala menengah ke bawah, penghindaran pajaknya mudah ditebak oleh pegawai pajak. Sebaliknya, perusahaan yang berskala nasional dan multi nasional, penghindaran pajaknya sudah bagus, dalam hal ini mereka juga menggunakan aspek-aspek pelaporan akuntansi untuk melakukan penghindaran pajak, seperti perataan laba, manajemen laba, dan transfer pricing.
Perilaku Wajib Pajak dalam Melaksanakan Kewajiban Perpajakannya
Wajib Pajak dengan sukarela melaksanakan kewajiban perpajakannya karena manfaat yang diterimanya secara langsung. Hal ini terlihat dalam pemenuhan kewajiban perpajakan terkait dengan perolehan NPWP atau NPKP. Wajib Pajak yang memiliki NPWP atau NPKP akan memperoleh manfaat secara langsung. Dengan manfaat secara langsung yang di dapatkan Wajib Pajak, kebanyakan dari mereka akan secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan NPKP.
Berkaitan dengan pemenuhan kewajiban dalam hal administrasi pajak, kebanyakan Wajib Pajak orang pribadi masih belum sepenuhnya memahami. Mereka harus diberikan edukasi secara terus menerus oleh pegawai DJP dan konsultan pajak agar mengetahui peraturan sehingga mereka tertib dalam hal administrasi pajak. Untuk Wajib Pajak badan, saat ini mereka sudah memahami kewajiban untuk tertib administrasi.
Berkaitan dengan kewajiban dalam hal pencatatan dan pembukuan, untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan usaha bebas sudah melaksanakan pencatatan sesuai dengan arahan pegawai pajak. Untuk Wajib Pajak badan, penyelenggaraan pembukuan cenderung dilakukan seadanya. Namun, ketika mereka diperiksa pegawai pajak, mereka mulai menyelenggarakan pembukuan dengan benar.
Berkaitan dengan perilaku Wajib Pajak pada saat pemeriksaan, Wajib Pajak sudah cukup kooperatif dalam menghadapi pemeriksaan. Hanya saja, karena ketidaktahuan, mereka menyerahkan apa adanya dokumen yang diminta, sehingga setelah pemeriksaan, Wajib Pajak langsung mendapat tunggakan yang sangat besar.
5.3 Keterbatasan Penelitian
Penelitian sedikit dibatasi dengan kerahasiaan yang tidak boleh diungkap oleh para informan. Informasi yang didapat adalah hal-hal yang dapat diungkapkan secara umum, informasi secara mendetail menyangkut keperilakuan Wajib Pajak tertentu secara spesifik tidak dapat dipublikasikan. Selain itu, perolehan data hanya didapat dengan wawancara. Agar penelitian serupa dapat berjalan maksimal dan optimal, penelitian dapat dilakukan dengan jangka waktu lebih lama, bisa dengan cara magang di kantor pajak atau konsultan pajak.
Dengan demikian perolehan data juga didapat dari pengamatan peneliti.
DAFTAR PUSTAKA
Albari. 2009. Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepatuhan Membayar Pajak. Jurnal Siasat Bisnis 13(1): 1-13
Allingham, Michael G. dan Agnar Sandmo. 1972. Income Tax Evasion: A Theoretical Analysis.
Journal of Public Economics 1: 323-38.
Anonim. 2013. Pengamat: Jumlah Pegawai Pajak Belum Ideal.
http://www.kemenkeu.go.id/Berita/pengamat-jumlah-pegawai-pajak-belum-ideal. 11 Januari 2014 (07.05)
Anonim. 2013. Tantangan Serius yang Dihadapi Direktorat Jendral Pajak.
http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/index.php/layanan-diklat/seputar-diklat/1399- tantangan-serius-yang-dihadapi-direktorat-jenderal-pajak. 11 Januari 2014 (06.15)
Anonim. 2013. Konsultan Bantu Masyarakat Penuhi Kewajiban Pajak.
http://www.analisadaily.com/mobile/pages/news/49484/konsultan-bantu-masyarakat- penuhi-kewajiban-pajak. 11 Januari 2014 (06.45)
Anonim. 2013. Jumlah Ideal Pegawai Pajak di Indonesia Sekitar 60.000 Orang.
http://www.beritasatu.com/makro/143854-jumlah-ideal-pegawai-pajak-di-indonesia- sekitar-60000-orang.html. 11 Januari 2014 (08.15)
Ariesta, Emilio Feryawan. 2013. Studi Fenomenologi Tentang Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi (Studi Kasus di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unversitas Brawijaya Malang). Skripsi. Malang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Astuti, Melawati Dwi. 2011. Prediksi Minat Terhadap Penggunaan Sistem E-Commerce: Studi
Empiris Decomposed Theory of Planned Behavior (DTPB). Skripsi. Malang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Deegan, Craig dan Jeffrey Unerman. 2006. Financial Accounting Theory. Berkshire: McGraw- Hill Education
Direktorat Jendral Pajak. Visi dan Misi. http://www.pajak.go.id/visi_dan_misi. 12 Januari 2014 (06.15).
_____. Selayang Pandang. http://www.pajak.go.id/content/selayang-pandang. 12 Januari 2014 (06.20).
_____. Struktur Organisasi. http://www.pajak.go.id/struktur_organisasi. 12 Januari 2014 (06.25).
_____. Evaluasi Penerimaan Pajak Tahun 2013 Direktorat Jendral Pajak .http://www.pajak.go.id/sites/default/files/Penerimaan%20Agustus%20dan%20Pertumbu hannya.pdf. 10 Januari 2014 (04.10)
Feld, L P dan Frey, B S. 2007. Tax Compliance As The Result Of A Psychological Tax Contract:
The Role of Incentives and Responsive Regulation. Law and Policy, 29(1):102-120.
Hofstede, Geert.1980. Culture Consequences. Beverly Hills. CA:Sage
Izza, Ika Alfi Nur dan Ardi Hamzah. 2009. Etika Penggelapan Pajak Perspektif Agama: Sebuah Studi Interpretif. Jurnal Ilmiah. Simposium Nasonal Akuntansi 12 Palembang
Ikatan Konsultan Pajak Indonesia. 2009. AD ART & Kode Etik
Keputusan Mentri Keuangan Nomor 485/KMK.03/2003 Konsultan Pajak Indonesia.30 Oktober 2003. Jakarta
Keputusan Pengurus Pusat IKPI Nomor. 002/SK.PP.IKPI/I/2005 Badan Penyelanggara Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (BP USKP). 19 Januari 2005. Jakarta
Keputusan Menteri Keuangan No.98/PMK.03/2005 Perubahan Keputusan Mentri Keuangan Nomor 485/KMK.03/2003 Tentang Konsultan Pajak Indonesia. 13 Oktober 2005. Jakarta Kusdiantono, Y. 2013. Wawancara Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)
Sukiatto Oyong - Jumlah Konsultan Pajak di Tanah Air Masih Kurang. http://koran- sindo.com/node/342606. 12 Januari 2014 (04.35)
Kuswarno, Engkus. 2009. Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran
Moleong, Lexy J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : ROSDA
Mulia, Annisa Sekar. 2013. Mengungkap Pemahaman tentang Akuntansi serta Kecerdasan Emosional, Spiritual dan Sosial Mahasiswa: Sebuah Studi Fenomenologi. Skripsi. Malang:
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Mustikasari, Elia, 2007, Kajian Empiris tentang Kepatuhan Wajib Pajak Badan di Perusahaan Industri Pengolahan di Surabaya, Simposium Nasional Akuntansi X, Makasar.
Najib, Debby Farihun. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Membayar Pajak Penghasilan. Skripsi. Malang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Nawawi, H. Hadari. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif.
Yogyakarta: UGM Press
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/ PMK.01/2010 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan. 11 Oktober 2010. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 498. Jakarta
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan. 29 Desember 2011. Jakarta
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.03/2007 Tata Cara Penetapan Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak. 28 Desember 2007. Jakarta
Resmi, Siti. 2011. Perpajakan Teori dan Kasus. Jakarta: Penerbit Salemba Empat
Sambodo, A. Konsultan Pajak: Peluang dan Tantangan.
https://docs.google.com/presentation/d/12n2roVjPVle4U3cK8wVLAL6MySmJIP8d7TR4w5z wyuM/preview#slide=id.i0. 10 Januari 2014 (21.30).
Scott, William Robert. 2003.Financial Ccounting Theory.United States of America: Prentice Hall Sosiologi, Tim. 2006. Sosiologi 2 Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Yudhistira Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta