5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Lumajang berdasarkan hasil komparasi antara kondisi eksisting dan persepsi ahli serta menentukan berbagai strategi yang dilakukan dalam mengembangkan faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan dan pertumbuhan kawasan agropolitan yang tersebar di Kabupaten Lumajang, dengan meninjau berbagai sasaran, seperti penerapan konsep pengembangan kawasan agropolitan, memvalidasi dan mengkonfirmasi kondisi dari faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, hingga merumuskan faktor pendukung dan implementasi strategi yang tepat guna menunjang kegiatan pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menggunakan pendekatan penelitian dan perencanaan konfirmatif dan didukung dengan teknik analisa kualitatif berupa teknik analisis konten (Content Analysis) dan teknik analisis triangulasi, didapatkan hasil bahwa konsep pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Lumajang lebih memperhatikan integrasi antara potensi komoditas pertanian lokal disandingkan dengan ketersediaan berbagai faktor pendukung guna mewujudkan penetapan dan pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Lumajang. Potensi komoditas lokal juga perlu didukung dengan adanya diversifikasi produk dan sistem pertanian yang telah disesuaikan dengan kondisi eksisting di Kabupaten Lumajang. Hal ini senada dengan pengembangan kawasan agropolitan pada umumnya, dimana kawasan agropolitan lebih menunjang kepada pengembangan wilayah secara makro, termasuk sistem pertanian yang ada didalamnya.
Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dalam kegiatan pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, antara lain yaitu faktor sosial ekonomi, ketersediaan sarana prasarana, hingga keterkaitan fungsi wilayah dan ketersediaan inovasi dan teknologi di bidang pertanian. Selanjutnya, dari hasil wawancara yang dilakukan kepada 10 Narasumber penelitian ini, didapatkan hasil bahwa klasifikasi faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan terdapat 2
klasifikasi utama. Klasifikasi pertama yaitu faktor yang berkaitan langsung dengan kegiatan pertanian, seperti potensi pengembangan komoditas pertanian, ketersediaan aspek inovasi dan teknologi, hingga ketersediaan akses dan sarana prasarana penunjang kegiatan pertanian. Kemudian klasifikasi kedua yaitu meliputi aspek penunjang pengembangan kawasan pertanian, seperti ketersediaan aspek sosial kemasyarakatan dan perekonomian serta integrasi antar fungsi wilayah, khususnya fungsi wilayah produksi, pengolahan, dan distribusi di Kab. Lumajang.
Berdasarkan hasil dari analisis triangulasi yang mengkomparasi antara kondisi eksisting serta tinjauan teori dan kebijakan yang diterapkan dalam penelitian ini, didapatkan hasil implementasi strategi pengembangan faktor pendukung pertumbuhan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, yang diklasifikasikan berdasarkan faktor pendukungnya. Faktor pertama yaitu potensi komoditas pertanian, dengan strategi lebih menjurus kepada diversifikasi komoditas pertanian yang ditunjang dengan pengolahan dan inovasi olahan produk komoditas pertanian.
Kemudian faktor kedua yaitu keterkaitan fungsi wilayah, dimana strategi yang dirumuskan terfokus pada integrasi dan optimalisasi keterkaitan antar fungsi wilayah produksi, pengolahan, dan distribusi melalui penguatan akses dan pengembangan antar fungsi wilayah. Selanjutnya fator ketiga yaitu sosial ekonomi, dengan fokus strategi pada peningkatan kualitas SDM dan peningkatan pendapatan sektor pertanian melalui pengembangan rantai pasok dan rantai support komoditas pertanian di Kab. Lumajang. Faktor selanjutnya yaitu inovasi dan teknologi, dimana strateginya lebih difokuskan pada pengembangan inovasi pengolahan dan sistem manajemen pertanian dengan mendorong upaya pengadaan ekspor impor komoditas pertanian yang berkelanjutan. Yang terakhir yaitu faktor ketersediaan sarana dan prasarana, dimana strateginya lebih difokuskan pada optimalisasi fungsi dan penyediaan sarana dan prasarana penunjang kegiatan pertanian, seperti pasar, industri pengolahan komoditas pertanian, hingga penyediaan lokasi grosir dan swalayan sebagai penunjang kegiatan pengembangan kawasan agropolitan di Kab.
Lumajang.
5.2 Rekomendasi
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini, terdapat dua bagian rekomendasi yang bisa dihasilkan dari penelitian ini, yaitu
rekomendasi tindak lanjut yang berkaitan dengan pengembanga kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, serta rekomendasi untuk studi lanjutan dari penelitian ini.
5.2.1 Rekomendasi Tindak Lanjut Pengembangan Kawasan Agropolitan Kab. Lumajang
Terdapat beberapa poin rekomendasi tindak lanjut berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terkait pengembangan kawasan agropolitan di Kab.
Lumajang. Rekomendasi ini dititik beratkan pada bahan evaluasi pengembangan faktor pendukung pertumbuhan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang yang dibahas pada penelitian ini. Rekomendasi tersebut tercantum meliputi:
1. Ditinjau dari faktpr kondisi sektor pertanian, di Kab. Lumajang perlu dikembangkan dan diwujudkannya diversifikasi produk olahan komoditas pertanian dalam menunjang nilai tambah dan pembentukan rantai pasok dan rantai support komoditas pertanian di Kab. Lumajang.
2. Perwujudan penguatan integrasi antar wilayah dalam pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang dengan didukung penyusunan kajian masterplan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, dan diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi sebagai salah satu input dalam proses pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang.
3. Perwujudan secara merata mengenai rencana pengembangan kawasan agropolitan melalui penyediaan inovasi dan teknologi pada sektor pertanian, utamanya dari sisi pengembangan mesin dan peralatan pengolahan komoditas pertanian di Kab. Lumajang.
4. Perlu dilakukannya optimalisasi dan peningkatan fungsi dan kualitas penyediaan sarana dan prasarana, utamanya sarana dan prasarana pendukung kegiatan pertanian dalam upaya mendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang.
5. Perlu adanya kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi kepada masyarakat atau kelompok tani dan kelompok masyarakat lainnya guna mendukung pengembangan kawasan agropolitan yang diharapkan mampu menunjang kondisi sosial ekonomi masyarakat, khususnya di Kab. Lumajang.
5.2.2 Rekomendasi dan Saran Untuk Studi Lanjutan
Rekomendasi dan Saran untuk studi lanjutan dari penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu rekomendasi dan saran yang diberikan secara substantif, yaitu saran dari pembahasan penelitian, dan rekomendasi saran yang diberikan secara prosedural, yaitu rekomendasi saran yang berkaitan dengan teknik analisa dan metode perencanaan yang digunakan.
Rekomendasi dan manfaat yang bisa diberikan dari penelitian ini yaitu pemberian wawasan dan persepsi sebagai bahan rekomendasi untuk penyusunan rencana pengembangan wilayah berbasis kawasan agropolitan di Kabupaten Lumajang, khususnya bagi pemerintah Kabupaten Lumajang. Hal ini juga diharapkan mampu mendukung adanya pengembangan kawasan agropolitan berbasis komoditas unggulan di Kabupaten Lumajang sebagai upaya perwujudan penetapan Kabupaten Lumajang sebagai “lumbung pangan” di Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan rekomendasi mengenai berbagai upaya dan strategi untuk mewujudkan pengembangan kawasan agropolitan yang memiliki potensi besar bagi perkembangan wilayah Kabupaten Lumajang secara umum. Diharapkan juga setelah adanya penelitian ini, akan dilakukan penelitian lanjutan, baik itu untuk memperdalam pengaruh dari berbagai faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan, maupun penelitian yang berkaitan dengan pengembangan kawasan agropolitan ditinjau dari sisi sosial kemasyarakatan yang dilakukan secara komprehensif.
Selanjutnya, dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan sudut pandang dan wawasan mengenai prosedural perencanaan konfirmatif, dimana perencanaan konfirmatif digunakan sebagai metode dalam mengonfirmasi dan mendapatkan data yang bersumber dari responden atau narasumber terkait. Dalam penelitian ini, juga dijelaskan bahwa pelibatan narasumber hanya terbatas pada kelompok instansi pemerintahan, dan belum dilakukan secara menyeluruh melalui suatu forum resmi. Selanjutnya, perlu dilakukan sebagai upaya penguatan metode perencanaan konfirmatif serta dalam upaya pengembangan metode perencanaan yang sejenis dalam lingkup penelitian yang lebih luas.