berlipat-lipat jumlahnya dari generasi milenial yang memiliki kesadaran pada pengawasan pemilihan umum sekaligus melek politik, memahami betapa pentingnya demokrasi yang jujur, demokrasi yang berkualitas.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
3. Dampak pola baru ini diantaranya (1) jejaring sosial generasi milenial melalui media sosial akan terwarnai informasi- informasi penting misalnya terkait pentingnya pemilu demokratis, pemilu jujur, pemilu berkualitas dan lain-lain. (2) narasi tentang urgensi pengawasan atau poemantauan pemilu akan mendominasi media sosial di kalangan generasi milenial, (3) membangkitkan semangat untuk mengawasi jalannya pemilihan umum, (4) jejaring milenial yang membawa isu pemilu dan pengawasan pemilu akan terus bertambah dan berjejaring secara masif, (5) kecepatan penyebaran informasi pemilu khususnya tentang pelanggaran pemilu akan terjadi secara lebih efektif dan efisien, (6) jaringan antara komunitas milenial pengawas pemilu akan terbentuk secara nasional.
4. Pola Baru Sinergi Partisipasi Masyarakat Dalam Kaderisasi Pengawas Pemilu dan Pilkada Berbasis Komunitas Milenial ini diharapkan mampu membentuk jaringan nasional komunitas milenial pengawas pemilihan umum dan pilkada di seluruh Indonesia. Cara kerja mereka selain melakukan pengawasan secara aktual juga menggunakan media sosial yang berjejaring terus menerus secara nasional. Jaringan nasional ini juga akan menjadi media penting untuk sosialisasi pengawasan pemilihan umum dan pilkada. Jika seluruh jaringan bekerja tentu akan memberi kontribusi bagi efisiensi dan efektifitas pengawasan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia.
Saran
Dari narasi penting latar belakang masalah, kerangka teori, solusi baru dan kesimpulan diatas dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi pemangku kepentingan pengawasan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah diperlukan pola baru sinergi partisipasi, khususnya pola baru antara Bawaslu, Civil Society dan Komunitas Generasi Milenial.
2. Pola Baru Sinergi Partisipasi Masyarakat Dalam Kaderisasi Pengawas Pemilu dan Pilkada Berbasis Komunitas Milenial memerlukan kebijakan program yang dikeluarkan oleh Bawaslu agar memiliki dasar regulasi yang kuat.
3. Untuk lebih meyakinkan kebijakan program dengan model Pola Baru Sinergi Partisipasi Masyarakat Dalam Kaderisasi Pengawas Pemilu dan Pilkada Berbasis Komunitas Milenial, diperlukan riset evaluasi terhadap sejumlah program sekolah pengawas pemilu yang selama ini berlangsung dalam rangka mencari terobosan baru.
4. Riset evaluasi Sekolah Pengawas Pemilu bisa menjadi rujukan apakah Pola Baru Sinergi Partisipasi Masyarakat Dalam Kaderisasi Pengawas Pemilu dan Pilkada Berbasis Komunitas Milenial ini memiliki urgensinya atau betul-betul sebagai sebuah kebutuhan. Data riset ini menjadi pertimbangan Bawaslu dalam merumuskan sejumlah program kaderisasi pengaawasan partisipatif.
5. Langkah-langkah longkrit perlu segera dilakukan untuk membuka ruang dialog sinergi antara Bawaslu, Civil Society dan Komunitas milenial dalam rangka program Pola Baru Sinergi Partisipasi Masyarakat Dalam Kaderisasi Pengawas Pemilu dan Pilkada Berbasis Komunitas Milenial
DAFTAR PUSTAKA
Brich,S, Electoral Malpractice, Oxford: Oxford University Press,2011
Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama,Jakarta., 2010
Coetzee J K et al.. (eds.),Development: Theory, Policy, and Practice. Oxford: University Press,2001
David Canter, The Psychology of Place, University of Liverpool, 1977
Nelson, Bryant dan White, Pembangunan Ekonomi di Negara Berkembang ( (Edisi Terjemahan).Andi Offet. Yogyakarta, 1982
Peter Oakley, Project With People: The Practice of Participation in Rural Development, ILO, 1991 Ratnia Sholihah, Arry Bainus, Iding Rosidin, Pentingnya
pengawasan partisipatif dalam mengawal pemilihan umum yang berintegritas dan demokratis, Jurnal Wacana Politik Unpad, Vol.3 No,1 , ISSN: 2549-2969, 2018
Rooth, David F & Wilson, Frank L,. The Comparative of Politic, ed. 2 (Boston: Houghton Miflin Company, 1976
William Strauss & Neil Howe, Millennials Rising : The Next Great Generation, Knopf Doubleday Publishing, 2000 Yakobus Richard Murafer, Peningkatan Pengawasan
Partisipatif Panwaslu Kota Jayapura Dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Tahun 2018 Provinsi Papua di Kota Jayapura, Jurnal Politik & Pemerintahan, Vol.2 No.2, 2018
Sumber : Media Massa Daring & Laman Institusi:
www.antaranews.com, www.pemilu.com, wwww.bawaslu.go.id www.kpu.go.id, www.katada.co.id, www.rmol.com
BAGIAN
4
MENEGUHKAN GERAKAN PENGAWASAN PARTISIPATIF PADA PILKADA 2020, MEWUJUDKAN PILKADA DEMOKRATIS
Oleh : Puadi
ABSTRAK
Partisipasi politik masyarakat sebagai wujud pengejawantahan kedaulatan rakyat dalam pelaksanaan pemilu dipandang sebagai hak kontrol masyarakat terhadap suatu pemerintahan, dalam mempengaruhi kebijakan politik dan mengawal proses pelaksanaan pemilu secara Luber dan Jurdil agar terpilih pemimpin dan wakil rakyat yang memang benar- benar sesuai harapan rakyat.
Bawaslu sebagai lembaga yang mempunyai mandat untuk mengawasi proses Pemilu membutuhkan dukungan banyak pihak dalam aktifitas pengawasan. Salah satunya adalah dengan mengajak segenap kelompok masyarakat untuk terlibat dalam partisipasi pengawasan setiap tahapannya. Keterlibatan masyarakat dalam pengawalan suara tidak sekadar datang dan memilih, tetapi juga melakukan pengawasan atas potensi adanya kecurangan yang terjadi, serta melaporkan kecurangan tersebut
kepada Bawaslu sebagai lembaga yang bertugas mengawasi proses Pemilu dan menindaklanjuti dugaan pelanggaran Pemilu.
Pengawasan partisipatif termaktub dalam UU Nomor 10 tahun 2016 tentang Pemilihan Pasal 131 ayat (3) menjelaskan:
"Bahwa bentuk partisipasi masyarakat adalah a tidak melakukan keberpihakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur, pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, serta pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota; b tidak mengganggu proses penyelenggaraan tahapan Pemilihan; c bertujuan meningkatkan partisipasi politik masyarakat secara luas; dan d mendorong terwujudnya suasana yang kondusif bagi penyelenggaraan Pemilihan yang aman, damai, tertib, dan lancar.
Partisipasi masyarakat dalm proses penyelenggaraan pemilihan menjadi keniscayaan didalam negara demokrasi. Tidak hanya keterlibatan dalam arti peran serta memberikan suara dalam pemilu dan pemilihan saja, tetapi juga menguasai pelaksanaanya, dan melakukan proses evaluasi dan memberikan umpan balik yang menjamin kesinambungan dan ketepatgunaan penyelanggaraan negara itu sendiri
Keterlibatan masyarakat sering dikonsepsikan sebagai partisipasi politik. Pengawasan partisipatif adalah upaya meningkatkan angka partisipasi masyarakat untuk melakukan pengawasan mengawal proses demokrasi ke arah yang lebih baik. Keterlibatan masyarakat dalam pengawasan partisipatif menjadi langkah strategis untuk mengawal proses demokrasi yang lebih baik. Baik dari sisi program kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sampai pembuatan sistem aplikasi telah diimplementasikan Bawaslu untuk menekan potensi kecurangan dalam menjalankan fungsi pengawasan.