BAB V KESIMPULAN DAN STRATEGI MITIGASI
5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil identifikasi, analisis dan evaluasi terhadap konsolidasi pengkinian penilaian risiko sektoral tindak pidana pendanaan terorisme pada sektor industri berisiko tinggi tahun 2023, Pemerintah Indonesia berpandangan bahwa sekitar 80% pemetaan risiko pendanaan terorisme di Indonesia masih relevan untuk mitigasi berdasarkan langkah yang telah dilakukan saat ini. Namun demikian, tetap diperlukan upaya peningkatan pemahaman bagi para pihak pengawas dan pihak pelapor sebagai kunci pencegahan penyalahgunaan sektor pihak pelapor untuk pendanaan terorisme. Secara rinci hasil konsolidasi penilaian risiko sektoral tindak pidana pendanaan terorisme pada sektor industri berisiko tinggi, sebagai berikut:
A. Risiko TPPT Menurut Tipologi
Berdasarkan modus tipologi pendanaan terorisme terkini dilakukan melalui tiga modus utama, yaitu pengumpulan dana, pemindahan dana dan penggunaan dana.
Berikut ini penjelasan modus tipologi terkini berdasarkan hasil konsolidasi penilaian risiko tindak pidana pendanaan terorisme pada sektor industri tahun 2023.
1. Modus Pengumpulan Dana
Adapun metode pengumpulan dana yang memiliki risiko tinggi yaitu bersumber dari legal berupa sponsor pribadi dan penyimpangan pengumpulan donasi melalui organisasi kemasyarakatan (Ormas/Non-Profit Organization).
2. Modus Perpindahan Dana
Bentuk perpindahan dana yang memiliki risiko tinggi terjadi pada sektor jasa keuangan, diantaranya Bank Umum, Penyelenggara Transfer Dana, Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB). Sedangkan pada sektor industri lainnya, di sektor Penyedia Jasa Keuangan, Penyedia Barang dan Jasa serta Profesi tetap memonitor dan mengevaluasi serta melakukan pengendalian internal terhadap kecenderungan (likelihood) dapat terjadinya pemanfaatan sektor industri dapat digunakan sebagai sarana yang digunakan untuk perpindahan pendanaan terorisme.
Penilaian Risiko Sektoral Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Pada Sektor Industri Berisiko Tinggi | 110 I. Sektor Jasa Keuangan
Berdasarkan berdasarkan hasil identifikasi, analisis, dan evaluasi terhadap aspek potensi ancaman, kerentanan, beserta dampak TPPT, dapat disimpulkan bahwa:
1. Bank Umum menjadi industri di SJK yang berisiko tinggi dijadikan sebagai sarana TPPT.
2. Tabungan dan Kartu Debit pada Bank Umum menjadi jenis produk/jasa/layanan yang berisiko tinggi dijadikan sebagai sarana TPPT.
3. DKI Jakarta, Papua, dan Papua Barat menjadi area geografis/wilayah provinsi yang berisiko tinggi terjadinya TPPT.
4. Pegawai Swasta dan Wirausaha/Wiraswasta menjadi jenis pekerjaan nasabah orang perseorangan yang berisiko tinggi dalam melakukan TPPT.
II. Sektor Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) Bukan Bank
1. Provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah dengan tingkat risiko
“tinggi” terjadinya TPPT di sektor KUPVA Bukan Bank.
2. Pegawai Swasta dan Pengusaha/Wiraswasta merupakan profil pengguna jasa perorangan dengan tingkat risiko “tinggi” terjadinya TPPT di sektor KUPVA Bukan Bank.
3. USD merupakan produk (jenis UKA) dengan tingkat risiko “tinggi”
terjadinya TPPT di sector KUPVA Bukan Bank.
4. Kantor KUPVA merupakan jalur transaksi dengan tingkat risiko
“menengah” terjadinya TPPT di sektor KUPVA Bukan Bank.
III. Sektor Penyelenggara Transfer Dana (PTD) Bukan Bank
1. Provinsi DKI Jakarta dan provinsi Kepulauan Riau merupakan wilayah dengan tingkat risiko “tinggi” terjadinya TPPT di sektor PTD Bukan Bank.
2. Pengusaha/Wiraswasta merupakan profil pengguna jasa perorangan dengan tingkat risiko “tinggi” terjadinya TPPT di sektor PTD Bukan Bank.
3. Cash to Cash (outgoing, incoming, domestik) merupakan produk dan layanan PTD Bukan Bank dengan tingkat risiko “tinggi” terjadinya TPPT di sektor PTD Bukan Bank.
111 | Penilaian Risiko Sektoral Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Pada Sektor Industri Berisiko Tinggi
4. Belum terdapat jalur transaksi/delivery channel dengan risiko “tinggi”
terjadinya TPPT di sektor PTD Bukan Bank.
3. Modus Penggunaan Dana
Berbagai bentuk penggunaan dana terorisme yang memiliki risiko tinggi, antara lain pembelian senjata dan bahan peledak, pelatihan pembuatan dan penggunaan senjata dan bahan peledak, biaya perjalanan dari dan ke lokasi aksi terorisme.
B. Risiko TPPT Menurut Wilayah Geografis
Berdasarkan hasil penilaian risiko nasional terhadap tindak pidana pendanaan terorisme tahun 2021, diketahui bahwa wilayah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah termasuk wilayah berisiko tinggi pendanaan terorisme, dikarenakan wilayah tersebut memiliki sebaran organisasi dan jaringan serta simpatisan yang signifikan sehingga mempengaruhi sumber pendanaan di wilayah tersebut.
Disamping itu, dengan telah ditetapkannya kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua, maka Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian khusus dan pemantauan yang ditargetkan secara ketat dengan melibatkan seluruh pihak instansi/lembaga di domestik maupun luar negeri terhadap wilayah tersebut melalui penguatan alokasi sumber daya militer dan penegak hukum untuk melakukan isolasi terhadap kelompok KKB di wilayah Papua agar meminimalisir kekuatan aktivitas dan pendanaan terorisme.
C. Emerging Trend TPPT
Emerging trend merupakan suatu ancaman baru yang dianggap berpotensi terjadi di masa mendatang atau merupakan suatu ancaman baru yang dianggap berpotensi terjadi di masa mendatang, atau ancaman yang sebenarnya sudah dikenali namun belum terlihat dampaknya secara meluas. Berdasarkan hasil identifikasi, analisis dan evaluasi risiko menurut hasil penilaian risiko nasional (NRA) & sektoral (SRA) dapat dihasilkan perkembangan emerging trend pendanaan terorisme saat ini, yaitu:
1. Penggunaan aset kripto;
2. Penggunaan produk/layanan pada sektor industri lembaga pendanaan bersama berbasis teknologi informasi, baik secara legal maupun ilegal;
3. Entitas korporasi yang berorientasi profit juga melakukan aktivitas pengumpulan uang atau barang dengan tujuan melakukan penggalangan atau penyaluran dana seperti halnya Ormas/NPO;
3. Entitas korporasi yang berorientasi profit membentuk suatu Yayasan, Perkumpulan, atau Ormas terdaftar untuk melakukan penghimpunan dana atau
Penilaian Risiko Sektoral Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Pada Sektor Industri Berisiko Tinggi | 112 penyaluran dana dengan maksud dan tujuan sosial kemanusiaan, amal, keagamaan, kesejahteraan sosial dan perbuatan baik lainnya.
Selanjutnya, terdapat beberapa perkembangan lainnya yang dinilai oleh pihak pemangku kepentingan terkait dapat berpotensi akan digunakan secara masif di masa mendatang berdasarkan hasil pengamatan transaksi keuangan mencurigakan dan perkembangan penanganan perkara terorisme dan pendanaan terorisme, antara lain:
1. Penggunaan Produk/Layanan pada Sektor Industri Penyelenggara e-Wallet dan/atau e-Money; dan
2. Pemanfaatan perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce).