• Tidak ada hasil yang ditemukan

66

sendiri? menyetujui cara belajar sehingga pekerjaan mereka menyenangkan dan

produktif?

Sumber belajar yang bervariasi, perpustakaan, gambar-gambar yang menarik, yang membuat siswa nyaman untuk belajar?

Sebuah tempat dimana semua siswa mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, dalam

pembelajaran dan

berinteraksi dengan orang lain?

Ruang atau rak yang diberi label dengan susunan yang baik?

Tempat dimana semua siswa bisa menginformasikan praktek pembelajaran secara berkala?

Petunjuk atau arahan yang jelas tentang tugas-tugas kelompok maupun individu?

Tempat dimana guru hadir setiap saat, kepada individu, kelompok kecil, ke seluruh kelas?

Menggunakan teknologi yang cocok, seperti teknologi asistif?

Tempat dimana siswa memiliki pilihan dalam pembelajarannya?

Bukti pemahaman siswa terhadap tujuan

pembelajaran dan kriteria keberhasilan?

Tempat dimana semua siswa saling menghormati dan menghargai perbedaan?

sendiri? menyetujui cara belajar sehingga pekerjaan mereka menyenangkan dan

produktif?

Sumber belajar yang bervariasi, perpustakaan, gambar-gambar yang menarik, yang membuat siswa nyaman untuk belajar?

Sebuah tempat dimana semua siswa mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, dalam

pembelajaran dan

berinteraksi dengan orang lain?

Ruang atau rak yang diberi label dengan susunan yang baik?

Tempat dimana semua siswa bisa menginformasikan praktek pembelajaran secara berkala?

Petunjuk atau arahan yang jelas tentang tugas-tugas kelompok maupun individu?

Tempat dimana guru hadir setiap saat, kepada individu, kelompok kecil, ke seluruh kelas?

Menggunakan teknologi yang cocok, seperti teknologi asistif?

Tempat dimana siswa memiliki pilihan dalam pembelajarannya?

Bukti pemahaman siswa terhadap tujuan

pembelajaran dan kriteria keberhasilan?

Tempat dimana semua siswa saling menghormati dan menghargai perbedaan?

H. Kesimpulan

Urgensi lingkungan belajar yang kondusif dalam mendorong siswa belajar aktif yang merupakan lingkungan sosial dalam pergaulan antara manusia, pergaulan antara guru

dengan siswa serta orang lainnya yang terlibat dalam interaksi pendidikan. Lingkungan intelektual merupakan kondisi dan iklim sekitar yang mendorong dan menunjang pengembangan kemampuan berpikir. Lingkungan ini mencakup perangkat lunak seperti sistem dan program-program pembelajaran, perangkat keras seperti media dan sumber belajar serta aktivitas pengembangan dan penerapan kemapuan berpikir.

Lingkungan lainnya adalah lingkungan nilai, yang merupakan tata kehidupan nilai, baik nilai kemasyarakatan, ekonomi, sosial, politik, estetika, etika maupun nilai keagamaan yang hidup dan dianut dan suatu daerah atau kelompok tertentu. Sebagaimana yang tertera dalam undang- undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal I tentang sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Guru itu selalu berganti-ganti, kasih guru kepada siswa tidak mendalam seperti kasih sayang orang tua kepada anaknya, sebab guru dan siswa tidak terlibat oleh tali kekeluargaan. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsure yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Salah satu yang

68

perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran adalah motivasi belajar.

Jika motivasi belajar tidak ada dalam diri siswa, maka yang terjadi adalah siswa kurang bergairah dalam mengikuti pembelajaran atau melakukan kegiatan belajar. Jadi jika siswa kurang memiliki motivasi untuk belajar, guru atau orang tua harus berperan aktif untuk menumbuhkan motivasi dan juga didukung oleh lingkungan sekolah yang kondusif pula.

perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran adalah motivasi belajar.

Jika motivasi belajar tidak ada dalam diri siswa, maka yang terjadi adalah siswa kurang bergairah dalam mengikuti pembelajaran atau melakukan kegiatan belajar. Jadi jika siswa kurang memiliki motivasi untuk belajar, guru atau orang tua harus berperan aktif untuk menumbuhkan motivasi dan juga didukung oleh lingkungan sekolah yang kondusif pula.

BAB 4

Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar A. Pendahuluan

Di dalam konteks berbangsa dan bernegara kurikulum merupakan perangkat pembelajaran yang amat strategis untuk menyemaikan dan membentuk konsepsi dan perilaku individu tentang kesadaran identitas. Kesadaran identitas menurut (Suwignyo, 2007:39) menunjuk pada kemampuan serta proses memahami perubahan jati diri terkait cara berpikir, kemandirian, dan orientasi pribadi (aspek internal-psikologis) serta posisi, peran, dan tanggung jawab sosial individu (aspek eksternal-sosiologis). Oleh karena itu, proses transformasi sistem nilai, makna dan simbol material dan nonmaterial dalam bidang kehidupan manusia mencakupi juga persoalan ekonomi, religi, kekuasaan, pertanian, kelautan, keuangan, kesehatan, pakaian, makanan, arsitektur, tata rumah, hukum, hak milik, dan kemandirian alam pikir atau subjektivitas.

Konsepsi tersebut sejalan dengan Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dengan kata lain, relevansi kurikulum dengan kesadaran identitas tercermin melalui pemaknaan yang mendalam bahwa pendidikan yang mencerdaskan adalah pendidikan dengan kurikulum yang mengarah pada pembangunan Indonesia menjadi negara bangsa yang maju, modern, bermoral, berdisiplin, beretos kerja tinggi, menguasai kemampuan teknis dan profesional, memiliki sikap rasional

70

dan kemampuan intelektual, demokratis, bertanggung jawab, serta makmur dan sejahtera.

Di dalam perspektif pembelajaran, kurikulum merupakan seperangkat rencana yang berisi tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sesuai dengan konteks berbangsa dan bernegara, kurikulum dalam perspektif ini haruslah menjadi bagian dari penyemaian dan pembentukan konsepsi dan perilaku individu tentang kesadaran identitas kebangsaan dan kenegaraan.

Dengan demikian, kurikulum bukan hanya menjadi hiasan selama pertemuan di ruang-ruang kelas antara pendidik dengan siswa, melainkan bagian terpenting di dalam mengubah karakteristik manusia Indonesia menjadi 18 karakteristik orientasi pengembangan kurikulum merdeka belajar yaitu: maju, modern, bermoral, berdisiplin, beretos kerja tinggi, menguasai kemampuan teknis dan profesional, memiliki sikap rasional dan kemampuan intelektual, demokratis, bertanggung jawab, serta makmur dan sejahtera.

Dalam era kekinian, tentulah produk kurikulum sudah harus mengalami perubahan seiring dengan lahirnya Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Pendidikan Tinggi. Terdapat dua hal esensial yang perlu dicermati bersama, yakni profil lulusan serta capaian belajar (learning outcomes) atau sering disebut dengan standar kompetensi lulusan dan kualifikasi capaian.

dan kemampuan intelektual, demokratis, bertanggung jawab, serta makmur dan sejahtera.

Di dalam perspektif pembelajaran, kurikulum merupakan seperangkat rencana yang berisi tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sesuai dengan konteks berbangsa dan bernegara, kurikulum dalam perspektif ini haruslah menjadi bagian dari penyemaian dan pembentukan konsepsi dan perilaku individu tentang kesadaran identitas kebangsaan dan kenegaraan.

Dengan demikian, kurikulum bukan hanya menjadi hiasan selama pertemuan di ruang-ruang kelas antara pendidik dengan siswa, melainkan bagian terpenting di dalam mengubah karakteristik manusia Indonesia menjadi 18 karakteristik orientasi pengembangan kurikulum merdeka belajar yaitu: maju, modern, bermoral, berdisiplin, beretos kerja tinggi, menguasai kemampuan teknis dan profesional, memiliki sikap rasional dan kemampuan intelektual, demokratis, bertanggung jawab, serta makmur dan sejahtera.

Dalam era kekinian, tentulah produk kurikulum sudah harus mengalami perubahan seiring dengan lahirnya Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Pendidikan Tinggi. Terdapat dua hal esensial yang perlu dicermati bersama, yakni profil lulusan serta capaian belajar (learning outcomes) atau sering disebut dengan standar kompetensi lulusan dan kualifikasi capaian.

Dalam dokumen Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar (Halaman 75-80)