• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketahanan Keluarga

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

4. Ketahanan Keluarga

44

45

fungsional keluarga dapat diidentifikasi dari sistem, keseimbangan, struktur sosial dan fungsi keluarga.44

Adapun fungsi keluarga menurut Friedman yakni sebagai berikut :

1) Fungsi afektif, fungsi ini memiliki tujuan di dalam keluarga sebagai sarana untuk saling mengasihi, saling mencintai, saling menghargai, medukung antar satu sama lain secara emosional sehingga terbentuknya ketentraman di dalam keluarga tersebut dan membantu menumbuhkan kesejahteraan dari segi psikologis keluarga.

2) Fungsi sosialisasi, artinya proses keluarga yang dilalui untuk membentuk membangun interaksi sosial sehingga bisa bersosialisasi di dalam masyarakat serta sebagai sarana untuk meneruskan norma-norma dan budaya yang ada di keluarga.

3) Fungsi reproduksi, yakni untuk melanjutkan keturunan dan populasi manusia dalam skala besar.

4) Fungsi ekonomi, yakni untuk memnuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan untuk perkembangan potensi dari setiap keluarga baik untuk pendidikan dan keberlansungan hidup.

5) Fungsi perawatan, yakni untuk menjaga kesehatan dan perawatan dalam rangka menjaga kebugaran dari setiap anggota keluarga sehingga tetap produktif.45

Sedangkan menurut Peraturan Presiden No. 87 Tahun 201446 terdapat beberapa fungsi keluarga diantaranya yakni sebagai berikut :

1) Fungsi keagamaan, artinya keluarga dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai kereligiusan di dalam setiap individu dengan orang tua (suami-isteri) berperan dalam

44 Ainun Makmunah, “Pelaksanaan Fungsi Keluarga”, Vol. 4, Nomor 2, Oktober 2017, hlm. 4

45Ketahanan-Keluarga-PPID-DP3AKB, “Pembangunan Ketahanan Keluarga”

dalam http://ppid/dp3akb.jatengprov.go.id diakses tanggal 12 Desember 2021, pukul 14.00 Wita

46Pasal 7 Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Berencana Dan Sistem Informasi Keluarga.

46

menjalankan misi keagamaan tersebut dengan menerapkan akhlak terpuji di dalam kehidupan sehari-hari.

2) Fungsi sosial budaya, keluarga sebagai sarana untuk mengembangkan budaya dengan sosialisasi antara satu sama lain di dalam individu keluarga tersebut dalam rangka mengembangkan sosial dan dan kebudayaan negara.

3) Fungsi cinta-kasih, keluarga menjadi tempat untuk menanamkan fondasi yang kokoh dengan menumbuhkan perasaan saling mencintai dan mengasihi antara suami-isteri dan anak sehingga menumbuhkan ketentraman dan kesejahteraan dalam keluarga.

4) Fungsi perlindungan, keluarga sebagai tempat perlindungan dalam anggota keluarga sehingga menimbulkan keamanan dan ketentraman.

5) Fungsi reproduksi, yakni sebagai sarana untuk memperbanyak keturunan dan menjaga populasi manusia.

6) Fungsi ekonomi, keluarga sebagai sarana dalam membangun kemandirian secara materil dalam rangka mewujudkan ketahan keluarga.

7) Fungsi pembinaan lingkungan, yakni keluarga sebagai sarana untuk menanamkan pemahaman, pembinaan terkait dengan perubahan lingkungan yang tetap berubah secara dinamis sepanjang waktu agar terjadinya kelerasana dan keseimbangan alam dan lingkungan.

Adapun faktor yang mempengaruhi terlaksananya fungsi keluarga yakni :

1) Struktur sosial dan struktur keluarga, hal ini terdiri dari seuami-isteri sebagai orang tua dan hanya ada satu orang tua di dalam struktur keluarga tersebut).

2) Status soial dan ekonomi keluarga, hal ini dapat mempengaruhi terselenggarakannya fungsi keluarga seperti adanya penghasilan tetap minimal oleh kepala keluarga dan memiliki jabatan di dalam kehidupan sosial baik di dalam pekerjaan ataupun jabatan fungsional negara).

47

3) Hubungan keluarga, terjalinnya komunikasi dan hubungan yang baik antara sesama anggota keluarga seperti suami dan isteri, orang tua dan anak, kaka dan adik).

4) Tahap dalam berkeluarga, seperti pengantin baru, pengantin muda dengan anak, dan seterusnya.

5) Peristiwa dalam kehidupan, seperti: menikah, melahirkan, berkarier, pensiun, dan seterusnya.47

c. Bentuk-Bentuk Keluarga

Berdasarkan praktik yang terjadi dimasyarakat, bentuk keluarga dibagi menjadi dua yakni keluarga tradisional dan keluarga non-tradisional. Keluarga tradisional (traditional nuclear) disebut juga keluarga inti diartikan sebagai bentuk keluarga tradisional yang terdiri dari suami, isteri dan anak. Sedangkan keluarga non- tradisional merupakan suatu bentuk keluarga yang memiliki perbedaan dari segi sistem anggota dalam keluarga namun tidak jauh berbeda dengan tipe keluarga tradisional.

Adapun varian keluarga tradisional diantaranya, yakni:

1) Pasangan suami isteri bekerja, artinya pasangan suami-isteri sebagai pekerja dan sebagai pengemban keputusan serta pengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama.

2) Pasangan tanpa anak (Dydac nuclear), artinya pasangan suami isteri yang sudah berumur sehingga tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi anak sehingga untuk mendapatkan anak dengan cara adopsi.

3) Comumuter family, artinya pasangan yang memiliki tempat tinggal yang berbeda karena suatu pekerjaan namun memiliki kesempatan untuk tiggal bersama dalam waktu yang relatif tidak lama.

4) Reconstitutied nuclear, yakni pembentukan keluarga baru dari pasangan suami isteri dari keluarga inti dan tinggal dalam satu rumah dengan anaknya.

5) Extended family (Keluarga besar), yakni terdiri dari beberapa anggota keluarga dari generasi yang berbeda.

47Dewa Made Suka, “Strategi Penguatan Fungsi Keluarga Pada Era Pandemi Covid -19”, Vol. 1, Nomor 1, Juni 2021, hlm. 39-40.

48

6) Orang tua tunggal (single parent), keluarga yang terdiri dari 1 orang tua dan anaknya hal ini terjadi karena adanya perceraian dalam pernikahan sebelumnya.

Adapun variasi keluarga non-tradisional yaitu:

1) Keluarga komunal (communal family), artinya keluarga tersebut terdiri dari beberapa pasangan monogami yang tidak adanya hubunga kekerabatan namun tinggal dalam rumah yang sama.

2) Unmarried parent and child, yakni sebuah keluarga yang terdiri dari orang tua yang belum menikah dan anak dari hasil adopsi.

3) Cohibing couple, artinya sebuah pasangan yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang tinggal bersama dalam satu atap namun tanpa adanya ikatan pernikahan.

4) Institusional, yakni rumah tangga yang terdiri dari anak-anak ata orang dewasa yang tinggal bersama tanpa adanya hubungan kekerabatan (panti).

d. Pengertian Ketahanan Keluarga

Ketahanan keluarga merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yakni “Ketahanan dan Keluarga”.. Ketahanan secara etimologi di dalam KBBI diartikan sebagai “kekuatan (hati; fisik), kesabaran”48. Sedangkan keluarga merupakan suatu unit terkecil di dalam masyarakat.

Ketahanan Keluarga merupakan suatu kondisi atau keadaan sebuah keluarga memiliki kemampuan secara mandiri baik fisik maupun psikis untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam individu maupun di dalam keluarga tersebut untuk mencapai sebuah kehidupan keluarga yang sejahtera dan bahagia secara lahir dan batin,49 baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.50

48 Amany Lubis, Dkk, Ketahanan Keluarga dalam Perspektid Islam (Pandanga Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja Dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia), (Ciputat : Pustaka Cendekiawan Muda, 2018), hlm. 1

49 Pasal 1 Ayat 15, UU No. 1 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.

50 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Jakarta : Balai Pustaka, 1990.

49

Sedangkan menurut RUU tentang Ketahanan Keluarga diartikan dengan “Kondisi dinamik keluarga dalam mengelola sumber daya fisik maupun non fisik dan mengelola masalah yang dihadapi, untuk mencapai tujuan yaitu keluarga berkualitas dan tangguh sebagai fondasi utama dalam mewujudkan ketahanan nasional.”51 Sedangkan dalam literasi lain, ketahanan keluarga di definisikan sebagai sebuah kemampuan keluarga untuk merangkul dan melindungi keluarga dari berbagai macam permasalahan baik secara internal (dalam lingkup keluarga) maupun secara eksternal (dari luar) seperti; lingkungan, masyarakat, maupun negara.

Adapun indikator terwujudnya ketahanan keluarga yakni sebagai berikut:

1) Adanya sikap saling melayani sebagai tanda kemuliaan;

2) Adanya keakraban antara suami dan istri menuju kualitas perkawinan yang baik;

3) Adanya orang tua yang mengajar dan melatih anak-anaknya dengan berbagai tantangan kreatif, pelatihan yang konsisten, dan mengembangkan keterampilan;

4) Adanya suami dan istri yang memimpin seluruh anggota keluarganya dengan penuh kasih sayang; dan

5) Adanya anak-anak yang menaati dan menghormati orang tuanya.52

Menurut peraturan menteri PPPA Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa pelaksanaan kesejahteraan keluarga dalam hal ini untuk membentuk ketahanan keluarga dapat ditinjau dari 5 dimensi yakni:

1) Legalitas dan keutuhan keluarga, yang terdiri dari: landasan legalitas, keutuhan keluarga, dan kemitraan gender.

2) Ketahanan fisik, terdiri dari beberapa variabel seperti;

kecukupan pangan dan gizi, kesehatan keluarga dan ketersediaan lokasi tetap untuk tidur.

51Ketahanan Keluarga-PPID DP3AKB, Diakses Dari http://ppid/dp3akb.jatengprov.go.id Pada 12 Desember 2021

52 BP3A&BPS, Pembangunan Ketahanan Keluarga 2016, (Jakarta: CV Khatulistiwa, 2016), Hlm. 5-6

50

3) Ketahanan ekonomi, yang terdiri dari; tempat tinggal keluarga, pendapatan keluarga, pembiayaan pendidikan dan anak, dan jaminan keuangan keluarga.

4) Ketahanan sosial psikologi, terdiri dari; keharmonisan keluarga dan kepatuhan terhadap hukum.

5) Ketahanan sosial budaya, terdiri dari; kepedulian sosial, keeratan sosial dan ketaatan beragama.53

5. Perubahan Perilaku Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial yang di kodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi. Dalam menjalani kesehariannya sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan interaksi yang ditandai dengan adanya perilaku.

Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa dalam perumusan sebuah tingkah laku dapat dilakukan dengan berbagai respon dan juga reaksi yang bisa didapatkan dari adanya stimulus atau ransangan dari luar. Untuk itu dalam perilaku satu ini melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan organisme tersebut merespon sehingga disebut S-O-R (Stimulus-Organisme-Respon) dalam teori Skinner.

Perilaku merupakan sebuah tindakan yang di dalamnya membutuhkan berbagai tindakan dan juga aktivitas manusia.54

Robert Y.Kwick (1972) mendefinisikan bahwa perilaku dapat diartikan sebagai suatu aksi dimana dalam reaksi organisme terhadap lingkungan, dalam hal ini juga berarti adanya sebuah perilaku baru yang akan terwujud bila suatu tanggapan atau ransangan. Maka suatu ransangan tertentu juga dapat menghasilkan sebuah perilaku tertentu.

Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku manusia yakni:

a. Faktor bilogis

b. Faktor sosiopsikologis c. Faktor sikap

d. Faktor emosi

e. Komponen kognitif.

53 BP3A&BPS, Pembangunan,... hlm. 8-14

54 https://dosenpsikologi.com

51 G. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu cara ilmiah untuk memperoleh data yang memiliki manfaat dan tujuan tertentu.55 Hal ini dimaksudkan agar dalam proses pengumpulan data, peneliti dapat menghasilkan suatu ilmu karena melalui prosedur secara tersistematis karena tanpa menggunakan metode ilmiah hal suatu pengetahuan tersebut bukanlah suatu ilmu melainkan hanya sebatas himpunan pengetahuan mengenai suatu gejala.

Adapun metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penulisan penelitian skripsi ini yaitu :

1. Pendekatan Penelitian

Untuk mendapatkan jawaban dari teori yang di peroleh maka pendekatan penelitian yang digunakan peneliti yakni penelitian kepustakaan mengingat bahwa dalam penelitian ini membutuhkan suatu kajian yang ditinjau melalui pengumpulan data secara mendalam menggunakan berbagai macam referensi agar peneliti mendapatkan jawaban yang spesifik terkait dengan masalah yang diteliti.

Studi kepustakaan merupakan suatu metode penelitian dengan mengkaji teori, referensi maupun literatur lainnya yang barkaitan dengan norma, nilai, serta budaya sosial yang ada sesuai dengan yang di teliti.56

2. Sumber Data

Untuk memperoleh data yang akurat dalam penelitian ini menggunakan beberapa jenis data yang dijadikan sebagai sumber data yakni:

a. Data primer adalah sumber data yang diperoleh dari tangan pertama (lansung) yang menjadi sumber pokok dalam suatu penelitian.57

55 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan RD, (Bandung:

Alfabeda, 2016), hlm. 2

56 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung : Alfabeta, 2012), hlm.

53

57 Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Bayu Indre Grafika 2016), Cet. Ke-IV, hlm. 5

52

pada penelitian ini, peneliti memperoleh sumber data dari beberapa informan dengan metode wawancara kepada pihak-pihak terkait seperti, penganut faham childfree dari pasangan suami-isteri dan para ulama’ serta para pakar yang berkompeten terhadap permasalahan yang di teliti mengenai tinjauan hukum keluarga Islam terkait perkawinan, konsep childfree, dan konsep ketahanan keluarga.

b. Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari tangan kedua, artinya di buat dari sumber data pertama atau adanya perubahan berfungsi sebagai data pendukung.58

Pada jenis ini, peneliti memperoleh data dari berbagai norma dasar dan bahan hukum dalam Islam serta berbagai macam literatur seperti :

1) Perundang-undangan

2) Literatur buku dari para ahli tentang teori childfree 3) jurnal-jurnal online, E-Book, website dan lainnya.

3. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dapat dilakukan menurut tehniknya dapat dilakukan dengan cara observasi, wawancara, kuesioner dan gabungan ketiganya.59

a. Observasi (pengamatan) adalah sebuah tehnik dalam prosedur pengumpulan data dengan bersifat kompleks dan tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis dengan memfokuskan pada pengamatan terhadap suatu fenomena yang diteliti secara obyektif sehingga akan memperoleh gambarang dari kondisi lapangan yang lebih kongkrit.60

Adapun observasi di bagi menjadi tiga yakni :

 Observasi partisipan yakni peneliti sebagai bagian dari keadaan ilmiah, tempat dilakukannya observasi.

 Observasi non partisipan yakni peranan peneliti kurang dituntut dalam kegiatan yang berkaitan dengan fenomena

58 Ibid., hlm. 6

59 Sugiono, Metode..., hlm. 194.

60 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Fakultas Psikologi Ugm, Yogyakarta, 1986, hlm. 138

53

yang diamati sehingga peneliti hanya berperan sebagai pengamat independen.61

Adapun observasi yang dilakukan peneliti dalam hal ini yakni dengan cara observasi non partisipan mengingat bahwa fenomena childfree tidak terjadi diwilayah tempat tinggal peneliti, akan tetapi peneliti sebagai pengamat fenomena tersebut melalui buku-buku, jurnal, dan media informasi online, seperti : berita online dan media sosial (facebook, youtube, twitter, dan Instagram). Peneliti bertindak seperti penonton karena peneliti menggunakan pendekatan secara obyektif terhadap fenomena yang akan diteliti. Hal ini dilakukan agar peneliti memperoleh data sekunder guna untuk mendukung data primer.

b. Wawancara (interview) merupakan suatu tehnik pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab secara lisan terhadap para responden baik berjumlah dua orang atau lebih guna untuk mendapatkan informasi.62

Wawancara dibagi menjadi tiga yakni :

- Wawancara terstruktur yakni tehnik wawancara dengan cara peneliti sudah menyiapkan instrumen penelitian secara tertulis dan sitematis sehingga jawaban alternatifpun telah disiapkan.

- Wawancara tidak terstruktur yakni tehnik wawancara yang dilakukan dengan bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara secara terstruktur namun peneliti hanya menyiapkan pokok-pokok pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang diteliti.63

- Wawancara bebas terstruktur yakni tehnik wawancara dengan kombinasi dari wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, peneliti hanya membuat pokok-pokok pertanyaan dari permasalahan yang diteliti, selanjutnya bersifat kondisional mengikuti alur wawancara.64

61 Sugiono, Metodologi,... hlm. 203-204

62 Sutrisno Hadi, Metodologi,... hlm. 139

63 Sugiono, Metodologi,... hlm. 195-198

64 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Bandung : PT Madar Maju, 2016, hlm. 171

54

Dalam hal ini peneliti menggunakan tehnik wawancara bebas terstruktur, artinya peneliti memberikan pertanyaan para narasumber secara bebas, namun pertanyaan tersebut telah dibuat oleh peneliti, hanya saja pertanyaan yang ditanyakan tidak secara berurutan. selanjutnya peneliti mencatat pokok-pokok permasalahan serta proses wawancara yang dilakukan mengikuti situasi dan kondisi pada saat melakukan wawancara.

Wawancara ini dilakukan secara lansung dan secara tidak lansung oleh peneliti. Wawancara secara lansung dilakukan terhadap narasumber yang berdomisili dan memungkinkan untuk bertemu secara tatap muka di wilayah NTB seperti para tokoh-tokoh Ormas Islam yang ada di NTB. Sedangkan wawancara tidak lansung yakni dilakukan secara daring oleh peneliti dikarenakan para informan memiliki domisili yang jauh dari tempat peneliti seperti: para penganut childfree.

Adapun beberapa narasumber yang wawancarai pada proses penelitian ini, yaitu :

- Penganut childfree dari pasangan suami isteri sah

- Tokoh agama seperti : 1 pengurus Majelis Ulama’ Indonesia (MUI), 1 pengurus Nahdlatul Ulama’, 1 pengurus Nahdlatul Wathan, dan 1 pengurus Muhammadiyah di Nusa Tenggara Barat.

- Akademisi atau pakar dalam bidang hukum keluarga

Hal tersebut dilakukan peneliti guna mendapatkan informasi terkait dengan faham maupun praktik fenomena childfree serta bagaimana tanggapan para tokoh agama terkait fenomena childfree yang terjadi dimasyarakat.

4. Tehnik Analisis Data

Tehnik analisis data merupakan suatu kegiatan mengurutkan, mengelompokkan, mengkategorikan, serta merumuskan hipotesa dari data yang diperoleh guna untuk merangkum data yang diperoleh peneliti.

Pada penelitian ini, peneliti menganalisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yakni dilakukan secara interaktif hingga peneliti menemukan jawaban dari permasalahan yang diteliti. Adapun tahapan

55

dalam analisis data dalam penelitian ini yaitu pertama, analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data dengan tujuan untuk menyimpulkan esensi dari fokus penelitian. Kedua, menganalisis kembali data yang telah terkumpul seluruh jawaban pertanyaan dari permasalahan bisa di spesifikasikan.65

Selain itu, dalam proses analisis data peneliti juga mengumpulkan data, menyusun secara lengkap dan sistematis selanjutnya peneliti akan menguraikan dan menjelaskan hasil temuan data yang ada sehingga mendapatkan pengertian yang akurat dalam kesimpulan akhir terkait dengan tinjauan hukum keluarga Islam tentang fenomena childfree serta pengaruh terhadap ketahanan keluarga.

5. Tehnik Validitas Data

Tehnik validitas merupakan suatu metode yang dilakukan peneliti dalam upaya mendapatkan data yang valid dalam proses pengumpulan data dalam suatu penelitian.66

Adapun tehnik validitas data yang dilakukan peneliti dalam hal ini yakni sebagai berikut

a. Ketekunan

Ketekunan peneliti dalam tehnik validitas data ini dibutuhkan untuk memperoleh data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan peneliti. Dalam hal ini peneliti menekuni terkait dengan Tinjauan Hukum Keluarga Islam tentang Fenomena Childfree dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Keluarga.

b. Trianggulasi

Trianggulasi merupakan suatu tehnik validitas data dengan menguji suatu kredibilatas sebagai sarana untuk mengecek data dari berbagai sumber, teori, cara (metode) dan waktu.67

Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode ini dengan cara mengecek, menggabungkan dan mengomparasikan data dengan sumber dan teori yang berbeda guna untuk memperoleh kepercayaan peneliti.

c. Kecukupan referensi

65 Ibid., hlm. 321-330

66 Ibid., hlm. 272

67 Ibid., hlm. 368

56

Referensi merupakan sumber data peneliti yang pokok sehingga kecukupan referensi dalam penelitian yang dilakukan sehingga akan memperoleh data yang valid serta mampu dipertanggungjawabkan oleh peneliti.

H. Sistematika Pembahasan

Adapun gambaran umum sistematika pemabahasan pada penelitian ini ialah, sebagai berikut:

Bab I berisi tentang pendahuluan sebagai pengantar secara keseluruhan sehingga dari bab ini diperoleh gambaran umum tentang pembahasan dan substansi dari pokok permasalahan yang dibahas peneliti. Pendahuluan ini terdiri dari; 1) latar belakang masalah, 2) rumusan masalah, 3) tujuan manfaat penelitian, 4) ruang lingkup dan setting penelitian, 5) telaah pustaka, 6) kerangka teori, 7) metodologi penelitian, dan 8) sistematika pembahasan.

Bab II berisi tentang paparan dan temuan data peneliti berupa praktik fenomena childfree. Pada Bab ini terdiri dari beberapa sub bab diantaranya; 1) konsep pemahaman childfree yang terdiri dari pro dan kontra childfree dan praktik pemahaman childfree, 2) faktor penyebab lahirnya childfree dan alasan menganut childfree.

Bab III berisi tentang hasil analisis peneliti terhadap data-data yang ditemukan kemudian menginduksinya dalam bahasa yang sederhana agar para pembaca mudah memahami. Pada bab ini terdiri dari dua (2) sub bab yakni; A) Analisis tinjauan Hukum Keluarga Islam tentang fenomena childfree, terdiri dari; 1) Dalil-dalil tentang keutamaan memiliki anak, 2) Tujuan Pernikahan perspektif Perundang-undangan, dan 3) Analisis tinjaun hukum keluarga islam tentang fenomena childfree. Dan poin B) Pengaruh childfree terhadap Ketahanan Keluarga.

Bab 1V berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.

57 BAB II

PAPARAN DAN TEMUAN DATA A. Konsep Pemahaman Childfree Bagi Pasangan Suami-Isteri

Childfree merupakan istilah baru yang dikenal di Indonesia, hal ini dipicu oleh adanya pengakuan Gita Savitri Devi dan suami yang seorang Influencer muslim yang menyatakan diri dan pasangan untuk childfree dalam perikahannya. Keputusan tersebut tentunya telah melalui pertimbangan yang matang oleh kedua belah pihak serta beranggapan bahwa childfree merupakan sebuah pilihan hidup, bukan termasuk dalam kewajiban setelah menikah.68 Pilihan tersebut tentunya bersifat individualis atau keputusan pribadi dari pasangan tersebut. Namun, karena pasangan termasuk seorang uang memiliki pengaruh terhadap masyarakat luas mengingat bahwa posisinya yang memi;iki pengaruh besar terhadap masyarakat sehingga menuai reaksi masyarakat, terlebih Indonesia yang bersifat kolektif sehingga beramai-ramai mengomentari hal tersebut.

Hal ini tentu menuai reaksi masyarakat baik pro dan kontra serta memberikan stigma negatif karena hal tersebut dianggap bertentangan dengan budaya dan agama yang ada di Indonesia. Masyarakat yang andil dalam merespon hal tersebut berasal dari berbagai beragam profesi seperti para akademisi, agamawan serta para politisi dan kalangan millenial serta gen Z beramai-ramai menyatakan melalui media sosial serta banyaknya para jurnalis yang membahas hal tersebut.

Adanya reaksi masyarakat yang turut menyoroti hal tersebut merupakan salah satu bentuk dampak modernisasi (manusia modern), hal ini ditandai dengan adanya pemikiran masyarakat yang terbuka terhadap hal baru.

Adapun faktor terjadinya perubahan suatu sikap dan cara pandang seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yakni: faktor pendidikan, lingkungan, budaya, ekonomi dan lainnya. Mengingat bahwa childfree merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari Negara Barat serta para penganutnya pun banyak diantaranya dipengaruhi oleh pemikiran barat.

68 Uswatul Khasanah-M Rasyid Ridho, Childfree Perspektif Hak Reproduksi,...

hlm. 106

58

Dari temuan data yang peneliti dapatkan, para pelaku pasangan childfree berasal dari daerah-daerah maju yang ada di Indonesia, seperti:

jakarta dan pulau jawa. Sedangkan di daerah-daerah pedalaman hal tersebut merupakan hal yang tabu dimasyarakat.

1. Pro dan Kontra Childfree

Adapun pihak-pihak yang pro dan kontra memiliki alasan yang beragam, baik ditinjau dari segi kebudayaan, hak asasi manusia, agama, dan kepercayaan.

a. Pro Terhadap Childfree

Adapun pendapat pro terhadap childfree yakni dari kalangan para aktivis perempuan dan kalangan milenial hal ini terlihat dari banyaknya para youtuber muda yang membahas issue tersebut dan memberikan spekulasi bahwa childfree tersebut tidak menjadi suatu permasalahan karena keputusan untuk childfree merupakan hak dari setiap pasangan. Adapun kalangan yang pro terhadap childfree salah satunya yakni seorang youtuber bernama jigkyciouss yang diunggah pada 23 agustus 2021 menyatakan sebagai berikut:

“Menurut aku punya anak atau ngga punya anak itu merupakan kebebasan setiap orang karena pertama: tanggung itu tanggung jawabnya besar tidak hanya tentang nyekolahin doang dan kita tu nggak bisa sih menurut aku menilai orang kayak, ooh iya ini nih harus punya anak karena lo tu begini, harusnya punya anak dong gini, gini, gini. Bahkan ada kalimat yang bilang “jangan egois dong, karena uang foya-foya dan gak mau punya anak demi badan yang gamau rusak gak mau punya anak.” Itu adalah salah satu satatement yang aku kurang ngerti sih, egois menurut siapa gitu, karena menurut aku iya disaat kita ingin bahagia dan memutuskan ga punya anak itu kan justru bukan egois, merencanakan hidup. Justru egois itu adalah disaat kita tidak tau perjalanan orang itu kayak gimana, dia itu kisahnya seperti apa, trus kita memaksakan kebahagiaan kita terhadap dia. Contoh misalnya kita ga tau ni orang tu punya trauma apa, punya kisah apa, trus kita dengan entengnya bilang gini:

“harusnya kamu tu punya anak...,” itu yang menurut aku egois. Dan ingat iya, standar kebahagiaan orang itu beda-beda”.69

69 Jiglyciouss, GRWM Fenomena Childfree, Hak Wanita Atau Egois?? Gitasav, Diakses Dari https://youtu.be/-0DeYKIfghY Pada Tanggal 1 April 2022.