BAB III
KETELADANAN AKHLAK SHALAHUDDIN AL-AYYUBI
itu, baik dalam perjalanan maupun sedang bermukim disuatu tempat.
Setiap saat ia selalu bersedia mendengar seluruh kisah yang disampaikan kepadanya, untuk menyimak berbagai tindakan kezhaliman yang ada di balik kisah-kisah itu. Kemudian setelah itu, biasanya ia duduk bersama juru tulisnya selama satu jam di waktu malam maupun siang, dan memberikan tanda pada setiap perkara berdasarkan apa yang dimantapkan oleh Allah di hatinya. Selamanya ia tidak penah menolak orang yang punya maksud dan keperluan, padahal bersamaan dengan itu ia senantiasa berdikir dan rutin membaca al-Qur‟an.
Pernah suatu ketia seorang warga Damaskus, bernama Ibnu Zubair datang meminta pertolongan kepadanya menghadapi keponakan Shalahuddin al-Ayyubi yang bernama Taqiyuddin. Maka, Sultan pun mengirim surat kepada Taqiyuddin untuk hadir ke dewan pengadilan.
Tidaklah ia membebaskan keponakannya itu, kecuali yang bersangkutan bisa mendatangkan dua orang saksi yang (meringankan baginya), sedangkan saksi itu dikenal dan diterima kesaksiannya. Dia lalu menguasakan perkara keponakannya itu kepada Qadhi Abdul Qasim Aminuddin (hakim Hamah) untuk menghadapi gugatan. Dua saksipun telah hadir dan keduanya menyampaikan kesaksian setelah tuntutan dibacakan, ada pemberian kuasa yang sah, dan penyangkalan pihak lawan.
Qadi Ibnu Syidad menyebutkan:” tatkala pemberian kuasa telah dinyatakan sah, saya menyuruh Abdul Qasim untuk memperlakukan sama antara dua pihak yang bersengketa. Maka ia pun menyamakan keduanya,
padahal Taqiyuddin adalah salah satu di antara para pembesar sultan.
Kemudian digelarlah perkara di antara keduanya. Sumpahpun dibebankan kepada Taqiyuddin dan sidang berakhir dengan terbitnya keputusan.
Sampai tiba waktu malam, Shalahuddin al-Ayyubi tidak datang kepengadilan itu untuk mencampuri keputusan. Padahal Taqiyuddin adalah orang yang paling disukainya, paling agung kedudukan di sisinya, tetapi semua itu tidak menghalanginya untuk bersikap jujur dalam menegakkan hukum.”
Di antara bukti keadilannya juga, ia tidak merasa segan berdiri berdampingan dengan lawan perkara di hadapan pengadilan, tanpa merasa segan atau keberatan. Dalam pandangannya, hanyalah kebenaranlah yang paling pantas untuk diikuti. Pernah ada suatu kejadian, di mana ia dituduh oleh seorang pedagang bernama Umar al-Khallathi telah berbuat curang.
Ceritanya bermula ketika Shalahuddin al-Ayyubi mengambil salah seorang budak darinya, yang bernama Sanqar, dan ia dituding ingin menguasai kekayaan besar milik budak tersebut, tanpa melalui jalan yang sah. Ketika pedagang tersebut mengajukan perkaranya kepada Qadi Ibnu Syidad, Shalahuddin al-Ayyubi pun melihatkan kesantunan yang luar biasa. Ia rela didudukkan sebagai terdakwa dalam kasus tersebut. Setelah saksi-saksi dan bukti-bukti dari kedua belah pihak dihadirkan, sidangpun digelar.
Maka jelaslah di hadapan hakim kebohongan si penuduh dan tidak benar dakwaannya kepada Shalahuddin al-Ayyubi. Namun demikian Shalahuddin al-Ayyubi tidak mau membiarkan orang yang mendakwanya
itu kembali dalam keadaan kecewa, maka ia memerintahkan untuk memberi orang itu harta dan sejumlah uang, demi menunjukkan kemurahannya dalam posisi yang sebenarnya ia bisa saja mengambil tindakan pembalasan.
Di antara bukti lain atas keadilannya, bahwa ia selalu begadang untuk mengurusi berbagai kepentingan rakyatnya, menghapus berbagai pungutan dan pajak untuk meringankan beban masyarakat, dan menghilangkan kezhaliman dari pundak mereka.
Ibnu Jubair menyebutkan, di antara kebijakan Shalahuddin al- Ayyubi dan jejak peninggalan yang mengharumkan namanya di mata agama maupun dunia; bahwa ia telah menghapuskan banyak sekali pungutan dan pajak yang telah dibebankan kepada rakyat atas setiap transaksi jual beli yang mereka lakukan, besar maupun kecil, sampai- sampai meminum air Sungai Nil pun dimintai pungutan, maka Shalahuddin al-Ayyubi telah menghapuskan semua itu.
Dahulu pernah ada pungutan sebesar tujuh Dinar setengah yang dibebankan kepada setiap jamaah haji yang melakukan perjalanan menuju Hijaz, dengan dalih untuk memakmurkan Makkah dan Madinah, serta membantu orang-orang di sana. Orang-orang Dinasti Ubaidiyah telah bersikap keterlaluan dalam menarik pungutan ini. Bagi orang yang tidak mampu membayar, akan dikenakan hukuman yang sangat berat. Akan tetapi Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghapuskan pungutan ini dan sebagai gantinya ia memberikan subsidi terhadap warga Hijaz
dalam bentuk sejumlah uang yang nilainya sama dengan pungutan yang dikumpulkan dari jamaah haji yang dibayarkan setiap tahunnya. Dengan cara itu, ia telah membebaskan para jamaah haji dari beratnya beban membayar pajak, lebih-lebih mayoritas mereka berasal dari kalangan miskin dan orang yang tidak mampu membayar apa yang dibebankan kepada mereka. Maka, Allah pun melindungi orang-orang yang beriman melalui tangan Shalahuddin al-Ayyubi yang adil, dari musibah yang besar dan bencana yang mengerikan.41
2. Keberanian dan Percaya Diri
Secara pasti, keberanian merupakan sifat paling terpuji yang harus disandang seorang penguasa. Hendaknya sifat ini menjadi karakter yang melekat padanya, supaya rasa hormat kepadanya dapat dihentikan ambisi- ambisi para pesaingnya, dihasilkan penjagaan para tokoh negeri, perlindungan terhadap negara, dan pembelaan untuk rakyat. Shalahuddin al-Ayyubi termasuk di antara para pemimpin yang pemberani, amat kuat jiwanya, perkasa, dan sangat teguh hatinya; serta tidak dapat ditakut-takuti oleh apapun. Saya (Ibnu Syidad) menyaksikan sendiri dia selalu memposisikan diri di hadapan pasukan salib yang jumlahnya sangat besar, bala bantuan musuh yang terus berdatangan, dan prajuritnya yang tidak putus-putus; padahal dia sendiri tidak bertambah selain kekuatan jiwa dan kesabaran. Bahkan dalam satu malam sebanyak 70 lebih kapal musuh datang ke Akka, saya sendiri yang menghitungnya sejak selesai Ashar
41Ali Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis, Terj. Muslich Taman dan Ahmad Tarmudzi (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2013), 311-314.
hinggga Matahari tenggelam (Maghrib), sedangkan dia tidak bertambah (takut), selain kekuatan jiwanya semakin teguh.
Ibnu Syidad berkata:”saya bertanya langsung kepada Balian of Ibelin, dan ia merupakan salah satu penguasa pesisir terkemuka yang saat itu duduk di hadapan Shalahuddin al-Ayyubi di hari disepakatinya perjanjian damai, dan aku bertanya kepadanya tentang jumlah mereka.
Melalui penerjemah, ia menyebutkan, bahwa mereka dan penguasa Syaida, dia juga seorang penguasa dan pemimpin salibis berangkat menuju pasukan Muslim dari Shur. Tatkala mereka sudah mendekati sasaran, mereka mengira-ngira jumlahnya. Maka dia menghitungnya sebanyak 500.000 prajurit; sedangkan saya (Ibnu Syidad) menghitungnya sebanyak 600.000 ribu pasukan, atau ia mengatakan sebaliknya.
Aku bertanya lagi, berapa banyak yang tewas di antara mereka? Ia menjawab, yang tewas karena terbunuh hampir 100.000, sedangkan yang tewas tenggelam dan lainnya kami tidak tahu. Namun yang jelas, hanya sedikit dari pasukan besar itu yang bisa kembali dengan selamat. Ibnu Syidad menambahkan, apabila pasukan kami berada tidak jauh dari pasukan musuh, Shalahuddin al-Ayyubi memaksakan diri untuk berpatroli di sekeliling satu atau dua kali dalam sehari. Dan apabila peperangan mulai berlangsung sengit, ia berkeliling di antara dua barisan dengan ditemani oleh seorang anak kecil sambil menuntun onta di tangannya. Ia berusaha menerobos pasukan dari sayap kanan hingga ke sayap kiri sambil merapatkan barisan dan memerintahkan mereka untuk maju dan berhenti
di tempat-tempat yang bisa dilihatnya. Ia selalu mendekati musuh dan berdampingan dengannya.”
Kaum Muslimin sempat menderita kekalahan di hari terjadinya pertempuran terbesar di padang rumput Akka, hingga genderang dan bendera sempat terjatuh. Namun Shalahuddin al-Ayyubi tetap bertahan bersama sebagian kecil pasukan yang berpindah posisi ke gunung untuk mengumpulkan kembali para prajurit, menahan, dan membuat malu mereka, hingga mereka pun kembali ke medan pertempuran. Dia terus melakukan itu hingga pasukan kaum Muslimin meraih kemenangan atas musuh di hari itu dan telah gugur di antara mereka kurang lebih 7000 orang, baik prajurit berjalan kaki maupun berkuda. Dia terus menahan musuh yang berjumlah besar sampai tampak olehnya kelemahan kaum Muslimin; maka ketika itulah ia menerima tawaran gencatan senjata dari pihak musuh, karena kelemahan dan prajurit yang tewas justru lebih banyak di pihak musuh. Hanya saja waktu itu musuh salibis terus menunggu bala bantuan, sedangkan kami tidak, sehingga perjanjian gencatan senjata merupakan sebuah pilihan yang Maslahat.42
3. Kemurahan
Kemurahan Shalahuddin al-Ayyubi jauh lebih nyata untuk ditulis dan lebih populer untuk disebut. Hanya saja di sini hanya menyebutkan garis besarnya, yaitu bahwa ia memiliki apa yang dia miliki, akan tetapi
42Ibid., 315-317.
ketika wafatnya ternyata dalam simpanannya hanya ditemukan 47 Dirham Nashiriyah dan satu gram emas Shuri.
Shalahuddin al-Ayyubi memang terkenal dengan kemurahannya. Ia pernah membagi-bagikan permata dan harta benda yang dimiliki oleh Istana Fatimiyah kepada para pejabat dan para sahabat-sahabatnya, dan tidak menyisakan satupun untuk dirinya. Ia menghibahkan lahan pertanian di beberapa daerah. Ketika membebaskan Amid, Kalij Arselan meminta wilayah tersebut kepadanya, ia pun memberinya. Ia memberi diwaktu susah, sebagaimana ia memberi di waktu lapang.
Suatu kali ia pernah berucap untuk mengungkapkan kemurahannya; ”Demi Allah, andai kata dunia ini diberikan kepada seseorang yang meminta dengan penuh harap, pasti aku tidak pernah menganggap banyak pemberian itu. Dan andai kata dikosongkan seluruh isi simpananku untuk diberikan kepadanya, pasti ia tidak bisa menggantikan panasnya rasa malu di wajahnya karena permintaannya kepadaku akan harta itu.”
Saking pemurahnya Shalahuddin al-Ayyubi, apabila mengetahui ada harta di dalam kasnya, maka malam harinya ia merasa tidak tentram sampai harta tersebut dibagi-bagikan dengan senang hati. Jika ia memberi uang kepada seseorang, lalu orang yang diberi mengatakan, bahwa jumlah itu tidak cukup, maka ia pun akan menambahinya hingga berlipat ganda.
Setiap kali melihat seseorang yang berusia lanjut, langsung tersentuh hatinya, lalu ia memberinya, dan memperlakukannya dengan baik.
Tidaklah seorang yatim yang dihadirkan dihadapannya, melainkan dia selalu mengucapkan, ”Semoga Allah memberikan rahmat kepada kedua orang tuamu,” Lalu ia menghibur dan memberi anak itu. Jika anak tersebut masih memiliki keluarga yang bisa diandalkan untuk mengurusinya, ia pun menyerahkan pemberian kepada keluarga tersebut, atau kalau tidak, maka ia akan mencukupi segala kebutuhan anak tersebut dan menyerahkan urusannya kepada orang yang mau merawat dan mendidiknya.
Al-Imad al-Ashfahani menggambarkan kemurahannya melalui ungkapan: “Adalah Shalahuddin al-Ayyubi bagaikan orang yang berutang yang diharuskan membayar hutangnya dalam mengeluarkan hartanya yang masuk ke dalam kasnya. Dia mendermakan hartanya sebelum mendapatkannnya dan memutuskannya dari kasnya dengan cara mengalihkannya sebelum sampai (di kas). Dia tidak pernah menjawab orang yang meminta kepadanya dengan penolakan; apabila sedang tidak mempunyai sesuatu, ia bersikap ramah seakan memberikan tangguh, dengan mengatakan, “Kami tidak mempunyai apa-apa saat ini.” Ia memberi melebihi ekspektasi (harapan) orang yang meminta kepadanya.
Raut wajahnya ketika berhadapan dengan orang yang diberinya, seraut manis wajahnya ketika berhadapan dengan orang yang tidak bisa ia beri apapun. Diperkirakan kuda yang diberikannya kepada semua orang yang turut terlibat bersamanya dalam Jihad selama 30 tahun (semenjak bangsa Eropa atau kaum salibis menduduki Akka pada bulan Rajab tahun 575 H, hingga mereka melepaskan kota itu secara damai pada bulan Sya‟ban
tahun 588 H), adalah sebanyak 12.000 ekor kuda, baik kuda jantan dan betina, termasuk kuda-kuda yang unggul.” Ini belum lagi harta yang dibayarkannya untuk menggantikan kuda yang terkena luka dalam peperangan, sebagai kompensasi kepada pemiliknya. Karena tidak ada seekor kuda pun yang mati atau terluka di jalan Allah, melainkan ia selalu memberikan kompensasi kepada pemiliknya dengan harga setimpal. Dia sendiri tidak mempunyai kuda yang bisa ditungganginya, kecuali kuda yang dihibahkan kepadanya atau yang dipinjamnya, sedang pemiliknya setiap saat bisa mengambilnya.43
4. Kesantunan
Santun merupakan tanda bagusnya akhlak dan alamat tingginya kemauan. Sifat ini termasuk di antara akhlak paling mulia dan paling pantas dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai akal pikiran, karena efek positif yang ditetapkan oleh Allah kepadanya dalam bentuk ketentraman, ketenangan, kenikmatan, selamatnya kehormatan, nyamannya fisik, lahirnya pujian, dan jauhnya jiwa dari tidak melampiaskan kedendaman, sehingga seseorang tidak pernah menjadi mulia sampai ia menyandang sifat santun ini sebagai akhlaknya.
Shalahuddin al-Ayyubi adalah seorang yang santun. Sering kali ia memaafkan orang-orang yang memiliki kesalahan. Ia adalah seorang yang baik budinya, sangat sabar menghadapi apa yang tidak dia sukai, dan kerap kali ia pura-pura tidak mengetahui dosa-dosa pelakunya. Ia mendengar apa
43 Ibid., 311-319.
yang tidak disukai dari seseorang disekitarnya, tetapi dia tidak mau tahu hal itu, dan tidak berubah sikapnya kepadanya. Suatu hari ia sedang duduk, seorang budak melempari budak yang lainnya dengan sepatu, tetapi lemparannya meleset dan mengarah ke Shalahuddin al-Ayyubi, lalu jatuh tidak jauh darinya. Ternyata Shalahuddin al-Ayyubi berpaling ke arah lain, pura-pura tidak tahu kejadian itu.
Qadhi Syihabuddin berkata: ”suatu hari baghalku kabur karena didekati kawanan onta, padahal waktu itu aku sedang berada di atas tunggangan untuk melayaninya; tiba-tiba tungganganku menabrak lututnya hingga membuatnya meringis kesakitan, namun demikian ia tetap tersenyum. Pernah dua kantong emas Mishir dicuri dari simpananya, tetapi ia malah memberi ganti pada pelaku dengan dua kantong uang, dan tidak melakukan apapun kepada para pelakunya, selain memberi ganti mereka dengan uang.”
Qadhi Ibnu Syidad bercerita: “Dulu beberapa orang mata-mata bekerja untuknya di padang rumput sebelum orang-orang Eropa keluar menuju Akka. Dan seperti kebiasaanya ketika menunggang, ia menaiki tunggangannya, kemudian dia singgah, lalu dihidangkan makanan untuknya, maka ia pun makan bersama orang lain. Kemudian bangkit menuju kemah yang disediakan khusus baginya untuk tidur, lalu ia terbangun dari tidurnya dan mengerjakan shalat. Dia duduk menyendiri dan waktu itu saya melayaninya, membacakan sedikit hadits dan sedikit
fiqih. Ia pun membacakan kepadaku sebuah buku ringkasan karya Sulaim ar-Razi yang berisi seperempat masalah fiqih.
Suatu hari seperti biasanya dia turun dari tunggangannya, lalu makanan pun dihidangkan di hadapannya, kemudian dia hendak bangkit, tetapi dikatakan kepadanya, bahwa waktu shalat telah dekat, maka ia pun kembali duduk seraya mengucapkan “Kalau begitu kita mengerjakan shalat lalu tidur.” Kemudian dia duduk sambil berbincang-bincang dengan gelisah, sementara tempat telah kosong, kecuali orang-orang yang harus tetap berada di tempat itu. Lalu datang menghampirinya seorang budak tua yang dihormatinya dan memperlihatkan sebuah catatan milik beberapa pejuang. Ia berkata kepada orang tersebut “Saya sekarang sedang gelisah, tundalah beberapa saat.” Tetapi orang tersebut tidak mempedulikannya, malah menyodorkan cacatan tersebut lebih dekat lagi kewajahnya dengan tangannya sambil membukanya agar dia bisa membaca tulisannya.
Ternyata pandangan Shalahuddin al-Ayyubi tertuju pada tulisan sebuah nama yang terdapat di bagian atasnya dan ia pun mengenalinya seraya berucap, “Orang yang memang berhak.” Orang tua tersebut lagi, “Tuan membumbuhkan tandatangan untuknya, di sini.” Shalahuddin al-Ayyubi menjawab, “Tidak ada tinta sekarang.” Kebetulan saat itu dia duduk di pintu kemah pasukan yang besar, sekiranya tak seorang pun berani masuk kedalamnya, sedangkan ada tinta di sana. Orang tua tersebut berkata, ”Itu tinta ada di dalam kemah.” Maksudnya, orang itu menyuruh Shalahuddin al-Ayyubi untuk mengambil tinta itu, bukan yang lain. Shalahuddin al-
Ayyubi pun menoleh dan melihat tinta tersebut lalu berucap, “Demi Allah, dia benar.” Maka dengan bertopang dengan tangan kirinya, ia pun menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil tinta dan membubuhkan tandatangan seperti permintaan orang itu.
Atas kejadian itu saya berkomentar kepadanya, “Saya lihat paduka mirip dengan Nabi Muhammad saw, dalam budi pekerti.” Ia pun menjawab, “Tidak ada salahnya melakukan hal itu, kita telah memenuhi kebutuhan orang itu dan mendapatkan pahala pula.” Bayangkan, seandainya kejadian ini terjadi pada pemimpin itu seperti yang dilakukan orang tua itu. Inilah puncak dari perlakuan Shalahuddin al-Ayyubi. Allah tentu tidak akan menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang yang berlaku baik.
Ada sebuah cerita yang mungkin jarang ditulis ahli sejarah tentang sifat kesantunannya. Pada waktu itu ia bergerak menuju posisi salah seorang penguasa salib di Yafa, yang saat itu sedang ditinggal pergi pasukannya yang telah berjalan jauh dan bergerak mundur kelembah an- Natrun (sebuah tempat yang jaraknya dari Yafa bisa ditempuh dua hari dengan perjalanan cepat atau tiga hari dengan perjalanan biasa). Pasukan Shalahuddin al-Ayyubi terus maju ke Qaisyariyah (Caesarea) untuk mencegat bala bantuan mereka. Ternyata orang-orang salibis yang masih berada di Yafa mengetahui hal tersebut. Kebetulan Alinkitar (Richard), sedang berada di sana bersama sejumlah orang pasukannya. Maka ia pun mempersiapkan sebagian besar orang-orangnya untuk bergerak menuju
Qaisariyah, untuk menghadapi pasukan Shalahuddin al-Ayyubi, karena khawatir akan terjadi apa-apa terhadap bala bantuan yang datang.
Sementara itu, dia sendiri memilih tetap tinggal bersama beberapa orang yang jumlahnya sedikit, karena mereka tahu jauhnya jarak Shalahuddin al- Ayyubi dari posisi mereka dan jauhnya pasukannya.
Setelah Shalahuddin al-Ayyubi sampai di Qaisariyah, ia dapati bala bantuan musuh telah tiba di kota itu dan berlindung di sana. Maka ia menyadari, bahwa kali ini ia tidak bisa mencapai tujuan semula, sehingga ia memutuskan untuk melakukan perjalanan malam, sejak dari permulaan malam hingga akhir malam, dengan maksud bisa mencapai Yafa (posisi Rachard dan pasukannya) di waktu Shubuh. Ketika itu Alinkitar bersama 17 orang penunggang kuda dan sekitar 300 prajurit pejalan kaki berkemah di luar kota. Ternyata pagi harinya Alinkitar terkejut oleh kemunculan pasukan Islam, maka ia pun langsung menaiki tunggangannya. Ia seorang pemimpin yang gagah berani dan memiliki pemikiran yang brilian dalam peperangan. Ia memilih untuk tetap berada di hadapan pasukan Islam yang datang dan tidak memasuki kota. Maka pasukan Islam pun berputar mengelilingi mereka dari berbagai arah kota, dan para prajurit pun telah siap untuk berperang.
Akan tetapi tatkala Shalahuddin al-Ayyubi memerintahkan pasukannya untuk segera melakukan penyerangan guna memanfaatkan kesempatan, beberapa komandan Suku Kurdi menjawabnya dengan kata- kata kasar dan mengecam Shalahuddin al-Ayyubi lantaran dia tidak
melipat gandakan bagian mereka dari hasil bumi. Maka seketika itu Shalahuddin al-Ayyubi langsung membelokkan tali kekang kudanya, seperti seorang yang marah. Sebab dia tahu, bahwa pada hari itu dia tidak akan melakukan serangan apa pun. Ia lantas meninggalkan pasukan, kemudian berangkat pulang. Ia memerintahkan untuk membongkar tendanya yang telah dipasang, dan orang-orang pun meninggalkan musuh, dengan keyakinan, pada hari itu Shalahuddin al-Ayyubi akan melakukan penyaliban dan pembunuhan terhadap sekelompok para pengecut (komandan Kurdi).
Shalahuddin al-Ayyubi terus berjalan hingga sampai di Yazur, yaitu jarak perjalanan yang tidak terlalu jauh. Di tempat ini dia singgah dan memerintahkan untuk memasang tenda, sementara pasukan berhenti di tempat persinggahan mereka di bawah naungan tenda-tenda yang halus, sebagaimana berlaku kebiasaan di saat-saat seperti ini. Tampak suasana tegang menyelimuti para komandan, ada yang gemetar karena takut, dan ada pula yang yakin bahwa dirinya akan dihukum dan dimurkai.
Qadhi Ibnu Syidad melanjutkan: “Waktu itu saya belum berani untuk menemui Shalahuddin al-Ayyubi, sampai dia sendiri memanggilku.
Maka saya masuk menemuinya dan kebetulan saat itu suplai bahan makan dari Damaskus telah tiba, termasuk buah-buahan dalam jumlah yang banyak. Ia berkata kepadaku, “Carilah para komandan dan suruh mereka makan.” Tiba-tiba hatiku menjadi tenang, padahal semula sangat tegang.
Segera saya mencari para komendan, maka mereka pun datang dengan
perasaan takut. Tetapi ketika mendapatkan keramahan dan sambutan gembira, mereka pun menjadi tenang, merasa aman dan ikut gembira.
Akhirnya, mereka beranjak dari tempatnya dengan tekat untuk meneruskan perjalanan, seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.
Sikap santun Shalahuddin al-Ayyubi tidak hanya dirasakan oleh para pengikut, rakyat, dan prajuritnya saja, tetapi juga dirasakan oleh musuh-musuhnya yang sedang memeranginya dan ia pun memerangi mereka.44
5. Muru‟ah
Muru‟ah adalah himpunan akhlak-akhlak yang mulia, adab-adab yang baik, dan sifat jantan yang sempurna. Muru‟ah dapat membuat penyandangnya pantas untuk dihormati. Hakikatnya adalah kekuatan jiwa dan tempat bermula lahirnya berbagai perbuatan indah yang mendatangkan suatu pujian sesuai Syariat, akal, dan tradisi.
Shalahuddin al-Ayyubi adalah orang yang banyak sekali muru‟ahnya, manis mukanya, besar rasa malunya, dan selalu terbuka kepada tamu-tamu yang datang kepadanya. Ia tidak menginginkannya sebelum makan ditempatnya. Tidak pernah seseorang mengajaknya bicara, melainkan selalu ditanggapinya. Ia menghargai seorang utusan sekalipun ia seorang kafir.
Qadi Ibnu Syidad berkata: “Saya menyaksikan sendiri ketika ia ditemui oleh penguasa Shaidah di Nashira, ia pun menghormati dan
44Ibid., 323-327.