HASANAH, M.
Pengaruh jarak tanam dan tahap panen terhadap produksi dan viabilitas benih ketumbar. Effect of plant spacing and harvesting stages on coriander seed production and viability/ Hasanah, M. (Balai Penelitian Tanaman Obat, Bogor).
Keluarga Benih, (1993) v. 4(2) p. 1-6, 4 tables; 10 ref.
CORIANDRUM SATIVUM; SPACING; SEED VIABILITY; PRODUCTION;
SOWING RATES; HARVESTING FREQUENCY; CHEMICOPHYSICAL PROPERTIES.
Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Gunung Putri-Cipanas dan Laboratorium Fisiologi Balittro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan tahap panen terhadap viabilitas benih ketumbar. Benih ketumbar yang digunakan adalah varietas lokal Cipanas. Percobaan disusun secara split-plot dalam acak kelompok dengan jarak tanam sebagai petak utama dan tahap panen sebagai anak petak. Perlakuan jarak tanam terdiri atas 4 taraf, yaitu sebar-alur dengan jarak antar alur 40 cm, 40 x 20 cm, 40 x 30 cm dan 40 x 40 cm. Perlakuan tahap panen terdiri atas 3 taraf, yaitu 20 MST (minggu setelah tanam), 21 MST, dan 22 MST. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa produksi benih tertinggi dicapai pada tahap panen pertama pada perlakuan sebar alur dan 40 x 20 cm. Viabilitas benih ketumbar hanya dipengaruhi oleh perlakuan tahap panen. Tahap panen ke-3 menghasilkan benih dengan viabilitas yang paling tinggi. Bobot 1000 butir dan berat jenis benih tertinggi terdapat pada perlakuan tahap panen ke-2 dan ke-3.
1994
HASANAH, M.
Pengaruh tingkat kemasakan dan ukuran buah terhadap viabilitas benih ketumbar (Coriandrum sativum L.). Effect of maturity stages and seed sizes on viability of Coriander seed (Coriandrum sativum L.)/ Hasanah, M.; Darwati, I. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor) Rahayu, H. Buletin Penelitian Tanaman Rempah and Obat. ISSN 0215-0824 (1994) v. 9(1) p.46-51, 4 tables;
13 ref.
CORIANDRUM SATIVUM; MATURITY; SEED; VIABILITY; CORIANDER.
Pengaruh tingkat kemasakan dan ukuran buah terhadap Viabilitas benih ketumbar (Coriandrum sativum L.) telah diteliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor dari bulan Pebruari sampai Mei 1992. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok yang disusun secara faktorial terdiri dari 2 faktor, faktor pertama yaitu 75% buah berwarna coklat dan 75% dengan 3,5 mm dan berukuran kurang dari 3,5 mm, masing-masing perlakuan diulang 12 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah yang dipanen 75% berwarna kuning dan benih yang berukuran kurang dari 3,5 mm mempunyai mutu yang lebih baik dibandingkan dengan benih dari buah yang dipanen 75 % berwarna coklat dan benih yang berukuran lebih besar atau sama dengan 3,5 mm.
1996
MARDININGSIH, T.L.
Pengaruh minyak nilam terhadap perkembangan Stegobium paniceum L. pada biji ketumbar. Effects of patchouli oil on the development of Stegobium paniceum L.
on Coriander seeds/ Mardiningsih, T.L.; Wiratmo (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Prosiding simposium nasional I tumbuhan obat dan aromatik APINMAP, Bogor, 10-13 Oct 1995/ Gandawidjaja, D.; Panggabean, G.;
Wahjoedi, B.; Mustafa, A.; Hadad, E.A.M. (eds.). Bogor: Puslitbang Biologi, 1996: p. 734-738, 2 tables; 9 ref.
POGOSTEMON CABLIN; STEGOBIUM; CORIANDER; ESSENTIAL OIL CROPS; ESSENTIAL OILS; INSECT CONTROL; APPLICATION RATES.
Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh minyak nilam terhadap perkembangan Stegobium paniceum L. telah dilakukan di laboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor dari bulan Februari sampai Mei 1995. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 5 tingkat jumlah minyak sebagai perlakuan yaitu 0, 30, 60, 90 dan 120 ml/10 g biji ketumbar dan diulang 5 kali. Perlakuan diberikan dengan mengoleskan minyak nilam sesuai dengan jumlah yang diuji ke dinding bagian dalam tabung pemeliharaan serangga yang berisi 10 ekor serangga uji.
Pengamatan dilakukan terhadap mortalitas serangga, banyaknya keturunan yang dihasilkan dan tingkat kerusakan biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan minyak nilam berpengaruh terhadap semua variabel yang diamati.Minyak nilam sebesar 60 ul memberikan hasil yang cukup optimal dan berbeda nyata dengan control.
2003
WIDYASTUTI, Y.
Pengaruh beberapa tingkat dosis pupuk organik dan tiga jenis tanah pada pertumbuhan dan kandungan minyak atsiri ketumbar (Coriandrum sativum L.).
Effect of soil type and organik fertilizer on the growth and volatile oil content of coriander (Coriandrum sativum)/ Widyastuti, Y.; Sugiarso, S. (Pusat Penelitian Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional, Jakarta). Jurnal Bahan Alam Indonesia. ISSN 1412-2855 (2003) v. 2(3) p. 105-109, 2 tables; 6 ref.
CORIANDRUM SATIVUM; ESSENTIAL OILS; LIPID CONTENT;
ORGANIC FERTILIZERS; DOSAGE EFFECTS; SOIL TYPES; GROWTH;
YIELDS.
A research to determine the effect of soil type and organic fertilizer on the growth and volatile oil content of coriander (Coriandrum sativum) has been conducted.
The research involving two factors, namely soil type, and dose of organic fertilizer. The first factor consisted of three types of soils such as grumosol, latosol and andosol. The second factor consisted of four levels of dose of organic fertilizer (0, 50, 100 and 1,500 kg/ha). This research was designed in Randomized Completely Block Design with three replications. The result of the study revealed that soil type and dose level of organic fertilizer influenced the plant height, production of dry fruit and volatile oil content, but no effect to the chemical compound content of coriander volatile oil.
2004
HADIPOENTYANTI, E.
Pengelompokan kultivar ketumbar berdasar sifat morfologi. Classification of coriander (Coriandrum sativum L.) cultivars based on morphological characters./ Hadipoentyanti, E.; Wahyuni, S. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor). Buletin Plama Nutfah. ISSN 1410-4377 (2004) v. 10(1) p. 32- 36.
CORIANDRUM SATIVUM; PLANT ANATOMY; GERMPLASM.
Ketumbar (Coriandrum sativum L.) merupakan tanaman herba setahun, dan umunya dibudidayakan secara terbatas di dataran tinggi. Berdasarkan bentuk buahnya, dapat dibedakan kedalam 3 tipe, yaitu bentuk buah bulat kecil, bulat besar, dan lonjong. Hasil pengumpulan ketumbar dari beberpa sentra produksi maupun introduksi telah diperoleh sebanyak 13 nomor dengan penampakan buah yang bervariasi. Pada penelitian ini dilakukan pengelompokan koleksi ketumbar berdasarkan sifat morfologi. Benih ditanam di Manoko pada ketinggian tempat 1200 m dpl. Pengamatan morfologi dilakukan terhadap 10 tanaman contoh. Data morfologi dianalisis menggunakan metode jarak average taxonomic distance of disimilarity dengan paket program NTSYSpc-2.1. Hasil analisis menunjukan bahwa koleksi ketumbar terbagi kedalam 4 kelompok, yaitu kelompok I yang hanya terdiri atas kultivar asal Jepang. Kelompok II adalah kultivar asal Sungai tarap, Padang lawas, Sumbar, Sungayang, Irak, Thailand, Mesir, dan Madium.
Tiga kultilvar introduksi membentuk sub kelompok tersendiri. Kelompok III adalah kultivar asal Jember dan Cipanas, sedangkan kelompok IV adalah kultivar asal Kadipekso dan Temanggung. Kultivar yang dikoleksi dari daerah yang berdekatan cenderung membentuk kelompok yang sama.