3. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS USULAN PEMINDAHTANGANAN BERUPA HIBAH
a. BMN yang dari awal perolehan dimaksudkan untuk dihibahkan dalam rangka kegiatan pemerintahan, yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:
1) BMN yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan, yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN;
2) BMN yang berasal dari Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;
3) BMN yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
4) BMN yang diperoleh sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
b. BMN selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp100.000.000,00 per unit/satuan;
c. bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).
2. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS USULAN PEMINDAHTANGANAN BERUPA PENJUALAN
44
Lanjutan …..
a. Persediaan;
b. Aset Tetap Lainnya berupa hewan, ikan dan tanaman;
c. selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan;
d. bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
4. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS USULAN PEMUSNAHAN BMN
5. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS PERMOHONAN PENGHAPUSAN BMN
a. Persediaan;
b. Aset Tetap Lainnya berupa hewan, ikan dan tanaman;
c. selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan.
45
LAMPIRAN I huruf b
1. Usulan Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara (BMN) pada Pengguna Barang, dan Usulan Penggunaan Sementara BMN oleh Pengguna Barang Lain, untuk BMN berupa:
a. tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari nilai buku*) BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); dan
b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan jumlah nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
*) Nilai buku adalah nilai yang tercatat dalam daftar barang pengguna/kuasa pengguna atau laporan barang pengguna/kuasa pengguna.
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
46
Lanjutan …..
2. Usulan Pengalihan Status Penggunaan BMN, untuk BMN berupa:
a. tanah dan/atau bangunan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari nilai buku*) BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); dan
b. selain tanah dan/atau bangunan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
3. Usulan Penetapan Status Penggunaan BMN Untuk Dioperasikan Oleh Pihak Lain Dalam Rangka Melaksanakan Pelayanan Umum Sesuai Dengan Tugas Pokok Dan Fungsi Kementerian Negara/Lembaga, untuk BMN berupa:
c. tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); dan
d. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
47
Lanjutan …..
4. Usulan Pemanfaatan BMN dan perpanjangannya, dalam bentuk:
a. Sewa untuk BMN berupa:
1) tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan disewakan dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
2) selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN yang akan disewakan per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
b. Pinjam Pakai untuk BMN berupa:
3) tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dipinjamkan dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);
4) selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN yang akan dipinjamkan per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
c. Kerjasama Pemanfaatan untuk BMN berupa:
1) tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dipinjamkan dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);
2) selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN yang akan dipinjamkan per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
d. Bangun Guna Serah/Bangun Serah Guna (BGS/BSG) untuk BMN dengan nilai tanah yang akan dimanfaatkan dihitung secara proporsional dari nilai buku tanah per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
48
Lanjutan …..
5. Usulan Penghapusan BMN yang mengharuskan dilakukannya Pemusnahan atau karena sebab-sebab lain yang secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi penyebab penghapusan, antara lain hilang, kecurian, terbakar, susut, menguap, mencair, terkena bencana alam, kadaluwarsa, dan mati/cacat berat/tidak produktif untuk tanaman/hewan/ternak, serta terkena dampak dari terjadinya force majeure, berupa:
a. tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai buku per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
6. Usulan pemindahtanganan BMN, meliputi penjualan atau hibah, untuk BMN berupa:
c. tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
d. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
Kewenangan menteri pupr/ Sekjen MENGAJUKAN USULAN kepada menteri keuangan/ dirjen kekayaan negara
DENGAN NILAI BUKU
49
KEWENANGAN SEKJEN MENGAJUKAN USULAN KEPADA DIRJEN KEKAYAAN
NEGARA /PKNSI DENGAN NILAI BUKU