BAB II LANDASAN TEORITIS
2.4 Kinerja Perusahaan
Pengukuran kinerja adalah pengukuran atas hasil dari implementasi strategi, dan hasil kinerja yang dianggap baik akan menjadi standar untuk mengukur kinerja di masa mendatang. Bila indikator yang menjadi ukuran kinerja meningkat, berarti strategi telah diimplementasikan dengan baik.( Subramanyam dan Wild, 2009)
Pengukuran kinerja yang dilakukan setiap periode waktu tertentu bermanfaat untuk menilai kemajuan yang telah dicapai perusahaan dan menghasilkan informasi yang juga bermanfaat untuk pengambilan keputusan manajemen serta mampu menciptakan nilai perusahaan. Hasil pengukuran kinerja juga dapat dijadikan dasar bagi manajemen atau pengelola perusahaan untuk perbaikan kinerja pada periode berikutnya dan dijadikan landasan pemberian reward and punishment terhadap manajer.Ada dua macam kinerja yaitu kinerja keuangan dan kinerja pasar.
Pengertian kinerja keuangan menurut Subramanyam dan Wild (2009) bahwa, kinerja keuangan adalah prestasi keuangan yang tergambar dalam laporan keuangan perusahaan yaitu neraca rugi-laba dan kinerja keuangan menggambarkan usaha perusahaan (operation income). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis rasio keuangan dalam menilai kinerja perusahaan.
Rasio keuangan merupakan perbandingan dua data keuangan dengan jalan membagi satu data dengan data yang lain. Inti dari analisis rasio keuangan menurut adalah bahwa hubungan-hubungan kuantitatif dapat digunakan untuk mendiagnosa kekuatandan kelemahan dalam kinerja suatu perusahaan (Keown, 2011)
Menurut Subramanyam dan Wild (2009) analisis laporan keuangan merupakan analisis dari alat dan teknik analitis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisi bisnis. Menurut Muslich (2003) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan merupakan alat utama dalam analisis keuangan, karena analisis ini
dapat digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan tentangkeadaan perusahaan.
Berdasarkan pengertian tersebut maka analisis laporan keuangan merupakan suatu upaya untuk menggali lebih banyak informasi yang terkandung dalam laporan keuangan serta hubungan-hubungan yang signifikan diantara mereka dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan sehingga lebih bermanfaat bagi para pengambil keputusan
Teknik analisis laporan keuangan yang digunakan menurut Subramanyam dan Wild (2009) antara lain:
a. Analisis laporan keuangan komparatif yang dilakukan dengan cara menelaah neraca, daftar laba rugi, atau daftar arus kas yang berurutan dari satu periode keperiode berikutnya;
b. Analisis laporan keuangan common-size yaitu menyajikan laporan keuangan dalam bentuk persentase yang dikaitkan dengan suatu jumlah yang dinilai penting misalnya pos-pos neraca terhadap jumlah aktiva atau penjualan untuk laba rugi;
c. Analisis rasio yaitu membandingkan antara pos-pos tertentu dengan pos lain yang memiliki hubungan ekonomis;
d. Analisis arus kas yaitu menggunakan daftar arus kas untuk melakukan evaluasi sumber dan penggunaan dana atau kas;
e. Penilaian yang biasanya didasarkan pada nilai intrinsik sebuah perusahaan atau sahamnya.
Dari kelima teknik analisis tersebut, analisis rasio keuangan merupakan salah satu alat analisis keuangan yang paling populer dan banyak digunakan. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.Rasio keuangan menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos-pos tersebut. Dengan penyederhanaan ini pemakai laporan keuangan dapat menilai secara cepat hubungan antara pos-pos tersebut dan dapat membandingkannya dengan rasio lain sehingga dapat diperoleh informasi dan memberikan penilaian.(Subramanyam dan Wild 2005)
Harahap (2006) dalam Daning (2009) menyatakan, dibandingkan dengan teknik analisis laporan keuangan lainnya, analisis rasio memiliki keunggulan sebagai berikut:
a. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan;
b. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit;
c. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain;
d. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi;
e. Menstandarisir ukuran perusahaan;
f. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series;
g. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.
Menurut Keown (2011) rasio keuangan dapat dibagi dalam tiga bentuk umum yang sering digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu rasio likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas/profitabilitas. Rasio tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek. Dalam rutinitas sehari-hari, likuiditas antara lain akan tercermin dalambentuk kemampuan perusahaan dalam membayar kreditor tepat waktu atau membayar gaji tepat waktu. Pengukuran likuiditas biasanya mengaitkan kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang tersedia untuk melunasinya. Lingkup pengukuran bisa seluruh aktiva lancar atau sebagian aktiva lancar. Variasi dalam pengukuran likuiditas tidak semata-mata menggunakan aset lancar sebagai sumbernya tetapi menggunakan arus kas operasi. Penggunaan arus kas operasi dianggap lebih memiliki dampak, walaupun pada prakteknya pengukuran dengan aktiva lancar masih sering dilakukan karena lebih mudah menghitungnya.
Rasio-rasio likuiditas antara lain:
a. Current ratio, yaitu perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar dengan tujuan untuk mengukur sampai seberapa jauh
aktiva lancar perusahaan mampu untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya;
b. Quick ratio atau acid test ratio, seperti current ratio namun menghilangkan unsur persediaan dan pos-pos aktiva lancar yang berada di bawah tingkat likuiditasnya seperti prepaid expenses dan aktiva lancar lainnya.
2. Rasio Solvabilitas
Rasio ini merupakan indikator kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan utang jangka panjangnya.Ada dua rasio yangmenggambarkan solvabilitas, yaitu:
a. Total Asset to Total Liabilities, yang menggambarkan kemampuan aktivamengantisipasi kewajiban jangka panjang.
b. Total Liabilties to Total Equity, yang menggambarkan kemampuan perusahaan menggunakan ekuitas untuk mengantisipasi kewajibannya.
3. Rasio Profitabilitas
Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba melalui semua sumber yang ada. Ada tiga rasio pokok dalam mengukur profitabilitas
a. Margin laba, mengetahui persentase laba bersih atas penjualan.
b. Return on Total Asset (ROA), mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba menggunakan asset yang dimilikinya.
c. Return on Equity (ROE), mengukur sejauh mana kemampuan modal pemilikdalam menghasilkan laba.