2.1 Landasan Teori
2.1.4 Komisaris Independen
Di Indonesia, koneksi politik dan komisaris independen dalam bisnis adalah umum. Bahkan menurut peraturan daerah, dewan komisaris independen tidakwajib.
independen untuk mempertahankan legitimasi perusahaan dalam persepsi publik.
Adapun koneksi politik, manfaatnya ditawarkan dengan memperoleh koneksi ini di Indonesia membuat perusahaan saling berlomba untuk mendapatkan dan memelihara hubungan politik. Kedua karakteristik dewan ini memiliki hubungan yang berbeda terhadap risiko perusahaan, yang menghasilkan dalam biaya audit yang dibebankan. Perusahaan yang terhubung secara politik memiliki risiko yang lebih tinggi, dan adanya komisaris independen akan cenderung menurunkan risiko perusahaan.(Harymawan et al., 2020).
Komisaris independen menurut penjelasan Pasal 120 ayat (2) Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) adalah “Komisaris dari pihak luar”. Pasal 120 ayat (2) UUPT juga mengatur bahwa Komisaris Independen diangkat dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris lainnya. Anggaran dasar Perseroan dapat mengatur adanya 1 (satu) orang atau lebih komisaris independen dan 1 (satu) orang Komisaris utusan.
Dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55/POJK.04/2015 Tahun 2015 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit (“POJK 55/2015”), diatur bahwa Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang berasal dari luar Emiten atau Perusahaan Publik yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini. Pasal 6 POJK 55/2015 mengamanatkan bahwa Komisaris Independen wajib memenuhi persyaratan sebagaimana diatur didalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014 tentang direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik (“POJK 33/2014”), di antara nya adalah a. Dalam hal Dewan Komisaris terdiri dari 2 (dua) orang anggota Dewan
Komisaris, 1 (satu) diantara nya adalah Komisaris Independen
b. Dalam hal Dewan Komisaris terdiri dari 2 (dua) orang anggota Dewan Komisaris, jumlah Komisaris Independen wajib paling kurang 30% (tiga puluh persen) dari jumlah seluruh anggota Dewan Komisaris.
2.1.4.1 Persayaratan Komisaris Independen
Komisaris Independen harus memenuhi persyaratan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 21 ayat (2) POJK 33/2014 berikut :
a. Bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir, kecuali untuk pengangkatan kembali sebagai Komisaris Independen Emiten atau Perusahaan Publik pada periode berikutnya.
b. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
c. Tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau Perusahaan Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau pemegang
d. Tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
Komisaris Independen yang telah menjabat selama 2 (dua) periode masa jabatan dapat diangkat kembali pada periode selanjutnya sepanjang Komisaris Independen Tersebut menyatakan dirinya tetap independen kepada Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”) yang diungkapkan dalam laporan tahunan.
2.1.4.2 Fungsi Dewan Komisaris Independen
Fungsi Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan, maka seorang komisaris wajib dengan itikad baik , kehati-hatian, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberi nasehat kepada direksi untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Menurut (Effendi & Arief, 2016) Dewan Komisaris itu haruslah melakukan hal–hal sebagai berikut:
a. Melakukan pengawasan dengan I’tikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud lain dan tujuan perseroan.
b. Tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan direksi yang mengakibatkan kerugian c. Telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah timbul atau
berlanjutnya kerugian tersebut.
2.1.4.3 Pertanggung Jawaban Dewan Komisaris Independen
Menurut (Effendi & Arief, 2016) Komisaris harus menyusun pertanggung jawaban pengelolaan perusahaan dalam bentuk laporan tahunan. Bentuk pertanggung jawaban komisaris dapat dilakukan melalui, sebagai berikut :
a. Memberikan pengarahan dan nasehat kepada direksi dalam menjalankan tugasnya.
b. Melakukan pengawasan atas kebijakan direksi dalam menjalankan perusahaan.
c. Mematuhi peraturan perundang undangan yang berlaku, anggaran dasar perusahaan dan keputusan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
d. Mengevaluasi rencana kerja dan anggaran perusahaan serta mengikuti perkembangan perusahaan dan apabila terdapat gejala yang menunjukkan perusahaan sedang dalam masalah, dewan komisaris akan segera meminta direksi untuk mengumumkan pada pemegang saham dan memberikan rekomendasi untuk langkah langkah perbaikan yang diperlukan.
e. Memberikan saran dan pendapat kepada RUPS mengenai tujuan strategis perusahaan, rencana pengembangan usaham anggaran tahunan, laporan keuangan tahunan, penunjukkan kantor akuntan public sebagai auditor eksternal dan hal-hal penting lainnya.
2.1.4.5 Hak dan Wewenang Dewan Komisaris
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 hak dan wewenang Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha Perseroan, dan memberi nasihat kepada direksi.
Menurut (Sarra, 2017) definisi Dewan komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi. Oleh karena itu, dewan komisaris mempunyai peranan penting dalam menentukan manajemen perpajakan.
Dewan komisaris independen bertugas untuk menjaga managemen agar dalam menjalankan kegiatannya tidak bertentangan dengan hukum maupun aturan-aturan.
Keberadaan komisaris independen diharapkan dapat meningkatkan efektifitas pengawasan dan mengupayakan meningkatkan kualitas dari laporan keuangan.
Adanya pengawasan yang baik akan meminimalisir tindakan kecurangan yang dilakukan manajemen dalam pelaporan keuangan. Dengan begitu maka kualitas laporan keuangan juga semakin baik dan menyebabkan investor percaya untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut, sehingga pada umumnya harga saham perusahaan akan lebih tinggi dan nilai perusahaan semakin meningkat.
Menurut (N. M. Dewi, 2019) definisi Dewan komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi. Dewan komisaris independen mempunyai peranan penting dalam manajemenperusahaan
Menurut (Subagiastra et al., 2017) definisi Komisaris Independen merupakan orang yang tidak terafiliasi dalam segala hal dengan pemegang saham pengendali, tidak memiliki hubungan afiliasi dengan direksi atau dewan komisaris, serta tidak menjabat sebagai direktur pada suatu perusahaan yang terkait dengan perusahaan pemilik.
Menurut (Widyastuti, 2018) dewan komisaris independen adalah dewan komisaris yang bukan merupakan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan. Dengan adanya dewan komisaris independen diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara manajemen perusahaan dan para stakeholder dalam perusahaan.
Menurut (Maulana, 2020) Komisaris independen adalah orang yang tidak berhubungan dengan perusahaan dan tidak teralifiasi dalam segala hal dengan perusahaan, dia ttdak memiliki saham perusahaan dan juga tidak memiliki ikatan keluarga dengan manajer perusahaan, atau hubungan lainnya.